TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
31 #PERTANDA


__ADS_3

Glek!


Mirza terdiam.


“Kenapa, Mas? Kok kayak orang kaget gitu?” Via melihat pada Mirza di sampingnya.


Mirza melepaskan rengkuhan tangannya dari bahu Via lantas meraih tangan istrinya. “Habisnya kamu nggak bilang kalo mau dibeliin oleh-oleh, sayang.”


Mata Mirza seakan menyiratkan kekhawatiran kalau Via akan bertanya lebih jauh lagi, tapi Via tak menyadari itu. Baginya Mirza sudah terbiasa berlaku manis seperti itu, jadi dia tak menyimpan kecuigaan apapun.


Via ke belakang mengambil bungkusan ikan bakar dan tas ransel Mirza yang tergeletak di gazebo. Untung aja nggak ada kucing garong, kalo nggak, udah raib deh tuh ikan jadi menu makan malamnya si kucing.


“Mas, tapi aku belum laper, kan barusan makan sama Yana!” Seru Via dari dapur.


“Aku juga, sayang! Simpan aja kalo gitu ikannya!” Sahut Mirza.


Via kemudian menyibukkan diri membuatkan minuman untuk Mirza. Sementara Mirza duduk di sofa ruang tengah menonton TV. Pikiran Mirza melayang kemana-mana. Ternayta kini bebannya dua kali lebih berat, bagaimana kalau Via tau sebenarnya dirinya sudah puang dari Jakarta sejak kemarin? Lalu Via juga mengetahui apa yang terjadi di Jakarta antara dirinya dan Sofi?


“Mas, ini aku bikini teh.” Via meletakkan secangkir teh melati panas di meja samping Mirza.


Mirza menoleh sedikit terkejut.


“Ngelamunin apa sih?” Via menghempaskan pantat di samping suaminya.


“Siapa yang ngelamun? Orang lagi nonton TV.” Mirza ngeles. Tangan kanannya merangkul bahu Livia.


“Oya, gimana rencana mau invest bareng sama Om Jaka? Bagus kan prospek ke depannya?”


Aduh, kok Via malah nanyain soal ini sih?


Mirza mengangguk tak ingin Via curiga. “Bagus kok, menjanjikan.”


Via tersenyum dan tak melanjutkan tanyanya lagi. Baginya mendengar jawaban seperti itu saja sudah menyenangkan. Via kemudian asyik menyaksikan siaran TV yang sedang menayangkan program reality show. Mirza memperhatikan istrinya diam-diam.


Tuhan, apa yang sudah aku lakukan dengan wanita yang begitu baik ini? Dia menaruh kepercayaan penuh padaku. Tapi mengapa aku tega menyakitinya?


“Tuh, kan? Ngelamun lagi?” Via menggerakkan tangan kananya didepan wajah Mirza.


Mirza menghadapkan wajah Livia lurus di depannya. Diselipkannya rambut Livia di kedua telinga Livia hingga leher jenjang istrinya itu terlihat sempurna.


“Kamu istri yang cantik dan sangat baik, aku bahagia bisa menjadi pendamping hidupmu, sayang.” Lirih Mirza dengan tatapan yang berungguh-sungguh.


Via meraba kening suaminya. “Kamu sehat kan, Mas?”


“Aku serius, sayang.” Mirza meraih tangan Via dan menciumnya lembut.


Via sedikit jengah berusaha melepaskan tangannya perlahan. Meski Mirza terbiasa bersikap manis dan romantis padanya, tapi kali ini Via merasa sedikit aneh.


“Tolong maafkan suamimu ini jika banyak mengecewakanmu.”


“Mas kamu ngomong apaan sih? Pulang dari Jakarta kok jadi aneh begini? Kesambet jin tugu Pancoran apa gimana?” Via memandang suaminya dengan dahi berkerut.


Mirza malah menjatuhan kepalanya ke dalam dada Livia. Dia ingin berkata bahwa dirinya sudah berhianat dan berharap Via memafkannya, namun dia tak kuasa mengatakan itu semua. Tangan Mirza melingkar pada tubuh Livia.


“Aku nggak sanggup jika smapai kehilangan kamu.” Ungkap Mirza lirih sekali.


“Mas …” Balas Via lirih juga.


“Aku akan lakukan apa saja asal kau selalu bersamaku.” Lanjut Mirza.


“Mas …”


“Aku ingin menua bersamamu tanpa ada seorang pun yang mampu memisahkan kita.”


“Mas …”


Mirza mendongak, menempelkan telunjuk kanannya pada bibir Livia. “Jangan bekata apa-apa, aku nggak minta jawabanmu.”


“Mas tapi kamu berat banget, dadaku sesak hampir tak bisa bernafas,” ujar Via akhirnya.


Mirza langsung mengendorkan dekapannya tapi belum mau beranjak dari pelukan Livia. “Tapi aku mau begini saja. Nyaman sekali rasanya disini, empuk.”


Spontan Via mendorong Mirza sambil melotot sebal. “Dasar otak mesum, kurang kerjaan!”


Mirza terkekeh dengan umpatan istrinya.

__ADS_1


BUG!


Via menimpuk kepala Mirza dengan bantal sofa.


“Mandi sana!”


“Eh, mau kemana?” Mirza cepat menarik tangan Via yang hampir beranjak hingga terduduk lagi disampingnya. “Abis aku mandi, kita bikin bakwan ya?” Bisik Mirza sambil mengerling genit.


Satu cubitan maut langsung dilancarkan Via pada pinggang Mirza .


Aaaawwwh!


Mirza menjerit kaget.


“Sakit, sayang!” Mirza memegangi pinggangnya sambil meringis kesakitan.


“Makanya jangan mesum melulu.” Via mencebik lantas segera menuju kamarnya di atas.


Mirza mengikuti sambil bersiap akan menggoda Via lagi.


“Mas tehnya dibawa aja kalo belum mau diminum sekarang.” Ujar Via membalikkan badan yang tentu saja membuat Mirza tak jadi menjahilinya.


Mirza menurut, mengambil tehnya yang masih mengepul membawanya ke kamarnya di atas.


Klik!


Mirza mengunci pintu kamar, spontan Via nengok.


Mirza memamerkan senyum nakalnya. “Kamu nggak akan bisa lolos.”


“Aku mau mandi dulu.” Via menuju kamar mandi di kamar itu.


“Mandi dulu? Berati setelah itu kita …”


“Sholat maghrib, waktunya keburu habis!” Potong Via cuek ngeloyor ke kamar Mandi.


Serta merta Mirza mencegatnya di depan pintu kamar mandi. “Kalo gitu apa nggak sebaiknya kita mandi bareng aja? Biar lebih hemat waktu?” Mirza menggerak-gerakkan kedua alisnya turun naik.


Via bersiap akan mencubit pinggang suaminya lagi, tapi Mirza langsung minggir dengan tampang masygul tak berani menghalangi lagi. Via masuk dengan senyum penuh kemenangan.


______


Siapa yang tak tahu dengan Mirza si pelaut sukses, ganteng, tajir, memiliki sawah dan kebon jati yang terbilang sangat luas bagi ukuran orang yang tinggal di desa? Banyak yang mengatakan Livia begitu beruntung bisa bersuamikan Mirza. Tapi justru Mirza lah yang merasa beruntung karena mempunyai istri yang cantik, penurut dan tak banyak menuntut seperti Livia.


“Sayang, ibu telpon nih?” Seru Mirza dari balkon pada Via yang sedang membersihkan halaman depan.


“Angkat aja, Mas!” Sahut Via setengah berteriak.


“Iya, ini udah. Ibu pengen ngomong sama kamu, katanya mau ngomongin soal ulang tahunnya Ica.”


Via menghentikan aktifitasnya.


Oh, ibu aku yang telpon? Kirain ibunya Mas Mirza! Pantesan aja, aku jadi rada kaget juga tadi ngapain kok ibunya Mas Mirza telpon pagi-pagi.


“Hoy! Kok malah bengong? Ini ibu nungguin lho!” Panggil Mirza sambil mengacungkan ponsel Via. “Aku lemparin ke bawah ya?”


“Eh, jangan!” Sergah Via agak panik lantas berlari ke dalam menaiki tangga menuju balkon.


Mirza sedang terkekeh menertawakan istrinya. Via langsung menyambar ponselnya dan berbicara pada Bu Harni.


“Ya, Bu. Gimana?”


“Vi, bisa kan nanti sore temani ibu belanja buat ulang tahunnya Ica besok? Soalnya Tia sama Riri sibuk bikin kue.” Ungkap Bu Harni dari seberang.


“Oh, ya bisa aja sih, Bu. Emang Mas Arya kemana?”


“Kalo dia nggak usah ditanya!” Ketus Bu Harni. “Nggak bisa diandalkan!"


“Ya udah, nanti Via temenin.”


“Tapi jangan kesorean ya, nanti tokonya tutup. Soalnya kita belanjanya ke kota, di pasar kecamatan nggak lengkap, udah gitu mahal juga. Kalo di kota kan harganya miring, rencananya ibu mau belanja banyak karena mau ngundang ibu-ibu pengajian juga.”


Hah? Kok ngundang ibu-ibu pengajian? Yang ulang tahun si Ica apa ibu sih sebenarnya?


“Vi?” Panggil Bu Harni karena Via tak meyahut.

__ADS_1


“Eh, iya Bu.”


“Bisa kan kalo minta tolong dianterin Mirza? Soalnya kalo naik motor repot bawa belanjaan banyak.”


Ya ampun ibu! Jadi dari tadi ngomong muter-muter cuman mau bilang mau diantein Mas Mirza belanja? Kenapa nggak bilang sendiri aja.


“Vi, kok diem aja? Mirza sibuk ya?” Bu Harni bertanya agak khawatir.


“Ah, nggak sibuk kok, Bu. Iya nanti Via bilang sama Mas Mirza.” Sahut Via sambil melihat pada Mirza yang sedari tadi berdiri disampingnya.


“Apa kata Ibu?” Tanya Mirza begitu Via mengakhiri teleponnya.


“Ibu minta diantetin kita belanja keperluan ulang tahunnya Ica nanti sore di kota.”


“Oh.” Bibir Mirza membulat.


“Bisa kan Mas?”


“Bisa dong.” Mirza tersenyum lantas menatap Via lekat.


“Kenapa? Kok ngeliatinnya kayak gitu amat?” Via aneh ditatap Mirza tiba-tiba begitu.


“Kamu kelihatan sexi sekali kalo keringetan begitu.” Ungkap Mirza sambil menyingkirkan anak-anak rambut dari dahi Via yang berkeringat.


Via memukul dada suaminya. “Heh, mulai lagi deh! Mendingan Mas lanjutin bersihin halaman depan, tinggal nyiram aja tuh. Aku mau nyuci, pasti di Jakarta bajunya nggak di cuci kan?”


Mirza nyengir kuda.


“Malah nyengir lagi! Bisa kan nyiram tanaman?” Tanya Via sedikit kesal.


“Bisa lah. Nyiramin kamu aja semalam aku bisa, masa nyiram tanaman nggak bisa?” Goda Mirza lagi sambil menjawil dagu istrinya.


“Hiy, dasar tengil!”


Via meninggalkan Mirza bergegas ke belakang sebelum keisengan Mirza berlanjut lagi, sementara Mirza menuju halaman depan. Mirza meskipun seorag laki-laki tak pernah sungkan mengerjakan pekerjaan rumah. Baginya pantang membiarkan istri cantiknya lelah bekerja mengurus rumah sendirian jika dia tak sedang pergi berlayar.


Via mengeluarkan semua isi tas ransel Mirza, memeriksa kalau masih ada yang tertinggal.


SLAP!


Via menemukan sekotak rokok di kantung tas ransel Mirza.


“Rokok?” Gumam Via.


Tentu saja rokok bukanlah barang haram seperti ganja dan sejenis narkotika lainnya. Tapi bagi Via menemukan rokok di tas suaminya adalah hal yang janggal. Sebab dia tahu betul Mirza bukan perokok dari sejak dia mengenalnya pertama kali. Tapi dia ingat Mirza terakhir kali merokok ketika sedang dalam masalah besar dengan ibunya yang tak merestuai hubungannya dengan Via.


Peristiwa itu sudah lima tahun silam. Mirza duduk dengan gusar di teras belakang rumah Via sambil terus menghisap rokok tanpa henti seperti lokomotif yang sedang berjalan. Meski kala itu Via coba menenangkannya dan minta dia bersabar, tapi Mirza kelihatan sangat frustasi jika sampai tak bisa menikahi Via. Maklumlah, Livia kembang desa, banyak pria mengantri untuk menjadi calon suaminya. Dan Mirza tak kan rela melihat gadis pujaannya menikah dengan laki-laki lain.


“Apa mungkin Mas Mirza juga sekarang sebenarnya sedang dalam masalah?” Via merenung sambil menyimpan kotak rokok beserta koreknya di laci lemari dapur.


Mirza dari kemarin sore memang tak menunjukkan gelagat aneh seingat Via, meskipun gombalnya agak lebay seperti waktu di ruang tengah depan TV.


“Apa mungkin masalah dengan Om Jaka? Ah, tapi nggak mungkin.” Via terus bergumam sendiri.


Via ingat memang semalam Mirza sempat mengigau tak jelas sambil memeluknya erat sekali. Via membangunkan suaminya itu karena khawatir, tapi Mirza justru semakin kuat memeluknya hingga Via harus menepuk pipi Mirza agak keras barulah Mirza terbangun tapi langsung tidur lagi setelah bilang I love you istriku.


Memang sedikit aneh, meskipun semalam Via tak berpikir seperti itu. Dia hanya mengira Mirza kecapekan saja baru pulang dari Jakarta langsung melancancarkan “genjatan senjata” terhadapnya.


Ah, tak mungkin jika Mas Mirza sedang dalam masalah serius tapi tak bercerita padaku? Aku kan selalu setia jadi teman curhatnya selama ini? Apa mungkin ini berkaitan dengan pekerjaannya Mas Mirza? Atau jangan-jangan justru maslah sama ibu? Makanya Mas Mirza belum mau bilang sama aku. Tapi kemarin ibu kesini nggak bilang apa-apa. Heh, kenapa sih aku jadi mikir macem-macem? Aku nggak boleh suudzon! Mas Mirza pasti nanti bakal bilang sendiri kalo memang ada masalah berat dan dia sudah siap menagtakannya padaku.


“Hey, kok malah ngelamun?” Mirza tau-tau sudah di samping Via.


Via sedikit tergagap. “Eh, Mas … udah selesai?”


“Udah dong. Cepet kan, hehe…” Mirza tersenyum lebar. “Mana, katanya mau nyuci? kok masih berantakan gini?” Lanjut Mirza melihat bajunya yang masih berserakan di lantai dekat mesin cuci. “Aku aja yang nyuci, kamu siapin sarapan ya. Laper nih …” Mirza memegangi perutnya.


“Iya, Mas.” Sahut Via pendek.


Pikiran Via masih kema-mana meski sudah berusaha menangkan diri. Dia memerhatikan Mirza yang menaruh baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Ditatapnya punggung laki-laki kekar yang sudah lima tahun hidup bersamanya itu.


Ah, Mas … aku harap kamu baik-baik saja. Kamu benar-benar suami yang bertanggung jawab dan selalu berusaha membahagiakan aku meskipun ibumu belum sepenuhnya bisa menerimaku.


Wajah Via berubah sayu.


________

__ADS_1


berrrrsambung lagi ☺️


Terima kasih selalu setia mengikuti ceritaku ❤️🌹 Jangan bosan juga untuk selalu like, komen, rate dan vote ya, biar aku makin semangat nulisnya 🙏😘😘


__ADS_2