
STOP dulu!
Yakin nih mau baca part ini??🙄
Isinya nggak seserius beberapa bab sebelumnya lho…😁😁
Sengaja othor buat biar kagak spaneng adegan kenceng mulu, 😆😂
Okay kalo yakin, MarKiJut….. Mari Kita Lanjut …
❤️❤️❤️❤️❤️
Lewat tengah malam udara semakin terasa dingin, padahal Via tak menyalakan AC dalam kamar. Ia menggeliat perlahan, mengubah posisi tidurnya miring ke samping kiri merangkul seonggok daging hidup yang terasa begitu hangat dan nyaman. Via melukin Mirza dari belakang, lengan kanannya melingkar posesive pada perut roti jabrik sang suami. Tak berapa lama setelah melukin sang suami, Via tiba-tiba mendesis perlahan. Ia beringsut ke tepi ranjang kerena desakan HIV (Hasrat Ingin Vivis 🤭🤭).
Dengan langkah malas Via turun dari ranjang menuju kamar mandi, ia sampai bergidik kedinginan ketika menyentuh air. Mirza yang tadi sempat merasakan tubuhnya dipeluk, membalikkan badan meraba tempat di sebalahnya. Kosong. Matanya mengerjap menyesuaian dengan cahaya, lantas memindai seisi kamar.
“Sayang?” Tegur Mirza yang melihat Via keluar dari kamar mandi dengan agak menggigil.
“Ssh, dingin banget Mas. Tadi aku abis pipis.” Via kembali naik dan mendusel pada tubuh hangat Mirza.
Mirza menarik selimut untuk istrinya hingga sebatas leher.
Cup!
“Tidur lagi Sayang, nanti Mas bangunin kalo udah subuh.” Mirza mendaratkan kecupan singkat dan merengkuh Via ke dalam pelukannya.
Hening kembali, tak ada suara binatang malam barang sebiji pun. Mereka juga nampaknya asyik terlelap dalam rumahnya masing-masing (Aih, binatang juga punya biji ya? 😅). Sesekali hanya terdengar hembusan suuara angin malam diiringi gesekan ranting-ranting pohon dari rumah tetangga sebelah. Desahan nafas halus sahut-sahutan menandakan Via dan Mirza sudah kembali ke alam mimpi.
Bagaikan sudah mempunyai alarm otomatis dalam dirinya, Mirza selalu bangun tanpa waker setiap menjelang subuh. Ia lepaskan perlahan belitan tangan sang istri agar tak mengusiknya. Mirza akan membiarkannya tidur sebentar sementar ia membersihkan diri di kamar mandi. Namun belum juga Mirza kembali dari kamar mandi Via sudah terbangun. Dia terdiam beberapa saat masih dalam posisinya, sepertinya Via sedang memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian Mirza muncul hanya dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, ia sedikit heran melihat istrinya sudah bangun dengan wajah bengong tak seperti biasanya.
“Sayang, kamu udah bangun?” Mirza berjalan mendekat, tak ada sahutan. “Sayang ….” Mirza duduk di tepi ranjang.
Via baru ngeh, menoleh pada sang suami. “Mas, aku mau makan nasi kenduri.” Ucapnya dengan wajah lurus macam jalan tol bebas hambatan.
“Kamu baru aja mimpi makan nasi kenduri, hm?” Mirza menyingkirkan anak rambut dari kening istrinya.
Via menggeleng samar. “Aku mimpi ketemu ayah.”
Deg!
Mirza agak terkejut, sudah lama sekali Via tak pernah cerita soal mimpi ketemu ayahnya. Kenapa tiba-tiba Via mimpi ketemu dengan ayahnya?
“Dalam mimpi itu ayah membawakan nasi kenduri, kami semua berkumpul satu meja dan makan bersama.” Lanjut Via menerawang. “Ada Ibu, Mbak Tia, aku dan juga Riri. Kami merasa sangat senang, nasi kendurinya rasanya enak banget.”
Mirza mengulas senyum dan membelai pipi istrinya lembut. “Kamu lagi kangen sama almarhum ayah, Sayang?”
“Aku selalu merindukannya Mas.” Raut sendu kini membingkai wajah ayu Via.
“Kalo gitu ayok bangun, mandi dan kita shalat subuh berjamaah. Kita kirim doa untuk ayah ya.” Mirza meraih kedua pundak istrinya membantunya bangun.
Via sudah duduk namun belum juga mau beranjak dari kasurnya, ia malah terlihat lebih sedih. Ditatapnya manik mata sang suami intens.
“Sayang, jangan bersedih. Ayah sudah tenang di alam sana.” Hibur Mirza menggenggam jemari Via. “Hal terbaik yang bisa kita lakukan sebagai anak-anaknya untuk ayah adalah mendoakannya.” Imbuh Mirza.
“Bukan itu yang membatku sedih Mas. Aku selalu mendoakan ayah setiap selesai shalat 5 waktu kok.”
“Lantas?”
“Aku pingin makan nasi kenduri.” Jawab Via dengan wajah nampak makin sedih.
“Gara-gara mimpi ketemu ayah?”
“Heem, mungkin. Tapi aku benar-benar menginginkannya Mas.”
__ADS_1
Mirza mengehla napas.
“Kenapa, Mas? Kamu nggak mau mengabulkannya ya?” Raut kecewa kini bermain di wajah cantik Via.
“Bukan itu Sayang, tapi …”
“Iya! Bilang aja iya, Mas nggak mau mengabulkannya untukku kan?” Via melengos membuang muka dengan muka ditekuk sedemian rupa membuat Mirza merasa sagat bersalah.
“Sayang ….” Mirza meraih dagu istrinya agar wajahnya kembali mengahadapnya. “Bukan begitu maksud Mas, kan tadi belum selesai ngomong? Mas nanti bakal beliin deh nasi kendurinya. Jangan ngambek ya?” Bujuk Mirza.
“Kok beli sih Mas? Nasi kenduri itu bukan dapet beli! Mana ada orang jual nasi kenduri? Mas ini aneh-aneh aja! Nasi kenduri ya dapetnya dari acara kendurian bukan dari pasar apalagi restoran! Mas mau bohongin aku? Aku nggak mau nasi kenduri yang sengaja dapet beli. Aku maunya nasi kenduri yang pake gulungan daun pisang kayak yang dibawa ayah dalam mimpiku yang didapat dari kendurian rumah tetangga, titik!” Via mengomel dua kali panjang tambah kebar menumpahkan kekesalannya sampai bikin Mirza hampir lupa napas. Seketika Mirza tersadar. Dirinya salah ngomong barusan.
“Nasi kenduri yang digulung daun pisang?” Malah kalimat itu yang keluar dari mulut Mirza dengan wajah yang …. Kalo othor boleh bilang, bl**n. 😁😁🤭
“Iya. Emangnya Mas belum pernah liat?” Via nyolot lagi. “Yang ada suwiran ayam ingkungnya itu lho. Yang kalo dulu jaman kita anak-anak kita sering dapat dari ayah kita kalo pulang kendurian dari rumah tetangga.” Papar Via.
TEEET …..
Waktu Mirza bengong sudah habis. Mirza gagal membayangkan seperti apa bentukan wujud nasi keduri yang digambarkan Via. Seingatnya, dari jaman dia bocah almarhum ayahnya belum pernah membawa nasi kenduri dalam wujud penampakan seperti itu. dia ingatnya sudah dalam wujud wadah dari anyaman bambu. Ah… tapi itu sudah dulu sekali, sekarang mana ada wadah ansi kenduri pake anyaman bambu…? 🤔🤔
“Mas, kok diam aja sih?” Tegur Via.
“Eeh, iya Sayang. Mas tau kok.” Dusta Mirza. Terpaksa dia bohong, daripada Via mencak-mencak lagi ya, Za? Iyain aja deh, biar Via seneng, hehe….😆😆
“Terus kapan, Mas?”
“Apanya?” Mirza kembal dalam mode bl**nnya.
“Ya nasi kendurinya? Kok apanya sih? Mas tadi nggak dengerin aku ngomong? Mas pikir aku radio bodol apa ngomog sendiri nggak ada yang dengerin?”
Kaaaaaan…… dimomelin lagi Za. Kamu sih ….. 😏😏😏
“Eh, iya … iya … Sayang, segera Mas carikan nanti. Sabar ya.” Hibur Mirza demi menenangkan sang istri.
“Janji Sayangku. Demi calon buah hati kita.” Mirza meneglus lembut perut Via yang sudah mulai nampak menyembul sekepalan tinju orang dewasa.
Seketika Via menghambur memeluk suaminya yang tampan nan baik hati tiada tara itu.
“Makasih ya, Mas. Kamu emang terbaik.” Puji Via penuh kebahagian.
Cup cup cup!
Via sampai mengecup berkali-kali bibir Mirza tanpa melepaskan lengannya yang melingkar di leher sang suami. Kontan saja Mirza terperangah senang bukan kepalang, pasalnya ini adalah hal yang sangat langka. Via tak kan pernah mau nyium duluan kalo bukan karena sedang sangat berbahagia penuh kembang tujuh rupa bermekaran dalam hatinya. Ish, kok kembang 7 rupa?😱 agak serem sih, tapi maksudnya othor bukan kesana kok.😀
“Terima kasih kembali, Sayang.” Balas Mirza dengan senyum super menawannya yang sanggup bikin para cicak-cicak di tembok lupa pegangan saking terpesonanya. “Sekarang kamu mandi dulu ya. terus kita shalat subuh berjamaah.”
“Baik, suamiku.” Via bangkit bersamaan dengan Mirza. “Eh, Mas mau kemana? Kok ikutan sih?” Tanya Via yang tau suaminya mengekor ke kamar mandi. Ia berbalik menatap suaminya heran.
“Mau wudhu Sayang, kan tadi batal udah megang-megang kamu.”
“O…” Bibir Via membulat sempurna.
“Apa kamu mau yang lebih dari sekedar dipegang-pegang?” Mirza menowel hidung Via dengan senyum jahilnya.
“Ish, jangan mulai deh!” Cebik Via.
“Biar Mas mandi lagi. Jadi kan kita bisa mandi bareng, hehe…..”
Via sempat membelalakkan matanya, namun sejurus kemudian malah pasang senyum, Mirza mengira istrinya itu setuju denagn idenya yang ia anggap cemerlang meski terkesan dadakan. “Mau mandi bareng ya?” Goda Via mendekat pada suaminya.
Mirza mengangguk cepat dengan wajah sumringah.
“Boleh. Tapi …..” ia sengaja menjeda kalimatnya, matanya melirik sekilas pada handuk yang dikenakan Mirza, lalu dengan gerakan cepat….
__ADS_1
SREET…!
Ditariknya handuk putih yang membelit pinggang sang suami sehingga terpampanglah dengan sangat jelas tanpa sehelai benang pun si belalai gajah tanpa gading itu di depan mata Via. Sontak saja Mirza terkejut dengan aksi sang istri yang tak dinyana-nyana itu.
“Ohhh….. Nooo….!!” Mirza sibuk menutupi belalainya dengan kedua telapak tangannya sedangkan Via tertawa puas sudah mengerjai suaminya. Ia menuju ke sisi ranjang membawa handuk Mirza.
Za…!! Ngapain pake ditutupin segala? Kayak anak perawan mau malam pertama aja lu….?
TRING!
Mirza rupanya dengar suara hati emak othor. Dia melepaskan tangannya dari pusaka keramat miliknya lantas menyeringai ke arah Via. Matanya menyorot tajam, membuat Via menghentikan tawanya seketika.
“Karena kau sudah berani melihat tongkat pusaka keramatku, maka kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, wahai Nyi sanak!” Mirza berjalan cepat menuju istrinya.
“Whoa….! Kau mau apa Ki Sanak?” Via berteriak panik dan melemparkan handuk ke arah Mirza.
SWIING….
Lemparannya meleset, Via semakin panik manakala Mirza sudah berhasil mendekapnya dari belakang dan merasakan sesuatu menempel di bokongnya. (ohh, belalai gajah pindah tempat rupanya?🤭🤭)
“Ki sanak lepaskan aku, kau mau apa….?” Via berusaha melepaskan diri.
“Aku mau memakanmu!” Jawab Mirza dengan suara dibuat menyeramkan. Lalu segera membalik tubuh istrinya dan menghujani ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah dan leher Via tanpa ada seinci pun yang terlewat. Via sampe terkekeh kegelian dibuatnya. Aksi mereka baru berhenti ketika terdengar kumandang adzan subuh dari masjid kompleks.
“Sudah cukup, Mas.” Via mendorong perlahan tubuh wangi suaminya. “Mukaku bisa gatel-gatel semua gegera brewokmu mengoyak-oyak pori-pori kulit wajahku.”
“Heem, gatel-gatel ya?” Mirza mau nyosor lagi.
“Mas! Udah adzan ih!” Tolak Via menutup bibir suaminya dengan telapak tangan kanannya.
Mirza mendengus. “Baiklah, kali ini kau ku ampuni wahai Nyi sanak. Tapi lain kali aku akan menghabisimu.” Mirza membuat gerakan seperti hendak mencakar dengan tangan kanannya lantas melenggang menuju kamar mandi.
“Mas…!” Panggil Via.
“Apa Sayang? Kamu mau aku lanjutin yang tadi, hm?”
“Pakai handukmu!”
“Astaghfirullah!” Dengan cepat Mirza mencomot handuknya yang teronggok di lantai.
Via tersenyum geli demi melihat tingkah konyol suaminya.
❤️
Note;
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata kenduri adalah perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, minta berkat dan sebagainya. Arti lainnya dari kenduri adalah selamatan.
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca ya …🙏🙏😍😍
Nggak percaya sih, kan tadi udah dibilangin part ini nggak serius-serius amat, wkwwkkk🤭🤭
Jangan lupa jempolnya ya Kak 😊
Komen juga dong biar othor makin semangat💪💪💪
Vote boleh nggak? 🙄Boleh kali, kan besok hari senin. Eeh 😅😁
Tetap jaga kesehatan ya semuanya. Selamat menyambut Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan🙏🙏🙏
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1