
Pukul 7.15 pagi Via baru keluar kamar setelah selesai mempersiapkan bahan presentasi untuk siang nanti. Tak sia-sia ia berkutat dengan file yang dikirimkan Cila sedari lepas subuh tadi, akhirnya semuanya beres.
“Mas, aku berangkat ya …” Via berjalan seraya memeriksa kunci mobil di tasnya.
“Lho, sarapan dulu Sayang.” Mirza agak kaget mendapati istrinya sudah di ruang makan.
“Roti selai coklatku mana?” Via meraih segelas air putih dan meneguknya hingga tandas. Gluk.. gluk.. gluk…
“Katanya mau tumis kangkung? Ini Mas lagi bikinin lho.”
“Haish! Mas ini ada-ada aja deh, masa pagi-pagi aku sarapan sama tumis kangkung? Ntar aku ngantuk di kantor gimana?” Via menggapai toples selai dan celingukan mencari roti tawar.
“Lha, yang semalem minta tumis kangkung siapa?” Mirza bengong dengan spatula di tangan kanannya.
“Ya aku sih. Tapi kan itu semalem, sekarang udah nggak kepingin lagi.” Sahut Via cuek. “Rotinya mana, Mas?”
Mirza melihat minyak di wajannya sudah panas lantas segera memasukkan irisan bawang putih ke dalam wajan.
“Mas, rotinya mana?” Ulang Via.
“Habis Sayang, udah Mas makan barusan.” Mirza tanpa menoleh terus mengaduk irisan bawang putih kemudian memasukkan potongan bawang merah.
“Habis? Kan semalem Mas nawarin aku roti selai coklat?” Dengus Via agak kesal.
“Kan semalem kamu bilang nggak mau Sayang?” Mirza masih tanpa menoleh lantas memasukkan potongan cabe setan. Aduk-aduk … dan ….
HATCHI….!
HATCHI …!
HATCHI .. HATCHI.. CHII….!!
Mirza dan Via kompakan bersin-bersin gegara aroma setan goreng, ehh… aroma cabe setan goreng maksudnya 😅😅 Bulu-bulu hidung mereka kontan meremang, geli-geli merinding bikin fanas…
“Mas matiin kompornya! Ingusku sampe meler nih!” Seru Via seraya meraih tisu untuk membersihkan hidungnya. “Ya ampun, bajuku juga aromanya jadi aneh.” Via mengendus baju kerjanya yang udah wangi bercampur aroma dapur.
KLEK!
Mirza mematikan kompor.
“Maaf Sayang. Kamu tunggu di ruang tamu aja makanya ya.”
“Nggak ah, aku sarapan di kantin kantor aja kalo gitu.” Via bangkit.
Mirza segera mengejar. “Eeh jangan ngambek dong istriku…”
“Nggak ngambek Mas, cuman kelamaan kalo nungguin Mas masak. aku ada breafing pagi buat persiapan presentasi siang nanti.”
“Ok, Mas anterin kalo gitu.” Mirza sigap melepas celemeknya.
Via hanya menatap wajah sang suami, Mirza cepat peka. Ia mengendus bajunya.
“Mas pake parfum dulu kalo gitu.
“Nggak usah! Nanti kamu bau wangi, terus ada yang naksir. Kan semalem aku udah bilang Mas jangan pake parfum lagi.” Via seperti mengultimatum.
“Baiklah istriku. Mari kita berangkat.”
"Nih! Mending Mas pake ini aja biar nggak kebangetan gantengnya!" Via meraih topi anyaman di dekat bufet memberikannya pada suaminya lantas berjalan mendahului.
Mirza nurut aja pake topinyw lantas mampir ke kamar menyambar jaket kulit di gantungan balik pintu kamarnya.
"Hemm, mana mungkin kau bisa membuatku terlihat jelek wahai Mantili. Yang ada juga kakang masmu makin cakep dan keren kalo kayak gini." Mirza nyengir di depan cermin memandangi penampilannya sendiri.
"Mas.... cepatan....!!" Seru Via.
"Siap Sayangku....!" Balas Mirza setengah berlari menyusul sang istri yang sudah menungggu di teras depan.
Dalam perjalanan Via sibuk berbalas chat dengan Cila, fokus Mirza menyetir agak teralihkan karena Via cekikikan nggak jelas dengan layar hengpongnya.
“Ada yang lucu ya?” Mirza menoleh kepo.
“Si Cila nih Mas. Masa belum apa-apa dia pengen ngompol di celana katanya, padahal kan presentasi dia masih nanti siang.” Via masih terkikik geli membayangkan Cila betulan ngompol saking groginya. “Ini presentasi pertamanya Cila Mas, makanya dia grogi banget. padahal aku udah bilang sama Cila bahannya udah oke. Aku tambahi beberapa materi yang bagus juga buat dia, tapi tetep aja dia nggak pede katanya.” Papar Via menceritakan chatnya dengan Cila.
“Kirain kamu yang presentasi Sayang, abisnya Mas lihat dari abis subuh tadi serius banget kayaknya.” Mirza berbelok di perempatan sebelum lampu merah.
“Nggak, aku cuman bantuin Cila aja Mas.” Via memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu tersadar kalau jalan menuju kantornya berbeda. “Kok kita lewat sini sih Mas?”
“Kita sarapan bubur ayam Cirebon dulu ya? Masih setengah jam lagi kan masuk kantor?” Mirza memperlambat laju mobilnya mencari tempat parkir.
NGIIK
SREET
Tanpa menunggu jawaban sang istri, Mirza sudah menghentikan mobil begitu nemu tempat pakir yang pas. Via lekas mengekor suaminya yang sudah lebih dulu turun untuk memesan 2 mangkuk bubur ayam komplit dengan teh hangat.
“Kita duduk di sini Sayang” Mirza menarik satu kursi untuk Via. “Cemberut aja, senyum dong!” Mirza iseng menjawil hidung Via karena istrinya itu terlihat bête.
“Ish, Mas! resek deh!” Bibir Via mengerucut, lantas ia melirik jam tangannya.
“Jangan dilirikin mulu, ntar jam tangannya ke GR an lho.” Seloroh Mirza dengan senyum lebar.
“Nggak lucu!” Via malah makin terlihat kesal karena dia maunya sarapan di kantin kantor bukan di warung bubur ayam.
Tak berapa lama pesenan mereka datang. Mirza segera menjauhkan mangkuk sambal dari hadapan istrinya. “Nggak usah pake sambel, ntar sakit perut.”
“Apaan sih Mas? Kalo nggak pedes kan nggak enak?”
__ADS_1
“Pedesnya ntar aja makan tumis kangkung nanti malam.”
Via pasang tampang jutek, bisa-bisanya suaminya itu melarangnya dengan kejam begitu. Karena tak ingin bedebat lagi, Via langsung makan saja tanpa kata. Mirza memandangi istrinya sambil tersenyum. Secarik tisu diambilnya. “Pelan-pelan dong Sayang, kecapnya sampe belepotan gini.” Mirza mengusap bawah bibir Via yang bekas kecap tertinggal disana.
Tanpa mereka sadari sepasang mata di sudut ruangan mengamati mereka diam-diam. si empunya sepasang mata tadi tampak sangat penasaran dengan yang dilakuakn Via dan Mirza.
“Yang, ngeliatin apaan sih?” Tegur seorang gadis pada Yayangnya, lantas ia ikut mengamati kemana arah pandangan mata Yayangnya tertuju. “Itu … kayak Via deh.” Gumamnya.
“Kamu kenal Via?” Tanya si Yayang.
“Ya kenal lah, dia satu kantor sama aku.”
Tanpa menunggu lama si Yayang sgera bangkit menuju meja Via meninggalkan begitu saja gadisnya.
“Yang tunggu dong, kita belum bayar….”
Si Yayang cuek nyamperin Via yang lagi asyik dengan sarapannya. “Hai, Vi ….” Sapanya dengan senyum dibuat semanis mungkin.
Via spontan menoleh dan sedikit terkejut. “Rindra?”
Yoi, si Yayang yang sedari tadi mengamati Via adalah Rindra. Ada yang masih ingat sama Rindra? Siapa hayo…. Si Rindra?
Apa…? Lupa?
Nggak tau…?
Ok, othor kasih tau deh. Si Rindra tuh cowok yang ngefans banget dan naksir Via sejak jaman SMA. Itu lho yang ketemu di depan kantornya Yana, yang tebar pesona sok kecakepan goda-godain Via terus diomelin Yana. Iya…. Yang ditonjok sama Danar gegara maksa Via ikut sama dia pas motornya Via kempes pulang kerja sore-sore itu, yang terus Via pulangnya boncengan motor berdua sama Danar hujan-hujanan asoyy…..😍😍😍
Masih belum ingat…?
Ok, lupakan!
Fix ini mah kudu ke dokter kandungan, berarti reader amnesia! Haaa…. Emang mau USG thor?? Orang amnesia kok suruh periksa ke dokter kandungan?😂😂
Mending lanjut aja lah….
“Apa kabar? Nggak nyangka ya kita bisa ketemu lagi?” Seperti biasa Rindra selalu sok manis dan kecakapan di depan Via. “Ini…. Gebetan kamu ya?” Kali ini Rindra melirik pada Mirza yang sejak tadi udah pasag kuda-kuda karena mencium aroma gombal apek dari tampang si Rindra.
Kontan saja Via shock beneran dengan perkataan si Rindra. Terlebih lagi Mirza. Dia menatap tak suka dan bersiap memberikan hadiah pada mulut Rindra yang nyap-nyapnya gak pake aturan.
“suami kamu yang sok jagoan itu mana?” Belum sempat Via buka mulut Rindra udah nyablak lagi, kali ini dengan senyum meremehkan. “Pasti kamu suka dikasarin ya sama dia? Makanya kamu cari gebetan laki-laki lain?” Rindra melirik Mirza lagi.
“Sorry, kamu bilang apa barusan?” Mirza buka suara mendahuhului Via yang baru hendak buka mulut untuk protes.
“Gue nggak ngomong sama elo ya! jagan sok penting lo, baru jadi gebetan Via aja blagu!” Sahut Rindra dengan gaya songong. “Asal lo tau aja, Via ini cewek incaran gue sejak jaman SMA, jadi kalo ada apa-apa sama suaminya yang tukang gebuk itu harusnya gue yang lebih dulu jadi gebetannya, bukan elo!”
“Rindra! Kamu …”
“Ngomong apa kamu apa barusan!” Mirza langsung berdiri meraih kerah kemeja Rindra memotong kalimat Via. “Suami Via yang mana yang kamu maksud tukang gebuk, hah? Ngomong seklai lagi!” Mirza sudah mengepalkan bogem mentahnya diarahkan peda tampang songong si Rindra.
“Milen?” Kaget Via melihat Milen datang memanggil Rindra dengan sebutan Yayang.
Yoi, rupanya Milen diem-diem udah jadian sama si Rindra, makanya dia nggak resekin Via lagi.
“Mas, lepasin yayang aku. Lepasin Yayang aku ya Mas ganteng …” Milen memohon dengan wajah sendu membuat emosi Mirza tak berlanjut sampe ke ubun-ubun. Sontak saja aksi Mirza barusan menyita perhatian pengunjung warung bubur pagi itu. Mirza mendorong Rindra sampai dia kejengkang.
“Berani lo kurang ajar sama istri gue sekali lagi, gue abisin lo!” Ancam Mirza dengan wajah bengis sambil menunjuk wajah Rindra yang udah pucet banjir keringat dingin persis kayak tikus kecemplung got. Saking emosinya Mirza sampe ikutan lo gue ngomongnya 🤔🤔
Mirza lantas berlalu dengan langkah lebar meninggalkan warung setelah lebih dulu mengeluarkan selembar uang ratusan ribu di atas meja. (Ekhem! Juragan empang mah baek ye, makan bubur ayam 2 mangkok sama teh anget aja ngasih bayarnya seratus rebu…😂😂).
Via yang sadar dengan kemarahn suaminya segera mengejarnya.
“Yayang, kamu nggak papa?” Milen bertanya khawatir seraya membantu Rindra berdiri.
“Dia bilang apa tadi? Istri?” Rindra malah sibuk mikirin ancaman Mirza barusan, ia tak menghiraukan beberapa pasang mata yang menatapnya penuh cibiran.
“Iya, Via itu istrinya Mas ganteng tadi. Kamu kenapa sih kok bisa mau dihajar gitu sama suaminya Via?” Milen bertanya penasaran karena nggak begitu ngeh dengan kejadian yang sebenarnya.
“Kalo dia suaminya Via, berarti laki-laki yang waktu itu nonjok muka gue siapa dong?” Rindra masih terus dengan keheranannya sendiri.
“Laki-laki yang mana?” Milen ikutan heran. “Kamu ini jangan suka bikin gara-gara deh Yang, masih pagi malah ribut sama orang! udah yok cepetan, ntar aku telat masuk kerja lagi!” Omel Milen kesal.
Semenatra itu Mirza melajukan mobilnya masih dengan raut penuh kekesalan. Ia tak mengucapkan sepatah katapun. Via yag sadar dengan kondisi emosi suaminya memilih membiarkannya tenang terlebih dulu meski ia juga sangat ingin bicara untuk menjelaskan semunya. Mobil Mirza terus melaju hingga sampai di parkiran gedung kantor Via, ia belum juga buka suara.
“Mas, maafin aku ya.” Ucap Via akhirnya.
“Turun!” Titah Mirza dingin.
Deg! Via kaget dengan intonasi suaminya yang tak semanis biasanya. Ia bergeming, tetap di tempatnya.
“Cepat turun, nanti telat masuk kerja.” Ucap MIrza tanpa melihat istrinya.
“Aku nggak mau turun sebelum kamu maafin aku Mas.” Lirih Via dengan agak takut.
“Bukannya kamu ada briefing pagi? Cepat turun!”
Via menggeleng kuat, kedua matanya mulai mengembun. Mirza lurus menatap ke depan seolah benar-benar abai dengan keberadaan istrinya.
Tes ….
Butiran kristal bening menetes dari sudut mata indah Via. Segera Via menyekanya kasar agar tak semakin mengalir deras. “Aku mau pulang, nggak jadi masuk kerja.” Nyatanya pertahanannya jebol juga diakhir kalimanya. Pipinya basah dengan air mata yang tak bisa terbendung lagi.
Sontak Mirza menoleh dan hatinya pedih melihat wanita terkasihnya menangis sepagi ini.
“Sayang, jangan nangis.” Mirza mengambil tisu dan mengusap lembut wajah istrinya.
__ADS_1
“Nggak usah pegang-pegang! buat apa sok perhatian kalo kamu nggak mau maafin aku, huhuhu….” Via malah semakin tersedu.
“Iya Sayang, Mas udah maafin kamu kok. Udah, kamu jangan nagis ya. Mas paling nggak bisa liat kamu nagis. Hati Mas ikut pedih Sayang.” Mirza menatap sang istri sayu.
“Aku nggak butuh maafmu kalo terpaksa! Kamu jahat mas! Aku benci sama kamu, kamu marahin aku tanpa kamu dengerin dulu penjelasanku! Huhuhu…..”
“Aku nggak marah sam kamu Sayang! Aku marah sama laki-laki songong itu!” Jelas Mirza penuh penekanan.
“Bohong! Buktinya kamu tadi cemberutin aku, kamu nyuekin aku! kamu dingin sama aku! Aku tuh nggak bisa diginiin Mas…., aku nggak suka! Kamu Jahat ….!” Teriak Via sekencang-kenacangnya.
Segar Mirza membekap mulut istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia baru menyadari kondisi kehamilan istrinya mungkin membuat sang istri jadi baperan, sensitive dan gampang meletup-letup.
“Lepasin! Lepas …” Via mendorong dada suaminya namun Mirza semakin mengetatkan pelukannya. “aku benci sama kamu Mas, kamu jahat ….. huhuhu….” Via akhirnya memilih melanjutkan tangisnya dalam dekapan suaminya. Beruntung parkiran belum begitu ramai jadi sepertinya tak ada yang mendengar pertikaian mereka.
“Maafin Mas Sayang. Mas sama sekali nggak bermaksud kasar atau marahin kamu. Mas cuman jengkel aja sama laki-aki teman SMA kamu yang songong itu. Mas emosi Sayang, Mas kelepasan. Maaf… Maafin Mas ya…” Mirza menciumi pucuk kepala Via penuh penyesalan.
Beberapa saat kemudian Via sudah lebih tanang, ia melerai pelukan perlahan. Ditatapnya itens kedua manik mata sang suami. “Mas, semuanya nggak seperti yang Rindra katakan. Kmau harus tau, kalau dia itu salah paham.” Ungkap Via dengan raut serius.
“Iya Sayang, Mas ngerti.”
“Dengerin dulu, jangan motong kalo aku bicara!” Cegat Via judes. Lalu ia menceritakan kronologis kejadian yang sebenarnya. Peristiwa pertemuannya kembali dengan Rindra yang tak sengaja di kantor Yana sampai kejadian sore itu ketika Danar menonjok mukanya telak karena sudah bertindak tak sopan pada Via. Rindra salah sangka mengira Danar suami Via karena Yana pernah memperingatkannya untuk jangan menggangu Via sebab Via sudah punya suami.
“Mas harus telpon Danar.” Mirza segara merogoh saku celananya.
“Untuk apa? Mas nggak percaya sama aku?” Via terkejut, nggak nyangka suaminya akan menyangsikan ceritanya sendiri.
“Bukan begitu Sayang.Mas mau bialang makasih sama Danar kaeran udah nonjok muka si songong itu.”
“Ohh…” Bibir Via membualat. “Tapi nggak usah lah Mas! Itu udah lama banget kok. Lagi pula kesannya lebay!” Lanjut Via kemudian.
“Kalo gitu Mas telpon Danar buat minta ijin kalo kamu nggak masuk kerja hari ini.”
“Eh, nggak. Jangan Mas!”
“kamu bilang tadi nggak mau mmasuk kerja?”
“Itu kan tadi, sekarang beda lagi. Mas kan udah tau permasalahan yang sebenarnya?”
Mirza mengehala nafas panjang, berharap isrtinya tak jadi amsuk kerja gagal sudah.
“Ya udah kalo gitu aku kerja dulu ya Mas.” Via meraih tangan suaminya dan menciumnya.
“Hapus dulu bekas air mata kamu Sayang.” MIrza memberikan selembar tisue.
“Kenapa? Kelihatan ya kalo abis nangis? Ck, ini semua gara-gara Mas nih!” Via berdecak kesal seraya mengeluarkan kaca kecil dari tas untuk memeriksa riasannya. “Ah pake kacamata aja deh.” Via meraih kaca mata hitam dari atas dash board.
“Bagus Sayang, kayak tukang pijit.” Mirza mngulum senyum.
“Nggak usah ngeldek deh! Ntar aku bersihin muka di toilet, keburu telat ini. Udah ah, Assalamualaikum!” Via segera membuka pintu mobil dan bergegas melangkahkan kakinya.
“Wa alaikumussalma.” Mirza tersenyum memnadangi langkah-lanka lebar istri cantiknya. Pandangannya tak berkedip sampai kemudian ia teringat sesuatu. “Sayang, tunggu…!” Panggil MIrza segera menyusul keluar mobil.
Via yang tak mendengar seruan suaminya malah melambaikan tangan pada Cila yang nampaknya juga baru sampai, ia berdiri di depan pintu masuk sengaja menunggu kedatangan Via udah kayak satpam aja mejeng di depan pintu, padahal kan nunggu di loby bisa ya? Dasar Cila!
“Hai, Vi!” Sapa Cila penuh senyuman.
“Hi, Cil. Udah lama nyampe?” Balas Via.
“Baru aja.”
“Sayang…” Mirza mengekor Via.
“Mas?” Via menoleh heran.
“Kamu ketinggalan sesuatu.” Ucap MIrza.
“apa Mas?”
“Ini. Cup!” Miza mengecup sekilas bibir istrya yang kontan membuat wajah Via bersemu merah seperti strawberry kematengan.
Cila spontan menutup mulutnya.
“Mas, Ikh!” Via mendelik seraya mencubit lengan suaminya. “Malu tau!”
“Itu morning kss yang kelupaan.” Mirza tersenyum lebar. “Bye, Sayang!” Mirza melambaikan tangan dan segera balik badan.
“Astogeeee! elo ci****n di depan mata gue, Vi…? Oh nooo, mata gua yang suci ini sudah ternoda dan tidak perawan lagi….!” Cila mengada-ada.
“anggep aja tadi iklan!” Ucap Via enteng sambil lalu, meskipun dia sebenarnya malu banget tapi hatinya berflower juga karena masalah yang tadi hampir saja merusak paginya, terselesaikan sudah.
“Vi, tungguin dong…” Cila menegjar langkah Via yang hampir sampai di depan lift. “Eh, kamu kok pake kaca mata hitam sih, tumben?”
“Iya, soalnya mata aku lagi belekan!”
“Auuuch! Jorok ih!”
Via cuek aja tak meladeni ekspresi jijay si Cila. Baginya yang terpenting sekarang moodnya sudah kembali membaik. Mereka kemudian melangkah ke dalam lift yag sudah terbuka bersama beberapa karyawan yang lain. Via tersenyum sendiri dengan binar kebahagiaan di balik kaca mata hitamnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
maafkan..... upnya telat banget. 🙏🙏🙏
like
komen
vote
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca, love you all 🤗🤗🤗😘😘😘