
Kesibukan terlihat di dapur rumah Via yang tak begitu luas, sejak pagi Bu Harni dibantu Tia dan juga Riri saling bahu membahu berjibaku memasak untuk acara aqiqah baby Nala yang akan berlangsung lepas ashar nanti. Aneka masakan berbahan dasar daging kambing sudah disiapkan, tak ketinggalan kue-kue juga turut serta menjadi pelengkap. Semua tetangga dan kerabat diundang, tak terkecuali Pak Hadi dan Danar.
Bergeser tak terlalu jauh dari rumah Via, nampak segrombolan emak-emak komplek sedang asyik berghibah di warung Ceu Imas. Seseorang diantara mereka kelihatan paling semangat memimpin alur cerita perghibahan itu.
“Mending nggak usah dateng deh ke acara aqiqahan anaknya Jeng Via,” tukas pemimpin ghibah itu sambil mengunyah kerupuk seblak dengan sensasi pedas level 20.
“Lho, kenapa Jeng?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya kenapa nggak boleh dateng? kan kalo kita dapet undangan wajib untuk datang, kecuali ada halangan,” timpal ibu yang lain.
“Saya sih ogah,” mencomot kerupuk seblak di depannya lagi, “emangnya ibu-ibu mau menghadiri aqiqahan anak haram?”
“Ha? Anak haram?” semunya kompakan kaget, tak terkecuali Ceu Imas sang pemilik warung yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.
“Kamu itu kalo ngomong jangan sembarangan ya, itu pitnah namanya!” semprot Ceu Imas.
“Eh, Ceu! Saya nggak fitnah, saya ngomong kenyataan,” elak si pemimpin ghibah, lantas membersihkan sisa cabe kering di jari-jari kanannya dengan mulutnya sampai bibirnya yang sensual itu terlihat makin jontor karena kepedesan. “Eceu boleh nggak percaya, tapi saya punya buktinya.” Merogoh ponsel dari dalam saku dasternya. “Eceu udah lihat foto ini kan? Ibu-ibu di grup WA emak rempong komplek semuanya yakin kalo mereka itu selingkuh! ” memperlihatkan foto Danar dan Via yang sedang makan berdua di food court beberapa waktu yang lalu.
“Udah liat kok, tapi saya mah tetep nggak percaya kalo mereka selingkuh. Itu kan cuman poto? Emangnya kalo orang poto berdua bisa dibilang selingkuh?” cibir Ceu Imas yang langsung disambut oleh anggukan kepala beberapa emak peserta ghibah lainnya.
“ibu-ibu liat dong, ini tatapan mata keduanya penuh makna,” mendekatkan layar ponselnya pada para emak agar mereka dapat melihatnya lebih jelas lagi. “Apalagi Mas Danar, keliatan banget kalo dia itu ngebeeeet banget sama Jeng Via. Cara dia menatap Jeng Via itu seolah menyiratkan tatapan penuh cinta. Duh, saya nggak nyangka kalo Mas Danar yang baik hati dan terlihat cool itu ternyata demennya sama istri orang. Tau gitu mendingan sama saya kan, yang jelas-jelas suaminya nggak pulang-pulang udah lebih dari tiga kali puasa tiga kali lebaran?” cerocosnya dengan mimik tidak rela.
Para peserta ghibah sibuk dengan pendapatnya sendiri-sendiri, mereka hampir termakan isu panas yang sedang menjadi topik pembahasan.
“Bukan itu aja, saya juga penah beberapa kali mergokin Mas Danar dateng ke rumah Jeng Via pas suaminya nggak ada,” semakin bersemangat karena peserta ghibah memperlihatkan wajah penuh rasa penasaran. “Bukannya nggak mungkin kan mereka melakukan sesuatu karena di rumah cuma berdua aja?”
“Ah, masa sih sampe segitunya?”
“Iya, saya kok kurang percaya ya?”
“Tapi bisa jadi juga, mungkin mereka khilaf.”
“Lama-lama keterusan deh!”
“Jangan percaya dulu ibu-ibu, pitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!” Ceu Imas tetap pada pendapatnya.
“Ye, Eceu kok masih nggak percaya sih? Nih ya saya kasih tau, seantero komplek perumahan ini sudah tau soal perselingkuhan mereka. Kan beberapa waktu kemarin sempet jadi trending topik juga? Ibu-ibu yang saya kirimin poto mesra mereka berdua ini langsung percaya dan sepakat sama saya kalo mereka itu fix selingkuh!”
“Oh jadi kamu yang nyebarin foto Via sama Danar?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul sontak mengejutkan semuanya.
Menoleh dengan wajah shock ketika melihat siapa yang datang. Yanti, sahabat baik dari Via –orang yang sedang menjadi bahan perghibahan. Namun atas nama profesionalitas seorang agen mata-mata, ia berusaha tak gentar. “Iyalah, siapa lagi? Kan saya wartawan gosip terkini yang tampil semakin terdepan,” tersenyum bangga seolah itu adalah prestasi yang luar biasa.
“Bener-bener nggak punya malu kamu ya! ” menyeret kasar lengan si pemimpin ghibah.
“Ih, apa-apan sih kamu Jeng?” menepis tangannya. “Kok kamu yang marah sih? Saya kan cuman ngomongin fakta?“
“Jelas aja aku marah, karena omongan kamu itu nggak ada yang bener! Semuanya fitnah!” Yanti yang sudah tau kebenaran dibalik cerita perselingkuhan Danar dan Via tak terima dengan kabar miring yang terus beredar di kompleks perumahannya.
“Emangnya kamu punya buktinya kalo saya cuman fitnah?” berdiri pongah dengan berkacak pinggang menantang Yanti yang notabene selama ini adalah musuh bebuyutanya. “Nggak usah sok-sokan ngebelain Jeng Via deh kalo nggak tau apa-apa. Saya ini yang sering mergokin mereka berduaan, bahkan Mas Danar pernah datang ke rumah Jeng Via malam-malam. Kamu pikir mau ngapain laki-laki ke rumah perempuan malam hari sedangkan suaminya nggak ada? Udah pasti mereka mau berbuat mesum, dan bukannya nggak mungkin kan kalo anak Jeng Via itu anak hasil hubungan gelapnya dengan Mas Danar bukan dengan suaminya?”
PLAK! PLAK!
Dua tamparan bolak balik mampir di pipi Bujel tanpa permisi. Ya, Bujel. Si pemimpin ghibah yang paling bersemangat itu Bujellah orangnya. Ia meringis kesakitan memegangi kedua pipinya yang ada cap lima jari tangan Yanti. Rasanya panas dan pedas, lebih pedas dari kerupuk seblak level 20 bahkan.
Belum puas melihat Bujel yang sedang kesakitan, Yanti langsung menjambak rambut Bujel dengan keras membuatnya tertarik ke belakang. “Ngomong sekali lagi kalo anak Via itu anak hasil hubungan Via dan Danar, aku masukkan kepala kamu ini ke selokan! Biar otak kamu bersih, nggak ghibah terus yang kamu pikirin!” Yanti sudah kehilangan kesabarannya, wajahnya memerah penuh amara membuat Ceu Imas dan para emak lainnya ketakutan.
“Aaawh! L-lepa-sin Jeng …“ merintih setengah memohon karena merasakan sakit di kepalanya juga kini.
“Ini peringatan buat yang lain,” mengedar pandang pada para emak tanpa melepaskan cengkramannya dari rambut Bujel. “Kalo sampe ada yang jelek-jelekin Via lagi, aku nggak segan-segan botakin rambutnya!”
Para emak tertunduk, mereka ngeri melihat kemarahan Yanti.
“Dan kamu harus mempertanggung jawabkan perbuaanmu!” mendorong Bujel sampai terungkur di kursi warung Ceu Imas. Napas Bujel naik turun, ia sibuk memgengi kepalanya yang terasa pusing akibat jambakan tangan Yanti yang super kencang.
“Maafin saya Jeng,” cicict Bujel ketakutan.
“Maaf?” tersenyum sinis. “Enak aja! Manusia model kamu ini nggak pantas dimaafkan. Udah berapa kali kamu resekin Via, hah? Emang Via punya salah apa sama kamu?” mulai emosi lagi setelah sempat reda sebentar. “Kurang baik apa Via sama kamu selama ini? Kamu lupa apa amnesia, kamu itu sering minta-minta sama Via. Dari mulai minta buah kateslah, minta sayuranlah, bahkan gula sama garem aja kamu minta sama Via kan buat masak di rumah? Bener-bener nggak ada otak! Nggak tau berterima kasih!”
Para emak tercengang, ternyata Bujel separah itu. meraka yang hampir termakan gosip Bujel kini berganti memandang Bujel dengan cibiran.
“Tindakan kamu itu termasuk krimal tau nggak? Kamu bisa aku laporin ke polisi dengan pasal pencemaran nama baik karena kamu udah menghasut warga buat percaya sama gosip murahanmu itu!” gantian berkacak pinggang di depan Bujel yang tiba-tiba pias, wajahnya menyiratkan ketakutan. “Kamu juga bisa kena undang-undang ITE karena kamu udah nyebarin foto-foto Via dan Danar lewat medsos!” imbuh Yanti penuh ancaman.
__ADS_1
Tertunduk semakin tak berkutik karena takutnya ang bertambah-tambah, “saya cuman disuruh,” menggumam gemetar karena membayangkan dirinya meringkuk di balik sel tahanan, namun masih terdengar jelas oleh Yanti.
“Disuruh?” ulang Yanti tak percaya, “maksudmu, kamu disuruh orang lain buat nyebarin berita nggak bener soal Via?”
Malah diam, Bujel merasa kayak abis makan buah simalakama. Ia takut Yanti beneran mau lapor polisi kalo dia nggak ngaku, tapi kalo ngaku pasti persekongkolannya yang sudah menghasilkan pundi-pundi sembako dari Bu Een akan terbongkar.
“Jawab! Kamu disuruh orang, hah?” mencengkeram kedua pipi Bujel dengan tangan kanannya.
Masih tak bersuara, Bujel menimbang-nimbang dalam benaknya yang carut marut.
“Oh, nggak bisa ngomong ya? kamu nggak mau ngaku ya?” lebih kenceng lagi menekan kedu pipi Bujel degan jari-jarinya hungga kuku-kukunya ikut menancap membuat sensasi perih.
SREEK
Tangan kiri Yanti menyambar sisa kerupuk seblak Bujel di atas maja.
“Nih! Makan nih!” menjejalkan kerupuk pedes itu ke mulut Bujel. “Kunyah, telan! Habisin!” memaksa Bujel menghabiskannya sampai bujel terbatuk-batuk dan mengeluarkan keringat plus air mata karena kepedesan.
Uhuk … uhuk ….uhuk!
Ceu Imas jadi nggak tega melihatnya, “udah Yanti, udah.” Berusaha menyudahi aksi brutal Yanti.
“Biar dia kapok, Ceu! Orang kurang ngajar kayak dia mulutnya kudu disumpal pake petasan sekalian!”
“Kamu bisa bikin dia mati tersedak Yanti, udah!” menarik tangan Yanti. “Mendingan kita bawa dia ke rumah Pak RT biar dia mengakuinya disana.”
“Betul, Yan.” Emak yang lain mendukung. “Biar warga tau kalo kabar perselingkuhan Danar dan Via itu cuman hoax!”
Menarik kasar tangan Bujel, “bangun!”
Bujel yang sudah tak berdaya nurut aja.
“Aku bakal lepasin kamu tapi kamu harus bersihkan nama Via dan Danar di depan semua warga dan ngaku siapa yang nyuruh kamu!” menghunus tatapan mengerikan. Yanti yang siang itu sejatinya akan ke rumah Via bantuin masak malah berubah haluan menggelandang Bujel ke rumah Pak RT.
Hanya mengangguk lemah. Bujel tampak pasrah diseret Yanti ke rumah Pak RT, ia nampak terseok-seok mengikuti langkah cepat Yanti yang masih diliputi amarah. Para ibu yang lain berjalan di belakang sambil mengajak beberapa warga komplek yang kebetulan melihat dengan heran pemandangan tak biasa di siang hari yang terik itu.
-
-
-
“Ternayata dia sudah melahirkan, kok saya sampe nggak memperhitungkannya ya? beruntung ada si ikan buntal itu, jadi saya tau perkembangan,” tersenyum berbicara sendiri.
Jumilah yang merasa tak biasa karena melihat wajah ceria majikannya mendadak curiga, “kenapa tuh si nenek gayung? Kok dari tadi dia senyum-senyum sendiri?” memperhatikan dengan ekor matanya ke arah Bu Een sementara tangannya memegang sapu lantai.
“Akhirnya hari itu akan datang juga. Sepandai apapun kamu menutupinya, ibu tetap akan tau kabar ini Za.” Meraih ponselnya untuk mengirim pesan pada Mirza masih dengan wajah menyunggingkan senyum.
“Fix! Si nenek gayung kayaknya kesambet jin pohon jambu depan rumah deh,” menggumam dalam hati.
“Jumilah!” pekik Bu Een yang sudah selesai mengetik pesan membuat Jumilah meloncat kaget.
“Apaan sih, Bu?” memegangi dadanya yang hampir rontok.
“Ngapain dari tadi kamu ngeliatin saya terus?” rupanya Bu Een sadar kalau dirinya diperhatikan.
“Dih, jangan GR deh! Siapa juga yang ngeliatin situ? Unfaedah!” ngeloyor cuek meninggalkan Bu Een yang masih dongkol.
Selang beberapa saat, pintu depan terbuka. Mirza pulang lebih cepat karena hari ini syukuran baby Nala, ia mampir dulu ke rumah ibunya untuk mengambil baju baby Nala yang kemarin dibelinya dan tak sengaja tertinggal di kamarnya.
“Mirza?” smbut Bu Een, ia sedikit terkejut karena baru saja mengirim pesan tapi Mirza sudah langsung datang.
“Iya Bu, aku cuman mampir sebentar mau pergi lagi,” berjalan masuk kamarnya tak menghiraukan ibunya.
Merasa dicuekin Bu Een nyamperin Mirza dengan langkah diseretnya. “Kamu udah baca pesan ibu belum?”
“Pesan apa?” mencari paper bag di dalam lemari.
“Ibu minta diantar ke tukang pijat, kayaknya kaki ibu ini kalau dipijat nggak sakit lagi.” Hanya beralasan karena ingin menghalangi Mirza tak datang di acara aqiqah anaknya sendiri.
“Sama Jumilah kan bisa Bu?”
__ADS_1
“Ibu maunya sama kamu,” mulai memaksa.
Berbalik dengan wajah coba disabar-sabarkan. “Bu, trauma patah tulang di kaki ibu itu jangan dipijit, ibu denger kan kata dokter waktu itu? jika penanganannya salah, malah bisa berakibat lebih buruk.” Memberi pengertian pada ibunya.
Pasang raut kecewa, “jadi kamu nggak mau nganterin ibu?”
“Aku cuman mau melakukan apa yang dokter sarankan.”
“Bilanga aja kamu nggak peduli sama ibu!”
Mendengus kasar, “ibu jangan mulai lagi ya, kalo aku nggak peduli sama ibu mana mungkin aku –“
“Sudahlah, kamu memang nggak bisa diandalkan!” Potong Bu Een. “Ibu tau kenapa kamu nggak mau ngaterin ibu.” Menatap tajam pada anaknya yang berdiri mematung. “Kamu mau ke tempat istrimu kan, karena hari ini aqiqahan anak kamu?”
Tercekat kaget, “ibu tau dari mana?”
“Nggak penting tau darimana,” menyahut ketus. “Kamu nggak memberitahu kalau istrimu sudah melahirkan? Kamu pikir bisa menutupinya selamanya? Kamu takut ibu mengethuinya, iya?”
Terdiam seribu bahasa, inilah yang ia takutnya. Saatnya telah tiba.
“Pergilah ke rumah istrimu, tapi besok kamu harus menjatuhan talak padanya" titah Bu Een kejam tak berperasaan.
Tulang-tulang dalam tubuhnya seolah melemah, Mirza terduduk lemas di tepi ranjangnya. “Bu, datanglah bersamaku.” Berujar dengan tatapan sendu. “Liahtlah wajah cucu ibu yang cantik, aku yakin ibu akan luluh.”
“Nggak.” Tolak Bu Een tegas. “Lagian ngapain ibu datang kesana, mereka bisa menyerang ibu! Asal kamu tau aja, kemarin ibu mertua dan adik iparmu itu datang kesini melabrak ibu. Mereka marah-marahin ibu dan mengancam ibu. Ibu nggak sudi datang kesana.”
“Tolong beri aku dan Via waktu, ditengah-tengah kami sekarang sudah hadir seorang anak Bu. apa ibu tega mmebiarkan cucu ibu sendiri tumbuh tanpa seorang ayah?”
“Nggak usah berlebihan ya! kamu kan bisa kirim uang bulanan sama anakmu nanti.” Sahut Bu Een sengit. “Lagian pasti keluarga istrimu itu nggak jauh-jauh ujung-ujungnya pasti minta uang saat putusan cerai tiba nanti.”
Mendengar kata cerai saja sudah membuat Mirza nelangsa, apalagi menjalaninya. Takdirnya dengan Via apakah harus berakhir secepat ini? Tidak bisakah semuanya diperbaiki hingga semuanya utuh kembali.
“Aku nggak bisa menalak Via, Bu” ucap Mirza ditengah asanya yang masih tesisa. “aku nggak punya alasan. Aku nggak mungkin menjatuhkan talak karena menuruti keinginan ibu.”
“Mirza! jangan mengelak kamu ya. kamu sudah janji mau pisah sama istri kamu jika ibu mau menjalani operasi!” Bu Een naik pitam.
“Tapi itu bukan alasan yang tepat Bu. itu konyol! Kesembuhan ibu nggak bisa ditukar dengan keutuhan rumah tanggaku!” Mirza terpaksa menaikkan intonasinya.
“Kamu bisa menceraikan istrimu karena dia sudah berselingkuh! Bukankah bukti-buktinya sudah ada?” terus mendesak tak mau kalah.
“Nggak. Aku nggak bisa menceraikan Via. Aku pun nggak percaya dia berselingkuh!” bersikeras bertahan dengan sisa-sisa harapannya.
“Ibu nggak mau tau, ibu nggak mau dibantah! Besok kamu harus menceraikan istri kamu karena masa nifasnya sudah selesai.”
“Nggak Bu!”
“Kalau begitu kamu akan kehilangan ibumu selamanya!”
Meremas rambutnya sendiri frustasi. “Apa lagi ini Bu? ibu ngancam aku? Kenapa ibu tak bisa membiarkan aku hidup tenang? Kenapa aku tak punya hak untuk menentukan kebahagiaanku sendri?” cairan hangat tak terasa meleleh dari kedua sudut matanya. Rasa kecewa yang begitu dalam akan sikap keras sang ibunda membuatnya seperti laki-laki lemah.
Meraup wajahnya kasar, bangkit dengan mata yang masih basah. “Jika ibu memaksaku untuk meninggalkan Via, maka aku pun akan meninggalkan ibu.”
Terperanjat dengan ucapan sang anak. “Mirza! kamu mau kemana?”
Keluar kamar dengan langkah cepat tak menghiraukan seruan Bu Een yang menyusulnya dengan langkah susah payah.
“Mirza! Mirza!”
Terlambat, Mirza sudah meninggalkan rumah dengan deru motornya yang melaju kencang. Jumilah yang sedari tadi menguping pertengkaran ibu dan anak itu segera masuk kamar sebelum dirinya tertangkap basah oleh sang majikan.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hai, semuanya ….😊
Terima kasih masih setia ngikutin TERPAKSA SELINGKUH yang nggak kelar-kelar ini🙏😂
Jangn lupa like dan tinggalkan komen ya🤩
Votenya juga boleh banget😍
dan,
__ADS_1
Selamat memeperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal 1443 H)
I love U all🤗🤗🤗😘😘😘