
SLAP!
Ternyata satu tiket kereta api yang sudah lecek karena air cucian. Via membukanya. Hari, tanggal berikut dengan jam keberangkatan kereta tersebut masih bisa terbaca dengan jelas.
Berbagai tanya dan keheranan berkecamuk dalam benak Via.
"Sayang, Mas pergi dulu ya." Seru Mirza sambil menuruni tangga, lantas mendaratkan kecupannya sekali lagi di kening Via.
"Mas, tunggu." Sergah Via.
"Ada apa, sayang?"
Via memperlihatkan tiket itu pada Mirza. "Bisa kamu jelaskan ini?"
Seketika Mirza terdiam, dia hanya memperhatikan kertas lecek di tangan Via itu tanpa kata.
Mirza mulai disergap perasaan yang selama ini ia takutkan. Sementara ia masih mematung, Via mengambil kotak rokok dari laci lemari dapur.
"Tolong Mas jawab dengan jujur, apa ini juga punya Mas?"
Belum usai ketakutannya, kini masalah Mirza bertambah lagi. Mengapa dia bisa tidak ingat dengan rokok yang dibelinya malam itu?
Mirza merutuki keteledorannya sendiri dalam hati. Wajah ayu Via mulai menegang, suaminya tak juga kunjung bicara.
"Apa ada yang kau sembunyikan dariku, Mas?" Tanya Via dengan suara bergetar.
Masih tak ada jawaban. Mirza menelan salivanya berusaha menghilangkan ketakutan dalam dirinya.
"Kenapa diam, Mas? Jawab aku." Air mata Via mulai menggenang dikedua mata indahnya. Nalurinya sebagai wanita mencium ada aroma kebohongan dalam sikap suaminya.
"I itu semua memang punya Mas, sayang." Jawab Mirza tergagap. "
Via melemparkan tiket dan kotak rokok ke sembarang tempat.
"Jadi kamu pulang sehari lebih cepat?"
Mirza mengangguk.
"Kenapa kamu berbohong, Mas? Kamu pulang kemana? Lalu kenapa kamu merokok? Ada masalah besar apa? Kenapa kamu menyembunyikannya dariku? Kenapa, Mas?" Via memberondong Mirza dengan pertanyaan dalam tangisnya yang mulai pecah.
Mirza menaruh ponselnya di atas meja lantas mendekat bermaksud memeluk Via untuk menenangkannya, namun Via menghindar.
"Jelasin semuanya Mas!" Tatapan tajam Via menuntut jawaban secepatnya.
"Mas minta maaf, sayang. Mas nggak maksud berbohong." Ujar Mirza membalas tatapan Via dengan sendu.
"Berarti kamu mengaku salah?"
Bicara Via sudah berubah aku kamu karena emosi.
"Iya."
"Jelaskan apa kesalahanmu!" Tantang Via. "Apa ada yang lebih penting dariku dalam hidupmu sampai-sampai kamu merahasiakan sesuatu padahal selama ini kita selalu terbuka dalam hal apapun?"
"Tidak, sayang. Kamu segalanya bagiku."
Mirza masih terus berusaha meraih Via, tapi lagi-lagi Via menepisnya.
"Sehari sebelumnya Mas pulang ke rumah ibu untuk menenangkan pikiran."
"Ke rumah ibu?" Via tak percaya. "Untuk menenangkan pikiran kata mu?"
Via teringat hari itu ibu mertuanya datang ke rumah tapi tidak mengatakan apa-apa. Bu Een datang dengan maksud yang tidak jelas lantas pergi lagi. Mungkin kala itu ibu mertuanya sedang mencari tau tentang sesuatu karena Mirza berada di rumahnya sepulang dari Jakarta. Via tak menyangka akan hal itu sama sekali.
Mirza hanya mengangguk lemah.
Via memandang suaminya itu dengan tatapan tak percaya.
"Apa maksud dari semua itu, Mas? Kenapa kamu baru bilang sehari setelahnya kalau kamu dalam perjalanan pulang? Apa yang kamu sembunyikan dariku?" Bahu Via berguncang-guncang seiring isak tangisnya yang semakin menjadi. "Aku tahu semua hal tentangmu, tentang kebiasaan mu, kamu tidak mungkin merokok jika tidak sedang dalam masalah besar. Sekarang tolong katakan semuanya dengan jujur!"
Mirza cepat meraih tangan istrinya dengan wajah penuh rasa bersalah. Via kali ini tak menolak, dia lelah menghindar. Mirza membawanya ke Sofa.
"Sayang," Ucap Mirza. "Memang ada hal yang belum kamu ketahui, tapi kamu harus percaya aku sama sekali tidak bermaksud menyembunyikannya. Aku hanya merasa tidak yakin kalau aku bersalah, aku sedang menunggu untuk membuktikan ... "
"Jelaskan dengan singkat, jangan berbelit-belit!" Mata Via lurus menusuk kedua manik mata Mirza meminta kejujuran.
__ADS_1
Mirza mengusap air mata Via lembut.
"Sayang, demi Tuhan aku tidak bermaksud menghianati mu. Kamu adalah satu-satunya wanita dalam hatiku, aku mengaku bersalah. Aku khilaf."
"Jadi ini tentang pengkhianatan?" Ujar Via dingin. "Ada wanita lain yang masuk dalam rumah tangga kita? Iya, benar begitu, Mas?" Desak Via memastikan.
"Sayang semua yang terjadi tidak seperti yang kau pikirkan. Demi Tuhan, aku ... "
"Jangan bawa-bawa nama Tuhan dalam penghiatan, Mas!" Via bangkit menunjuk muka Mirza geram. "Kamu telah mengakui bahwa kamu berselingkuh. Katakan siapa orangnya!"
"Itu tidak penting, sayang. Aku mohon, dengarkan aku dulu."
"Sejauh apa hubungan kalian?"
"Tidak ada apa-apa. Itu suatu ketidak sengajaan."
"Apa untuk hal itu kamu pergi ke Jakarta? Kamu juga berbohong kalau kamu ada urusan dengan Om Jaka, iya? Berarti Om Jaka tau perselingkuhan mu?"
Via terus mencecar Mirza dengan rangkaian pertanyaan-pertanyaan yang ia kaitkan dengan kejadian sebelumnya. Mirza tak bisa mengelak, namun begitu dia masih menutupi perihal kehamilan Sofi.
"Jawab aku, Mas!" Teriak Via dengan air mata yang kembali tumpah.
Sebelumnya dia tak pernah bicara dengan nada tinggi penuh amarah seperti itu pada Mirza. Tapi kali ini kesalahan Mirza sangat fatal, Via tak mampu mengendalikan emosinya yang begitu membuncah.
"Kamu tidak bisa jawab? Kamu masih mau berkelit rupanya. Baik, akan aku cari tau sendiri jawabannya!"
TRAP!
Via mengambil ponsel Mirza di atas meja.
"Sayang, kau mau apa?" Mirza berusaha mengambil ponselnya.
"Diam di situ!" Tunjuk Via, dia lantas mencari nomor Om Jaka dan langsung menelponnya dengan loud speaker.
Nut
Nut
Nut
Nut
"Ini Via, Om." Sahut Via datar.
"Oh. Iya, Vi. Gimana? Tumben nelpon?" Om Jaka masih bersikap biasa.
"Om, aku mau tanya sesuatu sama Om."
"Serius amat lu, Vi." Om Jaka tertawa kecil di seberang. "Mau tanya apa emangnya? Jangan yang susah-susah ya, Om lagi males mikir." Om Jaka masih meledek Via belum menyadari hal yang akan terjadi.
"Nggak, Om cukup menjawabnya dengan ya atau tidak."
"Kayak lagi acara quiz aja lu, Vi! Mau tanya apaan sih? Jangan bikin penasaran ah."
"Apa benar Mas Mirza ke Jakarta waktu itu untuk bertemu dengan seorang wanita?"
GLEK!
Om Jaka ternganga di sebarang. Dia tak menyangka Via akan bertanya seperti itu. Sementara Mirza sudah berkeringat dingin dengan debar jantung yang tak beraturan. Wajahnya antara memelas dan takut seperti hendak dikuliti habis-habisan.
"Om?" Panggil Via.
"Em, Vi kamu ... "
"Jawab iya atau tidak, Om." Tegas Via.
Om Jaka berpikir keras, dia tau apapun jawabannya pasti akan berdampak buruk untuk hubungan Mirza dan Via.
"Iya." Sahut Om Jaka akhirnya.
"Apa Mas Mirza punya hubungan khusus dengan wanita itu?"
Ya ampun! Via nanyanya udah kaya polisi aja, serem amat. Mimpi apa gue semalem ya. Gue jadi kebwa-bawa kan? Kalo udah kayak gini gue jadi takut dengan rumah tangga mereka. Ini gara-gara si Mirza nih, dia nggak becus jadi laki! Udah punya satu istri, masih aja nyosor perempuan lain.
"Om? Om Jaka masih masih di situ kan?" Tanya Via membuyarkan kegelisahan pikiran Om Jaka.
__ADS_1
"Vi, dengerin Om ya." Om Jaka coba bernegosiasi.
"Nggak, Om. Aku nggak butuh penjelasan, aku cuma butuh jawaban iya atau tidak." Potong Via dingin.
Om Jaka terdengar menghela nafas panjang. Mirza pun menunggu jawaban dengan keringat yang semakin mengembun. Dalam kondisi seperti ini dia tau Omnya tak kan berdusta.
"Iya."
"Oke, makasih Om."
"Vi, tunggu!" Sergah Om Jaka takut keburu Via mengakhiri percakapannya.
"Ya?"
"Jangan mengambil keputusan yang nantinya bisa merugikan kalian."
"Ini bukan soal untung rugi Om."
"Om paham, Vi. Maksud Om kamu jangan emosi, kalian harus menggunakan hati dan pikiran yang jernih dalam mengambil tindakan. Pikirkan akibatnya nanti jika kalian salah dalam mengambil keputusan. Orang berumah tangga kan pasti ada ujiannya." Terang Om Jaka panjang lebar.
"Om nggak lagi berusaha membela Mas Mirza, kan?"
"Nggak, Vi. Om hanya ... , ah sudahlah. Om mengerti gimana perasaanmu. Om akan ke sana secepatnya."
"Oke, aku tunggu."
KLIK!
Via memutuskan sambungan dan meletakkan kembali ponsel Mirza di atas meja lantas berlalu begitu saja seolah tak terjadi apa-apa.
Mirza segera mengejar, "sayang, benar kata Om Jaka. Kita ..."
"Jangan ganggu aku." Via menghentikan langkahnya, menatap Mirza sinis. "Aku mau sendiri."
Via setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
BLAM!
Pintu kamar dibanting dan Via menguncinya dari dalam.
Untuk kali pertama Mirza merasa tak berarti di mata Via. Namun dia sadar, dirinya yang telah membuat kekisruhan dalam rumah tangganya sendiri. Via yang begitu manis dan lembut bisa jadi begitu mengerikan ketika marah. Mirza tak bisa membayangkan seperti apa kemurkaan Via jika tau Sofi hamil. Melihat Via seperti itu saja, Mirza sudah tak sanggup.
Mirza duduk nelangsa menyesali semua kebodohannya. Tak dihiraukannya panggilan masuk berkali-kali di ponselnya dari Firman. Dia tak menginginkan apapun kecuali Via.
Hari berganti malam, Via belum juga turun. Dia melewatkan waktu makan malamnya. Mirza benar-benar khawatir. Akhirnya Mirza naik dan mengetuk pintu kamar untuk memanggil Via.
Untuk beberapa saat tak ada jawaban. Mirza mengetuk pintu lebih keras lagi.
Ceklek!
Pintu terbuka, wajah Via yang sembab muncul dengan ekspresi datar. Mirza tau istrinya pasti telah menangis seharian.
"Sayang, kita makan dulu ya."
"Aku nggak laper." Sahut Via cepat lantas hendak menutup kembali pintu kamarnya namun Mirza buru-buru menahannya.
"Sayang, tolong jangan seperti ini. Aku nggak sanggup ngeliat kamu begini."
Via menyunggingkan senyum sinis. "Bisa ya kamu ngomong kayak gitu?"
Mirza ingin masuk ke dalam namun Via mendorongnya. "Kalo kamu mau masuk, biar aku yang tidur di luar! Untuk saat ini aku benar-benar hanya ingin sendiri."
Mirza meredupkan pandangan, mulutnya tak berkata apa-apa lagi.
BLAM!
Sekali lagi pintu dibanting dengan keras, dan kali ini tepat di depan wajah Mirza.
__________bersambung dulu ya ☺️
_______________________________
*Terima kasih akak-akak author tersayang dan readers tercinta yang sudah singgah untuk membaca 🙏❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan like, komen, rate dan vote ya biar author makin semangat ☺️☺️🤗🤗😘😘*
__ADS_1