
Mobil Danar hampir mencapai perbatasan kota, namun perempuan yang duduk di sebelahnya masih sibuk dengan gadgetnya, - lebih tepatnya sok sibuk. Sesekali Danar melihat sekelias pada benda pipih di tangan Via itu. Danar tau apa yang tengah dilakukan Via sekarang mungkin hanya untuk mengisi kecanggungan, karena Via hanya scrholl atas bawah atas bawah bolak balik seperti tak ada satu hal pun yang menarik di dalam layar gawainya itu. Dan lagipula bermain gadget dalam perjalanan sebenarnya bukan kebiasaan Via kerena bisa membuatnya pusing dan mual.
“Ekhem,” sedikit berdehem untuk mengalihkan perhatian Via. “Vi, aku boleh nanya nggak?” menoleh sebentar lantas kembali fokus pada kemudinya.
“Nanya apa?” balik bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih dalam genggamannya tersebut.
“Kamu kenapa ngajakin aku bareng ke acara keluarganya Om Jaka?” bertanya penuh kehati-hatian.
Tak ada jawaban, Via malah membuka kanal berita online. Wajahnya datar seolah pertanyaan Danar barusan hanya angin yang numpang lewat.
Danar masih setia menunggu jawaban, ia tak ingin mengulang pertanyaannya. Dan sudah hampir setengah perjalanan, Via belum juga bersuara. Sebenarnya sudah sejak sore tadi Danar penasaran alasan apa yang membuat Via mau pergi bersamanya. Bukankah selama ia masih bekerja satu kantor dengannya, Via selalu menghindarinya setiap Danar mengajaknya atau menawarinya sesuatu, meski mungkin sesekali Via menerimanya tapi itu lebih karena faktor keterpaksaan.
“Vi –“
“Kamu keberatan pergi sama aku?” memotong dengan cepat.
“Nggak,”
“Ya udah.”
“Mirza kemana?”
Nyut! Hati Via berdenyut ngilu, apakah orang lain perlu tau tentang kemelut rumah tangganya?
Via tak mampu menjawab, ia memalingkan pandangannya ke luar jendela. Mereka sudah memasuki area persawahan kini. Jalan aspal yang lurus membentang dengan hamparan sawah di kiri kanannya tanpa lampu penerangan membuat jalanan sedikit horor ketika malam hari. Dari kejauhan hanya terlihat kelap kelip lampu rumah-rumah penduduk, beberapa kilometer lagi mereka sudah akan mencapai gerbang desa.
Danar melambatkan laju mobilnya, Via yang menyadarinya menoleh memandang Danar.
“Kenapa berhenti?” tanya Via ketika mobil Danar benar-benar berhenti di tepi jalan.
Menyalakan lampu, sehingga nampak lebih jelaslah wajah cantik perempuan di sampingnya.“Aku mau tau alasan kamu mau pergi sama aku,” menatap lurus.
“Apa itu penting?”
“Kalo nggak penting aku nggak bakalan nanya,”
Diam lagi, tentu tak mudah bagi Via untuk terbuka dengan orang lain selain keluarganya. Meski Danar memang sudah akrab dengan semua keluarganya dan begitu juga sebaliknya, namun untuk urusan rumah tangga Via sangat tertutup, Bu Harni saja sampai saat ini tak tau tentang masalah yang dialamainya dengan Mirza,-karena Riri memang tak memberitahu ibunya.
Menekan auto central lock, “kamu boleh turun,” berucap tanpa melihat pada Via.
Spontan menoleh kaget, “kamu nyuruh aku turun? Di tengah jalan sepi begini?”
“Kenapa emangnya?”
“Danar, ini sama sekali nggak lucu” menyahut sengit, “kamu tega nurunin aku disini cuman gara-gara aku nggak jawab pertanyaan kamu? Apa segitu pentingnya jawabanku?” meninggikan nada suara di ujung kalimatnya.
“Sangat penting.”
“Kenapa?”
“Karena kamu punya suami, harusnya suami kamu yang pergi sama kamu, bukan aku!”
Kedua netra bening itu seketika berkabut, kembali ia palingkan wajahnya untuk menyembunyikan buliran hangat yang mungkin sebentar lagi akan terjun bebas membasahi pipi mulusnya.
Bukan karena sok tau, namun Danar memang sudah merasakan antara Via dan Mirza ada yang tidak beres sejak bebarap waktu yang lalu. Entah feeling yang kuat terhadap seseorang yang sangat dicintainya secara diam-diam atau apalah disebutnya, namun Danar sungguh merasa Via menyembunyikan sesuatu.
“Vi –“ menyentuh pelan bahu Via, “kamu bisa mempercayaiku,”
Tolong jangan libatkan Danar dalam urusan rumah tangga kamu karena itu nggak adil buat kamu. Kamu bisa dicap nggak bener, kamu bisa disebut istri tukang selingkuh Vi. Juga buat Danar, dia bisa dicap perebut istri orang. Padahal dia adalah laki-laki baik, nggak seharusnya kamu memanfaatkan kebaikannya.
Terngiang kata-kata Tia sore tadi ketika duduk bersamanya di ruang tengah.
Menoleh setelah yakin air matanya tak akan tumpah, meski perasaan ragu masih membelenggu hatinya namun Via coba beranikan diri mengungkapkan apa yang menjadi rencananya. Benar kata kakaknya, Danar harus tau kalau ini hanya settingan. Lalu mengalirlah untaian kalimat demi kalimat dari bibir Via, Danar menyimak dengan baik tanpa menginterupsi. Walau debaran-debaran hangat dalam jantungnya membuat wajahnya terlihat agak tegang di temaram lampu pencahayaan dalam mobil, namun Danar berusaha mengatasinya. Via baru saja mengatakan kalau dia membuat pengakuan palsu pada suaminya bahwa dirinya dan Danar saling menyukai.
Andai kamu tau Vi, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Dan aku memang berharap perasaanku ini bersambut. Ah, ini sungguh gila, kenapa aku bisa mencintai wanita yang sudah bersuami? Andai aku tau kau sudah ada pemiliknya dari pertemuan pertama kita dulu, mungkin tidak akan terlalu sulit untuk melupakmu.
“Danar –“ lirih Via karena melihat wajah Danar yang terdiam tanpa ekspresi, “aku minta maaf, nggak seharusnya aku melibatkanmu,” tertunduk meremas tunik merah maroonnya dengan perasan malu bercampur khawatir. Malu karena telah membuka semua aib dalam rumah tangganya, malu karena harus menyeret Danar dalam drama yang diciptakannya dan begitu khawatir Danar akan marah serta kecewa padanya.
Mengehala napas perlahan sebagai jawaban atas ucappn Via, lantas memutar kuci mobilnya. Perlahan mereka kembali melanjutkan perjalanan membelah jalanan yang sepi menuju rumah Om Jaka. Keduanya saling berdiaman, namun Via anggap diamnya Danar adalah jawaban setuju atas rencana yang akan dijalankannya.
__ADS_1
Bukannya Danar tak menyadari tentang resiko yang akan dia terima karena melibatkan diri dalam urusan rumah tangga wanita yang sangat dicintainya, namun membiarkan Via bersedih sungguh membuatnya tersiksa. Juga ia tak mau mengambil keuntungan walau sebenarnya keadaan rumah tangga Via sekarang memang sangat menguntungkan baginya. Jika Via dan Mirza benar-benar berpisah, bukankah itu kesempatan bagus untuknya mendapatkan wanita yang sudah sekian lama dicintainya dalam diam itu?
Tidak, Danar sama sekali bukan tipe laki-laki seperti itu. jika memang dia menginginkan Via menjadi miliknya, kenapa nggak dari dulu dia melakukannya? Bukankah saat dia masih berada dalam perusahaan, sangat mudah baginya untuk membuat Via berpisah dengan Mirza karena mereka sering terlibat pekerjaan bersama? Bisa saja kan Danar menciptakan kesahpahaman antara suami istri itu lantas coba memancing di air comberan? Tapi Danar tidak melakukan itu.
Lalu, apa Danar benar-benar akan menunggu sampai Via resmi sendiri?
Sungguh berat pertanyaan itu Marimar, sebagaimana ia sadar begitu besar rasa cinta terlarangnya pada Via, sebesar itu pula keyakinannya bahwa Via sangat mencintai Mirza. Kerana tindakan nekad yang dilakukan Via meminta berpisah dengan Mirza justru karena begitu besarnya cinta Via pada suaminya itu. Danar sadar betul akan hal itu, tanpa punya pikiran dan harapan terlalu jauh, ia hanya ingin membantu sekuat tenaga perempuan yang dicintainya itu dengan mengesampingkan konsekuensi buruk yang mungkin saja akan segera mereka berdua terima.
-
-
-
“Aku minta jauhi Via,” Mirza menahan lengan Danar yang bangkit dari duduknya ketika acara sudah usai. Tatapannya dingin mengintimidasi.
“Kenapa aku harus menurutimu?” membalas tak kalah dinginnya.
“Jangan memaksaku untuk menghajarmu. Jauhi Via, dia istriku.” Mengeraskan rahangnya dengan kedua telapak tangan sudah mengepal.
Mengulas senyum tipis, “bagaimana kalau justru Via yang ingin selalu di dekatku?”
Mendengus kasar layaknya banteng yang sudah siap menyeruduk mangsanya, namun sekuat tenanga Mirza masih berusaha menahannya. Om Jaka nampak sibuk mengantar para tamu sesepuh desa yang hendak pulang, begitu pun haji Barkah dan Hanson. Mereka terlibat obrolan basa basi perpisahan, para tamu yang lain pun sudah membubarkan diri. Tentu masih cukup menyita perhatian jika Mirza mendaratkan tinjunya sekarang di wajah Danar.
“Kenapa diam?” memancing kesabaran Mirza, “kamu juga udah tau kan kalau aku dan Via sama-sama saling menyukai? sebentar lagi kalian akan resmi berpisah –“
“Via masih resmi sebagai istriku sekarang,” pangkas Mirza geram.
“Nggak malu kamu ngaku begitu? Padahal kamu sudah mengabaikannya?” tersenyum sinis yang sontak tak mamapu membuat Mirza menahan laju tinjunya.
Bugh!
Sebuah bogem mentah mendarat telak pada wajah Danar, sudut bibir kiri Danar berdarah.
Om Jaka yang memang sedari tadi sudah was-was dengan dua laki-laki yang tengah perang dingin itu segera berjalan cepat menghampiri setalah membisikan sesuatu pada Ayah mertunya. Para tamu sesepuh desa segara diantar pulang dengan mobil oleh sopir Haji Barkah.
“Elu bedua bener-bener kayak bocah ya kelakuannya? Baru gue tinggal bentar udah main tonjok-tonjokan, mau pada jadi jagoan kalian?” berujar berang dengan tatapan penuh kejengkelan.
“Aku yang memulai karena dia memang pantas mendapatkannya!” Mirza mengakui dengan tatapan tajam pada Danar.
“Ikut gue sekarang!” melangkah lebar menuju ruang tamu. Mirza dan Danar duduk berhadapan dengan Om Jaka kini. “Siapa yang mau ngasih penjelasan?” menatap tajam pada keduanya.
“Laki-laki brengsek ini mendekati Via, dia –“
“Via dan aku saling suka, apa salahya?”
Om Jaka kontan membelalakan matanya, “Danar! elu sadar dengan apa yang barusan elu omongin?”
“Sangat sadar Om, kami memang saling mencintai.”
“Omong kosong!” Mirza berdiri hendak melayangkan kembali tinjunya beruntung Om Jaka sigap.
“Mirza!” dengan satu bentakan saja mampu membuat Mirza kembali ke tempat duduknya.
“Aku nggak bisa diam saja melihat laki-laki lain menginjak-injak harga diriku sedangkan aku masih sah sebagai suami Via, Om!”
“Lantas kenapa kamu diam saja melihat Via sedih dan terpuruk dalam kesendirian? Kemana kamu selama ini? Jangan salahkan Via jika dia menyukaiku, dalam kondisinya yang sedang hamil besar dia memang butuh perahtian. kamu tidak layak mendapatkan tempat di hati Via lagi karena sudah teralalu lama menyakitinya.”
“Kurang ajar!”
Hup! Danar kali ini mampu menangkis tinju Mirza dengan sigap. Di dorongnya Mirza hingga terduduk, napas Mirza memburu karena emosi, dadanya sampai naik turun.
Mendengar keributan di ruang tamu, Via bangkit bersama Denaya. Perdebatan keduanya berakhir ketika Via dan Denaya muncul.
“Bebeb, ada apa ini?” Tanya Denaya pada suaminya.
Via melihat dua lelaki tengah diselimuti amarah duduk di depan Om Jaka.
“Sayang –“ Ucap Mirza begitu melihat Via.
__ADS_1
“Danar, kamu terluka?” menghampiri Danar penuh kekhawatiran, mengacuhkan suaminya yang menatapnya sendu. “Ayo aku obati lukamu,”mengajak Danar masuk.
Mirza terhenyak dengan kenyataan yang baru saja di dapatkannya. Istrinya lebih peduli dengan laki-laki lain ketimbang pada dirinya yang masih jelas-jelas sah sebagai suaminya. Dadanya bergemuruh, tatapannya nyalang melihat kedua insan itu melangkah menuju ruang tengah. Apa ini? Kenapa seperti ini? Kenapa Via mengabaikanku? Tak terima dengan yang dilihatnya, Mirza berusaha mengejar Via dan Danar.
“Via! Kamu harus tau –“
“Za, cukup!” Om Jaka mengahdang angkah Mirza.
“Minggir Om, jangan halangi aku. Laki-laki brengsek itu sudah merebut istriku!” bersuaha menyingkirkan Omnya.
“Tenangin diri lu!”
“Gimana aku bisa tenang? Istriku sedang bersama laki-laki lain disana! Kenapa Om mengahalangi aku? Apa Om membela meraka? Atau jangan-jangan Om sudah mengetahui hubungan mereka sebelumnya? Iya? Dan Om menyembunyikannya dariku?” tuduh Mirza berang penuh kecurigaan.
“Za, elu udah nggak waras! Mana mungkin gue –“
“Mereka itu yang nggak waras Om! Mereka tega menusukku dari belakang!” mengacak rambutnya sendiri frustasi.
Denaya yang sudah mengetahui tentang rencana Via sungguh tak tega melihat Mirza. Dia sangat prihatin dengan nasib rumah tangga Via dan Mirza.
“Za, sebaiknya kamu pulang ya, kamu istirahat dulu.” Ucap Denaya.
“Nggak, aku nggak akan pulang tanpa Via,” menggeleng tegas. “Via harus ikut pulang sama aku.”
“Via akan nginap disini, aku rasa Via juga harus menenangkan dirinya.”
“Nggak –“
“Percaya sama aku, Za. Via nggak akan pulang sama Danar, biarkan Via tidur disini malam ini.” Menatap memohon pengertian.
Menghentakan napas kasar, “paling tidak ijinkan aku bertemu Via sebentar.”
“Nurut sama bini gue! Mendingan elu pulang sekarang. Kalo elu nemuin Via, yang ada elu sama Danar bakal kembali ribut.”
“Tapi, Om –“
“Elu mau bikin anak gue kebangun? Elu tanggung jawab kalo dia sampe nangis gara-gara kaget denger suara elu berantem lagi sama Danar?” memicing menatap kedua netra keponakannya.
Mirza menyerah akhirnya, ia terpaksa harus pulang walau hatinya dipenuhi sesak tak terima dengan pengkhianatan yang nyata telihat di depan matanya.
“Han, kayaknya ada yang nggak aku ketahui deh soal mereka bertiga,” memandang Denaya meminta penjelasan setelah Mirza pergi.
“Nanti aku ceritain, Beb.”
“Bener ya?”
“Iya.”
“Ceritanya sambil boboan ya?” merangkul pundak Denaya dengan tatapan menyiratkan sesuatu.
“Apaan sih Beb?”
“Hem, pura-pura nggak ngerti deh.” Menjawil dagu Denaya usil.
“Masih sore Beb, masa udah mau boboan?” Denaya mengulum sneyum. “Ntar dulu ah, mau liat Via sama Danar dulu.”Denaya melangkah menuju ruang tengan dengan Om Jaka segera mengekorinya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Nah, jadi begitu ya readers sayang …😊😊
Terima kasih sudah membaca❤️
Terima kasih yang sudah baca, like dan vote walau belum mau komen😍
Terma kasih yang sudah setia baca, like dan komen walau belum mau vote😂 (yang vote mingguannya masih ada boleh banget dikasihin buat othor awut-awutan ini)😁😁
maafkan kalau banyak typo ya 🙏🙏
I love you all
__ADS_1
🤗🤗🤗😘😘😘