
Setelah lama meninggalkan pekerjaannya karena sibuk menjaga sang bunda di rumah sakit, hari ini Mirza akan kembali bekerja di klinik dokter Burhan. Beruntung dokter Burhan sangat baik pada Mirza karena mereka sudah lama saling mengenal, beliau memaklumi keadaan yang tengah dialami Mirza saat ini.
Di tengah kesibukannya mengelola apotik klinik dokter Burhan, Mirza teringat satu hal yang belum sempat ia lakukan. Maka segera ia meraih gawainya untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening Udin yang sudah lebih dulu ia minta beberapa hari yang lalu. Meski awalnya Udin menolak dan tak mau menerima uang dari Mirza sebagai rasa terima kasih telah ikut menjaga ibunya, namun Udin memberikan juga nomer rekening banknya karena Mirza terus memaksa dan disertai sedikit ancaman.
“Kalo kamu nggak mau nerima uang dari aku, mendingan kita nggak usah saling kenal lagi. Dan kamu jangan datang lagi buat ikut jagain ibu.” Ucap Mirza kala itu pada Udin.
“Jangan gitu dong Mas.” Wajah Udin memelas.
“Ya udah, makanya cepet kirimin nomor rekening bank kamu.”
“Tapi aku ikhlas kok Mas ngelakuin semua itu. Aku nggak ada pamrih apapun, sumpah. Ibu udah aku anggap seperti ibuku sendiri.” Ucap Udin bersungguh-sungguh.
Hati Mirza menghangat seketika, ia terharu dengan ketulusan Udin. Walau ia tahu ibunya sering berlaku seenaknya pada Udin, bahkan tak jarang Udin jadi sasaran kejengkelan ibunya tiap kali marah tapi Udin masih saja baik pada ibunya. Terlebih lagi jika Mirza ingat kejadian terakhir antara ibunya dan Udin, rasa-rasanya jika bukan Udin belum tentu akan memaafkan perlakuan ibunya. Udin sudah dipecat secara tidak hormat, nggak diberi pesangon, diusir dengan kejam dan bengis hanya gara-gara mau pinjam uang buat ngelamar Ice Juice kala itu.
“Din,“ suara Mirza agak tercekat. “Kalo kamu anggap ibu seperti ibumu sendiri, berarti aku saudaramu kan?” menatap Udin lekat.
“Iya, Mas.”
“Maka tolong jangan menolak pemberian saudaramu ini.”
“Tapi, Mas … “
“Kalo kamu nggak mau menerimanya, berikan saja uangnya nanti pada istrimu..”
Dengan berat hati Udin akhirnya pasrah. “Iya, nanti aku kirimin nomer rekeningnya Mas.”
“Bener lho?”
Udin mengangguk, “tapi tolong jangan banyak-banyak ya Mas ngasihnya.”
“Dih! Jangan GR ya, siapa juga yang mau ngasih banyak?” cibir Mirza.
“Hehe … “ Udin nyengir garuk-garuk kepala.
“Lagi juga kan kamu tadi bilang nggak mau, berarti ntar uangnya hak istri kamu.”
“Iya, Mas. Nanti aku ajak si Ice juga buat sekalian jagain ibu, kan katanya Mas Mirza nanti mau masuk kerja lagi?”
“Soal itu terserah kamu aja, Din. Tapi kalo si Ice nggak mau jangan dipaksa. Lagi juga ntar balik kerja aku langsung ke rumah sakit. Jadi kalo malem aku yang jagain ibu, kamu pulang aja.”
"Iya, Mas. Tapi Ice pasti mau kok ikut jagain ibu. pokoknya aku dan Ice siap kapanpun Mas Mirza butuh bantuan buat ibu."
Begitulah Udin, sosok pria sederhana dan apa adanya yang selalu bisa diandalkan dalam bergai situasi dan kondisi. Mirza merasa sangat beruntung mempunyai Udin.
“Beres.” Senyum mengembang di bibir Mirza setelah selesai mentransfer sejumlah uang pada Udin lantas kembali menyibukkan diri dengan aktifitasnya.
Sementara itu di rumah sakit, Udin yang baru saja masuk ke kamar perawatan setelah dari mushola, heran tak mendapati istrinya disana padahal beberapa saat yang lalu sebelum dia keluar Ice masih menemani Bu Een.
“Ce?” Udin melongok ke dalam toilet, barangkali si Ice Juice itu lagi terkurung di toilet rumah sakit. Nihil, mau tanya sama Bu Een nggak mungkin karena kedua matanya tampak terpejam.
Dilihatnya mangkuk bubur yang masih utuh di atas nakas. Udin keluar untuk mencari istrinya, namun baru saja dia merogoh sakunya hendak mengambil ponsel bermaksud menelpon si Ice, sosok yang dicarinya nongol dari balik koridor dengan membawa beberapa makanan ringan.
“Ce, dari mana aja sih kamu?” Tanya Udin.
Ice cuek aja, dia mendaratkan pantatnya di bangku depan ruang perawatan sambil nyemil kripik singkong.
“Ce, Akang nanya, kamu dari mana aja?” Udin agak kesal dicuekin.
“Nggak liat nih aku bawa makanan? Berarti habis dari kantin.” Ketus Ice.
Duduk di sebelah Ice. “Kenapa kamu ningglin ibu sendirian? Kan tadi Akang bilang kamu tungguin ibu dulu sementara aku ke mushola? Terus makannya ibu juga kenapa masih utuh? Kamu nggak suapin ibu?”
“Hish, Akang ini cerewet banget sih? Orang Bu Een nggak mau makan, ya udah kenapa harus dipaksa?”
“Ya kamu bujuk dong, gimana caranya biar ibu mau makan.”
“Ogah banget. Pake dibujuk-bujuk segala kayak anak kecil aja. Ntar juga kalo Bu Een laper, dia minta makan sendiri.” Jawab Ice enteng sambil terus nyemil kripiknya.
“Ce, nggak bisa gitu dong. Bu Een itu udah akang anggap kayak ibu Akang sendiri. Akang udah 10 tahun lebih ikut kerja Bu Een, ini saatnya akang balas budi sama Bu Een.” Udin coba memberi pengertian pada Ice Juice.
“Akang yang mau balas budi kenapa jadi aku yang harus ikutan rempong?” Sahut Ice.
“Ce … “
“Akang itu terlalu baik jadi orang,” potong Ice. “Bukannya selama akang kerja, Bu Een sering berlaku semena-mena sama akang? Akang sering diomelin nggak jelas, sering dimarahin tanpa sebab, sering disuruh-suruh seenaknya, bahkan akang dipecat secara nggak hormat, nggak dikasih pesangon, keringat akang diperas habis-habisan tanpa belas kasihan. Dan sekarang akang masih mau berbaik hati jagain Bu Een itu! sadar kang, sadar! Dia mati juga bukan urusan kita, dan akang nggak rugi sama sekali.” Cerocos Ice kayak petasan renceng.
“Aztaghfirullah, Ce … “ Udin mengelus dada menatap istrinya dengan raut sendu.
Ice melengos tak mau luluh dengan tampang iba sang suami, kembali asyik mengunyah kripiknya. Dia sudah tau tentang masa lalu Udin ketika kerja di toko sembako Bu Een dari banyak orang. Dan semua orang mengatakan hal yang sama, Udin diperlakukan semena-mena oleh Bu Een.
“Ice Juice istri sholehahnya akang,” meraih kedua pundak istrinya untuk menghadapnya. “Akang nggak menyalahkan kamu kalo punya pikiran kayak gitu. Tapi kamu juga harus tau, dulu saat akang butuh kerjaan nggak ada orang yang mau nerima akang. Akang ini orang miskin, akang butuh biaya buat menghidupi nenek dan ibu akang yang sakit-sakitan karena akang anak yatim sejak kecil jadi nggak ada yang cari nafkah. Akang nggak punya keterampilan apa-apa, akang juga nggak punya ijazah sekolah tinggi, akang hanya lulus SMP, dan kala itu hanya Bu Een yang mau nerima akang kerja. “
Hati Ice mulai goyah, ia melihat kedua netra sang suami yang mulai mengembun. Ice tau meski wajah Udin sangat pas-pasan tingkat kecamatan, namun hati suaminya itu sangat baik. Ia pria yang bertanggung jawab, pekerja keras dan penyayang. Hal itulah yang menjadikannya tak ragu untuk mau diperistri oleh Udin.
“Ce, kalo kamu nggak mau melakukannya untuk Bu Een karena kamu nggak menyukainya, setidaknya lakukanlah untuk Om Jaka dan Mas Mirza.” Lanjut Udin mengusap kedua matanya. “Mereka sudah teramat baik pada akang, pada kita berdua. Meraka adik dan anak kandung Bu Een, mereka menganggap akang sebagai keluarga mereka. Masa akang tega mengecewakan mereka?”
Ice terenyuh, dalam hatinya membenarkan juga perkataan suaminya. Dia memang tidak menyukai Bu Een karena menurutnya kejam dan jahat banget sama suaminya, tapi Om Jaka dan Mirza meskipun ada hubungan darah nyatanya sifat dan watak mereka sangat berbeda jauh dari Bu Een. Ice mengela napas lantas mengangguk.
“Maksih ya, Ice Juice istri kesayangannya akang.” Udin menjawil pipi Ice dengan senyuman.
“Iya, Kang. Maafin aku ya udah egois.”
“Iya sayangku.” Udin memeluk istrinya.
“Ih, akang jangan peluk-peluk ah malu, kan ini rumah sakit?” mendorong suaminya tersipu malu.
Udin nyengir. “Oya, akang lupa sesuatu,” merogoh ponselnya dari dalam saku celana.
“Lupa apa, Kang?”
Sibuk sejenak. “Ini lho,” memperlihatkan satu pesan yang masuk di ponselnya pada istrinya.
“Siapa yang kirim uang, Kang? Kok banyak banget 5 juta?” Heran Ice setelah membaca pesan e-banking suaminya.
“Mas Mirza.”
“Mas Mirza? Kenapa dia kirim uang ke akang?” masih dalam mode heran.
“Uang ini katanya buat kamu.”
“Buat aku?” makin terheran-heran. “Kok buat aku? Kenapa Mas Mirza ngasih aku uang sebanyak itu?”
Udin lantas menceritakan kenapa Mirza mentransfer uang itu ke dalam rekeningnya. Seketika kedua mata Ice Juice berbinar penuh cahaya kebahagiaan mendengar penuturan suaminya.
“Ya udah Kang, cepetan kita masuk ke dalam sekarang. Kita bujukin Bu Een biar mau makan.” Ajak Ice seraya bangkit.
“Semangat banget?”
“Iya dong, kan Mas Mirza udah kasih aku uang. Jadi aku harus sepunuh hati jagain Bu Een.”
“Hem, berarti kamu melakukannya karena uang dong?”
“Ck! Akang ini ya,” berdecak sebal. “Siapa coba yang nggak seneng dikasih uang segitu?”
“Perbaiki niat kamu dulu Ce, nanti Allah kasih kamu rejeki yang nggak disangka-sangka.”
“Iya, cerewet ah! tapi kan semuanya harus bertahap? Udah yuk, Kang!” menerik tangan Udin untuk segera masuk ruang perawatan Bu Een meninggalkan begitu saja keripik singkong di bangku depan kamar.
❤️❤️❤️❤️❤️
Rumi lagi santai di depan TV nonton berita poitik yang sedang menghangat. Lagaknya sok-sokan kayak ngerti dunia perpolitikan aja, padahal biasanya juga acara ghibah artis yang dia tonton. Keasyikannya itu terganggu oleh Azad yang datang mengejutkannya.
“Rumi, Jane kemana ya? Kok dari kemarin aku nggak liat dia?”
Diam, masih anteng memperhatikan layar TV.
__ADS_1
“Rumi!”
“Ngh?”
“Jane kamana? Dari kemarin nggak keliatan?” Ulangnya.
Menoleh, “pulang.”
“Pulang?” Kaget.
“Iya. Kenapa? Nggak usah sok kaget deh lo! Drama!” Ketus Rumi lantas kembali pada layar TV.
Duduk menghalangi pandangan Rumi yang tengah khusyuk menyimak berita yang kali ini tengah menyiarkan kunjungan prisiden yang sedang meninjau proyek pembangunan bendungan di Way Sekampung Bandarlampung.
“Ish, minggir lo! Ganggu pemandangan gue aja!” Menyingkirkan tubuh Azad.
“Kenapa Jane pulang nggak bilang-bilang aku sih?”
“Emang elo siapanya dia? Sok penting lo!” Ketus Rumi.
Bersandar pada Sofa. “Rumi, apa Jane nggak bilang sesuatu sebelum pergi?”
“Bilang. Dia katanya males sama elo, makanya dia balik. Elo udah nyuekin dia gara-gara cewek lain.”
“Dia bilang begitu?” Menegakkan duduknya manatap Rumi menuntut penjelasan lebih.
“Elo nggak ngerasa emang?”
Menyugar rambutnya seraya mendengus kasar. “Jane, maafin aku.”
“Minta maap sana sama orangnya! Elo tuh jadi cowok plin plan, nggak punya pendirian. Elo kasih perhatian sama Jane tapi masih ngejar cewek lain.”
Melangkah gontai menuju kamar, hatinya dipenuhi penyesalan. Memang tak seharusnya dia bersikap seperti itu. dia harus memantapkan hati pada Jane. Bukan, bukan karena dia ditolak mentah-mentah sama Bu Harni atau diancam oleh Toni, namun karena dia menyadari kekeliruannya. Dia tau sebenarnya sejak lama hatinya menyimpan persaan pada Jane, oleh sebab itu dia sempat sangat membenci Jane ketika dia dekat dengan Ramzi. Itu semata-mata karena dia merasa cemburu, perempuan yang disukainya hampir saja menjalin hubungan dengan kakak iparnya sendiri. Ah, kenapa dirinya begitu bodoh? Saat Jane sudah tak lagi punya perasaan pada Ramzi dan mulai menunjukkan rasa yang sama padanya, kenapa justru dirinya terjebak pada pesona Riri?
Sadar, Azad! Riri itu hanya ambisi, cintamu hanya pada Jane. Jane yang baik, yang perhatian, yang pemaaf dan penuh kasih sayang, yang cantik, yang … Aaargh!
Azad mengacak rambutnya sendiri frustasi. Lantas gegas mengemasi pakainnya.
“Rumi, antar aku sekarang!” Titahnya keluar kamar yang langsung membuat Rumi tebengong-bengong.
“Anter kemana?” Rumi mengernyit.
“Pulang.”
“Ke Jakarta?”
“Ke – “ nggantung, bener juga masa Rumi suruh anterin ke Jakarta. “Jane kemarin pulang naik apa?” Lanjutnya kemudian.
“Naik kereta.”
“Ya udah, antar aku ke stasiun sekarang.”
“Hem. Emang elo udah pesen tiketnya?”
Menggeleng polos. “Belum. Tapi kita bisa beli langsung di sana, siapa tau masih ada.”
“Kita? Elo aja kali! Gue kan nggak mau pulang?”
“Iya, maksudku aku yang akan beli tiketnya. Ayok, cepat.”
“Ogah!”
“Rumi, please … “ Mengiba penuh permohonan.
“Ogah ya ogah. Elu kudu ngerasain dulu gimana menderitanya elo ditinggal Jane.”
“Rumi, kamu tega.”
“Emang!”
“Nggak ada.”
“Kemana?”
“Ke laut!” Sahut Rumi seraya bangkit meninggalkan Azad dengan langkah cepat.
“Rumi!” Seru Azad.
BRUGH!
Membanting pintu kamar dengan kasar sampai bikin Azad berjingkat kaget.
❤️❤️❤️❤️❤️
Minggu pagi yang cerah, Via baru saja selesai olah raga ringan di halaman depan rumah dengan telanjang kaki. Aroma masakan yang dimasak Riri wanginya tercium sampai depan membuat Via tak sabar ingin segera mencicipinya.
“Ri, udah mateng belum? Mbak laper nih,” nyamperin Riri ke dapur.
“Bentar lagi Mbak.”
“Mbak tunggu di belakang ya.” Melangkah menuju teras belakang dan mendaratkan pantatnya di kursi teras. Sepasang capung bewarna merah terbang melintas di depannya lalu hinggap di atas tanaman kebun belakang rumahnya. Via tersenyum kala kedua capung yang sepertinya berlainan jenis kelamin itu tampak sedang memadu kasih di atas daun kates.
Pagi-pagi udah sweet aja itu capung. Pikir Via, ia teringat Mirza yang selalu sweet dan romatis pada dirinya. Buset Vi, liat capung kok malah inget sama laki elu sih? 😂
Via mendesah pelan, namun sudah beberapa malam ini tepatnya sejak keadaan Bu Een membaik, Mirza jadi sering bermalam di rumah sakit. Meski Via sepenuhnya sadar bahwa Bu Een lebih membutuhkan perhatian Mirza, namun ia tak menyangkal bahwa kadang ia merasa kesepian dikala malam menjelang. Terlebih lagi jika Mirza pulang sudah dalam keadaan lelah, mereka jadi jarang nganu 🤭
“Assalamualaikum.” Terdengar suara salam dari depan.
“Wa alaikumsalam.” Sahut Riri. “Eh, Mas Mirza?” Sapa Riri yang melihat Mirza sudah berada di dalam rumah karena pintu depan memang terbuka.
“Sarapan dulu Mas, aku lagi masak bentar lagi mateng.”
“Nanti aja, Ri. Mas capek banget nih, pingin mandi terus ngelanjutin tidur. Maklum semalaman begadang.”
“Oh, ya udah.”
Mirza masuk kamar, Riri kembali ke dapur.
“Ri, tadi Mas Mirza kan?” Tanya Via.
“Iya, capek katanya aku ajak sarapan sekalian.”
Sedikit heran karena tak biasanya Mirza tak menanyakan dirinya pada Riri ketika pulang.
“Mbak mau sarapan sekarang?” Menuangkan masakannya ke dalam wadah.
“Nanti aja, Mbak mau nemuin Mas Mirza dulu.” Melangkah menuju kamar, sang suami sudah berada di dalam kamar mandi. “Mas?” Via mengetuk pintu kamar mandi.
“Ya.”
“Mandi?”
“Iya, kenapa Sayang?”
“Nggak papa.” Duduk di tepi ranjang merapikan tas kerja suami yang juga terisi baju kotor bekas bermalam di rumah sakit.
Drrrt Drrrt …
Ponsel Mirza di dalam saku tas bergetar, sebuah pesan masuk. Dari nomor baru tak ada fotonya pula, penasaran Via membuka pesan itu karena memang ponsel Mirza tak pernah dikunci.
Mas Mirza, makasih atas semua kebaikan hatimu ya. Mas Mirza memang laki-laki yang bukan hanya genteng, tepi juga sangat baik. Aku beruntung bisa kenal Mas Mirza. Uang dari Mas Mirza udah aku terima kemarin, aku sangat tersanjung mendapat perhatian dari Mas Mirza. Aku nggak akan melupakan kemurahan hati Mas Mirza. Oya, nanti malam ke rumah sakit kan Mas? Sebagai ucapan terima kasihku aku akan buatkan masakan untuk Mas Mirza, nanti kita makan bareng ya?
Hati Via mendadak sesak, ngilu, pedih, perih campur jadi satu membaca pesan yang panjang lebar penuh kata-kata sanjungan yang diperuntukkan bagi suaminya itu. Via yakin sang pengirim pesan adalah permpuan.
Tangan Via tiba-tiba melemah, ponsel yang dipegangnya jatuh ke atas kasur, ia sibuk menata perasaannya sendiri.
__ADS_1
Mas mirza ngasih uang ke perempuan lain? Untuk apa? Dan siapa perempuan itu? pake ngajakin makan bereng segala lagi? Dia ngomongin soal rumah sakit? Apa mereka sering ketemu di rumah sakit tanpa sepengetahuan ku? Via menerka-nerka tentang berbagai kemungkinan yang berseliweran di benaknya.
"Tega kamu, Mas. Pantaes aja kamu betah nginap terus di rumah sakit? Alasan nunggu ibu, padahal kamu ketemuan sama perempuan lain. Dan perempuan itu ada hati sama kamu. Hiks, hiks ... " Via sesenggukan sendiri kerena membayangkan terlalu jauh akan apa yang sudah dilakukan suaminya di belakangnya.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, wajah fresh Mirza muncul dengan senyum manisnya.
“Sayang, kamu kenapa?” Senyumnya mengkeret kala sadar istrinya tengah berlinangan air mata.
“Mas kamu jahat!” bangkit mendorong suaminya yang masih bertelanjang dada. “Mentang-mentang aku sekarang udah tambah gemuk karena hamil dan nggak menarik lagi, kamu tega main perempuan di belakangku! Pantesan aja kamu betah bermalam terus di rumah sakit, ternyata kamu diam-diam sering ketemuan dengan perempuan lain. Aku tau aku nggak langsing lagi, tapi nggak gini caranya kamu memperlakukanku. kamu nyakitin aku. Di depanku kamu bersikap selalu manis, padahal dibelakangku kamu menghianatiku!” Ungap Via dengan luapan emosinya yang membuncah.
Mirza malah plonga plongo bingung, drama kah ini?
“Sayang, kamu ngomong apa?” Mendekat bermaksud meraih tangan sang istri namun Via menepisnya kasar.
“Don’t touch me!” Via malah sok Enggres.
“Tapi Mas beneran nggak ngerti maksud kamu apa, Sayang.”
“Nggak usah ngeles! Baca ini!” Meraih ponsel suaminya dan mendorongnya ke dalam dada Mirza lantas dia ambil langkah seribu keluar amar.
Mirza tampak membaca serius pesan yang dimaksud Via. Mirza segera paham akar permasalahnya. Gagas ia susul sang istri yang ternyata tengah melanjutkan tangisnya di ruang tengah.
“Sayang, kamu salah paham.”
“Jangan deketin aku, Mas.” Bangit menghindar menuju ruang makan.
“Tapi kamu harus denger dulu penjelasnku.” Mengejar langkah Via.
“Aku nggak mau denegra pa-apa!” Seru Via terus menghindar menuju teras belakang.
“Sayang, ini nggak seperti yang kamu pikirkan.” Tak mau menyerah terus mepetin Via.
Riri sampai terheran-heren menyaksikan kejar-kejaran antara mbaknya dan kakak iparnya yang masih telanjang dada itu, terlebih lagi karena Via menangis.
Perasaan tadi Mbak Via baik-baik aja, kok bisa nangis gitu? Batin Riri heran, lantas mengintip kepo dari balik pintu belakang adegan kedua insan yang lagi berseteru itu.
“Sayang, yang ngirim pesan ini Ice Juice istrinya Udin.” Ujar Mirza.
“Nggak mungkin! Kenapa nggak kamu save nomernya?” Via tak begitu saja percaya.
“Ya karena Mas belum save nomernya.”
Tersenyum sinis. “Mas pikir aku bodoh? Buat apa Mas ngasih dia uang? Terus dia pake muju-muji Mas ganteng segala lagi.”
Mirza mengusap wajahnya kasar. Emang kata-katanya si Ice lebay banget, memaksa menjelaskannya pada Via pun rasanya percuma karena Via sudah terlanjur salah sangka dan emosi.
“Oke, Mas telpon dia sekarang kalo kamu nggak percaya.”
“Nggak usah! Kamu pasti udah menyusun sandiwara dengan perempuan itu biar aku nggak curiga!”
“Ya ampun!” Gemas pada dirinya sendiri. “Mas kirimin Udin uang 5 juta karena Udin udah ikut jagain Ibu. Karena Udin nolak, maka Mas bilang uang itu buat Ice aja. Makanya Ice bilang begitu sama Mas, ya memang lebay banget sih si Ice itu, tapi mungkin itu karena dia terlalu seneng.”
“Cepat telpon sekarang kalo gitu.” Mengusap jejak air mata di pipinya.
“Ok.”
“Video call, biar aku tau beneran tampang si Ice apa bukan yang nongol.”
Mirza mengangguk, beberapa saat nada tunggu lantas layar gawainya memeperlihatkan tampang Ice yang tersenyum lebar karena mendapatkan video call dari Mirza.
“Halo, Mas Mirza.” Sapa Ice Sumringah. “Ada apa nih video call? Mau perlu sama akang Udin ya?”
“Ada yang mau ngomong sama kamu nih.” Memberikan gawainya pada Via.
Ice sedikit kaget melihat wajah Via yang habis menangis. “Halo, Mbak Via. Apa kabar?” Sapanya agak ragu.
“Ce, beneran ini nomer hp kamu?” Tanya Via tanpa basa basi.
“Iya, Mbak.”
“Yang tadi ngirim pesan sama Mas Mirza siapa?”
Terdiam sebentar, “oh, aku Mbak.” Sahut Ice lempeng.
“Beneran kamu? Bukan orang lain?”
“Pesan ucapan terima kasih kan, Mbak?” Ice malah balik nanya.
“Hem. Ucapan terima kasih sambil muju-muji Mas Mirza ganteng dan baik hati, terus mau masakin makanan buat Mas Mirza dan ngajakin Mas Mirza makan bareng.” Ucap Via bertubi-tubi dengan wajah dingin.
Ice sontak merasa bersalah. “I-ya, itu aku. Maafin aku ya Mbak.” Lirih Ice Juice menyesal, ia tau kenapa wajah Via terlihat habis menangis, pasti gara-gara isi pesannya yang bikin salah paham. “Mbak aku sama sekali nggak bermaksud – “
“Lain kali nggak usah berlebihan muji-muji suami orang.” Tandas Via. “Nih!” memberikan kembali ponsel pada suaminya setelah mematikan begitu saja sambungan video call dengan Ice Juice.
“Jadi sekarang kamu udah percaya kan, Sayang?”
Tak menyahut, balik badan hendak meninggalkan suaminya namun Mirza segera menangkap pergelangan tangan kanannya. “kamu masih marah, Sayang?”
“Masih kesel!” Sahut Via tak mau melihat pada suaminya.
“Kesel apa malu udah ngomel-ngomel ternyata salah sangka.” Goda Mirza.
“Ish! Siapa yang nggak kesel coba suaminya dipuji-puji sama perempuan lain secara berlebihan?” berbalik menatap Mirza tajam.
“Berarti kamu cemburu, Sayang.”
“Iya lah aku cemburu. Wajar kan?” nyolot.
“Makasih ya kamu udah cemburu, Sayang. Berarti kamu cinta banget sama aku suamimu yang genteng dan baik hati ini.” “Meraih pinggang Via yang sudah melebar.
Tersenyum menundukkan wajahnya karena malu.
Mengangkat dagu Via lembut. “Cium dong kalo beneran cinta.” Hampir mel*hap bibir ranum Via namun suara Riri keburu memekik mengagetkan mereka.
“Oh, no!” menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Riri?” Via dan Mirza bersamaan.
“Aku nggak liat apa-apa kok.” Balik badan pergi dengan langkah cepat.
“Kita lanjut di kamar yuk, Sayang.” Meraih tubuh Via yang sudah bertambah berat ke dalam gendongannya.
“Mas, turunin!” Via berontak.
“Diem, Sayang.”
“Tapi turunin, kan aku berat? Nanti kalo kita jatuh gimana?”
“Makanya kamu diem, Sayang.” Melangkah gagah menuju kamar menggendong Via ala bridal style. “Sayang, jangan gerak terus. Nanti handuk Mas bisa melororot.”
Via baru pasrah, horor juga kalo tiba-tiba handuk yang dipakai suaminya beneran melorot.
Sampai kamar, Gegas Mirza tutup dan kunci pintu. Tak ketinggalan juga jendela kamar dan tirainya ditutup rapat-rapat.
Cukup sekian dan terima kasih ya, monggo dilanjut Mas Mirza dan Mbak Via 🤭
Terima kasih sudah membaca. Maaf ya kalo banyak typo🙏🙏🙏
Like😍
Komen😊
Vote🤩
__ADS_1
I luv you all🤗🤗🤗😘😘😘