TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
71 #DEMI MASA


__ADS_3

Danar baru saja memasuki pintu kedai ketika Ari menyapanya dengan ekspresi aneh.


“Siang, Mas Danar. Ibu udah nungguin dari tadi.” Jempol kanan Ari menunjuk ruangan di sebelah.


Bu Elin nampak sedang duduk di area outdoor yang sepi, ia memilih tempat paling pojok dengan gelato tersaji di mejanya.


Danar mendekat agak canggung.


“Maaf, Bu. Saya lama.” Ucap Danar.


Bu Elin mengangkat wajahnya, “duduk.” Katanya datar.


Wanita paruh baya lebih yang masih sangat cantik dan menawan itu melihat putra angkatnya dengan tatapan lurus.


“Danar, ada hal yang paling berharga di dunia ini melebihi harta.” Ungakap Bu Elin sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat ekspresi laki-laki muda di hadapannya.


Danar hanya menghela nafas perlahan, ia tau ibu angkatnya sedang dalam mode serius.


“Apa itu, Bu?” Tanya Danar.


“Waktu.”


Kedua kalinya Danar menghela napas, ia merasa sangat bersalah karena telah membiarkan ibu angkatnya itu terlalu lama menunggu.


“Sekali lagi aku minta maaf, Bu. Aku sama sekali tak bermaksud membuat Ibu menunggu, tapi …”


Bu Elin mengangkat tangan kanannya memberi isyarat pada Danar untuk tak melanjutkan kalimatnya.


“Lihatlah gelato ini, nampak sangat lezat kan?” Bu Elin tersenyum tipis dengan matanya menatap pada satu cup gelato rasa mixberry yogurt di depannya.


Danar ikut melihatnya namun pikirannya menerka-nerka apa sebenarnya yang akan disampaikan oleh ibu angkatnya itu, kenapa setelah membicarakan soal waktu sekarang tiba-tiba jadi ngomongin gelato?


“Gelato ini sama seperti es krim, jika kita hanya memandangi bentuk dan penampilannya saja maka lama-kelamaan akan mencair dan kita tak bisa menikmati kelezatannya.” Tutur Bu Elin.


Danar bergeming, belum mau berkomentar.


Kemudian pandangan mata Bu Elin menerawang, memandang jauh ke entah. Tarikan napas berat begitu terasa sebelum ia mulai bertutur kembali.


“Ibu dan ayahmu dulu sangat gila kerja. Kami terlahir bukan dari keluarga kaya, kami menginginkan kelak anak-anak kami hidup berkecukupan. Kami bekerja siang malam mengumpulkan uang dengan harapan untuk kebahagiaan anak-anak kami.” Bu Elin diam sebentar, menunduk dalam. “Kami lupa, bahwa ada satu hal penting yang sudah diabaikan karena kesibukan kami mengumpulkan harta.”


Danar masih diam, ia sengaja tak mau berkata apa-apa dulu menunggu jika masih ada yang ingin disampaikan oleh ibunya. Namun ketika ia melihat wajah Bu Elin terangkat dan mulai menyuapkan gelato ke dalam mulutnya, Danar yakin wanita itu sudah selesai bicara.


“Bu, sejujurnya aku nggak memahami maksud perkataan ibu barusan.” Ungkap Danar ragu karena takut menyinggung perasaan ibunya.


Tak disangka Bu elin malah tersenyum pada Danar.


“Kau ini memang masih saja pura-pura polos macam anak remaja. Usiamu sudah kepala tiga, dan kamu tak mengerti makna yang terisirat dari cerita yang ibu ungkkapkan tadi?” Bu Elin tak percaya.


“Aku … tak pandai menafsirkan suatu cerita. Nilai bahasa Indonesiaku tak pernah lebih dari angka 7 sejak sekolah dasar.”


Bu Elin kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. Dan satu suap gelato kembali dimasukkan ke dalam mulutnya, ia menyesapnya dan terasa begitu menikmatinya.


“Lagipula aku pikir, apa hubungannya gelato dan masa lalu ibu bersama ayah?”


Di luar dugaan Bu Elin malah terkekeh, rasa-rasanya Danar seperti baru selesai melontarkan suatu lelucon yang konyol.


“Dasar anak bodoh!” Ucap Bu Elin disela tawanya.


“Permisi, Bu.” Tiba-tiba Ari datang menyerobot ke meja mereka untuk meletakkan sekotak tisu. “Maaf saya lupa tisunya, Bu.”


“Ah ya, terima kasih ya, Ri. Kamu tau aja saya butuh tisu.” Bu Elin mengambil selembar tisu dan menyeka sudut matanya yang berair. “Saya sampe mau nangis karena menertawakan Danar.”


Apanya yang lucu? Dasar ibu aja yang lebay! Gerutu Danar dalam hati.


Danar melihat Ari tajam karena masih berdiri di sampingnya. Danar yang tau banget jiwa kepo Ari langsung menyuruhnya pergi dengan isyarat matanya.


“Hemm, jadi …” Bu Elin melirik Danar. “Kapan kamu akan melamar Riri?”


TOWEWEW!


“Apa, Bu? Apa aku nggak salah denger? Atau ibu salah bertanya, mungkin?” Danar terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan Bu Elin.

__ADS_1


“Hey, santai aja. Nggak usah melotot gitu, kenapa?” Bu Elin menepuk bahu Danar masih dengan sisa tawanya.


“Aku cuman nggak ngerti aja, Bu. Jadi dari tadi ibu muter-muter ngomongin gelato, ngomongin masa lalu ibu dan ujung-ujungnya nanyain kapan aku melamar Riri?” Danar mengusap kasar rambut gondrongnya ke belakang.


Mendadak suasana terasa begitu panas, Danar menguncir rambutnya dengan ikat rambut dari saku jeansnya.


“Bukannya kamu bilang dari semalam nganterin Riri ke rumah sakit?”


“Ke klinik.”


“Iya, sama saja.”


“Iya apa salahnya kalu cuman mengantar, Bu?”


“Nggak ada yang salah, tapi itu sudah jelas bentuk perhatian.”


Danar ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa buka Riri yang diantarnya. semalam hanya biar lebih singakat saja ketika ia mengirim pesan pada Bu Elin mengatakan mengantar Riri ke kinik. Tapi nggak ngira kalo jadinya bakal ditodong pertanyaan memojokkan seperti ini.


“Danar dengarkan ibu baik-baik.” Bu Elin kembali serius. “Belajarlah dari hidup yang sudah ibu alami. Ibu dan ayah Rian begitu banyak melewatkan waktu-waktu berharga kami. Kami pikir uang dan harta yang kami miliki akan menjamin hidup kami. Tapi nyatanya kamu tau betul kan? Kami hidup kesepian tanpa seorang anak. Beruntung Tuhan Maha Baik, mempertemukan kami dengan orang tua kandungmu.” Ada nada getir dalam kalimat terakhir Bu Elin.


Danar melihat manik mata ibu angkatnya yang lembut hati itu dalam.


“Semuanya tentang waktu, Danar." Lanjut Bu Elin. "Kalau saja kami tak menghabiskan masa muda kami untuk mengejejar materi, kalau saja aku tak terlalu gila kerja, mungkin aku tak kan kehilangan janinku sampai 3 kali, hingga akhirnya dokter harus mengangkat rahimku karena sudah tak memungkinkan lagi untuk hamil.” Butiran bening itu benar-benra luruh dari kedua netra wanita anggun di hadapan Danar.


Danar menyodorkan kotak tisu untuk ibunya.


“Danar, jangan kau habiskan waktumu untuk menunggu hal yang sia-sia. Menikahlah, usiamu sudah sangat matang. Kamu berhak bahagia, lupakan Grace.”


JLEB!


Rasanya hati Danar baru saja kena tusuk pisau dapurnya si Ari. Sakit dan perih tersayat-sayat.


“Ibu kenapa tiba-tiba bicara soal itu?” Suara Danar lemah.


“Ibu tahu kamu begitu mendambakannya, tapi dia …”


“Ibu tak perlu khawatir, aku pun sudah menemukan wanita lain yang aku cintai.” Potong Danar cepat tak ingin mendengar lebih jauh lagi tentang kisah lamanya dari mulut ibunya.


“Itu …” Danar bingung, lidahnya kelu.


“Kenapa? Tak perlu malu mengakuinya. Kamu dan Riri beberapa wkatu ini sering bersama kan, ibu yakin pasti sudah tercipta chemistry diantara kalian.” Mata Bu Ein berbinar kini.


Ya tuhan! Kenapa ibu ngarep banget sih aku jadian sama Riri? Kalo aku bilang orangnya bukan Riri, ibu pasti akan maksa kepingin tahu siapa sebenarnya wanita itu? Tapi nggak mungkin juga aku bilang kalo aku mencintai seseorang yang sudah bersuami.


“Danar, gimana? Kamu setuju, kan?” Tegur Bu Elin. “Hey, kok malah bengong?” Bu Elin menggerakkan telapak tangan kanannya di depan muka Danar.


“Emh, kenapa Bu?” Danar sedikit tergagap.


“Ibu bilang, kapan-kapan ibu sama ayah Rian mau main ke rumah orang tuanya Riri.”


“Apa? Jangan dong, Bu! Jangan, jangan! Nggak usah!” Danar mendadak kelimpungan dengan rencana Bu Elin.


“Kamu ini kenapa sih? Kok kayak orang kebakaran jenggot aja, kelabakan gitu?”


“Nggak kok, nggak papa. Ibu jangan ngelamar Riri dulu.” Danar gugup tak karuan.


“Siapa yang mau ngelamar? Ibu cuman bilang mau main. Masa mau silaturahmi aja nggak boleh? Riri kan udah mau jadi karyawan ibu, masa ibu nggak boleh kenal sama orang tuanya?”


“Emh, itu … ayahnya Riri udah meninggal lama, Bu.”


“Tapi ibunya masih ada kan?”


“Ma – sih. Tapi ibu nggak usah kesana dulu.”


Bu Elin tak habis pikir dengan Danar. Ini kali pertama ia melihat Danar begitu aneh dalam hal perempuan. Dulu ketika dia menyukai Grace, ia secara terang-terangan mengatakan padanya dan memintanya untuk melamar Grace untuknya, meskipun pada akhirnya ternyata kisah itu berujung dengan sad ending.


“Bu, aku mohon. Jangan dulu datang ke rumah Riri ya?” Ucap Danar memohon. “Kalau tidak maka aku akan … “


“Akan apa?” Kejar Bu Elin yang melihat Danar menunda kalimatnya.


“Akan mengundurkan diri nggak mau bantu ibu lagi. Aku mau bantu Papa aja di rumah merawat bunga-bunga dan tanaman hias.”

__ADS_1


Bu Elin tertawa. “Baiklah, ibu tak akan memaksamu lagi. Dasar keras kepala!”


Danar merasa sangat lega. Entah apa jadinya kalo ibu dan ayah angkatnya jadi berkunjung ketemu ibunya Riri lalu mereka membicarakan hubungan dirinya dan Riri, oh no! bukan Riri sebenarnya yang Danar incar, Bu. Tapi Livia!


“Nah, gelato ibu sampai hampir mencairkan? Ini gara-gara kebanyakan ngobrol sama kamu.” Bu Elin kembali menyuapkan gelatonya yang mulai meleleh. “Ini benar-benar soal waktu.” Lanjut Bu Elin setengah menggumam.


Danar hanya mengangkat bahu cuek.


“Terus, tadi pagi kamu pergi kemana? Papamu bilang kamu pergi pagi-pagi sekali.” Tanya Bu Elin masih sambil menikmati gelatonya.


“Ada urusan sedikit.”


“Menemui Riri lagi kan?”


Danar berdecak agak kesal. “Ya ampun, udahlah Bu. Kenapa semua hal ibu sangkut pautkan dengan Riri?”


“Ok, baiklah, baiklah …” Bu Elin tersenyum lebar demi melihat raut kesal Danar.


Danar mendengus, ibu angkatnya sungguh meguji kesabarannya hari ini. Beruntung ini belum jam makan siang, jadi kedai belum terlalu ramai. Danar bisa mengekspresikan kekesalannya tanpa harus memendamnya.


“Tapi kata Ari tadi pagi nelpon kamu katanya kamu bilang lagi di rumah sakit?”


“Di klinik.”


“Nah, berarti benar kan kamu menemui Riri lagi sepagi itu?” Bu Elin merasa menang.


Danar menggeleng tak percaya, ibunya telah membuat pertanyaan jebakan.


“Sudahlah, Bu. Bukan Riri yang sakit, tapi kakaknya.” Kata Danar akhirnya.


“Dengan kakaknya aja kamu begitu perhatian, apalagi sama Riri?” Bu Elin kembali memulai aksi mengorek-ngorek isi hati Danar lagi.


“Apa untuk ini ibu minta ketemu sama aku disini?” Danar agak ketus.


Bu Elin menyurung cup geltonya yang tinggal sedikit menjauh.


“Oh, bukan. Tapi untuk ini.” Bu Elin membuka key lock gagetnya yang selebar nampan lantas menunjukkan gambar-gambar disana.


Danar memperhatikannya dengan seksama.


“Ibu ingin kamu mendesign interior ruko barunya seperti ini, dan ini untuk design papan baligo di depannya lalu …”


“Kalo pake baligo sebesar itu pasti pajaknya mahal. Apa ibu nggak sayang? Sebaiknya dihemat untuk pengeluaran yang lainnya.” Saran Danar.


“Nggak papa. Untuk cake and bakery shop yang akan dirintis Riri, ibu harus ekstra maksimal dalam segala hal. Riri juga pasti setuju kok.” Kilah Bu Elin.


“Yakin banget Riri bakal setuju? Dia nggak suka yang berlebihan, Bu. Lebih suka yang simple saja.”


Bu Elin manggut-manggut. “Ya, ya … sepertinya kamu memamng lebih tau tentang selera Rri.”


“Ah, terserah ibu saja.” Danar beranjak dengan diikuti senyuman manis Bu Elin.


_______________


Hai akak-akak tersayang ….😍😍😍😍


Part ini khusus Danar, Via biar suruh istirahat dulu ya. Kan baru sakit, hehe…😂😂😂


Sekalian author memperkenalkan agar akak bisa lebih tau lagi tentang Danar ☺️☺️


Ada yang penasaran sama Grace?😁😁


Ikuti terus kelanjutannya ya. Nanti Grace pasti muncul.😄😄


Teima kasih selalu dukung Livia❤️❤️❤️❤️ Maaf author telat up ya kak🙏🙏🙏


banyak urusan domestic yang harus diselesaikan di hari minggu ini.😅😅😅


Selalu tinggalkan like, komen, rate 5 dan votenya ya kak.🙏🤩🤩🌹🌹


Luv u all🤗🤗😘😘

__ADS_1


__ADS_2