TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
29 #YANA DITEMBAK


__ADS_3

“Ya ampun!” Via kaget sendiri membaca pesan Mirza di layar ponselnya.


“Kenapa, Vi? Kenapa Mbak?” Tanya Yana dan Riri hampir berbarengan.


“Eh, ini ... Mas Mirza udah jalan mau pulang.” Sahut Via sedikit gugup karena dia tak ingin saat suaminya pulang dia tak ada di rumah, tapi dia juga tak enak mau pergi karena udah janji mau nemenin Yana.


“Oh ...” Sahut Riri cuek.


“Ya udah nggak papa kan? lagian si Popaye perjalanan dari Jakarta ke rumah nggak mungkin langsung nyampe kan?” Timpal Yana.


Bener juga sih kata Yana, tapi Via nggak enak aja karena dia belum ijin tadi siang kalo mau pergi sama Yana.


“Udah, tenang aja. Si Popaye nggak bakalan marah kok, kan kamu perginya sama aku.” Yana coba menenangkan Via yang kini kayak orang bingung.


“Atau perlu aku telpon Mirza ngasih tau kalo kamu lagi pergi sama kekasih hatiku?” Khusni ikutan usul sambil melirik genit pada Yana.


Yana menepuk manja lengan Khusni. “Ih, kan kita belum resmi jadi sepasang kekasih?”


“Oh, iya. Belum diresmiin ya?” Khusni ingat kalau memang mereka belum jadian. “ Ya udah kalo gitu, didepan dua cewek cantik sahabatmu ini, dengan ini aku nyatakan ....”


“E eh, tunggu bentar ...!” Sergah Riri menghentikan kalimat Khusni lantas menyerobot ponsel Via. “Pinjem.” Kata Riri lalu mengambil posisi di dekat Khusni dan Yana. “Momen bahagia ini harus diabadikan dong.” Riri bersiap merekam peresmian hubungan Yana dan Khusni.


Hadeh! Alay banget sih si Riri! Baru orang jadian aja pake divideoin! Kayak orang ijab kobul aja!


Via terlihat sedikit bete, tapi Riri cukek aja. Ditambah Khusni yang kelihatannya ngebet banget sama Yana, makin bikin Via sebel. Entah mengapa Via kurang sreg sama Khusni, meskipun dia temannya Mirza. Mungkin karena Khusni kalo ngomong sok manis sama setiap cewek, jadinya Via agak nggak rela gitu kalo Yana jadian sama Khusni. Beda sama Reno mantan tunangannya Yana, dia cool nggak banyak tingkah, ya meskipun akhirnya si Yana diselingkuhin juga sih.


“Ayo dong Mas, cepetan nyatain!” Perintah Riri sok ngatur yang sudah siap merekam.


Beruntung kedai tak begitu ramai, hanya ada beberapa orang saja, itu pun di ruangan dalam, sedangkan di runag terbuka itu hanya ada mereka.


“Oke.” Ucap Khusni setelah menarik napas dalam. “Mariyuana ... “


“Kok Mariyuana sih?” Protes Riri. “Ulangi!”


“Eh iya, maaf grogi nih." Saking groginya Khusni sampe salah sebut nama lengkap Yana.


Khusni kembali menarik napas, lalu mengulangi kalimatnya lagi. "Mariyana, hari ini tanggal sebelas bulan sebelas tahun dua ribu sebelas ...”


“Dua ribu dua puluh, Mas! Bukan dua ribu sebelas, gimana sih?” Protes Riri lagi. “Ulangilagi, yang bener dong Mas, lakukan dengan segenap hati penuh penghayatan dan perasaan!” Riri nge-direct Khusni udah kayak sutradara aja.


Khusni mengusap wajahnya menghilangkan grogi, sementara Yana cekikikan. Baginya kelakuan Khusni dan Riri bikin dia sangat terhibur. Sedangkan Via hanya memperhatikan tanpa ekspresi, pikirannya terus saja pada suaminya.


“singkat aja ya? Aku grogi nih, beneran!” Khusni mengangkat kedua jarinya.


“Terserah deh.” Riri akhirnya maklum, tangannya juga lagian dari tadi udah pegel megangin hp.


“Mariyana, aku cinta sama kamu. Maukah kamu jadi kekasihku?” Akhirnya bisa Juga Khusni mengungkapkan kalimat itu.


Yana tersenyum saraya mengangguk pelan.


“Mau.” Sahutnya sok malu-malau, padahal kan dia udah bukan ABG lagi.


“Oke, sah!” cetus Riri puas lantas mengambil beberapa foto selfie.


Cekrek cekrek


“Sekali lagi, ya? Senyum ....” Riri bergaya paling centil diantara lainnya. “Ok, good!” seru Riri puas lantas mengembalikan ponsel Via.


“Vi, nanti kirimin semuanya ke aka ya.” Ujar Yana.


Via hanya mengangguk, pikirannya kini makin nggak tenang.


“Kamu kenapa sih kayak orang ambeyen gitu? Gelisah amat duduknys. Si Popaye itu bakalan maklum kok kalo sampe dia yang nyampe dulun, tenang aja!” Ceplos Yana.


Huh! Yana bisa bilang begitu karena belum ngerasain punya suami. Batin Via.


_______


“Za! Tunggu sebentar!” Panggil Bu Een pada Mirza yang udah mau naik ke boncengan motor.


“Ada apa, Bu?”


“Sini dulu!” Bu Een melambaikan tangan meminta Mirza mendekat padanya di toko yang sudah tak ada pembeli lagi.


“Ada apa sih, Bu?” Tanya Mirza mendekat.


“Ini, Ibu minta tolong ya.” Bu Een menyerahkan amplop coklat besar pada Mirza. “Tolong kasihin ke Haji Barkah ya. Itu uang buat bayar DP mobil.”


Mirza spontan melotot kaget. “Ibu mau beli mobil lagi?”


“Ih, kamu ini! Emangnya kapan Ibu beli mobil?”


“Itu kan ibu udah ada mobil?" Mirza menunjuk mobil yang terparkir di garasi rumah ibunya.


“Itu kan mobil pick up buat belanja, Za. Masa ibu jalan-jalan suruh pake mobil itu?”

__ADS_1


“Ya yang penting judulnya mobil, Bu. Rodanya sama-sam empat ini. Sayang kan Bu, uangnya. Katanya Ibu mau pergi umroh? Mending uangnya ditabung aja. Kalo Ibu mau jalan-jalan kan bisa pake mobil Mirza.” Bujuk Mirza panjang lebar.


Bu Een melengos sambil cemberut. “Itu kan mobil istrimu, hadiah ulang tahunnya. Ibu nggak mau pake!”


‘Ya tapi kan Mirza yang beli. Lagian Via nggak bakal kenap-napa kok kalo mobilnya dipake sama Ibu.”


“Nggak mau! Ibu mau beli mobil sendiri. Itu uang Ibu sendiri hasil dari sewa sawah yang di perbatasan desa sana, sengaja Ibu mau pake buat beli mobil. Lagian Ibu udah ngomong sama Haji Barkah, kalo nggak jadi kan malu, Za!” Oceh Bu Een nggak mau kalah.


“Tapi kan Haji Barkah jualan matrial, Bu? Emang beli mobil di toko matrial, ya?” Mirza heran karena dia baru sadar bahwa Haji Barkah itu pemilik toko matrial paling besar di kota kecamatan.


“Mobil anaknya mau dijual. Baru beli sekitar lima bulanan lah, kilometernya juga masih belum banyak, harganya udah ibu cek lumayan selisih, apalagi kondisinya masih mulus dan bagus.” Terang Bu Een.


Emang dah, kalo soal jual beli mah Bu Een jagonya, apalagi soal tawar menawar. Dari mulai nawar harga kangkung di tukang sayur sampe nawar harga mobil, keahlian Bu Een nggak usah diragukan lagi.


“Terserah Ibu aja kalo gitu.” Mirza terpaksa nyerah karena nggak mau berdebat lagi denga ibunya. “Tapi kalo besok aja kesananya gimana, Bu?”


“Kok besok? Sekarang aja lah!”


“Tokonya Haji Barkah kan jauh, Bu. Mirza mana mau beli ikan bakar dulu sama si Udin buat makan malem nanti sama Via.”


“Ibu juga nitip sekalian ya ikan bakarnya.”


Mirza coba bersabar, ibunya itu emang kalo lagi punya mau kadang suka seenaknya sendiri. Udin yang sedari tadi nunggu di motor jadi heran, ngomongin apaan Mirza dan ibunya dari tadi nggak slesai-selesai. Udin pun turun masuk toko menghampiri Mirza.


“Mas, ayok! Nanti keburu sore!” Seru Udin.


“Ya emang udah sore ini, Din!” Semprot Mirza kesal. Sebenarnya keselnya sih sam ibunya tapi malah Udin yang kena semprot.


“Tadi waktu di rumah bilang ini siang bolong?” gerutu Udin. “Makanya seharian jangan di kamar aja, jadi nggak bisa bedain mana siang mana sore kan?”


“Diem kamu!” kali ini Bu Een yang nyemprot Udin. “Jadi gimana, bisa kan?” Tanya Bu Een.


“Apanya, Bu?” Tanya Udin.


“Saya nggak ngomong sama kamu!” Bu Een melototin Udin.


Udin lagi mengkeret, dari tadi dibentak-bentak terus. Kasihan juga si Udin.


“Ya udah.” Mirza akhirnya mengalah, lantas memasukkan amplop itu ke dalam tas ranselnya.


“Jangan lupa minta tanda terimanya ya? Terus, jangan lupa juga bilang sama Haji Barkah, sisanya akan dilunasi minggu depan nunggu deposito Ibu cair gitu, ya?” Pesan Bu Een.


“Emh.” Mirza menyahut malas lantas ngeloyor pergi.


Bagus deh dia mau, itu artinya dia bakalan lama nyampe rumahnya.


______


Riri baru saja selesai mencatat semua pesanan ketika Danar datang lagi.


“Gimana, udah?” Tanya Danar pada Khusni.


Sepertinya Danar tau rencana Khusni yang mau nembak Yana. Ternayata mereka saling kenal, atau mungkin memang si Khusni sering dateng ke sini makanya bisa kenal sama Danar. Via menebak-nebak dalam hati.


“Udah resmi.” Sahut Khusni agak berbisik pada Danar.


“Syukur deh.”


“Oh, iya. Aku bisa request lagu kan?” Tanya Khusni pada Danar.


“Boleh. Buat yang baru jadian apa sih yang nggak?” Danar mengulas senyum untuk kedua pasangan baru itu.


“Kok requst lagu sama Mas Danar sih? Emangnya Mas Danar tukang sound system?” tanya Riri dengan gaya cuek dan manjanya.


“Ya kan dia musisi.” Kelakar Khusni.


“Masa sih? Wah, pinter nyanyi dan bikin lagu dong?” Riri malah antusias.


“Nggak, bohong banget!” Ralat Danar. “Itu kan karena nggak ada lagi yang bisa nyanyi di sini.” Danar tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


“Ya udah cepetan Mas, kasih mereka lagu yang paling romantis.” Pinta Riri.


“Kita pindah ke dalem aja yuk! Biar bisa menyaksikan sang musisi beraksi.” Ajak Khusni.


“Apaan sih, Bro!" Danar sepertinya keberatan dengan sebutan musisi untuk dirinya. "Udah, mana pesenanya, sini biar aku aja yang mesenin.” Tanya Danar pada Riri.


“Tapi bener nanti Mas Danar nyanyi ya?” Riri penasaran, Danar cuma senyum lantas pergi.


“Sayang kamu nggak papa kan kita duduknya pindah ke dalem? Mumpung masih belum banyak orang, yuk.” Ajak Khusni pada Yana.


“Ya udah, ayok!”


Via mengikuti mereka dengan muka datar. Mereka memilih duduk agak dekat dengan mini stage meski nggak terlalu depan banget.


Via udah pingin ngetik pesan buat Mirza mau bilang kalo dia sebanarnya lagi pergi sama Yana, tapi nggak jadi karena melihat Danar naik ke atas stage membawa gitar akustik.

__ADS_1


“Ini spesial buat sepasang kekasih yang baru jadian yang duduk di sana.” Ucap Danar sambil melihat pada Khusni dan Yana yang tersenyum bahagia.


Danar mulai memetik dawai gitarnya, para pelayan kedai dan pengunjung yang belum begitu ramai bertepuk tangan.


No one ever saw me like you do


All the thing that I could add up to


I never knew just a smile was worth


But your eyes say verytning a single word


“Ya ampun, Mbak! Suaranya Mas Danar laki banget!” Riri spontan meremas tagan Via.


“Ih,sakit tau!” Via meringis kesakitan. “Biasa aja sih, nggak usah lebay gitu!" Via kesal dengan ulah Riri.


Couse there’s something in the way you look at me


It’s as if my heart knows you’re the missing piece


You make me believe that there’s nothing in this world I can’t be


I never know thet you see


But there’s somenting in the way you look at me


“Huuuu...” teriakan semua penghuni kedai kembali terdengar seraya bersorak seperti ikut bahagia di hari jadian Yana dan Khusni.


Danar melempar senyum pada sepasang kekasih itu sambil melanjutkan memetik gitar akustiknya,sementara Riri bagai terhipnotis melihat aksi Danar. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya di dada sambil ikut bersenandung seolah lagu itu dipersembahkan untuknya. Dasar si Riri!


If I could freeze some moment tomy mind


I’ll be the second that you touch your lips to mine


I’d like to stop the clock, make time stand stiill


Cause baby,thi is just the way i always wont to feel


Lalu terdengar koor dari hadirin yang ada di kedai itu seperti dikomando berbarengan menyanyikan bagian reffren lagu itu sekali lagi.


SLAAP!


Kali ini Danar melemparkan pandangan pada Via yang dari tadi cuman diem kayak patung. Via spontan berpaling seraya melanjutkan niatnya yang mau membalas pesan untuk Mirza.


Iya, Mas. Hati-hati dijalan ya. Maaf ya Mas baru bales, aku lagi jalan sama Yana sama Riri nih. Love you too.


Via sedikit tenang kini. Tak lama pesanan mereka datang hampir bertepatan dengan Danar yang menyelesaikan lagunya. Semua bertepuk tangan, tapi Via cuek aja. Dia segera meraih makanannya.


"Tadi siapa yang ngatain aku ketauan banget kalo lagi kelaperan ya?" Riri mengerling usil pada Via.


"Udah cepetan makan, abis ini kita pulang." Sahut Via lalu mulai mencocol ikan cakalang dengan sambal ijo setelah mencuci tangannya.


"Kamu mau pulang jalan kaki?" Celetuk Yana.


"Emangnya kamu nggak mau nganterin aku sama Riri pulang?" Via malah malah balik nanya.


"Udah, makan aja dulu. Soal pulang nanti dibahas lagi abis ini." Khusni menengahi.


______


Hari semakin sore, Mirza dan Udin baru saja sampai di toko Haji Barkah. Sayangnya ternyata toko Haji Barkah sudah tutup. Mirza dan Udin menuju rumah haji Barkah. Setelah berbincang cukup lama dan menyampaikan maksud kedatangannya Mirza akhirnya meninggalkan kediaman Haji Barkah menuju warung ikan bakar.


Sementara Via baru saja menyelesaikan makannya.


"Kalo mau pulang sekarang kamu pake aja mobilku." Celetuk Yana.


"Kamu ngeledek?" Via manyun, Yana malah cekikikan.


"Udah jangan godain Via terus, kamu juga bakalan kayak dia kalo udah nikah sama aku." Khusni mengerling genit pada Yana.


Yana mencebik. Khusni menjawil pipi Yana, Via sebel banget ngeliat tingkah tengil Khusni.


"Eh, Danar!" Panggil Khusni pada Danar yang melihat Danar melintas.


Danar langsung mendekat. "Gimana, ada yang bisa dibantu lagi?"


"Ada. Bisa minta tolong anterin cewek-cewek cantik ini pulang kan?" Todong Khusni.


HAH?!


__________


Bersambung 😉


Terima kasih sudah setia mengikuti ceritaku 🙏❤️ Like, komen, rate dan votenya ya jangan lupa ☺️🌹

__ADS_1


Bedewey ada yang tau nggak judul lagu yang dibawain Danar apa hayo... 😂


Yang tau tunjuk tangan yaa .. 😀😀🤭🤭


__ADS_2