TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
269 #MENGGUGAT CERAI?


__ADS_3

Hari merambat siang, Via tertidur di samping baby Nala yang juga pulas sedari tadi. Setelah dua malam menjaga sang buah hati di rumah sakit, tentulah Via merasa lelah dan dia rindu suasana kamarnya sendiri. Hembusan sejuk udara yang masuk melalui jendela kamar yang terbuka lebar menambah nyaman tidur siangnya.


Bu Harni sibuk di dapur bersama Tia, mereka sedang menyiapkan makan siang. Sementara Ica tiduran di depan TV ditemani ayahnya, bocah itu sedikit ngambek karena belum diperbolehkan bermain dengan saudara sepupunya.


Ting tung


Bunyi bel pintu depan terdengar nyaring.


“Ica, ada tamu tuh. Bukain pintunya, Nak,” pinta Arya pada Ica yang masih berwajah masam.


“Ayah aja, kaki Ica lagi pegel,” kedua matanya tak beralih dari layar kaca.


“Hem, anak ayah masih ngambek rupanya ya?” menjawil pipi chubby Ica.


Mengerucutkan bibirnya tak menanggapi sang ayah.


Ting tung


Bel pintu terdengar lagi.


“Ayah, kok diem aja sih? Ada tamu tuh!” Tia muncul mengelap tangannya dengan celemek yang masih dipakainya.


“Iya, ini juga ayah mau bukain Bun,” beranjak segera melangkah menuju ruang tamu.


“Assalamualaikum,” ucapan salam segera menyapa begitu Arya membuka pintu.


“Wa alaikumsalam,” Arya agak surprise, “Dena, Om Jaka, Pak Haji?” menatapi ketiga tamunya bergantian.


“Kenapa lu, kok kayak kaget gitu?” tegur Om Jaka.


Senyum salah tingkah, “nggak, agak surpise aja Om.”


“Mas Arya, Via sama Nala udah pulang dari rumah sakit kan?”


“Udah, kok. Mereka ada di dalem, mari masuk semuanya,” mempersilakan mereka masuk lantas menuju dapur untuk mengabarkan siapa yang datang.


“Aku ikut masuk ke dapur nih, boleh kan?” mengekor Arya setelah menyapa Ica di ruang tengah.


“Dena? Ya Allah, kok nggak nagabarin sih mau kesini?” sambut Tia, “Sama siapa? Amara mana?”


“Aku tinggal di rumah Mbak, takut rewel,” membalas dengan cupika cupiki. “Ibu gimana kabarnya, sehat?” menyalami Bu Harni. “Ini ada sedikit oleh-oleh buat Nala sama Via,” menyerahkan bingkisan berisi buah-buahan, aneka kue dan kado berisi mainan.


“Ya Ampun, kok pake repot-repot segala sih?” menerima dengan senyum lebar, “sebentar ya, ibu liat Via di kamar dulu, Arya tolong beresin ini ya,” meyerahkan bingkisan pada Arya.


“Dibuka aja ya Bu, biar dimakan sama-sama.”


“Iya boleh,” melangkah menuju kamar Via.


Pintu kamar dibuka perlahan, tampak Via berbaring di samping Nala. Agak ragu Bu Harni mendekat. “Vi –“ disentuhnya lengan Via pelan.


Mengubah posisi tidurnya membelakangi Bu Harni.


“Vi, di luar ada Denaya sama Om Jaka dan Pak Haji,” lirih Bu Harni takut mengusik Nala.


“Hem,” mendengung seraya membuka mata, “Denaya?”


“Iya, dia dateng mau jengukin Nala. Temui dulu sana, nggak enak kan kalo nggak ditemuin.”


Mengangguk, lantas bangkit perlahan. Setelah mencuci muka segera keluar menyusul ibunya.


“Vi, kamu lagi tidur ya? aduh, maaf banget jadi ganggu istirahat kamu,” sambut Denaya merentangkan tangannya untuk memeluk Via erat seolah sudah bertahun-tahun tak bertemu.


“Nggak kok, aku cuman ketiduran aja nemenin Nala.”


“Ngobrolnya di depan sana, sebentar lagi nanti kita makan siang ya, udah hampir mateng nih.” Ucap Tia.


“Kita di ruang tengah aja, di depan biarin para bapak-bapak,” menggamit lengan Via untuk duduk di sofa ruang keluarga.


Melihat tantenya sedang ada tamu, Ica langsung berinisiatif masuk kamar untuk menemani adik sepupunya.


“Oya, Amara mana? Kok nggak diajak?” baru teringat dengan Amara yang tak dilihatnya.


“Aku tinggal di rumah sama Bi Siti, takut rewel, soalnya baru sembuh dia,”


“Amara juga habis sakit?” sedikit kaget.


“Iya, biasalah anak-anak, batuk pilek gitu. Makanya maaf bange ya, aku nggak jengukin Nala di rumah sakit, baru sempet sekarang.” Meraih tangan Via meminta maaf, “Mas Jaka juga baru pulang dari luar kota semalam,”


“Ya ampun, nggak papa Dena. Lagian Nala juga udah sehat kok.”


“Nah, ini minumannya.” Bu Harni datang membawakan es sirup koko pandan.


“Wah, kok repot-repot sih Bu? aku kan bisa ambil sendiri kalo mau minum,” Denaya tersenyum lebar.


“Tamu adalah raja,” balas Bu Harni dengan senyum pula. “Kuenya juga dimakan ya, enak banget lho ini tadi ibu udah nyobain.” Meletakkan sepiring bolen pisang bertabur keju parut yang menggoda.


“Ibu bikin kue?” Via bertanya heran.


“Dena yang bawa. Ada buah sama kado buat Nala juga kok.” Berujar lantas segera menuju ruang tamu.


Melihat pada Denaya, “makasih ya, jadi ngerepotin kan?”


“Nggak ngerepotin kok, cuman gitu doang,”


“Hani! Ini pan kue yang kita bawa ya?” terdengar Om Jaka agak berteriak dari ruang tamu membuat Denaya segera mendekat.


“Iya, kenapa emangnya, Beb?”


“Masa kita yang bawa, kita juga yang makan? Gimana sih?” protes Om Jaka.


“Nggak papa, kan masih banyak di belakang.” Sahut Bu Harni.


“Ya udah deh kalo maksa, aku cicipin ya Mbak Har, hehe …” nyengir kuda membuat Denaya geleng-geleng kepala, lantas segera kembali pada Via.


“Hem, kalo ada kopi enaknya sambil ngerokok nih. Arya, kita diluar aja yok.” mengambil cangkir kopinya. “Biarin ibu mertua elu nemenin ayah mertua gue, kan sama-sama udah tua.” Ngeloyor cuek menuju teras depan diikuti Arya.

__ADS_1


“Dik Jaka itu ya, kelakuannya emang nggak berubah dari dulu,” Ucap Bu Harni yang sudah maklum dengan tingkah Om Jaka.


“Ya begitulah anak mantu saya,” Pak Haji Barkah tersenyum.


“Silakan Pak Haji, tehnya diminum mumpung masih anget,” Bu Harni mempersilakan.


Meraih cangkir di depannya. Sementara Pak Haji menikmati tehnya, Bu Harni berpikir mencari topik obrolan apa yang kira-kira pas untuk dibahas.


“Oya Pak Haji, saya mau nanya sesuatu, boleh?” langsung mendapatkan ide brilliant sebagai bahan obrolan.


Mengangguk, “tanya soal apa, Bu Harni?” meletakkan kembali cangkirnya selepas menyesap isinya yang masih hangat.


Menengok ke belakang sebentar seolah memastikan tak ada yang akan mendengarkan pembicaraannya.


“Dalam kondisi apa seorang istri bisa mengajukan gugatan cerai pada suaminya?” bertanya hati-hati dengan suara pelan.


Dahi Pak Haji seketika berkerut heran, “maksud Bu Harni?”


Menggeser posisi duduknya lebih dekat, “ini soal Via dan Mirza,” sekali lagi melihat ke arah belakang memastikan situasi aman. “Pak Haji pasti sudah tau kan dengan kondisi rumah tangga Via dan Mirza?”


Menghela napas sejenak, paling tak suka jika mencampuri urusan orang lain. “Ya, saya turut prihatin.”


“Saya mau tanya bagaimana hukumnya dalam Islam jika seorang istri menggugat cerai suaminya? Dan dalam kodisi bagaimana gugagatan cerai itu bisa diajukan?”


“Bu Harni mau penjelasan yang panjang atau yang singkat?” bertanya karena tak punya alasan untuk mengelak dari todongan pertanyaan Bu Harni.


“Yang jelas dan gamblang, Pak Haji.”


“Baiklah,” kembali menghela napas sejenak karena ia tau kemana arah tujuan perbincangan Bu Harni. “Hukumnya haram.”


“Haram?” tergaket, namun segera menutup mulut dengan telapak tangannya sendiri.


“Ya, jika tidak ada alasan syar’i yang mendasarinya.”


Bu Harni diam sesaat seperti berpikir keras.


“Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadist, siapa saja perempuan yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas perempuan tersebut.”


“Tapi kalau alasannya jelas tentu dibolehkan kan, Pak Haji?” kejar Bu Harni.


Mengangguk, “memang pada dasarnya dipebolehkan, Bu. Hanya saja –“


“Lalu dalam kondisi apa saja gugatan itu diperbolehkan?” potong Bu Harni tak sabaran.


“Ekhem,” merilekskan posisi duduknya, “pertama, jika sang suami tidak mampu memenuhi hak istri. Ini berkaitan dengan nafkah lahir dan batin. Kedua, suami merendahkan istri. Misalnya melakukan KDRT. Ketiga, suami fasik. Seperti ia melakukan dosa-dosa besar, yang keempat, suami pergi dalam jangka waktu yang lama –“


“Nah, Mirza termasuk dalam nomer empat itu,” terlonjak senang seolah baru saja berhasil menyelesaikan teka teki.


“Masih ada yang nomer lima Bu Harni, yaitu apabila suami mengidap penyakit yang berahaya dan bisa menular,” imbuh Pak Haji.


“Nggak, Mirza nggak sakit. Dia sehat walafiat, segar bugar. Nomer empat tadi cocok, sudah bisa dijadikan alasan untuk Via menggugat cerai Mirza. karena Mirza sudah pergi selama kurang lebih tiga bulan,” ungkap Bu Harni sangat yakin.


“Kenapa harus menggugar cerai? Jika Via masih diberi nafkah dan dia ridho dengan kepergian Mirza, tidak harus bercerai kan? Lagipula Mirza memang bukan sekali ini saja kan pergi lama, Bu? Dia biasa pergi sampai enam bulan ketika berlayar.”


“Tapi kali ini Mirza pergi tanpa pamit, nggak ada yang tau dia pergi kemana,” meyakinkan Pak Haji. “Lagi pula saya yakin Via sudah tak diberi nafkah, dia bahkan harus berjualan sayuran hasil kebunnya demi menyambung hidup,” imbuh Bu Harni agak mendramatisir.


“Saya nggak bisa berdiam diri, Pak Haji. Via harus segera mengambil langkah demi masa depannya sendiri dan juga Nala. Mirza itu menelantarkan anak dan istrinya kerena tidak memenuhi hak Via sebagai seorang istri, ini masuk poin nomer satu tadi,” Bu Harni menggebu-gebu hingga lupa dengan volume suaranya. “Dia juga sudah merendahkan Via sebagai seorang istri. Ini poin nomer dua. Dia bisa dituduh dengan gugagat berlapis-lapis. Dia lebih membela ibunya, dia nggak tegas sebagai kepala keluarga, dan yang lebih parahnya dia pernah berselingkuh.”


“Siapa yang selingkuh, Bu?” tau-tau Via muncul dari arah belakang membuat Bu Harni tercekat. “Ibu sama Pak Haji lagi ngomongin siapa?” bertanya datar namun sorot matanya membidik curiga pada sang ibu.


Coba menenangkan diri walau hatinya diliputi kecemasan. “Duduk sini dulu, Vi,” ajak Bu Harni yang tak punya pilihan lain, Denaya ikut menyusul dan duduk di samping Via. “Ibu tadi tanya sama Pak Haji soal bagaimana bila seorang istri menggugat cerai suaminya.”


Deg!


“Ibu mau nyuruh aku mengajukan gugatan cerai buat Mas Mirza?” menatap tak percaya.


“Dengarkan ibu dulu, Vi –“


“Berapa kali aku bilang, Bu, jangan pernah bahas lagi soal keadaan rumah tanggaku dengan Mas Mirza,” tekan Via dengan wajah yang mulai memerah, Denaya segera merangkul pundak Via untuk menenangkannya.


“Tapi ibu ingin melihat kamu bahagia Vi, bukan seperti ini, tanpa kejelasan, kasian Nala.”


“Bahagia yang seperti apa yang ibu maksudkan?” kedua netra mulai mengembun. “Ibu ingin aku menuruti keinginan ibu untuk cerai dan menikah lagi dengan laki-laki lain agar Nala dan aku bahagia, begitu?” air bening menitik di kedua pipinya. “Itu kebahagiaan ibu, bukan kebahagiaan aku dan Nala. Ibu hanya menuruti ambisi ibu, sama sekali nggak mempedulikan perasaanku!” terisak-isak tak mampu lagi menahan himpitan berat dalam dadanya.


“Ada apaan ni kok ribut-ribut?” Om Jaka muncul di ambang pintu ruang tamu bersama Arya. “Vi, elu kok nangis? Kenapa?” melihat wajah Via yang basah.


Denaya menajamkan matanya pada sang suami sebagai isyarat untuk tak banyak tanya lantas meraih Via dalam pelukannya, memebisikkan kata-kata untuk bersabar.


Hening sejenak, ruang tamu terasa kelu, masing-masing setia pada tempatnya tak ada yang berani beringsut barang sejengkalpun.


“Ibu minta maaf kalau terlalu memaksamu,” lirih Bu Harni akhirnya. “Tapi Mirza sudah menelantarkanmu dan Nala tiga bulan lamanya, dia tak lagi menafkahimu. Lantas apalagi yang kamu harapkan darinya?”


Beranjak perlahan dari pelukan Denaya, menyeka kedua netranya yang masih basah. “Ibu harus tau, setiap bulan aku masih menerima uang transferan. Aku nggak tau itu dari siapa, tapi aku yakin itu dari Mas Mirza.”


“Berapa jumlahnya?” terkejut dengan penuturan Via. “Apa 10 juta sesuai seperti syarat yang ibu ajukan?”


Kedua netra Via membelalak makin tak percaya, “Ibu mengajukan syarat apa sama Mas Mirza?”


Bu Harni segera menyesali kata-katanya, namun jelas tak mungkin untuk menariknya kembali. Dalam hati ia merutuki diri yang tak bisa menjaga mulutnya sendiri. Ini yang pernah dikhawatirkan Riri, Via akan marah jika mengetahui surat pernyataan yang pernah dibuat Bu Harni untuk Mirza beberapa bulan yang lalu.


“Jawab aku, Bu. Ibu mengajukan syarat apa sama Mas Mirza?” menuntut jawaban penuh rasa ingin tau.


Bergeming, menimbang antara harus mengatakan yang sejujurnya atau tidak.


“Kenapa diem aja, Bu?” suara Via bergetar, ia tahu ibunya berusah menyembunyikan sesuatu darinya.


“Vi, ibu minta maaf –“ menyorot Via penuh permohonan, lantas mengalirlah cerita kejadian di hari aqiqah baby Nala beberapa bulan yang lalu itu.


Kecewa yang dirasakan Via sudah pasti, kenapa Bu Harni tega memaksa Mirza untuk menyetujui semua itu. Via tak bisa membenarkan sikap sang ibu meski berdalih semua demi kebaikan dirinya dan juga Nala. Juga meskipun surat pernyataan itu tak pernah ditandatangani Mirza, namun ibunya sungguh sudah sangat membebani suaminya.


“Surat perjanjian itu sudah ibu robek dan ibu bakar di tong sampah, sekali lagi ibu minta maaf Vi,” lirih penuh penyesalan, ia tahu hati anaknya sangat terluka.


Semuanya diam untuk memberikan waktu pada keduanya .


“Dena, Om Jaka dan Pak Haji, maaf ya aku masuk dulu,” ucap Via kemudian. “Aku mau ke kamar, kepalaku pusing,” bangkit perlahan.

__ADS_1


“Aku antar, Vi,”


“Aku bisa sendiri, Dena,” mencoba mengulas senyum.


Via melangkah lunglai menuju kamarnya, Tia yang sedari tadi mendengarkan dari balik ruang tengah menatap sang adik penuh prihatin, ia ingin menghibur Via namun ini bukan saat yang tepat. Barangkali Via memang sedang butuh waktu untuk sendiri.


Tak berapa lama Denaya pun pamit. Rencana untuk makan siang bersama pun akhirnya gagal kerana situasinya terasa kurang mengenakkan. Dalam perjalan pulang Pak Haji menceritakan obrolannya dengan Bu Hani.


“Menurutku Bu Harni terlalu ikut campur urusan rumah tangga Via,” ucap Denaya.


“Yang namanya ibu pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya,” timpal Om Jaka dengan mata tetap fokus pada jalanan.


“Tapi kan kasian Via, dia tertekan.” Menyiratkan keprihatinan, lantas menoleh ke belakang bertanya pada sang ayah yang duduk di jok tengah, “emang waktu tiga buan itu sudah bisa bagi seorang istri menggugat cerai ya, Yah?”


“Kita bisa lihat pada taklik talak sang suami,” membenarkan posisi duduknya yang agak melorot, “selepas akad nikah kan biasanya seorang suami membaca dan menandatangani taklik talak itu. disana ada poin-poin yang harus ditaati seorang suami. Jaka, kamu masih ingat kan isi taklik talak?”


“Lho, kok aku sih yang ditanya?” Om Jaka agak surprise, “yang mau cerai kan Mirza, kenapa aku yang ditanya?” protesnya.


“Kamu kan udah nikah dua kali, pasti ingat kan isinya apa?”


“Hemm,” mengetuk-ngetukkan jarinya pada setir kemudi berusaha mengingat, “Meninggalkan istri 2 tahun berturut-turut, tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 bulan lamanya, menyakiti badan atau jasmani isteri, tidak memperdulikan istri selama 6 bulan atau lebih, dan karena perbuatan tersebut isteri saya tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya diterima oleh Pengadilan tersebut, kemudian isteri saya membayar Rp.10.000,- sebagai iwadh atau pengganti kepada saya, jatuhlah talak saya satu kepadanya. Kepada Pengadilan tersebut saya memberi kuasa untuk menerima uang iwadh tersebut dan menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional setempat untuk keperluan ibadah sosial, titik!” menyeka keningnya yang sedikit berembun, cukup ngos-ngosan berasa kayak anak TK habis disuruh maju sama gurunya buat hafalan Pancasila.


“Lancar banget, Beb?” menatap sang suami antara takjub dan tak percaya.


“He em, kan udah nikah dua kali, hehe …” nyengir lebar bikin Denaya pingin getok kepalanya.


“Untuk Mirza, dia memang sudah pergi sekian bulan, tapi kalau dia masih memberikan nafkah dan Via ridho dengan semua itu, ya nggak ada masalah. Meskipun mungin nafkah batin tdak diberikan, tapi sekali lagi yang jadi titik penting adalah keridhoan seorang istri,” Papar Pak Haji.


“Istrinya sih ridho, wong masih cinta kok. Yang nggak ridho justru ibu mertuanya,” sambut Om Jaka seperti ngedumel.


Tak disadari Denaya dan Pak Haji manggut-manggut setuju dengan ucapan Om Jaka barusan.


“Beb, kalo dipikir-pikir menurutku Bu Harni itu sama kayak Bu Een, iya nggak sih? Sama-sama berambisi pingin misahin Via sama Mirza,” celetuk Denaya kemudian.


“Iya sih, tapi Bu Harni mainnya lebih halus nggak kayak Bu Een Endang Bambang Gulindang, grusah grusuh gedabag gedebug, tendang sana sikut sini.”


“Bu Een Endang Bambang Gulindang itu siapanya kamu ya, Beb?” melirik sang suami.


Spontan menoleh, “tetangga!” kesal Om Jaka membuat Denaya tertawa.


Mobil Om Jaka tak terasa sudah memasuki pelataran rumah Pak Haji yang luas, mereka tiba di rumah hampir jam 1 siang. Pak Haji turun lebih dulu.


“Eh Beb, tadi Via bilang kalo dia masih menerima uang transferan kan?” teringat perkataan Via.


“Iya, kenapa emangnya? Bagus kan, berarti Mirza emang masih peduli sama anak dan istrinya,” melepas seatbeltnya.


“Kalo kita check ke bank, bisa dilacak kan dari mana uang itu ditransfer?”


“Maksudnya?”


“Kita bisa tahu dari rekening mana uang itu dikirim. Misalnya dari bank di daerah mana, nah dengan begitu kita kan bisa tau posisi Mirza sekarang lagi dimana. Iya kan?”


Terdiam tanpa kata, bepikir keras harus bilang apa.


“Iya kan, Beb?” menggoyangkan lengan suaminya.


“Emh, ya –belum tentu juga Mirza transfernya dari bank, bisa jadi lewat mobile banking. Kalo dia lagi di tengah lautan kan nggak mungkin dia dateng ke bank?”


Menatap lurus sang suami, “jadi Mirza lagi berlayar? Kamu tau sesuatu tentang dia, Beb?” menyorot semakin tajam.


“Eh, ng –nggak, maksud aku –“ tergagap kebingungan.


“Cepetan bilang dimana Mirza?” mencondongkan tubuhnya ke arah sang suami, “kamu kok tega sih ngebiarin Via kehilangan jejak Mirza? nggak kasian apa anaknya dia tuh lagi sakit, kasih tau Mirza cepetan buat nelpon Via sekarang!” berteriak tepat di depan muka Om Jaka.


“Hani, apa-apaan sih kamu?” berusaha menenangkan sang istri. “Aku nggak tau Mirza dimana, beneran!” mengangkat dua telunjuknya ke udara sebagai sumpah meyakinkan.


“Kamu bohong!” membuat posisi Om Jaka tersudut, kepalanya sudah mencapa jendela tak berdaya. “Awas ya, kalo sampe aku tau kamu bohong Beb, jangan harap aku maafin kamu!” Pungkas Denaya lantas segera keluar membanting pintu mobil dengan keras.


BLAM!


“Astaghfirullah!” Om Jaka mengelus dada, wajahnya diliputi kekhawatiran, jiper juga dia dengan ancaman Denaya. Bisa gawat kalau Denaya sampai ngambek beneran, maka cepat-cepa dia susul langkah sang istri yang sudah mencapai dalam.


“Hani, tunggu, meraih pergelangan tangan Denaya. “Aku nggak bohong, sumpah, suer, sungguh mencret!” memasang wajah antara melas dan ketakutan.


Tak!


Denaya menghentikan langkahnya.


“Aku nggak tau dimana Mirza, beneran! Aku nggak bohong!”


“Kalo kamu nggak bohong, kenapa kamu sampe segininya? Kamu takut ketahuan?” menatap sinis. “Mungkin kamu nggak tau Mirza dimana, tapi pasti kamu masih berhubungan sama dia kan?”


“Ng –gak, nggak Haniku,”


menggeleng cepat.


“Oke, anggep aja aku percaya. Tapi malam ini dan selamanya kamu tidur diluar, sampe Mirza ketemu!” menghentakkan kaki menuju kamar.


“Hani, wait!” kembali menegjar. “Nggak bisa gitu dong. Kalo Mirza nggak balik-balik, gimana dong? Kasian nasib si otong, masa harus nganggur terus?” melihat sedih pada bagian anunya.


“Kalo gitu suruh Mirza pulang sekarang!” gegas masuk kamar dan menguncinya dari dalam meninggalkan Om Jaka yang meratap sedih.


💕💕💕💕


Hi, dear.....


maaf ya baru up. 🙏🙏


mungkin nggak rutin setiap hari kayak dulu, tapi diusahakan up terus sampe tamat 😊


Mohon maaf juga bila ada kekeliruan ya, bahas talak dan perceraian rada sensitif 🤭dan pengetahuan ilmu othor masih terbatas. 🙏🙏


note; kutipan Hadist di atas diriwayatkan dari Abu Dawud, Al-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.


sumber lainnya dari google.

__ADS_1


Terima kasih sudah selalu hadir ya,


I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2