
Pagi yang lain dari biasanya, ini kali pertama Tuan Alatas kembali ke meja makan untuk sarapan setelah sekian lama menghabiskan waktu di dalam kamar pribadi. Pun pertama kalinya bagi Mirza makan pagi bersama dengan sang Tuan Besar, dan sang istri turut serta pula –tentunya atas kehendak Tuan Alatas.
Ruangan bernuansa gold itu terasa beku, begitu juga dengan bemacam menu yang tersaji di atas meja marmer mewah itu seakan tak mengundang selera. Mirza tau meski sang Tuan Besar seolah khusuk dengan santap paginya, namun kedua mata tajamnya sesekali mengamati dirinya dan Via bergantian, dan itu membuat Mirza tak nyaman. Belum lagi dia merasakan ada sepasang mata yang bagaikan CCTV 24 jam mengintai dari balik tembok pembatas ruangan, -siapa lagi kalau bukan Gerald.
Tau kayak gini mendingan makan di ruangan para pelayan kayak biasanya. Percuma makanannya meriah kalo dipelototin terus sama si Tuan, berasa susah nelen! Monolog batin Mirza.
“Mas?” tegur Via dengan mata ditajamkan ke arah suaminya yang hendak meraih segelas air.
Spontan menoleh, “ya?”
“Tuan Alatas bilang kamu libur hari ini,” mengulang kalimat sang Tuan yang sepertinya tak diindahkan oleh Mirza.
Reflek melihat pada sang Tuan, “libur, Tuan?” bertanya dengan mimik heran.
Mengangguk samar.
“Tapi kenapa? Bukankah hari ini kita berencana akan mengunjungi dokter Janson?” semakin heran kerena baru semalam Tuan Alatas yang mengutarakan niatnya sendiri untuk melakukan fisiotherapi dengan dokter Janson.
“Aku memberimu libur, kenapa kamu sepertinya tidak senang?” menyuapkan makananya ke dalam mulut namun matanya tajam penuh selidik menatap Mirza.
“Bukan begitu, Tuan. Maksud saya –“
“Tidak semua pegawai mendapatkan kesempatan libur di hari kerja, apalagi seorang perawat sepertimu yang bertanggungjawab penuh atas kesehatanku.”
Sedikit menundukkan wajahnya, Via yang di sampingnya ikut terdiam menghentikan aktifitas makannya yang memang sedari tadi sudah terasa tak mengenakkan.
“Bagaimana istirahat malammu?” sang Tuan bertanya lagi membuat Mirza kembali diliputi keheranan. Bukannya tadi lagi membahas soal libur kerja, kenapa tiba-tiba jadi nanya istirahat malam segala? –membatin.
Menarik sedikit sudut bibirnya, “aku sudah meminta Gerald menyiapkan satu kamar tamu lagi untuk kamu dan istrimu kemarin.” Merapikan sendok dan garpunya, “kalian bermalam di kamar yang sama kan?”
Eh -, apaan sih nih si Tuan? Kok nanya-nanya segala? Kepo deh! Mirza terlihat canggung, menggaruk pelipis kananya yang tidak gatal sementara Via hanya menunduk menatap piring porselennya yang isinya baru berkurang tak seberapa.
“Anak dan istrimu ada di sini sekarang, kenapa tak kau habiskan waktu bersama mereka?” Ucap Tuan Alatas lagi. “Pergilah bersenang-senang, Norman akan mengantar kalian. Aku memberimu waktu sampai besok pagi, setelah itu kau akan menjalani rutinitasmu kembali,” menyisihkan piringnya dan besiap bangkit, Gerald yang sedari tadi memang sudah siaga penuh, gegas menghampiri untuk membantu sang Tuan berdiri.
Tepat pada saat yang sama Jumilah muncul dengan menggendong baby Nala yang tampak rewel.
“Abang ganteng, eeh- “ Jumilah sempat salfok gegara bertemu mata dengan Gerald, “Maaf Tuan,” segera meralat perkataannya ketika melihat wajah Tuan Alatas yang baginya sungguh menyeramkan. “Maaf mengganggu waktunya, Inces Nala –“
Belum sempat Jumilah melanjutkan kalimatnya, Nala yang semula rewel tiba-tiba terlihat tersenyum lebar dan berceloteh dengan bahasanya sendiri sambil mengangkat kedua tangannya ke arah Tuan Alatas hingga membuat Tuan Alatas sempat terkejut sejenak.
“Sepertinya dia menyukai Tuan,” ucap Gerald pelan mebuat Tuan Alatas menoleh dan Gerald segera menunduk.
“Sini, Sayang.” Via segera bangkit dan mengambil alih baby Nala. “Mungkin dia haus, Jum.”
Jumilah hanya mengangguk.
“Permisi Tuan, saya ke kamar dulu.” Via pamit diikuti Jumilah, Nala yang digendong pada pundak Via terlhat menggapai-gapaikan tangannya kearah Tuan Alatas, meski langkah Via semkain menjauh namun baby Nala masih memeperhatikan sang Tuan dengan kedua mata beningnya hingga membuat Tuan Alatas mengukir senyum samar.
“Ehm, antar saya ke ruang kerja,” cepat menyeret langkahya diikuti Gerald.
Mirza masih terpaku di tempatnya berdiri, apa dia akan pergi menghabiskan hari liburnya di luar? Ataukah hanya akan berdiam saja di istana megah ini sambil melepas kerinduan yang belum tuntas, karena semalam memang belum terbayar lunas. Ekhem!
-
-
-
Waktu terasa cepat sekali bergulir, matahari perlahan condong ke barat bersiap menjemput senja. Sepoi angin memanjakan kedua insan yang tengah menyisir bibir pantai bergandengan mesra. Pantai Pari dengan pasir putih dan suasananya yang tak begitu ramai melenakan Via dan Mirza, -berasa pantai itu milik mereka pribadi. Berbagi kerinduan diselingi canda dan sesekali Via merajuk manja membuat keduanya nyata terlihat insan yang tengah kasmaran.
Di gazebo tampak Jumilah yang tampangnya tak karu-karuan, bête tingkat dewa dewi.
“Tau gini mendingan nggak ikutan!” ngedumel sambil memainkan stoller dimana Nala tampak pulas di dalamnya. “Ini lagi, si Inces! Ngapa anteng banget si nih bocah? Nangis ngapa, biar kita cepet pulang!” menowel pipi gemoy Nala sengaja untuk mebuatnya bangun, namun Nala tak bergeming.
Jejak-jejak di atas pasir putih telah panjang terukir, sebagian tersapu ombak. Mereka telah jauh meninggalkan gazebo hingga keduanya sama-sama terkejut ketika menyadarinya.
“Mas, kita udah jalan jauh banget!” Via meoleh ke belakang, gazebo nampak mengecil.
“Wah, iya!” ikut menoleh.
“Nggak kerasa ya, Mas? kirain nggak sampai sejauh ini, lho.”
Tersenyum, menyematkan anak rambut nakal yang tertiup angin pantai disela telinga sang istri. “Itu karena kamu melewatinya dengan suamimu yang tampan rupawan ini, Sayang.”
“Ish, pede!” mecibir sebal.
“Ayo kita balapan lari sampai ke sana, siapa yang menang nanti dapat hadiah,” usul Mirza mendapatkan ide dadakan.
“Hadiahnya apa?”
Menghadap sang istri, merapatkan tubuhnya hingga tak berjarak lagi, “apapun yang kamu minta, Sayang” melingkarkan kedua lengan pada pinggang ramping sang istri.
Tersenyum nakal, “aku kasih hadiahnya buat Mas sekarang, gimana?”
“Kok gitu?” mengernyit heran.
“Hm, soalnya aku tau pasti Mas yang menang kalo balap lari,”
“Jadi kamu nyerah duluan nih?” Mirza nyengir.
“Nggak juga,” menggeleng. “Aku mau kasih Mas hadiah aja.”
“Oke, mana hadiahnya?”
Perlahan melepaskan lengan sang suami dan menggenggam jemarinya, “Mas merem dong.”
“Harus merem segala?”
__ADS_1
Melihat kanan kiri sebentar masih dengan mengukir senyum, “cepetan, mumpung sepi.”
Terkejut dengan ucapan sang istri, “Sayang, kamu mau –“
“Mau ngasih hadiah,” mengangguk dengan senyum manis. “Ayo dong cepetan tutup matanya,” melepaskan genggaman jemarinya, “sebelum aku berubah pikiran, Mas.” Imbuh Via sedikit merajuk.
“Oke,” Mirza memejamkan kedua matanya dengan melengkungkan senyum tak sabaran, sesungguhnya dia sudah mengetahui maksud hadiah yang akan diberikan oleh sang istri.
itupun jika dugaannya tak meleset.
“Jangan buka mata dulu ya, Mas cukup rasain aja –“ bisik Via membuat bulu halus Mirza meremang manja.
“Ah, Sayang –“
“Jangan bicara apapun,” titah Via kemudian mulai berjalan mundur perlahan, menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya karena ia tak tahan untuk tak cekikikan melihat sang suami berdiri tegap sendirian di tepi pantai dengan kedua mata terpejam.
“Sayang, kok lama banget ngasih hadiahnya?” Mirza yang sudah tak sabar mulai merasakan kecurigaan. “ Sayang –“
Terlambat! Ketika Mirza membuka mata, Via sudah berlari menjauh sambil terbahak karena melihat ekspresi sang sumi yang telah berhasil dikerjainya.
“Coba kejar aku sekarang, Mas! Pasti kamu kalah!” Via mepercepat larinya.
“Ha, kamu curang Sayang!” teriak Mirza kesal, “awas kamu ya!” Mirza segera berlari kencang menyusul.
Via auto panik, gegas ia tambah kecepatan larinya, namun sekeras apapun usahanya nyatanya Mirza memang lebih tangguh dan berhasil menyusul dalam tempo sekejap.
Hup!
Mirza meraih tubuh sang istri, keduanya terjatuh di atas pasir dan beguiling. Via meronta ketika wajah sang suami menyeringai di atasnya.
“Mas, awas ih! Malu diliatin orang!” mendorong tubuh Mirza.
“Kamu harus dihukum, berani-beraninya ngerjain Mas ya!” hendak menyosor namun Via berusaha mendorong tubuh sang suami sambil berteriak.
“Tolooong….!”
“Eeh, ngapain teriak?” membekap mulut Via dengan telapak tangan lebarnya, “ntar dikiranya suamimu ini penjahat.” Bergeges bangun dengan raut kesal.
“Ish, kotor semua kan bajuku? Gara-gara Mas nih!” malah sibuk mengibas-ngibas tangan memebrsihkan pakaiannnya dari pasir yang menempel.
“Siapa suruh curang?”
Via merengut, “huh!”
“Masih mau balapan lari?” tersenyum meledek.
“Nggak mau!”
“Kalo gitu kita lomba jalan cepat aja, yok!” langsung berjalan mendahului sang istri.
“Mas!” menghentakkan kaki kesal, namun Mirza cuek aja. “Mas, tungguin!” berlari menyusul, “Mas nggak boleh duluin aku!” menarik kaos Mirza dari belakang, tapi tak cukup berarti. Mirza masih cuek jalan hingga membuat Via makin kesal menarik celana pantai yang dikenakan sang suami.
“Ya makanya jangan duluan, Mas nggak boleh menang dari aku!” mengerucutkan bibirnya.
“Ya udah, biar kita nyampenya samaan, Mas gendong kamu aja sini!” tanpa babibu segera mengangkat tubuh Via yang bagi Mirza terasa enteng banget.
Namun bukannya senang, Via malah meronta kembali karena cara menggendong Mirza yang nggak ada romantis-romantisnya sama sekali. “Mas, turunin ih! Aku bukan karung beras!” memukul-mukul bahu Mirza kesal.
“Jangan banyak gerak, Sayang. Ntar kita jatuh lagi, mau?” Mirza cuek aja dengan santainya berjalan tak menghiraukan Via yang mengomel.
“Tapi aku nggak suka digendong kayak gini, perutku sakit tau!”
“Bentar lagi nyampe ah, jangan protes!”
“Aku gigit nih, turunin nggak?” sedikit mengancam sang suami.
“Coba aja, biar Mas lempar ke laut dibawa sama ikan pesut!”
“Hwaaa, Mas jahat….! Jahaaat ….!” Terus meronta sambil beteriak-teriak, untungnya pantai sudah sepi hanya ada Jumilah yang melihat mereka dengan tatapan sinis.
“Huh! Drama apa lagi mereka berdua itu? bikin jiwa jomblo Njum tercabik-cabik!” ngedumel kesal sampai ke pucuk ubun-ubun.
Langkah Mirza akhirnya sampai di gazebao dan segera munurunkan Via dari pundaknya.
“Mas ih, perutku sakit beneran tau!” menucibit lengan sang sumi jengkel.
“Nanti malem Mas bikin nggak sakit,” mengerling nakal.
“Nyebelin!”
“Tapi suka, kan?”
“Ish!” merapikan rambutnya yang berantakan.
“Eh, Jum. Kamu kenapa? Kok manyun aja?” Mirza baru menyadari raut Jumilah yang ditekuk tak rupa-rupa warnanya.
“Njum kesel, bête! Kalo cuman disuruh momong Inces, nagpain jauh-jauh diajakin kesini?” akhirnya Jumilah mencurahkan isi hatinya.
Mirza dan Via saling pandang.
“Tau gini, mendingan Njum nggak ikutan! Mendingan di istana Tuan Atlas liatin Mas ganteng itu!”
“Tuan Alatas, Jum,” ralat Mirza.
“Ya itu dah pokoknya!” Jumilah semakin kesel. “Njum nggak terima liat Mas Mirza sama Mbak Via mesra-mesraan, semetara Njum disini bengong kayak keong kopong!” hampir menangis karena sedari tadi menahan kesal.
Via jadi merasa bersalah, lekas dihampirnya Jumilah,”maaf ya, Jum.” Mengusap bahu Jumilah lembut. “Aku juga nggak tau kalo Mas Mirza ternyata mau ngajakin kita ke pantai.”
__ADS_1
“Emang! Semua ini emang salah Mas Mirza! Mas Mirza nggak mikirin persaan Njum, kejam!”
Mirza jadi garuk-garuk nggak gatel dituduh sedemikian rupa oleh Jumilah. Via yang mengerti kekesalan Jumilah memberi kode pada suami untuk mengatakan seseuatu, Via paham seperti apa perasaan Jumilah pada posisinya sekarang.
“Emh, ya udah kalo gitu aku juga minta maaf ya, Jum,” ucap Mirza.
“Maaf aja nggak cukup, Mas!”
“Terus?”
“Ya Njum maunya diajak jalan-jalan ke tempat lain,” marajuk dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
“Emangnya kamu mau kemana?”
“Ke Dufan!” sahut Jumilah cepat. “Dari Njum masih SD Njum penasaran banget kayak apa yang namanya Dufan, Njum cuman liat di TV.” Lirih Jumilah membuat Mirza berpikir sejenak.
Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, “tapi ini udah sore, Jum. Belum lagi kita harus nyebrang.”
“Mas Mirza kejam!”
“Bukannya gitu –“
“Ya udah, mendingan sekarang kita balik dulu ya. Pak Norman pasti udah nungguin kita di dermaga, ntar kita pikirin sampe sana.” Via menengahi.
Jumilah tak menyahut, gegas ia raih stoller dan berjalan mendahului.
Via hanya bisa menghela napas, Mirza memutar otak gimana caranya agar Jumiah tak ngambek berkepajangan.
Aha! Ting!
Sebuah ide cemerlang Mirza dapatkan.
“Jum, tunggu!” menjajari langkah Jumilah. “Kamu mau jalan-jalan kan?”
Mengangguk masih dengan wajah cemberut.
“Nggak ke Dufan nggak papa dong, yang penting jalan-jalan?”
Menoleh cepat.
“Sama Gerald, mau?”
Mengerem langkahnya, seraya melototkan kedua matanya seketika, “sama si Mas ganteng itu?”
Mirza mengangguk pasti, “iya.”
“Beneran, Mas?”
“He em, tapi –“
“Tapia pa, Mas?”
“Tapi besok aja ya, kamu berdua aja sama Gerald. Gimana?”
“Aaaaah, Mas Mirza ini, kok gitu sih?” Jumilah senyam senyum malu-malu kucing garong.
“Kita nyampe Jakarta pasti udah malem, besok kan waktunya panjang .”
“Njum, jadi deg-deg serr nih,” megangin dadanya sendiri sambil tersipu-sipu malu.
“Mau nggak?”
“Mau sih, tapi kemana Mas? Terus juga apa si mas gentengnya itu mau jalan sama Njum?” tiba-tiba menjadi pesimis mengingat Gerald sikapnya dingin banget.
“Yang penting judulnya jalan-jalan kan?”
Mengangguk cepat.
“Ke supermarket beli keperluannya Nala.”
“Waaaat???” terperanjat seolah beneran shock dan sempet bikin Mirza khawatir Jumilah ngambek lagi, namun kemudian Jumilah malah tersenyum lebar. “Aah, itu romantis banget Mas. Aku sama si mas ganteng pasti terlihat kayak pipih mimih lagi belanja bulanan,” tersipu sendiri membayangkan adegan romantisnya bersama Gerald menyusuri lorong-lorong rak supermarket mengambil berbagai barang belanjaan.
“Oke, deal ya!”
Jumilah mengangkat kedua jempol tangannya dengan senyum ceria lantas melangkah riang, “Ayok Inces, kita pulang. Njum mau jalan-jalan sama mas ganteng besok,” berbicara sendiri mendorong stoller Nala dengan langkah-langkah riang.
“Apa Mas yakin Gerald mau pergi sama Jumilah?” bisik Via jadi ragu.
“Tenang aja, Sayang. Mas udah punya rencana.”
“Rencana apa? Lagian kan Jumilah mintanya ke Dufan Mas, bukan ke –“
“Justru itu, Sayang. Gerald gak bakalan mau kalo kita minta terang-terangan suruh nemenin Jumilah jalan-jalan.”
Via terdiam sebentar, ia paham maksud sang suami kini. “He em, moga aja Gerald mau ya, biar Jumilah nggak ngambek lagi.”
“Soal itu, serahkan sama suamimu ini,” tersenyum merangkul bahu Via kemudian segera melangkah mengikuti Jumilah yang telah berjalan lebih dulu.
💕💕💕💕💕
Hi, readers setia kesayangan apa kabar?? Sehat semua kan yaa … 😊😊
Mumpung masih bulan Syawal, othor awut-awutan mau ngucapin Mohon Maaf lahir Batin🙏🙏
Othor banyak ngecewain nih…
😞
__ADS_1
Peluk cium onlen buat kalian semua, I love you all🤗🤗🤗😘😘😘
cuss lanjut ke chapter berikutnya yaa...🥰🥰