
Hujan gerimis tengah mengguyur kota sejak lepas subuh tadi, Via belum beranjak dari peraduan membuat Tia yang menemaninya sejak semalam mengkhawatirkan kondisinya.
"Vi," membuka pintu kamar Via yang tak terkunci. "Vi, sarapan dulu yok " menyentuh pundak sang adik yang tengah berbaring membelakanginya.
"Aku belum laper Mbak," menyahut tanpa merubah posisinya.
Tia duduk di bibir ranjang. "Dari semalam kamu belum makan lho. Kasihan bayi yang ada dalam kandungan kamu, dia juga pasti butuh nutrisi."
Beberapa lama menunggu, akhirnya Via menoleh. Terlihat kedua netranya yang sembab menatap sendu pada sang kakak. Perlahan bangkit duduk berhadapan.
"Mbak - " tak mampu melanjutkan kalimat karena keburu pecah tangisnya dan menghambur ke dalam pelukan Tia.
Dibelainya lembut rambut panjang hitam legam sang adik, ia tau kesedihan yang mendera batin Via.
FLASHBACK ON
Untaian senyum lembut masih menghias wajah cantik Via usai mencium takzim punggung tangan sang ibu mertua. Tak ada yang berubah dari raut yang senantiasa memancarkan aura tak ramah itu,bahkan terkesan lebih dingin kala matanya membidik perut sang menantu yang kian membuncit.
"Bu, lihatlah. Calon cucu ibu sebentar lagi akan lahir. Ibu harus semangat ya, biar cepat pulih." Mengelus perut dengan senyum manisnya seolah tau isi pikiran ibu mertuanya.
"Ibu pasti cepat pulih, kan sebentar lagi akan operasi Sayang" merangkul pundak sang istri. "Via dan aku akan selalu ada buat ibu."
"Gue nggak disebut nih?" protes Om Jaka.
Melirik om semata wayangnya. "Iya, Om Jaka juga."
"Aku nggak?" Cicit Ice.
"Heem, Ice juga. Pokoknya kami semua selalu ada untuk mendukung dan mendoakan kesembuhan ibu."
Masih setia dengan raut dinginnya yang tak bisa menyembunyikan pandangan dari perut sang menantu, "ibu mau masuk" lirih Bu Een berganti melihat pada Mirza.
"Belom juga kering Yu, sampean kok jemurnya udahan?" Sela Om Jaka.
Menanggapi celetukan Om Jaka dengan dengusan ringan."Za," memberi titah pada Mirza dengan isyarat matanya kembali.
"Iya Bu, kita masuk sekarang."
Gegas mendorong kursi roda menuju kamar perawatan diikuti yang lainnya.
"Oya Bu, tadi pagi aku masak makanan kesukaan ibu." Ucap Via setelah ibu mertuanya itu mendarat manis di bednya. "Ibu mau nyobain nggak? Ada opor ayam, rawon buntut sama sup kakap merah."
Hanya menggeleng samar seraya memalingkan pandangannya.
__ADS_1
"Kalo mertua elu kagak mau biar buat gue aja deh, kebetulan gue belom sarapan nih Vi. Belom dua kali, hehe ... " nyengir tanpa dosa seperti biasanya.
"Ada tuh sama Ice Om, ambil aja.aku juga masaknya banyak kok, tenang aja semua pasti kebagian." Melangkah mendaratkan pantat di sofa diikuti Mirza.
"Wah, mantap. elu emang mantu idaman." Puji Om Jaka seraya meraih piring dan sendok yang disodorkan Ice lantas mulai menyendokkan nasi dan beberapa lauk ke dalam piringnya.."Hem, enak bener ini mah. juara rasanya! beneran dah gue kagak boong. Yu, sampean harus cobain, sapa tau langsung bisa lari setelah makan masakan Via." Oceh Om Jaka setelah menikmati suapan pertamanya.
"Om Jaka lebay banget." Via tersenyum.
"Laper apa doyan, Om?" Cibir Mirza.
"Ntar acara 7 bulanan elu masakannya kayak gini aja Vi, bikin nagih. eum, nyam nyam enyak enyak enyak ... "
"Oh iya. Usia kehamilan kamu udah 7 bulan ya Sayang?" Menepuk jidat karena baru teringat hal penting yang tak sengaja terlupakan. "Sampe lupa. Maafin ayah ya Nak, ayah sibuk bolak balik rumah sakit ngurusin Eyang Uti jadi lupa deh kalo kamu di dalem perut bunda udah 7 bulan." Berbicara pada perut Via lantas menciumnya lembut.
Satu lirikan tajam Bu Een pada aksi yang dibuat putranya itu.
"Baru juga masuk 7 bulannya Mas. Nanti aja lah kalo mau bikin acara syukuran." Membelai kepala sang suami yang masih setia di dekat perut buncitnya. "Habis operasi ibu aja kalo mau bikin acara Mas."
duk!
satu tonjolan kecil pada perut Via dirasakan Mirza, sontak ia terkejut karenanya. "Sayang, dede bayinya nonjok hidung Mas. berarti dia setuju." Seru Mirza kegirangan.
“Heleh, baru ditonjok idungnya aja udah seneng lu. Liat ntar kalo udah dipipisin pas bayi lu udah lahir, masih bisa ketawa kagak lu?” cibir Om Jaka disela makannya.
“Ish, sirik aja!” Balas Mirza.
“Belajar sama gue Ce, yang lebih berpengalaman” sela Om Jaka.
“Emang Om Jaka sama Mbak Denaya juga romantis gitu?”
“Jelas lah, gue kan lebih senior. Mereka mah kagak ada apa-apanya.” Om Jaka menyelesaikan makannya lantas menuju wastafel membersihkan tangan.
“Nggak usah didengerin Nak, kakek kamu emang selalu nggak mau kalah sama ayahmu yang ganteng ini” kembali berbicara pada calon anaknya dalam perut Via.
“Buset! Gue dipanggil kakek, kagak engkong aja sekalian?” Kesal Om Jaka.
Mirza pura-pura tak mendengarnya dia asik mengusap perut Via dengan menempelkan telinga kirinya untuk mendengarkan pegerakan calon buah hatinya. Sesekali Via terkekeh menahan geli dengan ulah suaminya, tanpa mereka sadari Bu Een menghunus tatapan tak senang pada kemesraan keduanya.
“Gue keluar dulu deh ya, mau cari rokok” Om Jaka bangkit. “Mungkin ntar langsung ke toko, jadi gue sekalian pamit aja ya. maksih Vi masakannya.”
“Iya Om, sama-sama.”
“Yu, gue pergi dulu ya.” Pamit Om Jaka pada Bu Een. “Sampean cobain deh masakan Via pasti langsung sembuh, kagak usah operasi.”
__ADS_1
“Om kagak usah rusuh deh, operasi ibu udah dijadwalin pertengahan minggu depan.” Sahut Mirza melihat pada Omnya.
“Ibu mau pulang.” Ucapan Bu Een membuat mereka semua menoleh bersamaan, tak terkecuali Om Jaka. ia sampai mengurungkan langkahnya yang hendak keluar ruangan.
Mendekati sang bunda. “Tentu Bu, ibu pasti pulang kalo udah pulih.”
“Ibu mau di rumah aja” berusaha menegaskan walau masih dengan suara lemah. “Ibu nggak mau operasi.”
Kaget berjamaah, Via ikut mendekat. “Bu, luka pada tulang selangka ibu hanya bisa disembuhkan dengan operasi. Ibu nggak usah khawatir, nanti ibu pasti sembuh seperti sedia kala kok.”
“Via benar Bu, ini semua demi kebaikan ibu.”
Menggeleng dengan raut datar.
Mengusap punggung tangan ibu mertuanya berusaha terus meyakinkan. “Kami tau kok ibu mungkin sudah bosan keluar masuk ruang operasi, tapi dokter bilang ini operasi yang terakhir. Setelah ini tidak akan ada operasi lagi, karena ibu pasti dinyatakan sembuh total. Iya ka Mas?” melihat suami di sampingnya.
“Iya, ibu harus semnagat ya. jangan takut, ibu pasti sembuh.”
Bu Een menggeleng sekali lagi.
“Ya udah kagak usah repot-repot, kalo emak elu kagak mau dioperasi mendingan disambung pake lem alteco aja tuh tulangnya yang patah. Beres kan?” Celetuk Om Jaka dengan entengnya.
Secara bersamaan Via dan Mirza melototkan kedua matanya demi mendengar usulan Om Jaka yang emejing itu. sementara Ice Juice mati-matian menutup mulutnya agar tak kelepasan tertawa ditengah situasi yang nggak tepat itu.
“Ibu mau operasi,“ perkataan Bu Een kembali menarik fokus seisi kamar. “Asalkan –“
Hening sejenak, kesemuanya menunggu.
“Asalkan apa Bu?” Tanya Mirza Karena ibunya tak kujung melanjutkan kalimatnya.
Melihat Via sekilas, lantas menatap sang putra penuh kesungguhan. “Asalkan kamu menceraikan istrimu.”
JLEDER
FLASHBACK OFF
“Sampai kapan kesabaranku akan terus diuji, Mbak?” menumpahkan tangisnya di pundak sang kakak.
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏
Maaf lagi rempong nih, sibuk rewang jadi up nggak tentu wkwkkk
__ADS_1
Di tempat othor sudah musim orang hajatan soalnya.
Tapi tenang aja, pasti othor tamatin kok ceritanya, hehe… 😅