TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
136 #TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

Hanson berjalan malas menghampiri pintu apartemennya karena bel berbunyi berkali-kali membuatnya jengah. Waktu istirahatnya terganggu, Hanson menebak-nebak siapa yang bertamu malam-malam begini? Dan begitu ia membuka pintu, Hanson kaget mendapati tampang tamunya yang menyambutnya dengan senyum merekah.


“Rumi? Dari mana kamu tau aku tinggal di sini?” Tanya Hanson shock melihat Arumi nongol di apartemennya.


“Aku boleh masuk kan?” Bukannya menjawab, Arumi malah menerobos masuk ngelewatin Hanson yang masih berdiri di ambang pintu.


“Hey! Kamu belum jawab pertanyaanku!” Hanson mengejar langkah Arumi setelah menutup pintu.


Arumi cuek aja menghempaskan bokongnya di sofa ruang tamu apartemen Hanson.


“Aku nggak suka privasiku diganggu!” Ucap Hanson.


“Kamu nggak nawarin aku minum?” Arumi semakin menjadi.


“Wie nervig dieses Mädchen!“ (Betapa menyebalkannya perempuan ini!“ Geram Hanson.


“Ok, aku ambil sendiri kalo gitu.” Arumi bangkit tapi keburu dicegat Hanson.


“Kamu ngerti aku ngomong kan?” Hanson menatap tajam.


“Yang bagian mana ya?” Arumi belagak amnesia.


Hanson memutar bola matanya jengah. “Jelaskan maksud kamu datang ke sini!” Kesal Hanson dengan wajah dingin.


“Wow, santai dong! Nggak usah sewot gitu.” Arumi kembali duduk . “Aku cuman mapir aja.”


“Aku nggak percaya. Dari mana kamu tau aku tinggal di sini?” Hanson mengulang pertanyaannya.


Arumi nyengir. “Kalo aku bilang tau dari google, kamu ppercaya nggak?”


Hanson mendengus kasar. Ia tau tak ada gunanya berlaku sinis atau kasar sekali pun pada Arumi, berkali-kali ia melakukannya toh Arumi tetep aja ngejar bahkan maki nekad.


“Oya, aku bawa makanan nih.” Arumi melupakan paper bag yang dibawanya kemudian mengeluarkan dua buah bungkusan. “Kamu pasti belum makan kan? Aku bawa doner kebab.”


Hanson melihat penuh waspada. “Kamu bikin sendiri?”


“Ya nggak lah! Mana bisa aku bikin beginian?”


Hanson yang emang belum makan dari siang, tergoda juga melihat makanan yang dibawa Arumi.


“Makan yok, mumpung masih anget nih. Aku sengaja cari di resto fast food yang jual makanan fast food jerman lho.” Arumi memberikan satu pada Hanson.


“Heum ya, Doner kebab ini emang favorit banget di Berlin.” Ucap Hanson kemudian mulai menggigit kebab di tangannya.


Arumi tersenyum dan mulai makan juga. Tanpa sadar Hanson lupa kalo dia sebelumnya jutek banget sama kedatangan Arumi yang tiba-tiba. Bahkan selesai makan Hanson membuatkan minum untuk Arumi.


“Hanson, aku boleh numpang ke belakang?” Tanya Arumi setelah meminum lemon esnya.


“Silakan, lurus aja terus belok kanan.”


“Oke.”

__ADS_1


Arumi berlalu. Sambil menunggu Arumi, Hanson menyibukkan diri dengan ponselnya. Beberapa saat kemudian setelah Arumi kembali, Hanson nampak menguap.


“Oya, aku boleh pinjam charger?” Tanay Arumi.


“Ada di kamar, sebentar ya.” Hanson menuju kamarnya diikuti tatapan mata Arumi.


Beberapa menit berlalu, Arumi menyusul ke kamar Hanson dan masuk karena pintunya terbuka. Arumi tersenyum melihat Hanson terkulai di tepi ranjangnya.


“Dahsyat juga efek obatnya.” Arumi segera mengangkat kedua kaki Hanson yang masih menjuntai ke bawah karena posisi tidur Hanson yang asal-asalan.


Kemudian Arumi segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya.


Tada…!


Yup! Ramuan Mak Epot!


Arumi memang nekad mendatangi Mak Epot lagi seorang diri karena tak berhasil membujuk Hanson.


Perlahan Arumi membuka resleting celana Hanson, lalu ….


Skip aja deh! Hehe….


Arumi sudah selesai mengoles pisang tanduk layu punya Hanson dan segera mengancingkan kembali resleting celana Hanson.


“Ini bule jangan-jangan kelabasan innalillahi deh gegera over dosis obat tidur.” Arumi memandangi Hanson yang sangat pulas. “Ah, moga aja nggak. Aku harus buru-buru cabut deh, sebelum dia bangun.”


Arumi segera pergi meninggalkan apartemen Hanson dengan senyum puas dan akan kembali lagi esok hari dengan trik yang lebih jitu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Langkah cepat Sofi menyusuri koridor rumah sakit mencari dimana ayahnya di rawat.


“Mama!” Panggil Sofi pada seorang wanita paruh baya lebih yang sedang berdiri di depan sebuah kamar perawatan. “Gimana keadaan Papa, Ma?” Tanyanya begitu mendekat.


“Papamu baru saja dipindahka dari IGD dan dokter sedang memeriksanya di dalam.” Nyonya Husein sedikit lega menyambut kedatangan putrinya.


“Papa kena serangan jantung lagi?”


Nyonya Husein mengangguk lemah. “Untung saja Azad segera membawanya kesini, bersyukur Papamu tertolong.”


“Diaman Azad sekarang?”


“Barusan pergi karena pabrik kebaran.”


“Apa? Kebakaran?” Sofi kaget bukan main, rasaya ia tak percaya mendengar kabar buruk itu. beberapa tahun silam pabrik textile keluarganya juga pernah terbakar, dan hal itu pula yang menjadikan keluarganya berhutang banyak pada Tuan Alatas.


“Papamu shock karena menerima telepoon yang mengabarkan tentang keadaan pabrik.” Nyonya Alatas berlinang air mata mengingat kembali kejadian pagi tadi.


Sofi terduduk lemas di kursi tunggu. Dadanya sesak, kepalanya berat, pikirannya pusing, hatinya kacau. Pokoknya complicated banget! Habis sudah aset keluarganya satu-satunya. Air mata perlahan turun membasahi pipi mulusnya.


Kreek…

__ADS_1


Pintu kamar perwatan terbuka, seorang dokter keluar dari sana diikuti dua orang perawat.


“Dokter, bagaimana keadaan Papa saya?” Sofi menghampiri dengan tergesa.


“Tuan Husein sudah stabil. Mohon untuk jangan membuatnya merasa terbebani dulu. Kondisi fisik dan psikisnya masih lemah dan sangat rentan sehingga berpotensi memicu terjadinya serangan jantung kembali.” Ungkap dokter.


Sofi dan Nyonya Huesin mengangguk tanda mengerti, dokter dan para suster kemudian berlalu. Sofi dan ibunya segera masuk menghampiri Tuan Husein yang terbaring lemah.


“Papa …” Sofi mengusap lembut rambut ayahnya yang keseluruhannya sudah memutih. Pandangannya sendu, untuk kesekian kalinya hatinya sakit melihat ayahnya yang terbaring tak berdaya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Angin sore menerbangkan dedaun kering di halaman rumah Via. Hari libur ini akan ia isi dengan membersihkan halaman dan menyiram tanaman sayurnya setelah dari pagi ia disibukkan dengan bersih-bersih di dalam rumah.


“Vi!” Panggil Yanti dari luar pagar yang menggendong Gio.


“Hai, mau kemana Yan?”


Yanti menghampiri sambil senyum. “Aku boleh nitip Gio sebentar nggak? Pengasuh Gio lagi sakit, aku mau antar dia periksa ke dokter. Dan Mas Firman belum pulang.”


“Firman kerja? Ini kan hari sabtu?”


“Dia piket.”


“Oh, ya udah siniin Gionya?” Via mengulurkan tangan, Gio langsung tersenyum menyambut Via. “Anak manis, kamu disini dulu ya sama Tante, Bundanya mau ke dokter.” Via bicara lembut pada Gio.


“Oya, ini susunya Gio sama camilannya kalo dia rewel.” Yani memberikan tas kecil milik Gio.


“Ok.” Via segera membawa Gio masuk setelah Yanti pergi.


Kegiatannya yang akan membersihkan halaman terpaksa diurungkannya. Nggak papa deh, masih ada besok, kan hari minggu? Begitu pikir Via.


Via mengajak Gio main di ruang tengah sambil nonton kartun. Anak itu anteng mempehatikan TV sambil sesekali Via menyuapinya biscuit.


Ting tong!


Bunyi bel dari pintu depan.


“Eh, siapa ya? Apa si Yanti kali ya?” Gumam Via. “Gio tunggu sebentar ya, kayaknya bunda kamu balik lagi tuh.” Via beranjak ke ruang depan dan segera membuka pintu.


JENGJENG!


Coba tebak sodara-sodara, siapa yag datang?


😊😊🤔🤔🤔


Ok, sambil menebak, othornya tinggal kerja dulu di dunia nyata ya.☺️


☺️


Terima kasih sudah membaca. Dan mohon maaf buat kakak othor yang belum di feed back. Slowly but sure ya, dear… 🙏🙏😍😍

__ADS_1


Jangan lupa dukung othor ya, luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2