
Sofi bangun di kamar mewahnya ketika jarum jam hampir menunjukkan jam 7 pagi. Dia tak mendapati Ramzi ada di sana. Pikirannya melayang pada malam setelah mereka resmi menjadi suami istri.
Saat itu Ramzi baru saja selesai dari kamar mandi. Sofi yang sudah diserang berbagai macam perasaan dalam pikirannya berusaha tenang, walau jantungnya berdegup kencang melihat Ramzi hanya mengenakan boxer dengan dada bidangnya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat macam hutan belantara yang belum pernah terjamah manusia. Sofi sempat menahan napas ketika Ramzi mendekatinya.
Ya Tuhan, mahluk berbulu ini mau ngapain? Habis lah aku di tangan mahluk berbulu ini.
Namun ternyata Ramzi hanya melewatinya saja, karena ia menuju lemari untuk mengambil pakaian tidurnya lantas naik ke ranjang menarik selimut dan berbaring membelakangi dirinya.
HUFT! Syukurlah, ternyata dia cuman lewat saja. Aku pikir dia akan ….
Ya, sudah dua malam sejak pernikahan mereka, Ramzi belum juga mneyentuh Sofi barang sejengkal pun. Dan itu membuat Sofi heran. Bukankah di pertemuan terakhir mereka sebelum menikah, Ramzi sempat berniat melecehkannya? Tapi kenapa sekarang setelah menjadi suaminya, Ramzi seperti tak bernafsu pada dirinya. Meskipun dirinya tak menginginkan Ramzi, namun tal ayal itu membuatnya heran juga.
NGOK … NGOK … NGOK …
Bunyi gawai di atas nakas membuyarkan lamunan Sofi. Ternyata itu tepon dari Nyonya Husein.
“Halo, Ma.” Sapa sofi.
“Sof, kamu harus katakan pada suamimu kalau ia tak bisa mengusir kami dari rumah kami sendiri.” Ucap Nyonya Husen dengan nada panik.
“Mengusir? Maksud mama mengusir mama dan papa?” Sofi kaget campur bingung.
“Iya, disini ada beberapa orang suruhan Alatas, mereka menyuruh kami segera mengosongkan rumah ini.”
“Azad mana, Ma?”
“Dia sedang menenangkan Papamu yang habis bersitegang dengan orang suruhan Alatas. Mama juga khawatir, penyakit jantung Papamu akan kambuh lagi. Tolonglah Sof, bicarakan ini dengan suamimu.” Sura Nyonya Husein terisak diijung kalimatnya.
“Iya, Ma. Aku akan segera membereskannya.”
KLIK
Sofi langsung mengakhiri percakapan dan keluar kamar dengan wajah geram.
“Nyonya, Tuan Muda meminta Anda segera turun untuk sarapan setelah mandi.” Seorang pelayan yang berpapasan di lorong kamar menghentikan langkah Sofi.
Sofi berhenti dan memandang pelayang itu sebentar, lalu melanjutkan langkahnya.
Di ruang makan Ramzi Nampak sedang duduk dengan secangkir kopi yang masih mengepul, matanya khusuk pada layar laptop.
“Kak, aku mau bicara.” Suara Sofi mengejutkan Ramzi.
Ramzi hanya melihat Sofi sekilas, lantas kembali serius pada layar laptop.
“Kak Ram, apa yang kau lakukan pada keluargaku? Kenapa setelah kita menikah, kau tetap mengusir mereka?” Sofi mulai jengkel karena diacuhkan oleh suaminya.
“Lihatlah dirimu, apa pantas kau menemui suamimu dalam keadaan seperti itu?” Sinis Ramzi.
“Aku sedang bicara tentang keluargaku! Apa yang kau lakukan pada mereka? Kau tega mengusir mereka?” Sofi meninggikan nada suaranya.
__ADS_1
“Kenapa memangnya? Suka-suka aku, rumah itu sudah menjadi milikku.”
“Tapi aku sudah menikah denganmu, Kak! Kau bilang akan memberikan rumah dan perusahaan itu pada kami setelah aku menjadi istrimu?!” Suara Sofi membahana memenuhi ruangan besar itu dan membuat beberapa pelayan yang berdri disana menundukkan kepala seolah menutup diri tak tau apa-apa.
Ramzi menyungingkan senyum sinis.
“Apa aku menyebutkan rumah itu sebagai maskawin dalam akad pernikahan?” Mata Ramzi lurus menatap manik mata coklat Sofi yang nanar.
Sofi sungguh tak percaya mendengar jawaban Ramzi itu, lidahnya kelu. Ia sungguh tak habis pikir, mengapa Ramzi seolah mempermainkan keluarganya.
“Aku memberimu maskawin begitu banyak. Setidaknya kalian sudah mendapatkan perusahaan kalian kembali.” Sambung Ramzi seraya meraih cangkir kopinya.
Sofi masih terpaku di tempatnya berdiri. Ramzi menyeruut kopinya santai. Sofi tak mengira sikap Ramzi akan beruah seperti ini. Ramzi yang sangat lembut dan perhatian kini sudah berubah menjadi orang yang kejam tak berperasaan.
“Kenapa masih disitu?” Ramzi kembali melayangkan tatapan tajamnya. “Kau kan bisa menjual emasmu untuk membelikan rumah buat keluargamu, atau mereka bisa tinggal di rumah kontrakan yang sederhana saja jika tak mau menghabiskan emasmu.”
“Keterlaluan! Kau benar-benar sudah tidak waras! Kau telah merendahkan keluargaku, aku menyesal menikah dengan orang sepertimu! Dasar laki-laki kejam!” Maki Sofi yang sudah tak bisa lagi menguasai dirinya.
“Jaga bicaramu!” Suara Tuan Alatas menghetikan makian Sofi yang bertubi-tubi pada Ramzi.
Tuan Alatas yang baru turun dari lantai tiga melangkah mendekati Sofi. Sorot mata Tuan Alatas seolah siap menghabisi Sofi.
“Jika kau berani macam-macam, aku tak segan-segan akan membuat keluargamu lebih menderita dari ini.” Ancam Tuan Alatas. “Masih bagus Ramzi mau menikahi wanita j***ng macam kamu. Jika tidak, mana ada yang mau menikah dengan bekas banyak orang sepertimu! Dasar pe***ur!” Maki Tuan Alatas geram.
“Jangan menghinaku!”
“Kenapa? Memangnya ada sebutan lain yang lebih pantas untuk wanita sepertimu?” Tatapan dingin yang meremehkan dari Tuan Alatas membuat mata Sofi memanas.
“Papa tak perlu berlebihan seperti itu.” Ucap Ramzi pelan.
Tuan Alatas mengacuhkan perkataan putranya.
Seorang pelayan maju menyiapkan sarapan untuk Tuan besarnya. Pelayan itu menuang kopi gahwa untuk Tuan Alatas dan menyiapkan yughmish -roti panggang dengan daging cincang yang diberi aneka rempah- yang masih hangat, lalu si pelayan kembali ke tempatnya semula ia berdiri.
“Bagaimana hasil kerja dokter itu?” Tanya Tuan Aatas kemudian.
“Belum nampak hasilnya.” Ramzi mengambil yughmish-nya lalu mulai sarapan dengan ayahya.
“Kenapa lama sekali cara kerjanya? Apa kau sudah memastika dia meminum obatnya?” Tuan alatas tak sabaran.
“Pelayan memberitahuku dia selalu minum obat itu.”
“Kau harus memastikannya sendiri.”
“Sabarlah, Pa. Obat itu memang cara kerjanya lambat dan hanya boleh dikonsumsi sekali dalam sehari.” Ramzi menenangkan ayahnya.
“Ah, aku tak mau melihat anak dari benih orang lain lahir di rumah ini.” Tuan Alatas mengangkat cangkir kopinya gusar.
_______________
__ADS_1
“Sayang, kita harus mulai berbenah sekarang.” Mirza berkata pada Via yang sedang mencuci sayuran di dapur.
Via hanya mendengarkan, tangannya sibuk membilas sawi hijau yang terlihat sangat segar yang baru saja diambilnya dari kulkas.
“Sayang, kamu dengar suamimu ini kan?” Mirza memeluk Via dari belakang.
“Iya, Mas. Aku denger kok.”
“Terus kenapa diem aja?” Mirza mencium tengkung Via membuat Via sedikit bergidik karena geli.
Via menghela napas, menyisihkan sawi yang sudah selesai dicucinya lantas berbalik menatap suaminya.
“Memangnya kapan kita akan pindah, Mas?”
“Secepatnya. Mungkin sesudah aku selesai medical check up yang ke dua.” Sahut Mirza yang kini melingkarkan kedua lengannya di pinggang istinya.
“Kamu beneran mau pergi lagi ya, Mas?” Via tiba-tiba jadi mellow.
“Sekali lagi aja, sayang. Setelah ini, Mas janji akan selalu bersamamu.” Mirza mengangkat wajah istrinya yang tertunduk sedih. “Dengar, kita kan butuh uang karena kita akan memulai lagi semuanya dari awal. Mas rasa ini kesempatan bagus, kamu harus sabar sayang. Jika semuanya lancar, Mas pasti sudah kembali pulang sebelum anak kita ini lahir.” Mirza mengelus perut Via.
Via mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
Siapa yang tak sedih akan kembali ditinggal suami berlayar dalam keadan yang seperti ini. Ibu mertuanya membencinya, ibu kandungnya pun meyalahkannya, ditambah lagi dia akan tinggal di rumah kontrakan dalam keadaan hamil sendirian.
“Sudah, jangan cemberut gitu dong mukanya.” Hibur Mirza. “Kita masak sama-sama ya. Kamu mau masak apa, sayang?”
“Capcay sama Udang goreng tepung Mas.”
“Wow! Capcay dan udang goreng tepung? Emejing, sayang!” Seru Mirza seolah beneran takjub.
“Apaan sih, Mas? Lebay banget!” Via sebal sambil menepuk pipi suaminya.
“Kan biar kamu nggak sedih lagi, sayang. Hehehe….”
___________
Akak..... maafkan author yaaa, kemarin nggak sempet up🙏🙏🙏🙏. Hayati kelelahan pulang kerja langsung bobo syantik 🤭🤭
Semoga dengan up yang nggak terlalu panjang ini, aku dimaafkan yaa Kak ☺️☺️
like dan komen suka-suka Akak aja, author terima kok.... 😂😂😂😍😍😍😍
luv u all 🤗🤗😘😘
__ADS_1