TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
58 LATIHAN VOCAL


__ADS_3

Tuan Husein merasakan sesak yang luar biasa dibagian dada sebelah kirinya. Tubuhnya terhuyung ke depan berusaha mencari pegangan. Nyonya Husein yang baru masuk kamar terkejut melihat suaminya yang kemudian ambruk ke lantai. Nyonya Husein panik memanggil seisi rumah untuk membantu menolong suaminya. Beberapa orang pelayan berlarian dan segera mengangkat Tuan Husein ke atas ranjangnya.


“Nyonya, sepertinya Tuan baru saja terkena serangan jantung.” Ucap salah seorang pelayan laki-laki yang bekerja disana.


“Tolong segera panggilkan ambulance, tolong telepon Azad, hubungi Sofi. Papa… Papa, bangun Pa!” Nyonya Husen meracau panik.


Tuan Husein masih tersadar, kedua tangannya memegangi dada kirinya yang semakin sesak.


“Nyonya, ambulance akan segera datang beberapa menit lagi.” Ucap seorang pelayan perempuan yang baru saja selesai menelpon ambulance. “Apakah obat Tuan masih ada?” Tanya pelayan tadi.


Nyonya Husein baru ingat kalau suaminya masih menyimpan obat sakit jantungnya. “Tolong carikan di kotak obat.” Nyonya Husein yang masih panik menunjuk kotak obat di kamarnya.


Sang pelayan segera berlari mengambilkan obat. Nyonya Husein dibantu pelayan laki-laki medudukkan Tuan Husein dan melonggarkan pakaiannya.


“Papa, ini obatnya Pa.” Nyonya Husein memberikan nitrogliselin yang dibawakan pelayannya dan meletakknya di bawah lidah Tuan Husein.


Tak berapa lama kemudian ambilance datang, Tuan Husein segera dibawa ke rumah sakit.


Sementara itu Azad yang baru saja menerima telpon tentang keadaan ayahnya segera keluar dari ruang kerjanya dengan langkah tergesa.


“Selamat siang, Tuan Azad.” Seorang pria berbadan kekar mencegat langkah Azad di loby. “Saya ada keperluan dengan Anda.” Lanjut pria itu.


“Maaf, saya sedang terburu-buru.” Azad tak mempedulikan pria itu, dia melanjutkan langkahnya.


“Tunggu!” Ucap si pria mencekal lengan Azad.


Azad tak terima diperlakukan kasar oleh orang asing yang tak dikenalnya. Dia berusaha melepaskan cengkraman pria berbadan kekar itu.


“Saya merasa tak mengenal Anda. Saya tidak punya banyak waktu. Jadi tolong jangan halangi langkah saya." Tegas Azad.


“Tuan Makhrus Alatas yang meminta saya untuk menemui Anda dan mengajak Anda untuk menemuinya.”


Azad mengernyit heran.


Ada apa Tuan Makhrus memintanya datang? Apa ini tentang bisnis atau soal yang lain? Atau soal pernikahan kakaknya dengan Ramzi? Kenapa pake nyuruh orang segala, kenapa tak menelpon langsung?


“Tuan, saya harap anda tidak keberatan untuk ikut dengan saya sekarang.” Kata si pria tadi meredakan rasa heran di pikiran Azad.


“Maaf, saya harus ke rumah sakit. Papa saya terkena serangan jantung, saya harus kesana sekarang. Sampaikan pada Tuan Makhrus …”


“Saya akan ikut Anda ke rumah sakit, setelah itu kita akan menemui Tuan Makhrus.” Ucap si pria kekar memotong kalimat Azad.


“Tidak!”


“Tuan Makhrus Alatas tak biasa menunggu lama.”


“Anda pikir, siapa Anda berani memaksa saya?” Hardik Azad mulai emosi. “Nyawa Papa saya sedang dipertaruhkan, dan itu lebih penting dari apapun!” Ucap Azad dengan nada tinggi membuat siapapun yang ada di loby kantor menoleh ke arahnya.


Pria tadi tak menjawab, dia hanya menatap kepergian Azad yang tergesa lantas meraih ponsel dari dalam saku jaket kulitnya.


___


Sofi baru saja selesai membersihkan halaman belakang yang dipenuhi dengan daun mangga berguguran. Dilihatnya Mirza yang sedang menerima telepon di kursi kayu dekat gazebo. Sofi sebenarnya kepo Mirza telponan dengan siapa, namun dari pada dia kena semprot mendingan dia milih tak melanjutkan hasrat keponya. Selesai menerima telpon, Mirza masuk diikuti tatapan kepo Sofi.


“Sudah selesai masak, sayang?” Sapa Mirza pada Via yang tengah sibuk di dapur.


“Sebentar lagi.” Sahut Via sambil menaruh beberapa peralatan dapur yang kotor ke dalam tempat cuci pering.


“Mas mandi dulu ya, setelah itu kita makan.”


“Ini kan masih sore, belum jam makan malam, Mas?”


“Memangnya kalau udah laper harus nunggu jam makan malam?”

__ADS_1


Via tak menyahut, tangannya mulai mencuci perabotan yang kotor. Mirza merapikan rambut Via yang berantakan, menyelipkan pada daun telinga Via sambil menggodanya.


“Aku tuh selalu gampang lapar kalo kamu yang masak.”


Via mencebik seraya menempelkan telapak tangan kanannya yang basah pada wajah Mirza.


“Sayang, ini kan kotor!” Mirza mengelap wajahnya yang basah kena air cucian.


“Rasain!”


Dari arah pintu belakang Sofi mengamati tingkah mereka berdua dengan wajah kesal.


“Bisa nggak kamu nyucinya nanti aja, kita mandi berdua lalu makan bersama?” Goda Mirza lagi.


Via melotot sambil berusaha menempelkan tangannya lagi tapi Mirza berhasil menangkapnya. Tak kalah akal, tangan kiri Via yang masih bebas mencolekkan sabun cair ke pipi Mirza.


“Aduh!”


“Itu biar pikiran Mas nggak kotor terus, harus dicuci sekalin sini!” Via mau ngambil spons cuci piring.


Mirza malah mengunci kedua tangan Via lalu menarik tubuhnya merapat ke dekapannya.


Cup cup cup cup


Mirza menghujani wajah Via dengan ciuman kilat di pipi kanan kiri, dahi, mata hidung dan bibir Via.


“Mas, udah …!” Via tertawa karena merasa geli campur risih dengan ulah suaminya. "Masakanku nanti gosong, Mas!” Teriak Via melihat pada masakannya yang masih nangkring di atas kompor.


“Oke, nanti malam kita lanjutkan ya!” Ucap Mirza sambil mengerling genit.


Via yang sebel langsung menarik nafas lega lalu mengangkat masakannya.


Sofi semakin jengkel dengan adegan yang baru saja dilihatnya. Sapu yang sedari tadi dipegangnya ingin rasanya dilemparkan pada Via dan Mirza.


Kurang ajar! Mereka itu kayaknya sengaja banget mau manas-manasin aku! Mereka pikir bisa mengusirku dengan cara seperti itu! Oh, tidak semudah itu Ferguso! Lihat saja, akan aku balas kau, Marimar! (Catet; Sofi jaman ABG dulu penggemar telenovela 😂🤭🤭)


Sofi melangkah mendekati Via setelah Mirza pergi.


“Heran ya, apa coba kelebihan kamu sampai Mirza itu rela bertengkar dengan ibunya demi mempertahankan kamu?” Ucap Sofi dengan raut meremehkan berdiri di samping Via.


Via yang tak menduga akan kedatangan Sofi, langsung menghentikan kegiatannya menyiapkan meja makan dan memandang ke arah Sofi.


Sofi yang melihat Via hanya diam, merasa senang. Dia akan menjalankan siasat barunya yang telah disusunnya dengan Bu Een kemarin. Jika Mirza tak bisa diotak-atik lagi hatinya, maka dia akan mencoba untuk menggoyahkan hati Via. Dan siasat yang dianggapnya sangat brilliant itu baru saja di mulai beberapa detik yang lalu.


“Cantik nggak, kaya juga nggak.” Sofi memandangi Via dari atas sampai bawah, dari bawah balik lagi ke atas. “Jelas cantikan aku kemana-mana.” Lanjut Sofi sambil mengibaskan rambutnya ala ala model iklan sampo rencengan.


Via masih diam tak bergeming.


“Kalo cuman menang pinter ngurus rumah aja sih, nyuruh pembantu juga beres!” Imbuh Sofi masih dengan senyumnya.


Via berusaha sabar, ia tak ingin meladeni Sofi dengan emosi. Wanita di depannya ini kebal dengan segala macam penolakan. Jadi tak perlu pake otot atau urat untuk melawannya.


“Jadi kamu merasa lebih menang dari aku?” Ucap Via.


“Jelas lah! Dan satu lagi, aku mendapat dukungan penuh dari calon ibu mertuaku, sedangkan kamu?”


Via menelan salivanya getir. Untuk hal yang satu itu kenyataannya memang pahit. Sofi benar, Bu Een seperti tak pernah menganggapnya menantu selama ini, ditambah lagi sekarang dengan kehadiran Sofi, sikap Bu Een semakin terang-terangan tak menyukainya.


“Kalo aku jadi kamu sih, mendingan mundur daripada jadi manusia tak dianggap.” Sofi sudah mulai mengintimidasi pikiran Via. “Buat apa kalo jadi menantu tapi cuma jadi penyebab pertengkaran suami dan ibu mertua saja”


Via terdiam. Sofi semakin merasa menang, diulasnya senyum sinis sambil melihat Via yang tertunduk. Via mencoba tetap bersabar, ia sadar meski Sofi benar tapi tak kan serta merta bisa mencampuri kehidupan pribadinya.


Via megangkat wajhnya, membalas tatapan Sofi yang masih berdiri angkuh.

__ADS_1


“Kamu benar, aku memang tak dianggap oleh ibu mertuaku.” Ucap Via pean.


Sofi tersenyum lebar, hatinya puas bersorak penuh kemenangan karena sudah berhasil mempengaruhi pikiran Via.


“Tapi kalo aku juga jadi kamu, aku akan memilih pergi dari kehidupan Mas Mirza. Karena buat apa jadi benalu dalam rumah tangga orang lain sedangkan sudah jelas-jelas orang itu tak pernah mengharapkan kehadiranmu?” Balas Via tenang.


Sontak saja kalimat Via membuat senyum Sofi seketika hilang berganti dengan wajah tegangnya yang mulai emosi.


“Apa kamu bilang? Kamu nyuruh aku pergi dari hidup Mirza? Kamu lupa, di dalam Rahim aku ada benih Mirza, ingat itu!” Teriak Sofi berapi-api.


Via hanya mengangkat bahu acuh dan melangkah meninggalkan Sofi. Dengan cepat Sofi mencegat Via.


“Begitu bayi ini lahir, aku pastikan kamu akan pergi selamaya dari kehidupan MIrza!”


“Kita lihat saja nanti. Aku atau kamu yang pergi.” Ucap Via cuek.


Sofi mencekal pergelangan tangan Via.


"Sebaiknya kamu berhati-hati denganku, karena aku punya anak dari Mirza sedangkan kamu tidak!” Geram Sofi dengan mata penuh amarah.


“Begitu ya?” Via masih santai. “Justru sebaiknya kamu yang harus hati-hati. Bagaimana jika setelah bayi itu lahir Mas Mirza tetap tidak akan menikahimu? Apa yang kamu lakukan selama ini akan jadi sia-sia!” Lanjut Via dengan senyum tipis dan menghempaskan cengkraman tangan Sofi lantas kembali berjalan meninggalkan ruang makan.


“Berhenti! Aku belum selesai!” Pekik Sofi dengan amarah yang sudah tak tertahan lagi.


Via melenggang tak peduli.


“Berhenti kataku!” Teriak Sofi lagi.


Via memutar langkahnya dan mendengus kesal. “Jangan berteriak di rumahku! Ini bukan di hutan!” Ucapnya memandang Sofi malas. “Jaga emosimu, jika sampai kenapa-napa dengan kamu atau bayimu aku sama Mas Mirza tak akan segan untuk melemparmu keluar dari rumah ini karena kami tak sudi mengurusmu!” Lanjut Via lantas bergegas menaiki tangga menuju kamar.


“Kau ….! Arrrgh …!!!” Sofi mengepalkan tangannya dengan emosi tertahan karena tak berhasil mempengaruhi Via.


Sofi menghentakkan kaki lantas masuk kamar dan membanting pintu menumpahkan kemarahnnya. Dia tak terima diperlakukan seperti itu oleh Via. Dia akan menyusun rencana yang lebih halus lagi.


Via masuk kamar dengan wajah bete.


“Ada apa, sayang? Kok kayaknya tadi aku denger orang teriak di bawah?” Tanya Mirza yang baru selesai mandi.


“Nggak ada apa-apa.” Sahut Via malas.


“Masa sih? Tapi tadi kayak suara Sofi? Dia marahin kamu? Dia berulah lagi?” Mirza benar-benar penasaran.


“Nggak, Sofi tadi cuman lagi latihan vocal.” Jawab Via seraya meraih handuknya.


Mirza heran tak mengerti. “Latihan vocal?”


“Iya, nanti dia mau ikut lomba dangdutan.”Via cuek ngeloyor ke kamar mandi tak mempedulikan suaminya yang masih penasaran heran.


Mirza tak percaya. Demi melihat raut wajah istrinya yang seperti itu, dia yakin pasti barusan terjadi apa-apa antara Via dan Sofi di bawah.


________________


Halo, akak-akakku semua ☺️☺️


Gimana nih, kurang greget apa kurang nendang apa kurang asem atau garem untuk part Sofi dan Via? 😂😂😂


Boleh kalo kasih masukan, hehe… 😅😅


Kalo sekiranya pas dengan alur cerita yang udah aku buat bisa masuk kok😍😍


Bedewey, aku nggak bosen-bosennya nih buat minta dukungan dari akak semua. Selalu like, komen, rate 5 dan vote buat karyaku ya 😁😁😊😊😊😊


Tak lupa juga aku ucapin banyak-banyak terima kasih buat dukungan akak semua selama ini.🙏🙏🙏❤️❤️❤️

__ADS_1


Hanya Tuhan yang mampu membalas kebaikan akak semua 🌹🌹🌹😍😍😍


Luv u all😘😘🤗🤗


__ADS_2