TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
161 #BERBUKA PUASA


__ADS_3

JENGJENG


Sesesok wajah rupawan dengan senyum manis berlesung pipi menyambut Via di depan pintu ruang tamu.


“Mas Mirza?” Via hampir saja tak mempercayai bahwa laki-laki tegap yang berdiri tepat di depannya itu betul suaminya.


“Assalamualaikum, Sayang.” Sapa Mirza langsung mau meluk mahluk cantik di hadapannya yang sudah sangat ia rindukan selama sekian purnama itu.


“Tunggu!” Via mudur satu langkah. “Kamu beneran mas Mirza?” Via menatap penuh curiga.


“Iya. Ini aku, Sayang. Masa kamu lupa sama suamimu sendiri?” Mirza mendekat meyakinkan.


“Stop! Berdiri disitu!”


“Livia sayang, kamu kenapa sih?” Mirza membuka kacamata hitamnya.


“Kamu bukan mahluk jadi-jadian kan?”


Mirza terkekeh melihat ekspresi istrinya yang lebih dari sekedar waspada.


“Aku punya cukup alasan kenapa nggak yakin kalo kamu bukan Mas Mirza.” Sambung Via seraya melihat penampilan suaminya dari atas sampai bawah meyakinkan bahwa tak ada satu incipun yang luput dari penglihatannya. “Pertama, suamiku bilang dia bakal nyampe stasiun sekitar jam 7 malam. Kedua, suamiku nggak brewokan segitu lebatnya kayak kamu, mana rambutnya gondrong lagi. Kamu pasti siluman gondoruwo kan?”


“Ya ampun, Sayang! Kamu amnesia sama suamimu sendiri?” Mirza menepok jidatnya. “Masa kamu nggak ngenalin suara aku? Dan ini … senyuman manis suamimu ini, cuman aku yang punya.” Mirza menunjukkan lensung pipinya. “Aku emang sengaja bilang nyampe jam 7 dan minta dijemput, cuman buat ngerjain kamu aja Sayang. Aku mau bikin surprise!” Mirza tersenyum lebar.


Via tak percaya begitu saja. Dia masih mematung di tempatnya berdiri.


“Oh, soal ini?” Mirza membelai jenggotnya. “Aku juga sengaja nggak bercukur, biar bisa bikin kamu geli-geli manja.” Mirza mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan istrinya.


Deg!


Via mencium arom maskulin yang begitu akrab di sel-sel syarafnya.


“Kamu beneran Mas Mirza suamiku?” Lirih Via dengan mata yang berkaca-kaca seketika.


“Iya Sayang, dari tadi juga aku bilang begitu.”


Bruuk…!!


Via menghambur ke pelukan suaminya. “Huaaa….. Mas, aku kangen ….. kangen banget …..!” Via menumpahkan tangis harunya, bahunya sampai berguncang-guncang.


Mirza membelai rambut panjang istri cantiknya itu seraya menciumi pucuk kepalanya. “Mas juga kangen banget sama kamu, Sayang.”


“Mas jahat! Kenapa pake ngerjain aku? Aku udah hampir berangkkat jemput kamu tau! Untung kita nggak selisihan di jalan, kamu jahat! kurang kerjaan!” Via memukul-mukul kecil dada bidang suaminya.


Mirza mengurai pelukannya perlahan, diusapnya air ata yang mengalir deras di pipi mulus istri tercintanya itu. “Tapi kamu suka kan Sayang kejutannya?”


“Suka, tapi nggak dengan jenggot kamu ini.” Via menarik gemas jenggot suaminya.


“Aww.... sakit, sayang!”


“Cukur! Aku nggak suka yang terlalu lebat. Itu nggak bikin aku geli malah bikin aku merinding.” Via mengerucutan bibirnya.


“Iya, besok aku cukur Sayang. Sekarang kita masuk yuk, banyak nyamuk nakal nih.” Mirza merangkul pinggang istrinya mengajaknya masuk, tak ketinggalan menggeret koper dan menutup pintu.


“Besok pagi-pagi banget kita ke barber shop ya, Mas. Sekalian potong rambutnya juga.” Ucap Via ketika sudah sampai kamar.


“Rambutnya jangan dong, aku lagi kepingin gondrong, Sayang”


Via mengamati suaminya sebentar. “Oke, tapi kalo aku udah bosen liatnya nanti cukur ya, Mas?”


Mirza tersenyum mendekati istrinya dan mendaratkan ciuman setengah basah setengah kering membuat Via terbelalak kaget. (Ettdah… kayak gimana tuh bentuknya ya ciuman model begitu? 😆😆)


“Mas! Ih ….” Via mendorong dada suaminya. “Mandi dulu sana.” Pipi Via merona merah kuning hijau.


“Yess! berarti habis mandi boleh ya cium lagi?” Mirza mulai melancarkan kejahilannya.


Via hanya mengulum senyum.


“Aku anggap itu iya.” Mirza mencubit hidung istrinya gemas. “Abis cium boleh minta yang lainnya juga kan?” Seakan belum puas, Mirza terus menggoa Via.

__ADS_1


“Habis mandi makan dulu lah, Mas.”


“Aku nggak mau makan, aku maunya cuma kamu Sayang.” Ucap Mirza dekat sekali dengan telinga Via membuat jantung Via berdebaran tak karuan.


“Mas bukannya capek ya? Istirahat aja dulu ….” Sahut Via lirih tak berani menatap kedua netra suaminya yang sepertinya sudah sangat lapar itu.


“Istirahatnya nanti aja sekalian abis buka puasa.”


“B-buka puasa?” Via jadi terbata saking deg-degannya.


Jemari Mirza membelai lembut wajah istrinya dengan sorot mata penuh kerinduan, jemari itu kini lalu turun menyapu leher dan …


“Mas, aku mau bikin minum dulu ya.” Via menghentikan aksi suaminya itu.


Mirza yang memahami kegugupan istrinya langsung mengulas tersenyum, ia semakin dibuat gemas dengan tingkah istrinya itu. “Oke, setelah itu tunggu Mas disini ya. Kita akan melewati beberapa ronde permainan, siapkan staminamu Sayang.” Mirza mengerling nakal. “Mas mandi dulu.”


Blam!


Pintu kamar mandi tertutup.


Via memegangi dadanya lantas menghirup oksigen banyak-banyak.


Ya ampun, gimana ini? Dia bilang akan melewati beberapa ronde permainan?


Via teringat kepulangan suaminya sebelum ini. Mereka betul-betul bertempur habis-habisan hingga keadaan ranjang porak poranda persis seperti baru diterjang gempa dan tsunami. (Yang penasaran, yuk kepoin di bab 3 🤭🤭)


-


-


-


Peretempuran mereka di bab ini othor skip ya 😁😁😁✌️✌️✌️


❤️❤️❤️❤️❤️


Kebahagiaan ternyata tengah dirasakan juga oleh Rumi. Malam ini Hanson langsung mengunjungi rumah Rumi dan menemui sang calon ayah mertua.


“Hanson Om, bukan Hansol.” Ralat Hanson.


“Yah, itu maksud saya.” Pak Joni membenahi duduknya, karena tulang belakangnya mulai terasa nyeri. “Seserius apa kamu terhadap anak saya?”


“Sanga serius, Om. Saya ingin melamarnya secara resmi dan ingin menjadikannya istri saya.” Jawab Hanson mantap.


Rumi yang mendengar penuturan laki-laki bule disampingnya itu seketika merasa tersipu, sebelumnya ia kira Hanson tak kan seserius ini ketika memaksa Rumi untuk mempertemukan ia pada papanya.


“Oke, kalau begitu kapan kamu akan menikahinya?” Tantang Pak Joni.


“Kapanpun Rumi siap.” Hanson melirik Rumi yang sedari tadi hanya menunduk, nggak biasa-biasanya dia alim begitu.


“Rumi, apa kamu mau menikah dengan dia?” Pak Joni gantian bertanya pada Rumi kini.


Perlahan Rumi mengangkat wajahnya, menatap sekilas pada Hanson yang terlihat sangat percaya diri. “Heum, tapi aku belum mau punya anak, Pah.” Cicit Rumi.


“Rumi, Papa tanya apa kamu mau nikah sama laki-laki bule ini, bukan tanya kapan kamu mau punya anak!” Tegas Pak Joni.


“I-iya Pah, Rumi mau tapi ….”


“Kalo mau nggak usah pake tapi. Soal anak itu urusan Tuhan!” Pak Joni gemas, ia hapal betul dengan perangai anaknya itu yang suka belok-belok tak karuan. “Oke, kalo gitu kalian nikah besok pagi.” Putus Pak Joni.


“Besok pagi?” Rumi dan Hanson hampir jantungan berjamaah.


“Papa nggak bisa gitu dong! Aku mau nikah tapi nggak besok pagi juga kali! Kita kan belum mempersiapkan surat-surat dan dokumen penting lainnya, Hanson kan bukan WNI. Lagipula pernikahan macam apa kalo dadakan besok pagi? Aku mau akad nikah dan resepsi yang mewah dan meriah, bukan akad nikah yang hanya sekedar di kantor KUA!” Cerocos Rumi yang diangguki Hanson.


Pak Joni terkekeh melihat reaksi Rumi yang menurutnya sangat lucu itu. “Santai dong, Papa cuma ngetes kalian aja kok!”


Rumi dan Hanson menghela nafas lega.


“Tapi Hansol, apa kamu muslim?”

__ADS_1


“Hanson Om, bukan Hansol.” Sekali lagi Hanson meralat lidah calon ayah mertuanya yang sepertinya selalu terpeleset saat menyebutkan namanya.


“Ya, Hansol ehh Hanson, apa kamu seorang muslim?” Ulang Pak Joni.


“Saya Katholik.”


“Kalau begitu silakan pikirkan lagi rencana meminang anak saya, karena saya bukan penganut pernikahan beda agama.” Tegas Pak Joni.


JLEB!


Hati rumi yang sempat dipenuhi bunga-bunga bemekaran mendadak kini bunga-bunga itu layu dan berguguran, hatinya rontok. Ia mencium aroma-aroma pertentangan yang dilancarkan Papanya.


“Nggak masalah Om, saya akan pindah agama.” Kalimat Hanson seketika membuat guguran bunga di hati Rumi seperti bersemi kembali.


“Oh, tidak semdah itu Ferguso.” Sanggah Pak Joni. “ Jangan kamu pikir setelah pindah agama, usrusanmu selesai. Kamu harus mempelajarinya terlebih dahulu, jangan terburu-buru pindah keyakinan, apalagi alasaannya hanya karena seorang wanita.”


“Papa, jangan memepersulit Hanson.” Potong Rumi. “Dia kan bisa belajar setelah menjadi mualaf.” Bela Rumi karena begitu khawatir Hanson akan keberatan dengan syarat dari papanya.


“No no no, Rumi. Pelajari dulu, baru jadi mualaf. Bukan mulaf dulu baru belajar. “


“Apa bedanya, pah? Papa hanya cari-cari alasan saja! Kalo gitu aku mau kawin lari aja sama Hanson!” Ancam Rumi jengkel.


“Silakan aja, emangnya kamu pikir nggak capek apa kawin sambil lari-lari? Lagipula penghulunya nggak bakalan mau diajak marathon!”


“Papa aku serius!” Teriak Rumi jengkel.


“Rumi, jangan berteriak di depan orang tuamu!” Tak disangka Hanson malah yang memperingatkan kelakuan Rumi yang tak sopan pada Papanya sendiri.


“Aku jengkel, Hanson! Kamu jangan iya-iya aja, masalah kamu itu berat tau! Kamu harus mempelajari agamaku terlebih dahulu, lalu kamu boleh menjadi seorang muslim.”


“Itu pun kalau dia mampu, kalu tidak ya wassalam.”


“Saya pasti mampu, Om. Saya yakin.” Sahut Hanson mantap.


Pak Joni menatap wajah pria bule di depannya itu, hati Pak Joni memang menangkap kesungguhan disana. “Tapi masih ada satu syarat lagi sebelum kamu resmi melamar Rumi.”


“Apa itu, Om?” Hanson sangat penasaran.


“Kamu harus disunat.” Pak Joni menggerakkan kedua jarinya seperti sedang menggunting sesuatu.


“Dikhitan maksudnya?” Hanson meyakinkan.


“Ya.” Angguk pak Joni.


“Oh, kalo itu saya sudah Om.”


“Benarkah?” Pak Joni tak percaya.


“Iya, karena keluarga saya paham khitan sangat penting untuk kesehatan. Jadi meskipun kami katholik, kami semua sudah dikhitan.”


“Kamu nggak bohong kan?” Pak Joni menyelidik.


“Nggak, saya nggak bohong kok Om. Saya beneran sudah dikhitan. Kalo nggak percaya tanya saja Rumi, dia udah pernah liat kok. Iya kan, Rumi?” Hanson melihat pada Rumi.


“Apa?” Kedua netra Pak Joni sontak membola. “Kamu udah pernah liat, Rumi?” Pak Joni kaget tak terkira.


“Eh, eum … ak-aku…. “ Rumi tergagap karena bingung mau bilang apa, nggak mungkin juga dia jujur sama Papanya kalo emang udah pernah liat pisang tanduknya si hanson.


Haduh, ni bule somplak kenapa lempeng banget sih jadi orang? Habis deh gue!


❤️❤️❤️❤️❤️


Halo Akak readers semuanya, maaf ya up nya pendek.


Terima kasih sudah membaca, like dan komen selalu ya biar othor makin semangat🙏🙏🙏🤩🤩🤩🤩


Feedback ke akak othor merayap alon-alon ya…😍😍😍😍


Jangan lupa dengerin juga terepaksa selingkuh versi audio booknya by adik Chen Ling.❤️

__ADS_1


❤️


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2