TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
154 #PIKNIK KELUARGA PART 2


__ADS_3

Matahari pagi di akhir pekan terasa lebih hangat menyapa, hamparan pasir putih dan biru lautan langsung menyambut mesrabegitu Via menjejakkan kaki di Tirta Maya beach. Suasana pantai cukup ramai di akhir pekan, meski ini bukan pertama kalinya Via berkunjung namun tentu saja kali ini terasa berbeda. Selain karena pantai yang lebih bersih dan terawat setelah dikelola oleh dinas pariwisata setempat, juga tentunya ini sangat membahagiakan karena semua anggota keluarganya turut serta.


“Vi!” Panggil Tia melambaikan tangannya dari kejauhan.


Via dan Bi Narih mencari sumber suara dan langsung menghampiri begitu melihat Tia duduk beralaskan tikar di bawah pohon nyiur bersama Bu Elin dan anggota keluarganya yang lain.


“Tante Via ….” Panggilan nyaring selanjutnya menyusul, Ica berlari menubruk tantenya. “Kok lama banget sih?” Rajuk Ica memeluk pinggang tante kesayangannya.


“Iya, solanya tadi tante ….”


“Wah, ada Om ganteng!” Ica langsung melepaskan pelukannya begitu melihat Danar yang berjalan mendekat sambil membawa dua box besar di tangannya. “Halo, Om ganteng ….”


“Hai, Halo cantik ….” Balas Danar seraya membungkuk menjawil dagu Ica, dan Ica tanpa malu-malu mengalungkan kedua lenagnnya di leher Danar.


“Om ganteng, kita main yuk!” Ajak Ica.


Bi Narih mengambil alih barang bawaan Danar, sementara Via menghela nafas kasar memandang keakraban Ica dan Danar.


Dasar Ica! Tau ada orang ganteng, langsung amnesia sama tantenya. E apa tadi? Danar ganteng? Ah, lupain lupain!


“Aku kesana dulu ya.” Via pergi tanpa menunggu jawaban Ica dan Danar.


“Ica mau main apa?” Tanya Danar melihat kepergian Via.


“Kita main bola yuk, Om.”


“Boleh.”


“Sebentar ya, Ica ambil bolanya dulu.” Ica berlari mengambil bola plastiknya lantas segera kembali pead Danar dan menyeret tangan Danar agak menjauh.


Suasana semakin ramai karena beberapa karyawan toko kue Bu Elin mulai berdatangan bersama keluarganya juga. Via Nampak membaur di tikar bersama Bu Elin dan keluarganya. Aneka makanan dan minuman tersaji lengkap, Bi Narih dibantu karyawan yang lain membagikan makanan pada beberapa kelompok karyawan yang menggelar tikar terpisah dari mereka.


“Eh, mana Ica tadi, Vi?” Tia celingukan mencari anaknya.


“Main sama Danar.”


Tia berdiri mengedarkan pandangannya, nampak Ica sedang main lempar bola dengan Danar agak jauh dari tempat mereka. Ica sesekali tertawa ceria dan mengejar bola yang menggelinding tertiup angin mengarah ke bibir pantai.


“Ica, mainnya jangan jauh-jauh, Nak!” Seru Tia nyaring.


Terlambat! Anak itu udah nyebur ke pantai karena bola terus menggelinding tersapu ombak, Danar segera mengejar Ica agar tak turut terbawa ombak pantai yang meski pelan namun cukup bahaya bagi anak sekecil Ica.


Hup!


Danar segera mearaih tubuh mungil Ica dan membawanya ke tepi. Ica malah tertawa-tawa senang karena tubuhnya basah kuyup.


“Liat tuh, anakmu Mbak!” Via geleng-geleng kepal melihat kelakuan Ica.


“Mas, susulin Ica ajak ganti baju.” Pinta Tia pada Arya.


“Biarin aja lah Bun, namanya juga main di pantai ya pasti basah lah bajunya.” Arya enggan menuruti perintah istrinya.


“Bener itu, Tia. Biar puas dulu Ica mainnya.” Timpal Bu Elin. “Lagian Danar juga kayaknya seneng banget main sama Ica. Seru banget mereka keliatannya.” Bu Elin melempar pandangan pada Ica dan Danar yang asyik mengumpulkan pasir pantai. “Sepertinya Danar sudah sangat pantas untuk punya anak ya, Yah?” Bu Elin melihat pada Pak Rian.


“Heum, tapi dia masih santai saja Bu.” Pak Rian mengehela nafas sambil membetulkan letak kaca matanya.


“Ri, gimana kamu sama Danar?”


“Uhuk … uhuk …” Riri yang sedang minum tiba-tiba terbatuk ditodong pertanyaan seperti itu oleh Bu Elin.


“Bu Harni setuju kan kalo Riri dan Danar kita jodohkan?” Bu Elin kini beralih pada Bu Harni yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.


Bu Harni jadi senyum salah tingkah, ia menatap Via dan Tia bergantian seolah meminta persetujuan.


Triringring tringring tring …


Suara ponsel Pak Rian menyelamatkan kebimbangan Bu Harni.


“Ya, Halo. Sudah sampai mana, Mas?” Sapa Pak Rian pada si penelpon.


“(………………………..)”


“Oh, ya sudah tunggu sebentar, saya kesana sekarang.” Pak Rian bangkit dengan gawai masih menempel di telinga kanannya, ia berjalan menuju tempat si penelpon berada sambil terus bicara.


“Eh, sampai mana tadi kita?” Bu Elin ingin kembali pada topik pembicaraan awal.


“Sampai perjodohan Mas Danar dan Mbak Riri.” Sahut Bi Narih sambil nyengir.


“Oh iya betul. Kalau menurut kamu gimana, Vi?” Kali ini Bu Elin menatap Via.


Via agak kaget sebentar namun segera menguasai dirinya. “Ya kalo aku sih terserah Riri aja, Bu.” Via melihat pada Riri yang jadi kikuk.


“Tapi kamu seneng kan kalo Danar jadi adik ipar kamu?”


Ini Bu Elin kenapa ya kok pertanyaannya rada aneh begini? Lagian kenapa aku terus yang ditanya? Tanya Mbak Tia apa Mas Arya kan bisa?


Via tersenyum untuk mengatasi rasa anehnya sendiri. “Seneng-seneng aja Bu, kan Danar bos aku di kantor. Berarti aku punya adik ipar boss, ya kan? Hehe ….” Entah mengapa malah jawaban itu yang nyeplos dari Via.


Bu Elin ikut tersenyum mendengarnya, Via sama sekali tak tau kalau Bu Elin sebenarnya sudah mengetahui perasaan Danar pada Via. Bu Elin cuman mau ngetes Via aja, ternyata benar cinta Danar memang tak kan terbalas. Tapi justru Bu Elin bersyukur akan hal itu.


“Kalo menurut kalian gimana, Tia, Arya?”


Bu Elin persis guru taman kanak-kanak deh kalo kayak gini. Ngabsen muridnya satu-satu pake pertanyaan, hemmm… batin Via.


“Kalo kita sih setuju-setuju aja, ya kan Mas?” Tia melihat pada suaminya. Arya hanya mengangguk. “Danar kayaknya orangnya sabar dan dewasa, cocok sama Riri yang masih kekanakan dan masih suka manja.”


“Ish! Mbak Tia ini!” Riri mencebik.


Bu Elin manggut-manggut sepertinya senang dengan jawaban Tia yang lebih rasional daripada Via. Obrolan mereka kemudian beralih seputar rencana ide pengembangan produk cake and bakery yang baru untuk memenuhi kepuasan para pelanggan. Bu Harni bisa bernafas lega kini, karena nggak lagi ngomongin soal perjodohan. Namun kelegaan itu hanya sesaat, karena nafasnya seperti berhenti mendadak manakala melihat sesosok laki-laki yang datang bersama Pak Rian.


“Selamat siang, semuanya.” Sapa Pak Hadi dengan senyum kharismatiknya yang sukses bikin jantung Bu Harni seolah mau copot.


“Wah, Pak Hadi juga ikutan ternyata?” Via menyambut paling antusias.


“Mana mungkin saya melewatkan acara yang sangat langka dan special ini.” Sahut Pak Hadi. “Belum terlambat kan untuk bergabung?” Imbuhnya.

__ADS_1


“Ah, kamu ini Mas. Formal banget. Cepet duduk, sini!” Bu Elin menepuk tikar di sebelahnya.


“Huh, ada Mas Hadi saja suami sendiri langsung dicuekin!” Ceplos Pak Rian pura-pura kesal.


Semua yang mendengarnya tertawa, kecuali Bu Harni yang masih mengatasi kegugupannya yang menyerang tiba-tiba.


“Ya sudah, ayah duduk sini samping Ibu. Jangan merajuk gitu dong, kayak anak kecil saja. Mas Hadi duduk sebelah situ dekat Bu Harni.”


Pak Hadi langsung megambil tempat di samping Bu Harni yang masih kosong.


“Oya Bu Harni dan semuanya, kenalin ini Mas Hadi ayah kandungnya Danar. Mas Hadi bagi saya dan Mas Rian ini sudah seperti kakak kandung kami sendiri, karena beliaulah yang menemani jatuh bangunnya usaha kami dari nol sampai bisa besar dan sukses seperti sekarang ini.” Papar Bu Elin.


“Kamu ini terlalu berlebihan, Her.” Sambut Pak Hadi dengan senyum menghias di wajahnya.


“Ya memang begitu kan? Mas, ini keluarganya Via. Kalo sama Via Mas Hadi pasti udah kenal kan soalnya tetanggaan.”


“Apa kabar Dik Harni.” Sapa Pak Hadi dengan mengangguk sopan pada Bu Harni.


“Lho? Mas Hadi sudah kenal sama Bu Harni?” Bu Elin kontan heran, demikian juga dengan Pak Rian.


“Eh, iya … saya sama Dik Harni ini …”


“Kami teman sekolah dulu.” Sambar Bu Harni cepat. “Teman SMP, iya kan Mas Pram?” Bu Harni melirik Pak Hadi.


Bu Elin dan Pak Rian saling pandang masih dalam keherananan. “Mas Pram?” Bu Elin makin heran. “Wah, sepertinya ada yang nggak kita ketahui nih dari Mas Hadi dan Bu Harni ya, Yah?”


Pak Rian hanya mengangguk, meski penasaran juga tapi nggak kepo kayak Bu Elin. Via dan Riri yang mengetahui masa lalu ibunya dan Pak Hadi memilih diam.


“Kalau memang sudah kenal berarti malah bagus dong. Rencana perjodohan ini akan lebih mudah.” Bu Elin bersemangat.


“Perjodohan?” Gantian Pak Hadi yang heran.


“Iya, jadi aku sama Bu Harni punya rencana mau jodohin Danar sama Riri, Mas.”


“Danar sama Riri?” Pak Hadi melihat pada putri bungsu mantan kekasihnya itu, yang dilihat malah nampak sangat canggung.


“Eeemm, kalo menurutku sih aku … “ Riri yang dati tadi jadi bahan obrolan mulai bika suara.


“Kenapa kamu keberatan?” Potong Bu Elin pada Riri.


“Aku … belum kepikiran soal menikah, Bu. Maaf …” Agak tak enak Riri menjawabnya.


Bu Elin malah tertawa. “Siapa yang minta kamu cepat-cepat menikah sama Danar? Jalani saja dulu, Ri. Penjajakan ya, biar kalian makin kenal dan lebih deket lagi.”


Pak Hadi mengetahui kegelisahan yang dirasakan Bu Harni.


“Her, gimana kalau kita bahas masalah ini lain waktu saja. Sekarang makan dulu aja. Karena tadi pagi aku ada urusan jadi belum sarapan nih, laper.” Pak Hadi memegang perutnya.


“Hem, baiklah.”


Pak Hadi lega, usahanya berhasil juga. Ia sungguh tak ingin mebuat acara yang seharusnya berjalan dengan santai dan ceria itu jadi canggung tiba-tiba karena Bu Elin terus saja ngomongin masalah perjodohan Riri dan Danar sementara dia sendiri tahu kalau anaknya justru jatuh hati pada Via, kakak kandung Riri yang malah sudah bersuami.


Hari merambat sore, namun matahari masih terasa cukup terik. Semua karyawan sudah menempati resort yang sudah disediakan meski ada beberapa yang masih nampak berada di pantai, termasuk Arya dan Tia. Mereka berdua berjalan menyusuri pantai bergandengan tangan. Tia dan Arya sangat menikmati liburan gratis ini, mereka terlihat yang paling bahagia.


“Hoy! Mbak, Mas!” Panggil Riri. “Kalian ini malah enak-enakan jalan berdua, ini anaknya diurusin nih!” Riri berjalan mendekat dengan rada ngos-ngosan, ia menyerahkan Ica dari gendongannya pada Arya.


“Ngambek dia! Minta main basah-basahan lagi, baru aja aku gantiin bajunya tadi basah semua habis main sama Mas Danar siang tadi itu.” Cerocos Riri kesal.


Bibir Ica mengerucut membuat pipinya makin menggelembung. “Tapi aku kan belum main pake pelampung yang aku bawa, Yah?” Cicit Ica.


“Besok pagi aja ya sayang, biar nggak panas. Nanti Ica sakit lho.” Bujuk Tia.


“Tuh dengerin kata Bunda. Apa kita beli makanan atau es krim aja yuk.” Arya ikut membujuk karena Ica masih merengut.


“Huh, dasar bocil rempong! Udah ah, aku mau ke resort capek ngurusin dia. Bye!” Riri berlalu dengan langkah cepat menuju resort mengambil jalan yang berbeda dari yang ia lewati radi, tanpa sengaja Riri melihat Via yang lagi asyik sandaran di kursi pantai berselonjor ria dengan ditemani es kelapa muda.


“Ini lagi, orang satu ini santuy bener. Berasa lagi di Bali ya, Bu?” Sapa Riri meledek Via.


“Eh, Ri. Dari mana aja kamu?” Via menegakkan posisinya.


“Dari ngurusin anak rempong tuh!” Riri melihat pada Ica yang berjalan menjauh bersama ayah bundanya.


Via nyengir. “Kenapa lagi si little drama queen itu?”


“Biasa, merajuk dia! Nyebelin banget!” Riri monyong, lalu ….


SRUUT … SRUUUT ….


Riri menyedot es kelapa muda milik Via tanpa permisi.


“Hey, nyebelin sih nyebelin tapi jangan es kelapa muda Mbak juga dong yang jadi pelampiasannya?” Kesal Via melirik adiknya yang cuek aja tanpa dosa.


“Abisnya capek banget gendongin dia, aus deh jadinya. Mana emak bapaknya malah enak-enakan jalan berdua aja lagi. Dipikirya mereka lagi bulan madu apa? Sampe lupa sama anaknya sendiri begitu!”


Via terkekeh mendengar ocehan Riri. Tampang Riri manyun.


“Oya Ri, gimana Danar?” Via sengaja memancing Riri.


“Tadi sih keluar dari resort barengan. Abis ganti celana dia basah gegera mainan air sama Riri.”


“Yee…, bukan gitu. Maksud Mbak gimana perasaan kamu ke Danar?”


Riri kontan melotot. “Mbak, plis deh! Jangan bahas itu, aku belum mau nikah.”


“Kan tadi Bu Elin bilang suruh penjajakan dulu?”


“Penjajakan apanya? Orang Mas Danarnya juga cuek begitu.”


“Brarti kalo Danarnya mau kamu juga mau kan?” Via penasaran.


Riri menatap lurus manik mata kakak keduanya itu. “Aku yakin banget aku bukan tipe cewek idaman Mas Danar.”


“Kalo ternyata dugaan kamu salah, gimana?”


“Tau ah! Aku nggak mau mikirin itu!” Riri bangkit meninggalkan Via menuju Resort.

__ADS_1


Via menatap kepergian adiknya, seulas senyum menghias wajah cantiknya.


“Vi, sendirian aja?” Tegur Pak Hadi yang entah datang dari mana.


“Eh, Pak Hadi. Bapak juga sendirian aja? Dari mana, Pak?” Balas Via.


“Tadi abis jalan-jalan sama ibu kamu.”


“Jalan-jalan sama ibu?” Gumam Via heran.


“Iya, sekedar menikmati suasan pantai.”


Via hanya mengangguk, enggan untuk bertanya lebih lanjut. Biarkan saja mereka berdua mau ngapain, toh mereka udah sama-sama bangkotan juga, hehe ….


Mendadak suasana pantai jadi riuh, beberapa pengunjung pantai nampak berkumpul di sisi kiri pantai. Sepertinya akan diadakan pertandingan voly pantai.


“Kita lihat ke sana yuk, Vi.” Ajak Pak Hadi berjalan mendahului tanpa menunggu Via. Via pun memilih mengekor saja karena tak enak mau menolak.


Pak Hadi dan Via bergabung dengan penonton yang lain, mereka berdiri di tepi lapangan voly yang dibuat seadanya. Pak Hadi terlihat antusias, sementara Via sendiri kurang menyukai voly pantai.


“Eh, itu di sana keponakan kamu kan?” Pak Hadi menunjuk Ica yag asyik bermain pasir dengan Tia tak terlalu jauh dari lapangan voley. “Ada Danar juga, ayok kita ke sana aja!”


Meski lega karena tak harus menonton pertandingan voly pantai, tapi kenapa harus mendekati Danar lagi sih? Tapi meski agak kesal, Via ikut lagi dengan Pak Hadi.


“Pak Hadi, Via?” Sapa Arya yang juga baru datang sambil membawa dua botol minuman dingin untuk Ica dan Tia.


“Tante sini main sama Ica.” Ujar Ica yang sedang asyik membentuk gundukan pasir menyerupai istana.


“Ica kok main pasir lagi sih? Kan itu udah ganti baju? “ Tegur Via.


“Susah dibilangin juga, Vi.” Sahut Tia.


“Tante sini, cepetan!” Ica menarik tangan Via dengan kedua tangan mungilnya yang belepotan pasir.


“Ya ampun, Ica!” Kaget Via.


“Kalo Tante nggak mau ikutan, aku kotorin sekalian nih! Nih, nih … rasain!” Ica melempar-lempar pasir menimbun kaki Via.


Reflek Via berjingkat-jingkat membuat Ica tertawa renyah melihat kelakuan tantenya, Tia hanya mengelus dada dengan keusilan putrinya, sementara tak jauh dari situ Danar ikut tersenyum menyaksikan pemandangan menggelikan itu.



“Huh! Awas ya, tante nggak bakalan ngajakin kamu nginep di rumah tante lagi!” Via menjauh membersihkan kakinya.


“Kadang-kadang ikutan menjadi seperti anak kecil itu menyenangkan lho.” Ucap Danar memandangi Via dengan senyuman.


“Tapi aku lagi nggak mau jadi anak kecil.” Via mendudukkan diri di kursi dekat Danar menepuk-nepuk betisnya merontokkan pasir yang menempel disana.


“Tante Via nggak asyik!” Cebik Ica yang kembali main pasir dengan bundanya, sementara Pak Hadi dan Arya asyik berbincang entah tentang apa.


“Udah kotor begitu kenapa nggak sekalian aja mainan air?” Danar duduk di sebelah Via seraya melepas kaca mata hitamnya.


“Nggak usah ngeledek deh, kamu juga baru ganti kan gegara diusisn Ica?” Via kesal.


“Aku nggak ngerasa diusilin kok. Aku seneng bisa main dan serasa seperti jadi anak kecil lagi.” Ucap Danar.


Via semaki sebel. Nih orang lagian ngapain sih duduk deket-deket disini? Bikin makin sebel aja.


Angin pantai memainkan anak rambut Via menjadi agak berantakan. Via merapikannya, butiran pasir pantai tak sengaja menemel di keningnya karena tangan Via yang kotor. Danar memandangi wajah Via sambil tersenyum.


“Ngapain senyum-senyum begitu?”


“Jidat kamu belepotan pasir tuh.” Danar menunjuk dahi Via.


Via mengusapnyaya, namun justru makin membuat makin banyak pasir yang menempel di sana. Senyum Danar makin lebar dibuatnya.


“Danar, kamu nggak usah ngerjain aku ya!” Via melotot.


Danar mendekatkan posisinya, ingin rasanya dia mengusap wajah cantik yang belopotan pasir di depannya itu. Danar mencondongkan tubuhnya ke arah Via.


“Danar?” Lirih Via.


Mata mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Debaran jantung Danar berdegup makin kencang, rasanya seperti ada pasukan khusus yang memompa denyut jantungnya menjadi berirama tak beraturan.


“Vi, aku senang kita bisa sedakat ini.”


“Maksudnya?”


Danar menyapukan tangannya pada kening Via, butiran pasir itu bergugran. “Aku mau jujur sama kamu.”


Mendadak suasananya seperti sunyi, dua pasang mata itu masih saling menatap.


“Aku jatuh cinta sama kamu. Andai aku bisa mengendalikan perasaanku sendiri, mungkin aku tak kan membiarkannya sampai sedalam ini. Aku meyukaimu sedari awal kita bertemu, dan perasaan itu terus tumbuh menjadi rasa cinta yang tak mampu ku hindari meski ternyata aku tahu bahwa kau sudah tak lagi sendiri. Katakan padaku, Vi. Apa kamu juga memunyai perasaan yang sama sepertiku?"


WHOOSH ….!


BUGH!


Satu bola voley tepat mengenai sisi kanan kepala Danar, meski tidak terlalu kencang tapi cukup membuanya kaget. Seketika Danar tersadar.


“Maafkan saya, Mas. Saya nggak sengaja.” Seorang remaja laki-laki mendekat mengambil bola itu penuh dengan rasa bersalah.


Danar yang sepertinya baru pulih dari alam bawah sadarnya hanya mengangguk samar.


“Danar, kamu nggak papa?” Tanya Via khawatir karena melihat Danar seperti orang bingung. “Saki ya?”


Sakit banget, Vi. Tertanyata tadi aku cuman halu! Ah, seandainya saja aku punya cukup keberanian untuk mengungkapkan persaan ini padamu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Eaaaa ….. siapa nih yang sempet mengira Danar beneran nyatain perasaanya ke Via? Hehe… selamat ya, anda kena prank! 😂😂🤭🤭


Maafkan othor ya? 🙏🙏😘😘


Terima kasih sudah membaca, mohon tinggalkan jejak ya Kak. Othor butuh penyemangat dari pembaca setia dan akak-akak othor semua yang selalu ngikutin cerita ini. Lagi agak down nih othornya, biasalah emak-emak lagi banyak pikiran, hehe… 😅😅😅

__ADS_1


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2