
Mobil Azad melaju membelah jalan tol Cipali siang itu. Beruntung meski week end, jalanan lancar jaya. Azad serius pada kemudinya.
“Sssssssh.” Sofi mendesis tertahan dengan mata yang masih terpejam.
Azad melirik sekilas, ia mengira kakaknya sedang terbawa mimpi.
“Ssssss …., hhh… “ Kali ini Sofi mendesis lebih karas membuat Azad mulai khawatir.
“Kak?” Tegur Azad sambil menyentuh bahu Sofi.
Sofi menggeliat pelan seraya menyentuh perutnya.
“Aah, perutku ….” Sofi membuka matanya perlahan merasakan perutnya seperti mendidih. “Aduuuuh…”
“Kak, kenapa?” Azad benar-benar khawatir ternyata Sofi tidak sedang bermimpi.
“Perutku, Zad.” Rintih Sofi masih sambil memegangi perutnya.
“Kenapa perut Kakak?”
Sofi tak menjawab, dia semakin meringis dan menggeliat kesana-kemari merubah posisi duduknya yang terasa sangat tak nyaman.
“Kakak! Jangan buat aku takut, Kak! Perut Kak Sofi kenapa?” Tanya Azad panik.
“Perut aku sakit banget, Zad. Mules ….” Rintih Sofi lagi.
Azad bingung, dia sangat takut terjadi sesuatu dengan perut Sofi.
“Azad, kita berhenti dulu. Aku mules, udah nggak tahan.” Pinta Sofi menggigit bawahnya untuk sekedar mengurangi rasa sakit di perutnya.
“Kita di jalan tol, nggak boleh sembarang berhenti Kak.”
“Cari rest area cepet!” Sofi meremas pundak Azad, posisinya nggak karu-karuan.
Azad makin panik. Dia berpikir jangan-jangan terjadi apa-apa dengan kandungan kakaknya. Azad meraih Ponselnya untuk mencari keberadaan rest area.
“Cepetan, Zad….” Sofi meringis sambil kembali meremas pundak Azad.
Kuku-kuku tajam Sofi tersa perih mencengkeram bahunya, tapi Azad tak menghiraukannya. Ia lebih mengkhawatirkan kondisi kakaknya dan calon bayinya.
“Sebentar, Kak. Sabar …”
“Aaah, aduuuuh….” Sofi berteriak tertahan. “Cepetan berhenti di rest area….!”
“Tapi Kak … rest area masih lima kilo lagi.” Ucap Azad setelah berhasil menemukan informasi rest area dari ponsel pintarnya.
“Kalo gitu berhenti disini! Berhenti ….!” Teriak Sofi emosi.
“Nggak! Nanti bisa celaka, Kak! Aku call 911 aja.”
Azad mau menekan tombol angka di ponselnya, tapi Sofi memukul tangan Azad hingga ponsel itu jatuh.
“Kak!”
“Aku nggak butuh 911!” Pekik Sofi sambil mendekap perutnya yang sudah benar-benar mendidih.
"Aku bisa panggilkan ambulan atau pemadam kebakaran."
"Azad, jangan becanda! Aku cuma butuh REST AREA ....!!!" Teriak Sofi lagi.
Azad tak berkomentar, dia menambah kecepatan laju mobilnya.
Butiran keringat sebesar biji jagung merembes lewat pelipis Sofi, tangannya terasa dingin. Mati-matian dia menahan sesuatu yang ingin keluar dari jalan belakangnya. Sebab jika ia meloloskannya kemungkinan tidak hanya angin sepoi-sepoi yang keluar tadi juga banjir lumpur busuk ikutan terbawa.
“Haduuuh…., sakit bangeeet….!!!”
__ADS_1
Sofi terus berteriak tertahan, matanya basah terpejam. Dalam hatinya masih sempat mengumpat kelakuan Via dan Mirza yang memaksanya memakan opor ayam jahanam buatannya sendiri. Jika saja dia tak nekad berdrama ria menyantap opor itu pasti ia tak akan merasakan penderitaan ini. Meski reaksi obat itu terbilang dalam kategori lambat, tapi karena dosisnya cukup banyak, maka tak heran Sofi mengerang-ngerang juga dibuatnya. Dan sialnya karena saking jengkelnya dengan kabar kehamilan Via, ia sampai tertidur di awal perjalan sehingga lupa hanya untuk sekedar membeli air kelapa yang mungkin bisa menjadi penangkal obat pencuci perut itu.
SREEET…!!
Ahirnya mobil Azad sampai juga di rest area. Sofi yang menyadari mobilnya berhenti, segera melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil dengan tergesa.
“Kak, biar aku antar.” Ucap Azad.
Sofi tak menghiraukannya, ia langsung berlari begitu keluar dari mobil.
“Kak Sofi!” Panggil Azad yang baru keluar belakangan.
Azad hanya memandangi kakaknya yang lari terbirit-birit seolah lupa kalau lagi hamil muda. Lalu begitu sadar, ia lekas menyusul ke toilet.
Cukup lama Azad menunggu di depan toilet, sampai ia berpikir harus menelpon kakaknya untuk menanyakan bagaimana kondisinya. Azad kembali masuk mobil dan mengambil ponselnya yang tadi terjatuh, lalu cepat menghubungi Sofi.
Tuwiwiw tuwiwiw tuwiwiw wiiw wiiw wiiuuw
Terdengar suara ponsel Sofi dari dalam tas slempanya yang tergeletak di jok. Ternyata Sofi tak membawa ponselnya.
Azad berdecak kesal dibuatnya. Tapi lantas karena sedemikian mengkhawatirkan kakaknya, dia kembali menuju toilet dan berdiri di dekat pintu masuk utama toilet wanita hingga beberapa perempuan memangdangnya dengan tatatpan aneh.
Beberapa lama kemudian Azad melihat Kakaknya keluar dengan langkah lemah.
“Kak? Apa yang terjadi?”
“Perut aku sakit banget, Zad.”
“Kakak, aku panggil 911 aja, aku takut ada apa-apa dengan kandungan Kak Sofi.”
Sofi menggeleng sambil berpegangan pada lengan Azad.
“Kakak lemes banget, sebenarnya kakak kenapa?”
“Aku diare.”
Azad benar-benar heran.
“Aduuuh ….” Sofi meringis kesakitan agi sambil membungkuk memegangi perutnya.
“Kak …”
Sofi buru-buru berjalan masuk toilet lagi dengan langkah lemah. Andai Azad tak takut diguyur sama pengunjung toilet wanita, pasti Azad sudah memapah kakaknya masuk karena saking nggak teganya melihat Sofi yang mulai pucat dan lemah itu.
Semenit, dua menit, tiga menit sampai hampir sepuluh menit Sofi belum juga keluar. Azad benar-benar khawatir. Dia segera berlari ke mini market untuk membeli PONARI SWEAT.
Ketika azad kembali, ia mendapati Sofi sedang berpegangan pada dinding luar toilet dengan tertunduk lesu.
“Kak, minum ini. Kak Sofi pasti sudah kehilangan banyak cairan.” Azad menyodorkan botol PONARI SWEAT pada Sofi.
Sofi menggeleng lemah. “Nggak mau. Aku takut lebih mules lagi.”
“Minumlah, Kak. Ini untuk penambah tenaga Kakak. Kalo nggak mau minum, Kakak bisa ambruk di sni, aku juga yang repot.”
Sofi akhirnya nurut, ia menenggak hanya seperempat isi botol itu.
“Habiskan, Kak.”
Sofi menggeleng.
Azad menatap wajah pias kakaknya prihatin.
“Kita makan ya, biar Kakak ada tenaga. Setelah itu minum obat, aku juga udah beli obat diare buat Kakak.”
Sofi diam, dia kembali menggigit bibir bawahnya. Nyeri diperutnya kembali melanda.
__ADS_1
“Kak, ayo kita makan dulu.” Ajak Azad mencoba meraih pundak kakaknya.
“Aku mules lagi ….” Rintih Sofi, lalu berjalan menyusuri tembok masuk kembali ke dalam toilet.
Azad benar-benar tak tega dibuatnya. Dia lantas segera mencari info rumah sakit terdekat di ponsel pintarnya.
“Ketemu!” Gumam Azad setelah menemukan nama rumah sakit yang paling dekat dengan pintu tol Cikampek, karena mereka sebentar lagi akan keluar tol.
Azad lalu mendapatkan ide cemerlang untuk mengatasi masalah kakaknya sementara waktu menuju rumah sakit, ia kembali ke mini market untuk membeli sesuatu. Setelah selesai ia pun menunggu Sofi keluar dari toilet.
“Kak, apa masih sakit perutnya?” Tanya Azad.
“Entah lah, kadang sakit kadang hilang.”
“Apa kita bisa melanjutkan perjalanan?”
Sofi nampak ragu, karena walau bagaimana pun ia masih kadang merasakan perutnya perih melilit meski semua lahar dan lumpur busuk dari dalam perutnya sepertinya sudah banyak yang dikeluarkan.
“Kalau begitu pakailah ini.” Azad meyodorkan kantung kresek pada Sofi.
“Apa ini?”
“Diaper.”
“Apa? Kamu pikir aku bayi?” Mata Sofi walau sudah cekung dan sayu masih saja bisa melotot.
“Pakailah, itu popok dewasa.”
“Nggak mau.” Tolak Sofi.
“Kalau begitu aku akan meninggalkanmu seendirian di sini.” Ucap Azad dengan raut serius.
Sofi membalas tatapan Azad. Dia kesal bukan main, dirinya sama sekali bukan orang penyakitan ataupun orang jompo yang harus memakai popok karena sudah tak bis meenahan pipis atau pup.
Ini betul-betul menjengkelkan. Dan ini semua gara-gara Via dan Mirza! Rutuk Sofi dalam hati.
“Aku nggak becanda.” Tegas Azad.
Tak ada pilihan lain, Sofi tak bisa menolak lagi karena ususnya kembeli melilit seperti ada yang memelintir-melintir.
“Sssssshh…..” Desis Sofi.
“Sakit lagi kan?”
Sofi tak menjawab, ia kembali masuk toilet dengan langkah lemah.
Setelah dianggap cukup, Sofi pakai juga diaper itu dan segera masuk mobil digandeng Azad. Tapi belum juga mobil jalan, dia sudah mules lagi.
“Azad, aku benar-benar tak tahan…., perutku….”
Azad tak menyahut, dia segera melajukan mobilnya meninggalkan rest area menuju Rumah Sakit Almera.
__________________
Oke, sampe sini dulu ya kak…😘😘
Gimana? kurang puas apa gimana nih dengan penderitaan Sofi, Kak? 😂😂🤭🤭
Wkwkwk…🤣🤣🤣🤣
Kita lanjut nanti ya…😊😊
Terima kasih akak reader tercinta dan akak author tersayang🙏🙏🙏❤️❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan like, komen, rate 5 dan vote dulu yaa…😍😍🤩🤩
__ADS_1
Have a nice Sunday😇😇
Luv u all🤗🤗😘😘