TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
40 #PERCIKAN API


__ADS_3

Klik!


Riri langsung memutus sambungan sepihak, tentu saja nggak tau dengan perubahan raut wajah Via yang mendadak pias.


Tia memperhatikan raut muka Via yang berubah kesal.


“Si Riri minta dijemput?” Tanya Tia.


Via mengangguk.


“Ya udah, jemput sana cepetan. Jangan kesorean, takut nanti hujan lho.”


“Ck, anak itu ngerepotin aja!” Decak Via sebal.


Dengan malas Via beranjak juga, Tia hanya senyum tak mengantar Via keluar. Sebenarnya bukan malas jemput Riri, tapi karena Via mendengar nama kedainya aja Via jadi gimana gitu. Tapi sejurus kemudian Via tersenyum kecil.


Cling!


Aha!


Via tiba-tiba mendapat ide cemerlang. Diraihnya ponsel sebelum dia nangkring di atas jok motornya. Via lantas menelpon seseorang yang ia yakin dapat diandalkan.


“Halo, Yan. Kamu dimana?” Sambut Via begitu Yana menerima panggilan teleponnya.


“Emangnya dimana kamu pikir aku jam segini?” Yana malah balik nanya dari seberang.


“Di sumur, di dapur, atau di kasur?” Tebak Via.


“Ngaco! Itu mah kerjaan kamu sehari-hari!” Sungut Yana sebal. “Ada apaan sih, jam segini nelpon? Aku lagi sibuk tau!”


“Halah, sok sibuk kamu! Aku mau minta tolong dong, kamu bisa kan jemput Riri?”


“Emangnya kamu pikir aku tukang ojol?” Protes Yana. “ Ini masih jam kerja, nona. Aku nggak bisa keluar.”


“Keluar bentar aja masa nggak bisa? Riri ajak ke kantor kamu aja dulu, nanti aku jemput ke sana.”


“Emang si Riri di mana sih?”


“Di kedai Nostalgia.”


“Ya udah tinggal kamu jemput aja ke sana. Timbang gitu aja pake muter-muter nyuruh aku.”


“Ck, ah! Kamu nih …”


Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Yana dari seberang.


“Eh, Vi aku dipanggil sekertaris bu bos nih. Udah dulu ya, bye!”


Yana mematikan sambungan telepon sepihak. Tak ada pilihan lain kini, Via harus jemput Riri sendri. Segera dipakainya kembali kaca mata hitam dan helmnya sebelum ia melajukan motor maticnya menuju kota.


Perjalanan yang harusnya cuman 30 menitan terasa lama bagi Via. Selain perasaannya belum sepenuhnya pulih bekas goresan Mirza kemarin, kini harus bertambah lagi karena dia harus jemput Riri ke kedai itu. Sebenernya itu kedai nggak ada salah apa-apa sih, Via aja yang terlalu lebay.


SRET!


NGOK!


Via sampai di parkiran, dia tengak tengok sebentar persis kaya kucing mau nyebrang.


“Mbak, nggak usah dikunci stang ya motornya.” Tiba-tiba tukang parkir menghampiri Via.


Via ingat itu tukang parkir yang membuatnya rempong ketika pertama kali dia datang ke kedai itu untuk menemui Yana. Gara-gara si tukang parkir itu nyuruh Via bawa semua belanjaannya, akibatnya belanjaan dia berceceran kala itu sampe jeruk semua pada nggulundung lalu ketemulah dia sama …


Eits!


Nggak jadi, Via langsung pencet tombol off pada memori otaknya.


“Ini, karcis parkirnya, Mbak.” Si tukang parkir itu menyodorkan kertas kotak berukuran mini yang ia sebut karcis parkir.


Via bengong sebentar.


“Em, saya nggak mau ke kedai kok, Pak. Saya cuman mau jemput adik saya.” Ucap Via kemudian.


“Adiknya Mbak di dalam?” Tanya Tukang parkir itu.


“Iya.”


“Ya, udah. Parkir dulu aja, Mbak susulin ke dalam. Motornya biar saya yang jagain, gratis kok.” Usul Bapak itu sedikit memaksa.


Ya elah, Pak. Bukan masalah gratisnya, tapi aku ogah masuk ke dalam. Males.


Si tukang parkir menyelipkan selembar karcis parkir lainnya ke bagian setir motor Via hingga mau tak mau Via turun juga dari motor dan menerima karcis parkir yang tadi disodorkan padanya.


Hem, aku rasa Bapak ini sebelum kerja jadi tukang parkir dia jadi pedagang asongan deh. Suka maksa main nyodor-nyodorin aja, orang nggak mau juga masih dipaksanya. Batin Via kesal bukan main. Hatinya ngedumel nggak abis-abis sambil berjalan ke depan kedai hingga tak menghiraukan teriakan si tukang parkir.


“Mbak! Mbak… helmnya nggak dilepas dulu?” Panggil si tukang parkir. “Ya elah, kasian amat mbaknya itu. Cantik-cantik kok budeg!”


Untung Via nggak denger gerutuan si tukang parkir itu. Coba kalo denger, itu helm bisa berpindah dari kepala Via ke kepala si tukang parkir dengan disertai teriakan kesakitan si tukang parkir sotoy itu.


Begitu Via sampai di depan, dia langsung mengeluarkan ponsenya bermaksud menelpon Riri. Namun ketika dia menempelkan ponsel itu ke telinganya, dia baru sadar kalo dirinya masih pake helm.


Ya ampun! Kok aku bisa konslet gini sih! Untung nggak ada yang liat. Bisa malu kan aku kalo ada yang tau? Via ngedumel lagi sambil liat kiri kanan lalu melepas helmya.


“Halo, Ri. Mbak udah di depan nih, cepetan keluar!” Ujar Via begitu Riri menerima teleponnya.


“Hah? Di depan mana?” Riri bertanya heran.


“Ya depan kedai lah, masa di depan monas?” Via keki demi mendengar pertanyaan konyol Riri. Udah jelas jelas dia yang minta dijemput di kedai malah pake nanya lagi.


“Ya udah, masuk dulu, Mbak. Ini masih ada temenku.”


“Gimana sih kamu? Katanya tadi minta dijemput mau pulang, sekarang malah masih enak-enakan disitu? Udah cepetan keluar sekarang, atau Mbak tinggalin, kamu pulang jalan kaki nanti!” Omel Via setengah mengancam.

__ADS_1


“Iya, iya.” Sahut Riri. Dia khawatir juga kalo sampe beneran ditinggalin.


Riri lantas buru-buru pamit pada teman-temannya dan segera keluar.


“Lama banget!” Semprot Via begitu Riri menemuinya.


“Ye, namanya juga lagi acara makan-makan, Mbak.” Riri manyun.


“Tau gitu ngapain telpon pake cepet-cepet minta dijemput?”


“Aku nggak bilang cepet-cepet kok. Aku cuman bilang minta jemput, gitu doang.” Sanggah Riri nggak terima.


“Ah, udah diem, nggak usah ngeles! Lagian kamu itu ngerjain orang aja, perginya sama siapa pulangnya sama siapa?”


Via terus ngomel menumpahkan kekesalannya tanpa dia sadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari dalam kedai yang terhalang oleh beberapa pengunjung di sana.


“Itu temannya Mas Danar, kan?” Tanya Ari mengagetkan kekhusukan perhatian Danar di luar sana. “Kok tumben dia nggak ke sini?” Lanjut Ari setengah kepo.


Danar cuman tersenyum samar, lantas berlalu begitu saja. Ari mengikuti Danar dengan tatapan aneh.


“Ya udah, nih pake helmnya!” Via memberikan helmnya pada Riri.


“Lho kok aku sih yang pake? Kan Mbak yang nyetir?”


“Mbak mau bonceng aja, kamu yang bawa motornya.” Sahut Via berjalan mendahului Riri ke parkiran.


“Udah, Mbak? Kok cuman sebentar?” Tanya tukang parkir tadi sok akrab.


Via hanya senyum sambil memberikan tiket parkirnya, males dia ngeladenin.


Riri mulai melajukan motor perlahan meninggalkan tengah kota menuju jalan perbatasan yang mengarah ke kampungnya.


“Ri, bisa nggak sih agak cepetan dikit? Lambat banget jalannya kaya bekicot mau beranak!” Via nggak sabaran rupanya dengan cara Riri bawa motor yang menurutnya terlalu santai.


“Ha? Emang Mbak tau jalannya bekicot mau beranak?” Tanya Riri polos.


“Udah nggak usah bawel! Gas, cepetan, biar cepet nyampe.”


“Ih, Mbak Via tuh lagi kenapa sih dari tadi ngomel mulu? Salah minum obat apa, Mbak?”


“Tau, ah!” Via melengos membuang muka memandangi hamparan persawahan yang menghijau.


“Oya, Mbak. Tadi aku ketemu Mas Danar, lho.” Ucap Riri tiba-tiba.


Via ingin bertanya ‘ah, masa? Ngapain dia disana?’ tapi mulutnya diam, perhatiannya masih pada hijaunya pemandangan sawah yang menyejukkan mata.


“Tau nggak, Mbak. Ternyata kedai itu punyanya Bu Elin lho. Pantesan aja Mas Danar sering di sana, secara kan dia anak angkatnya Bu Elin. Jadi udah pasti Mas Danar yang ngelola kan?” Riri terus saja nyerocos sambil nyetir motor nggak peduli suaranya didengar apa nggak sama Via.


Via masih cuek tak menyahut.


“Bu Elin itu kata temen-temenku orang terkaya nomor dua lho di kota ini setelah si artis dangdut Lilis Dahlia.” Lanjut Riri lagi. “Keren kan, Mbak? Bu Elin kan nggak punya anak, jadi semua usaha yang dimilikinya pasti bakal diwarisin buat Mas Danar.”


“Ya nggak nyangka aja. Mas Danar yang kelihatannya biasa aja dan berpenampilan sederhana ternyata calon orang kaya.”


“Baru calon! Belum kaya beneran!” Celetuk Via kesal.


“Ye, ya nggak papa yang penting kan pasti bakalan jadi orang kaya.”


“Halah, kalo kaya dapet warisan mah nggak perlu bangga. Bangga tuh hasil jerih payah sendiri! Itu baru keren.”


“Aduh, si ibu segitunya. Merasa tersaingi bu?” Ledek Riri usil diiringi tawa renyahnya.


“Siapa yang tersaingi? Kenal juga nggak sama dia. Bodo amat, mau dia calon orang kaya se kota kabupaten apa sekecamatan, apa untungnya buat Mbak, nggak ada kan?”


“Ih, kok jadi sensitive gitu sih? Udah kaya tespack aja deh Mbak Via nih sensitivenya!” Riri terus meledek kakaknya.


PLAK!


ADUH!


Via menepak helm yang dipakai Riri hingga Riri meringis kaget.


“Kok mukul sih?”


“Udah cepetan jalannya, ngoceh aja! Udah dibilangin suruh gas juga biar cepet nyampe!”


“Oke!”


NGENG …!


Riri langsung menarik gas tanpa aba-aba yang tentu saja membuat Via kaget dan tubuhnya tertarik ke belakang karena nggak pegangan.


“Kira-kira dong, Ri!” Teriak Via kesal. “Kalo aku kejengkang, gimana?”


“Haha …., makanya pegangan! Katanya tadi minta ngebut?” Riri malah ketawa, puas benar dia bikin Via jantungan.


_______________


Via sudah dalam mode normal ketika sampai di rumah ibunya. Namun begitu dia bergegas pulang tak berniat mampir dulu. Dia khawatir Bu Harni akan bertanya macam-macam jika tau matanya masih sedikit sembab bekas menangis semalaman.


Via langsung tancap gas begitu Riri masuk rumah.


Tak sampai lima menit dia tiba di rumahnya sendiri dan agak terkejut ketika mendapati sebuah mobil CRV hitam terparkir di halaman. Tapi lantas keterkejutannya sirna kala dia ingat itu mobbil Om Jaka.


Benar saja, Om Jaka tengah duduk di ruang tamu bersama Mirza ketika Via membuka pintu.


Via segera masuk, tak lupa menutup pintu itu kembali lantas segera menyalami Om Jaka.


“Udah lama, Om?” Sapa Via.


Mirza pun mengulurkan tangannya minta disalamin dan dicium juga punggung tangannya. Via menerimanya dengan raut datar, dan momen itu tertangkap oleh mata Om Jaka.

__ADS_1


“Duduk sini, Vi.” Om Jaka menepuk tempat duduk di sampingnya, Via pun menurut.


“Om udah lama datengnya?” Ulang Via.


“Nggak, barusan aja. Ini belum dibikinin minum sama Mirza” Seloroh Om Jaka.


“Oh, iya Om mau minum apa?” Tanya Via mau beranjak.


“Nggak usah, biar Mirza aja yang bikinin.” Sergah Om Jaka. “Om minta kopi, Za. Dari pagi belum ngopi nih.”


“Oke.” Sahut Mirza. “Sayang, kamu mau minum apa? Mas bikinin sekalian ya?” Tanya Mirza pada Via semanis mungkin.


“Nggak usah, aku nggah haus.” Via menyahut datar tanpa melihat pada Mirza.


Mirza kecewa, lantas segera ke belakang meninggalkan Omnya dan Via.


“Dilepas dulu dong aduh itu kaca mata hitamnya, Vi. Udah kaya mau jadi sniper aja kamu!”


“Oh, iya. Maaf lupa, Om.” Via nyengir sambil melepas kacamatanya.


“Udah nggak keliahtan bengkak kok matanya.” Celetuk Om Jaka seolah tau maksud Via pake kaca mata hitam.


Via jadi rada malu. “Udah abis kok air matanya juga.” Sahut Via pelan.


“Vi, Om datang ke sini sesuai janji Om sama kamu.” Om Jaka memulai obrolan sambil melihat wajah Via yang datar. “Om harap kalian bisa menyelesaikan masalah ini secara dewasa. Om tadi sudah ngobrol sedikit sama Mirza. Dialah orang yang paling pantas disalahkan atas semua ini, namun begitu kamu jangan melihat masalah ini dengan emosi. Walau bagaimana pun rumah tangga yang kalian bina sudah lumayan lama dan banyak rintangan yang sudah kalian lalui untuk sampai pada titik ini. Salah dan khilaf dalam suatu hubungan itu adalah suatu keniscayaan, tinggal bagaimana kalian menyikapinya.” Papar Om Jaka dengan bijak.


Via menarik nafas sebentar. “Om berada di pihak Mas Mirza sepertinya.” Ucap Via seperti menggumam.


“Ini bukan soal keberpihakan pada siapa. Om menyayangi kalian berdua seperti layaknya anak Om sendiri.” Pandangan Om Jaka menyiratkan banyak harapan baik. “Ayah mana yang mau rumah tangga anaknya berantakan? Om nggak ingin melihat kalian berpisah.”


Via menunduk, dia tersentuh dengan kalimat-kalimat Om Jaka. Via memang sudah cukup lama ditinggalkan ayahnya. Ayah Via meninggal hanya beberapa bulan setelah dirinya menikah dengan MIrza. Jadi selama itu dia cukup merindukan sosok ayah. Meskipun tak sama, tapi sedikitnya sifat Om Jaka mirip seperti ayahnya yang selalu tenang dalam menghadapi permasalahan dan menyejukkan setiap kali memberikan wejangan. Ah, Via tiba-tiba kangen dengan sosok Pak Sumarno, ayah tercintanya.


Dari balik dinding yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang tengah, Mirza nampak menguping pembicaraan mereka sambil memegang secangkir kopi hitam di tangannya. Mirza sengaja tak segara mengantarkan kopi ke ruang tamu itu karena ingin mendengarkan apa yang mereka obrolkan sepeninggalnya ke dapur.


“Laki-laki seperti Mirza itu godaannya banyak, Vi.” Sambung Om Jaka lagi karena melihat Via masih tertunduk diam.


Via mengangkat wajahnya. “Apa Om kenal dengan wanita selingkuhan Mas Mirza?” Todong Via pada Om Jaka.


“Bukan selingkuhan. Tepatnya mereka bertemu karena keadaan yang …”


“Terserah bagaimana Om menyebutnya. Tapi yang jelas di mata saya Mas Mirza udah berselingkuh. Dan saya ingin tahu siapa orangnya dan sejauh apa hubungan mereka.” Tegas Via.


Tangan kanan Mirza yang memegang cangkir kopi bergetar, dia menunggu apakah Om Jaka akan mengatakan hal yang sebenarnya pada Via.


Om Jaka menarik nafas berat. Dia sedang berpikir untuk menata kalimat yang pas. Om Jaka sempat melihat Mirza yang berada di balik dinding ruangan itu dengan wajah khawatirnya dan tatapan mata mengiba seolah memohon agar Om Jaka tak menceritakan semuanya.


“Om?” Panggil Via meminta kejelasan.


Om Jaka menatap lurus manik mata Via.


Ting tong


Ting tong


Bunyi bel membuat Om jaka menunda kaliamatnya.


Huft! Untunglah.


Mirza menghela nafas lega.


Siapapun itu yang datang, dia adalah peneylamat bagiku. Batin Mirza lega.


“Biar aku aja yang buka pintunya.” Ucap Mirza yang baru muncul dan meletakkan kopi untuk Om Jaka.


Ting tong


Ting tong


Terdengar bunyi bel lagi, sepertinya si tamu bukan tipe orang yang sabaran.


Mirza sgera menuju pintu.


“Iya, seben …” Mirza tak melanjutkan kalimatnya ketika melihat siapa tamu yang datang.


_____


_____


_____


bersambung ☺️


hayooo, siapa kira-kira tamunya ya?


a. Pak RT


b. Bu RT


c. Pak RT dan Bu RT


d. a, b dan c benar semua


e. a, b, c dan d salah semua..


🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭


Terima kasih akak author semua yang selalu support karyaku 🙏🙏❤️❤️❤️🤗🤗😘😘


Terima kasih juga para pembaca tercinta 🙏🙏❤️❤️❤️😘😘🤗🤗


jangan bosan untuk like, komen, rate dan vote ya 🙏🙏🤗🤗😍😍 biar aku makin semangat ☺️☺️❤️

__ADS_1


__ADS_2