TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
110 #KONDANGAN


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Om Jaka dan Denaya. Akad nikah akan dilaksanakan di masjid jam 10 pagi, dan Via masih meringkuk dibalik selimutnya.


“Sayang, kamu sakit?” Mirza masuk kamar dan menyentuh kening istrinya.


Via menggeliat perlahan dan mengerjapkan matanya.


“Apa kamu nggak enak badan, sayang?” Mirza mengulangi pertanyaannya.


“Nggak, Mas. Cuman kerasa dingin aja.” Via melihat keluar jendela yang sudah dibuka lebar oleh Mirza. Sisa hujan selepas subuh tadi memang masih menyisakan hawa dingin hingga membuatnya malas.


“Kita sarapan, yuk. Mas udah masak tuh.”


“Masak apa, Mas? Jangan bilang masak mie goreng lagi ya.” Via menyingkirkan selimutnya.


“Mie rebus.” Mirza pasang senyum lebar.


Via menepuk jidatnya. “Mie lagi.” Keluhnya.


“Ya habis nggak ada bahan makanan di kulkas, adanya cuman mie instan sama telor.”


Via memandangi suaminya dengan tatapan bersalah. “Maafin aku ya, Mas. Harusnya aku yang siapin sarapan. Tapi karena dingin, habis shalat subuh aku malah tidur lagi.”


Mirza melosot berbaring di samping istrinya dan mencium kepalanya. “Nggak apa-apa, sayang. Selagi Mas bisa melakukannya, Mas akan senang hati melakukannya untukmu.


Via memiringkan tubuhnya memeluk suaminya. “ Unch, sweet banget deh suamiku.”


“Baru nyadar? Kemarin-kemarin kemana aja?”


Via mencubit dada suaminya, Mirza meringis dibuatnya dan membalas dengan menggelitik pinggang Via hingga Via mengaduh minta ampun karena kegelian. Untuk sesaat mereka bergulung seperti sepasang anak kucing yang asyik bergelut.


“Ampun, Mas. Ampun…., geli tau!”


“Mau yang lebih geli lagi?” Goda Mirza dengan tatapan nakal.


Via segera menggeleng.


“Yang ini geli-geli enak lho.”


Tanpa sempat menghindar, Via tak berdaya ketika tubuh kekar suaminya sudah mengungkungnya dan Mirza mulai mendaratkan sentuhan-sentuhan kecil dengan bibirnya di lehar Via.


“Mas, ih kamu mau ngapain?” Via sempat berusaha mendorong tubuh suaminya meski memang sia-sia.


“Mau bikin yang geli tapi enak.” Mirza nyengir.


Via menahan wajah suaminya dengan kedua tangannya dan melotot nggak percaya. “Ini udah pagi, Mas. Nanti kita terlambat ke acaranya Om Jaka.”


“Ini masih pagi, sayang. Bukan udah pagi. Baru juga jam 7.” Mirza malah melanjutkan aksinya memberikan ciuman hot di bibir istrinya.


Via masih berusaha menolak dengan tak memberikan respon. “Mas, kamu beneran mau melakukannya?” Tanya Via begitu ada kesempatan meloloskan bibirnya.


“Emangnya suamimu ini pernah becanda soal ini?” Balas Mirza dengan tatapan yang semakin menyiratkan keinginannya. “Lagi pula katanya tadi kamu kedinginan, kita olah raga pagi dulu biar hangat.”


Tanpa meunggu persetujuan Via, bibir Mirza kembali menjelajahi leher istrinya.


“Mas, Tunggu!” Tahan Via.


“Ada apa lagi, sayang?”


“Jangan bikin aku malu dengan meninggakan jejak di leherku ya.” Sungut Via.


“Oke.”


Mirza lantas menurukan pergerakannya ke bagian dada. Dan setelah dua kancing piyama istrinya terbuka, silakan bayangkan sendiri kelanjutannya ya sodara-sodara. Othornya mau negokin mie rebus buatan Mirza yang udah mblodor jadi spaghetti tuh kayaknya di meja makan.


________


Setelah pertemuannya dengan Hanson kemarin, akhirnya hari ini Arumi berkencan juga dengan Bule Jerman itu. Hanson sedikit terkejut melihat penampilan Arumi ketika menjemputnya.



“Kamu yakin mau pakai baju seperti itu?” Tanya Hanson.


“Why?”


“Cuaca hari ini dingin.”


“Cuman mataharinya aja yang belum nongol.” Sahut Arumi cuek lantas ngeloyor menuju mobil Hanson. “Bukain dong pintunya!” Rengek Arumi sok manja.


Hanson menurutinya, meski agak jengah juga dengan perempuan itu tapi ini semua dia lakukan untuk dapat bertemu dengan Sofi.


“Aku mau kita sarapan roti breztel dan gulashcuppe di café Koestlich.” Ujar Arumi.


Hanson heran juga Arumi tau café favoritnya yang menyediakan menu-menu makanan Jerman. Hanson hanya serius mengemudi sementara Arumi terus bicara.


“Setelah itu aku ingin kamu menemaniku belanja. Oh, bukan menemani, lebih tepatnya membayariku belanja.” Arumi meralat kalimatnya sendiri. “Aku mau kamu membelikanku baju, sepatu, tas, perhiasan dan banyak lagi. Setelah itu kita makan siang dan nonton, lalu sorenya kita ke pantai.”


Hanson tak merespon.

__ADS_1


“Bagaimana? Kamu setuju kan?” Tanya Arumi karena Hanson hanya diam saja.


“Wie Du willst! (Terserah kamu)” Sahut Hanson tanpa melihat Arumi.


“Good boy!” Arumi menjawil genit pipi Hanson.


Mobil Hanson terus melaju menuju tempat pertama sesuai instruksi Arumi. Tak berapa lama mereka sampai di sebuah café yang Arumi inginkan. Arumi langsung menggandeng lengan Hanson mesra dan meminta Hanson melingkarkan tangan kanannya ke pinggang rampingnya.


“Kita sudah seperti sepasang kekasih kan?” Celutuk Arumi diiringi tawa kecil, Hanson hanya bisa pasrah.


Sang pelayan segera menyambut mereka, Arumi pun memesan makanan yang diinginkannya.


“Kau mau makan apa, Meine liebe?” Tanya Arumi dengan nada manja setelah ia selesai dengan pesanannya.


Hanson sedikit aneh dipanggil seperti itu. Meine Liebe artinya cintaku.


“Sama seperti kamu.” Sahut Hanson singkat.


Sang pelayan segera pergi setelah yakin tak ada lagi menu yang dipesan. Arumi nampak sangat senang bisa ngedate sama laki-laki yang sejak dulu didambakannya itu. Berbeda dengan Hanson, dia datar saja, pun ketika Arumi memintanya untuk berselfi. Ulah Arumi tak berhenti sampai disitu, setelah makanan datang dia minta disuapin sama Hanson.


“Kamu kan bisa makan sendiri, Rumi?”


“Kalo aku maunya disuapin, kamu mau apa?”


Akhirnya Hanson nurut lagi. Setelah dirasa cukup, Arumi pun mengucapkan terima kasih. “Danke schon, meine liebe.”


“Aku hargai usahamu. Bahasa jermanmu tak terlalu buruk.” Sahut Hanson, dia kini baru bisa makan dengan tenang setelah selesai menyuapi Arumi.


Arumi tersenyum bangga, tak sia-sia dia ngintipin goggle sadari subuh hanya buat belajar beberapa kata bahasa Jerman.


“Setelah ini kita nonton ya?” Ujar Arumi.


“Kamu bilang mau belanja?”


“Oh, apa aku bilang begitu?” Arumi mengingat-ingat. “Ya baiklah, kalo kamu maksa. Kita belanja dulu baru setalah itu nonton.” Sahut Arumi cuek lalu menikmati minumannya.


Hanson benar-benar tak habis pikir dengan perempuan di depannya itu.


“Oya, jangan lupakan acara sore kita. Kita akan menghabiskan senja di pantai.”


“Aku nggak mau tanggung jawab kalo kamu masuk angin gara-gara pakaianmu itu.”


Arumi senyum menggedikan bahu cuek.


________


Oke, kita kembali ke Mirza dan Via.


Cup!


Mirza menghadiahkan kecupan hangat di kening Via.


“Makasih ya, sayang.”


“Tadi kan udah.”


“Bilang lagi kan boleh?” Mirza memeluk Via.


Via tersenyum merasakan kehangatan pelukan suaminya dan aroma masculine dari suaminya itu.


“Mas, aku nggak enak deh.” Via mendongak menatap suaminya tiba-tiba.


“Kenapa, sayang?”


“Kita nggak bantu apa-apa di nikahannya Om Jaka.”


Mirza menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi Via. “Om Jaka dan Denaya ngerti keadaan kita kok. Mas udah cerita kondisi kamu ke meraka.”


“Beneran, Mas?” Via agak terkejut.


Mirza mengangguk. “Mas nelpon Om Jaka. Kamu jangan khawatir, mereka ngerti kok. Lagian Pak Haji Barkah kan punya banyak anak buah yang pasti siap membantu segalanya.”


“Iya sih, bener Mas.” Via lega. “Tapi apa ibu juga tau ya, Mas? Kira-kira gimana respon ibu nanti?” Via mendadak khawatir.


“Jangan pikirkan soal itu. Mas nggak mau liat kamu sedih.”


Via mengangguk patuh meski hatinya berkecamuk, nanti pasti akan ketemu sama ibu mertuanya dan dia harus siap-siap mengahadapi perkataan ibu mertuanya itu.


“Ya udah, kita pergi sekarang sayang.”


“Iya, Mas.” Via meraih tasnya di atas meja rias, dan melihat pantulan bayangan dirinya dan suaminya dari cermin. “Eh, tunggu Mas!” Panggil Via pada Mirza yang mau keluar kamar.



“Apa, sayang?”


“Mas kok pake batik sih? Aku baru sadar.”

__ADS_1


“Kenapa memangnya?” Mirza heran.


“Kan nggak matching sama aku. Aduh kayaknya aku salah kostum nih, bajuku apa terlalu terbuka ya?” Via jadi rempong tiba-tiba.



“Nggak, sayang. Lagi pula akad nikahnya cuman bentar, terus langsung balik ke rumah lagi acara keluarga aja kok. Udah yuk, nggak papa, baju kamu bagus kok. Nggak terlalu terbuka, kan nanti pakai jaket di jalannya.” Mirza menenangakan istrinya yang nggak tau kenapa jadi panik sendiri begitu.


“Ih, nggak ah. Aku mau ganti baju dulu. Atau Mas Mirza aja yang ganti, jangan pake batik.”


“Eh, kok Mas malah disuruh ganti? Nggak ah, nanti keburu telat lagi.”


“Ganti, Mas. Itu terlalu formil. Lagipula …” Via tak lantutkan kalimatnya.


“Kenapa?”


“Mas terlalu keren pake baju itu, nanti takut cewek-cewek pada ngeliatin.” Via bersungut-sungut.


Mirza terkekeh mendengar kalimat yang meluncur begitu saja dari mulut istrinya.


“Malah ketawa lagi.” Kesal Via. “Ya udah kalo nggak mau ganti bajunya, cukur jenggot sama kumisnya dulu.” Lanjut Via.


“Apa?” Mirza melotot kaget. “Aduh, plis dong sayangku.”


“Mas kan udah lama nggak bercukur? Cukur aja sekarang. Itu bikin gatel tau! Nih, pipiku sampe merah-merah gini gegara kelakuan Mas Mirza.”


“Kok baru protesnya sekarang sih? Tadi diem aja diciumin?” Ledek Mirza.


“Pokoknya cukur, Mas!” Via kekeh.


“Sayang, apa-apaan sih? Udah nggak hamil juga masih aja permintaanmu aneh-aneh.” Mirza sedikit kesal juga dengan kelakuan istrinya.


“Habisnya Mas keliatan macho bnaget kalo kayak gitu, nanti ….”


“Sssstt.” Mirza menempelkan telunjuknya pada bibir Via. “Jangan mikir yang aneh-aneh. “Mau cewek satu kampung ngeliatin suamimu yang ganteng ini juga, tetep aja suamimu ini hanya jatuh hati padamu. Udah ya, jangan cemberut lagi. Mau kamu pake baju apapun, kita berdua ini pasangan paling serasi sejagat raya mengalahkan Kirana dan Abimana, Alia dan Aufar, Mikha dan Maxim, Nayla dan Gion, Sanchia dan Sall, Anjani dan Mario, Alisa dan Badai, Nayla dan Adit, ataupun Archi dan Anya.”


“Ish, siapa mereka?” Via heran.


“Heum, itu para penumpang VVIP yang pernah berpesiar dengan Delta Cruise.”


“Ha? Kamu sampe hafal dan mengabsen mereka semua, Mas?” Sekonyong-konyong Via meletot tak percaya.


“Iya, dan masih ada beberapa lagi. Tapi kalo Mas sebutin semua nanti kita keburu telat. Ini udah jam 9 lebih, sayang. Ayok, kita berangkat.”


“Baiklah.”


Mereka akhirnya keluar rumah dan menyudahi perdebatan yang tak seberapa penting itu. Mirza segera mengeluarkan motor dari garasi setelah memakaikan jaket pada istrinya.


Ceklek ceklek


Via mengunci pintu rumahnya dan membenamkan kunci itu ke dalam tasnya.


“Hey, Mas Chico Jericho dan Mbak Isyana Sarasvati…! Kalian mau kemana? Kok udah pada rapi begitu?”


Mirza dan Via kompak menoleh pada sumber suara yang tentu saja sudah bisa ditebak punya siapa.


Yup! Si Jeng Jelita Manjawati atau Jelita Manjalita alias Jeli alias Bujel.


“Ya, Tuhan. Cobaan apa lagi ini.” Ratap Mirza dalam hati.


“Mau pada kondangan ya?” Si Bujel malah mendekat semakin kepo.


“Iya, mau ke nikahannya Omnya Mas Mirza.” Jawab Via mencoba ramah meski tau raut ganteng wajah suaminya terlihat kesal.


“Owh…” Bibir merah merona si Bujel membulat dan sedikit dimonyongkan sehingga terlihat sedikit dramatis dan setengah erotis.


“Ya udah, kalo gitu kami permisi dulu ya Jeng.” Pamit Via.


“Eh, tunggu dulu.” Sergah si Bujel pada Via yang mau naik ke boncengan motor. “Nitip bungkusin rendang sama opornya ya? Soalnya saya hari ini nggak masak. Anak saya lagi liburan di rumah neneknya dan saya lagi agak nggak enak badan nih.” Bujel memijat-mijat tengkuknya seolah beneran nggak enak badan.


Via dan Mirza saling pandang. Unik banget tetangga mereka yang satu ini memang.


“Kalo nggak, sambal goreng ati sama gule juga boleh. Atau apa aja deh menunya disana ya. Jangan lupa sama kue-kuenya juga.” Imbuh si Bujel nggak nanggung-nanggung.


Via tak bisa bilang apa-apa. Dia lekas naik ke boncengan menuruti isyarat mata suaminya.


“Jangan lupa pesenan saya ya, Jeng!” Seru Bujel setengah berteriak begitu motor Mirza melaju.


“Tolong tutupin pintu gerbangnya ya, Jeng!” Balas Via agak berteriak juga.


___________❤️❤️❤️


Segini dulu ya Kak ☺️


Menyusul segera kelanjutannya ya…😉😉


Mohon maaf kalo ada typo dan kesalahan terjemahan 🙏😁

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu.😍😍


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2