
Riuh kepanikan warga kampung Jati Asri mengantar langkah Bu Een menghampiri rumahnya, sepeda motornya entah nyangkut dimana, yang jelas begitu ia sampai depan jalan ia sudah ikut larut dalam kepanikan warga yang pontang panting berlarian membawa barang-barang yang bisa diselamatkan.
Kebakaran hebat telah menghanguskan sedikitnya lima rumah termasuk rumah dan toko Bu Een. Asap hitam membumbung tinggi ke angkasa, dengan segala upaya warga memadamkan api agar kebakaran tak semakin meluas. Teriakan kepanikan warga bercampur dengan sirine delapan unit mobil Damkar yang baru saja sampai. Petugas pemadam kebakaran bahu membahu menjinakkan sang jago merah yang terus melahap apa saja yang ada didekatnya. Suasana siang yang terik dan hembusan angin yang cukup kencang membuat petugas sedikit kesulitan memadamkan api, selain itu material rumah warga yang mudah terbakar membuat api cepat sekali membesar. Sesekali tedengar bunyi ledakan dari toko Bu Een yang memang terdapat cukup banyak tabung gas elpiji, menambah susana semakin mencekam dan menegangkan. Warga yang sudah pasrah hanya bisa menyaksikan di tempat yang aman sambil berharap api bisa segera dipadamkan.
Setelah empat jam berjuang, akhirnya petugas pemadam kebakaran berhasil menjinakkan sang jago merah. Setelah keadaan aman, warga memeriksa keadaan rumah mereka yang hanya menyisakan puing-puing sisa kebakaran, termasuk Bu Een. Kedua kakinya diayun lemah menuju rumah dan tokonya yang sudah ludes dilalap api. Terduduk lunglai di bawah pohon jambu air yang juga hanya meninggalkan seonggok batang hitam hampir rata dengan tanah. Asap tipis masih mengepul dari sisa puing-puing rumah dan tokonya.
Kejadian itu terjadi begitu singkat dan sangat cepat, tak ada yang mengira kalau musibah dahsyat akan terjadi di kampung mereka. Semuanya berawal dari ledakan yang terjadi di dapur rumah Bu Een. Ia lupa meninggalkan rumah ketika sedang memasak air. Nahas, rumah sebagian warga juga siang itu ternyata sedang sepi karena ditinggal kerja oleh para penghuninya. Termasuk rumah Romlah yang paling dekat dengan rumah Bu Een, rupanya setelah ia ngomel-ngomel pada Bu Een, dia juga pergi entah kemana sehingga sangat terlambat baginya untuk mengetahui kebakaran yang meluluhlantakkan rumah satu-satunya aset yang miliknya. Warga baru menyadari musibah kebakaran tersebut ketika api sudah membumbung tinggi dari atap rumah Bu Een, peralatan yang tidak memadai disertai ketakutan membuat usaha mereka untuk memadamkan api seperti tak berarti, karena nyatanya kebakaran justru semakin meluas memebakar dua rumah di belakang Bu Een dan samping kiri kanan rumah yang juga bersebelahn dengan rumah Bu Een.
“Bu Een, semua ini gara-gara sampean!” suara Romlah mengagetkan Bu Een yang tengah hanyut meratapi harta bendanya yang ludes tak bersisa.
Menoleh dengan pandangan nanar, beberapa warga ikut datang setelah Romlah.
“Sampean harus bertanggung jawab! Saya minta ganti rugi!” Tegas Romlah yang juga sangat shock dengan musibah tersebut.
“Iya, betul. Saya juga!” timpal warga yang lain.
“Saya juga.”
“Rumah dan motor saya habis terbakar.”
“Rumah saya juga. Pokoknya Bu Een harus mengganti semuanya!”
“Setuju! Setuju!”
Dalam sekejap keributan tercipta, Bu Een dikerumuni para warga yang menjadi korban kebakaran. Mereka menuntut ganti rugi.
“Kenapa kalian tega sekali?” suara Bu Een serak. “Saya juga korban, apa kalian nggak lihat? Rumah dan toko saya habis terbakar. Bahkan mobil, motor, surat-surat berharga saya ikut terbakar disana!” teriak Bu Een pilu menunjuk puing rumahnya yang gosong.
“Tapi kan semua ini berasal dari kecerobohan sampean!” Sela seorang warga laki-laki.
“Iya, betul!
“Betul itu!”
Beberapa warga menimpali.
“Pokoknya kami minta ganti rugi dengan nilai sama, tidak kurang tidak lebih titik!” tegas Romlah.
“Setuju …!” sahut warga korban kebakan serempak.
Mencoba bangkit dengan kakinya yang gemetar, “Ini musibah! Kenapa kalian menyalahkan saya, hah?” berteriak meradang.
“Karena memang Bu Een yang salah!” Sahut Romlah.
“Sudah, kalau dia tidak mau tanggungjawab, kita seret saja ke kantor polisi”
“Iya, ayok! Seret dia!” seorang warga langsung menarik lengan Bu Een secara paksa, diikuti warga yang lain.
“Lepas! Lepaskan saya!” Bu Een berteriak meronta namun sia-sia, para warga semakin mejadi. “Lepaskan saya! Saya tidak bersalah! Semua ini musibah, saya sudah tidak punya apa-apa lagi. Tolong lepaskan saya …” menangis dalam langkahnya yang terseok-seok.
__ADS_1
“Bapak-bapak, ibu-ibu, tunggu dulu,” Saprol datang kemudian.
“Minggir kamu Samprol!” Hardik Romlah. “Bu Een harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Gara-gara dia, rumah kami habis terbakar!”
“Iya, saya tau! Tapi Bu Een mau dibawa kemana?” Saprol memandang Bu Een yang sudah tak berdaya.
“Kami mau bawa dia ke kantor polisi!” Sahut satu Warga.
“Nanti dulu, semuanya kan bisa dimusyawarahkan,” Saprol berusaha menenangkan. “Lebih baik kita bawa ke kantor kelurahan, kita minta Pak Lurah untuk menengahi perkara ini.”
Para warga saling pandang, beberapa diantaranya nampak menganggukkan kepala.
“Kalau dibawa ke poolisi, bisa jadi urusannya makin runyam,” Saprol meyakinkan.
“Betul juga, ayok kita bwaka ke kantor kelurahan saja!” Celetuk warga yang lain.
“Iya, benar. Bu Een ini kan masih punya sawah dan kebon jati, kita minta Pak Lurah untuk bantu menjualnya biar kita dapat ganti rugi,” warga yang lain menimpali.
“Bener. Oke, sekarang kita ke Pak Lurah!” Romlah memimpin warga berjalan di depan.
Bu Een sudah tak punya pilihan, dia hanya pasrah. Air matanya terus tumpah, rasa sedih, kehilangan, nelangsa campur penyesalan memenuhi rongga dadanya. Andai saja ia tak lupa mematikan kompor dan buru-buru pergi menemui Via mungkin musibah kebakaran tak akan menimpanya.
Semua ini gara-gara Via. Ya, ini semua salahnya. Via penyebab semua ini! Batin Bu Een kembali meronta. Dengan segenap kekuatan yang tersisa, Bu Een memberontak mencoba melepaskan diri.
"Lepasin saya! Lepas! Saya harus kasih dia pelajaran!" Teriak Bu Een membuat cekalan ditangannya semakin kuat karena warga takut Bu Een melarikan diri.
"Lepasin saya! Kalian semua nggak denger? Via yang salah, bukan saya! Dia penyebab kebakaran ini, dia yang sudah membakar rumah saya! Dia yang bakar toko saya, mobil saya... " terkulai lemas diakhir kalimatnya, tubuh rentanya terjatuh ke tanah.
"Waduh! Dia pingsan!" Kaget warga yang mencekal lengan kiri Bu Een.
"Coba periksa! Jangan-jangan dia cuman pura-pura lagi." Ujar Romlah.
Seorang warga memeriksa keadaan Bu Een yang sudah tak sadarkan diri. "Pingsan beneran," ucapnya meyakinkan.
"Wah, gawat! Sebaiknya kita bawa ke puskesmas saja," usul warga yang lain.
"Ke klinik dokter Burhan saja yang lebih dekat."
"Iya, betul. Ayok!" Seorang warga melesat untuk mencari kendaraan.
"Kalo gitu saya kabari Om Jaka!" Romlah bergegas mengambil inisiatif.
Dalam sekejap, berita kebakaran yang terjadi di kampung Jati Asri menjadi head line news dibeberapa berita online lokal, warga yang tinggal bersebelahan dengan kampung Jati Asri berbodong-bondong untuk menyaksikan sendiri sisa musibah kebakaran yang merenggut beberapa rumah tetangga kampung mereka. Begitulah jaman now, sebuah tragedi malah jadi tontonan, malah tak sedikit diantara mereka yang mengabadikannya untuk menyebarluaskannya di media sosial.
Dan berkat kecanggihan teknologi informasi, berita kebakaran itu sampai juga di telinga Via.
Jumilah yang baru saja berselancar di dunia maya memberitahu Via tentang musibah itu.
Untuk beberapa saat Via terdiam, ia seperti tak percaya dengan kabar itu.
__ADS_1
"Lihat ini, Mbak," Jumilah menggeser slide demi slide foto yang memperlihatkan keadaan rumah Bu Een dan warga yang sudah hangus. "Ngeri banget ya Mbak. Bagusnya si nenek Lampir itu nggak ikut kebakar," ucap Jumilah.
"Innalillahi wa innalillahi roji'un..." Lirih Via terduduk di pinggir ranjang. Baru saja beberapa jam yang lalu ibu mertuanya itu datang mengacak-acak seisi rumahnya, kini musibah menerpanya. Bagaimana keadaan ibu mertuanya sekarang? Via bangkit perlahan.
"Jum, titip Nala ya."
"Eh, Mbak Via mau kemana?" Jumilah bertanya heran.
"Aku mau melihat keadaan ibu. Kasihan, ibu pasti sedih dan shock banget."
"Tunggu, Mbak, " sergah Jumilah. "Apa Njum gak salah denger?" meyakinkan dirinya.
"Kenapa emangnya, Jum?"
"Maaf, maksud Njum... apa Mbak Via yakin mau nemuin Bu Lampir, ehh Bu Een?"
"Iya, aku harus kesana. Ibu pasti butuh support."
Jumilah memandang Via setengah tak percaya, "Mbak Via terlalu baik jadi orang. Makanya dihina terus sama Bu Een," lirih Jumilah. "Maafin ya Mbak, kalo Njum lancang," sambung Jumilah. "Tapi apa Bu Een pantas mendapatkan semua kebaikan dan perhatian dari Mbak Via? Selama ini dia udah banyak bikin Mbak Via menderita dan sakit hati, "
"Jum, walau bagaimanapun keadaannya Bu Een adalah ibu dari Mas Mirza suami aku. Dia ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan Mas Mirza, jadi sudah sepatutnya aku berbuat baik padanya. Terlebih lagi sekarang Mas Mirza nggak tau ada dimana, ibu pasti butuh seseorang disampingnya, dan itu aku," papar Via menjelaskan.
"Iya kalo butuh, tapi kalo nggak? Gimana kalo nyampe sana Mbak Via justru diomel-omelin sama dia. Tadi aja waktu kesini dia nggak peduli sama Inces Nala, padahal jelas-jelas Inces lagi nangis Mbak. Boro-boro ditanya, dilirik juga nggak. Dari situ aja udah ketahuan, si Lampir itu sama sekali nggak peduli sama cucunya sendiri dan Mbak Via," Jumilah mendadak kesal teringat kelakuan Bu Een.
Via mendesah berat. "Jadi kamu mau jagain Nala atau nggk?" menatap Jumilah, "kalo nggak mau nggak papa. Aku bisa bawa Nala."
"Mbak, bukan gitu maksud Njum," sesal Jumilah. "Njum... "
Drrrrt
Drrrrt
Ponsel Via bergetar, membuat perhatikan keduanya teralihkan.
Denaya, tulisan yang terpampang di layar ponselnya. "Halo, Dena."
"Assalamu'alaikum, halo Vi," balas Denaya. "Vi, kamu udah denger berita kebakaran yang menimpa ibu mertua kamu belum? Rumah dan tokonya ludes kebakar. mobil motor juga. Astaghfirullah, Vi. aku sampe shock dikabarin Romlah. Bebeb aku barusan aku telpon udah ku kasih tau, dia lagi perjalanan kesini dari ruko di kota. Kalo kamu mau jenguk ibu mertua kamu nanti bareng aja sama Bebeb ya. soalnya ibu mertua kamu katanya dibawa ke klinik dokter Burhan, dia nggak sadarkan diri. Nanti aku kasih tau Bebeb dulu suruh jemput kamu sekalian, bye!" Cericos Denaya yang tanpa jeda membuat Via hanya bengong, namun setidaknya kini dia lega, Om Jaka akan segera menjemputnya.
💕💕💕💕
Yg kemarin jawab musibahnya Bu Een kebakaran, bener bangeeet... hehe...
kasihan atau sukurin nih sama keadaan Bu Een 😂😂
Kita sambung lagi nanti ya. Maafkan kalo banyak typo, ntar othor edit. Ini disempatkan nulis disela-sela waktu kerja, mohon maklumnya kalo blepotan 🙏🙏🙏
Jangan lupa like, komen dan votenya ya, dear... 🥰🥰🥰
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1