
Jam makan siang kali ini kedai kopi Nostalgia tak seramai biasanya. Hal itu dikarenakan bangunan outdoor-nya sedang mengalami sedikit pemugaran. Beberapa pengunjung yang tak kebagian tempat nampak balik kanan dengan wajah kecewa. Danar mengawasi para pekerja memastikan mereka menyelesaikan tugasnya dengan baik dan secepatnya.
“Nanti mini stage kita pindah agak geser ke sebelah sini ya, Pak.” Danar berkata pada salah satu pekerjanya.
“Siap, Mas. Besok pasti selesai. Untuk hari ini kita selesaikan membongkar sekat bangunannya dulu.”
“Oke, atur aja Pak. Yang penting saya ingin hasilnya antara area indoor dan aotdoor nggak ada pembatasnya lagi agar para pengunjung bisa sama-sama menikmati live music jika ada performent.” Ungkap Danar yang kemudian berlalu meninggalkan para pekerjanya dan menuju mini bar.
“Mas, Kayaknya kalo ada live performent setiap malam pasti seru, para pelanggan pasti tambah banyak.” Usul Ari pada Danar.
“Live permorment apa? Sulap?” Sahut Danar cuek.
“Mas Danar bisa sulap?” Ari malah balik nanya.
“Bisa! Mau liat?” Danar mulai sebal.
“Masa? Emang bisa ngilangin apaan?” ledek Ari.
“Ngilangin tampang kamu yang nyebelin dan banyak nanya itu! Mau coba?”
“Aku nggak peracaya.” Cibir Ari. “Orang ngilangin luka lama di hati aja Mas Danar nggak bisa kok, wleek…!”
Kontan saja kata-kata Ari membuat Danar melotot kesal, dia meraih toples biji kopi di depannya mau nimpuk kepala Ari.
“Haha…, jangan marah dong Mas bro! Piss…, piss…!” Ari mengacungkan dua jari kanannya sambil senyum lebar, Danar mendengus kasar.
“Pergi sana!” Usir Danar.
“Aku mau bikin pesenan meja nomer 6 Mas, kok malah disuruh pergi sih?”
“Biar aku aja!” Danar merebut kertas dari tangan Ari lantas mulai menelusuri tuisan yang tertera di sana.
Sibuk, itulah kini yang tengah dijalani Danar. Hari ini dia memang sengaja banget nggak berangkat ke kantor. Pagi-pagi sekali setelah melewati perenungan panjang semalam, Danar mengirimkan e mail surat pengunduran dirinya ke perusahaan. Dia memilih tak mau tau tentang kegaduhan yang pasti akan terjadi akibat perbuatannya itu, makanya sengaja dia mematikan ponselnya. Danar ingin menikmati hari barunya sebagai dirinya sendiri yang sudah cukup lama bagai dirampas dari jiwanya.
“Boleh aku minta dua short maciatto?” Ucap satu suara perempuan yang langsung menuju mini bar.
Danar yang tengah khusyuk dengan coffe grinder-nya tak begitu mengindahkan suara itu karena berpikir ada seorang karyawannya juga di sana yang diajak bicara oleh perempuan itu.
“Ekhem!” Si perempuan mendehem dan sukses mengalihkan perhatian Danar melihat padanya seketika.
Astaga! Dia lagi! Kaget batin Danar, namun seperti biasanya raut wajahnya selalu lempeng-lempeng saja.
“Aku minta 2 short maciatto. Tolong diantar ke mejaku ya.”
“Grace, aku sibuk.” Sahut Danar telak. Ya, si perempuan yang baru memesan minuman itu adalah Grace.
“Apa seperti ini caramu memperlakukan setiap pengunjung kedaimu?” Sura Grace agak ditekan sehingga membuat beberapa orang melihat ke arahnya. Grace sengaja melakukan itu.
Danar yang langsung peka dengan suasana tak menguntungkan bagi dirinya segera menyetel mode kalem. “Baik, nanti akan saya antarkan.”
Grace berlalu, dalam hatinya mungkin tersenyum puas. Setelah Danar menyelesaikan pesanan pertamanya dan mengantarkan pada meja nomer 6, dia mencari Ari atau siapapun yang bisa menggantikan tugasnya untuk mengantarkan pesanan Grace. Namun sayangnya semua sibuk, dan Grace tengah menatapnya lurus, sepertinya dia sedang menunggu untuk membuat Danar tak berkutik lagi di depan semua pengunjung kedainya jika Danar bersikap acuh padanya.
Baiklah, kali ini aku mengalah. Danar segera meracik short maciatto, dan setelah selesai dia segera membawakannya menuju meja Grace.
“Makasaih. Bisa duduk sebentar?” Grace tampak serius tak seperti biasanya yang selalu mendayu-dayu dan penuh harap pada Danar. Grace tau Danar tak akan menolak, karena kini ia datang sebagai pengunjung kedai bukan sebagai pengemis cinta.
__ADS_1
“Langsung saja, ada apa?” Danar duduk tanpa ekspresi.
“Apa ini short maciatto kesukaanku?” Grace melihat minumannya dengan pandangan sulit diartikan. “Apa kau menggunakan biji kopi Arabika?” Grace mengangkat cangkirnya dan menghirup aromanya..
“Heem, itu menggunakan biji kopi Arabika.” Sahut Danar agak malas. Nagapain juga kopi pake dicium-cium, emang kayak di iklan? Dasar Grace!
“Aku senang kamu masih ingat kopi favoritku.” Grace tersenyum tipis.” Arabika jauh lebih ringan untuk diminum, dan juga … lebih aromatik.” Sambung Grace agak menjeda kalimatnya sambil melirik Danar sekilas. “Minumlah, aku pesankan satu untukmu.”
Danar mencoba bersabar. “Aku pikir kamu mau minum dua cangkir sekaligus.” Sinisnya. “Terima kasih, hari ini aku sudah minum terlalu banyak kopi.”
Grace tertegun sejenak, kemudian ia meletakkan kembali cangkirnya setelah menyesap short maciattonya penuh khidmat.
“Kalo nggak ada yang penting aku pergi, karena aku masih banyak kerjaan.” Danar bersiap bangkit.
“Tunggu.” Grace mencegah pergelangan tangan Danar lantas segera melepaskannya ketika matanya saling tatap sejenak dengan manik mata coklat Danar. “Kenapa kamu mengundurkan diri pada perusahaan?” Grace melipat kedua tangan didada seperti sedang mengintrogasi.
Danar masih berusaha sabar. “Kamu kan datang ke sini sebagai pengunjung kedai, kenapa tiba-tiba membicarakan masalah perusahaan?”
“Karena itu berkaitan denganku.”
“Oya?" Sinis Danar. "Tapi aku nggak peduli.” Danar mebuang muka, ia melihat Ari baru saja melintas membawakan pesanan untuk meja di pojok ruangan. “Aku rasa kamu salah tempat dan waktu untuk membicarakan hal pribadi. Maaf, aku permisi!” Danar benar-benar bangkit hingga membuat Grace terperangah.
Grace ikut berdiri. “Tolong bawakan kopiku ke belakang.” Ucapnya pada Ari yang membawa nampan kosong, lantas dia sendiri mengekori langkah Danar ke mini bar.
“Kamu mau apa mengikutiku?” Danar heran.
“Aku mau bicara sama kamu.” Grace mendahului menuju halaman belakang kedai, kursi kayu panjang tempat dia bersama Danar beberapa hari yang lalu.
Dengan kesal Danar melepaskan apron baristanya dan melemparkannya ke wajah Ari. Untung saja tak menimpa nampan yang dibawanya.
“Katakan, kamu mau ngomong apa lagi!” Danar berdiri menantang tanpa mau duduk dulu di sebelah Grace.
“Permisi, Mbak. Ini short maciattonya.” Ari menyela, meletakkan 2 cangkir yang dibawanya di meja kayu depan Grace dan langsung pergi setelah mendapat lirikan tajam dari Danar.
“Aku nggak suka dengan caramu. Kamu melemparkan tanggungjawabmu begitu saja. Apa kamu nggak kasihan sama Tante Elin?” Grace memulai pokok persoalannya.
“Justru aku yang akan lebih menjadi kasihan kalau tetap bertahan disana.”
“Kamu egosi, Danar. Hanya karena urusan cinta kamu tega menghancurkan harapan Tante Elin.”
Danar mengernyit, namun kemudian tersenyum. “Bukannya kamu senang kamu akan mempunyai jabatan di perusahaan? Itu kan yang kamu inginkan?” Sinis Danar.
“Jangan asal bicara ya.”
“Kalau kamu saja setuju m dengan hanya menjadi asisiten ptibadiku, kenapa kamu harus pura-pura menolak kalau untuk jadi CEO?”
“Masalahnya nggak segampang itu. untuk menduduki jabatan CEO harus ada rapat para dewan direksi dan penanam modal, kamu seenaknya saja kabur begitu saja seolah-olah kamu itu kayak seekor kucing yang baru buang kotoran!”
Danar terhenyak. Bisa-bisanya Grace nyamain dirinya kayak kucing habis e** di atas pasir yang main pergi gitu aja? Etapi kucing kan rapi kalo abis **k ditutup lagi ya pasirnya? Dasar Grace sok tau! Dia kayaknya belum pernah liat kucing buang kotoran!
“Kenapa diam?” Tantang Grace. “Baru ngerasa kan kalo kamu memang udah salah banget?”
“terserah kamu lah, Grace. Aku malas ngomong sama kamu!” Danar balik badan merasa jengah dengan kelakuan Grace.
“Danar, berhenti!” Seru Grace.
__ADS_1
Si Danar pake nurut lagi, dia berhenti beneran.
“Ada apa lagi? Kalo kamu mengkhawatirkan persetujuan para dewan direksi dan pemegang saham untuk pengangkatan jabatanmu, maaf aku nggak bisa bantu.” Ucap Danar tanpa mau melihat Grace.
“Kamu boleh menilaiku semaumu, sesuka hatimu. Tapi tolong pikirkan gimana perasaan Tante Elin, dia sudah menaruh harapan besar padamu.” Grace bediri di samping Danar dengan sorot penuh permohonan.
“Aku nggak tertarik dengan perusahaan. Itu bukan duniaku.” Danar bergeming pada pendiriannya.
“Apa karena tak ada Via lagi disana?” Tanya Grace perlahan.
SRET
NGOEK
Danar menoleh menatap Grace sejurus. “Kanapa kalian selalu mengaitkan segalanya dengan Via? Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan dia. Ini murni keinginanku.”
“Jadi kamu sudah tak mengharapkan Via lagi? Apa perasaanmu padanya sudah hilang?” Grace tak dapat membendung rasa penasarannya.
“Apa pula pedulimu menanyakan itu padaku?” Sarkas Danar.
“Tentu saja aku peduli, karena aku mau kita bersama lagi.”
Danar menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. “Yang harus kamu dan semua orang tau adalah aku nggak akan mungkin menjadi perebut istri orang! Karena aku masih sangat waras! Paham?” Danar bergegas meninggalkan Grace yang terdiam seperti mencerna setiap kata-kata yang baru saja dilontarkan Danar.
Bukankah itu berarti kesempatan buatku terbuka semakin lebar? Monolog batin Grace riang. Satu senyuman cerah terbit seketika diwajahnya. Tak masalah dia belum berhasil membujuk Danar untuk kembali ke perusahaan seperti amanat tantenya, yang penting kini dia sudah tau bahwa Danar jelas tak akan meneruskan rasa cinta salah alamatnya itu pada Via. Yess! Grace melangkah riang menuju kedai.
“Grace!” Tegur Danar ketika dia meliwati mini bar.
Grace terkesiap, panggilan dari sang mantan kekasihnya itu bagaikan melodi terindah yang pernah ia dengar dimasa-masa kejombloannya. Grace segera menghentikan langkahnya.
“Ya, ada apa?” Tanyanya dengan senyum manis di wajah cantiknya.
“Bayar dulu kopinya, aku nggak pernah mentraktir pengunjung kedaiku kecuali aku sendiri yang memesankan minumannya.” Ungkap Danar dengan wajah datar.
Gluk!
Kirain apaan? Taunya suruh bayar kopi! Ttiwas aku kadung GR. Huh! Batin Grace mengomel seraya meraih dompet dari dalm tasnya.
Ya iya lah bayar … gimana sih si Mbak, udah minum main pergi aja? Jangan pura-pura lupa Mbak… wkwkwk
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih ya sudah membaca….maafkan kalo ada typo 🙏🙏😍😍😍
Maafkan othor dari kemarin upnya pendek-pendek yaa… 😂😂
Setelah beres lebaran up yang panjang-panjang lagi deh. 🤭🤭
Like jangan lupa ya Kak…😘😘
Komen dong….. biar othor semangat dan kenal siapa aja sih yang udah baik hati rela baca karya othor yang masih awut-awutan ini…😂😂
Vote??? Monggo…. Dan terima kasih tentunya yang udah sukarela ngasih votenya 🤩🤩
Selamat hari Raya Idul Adha, mohon maaf lahir batin yaa akak semua…🙏🙏
__ADS_1
Tetap jaga kesehatan, I love you all🤗🤗🤗😘😘😘