
Ruangan Tuan Alatas yang besar dan luas itu terasa panas, peluh mengucur di pelipis Ramzi. Wajah dingin ayahnya tak bergeming duduk di singgasananya melemparkan tatapan tajam pada sang putra tunggal yang nampak sangat gusar. Sepuluh menit tanpa kata membuat Ramzi nyaris kehilagan kesabarannya.
“Papa, aku tetap pada pendirianku.” Lirih Ramzi memberanikan diri pada akhirnya.
Tuan Alatas menarik satu sudut bibirnya. “Pertahankan istrimu maka kau akan kehilangan segalanya.”
“Papa nggak bisa memaksaku seperti ini. Papa tau Sofi sedang mengandung anakku.” Ramzi bangkit dengan gusar. “Lagipula kalau pada akhirnya Papa memintaku meninggalkannya kenapa Papa setuju aku menikah dengnnya?” Sinis Ramzi sebelum meninggalkan ruangan ayahnya.
“Karena kamu yang memaksa ingin menikah.” Tuan Alatas menyusul anaknya yang berdiri di dekat pintu. “Kalau soal anak, kau bisa memilikinya dengan wanita lain.”
“Papa benar-benar tak berperasaan.” Tatapan Ramzi penuh dengan kekecewaan.
Tring!
Satu notifikasi masuk di ponsel Tuan Alatas. Ia cepat meraihnya di atas meja kerja. Gerald sang kepala pelayan mengirim beberapa foto Sofi dan Hanson beberapa hari lalu.
“Lihat ini.” Tuan Alatas memberikan ponselnya pada Ramzi.
Ramzi menerimanya dan melihat foto-foto itu dengan raut bingung.
“Dia mantan si jalan* . Laki-aki itu adalah ayah dari bayi yang kau gugurkan. Istrimu bersekongkol dengan mantannya. Dia bahkan nekad menemui istrimu, mereka pasti mempunyai rencana busuk menguras semua hartamu.” Papar Tuan Alatas seolah mengerti isi kepala anaknya.
Ramzi menggeleng, “nggak mungkin.”
Tuan Alatas mengambil ponselnya dan menunjukkan rekaman CCTV di ruang kerja Ramzi. “Kamu masih tak percaya?”
Ramzi membulatkan kedua matanya. “Apa-apaan ini?”
“Tanyakan sendiri pada istri jala**mu.” Tuan Alatas menyerobot ponselnya dari tangan Ramzi dan memasukkannya ke dalam saku jasnya. “Papa ada rapat dengan dewan direksi, sebaiknya kau pulang dan bereskan semuanya.”
Tuan Alatas pergi meninggalkan Ramzi yang masih terpaku sendiri dengan pikirannya yang kacau. Berbagai perasaan berkecamuk memenuhi benaknya. Apa mungkin istrinya tega berbuat seperti itu dibelakangnya? Benarkah semua tuduhan yang papanya alamatkan pada istrinya itu? Ramzi ingin tak percaya, namun semua bukti yang ia lihat barusan terpampang nyata. Ramzi diliputi dilema, jika ia melepaskan istrinya berarti ia akan kehilangan anaknya, tapi jika ia mempertahankan istrinya maka ayahnya akan menyingkirkannya dengan bengis tanpa belas kasih sedikitpun.
Ramzi pergi dengan menahan semua rasa yang membuncah di dadanya, namun ia tak pulang ke rumah. Ia habiskan waktu menyusuri jalanan tak tentu arah. Mengapa ia musti mengalami semua ini saat ia sudah begtu percaya dan kembali mencinai wanitanya yang dulu memang pernah nyata-nyata menghianatinya? Ramzi merengkuh kemudi dengan kuat, matanya nanar, mobilnya meliuk-liuk menembus jalanan ibu kota yang hampir petang.
“Kanapa kamu tega menghianatiku? Kenapa? Dasar jalan*! Kamu melakukannya dengan orang yang sama, kau benar-benar berniat menghancurkanku? Baik, kamu akan rasakan pembalasanku!”
__ADS_1
Ramzi terus meracau tak karuan, laju mobilnya kini melampaui batas kecepatan normal. Ia tak menghiraukan rambu lalu lintas, lampu menyala merah di pertigaan jalan yang ramai. Dari arah berlawanan datang sebuah mobil yang juga sama berkecepatan tinggi. Ramzi terkejut dan hilang kendali, ia sekuat tenaga menginjak pedal rem seraya membanting stir ke kiri.
CIIT….
NGIIK..
BRAAK!!!
❤️❤️❤️❤️❤️
“Ri, tunggu Ri!” Panggil Danar mengejar langkah Riri yang keluar dari toko kuenya. “Kamu boleh marah dan kecewa, tapi kamu juga harus tau, yang terjadi kemarin malam itu bukan keinginanku!” Ucap Danar sambil coba menghalangi langkah Riri.
Riri berhenti, Danar kini tepat berdiri di depannya. “Aku udah tau kok! Jadi nggak usah kasih penjelasan apa-apa lagi.” Ketus Riri, matanya tak berani melihat wajah di hadapannya.
“Kalo udah tau berarti kamu nggak perlu ngelakuin ini. Kamu nggak perlu keluar dari toko kue ini. Ini toko kamu Ri, usaha ini bisa maju karena kerja kerasmu. Tolong jangan begini, Ibu juga pasti sangat kecewa kalau kamu keluar dengan cara seperti ini.” Danar memohon dengan wajahnya yang sendu.
Mata Riri mulai mengembun. “Bu Elin masih bisa mencari orang lain yang lebih kompeten dari pada aku.”
“Nggak, kamu orang yang tepat.”
“Orang yang tepat untuk disakiti.”
Air mata Riri yang sedari tadi ditahannya luruh juga, menetes membasahi pipi mulusnya.
“Ri, kamu menangis?” Danar terperangah melihat Riri yang menatapnya dengan mata basah.
“Masih nanya lagi! Iya, aku nangis! terus kenapa? Mas Danar mau nanya kenapa aku nangis? Mas Danar mau bilang aku nggak perlu nangis? Semuanya terjadi karena ketidaksengajaan, karena bukan keingian Mas Danar?” Riri tersenyum getir. “Terima kasih buat semua kebaikan Mas Danar dan keluarga Mas Danar selama ini, aku berhutang banyak, tapi bukan berarti kalian bisa mempermainkan perasaanku seenaknya! Aku punya hati, Mas!”
Danar terdiam, baru pertama kali ia melihat Riri seperti ini. Gadis mungil yang selau ceria dan terkesen konyol bin manja itu biasanya selalu cuek, tak pernah sekali pun ia melihat Riri bersedih, tapi kali ini ia melihatnya beruraian air mata dengan emosi yang meluap-luap.
“Aku minta maaf.” Hanya itu yang terucap dari mulut Danar.
“Sudah aku maafkan sejak malam itu. sekarang minggir! Aku mau pulang!” Sinis Riri setelah menyeka air mata dengan punggung tangannya.
Danar masih mematung, ia berpikir keras mengapa Riri sedemikan emosiaonalnya.
__ADS_1
“Minggir!” Teriak Riri.
“Aku boleh tau kenapa kamu bisa seperti ini?” Lirih Danar.
“Pikir aja sendiri!” Riri sengaja menabrak bahu Danar agar minggir dari hadapannya.
“Tunggu, Ri!” Danar mencekal pergelangan tangan Riri sebelum gadis itu benar-benar pergi. “Katakan sesuatu.”
“Nggak perlu! Kamu nggak akan ngerti, Mas!”
“Kamu pasti punya alasan lain kan kenapa pergi meninggalkan bisnis kuemu?” Danar masih mendesak.
“Kalo iya, emang kenapa?”
“Katakan perasaanmu.”
Riri menghela nafas. Ia berpikir mungkin inilah saatnya ia harus jujur mengakui persaannya. Danar melepaskan cekalannya perlahan, netra mereka saling menatap intens.
“Apa Mas Danar juga akan mengatakan siapa perempuan yang Mas Danar cintai?”
Danar terdiam beberapa saat. “Dia … seseorang yang sangat jauh…” Lirih Danar kemudian.
Riri tersenyum. “Nikmati persaanmu, Mas. Aku nggak akan mengharapakan apa-apa darimu lagi. Perasaanku padamu biar hanya aku yang tau.”
Riri bergeges meninggalkan Danar menuju parkiran dengan hati penuh kekecewaan. Ia tak mengetahui siapa orang yang talah merajai hati laki-laki yang sudah dikaguminya selama ini. Riri tertegun, berdiri di samping motornya. Ia masih berusaha mengatasai perasaannya sendiri, ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya bukan wanita yang diinginkan oleh Danar.
Kilasan peristiwa kebersamaannya dengan Danar berkelebat silih berganti di benaknya. Dia sungguh terkesan dengan semua sikap dan kebaikan Danar, namun itu hanya menambah luka perih di hatinya.
"Maafkan aku yang sudah berani menyukaimu, Mas. Aku memang nggak pantas untukmu.” Ucap Riri sedih sambil mengusap air matanya yang kembali meleleh.
❤️❤️❤️❤️❤️
Pembaca setia dan akak othor tersayang, mohon maaf ya selama beberapa hari ke depan othor off dulu nggak bisa up karena ada hal penting yang urgent. 🙏🙏🙏
Nantikan kisah selanjutnya ya… insya Allah up lagi hari senin.❤️
__ADS_1
❤️❤️
Luv U all🤗🤗🤗😘😘😘