
Sudah beberapa malam ini Danar menginap di kedai, ia ingin menyendiri berusaha menghapus jejak galau yang masih mengendap hingga karatan dihatinya. Danar duduk di bangku kayu panjang dengan gitar akustiknya. Kedai sudah tutup sejak dari setengah jam yang lalu, Ari dan beberapa karyawan masih terlihat beberes. Diam-daim Ari mencuri pandang pada si bosnya yang tengah genjrang genjreng nggak jelas.
Bulan hampir purnama mengintip dari ranting pohon Ketapang di sebelah kamar Danar. Gumintang tak cukup banyak malam ini, mungkin karena sekarang adalah malam jumat. Aih, apa hubungannya malam jumat dengan banyaknya bintang di langit? Nggak ada! Danar beranjak dengan membawa cangkir kopinya yang sudah kosong.
“Mau tambah lagi Mas?” Ari menawari.
“Aku minta jahe hangat aja.” Danar memberikan cangkirnya.
“Boleh.” Ari menuju pantry, Danar masuk kamar mengambil jaketnya. Semakin malam udara memang semakin dingin, namun Danar masih belum mau masuk kamar untuk kelonan dengan bantal dan gulingnya.
“Ini Mas wedang jahenya.” Ari meletakkan minuman yang diminta sang bos.
“Ini beneran wedang jahe?” Danar agak heran karena melihat jahe yang teronggok di dasar gelasnya agak kehitaman,
“Iya, ini wedang jahe hangat Mas, sehangat pelukan mantan.” Seloroh Ari dengan senyum lebar yang kontan saja mendapat pelototan galak dari si bos. Ari segera kabur.
Danar menghirup wangi wedang jahenya sebelum menyeruputnya penuh khidmat. Aaah…, hangat sampai ke kerongkongan. Baru saja Danar hendak memetik lagi dawai-dawai gitarnya, Ari kembali menghampiri.
“Mas, malam ini aku boleh ikut nginep disini ya?” Tanya Ari yang sudah ditinggalkan temannya pulang.
“Tumben?” Danar menyetel senar gitarnya karena merasa sedikit ada yang fals.
“Besok pagi-pagi mau belanja, semua bahan udah minim. Kan mau week end Mas, kedai pasti rame, kita harus nyetok beberapa bahan.” Ari menjelaskan.
“Ya udah. Tapi tidurnya jangan ngorok ya! Aku tendang tidur di kolong nanti kalo ngorok.”
“Wah, kejam banget sih Mas Danar ini. Mentang-mentang lagi galau.”
“Udah cepet pergi tidur sana!” Usir Danar tak mau diganggu lagi.
Ari pun ngeloyor ke kamar namun tak lama keluar lagi karena lupa mematikan lampu-lampu di area out door kedai. Dentingan dawai gitar Danar terdengar kembali, namun Ari tak mendengarkan dengan jelas Danar nyanyi lagu apaan karena Danar memang hanya seperti orang menggumam atau bahkan kumur-kumur. Ari lanjut ke pantry karena tiba-tiba perutnya merasa lapar, ia membuat mie rebus.
……
🎶If I stand all alone,
will the shadow hide the color of my heart
blue for the tears, black for the night's fears
The star in the sky don't mean nothing to you, they're a mirror
I don't wanna talk about it,
how you broke my heart….🎶
🎵If I stay here just a little bit longer,
if I stay here, won't you listen to my heart, whoa, heart?
I don't wanna talk about it, how you broke my heart…..🎶
Danar menyenandungkan lagu lawas Rod Steward I don’t want talk about it dengan penuh penghayatan. Ari yang semula tak ngeh Danar nyanyi lagu apaan jadi ikutan baper begitu Danar mengulang-ulang bagian reff-nya. Padahal sih sebenernya dia kagak ngarti juga artinya apaan. Sedikit yang dia tau cuman kata-kata 🎵broke my heart ...🎶
"Hem, kayaknya beneran galau tuh Mas Danar. Patah hati katanya." Ari berbicara sendiri seraya menuang mie rebus ke dalam mangkuk dan membawanya keluar.
“Mas, mau mie rebus nggak?” Ari menyodorkan semangkuk mie rebus begitu Danar selesai dengan lagu galaunya.
Sontak kedua netra Danar terbelalak, tapi kali ini terpesona buka karena marah. Yoi, gimana nggak terpesona sama mie rebus yang ditawarkan Ari kalo penampilannya kayak gini.
Hayo ngaku, siapa yang udah ngiler duluan baru liat gambarnya doang? 😁🤤🤤
Apaa.....?
Biasa aja????
Ya udah deh, othor aja berarti yang ikut makan sama Mas Danar. 😂🤭
“Kok kamu bikin mienya dua sih?” Heran Danar seraya menerima mie rebus pemberian Ari yang begitu menggiurkan. “Kan aku tadi nggak minta dibuatin?” Danar mengaduk-aduk hati… ehh mengaduk-aduk mie rebusnya, aromanya wangi kecium sampe sini lho Mas….😆
“Ya iseng aja bikinin buat Mas Danar. Kalo nggak mau kan buat aku semua, hehe….” Ari nyengir duduk di sebelah Danar seraya mencicipi mie buatannya sendiri yang masih mengepul.
“Busyet, itu masih panas Ri! Mau main debus kamu?” Keget Danar yang melihat Ari sudah menyupakan mie rebus ke dalam mulutnya padahal masih panas.
“Laper banget Mas.” Sahut Ari dengan mulut penuh.
Danar geleng-geleng kepala tak habis pikir, dia kemudian mencicipi kuahnya.
“Enak kan Mas?” Tanya Ari, ingin dipuji rupanya dia, haha…
“Lumayan.” Sahut Danar cuek.
“Abisin ya, biar nggak galau lagi.”
“Siapa juga yang lagi galau? Sok tau kamu!” Omel Danar masih sambil mengaduk-ngaduk mienya biar cepat dingin.
“Itu ada tulisannya di jidat Mas Danar, LAKI-LAKI GEGANA! Alias galau merana, hahahaa….”
PLETAK!
Satu jitakan mendarat mulus di kepala Ari.
“Berani ngeledekin aku? Gaji bulan depan aku potong 50%!” Ancam Danar.
Ari yang lagi mengunyah mienya sontak tersedak mendengar ancaman sang bos. “Uhuk … uhuk….” Ia meraih sebotol air meniral dan segera meminumnya. “Tega banget sih Mas?”
“Makanya nggak usah ngeledek! Orang aku nggak lagi galau juga!” Danar pasang tampang masam.
“Iya deh, maaf.” Ari segera menandaskan mie rebusnya sementara Danar masih mengaduk-aduk manja mie rebusnya. “Cepetan dimakan dong Mas, jangan kau aduk-aduk terus itu mienya. Sudah cukup hati sang mantan aja yang kau aduk-aduk jadi tak karuan.” Ari tak bisa menahan diri untuk tak menjahili bosnya itu.
“Kamu kok mulutya cerewet banget sih kayak perempuan!” Ketus Danar seraya bangkit membawa mangkuk mienya.
“Eeh, Mas Danar mau kemana?” Tahan Ari heran.
“Mau makan di kamar!” Danar ngeloyor sebal.
“Ck, udah galau baperan pula!” Gerutu Ari membawa mangkuk kosongnya menuju pantry.
Danar tengah menikmati mie rebus buatan Ari sambil nonton tayangan sepak bola. Rasanya dia kayak jadi anak kost lagi. Danar terkenang masa-masa kuliahnya dulu, ia sering nonton pertandingan sepak bola dengan teman kostnya sambil makan mie rebus karena perut mereka keroncongan tengah malam. Ah… indah memang masa-masa jadi anak kos dulu.
__ADS_1
Danar berhasil memindahkan semangkuk mie rebus ke dalam perutnya. Ternyata moodnya jauh lebih baik berkat mie rebus buatan Ari meski keringat nampak mengembun di kedua pelipisnya karena kepedesan. Danar merasa lebih santai sekarang. Untung ada Ari, kalo nggak dia bisa galau sampe pagi.
Danar baru saja akan meluruskan kakinya selonjoran di karpet depan TV ketika satu notif pesan masuk di ponselnya.
Bip
“Siapa sih tengah malam gini ngirim pesan?” Gerutu Danar. “Jangan-jangan operator.” Diraihnya juga gawai di dekatnya.
Grace
Hi, Danar. Aku benar-benar minta maaf untuk semua kejadian beberapa waktu belakangn ini. Aku tau aku tak seharusnya bersikap berlebihan. Tolong maafin aku ya..
Ck, ah!
Danar mendengus gusar, menyesal kenapa pake baca pesan Grace segala? Baru aja dia mau rebahan santai, kenapa Grace harus lagi-lagi mengganggunya? Nggak di kantor, nggak di rumah, nggak di kedai Grace tak membiarkannya tenang.
Tanpa pikir panjang Danar segera menon aktifkan ponselnya. Ia tahu Grace tipe wanita yang mudah penasaran. Danar khawatir Grace bakal nekad menelponnya berakali-kali karena dirinya tak mau membalas pesan Grace.
❤️❤️❤️❤️❤️
Cuaca terik tak menyurutkan niatan Ramzi untuk kembali datang ke kediaman Tuan Husein. Ini adalah kesekian kalinya ia mengunjungi rumah sang mertua. Setelah beberapa kunjungan sebelumnya tak berhasil menemui Sofi dengan berbagai alasan, kini ia coba kembali datang di tengah cuaca terik pas matahari tengah berada di puncak kepala.
“Non Sofi nggak ada.” Ucap seorang tukang kebun yang membukakan pintu pagar untuk Ramzi.
“Saya tahu Sofi di dalam, cepat buka pintunya atau saya tabrak kamu!” Ancam Ramzi dari balik sedikit kaca jendela mobil mewahnya.
Sang tukang kebun tak ingin mati konyol, segera ia membuka lebar-lebar pintu pagar rumah keluarga Husein yang tinggi menjulang itu. Ramzi lalu keluar mobil dengan langkah lebar.
Dok dok dok dok….
Bunyi gedoran pintu sangat keras, Ramzi menggedor pintu dengan tak sabaran padahal ada bel yang ngejogrog dianggurin aja karena udah kadung nggak sabaran. Tak kunjung ada yang membukakan pintu, Ramzi berjalan mengitari rumah menuju halaman belakang rumah mertuanya.
“Ram?” Nyonya Husein terkaget-kaget melihat menantunya masih mengenakan setelan jas rapi muncul di halaman belakang rumahnya.
“Mana Sofia?” Ramzi tak mau basa basi.
“Untuk apa lagi mencari Sofi?” Nyonya Husein meletakkan cangkir tehnya menghampiri sang menantu yang tampak bringas.
“Mama jangan coba menyembunyikan dia dariku.” Sarkas Ramzi.
“Mama nggak pernah menyembunyikan sofi. Untuk apa?”
“Bohong! Berkali-kali aku datang kemari Sofi selalu tak ada!”
“Karena memang dia tidak ada di rumah!”
“Aku akan cari sendiri ke kamarnya.” Ramzi masuk dengan langkah cepat, Nyonya Husein mengikuti dengan langkah tua hampir terseok-seok.
“Ram…, Sofia benar-benar tak ada! “Kejar Nyonya Husein.
Ramzi menghentikan langkah tepat di depan kamar Sofi. “Kenapa Mama takut sekali aku menemukannya? Berarti benar kan Mama menyembunyikannya?” Pandangan tajam Ramzi menghunus pada sang ibu mertua.
Nyonya Husein menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
Ceklek ceklek
Ramzi coba membuka pintu kamar Sofi yang terkunci.
“Sofia! Sofia…., buka pintunya!” Teriak Ramzi.
Ramzi memukul keras daun pintu kamar Sofi berkali-kali.
“Sofia keluarlah, aku tau kamu ada di dalam!” Ramzi kembali berteriak. “Sofia ….!”
Kegaduhan yang dibuat Ramzi rupanya mengganggu Tuan Husein yang tengah beristirahat di kamarnya. Laki-laki tua itu keluar dari kamarnya dengan rau kaget campur heran.
“Ram…!” Panggilnya dengan langkah mendekat.
“Aku mau menumi Sofia, Pa. suruh dia keluar!” Ramzi menatap nyalang dengan dada turun naik menahan emosi.
“Mama sudah bilang Sofi tidak di rumah, tapi Ram tak percaya.” Ucap Nyonya Husein mengadu pada sang suami.
“Dobrak saja pintunya kalau kau tak percaya.” Ujar Tuan Husein dingin, lantas ia menuju sofa mendudukkan bokongnya di sana diikuti Nyonya Husein. “Ayo dobrak!” Perintah Tuan Husein.
Ramzi malah terpaku, tak juga kunjung melakukan perintah ayah meruanya.
“Jangan kau pikir aku sebagai orang tuanya tak ingin masalah kalian cepat selesai. Memangnya kau untuk apa kami menyembunyikan Sofi darimu.”
Ramzi melangkah gontai dan terduduk di hadapan mertuanya. “Aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, Pa.” Lirih Ramzi. “Aku ingin memperbaiki rumah tangga kami.”
“Sebaiknya tinggalkan saja Sofia.” Ucap Tuan Husein tanpa melihat pada sang menantu.
Ramzi terbelalak tak percaya dengan ucapan ayah mertuanya. “Bukannya papa yang selalu mmendukung aku an Sofia?”
Tuan Husein menggeleng. “Rumah tangga kalian sudah tidak sehat. Kau tak kan mampu melawan papamu sendiri meski itu untuk kebaikan anak dan istrimu kelak.” Tutur Tuan Aalatas getir, Nyonya Husein mengusap lengan suaminya, ia tertunduk dengan wajah sedih. Perempuan tua itu selalu saja tersiksa jika harus membayangkan kehancuran rumah tangga putrinya.
Ramzi menggeleng, “Aku masih mencintainya, Pa.”
“Kalau begitu tinggalkan dia.”
“Tidak, Pa!” Tolak Ramzi tegas. “Aku sadar, aku tak mencintai siapapun keculai Sofi. Tentang kejadian tempo hari itu aku bisa menjelaskannya, Sofia hanya salah paham saja. Aku tak melakuakn apa-apa di rumah Jane. Kami hanya…”
“Jadi kau sudah benar-benar mengkhianati Sofia?” Nyonya Husein seketika mengangkat wajah sedihnya, tatapannya berubah geram. “Kau tak punya hati, Ram! Sebagai suami, kau tidak hanya tak punya pendirian tapi juga mudah tergoda perempuan lain, padahal masalah kalian yang lama saja belum selesai!”
“B-bukan begitu Ma….” Ramzi terbata, dia merasa baru saja membuka aibnya sendiri. Ramzi tak mengetahui jika mertuanya tak ada yang tau soal kejadian di rumah Jane.
“Sofia sudah memergokimu berselingkuh di rumah permpuan lain, iya benar begitu?” Nyonya Husein menatap tajam sang menantu.
“Tidak, Ma. Itu tidak benar. Aku justru datang ke rumah Jane untuk menyelesaikan diantara kami tapi Sofia datang dan terjadilah kesalahpahaman.” Ramzi coba menjelaskan.
“Itu berarti kamu dan perempuan itu memang pernah ada hubungan sebelumnya?” Cecar Nyonya Husein.
“Tidak, kami hanya sebatas hubungan kerja.” Sanggah Ramzi.
“Sofia tidak mungkin salah paham jika kalian tak berbuat macam-macam!” Sarkas Nyonya Husein.
“Ma, aku mohon percayalah padaku!” Ramzi mendekat untuk meraih tangan ibu mertuanya namun Nyonya Husein dengan cepat bangkit menepisnya.
“Pergi! Mulai sekarang kau buka menantuku lagi!” Wanita tua yang biasanya keibuan dan lembut hati itu berubah garang, ia sangat kecewa dengan kenyataan yang baru sja didengarnya. Nyonya Husein menyesali sikap acuhnya belakang ini pada Sofia, ia bahkan tak tau kemana pergi Soafia setiap keluar rumah.
“Ma. Tolong biarkan aku kembalai pada Sofia. Aku akan memperbaiki semuanya.” Ramzi sampi menjatuhkan diri bersimpuh memegangi kedua kaki ibu mertuanya.
__ADS_1
Alih-alaih membela sang menantu, Tuan Husein juga bangkit hendak meninggalkan ruang tengah. Ramzi segera mengejar.
“Pa, aku tau Papa yang paling mendukungku menikah dengan Sofi. Maka ijinkan aku utuk memperbaiki semuanya Pa, aku akan buat Sofi bahagia.” Ucap Ramzi bersungguh-sungguh.
“Sudahlah Ram, sudah cukup banyak kesalahanku pada Sofia. Dan memaksanya menikah denganmu adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupku.” Tuan Husein melangkah dengan wajah sendu, hatinya teramat sakit jika terigat dulu betapa ia memaksakan kehendaknya pada putri semata wayangnya untuk menikah dengan Ramzi.
“Papa nggak bisa membiarkanku seperti ini, Pa. nggak bisa!” Ramzi menghadang langkah ayah mertuanya. “Papa harus mempertemukan aku dengan Sofia! Papa jangan menutup mata pura-pura tak peduli! Aku mohon Pa, pertemukan aku dengan Sofia!” Ramzi sampai harus menarik lengan ayah mertuanya karena Tuan Husein sama sekali tak menggubrisnya.
Tap tap ...
SREET
BUGH!
Dengan gerakan gesit Azad yang baru sampai langsung menarik Ramzi dan meninju wajahnya dengan bogem mentah.
Semuanaya terperangah kaget, sang tukang kebun yang telah mengabari Azad segera melipir karena tak ingin dicap sebagai tukang kepo. Namun begitu dua orang pelayan nampak mengintip penuh penasaran dari dinding yang memisahkna antara ruang makan dan dapur.
“Mau apa lagi kau datang kemari, hah? Dasar baj***an!” Maki Azad dengan kembali mendaratkan pukulan telak bertubi-tubi pada rahang dan hidung Ramzi.
Bugh! Bugh! Bugh!
Darah nampak merembes dari hidung Ramzi.
“Azad, sudah Nak!” Pakik Nyonya Husein panik, ia segera menghampiri putranya berusaha menenangkannya.
“Jangan hentikan aku, Ma! Dia pantas mendapatkannya! Laki-laki brengsek ini telah membuat kakakku menderita!” Azad hendak menyerang kembali Ramzi yang tengah sibuk mebersihkan hidung menggunakan sapu tangannya.
“Azad!” Seru Tuan Husein. “Jangan kotori tanganmu.” Nafas Tuan Husein mulai tersengal.
Azad dan Nyonya Husen segera menubruk Tuan Husein sebelum tubuhnya ambruk.
“Papa baik-baik saja.” Ucap Tuan Husein memegangi dada sebelah kirinya.
“Pa, sebaiknya kita ke kamar.” Nyonya Husein segera memapah suaminya.
“Shimni! Shimni….!” Panggil Azad dengan suara berteriak memanggil pelayan untuk membantu Tuan Husein ke kamar.
Salah satu pelayan yang tengah asyik mengintip kepo itu pun tersentak ketika namanya dipanggil. Ia segera berlari menghampiri.
“Iya, Tuan.” Jawabnya.
“Bawa Papa untuk istirahat ke kamarnya.”
“Baik Tuan.” Shimni dan Nyonya Husein memapah Tuan Husein menuju kamar.
“Dan kau!” Tunjuk Azad sengit pada Ramzi. “Cepat pergi dari sini sebelum aku remukkan tengkorak kepalamu!”Gigi Azad gemerutuk menahan kemarahan.
“Aku tidak akan pergi sebelum bertemu Sofia!” Tantang Ramzi.
Tap tap …
Azad hendak melayangkan kembali tinjunya namun kali ini Ramzi berhasil mencekal tangan Azad. “Jangan melarangku menemui istriku sendiri!” Ramzi mendorong tubuh Azad dengan tatapan tajam.
“Bagus, sekarang kau baru ingat dia istrimu! Kemarin-kemarin kemana saja, hah?” Sinis Azad. “Setelah kamu puas berbuat mesum dengan Jane, sekarang dengan mudahnya kau ingin kembali pada Kak Sofi. Cih, dasar laki-laki bejad!” Azad berdecih muak.
“Apa kau juga menyangkaku seperti itu? Sofi pasti sudah menceritakanna padamu, itu hanya salah paham!” Ramzi membela diri.
“Tanpa Kak Sofi cerita pun aku sudah tau kalau kalian itu memang jahat tak punya hati. Dan sialnya hari itu Kakaku harus memergoki aksi kalian!”
“Azad, itu tak seperti yang Sofi lihat. Aku dan Jane sepakat untuk mengakhiri semuanya. Kalau kau tak percaya kau tanayakan saja pada Jane!”
“Untuk apa? Dia pasti akan mengelak. Kalian memang cocok, sama-sama pembual besar!”
Ramzi mengusap wajahnya kasar, ia merasa sudah kehabisan cara untuk meyakinkan keluarga Sofia kalau dirinya dan Jane memnag tak memiliki hubungan apa-apa lagi.
“Baik, aku akan bawa Jane kemari. Biar dia yang akan menjelaskannya sendiri pada kalian semua.”Ucap Ramzi kemudian.
“Jangan kau coba-coba ajak wanita bi**l itu kemari. ini terakhir kalinya kau menginjakkan kaki disini!”
“Jangan kau sebut Jane seperti itu!”
“Kenapa? Kau tak terima?” Azad melengkungkan senyum sinis. “Papamu sendri menyebut Kak Sofi dengan semena-mena, kenapa aku tak boleh menyebut Jane seperti itu padahal dia sudah jelas-jelas berniat menghacurkan rumah tangga kakakku.”
“Tapi Jane tak seperti yang kamu kira.”
“Jika benar seperti itu, harusnya dia sudah meninggalkamu setelah makan malam waktu itu.”
“Dia memang melakukannya, justru aku yang berusaha menemuinya.”
“Hebat sekali, kau baru saja mengakui tingkah berengsekmu! Sekarang aku makin yakin jika kakakku memang tak memerlukan laki-laki baj***an macam kamu!”
Ramzi terdiam, segala ucapannya selalu salah di telinga Azad. Terus memaksa pun tak ada gunanya karena Azad sudah terlajur tak percaya lagi padanya.
“Baik, aku akan pergi sekarang.” Ucap Ramzi akhirnya. “Tapi aku pasti akan kembali lagi untuk menjelaskan semuanya pada Sofia.”
“Tak perlu repot-repot, karena Kak Sofi tak akan pulang kemari.”
Ramzi terkesiap. “Mamangnya Sofia kemana? Apa dia …”
“Bukan urusanmu! Kau yang telah membuatnya kacau dan tak betah di rumah, kami bahkan tak ada yang tau dia pergi kemana.”
Rona penyasalan tergulat jelas di wajah Ramzi. “Ooh, Sofia ….” Desahnya dengan sekali lagi mangusap wajahnya kasar, ia menatap sang adik ipar memminta penjelasan lebih, namun Azad sama sekali tak berminat mengatakan apapun lagi.
Ramzi akhirnya pergi dengan langkah gontai, tak ingin harapannya pupus dia segera meraih gawainya sebelum masuk mobil untuk berbicara pada seseorang.
Azad hanya memandang kepergian sang kakak ipar dengan wajah datar. Ia memang tak tau Sofi sekarang dimana, tapi dia sudah punya nomor baru kakaknya sehingga bisa memantau kabar kakak dan calon keponakannya untuk memastikan mereka baik-baik saja.
❤️❤️❤️❤️❤️
halohaaaa.....
segini dulu yaa.... Terima kasih audah membaca 🙏❤️❤️ 😘😘
likenya udah belum????
komen jangan lupa yaa...
yang bisa vote yaelah vote lah 😁😁
oya bisa juga dengerin audio booknya TERPAKSA SELINGKUH ❤️ by adik Chen Liong 🤩
__ADS_1
Tetap jaga kesehatan dengan patuhi prokes yaa....
I love you all 🤗🤗😘😘😘