TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
152 #RENCANA ALATAS


__ADS_3

Tia dan Arya akhirnya punya toko kue di kota kecamatan berkat bantuan Bu Elin. Kesibukan Arya sekarang selain ngojek juga membantu menjaga toko jika Tia ada jam ngajar di sekolah. Perlahan toko kue mereka mulai di kenal karena Tia gencar mempromosikan usahanya lewat akun sosmednya. Namun itu semua tak membuat Bu Harni ikut senang, ia justru makin khawatir karena merasa semua anak-anaknya sudah dimanfaatkan oleh orang-orang terdekat Pak Hadi.


“Nek, ayok kita nyusul Bunda.” Rengek Ica sore itu pada Bu Harni.


“Nanti juga Bunda pulang, Ca. Nggak usah nyusul ke sana.” Bu Harni enggan. Ia memang belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di toko kuenya Tia.


“Tapi Ica mau nyusulin Bunda, Nek.”


Bu Harni tak bergeming masih melanjutkan aktifitasnya di dapur.


“Kalo Nenek nggak mau nganterin, Ica berangkat sendiri!” Ancam Ica seraya bersidekap menyilakangkan tangan di dada dengan menggelembungkan kedua pipinya.


Bu Harni menyabarkan diri atas tingkah cucunya yang kerap merajuk manja itu. Sedari pagi tadi juga sebenarnya Bu Harni agak keberatan dititipin Ica, namun karena Ica yang bilang sendiri pingin main ke rumah neneknya jadilah Ica ditinggal di sana.


“Ica sayang. Tunggu nenek selesai masak ya. Tante Riri kan bentar lagi pulang, kasihan kalo belum ada makanan.” Bujuk Bu Harni.


“Masaknya nanti aja, Nek. Anterin Ica dulu!”


Bu Harni merasa kehabisan cara, Ica memang kalo merengek susah untuk ditaklukkan. Beruntung motor Riri kemudian terdengar memasuki halaman. Ica langsung berlari menyongsong tantenya yang pulang dengan wajah letih itu.


“Tante Riri ….! Ayok anterin Ica ke tokonya Bunda. Nenek nggak mau nganterin, katanya nunggu selesai masak dulu.” Ica mengadu.


Riri menghempaskan tubuhnya ke atas sofa ruang tengah. “Bentar ya, Ca. Tante istirahat dulu.”


“Ri, kamu kok tumben pulang cepet?" Tegur Bu Harni.


“Iya, Bu.” Riri meluruskan sendi-sendinya yang terasa pegal. “Barusan abis rapat sama Bu Elin. Mulai besok aku yang bertanggung jawab dengan semua toko kue Bu Elin, termasuk yang dipegang sama Mbak Tia.”


“Emangnya Bu Elin punya berapa toko kue?” Bu Harni kepo.


“Lima cabang.”


Bu Harni tertegun. Diam-diam ia menghitung dalam hati berapa nominal pendapatan dari lima cabang toko kue itu jika semuanya resmi menjadi milik Riri sendiri. Namun itu pun jika Riri beneran nikah sama Danar.


Nggak! Aku nggak akan ngebiarin Riri nikah sama anaknya Mas Pram. Aku yakin Mas Pram masih dendam sama aku. Aku nggak mau Riri disakiti karena menjadi alat balas dendam sakit hatinya Mas Pram. Nggak akan semudah itu kamu bisa memperalat anak-anakku Mas.


“Ibu kenapa? Kok geleng-geleng begitu? Kayak ikan mujair kehabisan air!” Tanya Riri yang melihat tingkah aneh ibunya geleng-geleng kepala sendiri dengan raut khawatir.


“Emh, nggak. Nggak papa.” Tepis Bu Harni, dia sendiri nggak sadar dengan tingkahnya. “Ya udah, ibu mau lanjutin masak dulu.”


“Terus itu anak urusannya gimana, Bu?” Riri menunjuk Ica dengan dagunya.


“Kamu anterin sana. Ibu nggak mau ke tokonya Tia.”


“Nah, kan! Ibu kumat lagi deh, sebelnya sama Pak Hadi eh toko kuenya Mbak Tia yang jadi sasaran.” Ledek Riri.


“Bukan gitu, ibu males aja kesana!”


“Hemmm, jangan-jangan ibu yang masih belum bisa move on nih?” Riri makin meledek ibunya.


Bu Harni melotot. “Jangan kurang ajar ya sama ibu!”


Riri spontan membekap mulutnya sendiri, Bu Harni kembali ke dapur dengan kesal.


“Tante, jadi nganterin Ica nggak sih?!” Ica merengek lagi.


“Eh, iya. Tapi mendingan Ica mandi dulu yuk, nanti kalo udah wangi dan cantik kita nyusul Bunda.” Sebenarnya itu hanya akal-akalan Riri aja, dia juga males nganterin Ica karena capek banget, lagi pula sebentar lagi juga toko Tia pasti tutup karena memang sudah sore.


“Tapi tante nggak bohong kan?” Ica menyipitkan kedua matanya, menatap penuh selidik tantenya yang biasanya suka usil padanya itu.


“Nggak dong …, kita kan friend.” Riri menunjukkan kelingking kanannya, Ica langsung menautkan kelingkingnya yang imut pada kelingking Riri.


“Oke!” Jawab Ica.


“Tapi mandinya tante dulu ya? Ica main air dulu di belakang, abis tante selesai mandi dan sholat ashar nanti baru tante mandiin Ica.” Riri melihat jam di dinding, sekarang jam setengah empat. Selesai Ica mandi sekitar jam 5 an, dan kakaknya pasti sudah pulang, dengan begitu dia nggak perlu mengantarkan Ica ke sana.


“Berarti Ica boleh main air nih?”


“Boleh lah, kan sambil nungguin tante? Sekarang cepet ambil mainan Ica.”


“Yess!” Anak itu kegirangan, nggak sadar kalo lagi diakalin sama tantenya. Dia langsung berlari mengambil semua mainannya dan memboyongnya ke halaman belakang dekat keran air tempat biasanya sang nenek mencuci pakaian.


Riri tersenyum, “dasar bocah! Mau aja dikibulin!”


❤️❤️❤️❤️❤️


Orang tua Sofi baru saja pindah ke rumah baru mereka beberapa hari yang lalu, dan sore ini Sofi sedang mengunjungi mereka. Tuan dan Nyonya Husein merasa sangat senang karena rumah mereka sekarang jauh lebih nyaman dan bagus daripada rumah kontrakan mereka yang sebelumnya.


“Terima kasih ya, Sof. Seharusnya kamu nggak perlu melakuakan semua ini. Kamu sampai harus menghabiskan simpananmu hanya untuk membeli rumah baru untuk kami.” Nyonya Husein menatap putrinya penuh rasa terima kasih.


“Aku melakukannya dengan senag hati, Ma.” Balas Sofi. “Lagipula mana mungkin aku membiarkan Mama dan Papa berlama-lama tinggal di rumah kontrakan yang sempit itu.”


“Apa suamimu tahu hal ini?” Tanya Tuan Husein dengan suara beratnya.


Sofi menggeleng. “Itu kan uang tabunganku, Pa. Aku tak perlu minta ijin padanya.”


Tuan Husein tak mau mendebat anak perempuannya yang sangat keras kepala itu. Fisiknya sudah semakin menua, karena penyakit jantung yang dideritanya ia memilih untuk lebih banyak diam tak ingin ambil pusing dengan apapun yang dilakukan Sofi meski hatinya kerap bertentangan dengan langkah berani putrinya itu.


“Oya, Pa. Apa Azad sudah mengatakan tentang sertifikat rumah Alatas yang aku serahkan padanya?” Sofi malah menyinggung tentang hal yang ingin dihindari oleh ayahnya.


Tuan Husein hanya mengangguk samar.

__ADS_1


“Sofi, jangan menyulitkan dirimu Nak.” Nyonya Husein memperingatkan.


“Ck! Kemana kegarangan Papa perginya? Kenapa Papa seperti sudah menyerah?” Decak Sofi mengolok ayahnya yang tak menunjukkan komentar apapun.


Tuan Husein diam, dan itu membuat Sofi makin kesal. “Papa sudah membiarkan harga diri kita diinjak-injak oleh Alatas. Pertama, Papa menjadikanku sebagai alat pembayar hutang.”


“Sofi, cukup! Kamu tak pantas bicara seperti itu pada Papamu!” Sela Nyonya Husein.


“Papa minta maaf …” Lirih Tuan Husein dengan raut penuh penyesalan.


“Lupakan, Pa. aku sudah mulai menyukai peranku sebagai Nyonya Alatas meski sekedar acting.” Sinis Sofi. “Yang kedua, Alatas mengingkari janjinya akan mengembalikan rumah kita setelah aku menikah dengan Kak Ram. Ketiga, dia menjadikan Papa sebagai laki-laki tua yang sakit-sakitan dengan masalah-masalah yang sengaja dia ciptakan. Papa begini karena ulah si tua bangka Alatas itu. Dan aku yakin, dia juga yang telah membakar pabrik kita. Dia nggak akan berhenti sampai disini sampai keluarga kita benar-benar hancur, dan aku pun nggak akan tinggal diam membiarkannya merusak keluarga kita.” Sofi mengepalkan tangannya menahan amarah.


“Namun itu semua karena kau yang memulainya.” Sarkas Nyonya Husein.


Sofi manatap ibunya tak yakin. “Mama menyalahkan ku?”


“Kau yang mengkhianati Ramzi.” Suara wanita setengah baya lebih itu parau.


“Lalu siapa yang memaksaku untuk menerima perjodohan dengannya? Apa kalian memberiku pilihan untuk menolak atau menerimanya?” Sofi menatap nanar kedua orang tuanya, luka lamanya tersayat kembali. “Papa dan Mama tentu tau, aku perempuan bebas yang penuh ambisi. Kalian sudah salah langkah dari awal dengan menerima perjodohan aku dengan Kak Ram. Kalian tidak sadar itu hanya akal-akalan Alatas saja untuk dapat merebut perusahaan keluarga kita.” Suara Sofi bergetar, ia berusaha menahan tangisnya. Ia ingat kebebasannya tercerabut kala harus menerima perjodohan itu sedari usianya belia.


“Jangan diteruskan, Sof. Ini semua memang salah Papa.” Kedua netra laki-laki tua itu mengembun. “Sekali lagi Papa minta maaf ….” Butiran bening itu luruh juga dipipi keriput lelaki yang sempat begitu gagah dan garang menentang semua langkah Alatas.


Nyonya Husein mengusap-usap bahu suaminya untuk menenangkan meski ia sendiri hampir menangis.


“Papa dan Mama jangan menghkawatirkanku. Aku akan membalas semua perlakuan Alatas yang sudah meyebabkan Papa dan Mama menderita begini.” Sofi mengangkat wajahnya dengan senyum penuh percaya diri. “Alatas pasti akan ku buat hancur!”


“Sofi, ingat kau sedang mengandung anak Ramzi.” Nyonya Husein kembali memperingatkan.


“Justru ini akan aku jadikan alat untuk mewujudkan rencanaku jadi nyata, Ma.” Seringai Sofi.


Tuan dan Nyonya Husein sudah kehabisan cara untuk meredam Sofi. Disatu sisi mereka tak ingin melihat Sofi dalam bahaya, namun di sisi lain mereka juga membenarkan jika mereka memang ingin kembali berjaya seperti dulu.


“Nyonya, maafkan saya.” Supir pribadi keluarga Alatas membungkuk hormat. “Tuan besar meminta Anda untuk pulang sekarang, karena nanti malam akan ada jamuan untuk tamu penting di rumah.”


Sofi mengernyit. “Jamuan untuk tamu penting?”


“Benar, Nyonya. Jadi sebaiknya kita pulang sekarang, karena hari sudah petang.”


Tamu penting siapa? Apa kolega si tua bangka lagi yang datang dari luar kita? Lalu apa hubungannya denganku sampai harus ikut makan malam segala? Rasa-rasanya si tua bangka itu ingin bermain-main denganku selagi Kak Ram masih di luar kota. Baiklah, akan aku ikuti permainanmu!


“Pa, Ma. Aku pamit dulu ya.” Sofi beranjak Pamit dan segera masuk ke dalam mobilnya yang dikemudikan oleh sang sopir pribadi.


Petang bergani malam, Sofi sudah bersiap. Dia nampak anggun dalam balutan gaun panjang dengan bahu yang sedikit terekspose. Sofi menduga tamunya pastilah laki-laki, jadi dia harus tampil sebaik mungkin. Dia akan beracting menjadi seorang Nyonya sekaligus menantu yang baik demi mengkuti permainan ayah mertuanya.


Seorang pelayan memberitahukan bahwa tuan besar sudah menunggu Sofi di ruang makan. Sofi pun segera turun dan menyapa ayah mertuanya dengan senyuman mengembang seolah hubungan diantara mereka memang sangat harmonis. Sofi duduk di kursi yang sudah disiapkan pelayan dan tak mau banyak tanya.


“Jadi, apa kamu tak penasaran siapa tamu kita malam ini?” Tuan Alatas melirik sekilas pada menantunya.


Sofi tersenyum. “Sejujurnya aku tak peduli siapapun tamunya. Aku hanya tak ingin mengecewakanmu saja.”


Tak berapa lama, kepala pelayan memberitahukan bahwa tamu meraka sudah tiba. Tuan Alatas segera meminta pelayan untuk mengajaknya langsung ke ruang makan.


Tap tap tap …


Langkah-langkah sang tamu terdengar mendekat, Sofi menajamkan penglihatannya untuk meyakinkan diri bahwa ia tak salah mengenali sosok tamu itu. Dan semakin sang tamu mendekat, Sofi tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


JENGJRENG!


Sang tamu yang ditunggu-tunggu ternyata adalah Jane.


“Selamat malam Tuan Alatas, selamat malam Nyonya Sofi.” Sapa Jane dengan sneyum seraya mengangguk hormat.


“Selamat malam, silakan duduk Jane.” Tuan Alatas mempersilakan Jane duduk. Pelayan menarik kursi tepat di hadapan Sofi. “Kau terlihat sangat cantik malam ini.” Puji Tuan Alatas.


Jane tersipu. “Terima kasih, Tuan.”


Cih! Apa-apaan si tua bangka ini mengundang perempuan tak tau malu ini datang kemari? Apa dia berniat akan menjadikannya istri baru?


“Sofi, apa kau tak ingin menyapa tamu kita?” Ucap Tuan Alatas.


Mati-matian Sofi mengusai dirinya agar tak meledak. Ia tak ingin ayah mertuanya itu menikmati emosinya karena ia yakin itulah tujuan ayah mertuanya mendatangkan Jane ke rumahnya. Sofi berusaha bersikap tenang, meski darahnya hampir mendidih karena selalu benci ketika melihat tampang Jane yang menurutnya selalu saja berusaha merebut perhatian suaminya.


“Aku rasa tak perlu. Sebab jika dia bisa sampai kemari, pastinya dia dalam keadaan baik kan?” Sinis Sofi.


Jane merasa tak enak, karena sebenarnya dia juga tak ingin menerima undangan makan malam itu. Namun karena Tuan alatas memaksanya, maka dia pun menyetujuinya.


Acara makan malam pun segera dimulai. Meraka makan tanpa sepatah kata pun, hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang sesekali terdengar. Sofi menyimpan amarahnya rapat-rapat, sedangkan Jane masih menerka-nerka apa maksud sebenranya Tuan Alatas mengundangnya.


“Bagaimana kalau kita lanjutkan keakraban kita ke ruang tengah sambil minum teh?” Usil Tuan Alatas seusai makan.


“Maaf, aku tak bisa. Aku sedikit mual, aku takut membuat kalian tak nyaman.” Sahut Sofi cepat.


“Sayang sekali.” Tuan Alatas tampak menyesal. “Kalau begitu akan aku sampaikan saja maksud dan tujuanku mengundang Jane kemari.” Lanjutnya.


“Katakan saja, aku siap mendenagrnya.” Sofi cuek.


“Aku akan merekrut Jane kembali sebagai asisten pribadi.”


JRENG!


Kali ini Sofi sungguh tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

__ADS_1


“Aku nggak setuju! Suamiku tak memerlukan asisten pribadi!”


Tuan alatas tersenyum lebar, Jane sendiri nampak kaget dengan perkataan Tuan Alatas.


“Maaf Tuan, tapi Anda sendiri belum menanyakan kesiapanku.” Ucap Jane.


“Papa dengar sendiri kan? Dia sendiri kayaknya keberatan.” Sofi manatap Jane tajam.


Tuan Alatas malah tergelak. Sofi sampai heran karena merasa sama sekali tak ada yang lucu, dia merasa ayah mertuanya itu sudah mulai gila.


“Siapa bilang dia akan bekerja untuk Ramzi?” Tuan Alatas memandang Jane penuh arti. “Nona Jane, kau akan menjadi asisten pribadiku.”


“Asisten pribadi Tuan Alatas?” Jane meyakinkan.


“Iya. Sampai sekarang kau masih belum bekerja kan?”


“Aku rasa kalau memang dia bekerja untuk papa, lantas untuk apa aku harus ikut berada disisni? Ini urusan kalian, aku sama sekali tak punya kepentingan disini. Permisi!” Sofi segera bangkit dan berlalu tanpa menunggu respon dari ayah mertuanya. Ia yakin sekali hal itu adalah bagian dari rencana busuk ayah mertuanya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Hanson berbaring di atas kasur busanya dengan perasaan tak menentu. Beruntung ia mempunyai seorang teman yang bisa menemaninya di apartemen. Sejak tragedi pisang tanduknya yang ditendang Rumi, Hanson harus menderita sakit sampai semalaman. Beberapa hari telah berlalu, rasa sakit dan ngilu itu memang sudah sembuh, namun Hanson masih uring-uringan karena merasa ada yang aneh pada dirinya.


“Udah deh, sebaiknya elo periksa kejiwaan elo itu ke dokter!” Saran teman Hanson yang bernama Ben.


“Kamu pikir aku gila!” Hanson tak terima.


“Kalo bukan gila apa namanya? Sebentar-sebentar ngamuk ngak jelas, lalu ngedumel nggak karuan. Bukankah itu tanda-tanda orang yang mengidap ganguan kejiwaan?” Ben asal.


“Ya sudah, kalau kamu emang nggak mau nemenin aku lagi lebih baik kamu pergi sana! Pergi!” Usir Hanson.


“Oke! Lagi juga sipa yang mau berlama-lama disini? Buang-buang waktu aja!” Ben kesal. “Mana bayaran gue!” Ben menengadahkan tangannya.


“Nanti aku transfer!”


“Awas lo kalau bohog!” Ancam Ben mengepalkan tinjunya.


“Iya! Sekarang cepat pergi sana! Aku nggak mau liat muka kamu lagi, g**et out” Teriak Hanson.


“Dasar bule gila! Pantes aja cewek elo kabur ketakutan!” Cibir Ben.


BUGH!


Hanson melemparkan bantal tepat mengenai muka Ben. “G**et out!” Teriaknya sekali lagi.


“Iya iya, ini juga gue mau get out!” Ben buru-buru keluar kamar membanting pintu sebelum diamuk lagi.


Hanson mengacak-ngacak kamarnya sambil berteriak-teriak nggak jelas. “S**t! Ini gara-gara kamu Rumi! Kenapa aku jadi begini? Kamu jahat, Rumi! Jahat! Aaaargh….!! Rumi I hate you ….!!”


Ceklek


Pintu kamar Hanson dibuka. Hanson menoleh cepat.


“Rumi …?”


“Sorry, hp gue ketinggalan. Hehee….” Tampang Ben nongol lagi dengan nyengir kuda dan mencari ponselnya di kamar Hanson. “Eh, elo kenapa ngeliatin gue kayak gitu?” Ben sadar Hanson memperhatikannya yang lagi nyariin hpnya yang lupa dia taroh dimana.


“Aku kira Rumi yang datang ….” Gumam Hanson dengan mata sayu.


“Ck, elo sih pake nggak sabaran mau buru-buru nyerang dia, jadi kabur kan deh cewek lo?” Celetuk Ben.


Hanson terduduk. “Rumi…, aku minta maaf. Aku khilaf ….”


“Dasar bule aneh!” Ben tak menggubris, dia kembali mencari ponselnya sementara Hanson masih terus meracau tak jelas. Suaranya kini lirih seperti sedang meratap, hilang sudah amukannya yang meledak-ledak barusan.


“Nah, ketemu.” Ben menemukan ponselnya di dekat wastafel. “Gue balik ya.”


“Ben …” Panggil Hanson memelas. “Kamu mau bantuin aku ketemu Rumi?”


Ben urung keluar. “Gimana ya? Masalahnya kesalahan elo tuh fatal sih. Elo harus tau ya, nggak semua cewek bisa kamu ajakin begituan meskipun dia kayaknya cinta mati sama elo. Kalo dari cerita elo itu sih, gue yakin Rumi itu kagak bakalan mau balikan sama elo.”


Hanson malah terisak, belum pernah dia menangis gara-gara perempuan. Hanson sampai pada puncak frustasinya karena Rumi memblokir nomernya. Sepertinya Rumi lebih marah dari yang sebelumnya, karena sama sekali nggak mau berhubungan lagi dengan dirinya.


“Tolong temukan dia, katakana aku minta maaf dan sangat menyesal.”


“Duh! Gue nggak yakin.”


“Aku kasih bayaran lebih.”


“Oke deh. Mana alamatnya?”


❤️❤️❤️❤️❤️


Ea…. Ada uang semuanya lancar ya? Hehe….😁😁😁


Upnya segini dulu ya Kak, nantikan kelanjutannya.🤩🤩🤩


Terima kasih sudah membaca.🙏🙏🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak, ok….😉😉


Selamat berpuasa bagi yang menjalankan😍😍

__ADS_1


Luv u all


🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2