TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
167 #MALAM ANNIVERSARY


__ADS_3

Ballroom hotel sudah ditata mewah, beberapa karyawan hotel dibantu event organizer yang bertugas mengurus semua persiapan pesta itu nampak hilir mudik memastikan bahwa semuanya sudah sesuai dengan rencana. Perhelatan ulang tahun perusahaan PT AdhiKarya Group akan digelar malam ini. Pukul 8 malam para tamu undangan mulai berdatangan, semua kolega dan para karyawan menempati meja yang sudah disiapkan. Bu Elin dan Pak Rian duduk paling depan bersama Pak Hadi dan Danar.


“Wah, acaranya pasti akan sangat meriah banget nih Cil.” Ujar Milen yang datang bersama Cila melangkah dengan gaya yang dibuat seanggun mungkin.


“Iya, Len. Gue baru lho dateng ke acara semegah ini.” Mengambil duduk di meja yang disediakan khusus untuk para kayawan dengan perasaan takjub memandang ke sekeliling ballroom.


"Eh, Vony mana sih? Kok belum datang dia?” Milen celingukan.


“Tadi sih gue telpon masih di salon katanya.”


“Serius lo? Dia ampe dandan ke salon segala?” Milen nggak percaya.


“Iya, katanya sih biar nggak kalah cantik sama calon tunangannya Pak bos Danar.” Cila merapikan rambutnya yang sengaja dibikin curly.


Milen tak mau kalah, dia mengambil kaca mini dari dalam tasnya dan memeriksa dempul diwajahnya. “Jadi bener berita Pak bos yang mau tunangan itu ya?”


“Pake nanya lagi lo Len. Kan kabarnya emang udah santer dari kemaren-kemaren.”


“Ya kali aja batal, jadi kan gue masih punya kesempatan buat ngerebut Pak bos.” Milen menatap Danar yang jauh duduk di depan. “Harusnya gue juga duduk disana Cil, bersanding dengan Pak bos.”


Diam-diam Cila mencibir sebal, dia cuman berani mengumpat dalam hati karena kalo sampe kedengeran Milen beneran bisa-bisa dijambak tuh bibirnya Cila.


Seluruh tamu undangan hampir semuanya sudah hadir, Vony masuk ruangan dengan tergesa, ditengoknya kanan kiri mencari para solmetnya berada. Setelah ia menemukan meja Milen dan Cila, segera ia menghampiri dengan wajah campur aduk.


“Kenpa lo? Tampang lo dari salon bukannya makin cakep malah tegang gitu kayak abis ketemu debt collector?” Ledek Milen.


Vony agak terengah, sebentar dia mengatur nafasnya. “Kalian tau nggak gue ketemu sama siapa di depan tadi?”


Milen dan Cila saling pandang. “Ya mana gue tau elo ketemu sama sapa!” Milen cuek.


“Gue ketemu sama Om Om gebetannya si Via!”


“Seius lo?” Cila melotot.


“Si Om itu dateng ke acara ini juga?” Milen heran.


“Emang dia siapa sih? Kok di undang juga?”


“Parahnya lagi dia dateng sama perempuan muda, cantik pake hijab lagi.” Vony makin bersemangat namun dengan suara yang agak ditahan karena masih sadar situasi.


“Gue yakin dia pasti istrinya.” Milen mengulas senyum yang sulit diartikan.


“Kalo gitu Via pelakor dong?” Cila membekap mulutnya sendiri usai mengucapkan kalimat itu.


Tak berapa lama, terlihat Om Jaka yang menggandeng mesra Denaya memasuki ballroom. Mereka dipandu oleh salah satu staf event organizer menuju meja yang disiapkan khusus untuk para kolega dan rekan bisnis. Mien cs mengekori langkah mereka dengan kedua mata yang tak lepas menatap pasangan itu hingga mereka mendaratkan bokong di kursi dekat dengan para dewan direksi.


“Kita nggak salah liat kan? Jadi si Om Om itu salah satu ….”


“Ssuuut…, ssuuut…” Vony menyenggol lengan Milen yang belum sempat melanjutkan kalimatnya karena ia melihat dua mahluk yang dikenalinya baru saja memasuki ruangan. Mereka adalah Mirza dan Riri.


Milen mengikuti arah mata Vony dan Cila. “Itu kan laki-laki yang jemput Via waktu itu?”


“Dan ceweknya calon tunangannya Pak bos kan?” Vony melongo.


“Yakin nih Pak bos mau tunangan sama cewek yang biasa banget kayak gitu?” Cila memandang Riri dari kejauhan dengan tatapan meremehkan.


“Cantikan gue kemana-mana.” Vony mengibas-ngibaskan rambut pirangnya. “Gue yakin kalo pak bos liat penampilan gue malam ini pasi langsung meleleh, nggak percuma gue harus ke salon sampe malem gini.” Vony berbangga diri.


Milen langsung menatap Vony tajam. “Ngomong apa lo barusan?”


“Ngomong yang elo denger!” Ketus Vony yang merasa penampilannya lebih cantik dari dua sohib se-gank-nya itu.


“Berani lo sama gue?” Milen gemas.


“Kenapa emangnya?”


“Ehh, udah udah! Kok kalian malah pada ribut sih?” Cila menengahi. “Tuh liat siapa yang datang!” Lanjut Cila menuju Via dengan kedua matanya.


“Pelakor is coming.” Seringai Milen, otaknya membuat sebuah rencana. “Vi!” Milen melambaikan tangan ke arah Via.


Via menoleh, namun hanya melempar senyum sekilas. Ia lekas menuju meja dimana suami dan Riri berada.


“Ih, ngapain dia kesana? Songong amat! Itu kan untuk tamu undangan kehormatan!” Kesal Milen yang merasa dicuekin.


“Biarin aja, palingan bentar lagi juga dia diusir.” Cibir Cila.


“Gue curiga, pasti ada hubungan nih antara si Via, sama laki-laki gondrong itu dan calon tunangannya pak bos.” Vony nampak berpikir menerka-nerka.


“Tenang aja, setelah ini gue punya rencana yang bisa bikin Via malu.” Milen menyeringai kemudian membisikkan sesuatu pada dua solmetnya itu.


Acara ulang tahun perusahaannpun segera dimulai setelah dipastikan semua tamu undangan sudah hadir. MC membuka acara dengan ucapan selamat datang untuk para tamu. Setelah berbasa-basi sebentar, acara dilanjutkan dengan sambutan. Sambutan yang pertama tentu saja disampakan oleh Pak Rian Maryadi. Laki-laki yang berumur sudah lebih dari setengah abad itu melangkah gagah dan penuh wibawa ke atas podium. Ia menyampaikan ucapan rasa syukur pada Tuhan dan ucapan terima kasihnya pada semua karyawan dan kolega bisnis yang sudah membantu perusahaannya maju dan berkembang pesat seperti sekarang.


Sambutan Pak Rian pun selesai, kini giliran Danar yang dipanggil maju ke depan. Ia nampak bersiap, dengan setelan jas putih semi casualnya ia semakin terlihat rupawan. Pak Hadi menepuk pundak anaknya bangga.


“Majulah anak muda, berikan kalimat terbaikmu.”


Danar tersenyum simpul pada ayahnya.


Semua mata hadirin tertuju pada sosok laki-laki tampan itu, bahkan tepuk tangan yang mengiringi langkahnya pun terdengar lebih riuh dari pada tepuk tangan untuk Pak Rian sebelumnya.


“Lihatlah, pesona anakmu mengalahkan pesonamu.” Bisik Bu Elin pada Pak Rian sambil tersenyum.


“Yang muda memang terlihat lebih menggemaskan. Bukan begitu Mas?” Pak Rian melirik pada Pah Hadi.


Pak Hadi hanya terkekeh.


“Maksud ayah, aku sudah tak menggemaskan lagi begitu?” Bu Elin kesal.


“Ayah nggak bilang begitu, tadi …”


“Hey, kalian ini kenapa malah ribut sendiri?” Pak Hadi menegur Bu Elin dan Pak Rian yang sedang terlibat keributan kecil. “Lihat itu anakku sang calon CEO, dia sangat tampan dan gagah sekali persis kayak papanya.” Pak Hadi mulai narsis.


“Danar kan bisa begitu karena aku ayah angkatnya yang hebat.” Pak Rian ikutan narsis.


“Mana bisa? Tentu karena aku ibu angkatnya yang super duper segalanya.” Bu Elin tak mau kalah.


“Heh, ribut lagi deh.” Pak Hadi melengos kesal tak habis pikr dengan kelakuan dua orang di dekatnya itu.


Dalam sambutannya selain ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut memajukan perusahaan, Danar juga mengajak semua staf dan karyawan yang tergabung dalam PT AdhiKarya Group untuk selalu semangat dan optimis dalam mencapai target-target yang sudah ditetapkan perusahaan ke depan. Ia berhasil membakar semangat semua karyawan yang mendengarnya, namanya dielu-elukan dan diteriakkan, terutama oleh para karyawan perempuan yang jomblo, especially Milen cs. Setelah selesai, Danar segera turun dari mimbar, sorak sorai tepuk tangan hadirin kembali mengiringi, mata Danar kemudian tertumbuk pada satu titik


HUP!


Lekas ia mengalihkan tatapannya karena sosok yang diinginnya itu tak duduk sendiri. Danar menuju mejanya kembali.


“Keren kamu, anak muda.” Pak Hadi sekali lagi menepuk-nepuk pundak anaknya dengan bangga. “Sudah mirip seperti orang yang lagi kampanye saja gayamu, Nak.” Pak Hadi nyegir sambil melihat pada Pak Rian.


“Nggak usah nyindir ya, Mas. Masa itu sudah lewat.” Pak Rian kesal karena merasa tersindir diingatkan pada masa-masa dia kampanye menjadi calon Bupati beberapa tahun silam.


MC kemudian memanggil nama Bu Elin untuk naik ke panggung. Kiranya momen inilah yang paling dinantikan para karyawan. Bu Elin akan memotong kue ulang tahun dan mengumumkan deretan karyawan terbaik dari beberapa anak perusahaan PT Adhikarya Group. Bu Elin segera menuju panggung diiringi Pak Rian.


Lagu selamat ulang tahun berkumandang disertai musik dari band pengiring. Semuanya ikut bernyanyi. Bu Elin bersama Pak Rian meniup lilin bernomor 25 pada kue ulang tahun yang cukup besar setelah lagu selesai. Pasangan itu pun kembali memberikan sambutan kata-kata terbaiknya dan memberikan kue potongan pertama untuk orang yang paling berjasa dalam kehidupan mereka sehingga bisa sesukses ini, orang tersebut adalah Pak Hadi. MC memanggil Pak Hadi untuk naik dan menerima kue itu. Beberapa kamera mengabadikan gambar mereka.


Setelah acara potong kue itu selesai, tibalah saatnya pengumuman nama-nama karyawan terbaik. Semuanya menyambut suka cita, terlebih lagi ketika nama-nama itu dibacakan oleh Bu Elin sendiri. Dan nama Via termasuk salah satunya.


“Wah, kamu hebat Sayang. Kamu termasuk karyawan terbaik.” Puji Mirza bangga seraya memeluk Via.


“Eh, apa aku nggak salah denger tadi Mas?” Via tampak tak yakin.


“Huu, palingan juga itu nepotisme. Pasti Mbak Via jadi karyawan terbaik Karena deket sama Bu Elin dan Mas Danar kan?” Cibir Riri asal.


“Enak aja! Itu memang karena kinerjaku bagus tau!” Via nggak terima.


“Huu! Dasar curang!” Riri manyun.


“Dasar sirik!”


“Eh, udah. Cepet kamu maju sana Sayang. Tuh karyawan yang lain juga udah pada ke panggung.” Mirza menyuruh istrinya untuk segera bergabung bersama beberapa karyawan lain yang sudah berada di atas panggung.


Acara penghargaan pada karyawan terbaik itu sudah mirip acara Oscar award saja karena sangat ramai tepukan dan suitan dari karyawan yang lain yang mendukung rekanya di panggung untuk menerima penghargaan dari Bu Elin. Mirza dan Riri juga turut bertepuk tangan bangga.


“Itu istrinya Mas Mirza lho.” Ucap Mirza pada Riri.


“Itu Mbakku lho.” Sahut Riri dengan senyum lebar melihat pada kakaknya yang menerima buket bunga dan amplop dari Bu Elin.


Tentu saja Danar juga ikut memberikan tepuk tangan, matanya tak beralih dari sosok yang berdiri ditengah-tengah jajaran karyawan terbaik yang berada di atas panggung itu. Senyumnya mengembang di bibir manisnya. Pak Hadi paham untuk siapa senyuman itu Danar tujukan.


“Hati-hati anak muda, dia itu istri orang.” Bisik Pak Hadi membuat Danar sedikit terkejut dan menoleh pada ayahnya.


Keriaan semua karyawan agaknya tak berlaku buat Milen cs. Mereka memandang kesal pada Via.


“Sama-sama karyawan baru, kenapa harus dia sih yang terpilih jadi kayawan terbaik?” Milen jengkel banget. “Awas aja, setelah ini kamu bakalan nggak bisa senyum sok manis kayak gitu lagi!” Milen geregetan.


Acara penghargaan pun selsai. Sang MC kembali naik ke panggung.

__ADS_1


“Baiklah hadirin, acara-demi acara telah kita lewati. Sekarang tibalah pada acara yang sudah dinanti-nantikan. Yaitu acara pertunangan dari pewaris tunggal perusahaan Tuan Rian Maryadi. Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Danar Hadi Pramana.” Ujar MC dengan lantangnya.


Sontak saja ucapan MC itu membuat Danar dan keluarganya kaget bukan kepalang. Raut ceria Danar langsung berubah drastis. Ia melihat pada ibunya dengan tatapan meminta penjelasan, namun Bu Elin juga sama kagetnya.


“Bu, kenapa bisa jadi begini?” Danar berusaha memelankan suaranya karena tak enak terdengar oleh tamu undangan yang lain meskipun hatinya sangat berkecamuk.


“Ibu juga nggak tau, Danar. Ibu udah bilang cancel pada EO-nya untuk acara tunangan kamu.” Bu Elin pucat dan nampak gusar.


“Tapi kenapa bisa seperti ini?”


“Her, kamu yakin sudah bicara dengan pihak EO?” Pak Hadi menatap tajam pada Bu Elin.


“Tentu saja, Mas. Aku langsung konfirmasi saat itu juga kok.” Bu Elin yakin. “Pasti ada kesalahan ini.” Bu Ein bersiap bangkit dengan raut panik.


Namun Pak Rian segera menahan istrinya.


“Bu, kita nggak mungkin mempermalukan diri kita sendiri di depan semua orang seperti ini.” Ucap Pak Rian tenang.


“Maksud ayah?” Bu Elin tak mengerti.


Pak Rian menatap Danar. “Danar, ayah mohon pada kamu. Demi kehormatan keluarga kita, kamu jalani saja pertunangan ini.”


“Tapi ayah ….”


“Ini hanya sekedar di panggung. Ayah tau kamu dan Riri sama-sama tak ingin. Itu tak masalah, toh kalian sudah sepakat menolaknya kan? Tolong lakukan Ini demi harga diri keluarga kita.”


“Ayahmu benar. Lakukan Danar. Setelah ini terserah kamu dan Riri saja.” Pak Hadi mendukung usulan Pak Rian.


Danar terlihat frustasi, sementara para tamu sudah sangat menunggu kahadirannya. MC pun kembali memanggil nama Danar.


“Untuk Tuan Danar Hadi Pramana dan Nona Riana Hasan segera ke atas panggung.” Panggil sang MC dengan senyuman, raut wajahnya tampak sangat tak berdosa sekali. Ia tak tau kalau di sudut panggung ada seseorang yang menggerak-gerakkan tangannya untuk memberinya kode agar mengcencle acara itu.


Semenara di sudut lain Riri tak kalah gusarnya, ia bingung akan hal yang sedang berlangsung. Kenapa bisa seperti ini? Bukankah dirinya dan Danar sudah sepakat untuk menolak rencana ini?


“Hei, kamu kenapa? Ayo cepat naik sana.” Tegur Via yang masih melihat adiknya terpaku di tempat duduknya. “Kok pucet gitu sih mukanya? Ahh…, Mbak tau kamu pasti grogi ya…?” Ledek Via.


“Emh…, bu-kan Mbak…” Riri agak terbata. “Ini ….”


“Apa perlu Mbak temani kamu?” Via masih meledek iseng pada adiknya.


“Ayok, Mas Mirza antar.” Mirza mau berdiri namun Bu Elin segera menghampiri.


Raut wajah paniknya ia tutupi dengan senyuman, sehingga Via dan Mirza sama sekali tak menyangka kalau itu hanya sandiwara.


“Riri sayang, ayok kita ke panggung, Nak.” Bu Elin mengajak Riri dan segera menggandeng lengannya. “Maafkan ya, Ibu minta sama kamu untuk malam ini jalani saja semuanya. Setelah ini terserah kesepakatanmu dan Danar.” Bisik Bu Elin dalam langkah menuju panggung.


Danar sudah berdiri di samping sang MC, ia menyambut Riri dengan tatapan tak nyaman begitu pula sebaliknya. Danar meraih sesuatu dari dalam saku jasnya ketika sang MC mempersilahkannya untuk menyematkan cincin pertunangan.


Sebuah cincin berlian sengaja Bu Elin selipkan di saku jas Danar sebelum ia menjemput Riri. Cincin itu milik Bu Elin dan sengaja ia lepas demi mengatasi rasa malu yang mungkin saja dapat mencabik-cabik kehomatan dan nama baik dirinya sekeluarga jika acara pertunangan yang sudah terlanjur diucapkan sang MC itu tetap ia batalkan.


Kini cincin itu sudah melingkar di jari manis kiri Riri, nampak sedikit kebesaran memang namun tentu saja hadirin tak melihatnya.


Para tamu undangan pun bertepuk tangan dengan gembira, seulas senyum sandiwara diukir Danar dan Riri pada wajah tegang mereka.


“Anda boleh mencium Nona Riri, sekarang kalian sudah resmi bertunangan.” Sang MC mempersilakan yang langsung disambut oleh gemuruh sorak sorai tamu undangan kembali.


Sontak saja Danar pias, ia tak menyangka akan sejauh ini. Raut wajah Riri pun nampak memerah, tangannya bahkan sampai berkeringat dingin. Bu Elin memberi kode dengan kedipan matanya pada Danar.


Cup!


Satu kecupan singkat didaratkan Danar di kening Riri. Hadirin kembali bertepuk tangan. Hati Riri bergemuruh. ini adalah kali pertama ia dicium laki-laki, meski hanya di kening. Ia merasa malu tapi juga senang, namun kemudian kecewa dan sedih menyelimutinya kala sadar ini hanya sandiwara. Danar dan Riri pun kemudian turun ke panggung diiringi ucapan selamat dan doa-doa dari sang MC yang innocent itu. Danar membawa Riri pada keluarganya.


Acara dilanjutkan dengan acara makan-makan. Hadirin dipersilakan menyantap aneka hidangan yang sudah tersaji, seorang penyanyi top ibu kota pun naik ke panggung membawakan lagu untuk menghibur para unangan sambil bersantap malam.


Mirza dan Via menuju meja untuk mengambil makanan, Milen cs yang masih tak terima melihat acara pertunangan yang baru saja berlangsung itu segera mempunyai ide untuk melampiaskan kejengkelan mereka pada Via.


“Hai, Vi.” Milen menghampiri didiringi dua dayangnya, Cila dan Vony.


“Hai, kalian udah makan?” Sambut Via tanpa curiga.


“Nggak, kita diet!” Sahut Vony asal.


“Gebetan lo baru lagi nih?” Milen melihat pada Mirza yang berdiri di samping Via.


Via mengernyit, namun langsung paham maksud Milen. “Bukan gebetan, dia mantan pacar.” Sahut Via seraya melirik suaminya. “Iya kan, Mas?”


“Iya, Sayang. Kamu mantan terindahku.” Sahut Mirza seraya mencium pucuk kepala Via.


Kontan saja Milen cs melongo.


Mirza kaget istrinya dihina begitu, dia udah mau nyahut tapi Via keburu menahannya. “Udah Sayang, nggak usah diladenin. Mereka itu para jomblo akut, makanya sirik terus liat ada orang jalan sama cowok.” Ucap Via cuek. “Ayo kita ke sana Sayang.” Via menunjuk tempat duduk dengan dagunya karena tangannya membawa makanan.


“Ayok, Sayang.” MIrza merangkul pinggang Via posesif meinggalkan Milen cs.


"Dasar pelakor tak tau malu!” Geram Milen tertahan. “Awas aja, tunggu bentar lagi. Kamu pasti bakal nyesel seumur hidup udah berani ngatain aku!”


Cila dan Vony mengangguk-angguk tanda setuju, mereka pun mengambil makanan dan lekas kembali pada mejanya sambil terus memperhatikan Mirza dan Via yang sengaja mesra-mesraan.


“Jadi begitu ceritanya?” Ucap Mirza setelah Via mengatakan semua tingkah Milen cs pada dirinya. “Kamu laporin aja, biar mereka dipecat.”


“Nggak perlu lah Mas, mereka itu bukan musuh yang sebanding buat aku. Terlalu receh!”


Mirza tersenyum. “Kamu emang hebat Sayang, Mas bangga punya istri kayak kamu.” Mirza membelai rambut Via. “Ayo kita kerjain mereka.” Mirza menyuapkan makanan ke mulut Via.


Via menerimanya dengan manja, mereka asyik makan sambil sesekali tertawa-tawa membuat Milen cs makin dengki.


Sementara itu Riri yang tak bisa mengatasi perasaannya sendiri tampak meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa.


Bu Elin sedang menyidang para staf EO yang disewanya di sebuah ruangan karena membuat kesalahan yang sudah sangat fatal.


“Kalian tau, karena kesalahan ini hampir saja saya dan suami saya kehilangan muka di depan para tamu?” Bu Ein menumpahkan amarahnya.


“Maafkan saya, Bu. Ini murni kesaahn kami.” Sang koordinaor menundukkan kepala merasa sangat bersalah.


“Untung saja anak saya dan calon tunangannya bersedia menjalani acara yang harusnya udah dicencel ini.” Lanjut Bu Elin geram.


“Sakali lagi lagi saya minta maaf Bu. MC utama tiba-tiba sakit, rundown acara yang diberikan pada MC pengganti masih yang lama, padahal tadi saya sudah berusaha memberikan kode pada MC untuk …”


BRAK!!


Bu Elin menggebrak meja membuat sang koordinator EO berjingkat kaget.


“Itu bukan suatu alasan! Kalian benar-benar tidak proesional! Saya nyesel sudah menggunakan jasa kalian!”


Bu Elin meninggalkan ruangan dengan langkah lebar, wajahnya merah padam. Ia benar-benar tak habis pikir alasan receh dari sang koordinator EO. Untung saja Riri dan Danar bersedia menjalani pertunangan sandiwara ini.


Ah, Riri! Dimana anak itu? Bu Elin segera mencari Danar.


“Danar, Riri mana?” Tanya Bu Elin.


“Tadi udah pergi.”


“Pegi?” Sahut Bu Elin kaget. “Dan kamu biarin aja?”


Danar hanya melihat sekilas, ia tak mau lagi dipusingkan untuk melanjutkan sandiwara itu. "Ibu mau nyuruh aku gandengan terus sama Riri biar para tamu seneng?” Sinis Danar.


“Cari dia, dia pasti terpukul. Ibu harus memberinya penjelasan. Cepat cari dia, bawa ke ruangan ibu nanti.” Paksa Bu Elin.


Mau tak mau Danar nurut juga. Bu Elin menuju ruangannya dalam hotel itu, ia meninggalkan suaminya dan Pak Hadi yang menemani tamu.


Riri baru selesai dari toilet dan menuju loby ketika Danar melihatnya. Wajahnya agak basah, dia baru saja selesai menangis.


“Ri.” Panggil Danar. “Ikut aku.” Danar menarik pergelangan tangan Riri.


“Nggak.” Riri mengibaskan tangan Danar. “Aku nggak mau lagi nurutin sandiwara Mas Danar. Semuanya udah cukup, Mas. Cukup!” Riri hampir menangis lagi.


“Ri, ibu ingin bicara.”


“Mau bicara apa lagi? Aku bukan boneka yang seenaknya saja kalian suruh-suruh! Aku nggak mau!”


“Ri, dengerin dulu penjelasanku. Ibu dan aku sama sekali nggak bemaksud …”


“Udah, Mas. Aku nggak perlu penjelasan apa-apa.” Riri menggeleng. Hatinya terlanjur sakit. Susah payah dia meyakinkan diri untuk menerima tawaran pertunangan itu padahal hatinya belum mantap. Dan ketika ia mulai merasakan ada kehangatan di hatinya pada sosok Danar, tiba-tiba saja Danar meminta untuk menolak pertunangan itu. Dia pun dengan lapang dada menyetujuinya walau hatinya kecewa karena terlanjur ada rasa pada lak-laki yang usianya 12 tahun lebih tua darinya itu. lalu malam ini, ketika ia masih berusaha menetralkan hatinya, Danar dan ibunya dengan seenaknya memintanya untuk bersandiwara di depan semua tamu undangan seolah dirinya benar-benar bertungangan padahal Danar sendiri tak menginginkannya.


Riri melepas cincin berlian yang kegedean itu dari jari manisnya. “Ini, aku kebalikan!” Riri memeberikan cincin itu pada Danar. “Jangan llibatkan aku lagi dalam urusan bisnis keluargamu, Mas.” Riri pergi setengah berlari meninggalkan Danar yang masih terdiam memegangi cincin ibunya.


“Ri?” Via yang mau ke toilet kaget melihat Riri berjalan sambil berurai air mata.


“Mbak Via?” Riri sama terkejutnya.


“Kenapa kamu nangis?” Via bingung.


Riri menggeleng. “Aku pulang duluan, Mbak.” Sahut Riri segera meninggalkan kakaknya sebelum ia ditanya lebih banyak lagi.

__ADS_1


Via berusaha mengejar Riri namun Riri berjalan sangat cepat, Via memandangi kepergian adiknya dengan penuh tanda tanya. Perlahan ia membalikkan badan dan nampak Danar berjalan gontai ke arahnya dengan raut masam.


“Danar, ada apa? Kenapa Riri nangis? Kalian berantem?” Berondong Via sangat penasaran.


“Nanti juga kamu tahu.” Sahut Danar tanpa ekspresi.


“Maksudnya? Aku nggak ngerti.” Via makin bigung. “Danar, tolong jelasin sekarang sama aku. Kenapa kamu sampe bikin Riri nangis begitu? Kamu udah melukai hatinya, padahal baru saja kalian bertunangan.” Via agak emosi meihat Danar hanya pasang tampang cuek. “Danar, kamu denger aku kan?” Via menggoyangkan lengan Danar.


Mau tak mau Danar melihat pada Via yang sedari tadi nyerocos didepannya. Mata ke dua mahluk tu saling tatap.


Deg deg deg …


Jantung Danar bedebar lebih kencang. Momen seperti ini sangat ia nantikan, wajah ayu yang selalu didambakannya hanya sedikit saja berada di depannya. Namun kesadarannya buru-buru pulih. Hatinya kembali diliputi kekecewaan, akal sehatnya berhasil mengalahkan egonya.


“Aku duluan.” Ucap Danar tak menghiraukan rasa penasaran Via.


Via makin bingung, namun ia yakin ada sesuatu yang terjadi antara Danar dan Riri. Segera ia melanjutkan langkah menuju toilet ketika Danar sudah berbelok di tikungan koridor untuk bertemu dengan Bu Elin di ruangannya.


Sesaat kemudian Via merapikan penampilannya setelah keluar dari toilet.


“Udah nggak usah dandan. Percuma cantik juga kalo jadi pelakor!” Ucap satu suara yang baru masuk.


“Cila?”


“Iya gue. Napa lo, heran?” Cial menyilangkan kedua tangannya di dada menatap Via sinis.


“Apa maksud kamu ngomong begitu?”


“Nggak usah pura-pura deh! Sekarang cepetan ikut gue!” Cila menarik lengan Via kasar.


“Lepasin! Aku bisa jalan sendiri!” Via menghentakkan tangan Cila.


“Kurang ajar lo! Berani sama gue?” Cila kesal.


“Kanapa harus takut? Dasar jomblo akut!” Balas Via tak kalah sinisnya. “Kamu pikir aku perempuan lemah kayak tokoh-tokoh dalam sinetron dan novel fisksi yang selalu teraniaya? Heh, jangan mimpi ya! Aku nggak takut sama siapapun, kamu mau nunjukin apa emangnya? Burun jalan sana!” Via mendorong tubuh Cila sampai terhuyung.


Cila yang nggak terima mau melayangkan tangannya tapi keburu Vony datang.


“Cil! Lama banget sih lo!”


“Ini nih si pelakor berulah.” Tunjuk Cila pada Via.


Vony menyeringai. “Hay pelakor, cepet lo ikut kita! Bakal ada kejutan buat elo!”


"Nggak usah ngatur-ngatur ya. Jalan sana duluan, aku ngikutin di belakang. Aku nggak takut!” Balas Via galak.


Vony dan Cila akhirnya berjalan di depan, sesekali Cila menoleh ke belakang takut Via kabur kali. Mereka kembali mememasuki ballroom hotel. Para tamu sekarang sudah membaur, sebagian nampak berdiri sambil menikmati hidangan. Cila dan Vony membawa Via menuju Milen yang sedang ngobrol sok akrab dengan Om Jaka dan Denaya yang berdiri di sudut ruangan dekat meja dessert dihidangkan.


“Nih, orangnya Len.” Cila melirik pada Via.


“Via?” Om Jaka dan Denaya agak surprise melihat kedatangan Via.


“Hai, Om Jaka? Dena?” Via juga cukup surprise.


“Kaget kan lo? Sebentar lagi elo bakal nggak bisa berkata-kata lagi. Sadiwara elo bakalan terbongkar.” MIlen berujar sangat percaya diri yang disambut senyum sinis kedua sohib durjananya.


“Ngomong apaan sih mereka?” Denaya tampak nggak ngerti.


“Tau nih, Vi teman elo yang kayak bamper bajay ni dari tadi ngomongnya muter-muter mulu. Gue ampe puyeng dengernya.” Om Jaka kesel melihat pada Milen.


“Enak aja cantik begini dikatain kayak bamper bajay!” MIlen tak terima, Cial dan Vony malah cekikikan.


“Diam kalian!” Hardik Milen pada duo solmetnya. “Eh Via, sekarang cepet akuin kebusukan elo kalo elo udah jalan sama Om ini di belakang istrinya!” Titah Milen dengan pongah.


Via tau kemana arah bicara Milen. “Oh, itu mau kamu? Oke, aku akuin semuanya.”


“Ya udah buruan!” Cila nggak sabran.


“Tapi kalo aku ngaku, aku dapet hadiah nggak?” Via sengaja mempermainkan kesabaran Milen.


“Heh, lo pikir ini acara quiz? Pake minta hadiah segala!” Vony sewot.


“Halah, kelamaan.” Milen benar-benar habis kesabaran, ia sangat bersemangat untuk mempermalukan Via. “Mbak, denger ya. Suami Mbak ini udah jalan sama dia selama ini. Kita-kita liat dengan mata kepala sendiri waktu itu suami Mbak ini jemput si Via di kantor! Dia ini pelakor Mbak, hati-hati jangan terlalu baik sama dia. Jangan termakan mulut manisnya, Mbak pasti udah dibohongin mentah-mentah karena diem-diem dia ini nikung suami Mbak!” Ucap Milen menggebu-gebu pada Denaya. Beruntung musik di pangggung sudah berganti grup band dengan hentakan musik yang cukup keras, sehingga suara Milen nggak kemana-mana.


“Oh … begitu?” Ujar Denaya setelah mencerna kalimat Milen.


“Kok cuman O doang sih?” Milen tak percaya melihat Demaya tanpa ekspresi berlebihan. “Dia ini pelakor, Mbak. PE-LA-KOR!” Ulang Milen dengan gemblang.


“Iya pelakor! alias perebut laki orang!” Vony mengompori tak kalah bersemangatnya.


“Emang lakinya siapa yang mau direbut?” Tanya Denaya polos.


“Hah? Ya lakinya Mbaknya lah!” Kesal Milen.


“Oh …” Denaya manggut-manggut. “Emang kamu mau ngerebut suami aku, Vi?” Denaya bertanya pada Via.


Via menahan tawa melihat Milen cs yang kesal karena ternyata Denaya tak sesuai ekspektasi mereka. “Ogah, aku udah punya suami sendiri. Satu aja udah cukup!”


“Gue tau masalahnya!” Om Jaka yang dari tadi cuman diem buka suara. “Ni temen-temen elu yang tampangnya kayak tukang ketok megic semua nih kayaknya salah paham deh.” Om Jaka melihat Milen cs bergantian. “Elu pada pasti ngirain si Via cem-ceman gue kan?”


“Selingkuhan!” Ralat Milen, “Cem-ceman apaan? Dasar Om Om, bahasanya tua banget!” Ketus Milen.


“Heh, kamu jangan sembarangan ya! Ngatain suami saya tua! Muka kamu tuh yang tua keriput butut, makanya didempul tebel banget kayak gitu!” Denaya nggak terima.


Milen sontak mingkem, Via cekikikan melihat Dena emosi. Bumil emang paling sensitif ya, maklumin.


“Udah Han, udah.” Om Jaka menenangkan istrinya.


“Nggak bisa, Beb. Mereka kurang ajar banget! Mulut mereka kudu diulek pake ini!” Denaya mencopot sebelah heelsnya.


“Eeh, Dena.. udah..udah ..” Via coba menahan tangan Denaya, sementara Milen cs pucat ketakutan.


“Denger ya kalian. Saya laporkan kalian sama bos kalian nanti biar dipecat! Semena-mena aja ngatain suami saya! Dia ini salah satu pemegang sama di perusaahan bos kalian tau!” Denaya menunjuk-nunjuk muka Milen Cs pake heelsnya. “Dan satu lagi, Via ini keponakannya suami saya, tau kalian!”


DOENG!


Milen cs kaget bukan kepalang. Belum reda dari ketakutannya yang hampir saja bibir mereka diulek sama heelsnya denaya, kini fakta mengejutkan juga harus diterima mereka.


“Po-ponakan?” Milen terbata tak percaya.


“Elo sih, sok yakin. Malu sendiri kan jadinya?” Bisik Cila menyenggol lengan Milen.


“Ya mana gue tau?” Milen berbisik juga.


“Kenapa bisik-bisik? Sini maju kalian satu-satu? Saya lagi hamil ngidam pingin ngulek mulut orang pake ini!” Ujar Denaya kembali menunjukkan sebelah heelsnya.


“E-emh… ma-maaf….” Milen gugup campur takut campur malu sedangkan Vony dan Cila tak berani buka suara.


“Sayang, dicariin ternyata kamu disini?” Mirza datang menghampiri. “Om Jaka, Dena? Kalian juga diundang ya? Kok tadi nggak ketemu ya?” Sapa Mirza pada Om Jaka dan Denya.


“Iye, gue duduk di depan sono!” Sahut Om jaka.


“Eh, dia kenapa Om? Kok cemberut gitu?” Mirza melihat raut wajah Denaya yang manyun.


Om Jaka cuman senyum-senyum.


“Sayang, Dena kenapa? Mirza berganti pada istrinya.


“Ekhem. Len, buat kamu dan duo solmetmu ini ketahui ya. Kenalin, ini Mas Mirza suami aku.” Via malah memperkenalkan Mirza pada Milen cs yang tampak masih diliputi ketakutan.


“Suami?” Milen cs kompak shock.


“Iye, suaminya. mangkanya jangan asal ngejeplak aja lu pada punya bacot! Modal sirik doang sih, jadi malu sendiri kan?” Sahut Om Jaka kesal pada Milen cs.


“Ini peringatan ya, kalo kalian punya mulut nggak dijaga, saya bakalan bener-bener minta kalian dipecat!” Ancam Denaya.


“Maafkan Mbak, kita beneran nggak tau…” Ucap Milen lemah tak berani menatap Denaya.


“Udah yuk Beb, kita kesana ja. Kasihan dede bayinya kalo kelamaan disini, ntar mukanya jelek kaya tiga orang ini.” Denaya menggandeng lengan Om jaka dan pergi menetap Milen Cs sengit setelah kembali memakai heelsnya.


“Semoga itu jadi pelajaran ya buat kalian. Ingat, Mulutmu harimaumu.” Ucap Via yang kemudian juga pergi bersama Mirza.


Tinggallah Milen cs yang nelangsa merutuki kebodohan diri mereka sendiri. Setelah ini mereka nggak akan punya muka lagi buat selalu membuli Via.


❤️❤️❤️❤️❤️


Halo Kak, maaf ya kalo acak-acakan. Othor buru-buru nih sempetin up disela waktu persiapan Idul Fitri.😊😊😊


Mohon maaf lahir batin ya apabila othor ada kesalahan.


Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 H buat pembaca setia dan rekan sesama othor yang merayakan. 🙏🙏🙏❤️❤️❤️


Semoga umur kita dipanjangkan dan diberi kesehatan agar bisa bertemu kembali dengan Ramadha tahun depan. Aamiin 🤲🤲

__ADS_1


Luv U all


🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2