
Mirza tampak sudah selesai dengan kancing kemejanya, segera ia sambar tas ransel seraya menjinjing sepatu menuju ruang tengah. Via menyeduh segelas susu coklat menikmatinya dengan roti selai kacang, padahal seporsi soto ayam lengkap dengan sate telor puyuh dan teh anget baru saja sampai di lambungnya.
“Sayang, Mas pergi dulu ya.” Menghampiri sang istri.
Meraih punggung tangan suami untuk menciumnya. “Iya Mas, hati-hati ya.”
Cup!
Kecupan singkat di kening Via sebagai jawabannya, lantas merogoh saku tas. “Lho, ke mana ya?” Gumam Mirza tak menemukan yang dicarinya di sana. Ia cari di seiisi tas ranselnya.
“Cari apa, Mas?”
“Kunci mobil, Sayang.” Menuju kamar mencarinya disana lalu balik lagi setelah tak menemukannya. “Perasaan kemarin Mas taroh dalam tas.”
“Mas lupa naroh mungkin.” Beranjak menyapu seisi ruang tengah dengan Mirza mengekorinya. “Nggak ada Mas.”
“Iya, dimana ya Mas narohnya? Biasanya langsung Mas masukin tas.” Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba mencari di ruang tamu tapi nihil.
“Mas, udah hampir jam 8.”
Ikut melihat pada jam dinding. “Hem, ya udah deh naik motor aja.” Menyambar kunci motor di samping TV.
“Nanti aku cariin kuncinya.” Via mengantar suaminya ke dapan.
Walau masih diliputi tanda tanya akhirnya Mirza pergi juga, Via melepasnya dengan senyuman lantas menuju kamar untuk mengganti daster baby dollnya.
“Maafin aku, Mas.” Gumamnya meraih kunci mobil dari dalam laci lemari pakaian.
Walau tanpa meminta ijin sang suami, Via nekad akan ke rumah Bu Een. Dia yakin jika mengatakannya pada Mirza pasti tak akan diijinkan. Via merasa perlu ke sana untuk menegaskan sesuatu. Hatinya memang merasakan sepercik perasaan bersalah pada si ibu tua itu, namun untuk memberikan restu agar suaminya menikah lagi tidak akan pernah dia lakukan. Sampai kapanpun.
CKIIT
SREET
BRUK
Via menginjak pedal rem setengah panik ketika sebuah sepeda motor melintas begitu saja di depannya. Kemudian terdengar suara jatuh. Gegas Via keluar mobil dengan was-was. Meski ia melajukan mobilnya dengan pelan karena masih di lingkungan komplek perumahannya namun ia tetap khawatir sebab si pengendara sepeda motor yang teryata seorang perempuan itu duduk tertunduk sambil memegangi lututnya.
“Mbak, nggak papa?” Rona penuh kekhawatiran terpancar dari wajah cantik Via, merasa bersalah karena tadi sempat melamun sehingga tak menyadari ada sepeda motor yang keluar dari gang.
“Emh, Sssh …” Perempuan itu mengangkat wajahnya dengan menahan sakit, lutut kanannya berdarah.
“Mbak, maafin aku ya? aku nggak liat tadi-“
“Nggak Mbak, aku yang salah kok motong jalan nggak tengak-tengok dulu.” Perempuan itu menggeleng, ia juga menyadari kesalahannya.
Via melihat sebuah sepeda motor tua tergeletak di samping perempuan itu lalu bermaksud membangunkannya. “Nggak usah Mbak.” Sergah si perempuan karena melihat perut Via yang mulai membuncit ia tak tega. “Biar aku aja.” Bangkit dengan sedikit terpincang.
“Mbak aku obatin dulu ya.” Via melihat sekeliling yang tumben sepi, biasanya pagi gini ramai di sekitaran komplek.
“Nggak usah, aku lagi buru-buru.” Berusaha membangunkan sepeda motornya.
“Motornya ada yang rusak nggak? Aku benerin sekalian ya.” Via betul-betul merasa tak enak sebab walau bagaimana pun juga perempuan di depannya ini nampak menolak keras pertolongannya tak seperti korban-korban kecelakaan yang selalu ngotot meminta ganti rugi.
“Nggak ada Mbak, untung tadi Mbaknya juga nggak ngebut.”
“Via, namaku Via.” Via mengulurkan tangannya. “Aku tinggal di blok B1 nomer 15.”
“Aku Chelsie. Panggil aku Chlesie aja, nggak usah pake Mbak.” Sambut perempuan muda itu dengan senyuman walau masih sambil menahan sakit.
“Kamu tinggal di komplek ini juga?” Via merasa perlu mengenal lebih lanjut korban kecelakaan mobilnya itu.
“Nggak, tadi aku baru dari tempat Kakak.”
“Oh …” Via mengangguk, lantas ia melihat siku kanan Chelsie juga terluka. “Ya ampun, Chel siku kamu juga berdarah.” Kaget Via.
Chlesie yang nampaknya juga tak tahu agak kaget melihatnya.
“Aku harus obatin kamu. Ayok kita ke rumah sakit sekarang.”
“Nggak usah Mbak Via.” Lagi-lagi Chelsie menolak. “Beneran aku nggak papa.” Mengelap dengan tisu dari tas slempangnya.
Via membuka dompetnya merasa tak tega pada Chelsie, dia perempuan muda yang baik dan tak mau merepotkan. “Ya udah, tolong kamu terima ini ya.” Memberikan beberapa lebar uang pda Chelsie secara paksa.
“Nggak usah, Mbak.” Chelsie kekeh tak mau menerimanya. “Ini juga salahku.”
“Chelsie tolong jangan menolak …”
“Via?” Sapa seseorang laki-laki yang sedang melintas dan langsung menghentikan motornya begitu melihat Via. “Ada apa ini?” Lanjutnya penuh rasa ingin tahu.
“Via agak surprise melihat siapa yang datang. “Danar, aku tadi nggak sengaja nabrak dia-“
“Nggak kok, aku yang salah main nyelonong aja.” Sambung Chelsie.
“Dia terluka, lutut sama sikunya berdarah tapi nggak mau aku bawa ke rumah sakit.” Raut penyesalan pada wajah Via.
“Aku nggak papa, ini cuman luka kecil aja.”
Danar segera mengerti apa yang terjadi sebenarnya, pantas saja dari tadi dia amati aksi gontok-gontokan antara kedua perempuan ini rupanya karena masing-masing merasa bersalah, bukan karena saling menyalahkan.
“Ehm, gini aja kita bawa dia ke warung depan komplek sana. Kita perban dan bersihkan lukanya disana, soalnya takut infeksi.” Usul Danar memberikan jalan tengah.
“Iya itu kayaknya lebih baik.” Via setuju.
“Tapi aku-“
“Chelsie, please.” Via memohon yang langsung membuat Chlesie tak kuasa menolak. “Kamu naik mobil sama aku aja.”
“Motor aku nggak kenapa-napa kok, Mbak.”
“Motor kamu biar aku yang bawa.” Danar langsung mengambil alih sehingga lagi-lagi Chelsie tak bisa membantah.
“Tapi motor kamu Danar?”
“Biarin disini aja, nanti aku bilang Sapto satpam komplek buat ngambil.” Ucap Danar.
Via mengangguk kemudian mengajak Chelsie segera masuk mobil dan mengikuti Danar dari belakang. Sepajang perjalanan Chelsie tak henti-hentinya membatin, baru liat dia ada orang kaya cantik dan baik hati seperti Via. Ia yakin jika bukan Via pasti sudah menyalahkannya atau bahkan mengupatnya habis-habisan karena motong jalan serampangan. Chelsie tersenyum.
“Kenapa Chel, kok senyum-senyum?” Tanya Via yang menyadari Chelsie senyum sendirian.
“Eh, nggak papa Mbak,”malu karena kepergok. “Makasih ya, Mbak Via sama masnya baik banget. Nggak banyak lho orang kaya yang baik hati seperti kalian. Apalagi sama orang kecil macam aku.” Lirih Chelsie di akhir kalimatnya.
“Ah, kamu terlalu mendramatisir.” Via balas tersenyum.
__ADS_1
“Oya, Mbak Via lagi hamil ya?” Chlesie melihat pada perut Via yang agak gendut.
“Iya, jalan 5 bulan nih.” Via mengusap perut dengan tengan kirinya.
“Pasti nanti anaknya kalo lahir cewek cantik kayak ibunya, kalo cowok ganteng kayak ayahnya.” Ucap Chelsie.
“Bisa aja kamu.” Via merasa Chelsie juga cewek yang baik, dia supel dan periang.
Danar meghentikan motor Chlesie di depan sebuah warung depan komplek. Ia terlihat berbicara dengan ibu pemilik warung yang sepertinya sudah sangat akrab dengannya. Via dan Chelsie segera turun menghampiri. Ibu warung membawakan kotak P3K.
“Biar aku aja.” Via mengambil kotak P3K dari tangan Danar.
“Lukanya dicuci dulu, Vi.”
“Aku bisa sendiri kok.” Chelsie duduk di bangku depan warung, Via dan Danar mengikuti. Meski sempat meringis sebentar karena cairan pembersih luka namun Chlesie melanjutkan juga memasang perban di lututnya.
“Biar aku bantu.” Dengan cekatan Via kini membantu memasang plester pada siku kanan Chelsie karena Chelsie agak kesusahan. “Nah, udah beres.”
Ibu pemilik warung muncul lagi denagn 3 gelas teh hangat untuk mereka. “Mas Danar, tadi gimana kejadiannya sih kok bisa sampe nabrak begitu?” Tanya ibu pemilik warung.
“Via lagi meleng kayaknya Bu.” Seloroh Danar melihat pada Via di sampingnya.
“Makanya Mbak Via jangan ngelamun aja dong mikirin ayang mbeb.” Sambung ibu pemilik warung yang disambut tawa serempak dari mereka.
“Mbak Via sama Mas Danar emang pasangan yang serasi banget ya? Satunya cantik satunya genteng, betul-betul suami istri yang cocok, sama-sama baik hati lagi.”
Kalimat yang meluncur dari bibir Chelsie sukses membuat Via yang hendak meraih cangkir tehnya melongo dan sejenak saling pandang dengan Danar.Entah darimana Chelsie bisa menyimpulkan seperti itu.
“Saya nggak ikut-ikut ya, permisi.” Ibu pemilik warung lebih memilih ngacir masuk kembali ke dalam warungnya.
“Ekhem.” Danar berdehem untuk memecah kecanggungan yang sempat terjadi. “Kami Cuma teman.”
Kali ini Chelsie yang melongo, pipinya sontak memerah antara malu dan merasa bersalah. “Maaf, aku kira-“ tak berani melanjutkan kalimatnya.
“Oya, kakak kamu di blok berapa? Katanya tinggal di komplek ini juga?” Via mengalihkan topik.
“Di blok F4 nomor 16, Mbak.”
“Siapa nama kakak kamu, kali aja aku kenal?” Danar ikut penasaran.
“Pasti nggak bakalan kenal, namanya Irfan, dia baru pindah sama istrinya kemarin.”
Danar dan Via kompakan mengangguk, mereka menikmati teh hangat sebelum akhirnya Chelsie pamit duluan karena ada hal yang harus segera dikerjakan.
“Jangan lupa mampir ke rumahku ya nanti.” Ucap Via. “Oya, nomor HP kamu berapa Chel?” Via nampaknya benar-benar menyukai Chelsie meski mereka baru bertemu tapi langsung akrab.
Chlesie menyebutkan nomor ponselnya lantas segera pergi setelah melambaikan tangan tanda perpisahan pada keduanya.
“Gadis yang baik.” Via memandangi Chelsie dan motornya yang semakin menjauh.
“Emh, kamu masih mau disini atau-?” Danar bertanya sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Oh iya, tadi aku mau pergi ada urusan.” Via meraih tasnya. “Kamu sendiri tadi mau kemana?”
“Mau ke kedai.”
“Oh ya udah, aku duluan ya. makasih udah bantuin aku.”
Danar mengangguk. “Hati-hati ya.”
“Oya, aku belum hubungi Sapto.” Merogoh saku celananya, kanan kiri zonk semua. “Apa aku lupa nggak bawa HP ya?” Mengingat sebentar lantas menepuk jidatnya sendiri. “Hem, ketinggalan di kamar.”
“Aku anterin ambil motor ke tempat yang tadi aja gimana?” Via berinisiatif.
“Oke, boleh.” Danar mengikuti Via setelah membayar teh pada ibu pemilik warung. “Kamu sibuk apa Vi, sekarang?” Danar membuka obrolan dalam perjalanan.
“Hem, sibuk apa ya? Nggak ada, paling cuman berkebun, makan terus tidur.” Via tersenyum.
“Apa nggak bosen?” Danar melirik Via yang fokus di balik kemudianya.
“Bosen sih, tapi mau gimana lagi? Aku baru dibolehin kerja lagi sama Mas Mirza kalo anak kami udah lahir nanti.” Papar Via tanpa melihat wajah Danar.
“Heem, memang benar seperti itu. kamu lebih baik fokus sama kehamilan kamu dulu, biar kamu dan bayi kamu juga sehat.”
Via mengangguk, tak lama kemudian mereka sampai di tempat yang dituju, motor Danar masih disana.
“Makasih ya.” Ucap Danar sebelum turun.
“Aku yang harusnya makasih, kamu tadi udah bantu aku sama Chelsie.”
“Sama-sama makasih kalo gitu.” Danar membuka pintu mobil. “Kalo kamu bosan main-mainlah ke rumah, papa punya bibit sayuran baru.”
“Oya?”
“Heem, papa pasti seneng banget kalo kamu berkunjung.”
“Insya Allah nanti main, salam buat papa kamu ya.”
Danar mengangguk lantas segera turun, Via berlalu meninggalkan kesan mendalam di hati Danar.
“Ya Tuhan, kenapa aku tadi nyuruh dia datang ke rumah?” Gumam Danar menyesali ucapannya barusan.
Sepanjang perjalanan Via tak henti mengucap syukur karena kecelakaan yang dialaminya dengan Chelsie tak berakibat buruk. Diam-diam Via merasa menyesal karena telah pergi tanpa seiijin suaminya. Mungkin ini teguran Tuhan karena perbuatannya itu, namun untuk kembali ke rumah lagi Via juga tak mau karena sudah hampir setengah jalan.
Di rumah Bu Een,
Sofi baru bangun dari tidurnya kerena mencium aroma wangi nasi goreng. Cacing-cacing dalam perutnya seketika berkokok. Sofi keluar dan melihat Bu Een tengah menyantap sepiring nasi goreng sambil menonton TV.
“Ibu masakin buat aku juga kan?” Tanya Sofi dengan pedenya.
Bu Een menoleh, “enak aja! Emangnya siapa kamu?” Ucapnya dengan wajah jutek.
“Kan aku udah bayar sewa selama tinggal disini? Masa nggak dapet makan?”
“Masak sendiri! Emangnya kamu pikir ini di hotel?” Bu Een segera melahap nasgornya dengan rakus.
Setengah jengkel Sofi melangkah ke dapur, dilihatnya masih ada nasi di atas meja tapi dia ragu untuk memasak.
“Jam segini dimana ada yang jual nasi goreng?” Sofi mengusap perut buncitnya seolah bayi dalam kandungannya juga menginginkan nasi goreng. Gegas Sofi keluar rumah, melongok ke jalan berharap ada yang jual nasi goreng tapi malah justru Romlah yang nongol.
“Eh, Bu!” Panggil Romlah. “Dimana ya ada yang jual nasi goreng?”
Romlah menghentikan langkahnya menatap Sofi penuh keheranan. “Mbak siapa ya, kok nanya-nanya saya? Emangnya kita pernah kenal?” si Romlah sok kecakepan.
__ADS_1
“Aku tanya yang jual nasi goreng dimana, kenapa situ malah kepedean banget sih?” Kesal Sofi.
Memandangi Sofi dari ujung rambut sampe ujung jempol kaki. Meski Sofi baru bangun tidur tapi kalo orang dasarnya cakep mah tetep aja cakep.
“Oh, Mbak ini yang dulu mau ngerebut Mas Mirza dari Mbak Via kan ya? Kok bisa ada disini lagi sih? Itu hamil anak siapa yang di perut? Bukan anak Mas Mirza kan?” Romlah yang tersadar malah memberondong Sofi dengan pertanyaan.
“Kepo banget sih?” Semprot Sofi jengkel.
“E bukan gitu, di kampung ini soalnya anti pelakor ya! jangan sampe saya panggilin anggota IWANKOR kampung sini buat ngusir Mbaknya!”
Sofi tersentak, dia ingat ketika diserbu para emak member IWANKOR di kampung Via waktu nekad tinggal di rumah Mirza. (yang belum tau baca Bab IWANKOR/ikatan wanita anti pelakor, ya).
“Eh, nggak usah repot-repot! Aku udah insaf kok, aku kesini cuman lagi main nengokin Bu Een aja.” Sofi rada khawatir juga sama ancaman Romlah.
“Terus itu anak siapa?” Romlah masih penasaran menunjuk perut Sofi.
“Anak aku sama suami aku lah!”
“Oh, syukur deh.” Romlah bernafas lega. “Eh, apa tadi? Nanya tukang nasi goreng ya? mana ada jam segini, ntar tunggu agak maleman biasanya suka ada yang lewat, atau ke pasar kecamatan ada yang jual juga disana.” Cerocos Romlah.
Sofi tempak kecewa, dia elus perut buncitnya dengan mata sendu.
“Bayinya kepingin nasi goreng ya?” Romlah tetiba sok perhatian. “Saya bisa bikinin kok.”
Sofi langsung tersenyum lebar membelalakkan mata penuh kegirangan. “Beneran?”
Romlah mengangguk semangat. “Asal harganya cocok!”
“Aku bayar, tenang aja.” Sambut Sofi bahagia. “Ayok masuk, di dapur udah ada nasinya.” Ajak Sofi. “Tapi masakannya enak kan?”
“Oh, pasti dong! Saya ini juara master chef season 215 lho.” Romlah menepuk dada bangga. “Saya wanita multi talenta. Jago masak, rajin beberes dan idaman setiap pria.”
“Bagus dong kalo gitu?” Sofi makin semangat.
“Emang bagus. Saya dulu kembang desa, semua pria memperebutkan saya.” Romlah makin jumawa tak peduli bodinya yang melar kiri kanan atas bawah tak beraturan.
“Bukan itu, maksud aku kalo kamu bisa beberes juga berarti bisa sekalian bantuin aku selama tinggal disini.” Ralat Sofi.
“Oh,, Mbaknya lagi nyari asisten?”
Sofi cepat mengangguk, ia pikir nggak akan susah-susah ngerjain semua pekerjaan rumah lagi kalo ada orang yang bisa disuruh-suruh.
“Ok, saya bisa kok. Asal bayarannya cocok!” Kembali Romlah tersenyum.
“200 ribu sehari, gimana?”
“Deal!” Seru Romlah bersorak penuh kemenangan tanpa perlawanan. Jaman sekarang nyari kerjaan susah, uang 200 ribu sehari mau nyari dimana? 200x30 hari, udah berapa? Romlah membayangkan uang yang akan diterimanya nanti.
“Ya udah mulai hari ini kamu kerja sama aku. Masak, nyuci, beres-beres dari pagi sampe sore.”
“Beres, Nyonya.” Romlah langsung mengganti panggilannya buat Sofi.
Romlah segera memasak nasi goreng untuk Sofi sementara Sofi kembali ke kamar untuk mandi. Bu Een yang belum mengetahui kehadiran Romlah di rumahnya kaget ketika keluar dari kamar menuju dapur.
“Heh, Romlah! Ngapain kamu di rumah saya? Mau maling ya?” Sembur Bu Een galak.
“Eh, Bu Endang! Ini saya lagi bikinin nasi goreng buat majikan saya.” Romlah memindahkan nasi goreng ke dalam piring.
“Udah mateng, Rom?” Sofi muncul dengan handuk masih melilit di kepalanya.
“Udah, Nyah. Ini nasi goreng spesial buat Nyonya.” Romlah menghidangkannya di atas meja makan.
“Makasih ya. sekarang kamu ke kamar depan, ambil semua baju kotor aku buat dicuci.”
“Siap, Nyah!”
“Tunggu, tunggu!” Sergah Bu Een. “Kayaknya ada yang salah disini?” Menatap Sofi dan Romlah bergantian. “Maksud kamu majikan kamu itu dia?” Menunjuk Sofi.
“Iya” Sahut Romlah.
“Nggak bisa! Disini hanya saya yang boleh jadi nyonya! Lagi pula sejak kapan kamu kerja sama dia?”
“Sejak hari inilah, kenapa emangnya?” Tantang Romlah.
“Nggak bisa, ini kan rumah saya? Kenapa kamu malah kerja sama dia?” Bu Een masih nggak terima.
“Ya bisa aja lah, kan Nyonya saya yang gaji saya!” Sahut Romlah sementara Sofi hanya nyimak sambil menikmati nasi gorengnya yang rasanya emang beneran enak. Nggak nyangka juga dia si Romlah jago masak.
“Kalo gitu kamu sekalian urusin toko saya!”
“Ogah! Nyonya saya bukan Bu Een!” Bantah Romlah mentah-mentah. “Kalo Bu Een mau saya bantuin di toko juga berarti harus bayar saya lebih.”
“Sofi!” Seru Bu Een. “Bayarin dia sekalian buat jaga toko!”
“Enak aja, toko itu bukan urusan aku!” Sofi cuek menghabiskan sisa nasi gorengnya.
“Kalo gitu kamu angkat kaki sekarang juga dari sini!”
“Uhuk … uhuk ….!” Sofi tersedak tiba-tiba. Antara jengkel dan bingung menguasai hatinya. Kalo dia beneran harus pergi bisa gawat. Bisa-bisa tak ada yang melindunginya kalau sampe Alatas menemukan keberadaannya. Sementara kalo di rumah Bu Een kan setidaknya dia merasa aman karena Bu Een pasti tak akan membiarkannya begitu saja jika sampai orang-orang suruhan Alatas atau suaminya menyakitinya.
“Oke, Rom. Aku tambahin 100 ribu deh!” Sofi terpaksa ngalah.
“Sip! Tapi cuman sampe jam 4 sore tutup!”
“Kayak orang kerja kantoran aja kamu! Blagu bener!” Kesal Bu Een.
“Kalo nggak mau ya udah, saya kerja sama nyonya saya aja!”
“Terserah kamu deh!” Bu Een pasrah. “Setelah ini cepet buka tokonya, saya mau pergi dulu!” Bu Een ngeloyor pergi.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hai, maaf ya baru up 🙏🙏
Kerjaan lagi banyak banget, sehari full nggak bisa nyuri-byuri buka NT barang sebentar aja ampe sore. Baru bisa nulis kalo udah pulang ke rumah. Moga aja masih pada setia nggak pada kabur ya…
😂😂😂
Maafkan kalo banyak typo ya…❤️
Likenya jangan lupa😊
Komen juga dong🤩
__ADS_1
Vote mah kalo yang sudi aja😆
Salamm sayang buat semuanya, I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘