
Sejak pulang dari klinik, Via sangat dimanja oleh semua anggota keluarganya. Walau terlihat agak lebay, tapi Via tak bisa mengelak juga. Tia dan Bu Harni tengah menyiapan bubur sup di dapur, Riri mengupas aneka buah, sedangkan Ica memjit kaki tante kesayangannya dengan tangan mungilnya.
“Aaa…, buka mulutnya Mbak.” Perintah Riri mau menyuapkan buah jeruk yang baru saja dikupasnya.
“Nggak ah, kecut itu.” Tolak Via menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
“Ih, manis ini Mbak, kayak aku.” Sahut Riri dengan senyum lebarnya.
Via menggeleng. “Kulitnya aja ijo begitu, pasti asem rasanya.” Via belum apa-apa sudah memperlihatkan ekspresi masam.
“Hhm, nggak perrcaya. Nih aku makan, nyam .. nyam.. nyam…” Riri memasukkan jeruk ke mulutnya sendiri. “Ini namanya jeruk santang madu, biarpun kulitnya ijo dan bentuknya kecil-kecil begini tapi manis tau!” Riri menghabiskan sisa jeruk ditangannya.
Via tergoda juga untuk mencobanya.
“Wah iya, enak Ri. Manis ini.” Ucap Via. “Ica mau?” Via menawari keponakannya.
“Ica mau buah anggur.” Tunjuk Ica pada buah anggur di atas nakas.
“Oh, oke.” Riri mengambilkan buah anggur dan memberikannya pada Ica.
“Mbak mau apelnya juga dong, Ri.”
Oke, Tuan Putri.” Riri pun dengan sigap megambilkannya dan mau nyuapin Via lagi.
“Aku bisa makan sendiri.” Via mengambil potongan buah apel dari tangan Riri. “Hemm agak asem ya?”
“Tapi enak kok. Lagian biasanya kan orang yang lagi hamil suka yang asem-asem, Mbak?”
“Ya nggak semuanya juga kali.”
Tak lama Tia dan Bu Harni muncul dengan semangkuk bubur sup yang masih mengepul, aromanya wangi lezat gurih langsung bikin perut Via lapar.
“Ibu suapin ya, Vi.” Bu Harni menarik satu kursi duduk di dekat ranjang Via.
“Nggak usah, Bu. Lagian Ibu sama semuanya lebay banget deh. Aku kayak orang lagi sakit parah aja pake segininya apa-apa mau disuapin.” Protes Via.
Bu Harni mengusap-usap lengan Tia. “Dokter bilang kamu harus banyak istirahat, kandunganmu masih sangat muda. Jadi kamu harus dimanja.”
“Tuh, dengerin! Udah nggak usah protes, Mbak! Mumpung lagi hamil, orang hamil mah bebas. Lebih-lebihin anak sultan bebasnya. Semua keinginannya harus diturutin kalo nggak pingin anaknya ileran nanti!” Riri ikut ngomel.
Via hanya manyun.
“Bunda, Ica mau buburnya juga.” Celetuk Ica.
“Oh, Ica mau? Ya udah, yuk kita ke bawah.” Ajak Tia.
“Ibu sama Riri makan juga, sana. Aku bisa makan sendiri kok, beneran. Kalo terlalu lebay kayak gini aku malah nggak mau makan lho nanti.” Via setengan mengancam.
Bu Harni mengalah juga.
“Ya udah, Ibu taruh buburnya di sini ya. Biar agak dingin dulu, tapi nanti beneran di makan lho.” Pesan Bu Harni.
Via mengangguk.
TING TONG
Terdengar bunyi bel dari pintu depan.
“Biar aku aja.” Ujar Riri bangkit mendahului keluar kamar.
Pasti itu Mas Arya. Ini kan udah jamnya maksan siang. Kasian Mas Arya, pasti kelaperan tadi habis dari klinik langsung narik ojek. Batin Riri.
Tap tap tap
Riri semakin mendekati pintu ruang tamu.
JENGJENG!
Betapa kagetnya Riri setelah membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
Seorang laki-laki muda berperawakan tinggi besar, berkulit sawo kematengan dengan kumis dan jambang hampir di separuh wajahnya dan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung mirip paruh burung blekok.
“Cari siapa, ya?” Tanya Riri agak ragu sambil matanya menatap heran pada sosok yang baru pertama kali dilihatnya itu.
Yang ditanya malah tersenyum, lantas melepas kaca mata hitamnya. Laki-laki muda bertampang kearab-araban itu malah tersenyum makin lebar dan menatap Riri tak berkedip.
__ADS_1
“Maaf, Anda cari siapa ya?” Tegur Riri tegas karena merasa risih diliatin kayak gitu oleh pria asing yang tak dikenalnya.
“Oh, maaf. Maafkan saya, Nona.” Si Laki-laki muda yang tak Lain adalah Azad Zamzami Husein itu tersadar dari keterpesonaannya terhadap gadis imut nan menggemaskan di hadapannya.
“Saya mencari kakak saya.” Ucap Azad santai.
Kening Riri berkerut. Orang ini ngigau apa ya? Dateng-dateng bilang nyariin kakaknya?
“Anda yakin nggak salah alamat?” Riri memastikan.
“Nggak, saya ingat betul waktu itu mengantar kakak saya ke sini.” Sahut Azad pasti.
Riri memandangi Azad dari atas sampai bawah. Jika diperhatikan, tampang Azad memang terkesan menyeramkan dan galak seperti tampang orang arab-arab kebanyakan. Apalagi Azad lebih dominan seperti Tuan Husein yang keturunan campuran Arab India, jadi kulitnya lebih gosong. Berbeda dengan Sofi yang cantiknya menurun dari nyonya Husein yang blasteran Arab dan Turki, kulitnya putih dan wajahnya cantik khas Timur Tengah rada kebule-bulean.
Setelah memperhatikan Azad dari atas sampe bawah, Riri balik lagi memperhatikan Azad dari bawah sampai atas. Penampilannya yang rapih dan formal memberi kesan pada Riri kalau orang ini pasti datang dari jauh, Riri juga melongok pada mobil NDAHO YEZZ putih di halaman rumah yang ber-plat B. *Fi*x! Ini orang pasti datang dari Timor Leste! 😂😂🤭🤭
“Maaf, Nona.” Azad menyadarkan Riri yang sedang sibuk meneliti setiap detail dari dirinya. ”Apa kakak saya ada di dalam? Bisa Nona panggilkan? Tolong sampaikan Azad adiknya ingin bertemu.” Ungkap Azad sopan.
“Memangnya kakak Anda siapa?” Tanya Riri sedikit jengkel karena Azad main suruh-suruh aja.
“Sofia, nama kakak saya Sofia Alta Husein.”
Seketika Riri melototkan kedua biji matanya lebar-lebar demi mendengar siapa nama kakak laki-laki berkulit sawo kematengan di depannya itu.
“S – Sofi?” Desis Riri hampir tak percaya.
“Iya, Sofi nama panggilannya. Dan saya adiknya, Azad.” Azad mengulurkan tangannya dengan senyuman membingkai dibibirnya berharap gadis cantik imut nan menggemaskan di depannya itu menyambut uluran tangannya.
Reflex Riri langsung menyembunyikan tangan kanannya di balik punggungnya, dan melihat bergidik pada tangan Azad yang dienuhi bulu-bulu.
“Jadi Anda ini adiknya si pelakor itu?” Suara Riri agak meninggi.
Azad kaget dengan ucapan Riri. “Nona, saya hanya …”
“Hey, denger ya Tuan Takur! Sabaiknya Anda bawa jauh-jauh kakak Anda itu sekarang juga. Kehadirannya di sini cuman bikin runyam rumah tangga orang! Dan kalo Anda tanya dimana kakak Anda sekarang? Jawabnnya dia ada di kandang Gorila!” Ungkap Riri berapi-api.
“Nona, saya tanya baik-baik. Kenapa Anda bersikap seperti ini?” Azad tak mengira dengan respon Riri.
“Saya juga menjawab dengan cukup baik, Tuan Takur! Kalo nggak baik-baik, Anda sudah saya lempari panci, wajan dan perkakas dapur lainnya! Apa Anda mau saya lempar pake panci, hah?” Riri melotot galak sambil berkacak pinggang.
Azad hanya menggeleng sambil bengong masih tak habis pikir dengan Riri.
Bu Harni dan Tia yang mendengar teriakan Riri langsung datang tergopoh-gopoh.
“Riri, ada apa ini?” Tanya Bu Harni khawatir.
“Ini ada Tuan Takur nyariin kakaknya!” Sahut Riri sambil matanya tak beralih dari wajah Azad.
“Tuan Takur?” Ucap Bu Harni heran sambil ikutan ngeliatin Azad.
“Ini Tuan Takurnya?” Tia bertanya bego sambil memandangi Azad juga.
Lantas Bu Harni dan Tia saling pandang karena merasa baru pertama kali melihat si Tuan Takur.
“Iya, Tuan Takur Pratap Singh ini mencari kakaknya yang tak lain adalah si pelakor itu!” Ucap Riri sengit.
“APA?” Tanya Bu Harni dan Tia hampir berbarengan.
“Jadi si Takur ini adiknya si pelakor?” Bu Harni mulai emosi. “Bagus kamu datang ya, Takur! Cepat bawa pulang ke alamnya kakak kamu itu, kalo nggak pingin saya cincang-cincang jadi prekedel!"
Azad bergidik ngeri mendengarnya. Ia sama sekali tak menyangka orang-orang di rumah itu sedemikian membenci kakaknya.
“Tunggu apa lagi? Cepat pergi sana!” Usir Riri sekali lagi.
“Tapi … saya nggak tau di mana kandang gorilanya.” Ucap Azad bingung.
“Cari pake google map!” Jawab Riri ketus.
BLAM!
Lantas Riri langsung menutup pintu ruang tamu dengan kencang sampe bikin Azad terlonjak kaget. Untung aja jidatnya nggak kepentok pintu karena jaraknya yang memang masih aman di luar.
Riri, Bu Harni dan Tia mengurut dada merasa lega. Paling tidak sekarang ada keluarga si Sofi yang mencarinya.
“Siapa tadi yang datang, Ri?” Tanya Via dari depan kamarnya ketika mereka bertiga sudah sampai ruang tengah.
__ADS_1
“Bukan siapa-siapa.” Sahut Riri berjalan cuek menuju meja makan.
Via yang penasaran turun sambil membawa mangkuk buburnya yang sudah kandas.
“Tapi tadi kayak denger ribut-ribut aku, Mbak?” Via kali ini beralih pada Tia yang duduk di sofa kembali menyuapi Ica.
“Nggak kok, itu sales panci yang dateng. Dia maksa banget, makanya kami jadi kesel ngusir dia.” Sahut Tia asal.
“O.” bibir Via membulat.
Bu Harni naik ke kamarnya khawatir ditanya juga sama Via. Ketika melewati kamar Via, ia mendengar ponsel Via berbunyi. Ternyata itu dari Mirza.
“Vi, Mirza telpon nih.” Bu Harni kembali turun dan cepat memberikan ponsel pada Via.
Via tersenyum menerimanya.
“Ya, Halo Mas.” Sapa Via.
“Halo, sayang. Lama banget sih ngangkatnya?”
“Oh, ini aku lagi di bawah, tadi kebetulan ibu yang ambilin hpku.”
“Kamu sehat-sehat aja kan, sayang?” Tanya Mirza dengan nada khawatir.
“Iya, kenapa emangnya Mas?”
“Ya nggak, Mas kan cuman khawatir aja.” Tutur Mirza lega. “Oya, Mas nanti sore pulang lho, paling nyampe situ agak maleman.”
“Beneran, Mas?” Via tak percaya. “Kok cepet banget?”
“Medical chek up pertama udah beres. Nanti medical chek up lanjutan, minggu depan. Emangnya kenapa, kamu nggak seneng kalo Mas cepet pulang?”
“Ya seneng dong, Mas.”
“Ya udah, Mas mau makan dulu nih. Kamu udah makan belum, sayang?” Tanya Mirza perhatian.
“Udah, barusan aja Mas.”
“Om MIrza jangan lupa oleh-oleh!” Seru Ica.
Mirza tergelak mendengarnya. “Siap, Ica sayang!” Balas Mirza sambil berteriak juga.
“Ya udah, makan dulu sana Mas. Pulangnya nanti hati-hati ya.”
“Ok, sayang. Bye, love you.”
“Love you too.” Balas Via mengakhiri sambungan telepon.
Bu Harni bernapas lega karena Via nggak keceplosan soal kehamilannya pada Mirza.
Sementara itu mobil Azad Nampak berhenti di pinggil jalan. Ia tak tau mau kemana. Apa iya dia harus nayari kandang gorila beneran.
Huft! Azad mengusap wajahnya kasar.
“Dasar gadis galak!” Gerutu Azad mengingat perlakuan Riri padanya.
Tapi kemudian senyumnya merekah. Wajah Riri yang menggemaskan menurutnya menari-nari di pelupuk matanya. Azad mengingat ekspresi Riri ketika pertama kali membukakan pintu untuknya. Untuk sesaat Azad senyum-senyum sendiri. Ia benar-benar terkesan dengan pandangan pertamanya pada Riri. Bahkan Azad terkekeh kecil merasa lucu dengan sebutan Tuan Takur Pratap Singh yang ditujukan Riri untuk dirinya.
Tok tok tok
Tiba-tiba suara ketukan pada kaca jendela mobilnya membuyarkan angan indah Azad tentang Riri.
______________
Halo Kak ….😊😊
Telat lagi nih up nya, hehehe…. Kemaleman yaaa 😂😂
maafkan author ya Kak🙏🙏🌹🌹
Gimana nih, ada yang setuju kah Riri sama Tuan Takur? Ehh sama Azad? 😁😁😁🤭🤭🤭🤭
Let’s see on next chapter yaa😉😉😉
Malem ini segini dulu ya Kak, terima kasih udah selalu support author.🙏🙏❤️❤️❤️
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, rate 5 dan votenya juga yaa Kak😍😍😍
Luv u all🤗🤗😘😘