
“Om, sebenernya Ibu sakit apa?” Tanya Mirza khawatir begitu sampai di rumah sakit dengan Via.
“Emak elu over dosis obat mencret!” Sahut Om Jaka enteng.
Kontan saja Mirza dan Via melongo kaget mendengarnya.
“Om nggak becanda kan?” Mirza tak percaya dengan ucapan Om Jaka karena memang omnya itu suka asal kalo ngomong.
“Tanya dokter aja deh kalo elu kira gue bohong.” Om Jaka melihat pada dokter Burhan yang baru saja keluar dari ruangannya.
Mirza menghampiri dokter dengan langkah lebar.
“Dokter.” Panggil Mirza.
Dokter Burhan menoleh. “Eh, Za? Apa kabar kamu?” Sapa dokter Burhan ramah dengan sedikit kaget.
“Baik, Dok. Saya mau tanya kondisi ibu saya.”
“Oh, kondisinya sudah stabil kok. Untung Om kamu cepat membawanya kesini, terlambat sedikit saja efek dari semua obat-obatan yang dikonsumsi ibumu itu bisa sangat berbahaya.” Terang dokter Burhan.
“Jadi benar ibu over dosis?” Mirza seperti menggumam.
“Sepertinya ibumu baru mengalami diare, lalu dia mengonsumsi obat diare tanpa melihat aturan pakai yang benar.”
Mirza mengangguk, namun ia tak habis pikir ibunya bisa bertindak konyol seperti itu.
“Kita lihat hasil observasi malam ini ya, kalau besok sudah bagus bararti kamu boleh bawa ibumu pulang.”
“Baik, Dok. Terima kasih banyak.”
Dokter Burhan tersenyum. “Oya, jangan lupa besok senin bawa istrimu untuk periksa kandungan ya, biar kalian bisa tau kondisi calon bayi kalian.”
“Iya, Dok. Saya pasti ajak Via ke dokter kandungan besok.”
“Ya sudah, saya duluan ya. Selamat untukmu ya Za, karena setelah sekian lama menunggu akhirnya kamu dan Via akan segera punya momongan.” Ucap Dokter Burhan tulus.
“Terima kasih, Dok.”
Dokter Burhan menepuk lengan Mirza lantas berlalu. Mirza segera kembali pada Via dan Om Jaka yang masih berdiri di lorong depan ruang IGD.
“Gimana, elu udah percaya kan sekarang?” Tanya Om Jaka.
Mirza tak menyahut.
“Mas, ayo kita temui Ibu. Suster sudah memindahkannya ke ruang perawatan.”
Mirza mengangguk, mereka bertiga menuju ke kamar Bu Een.
Ceklek
Mirza membuka pintu kamar. Bu Een menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Mirza. Namun hanya sepersekian detik senyumnya langsung pudar melihat sosok dibelakang Mirza.
“Bu, gimana keadaan Ibu?” Mirza mendekat dan menatap prihatin dengan kondisi ibunya yang terlihat lemah.
Bu Een tak menjawab, ia malah melayangkan tatapan pada Via.
“Oh, sayang. Kamu duduk sini.” Mirza menarik kursi ke dekat ranjang Bu Een. “Kamu jangan berdiri, nanti capek.” Mirza mendudukkan Via.
“Za, apa benar istrimu sedang hamil?” Tanya Bu Een dengan ekspresi datar.
Mirza sedikit kaget karena ia belum meberitahukannya. Mirza melihat pada Om Jaka yang berdir di samping Via.
“Iya, gue yang ngasih tau.” Ucap Om Jaka seolah paham dengan ekspresi Mirza.
“Ibu seneng kan? Sebentar lagi ibu akan punya cucu.” Mirza tersenyum sambil meraih tangan kanan ibunya.
Bu Een tak menjawab, Via gamang dibuatnya. Dia menangkap seolah ibu mertanya itu tak suka dengan kabar baik ini.
“Kok diem aja sampean, Yu? Speechless ya?” Tebak Om Jaka yang tak melihat ada respon berarti dari kakaknya. “Ya elah, saking senengnya mau punya cucu ampe kagak bisa ngomong. Luar biasa sampean, Yu.” Om Jaka terkekeh sendiri.
“Ibu mau istirahat, ngantuk.” Ucap Bu Een pendek dan pura-pura memejamkan matanya.
Mereka bertiga saling pandang bergantian. Demi apapun mereka yakin ada yang tak beres dengan kejiwaan Bu Een, masa mantunya hamil nggak ngomong apa-apa. Paling tidak kasih ucapan selamat kan ya biar kelihatan pantes gitu?
“Za, emak elu kayaknya udah tidur deh. Kita tinggal pulang aja, yok.” Ajak Om Jaka.
Seketika Bu Een membuka kembali matanya.
“Tega kamu ya, Jak.” Ujar Bu Een.
“Lho, nggak jadi tidur, Yu?” Om Jaka pura-pura kaget.
Bu Een langsung masam karena ketahuan cuman tidur bohongan.
__ADS_1
“Mas, aku mau keluar sebentar ya.” Via bangkit karena merasa tak nyaman, kehadirannya seperti tak diinginan oleh ibu mertuanya.
“Mau kemana, sayang? Mending Mas anterin pulang aja, ya. Tapi nanti Mas balik lagi kesini mau nungguin ibu.”
“Biar gue aja yang anter Via, sekalian mau cari makan. Laper nih gue.”
Om Jaka segera pergi yang langsung diikuti Via.
Mirza duduk di kursi sepeninggal meraka.
“Kenapa ibu sepertinya nggak seneng dengan kehamilan Via?” Tanya Mirza seketika.
“Apa Via benar-benar hamil?” Bu Een balik nanya.
“Astaga, ibu! Ibu nggak percaya? Ibu ragu? Kenapa? Apa yang membuat ibu ragu?” Mirza tak habis pikir. “Apa aku perlu bersumpah demi bajak laut lagi agar ibu percaya? Atau aku harus bersumpah demi celana dalam Neptunus?” Mirza kehabisan kata utntuk meyakinkan ibunya.
“Jangan-jangan itu hanya akal-akal kamu saja biar nggak jadi nkahin Sofi.” Sinis Bu Een.
Mirza mengusap kasar wajahnya, gemes banget dia sama ibunya.
“Kayaknya abis over dosis obat diare ibu jadi makin nggak sehat deh pikirannya.” Gumam Mirza kesal.
“Kamu ngatain ibu nggak waras maksudnya?” Bu Een kesal.
“Ya habis, bisa-bisanya ibu punya pikiran seperti itu.” Balas Mirza kesal juga. “Ibu harus tau, sampe kapan pun aku nggak bakal nikahin Sofi. Jadi mendingan ibu lupain aja dia, toh sekarang dia juga udah balik dan akan segera nikah sama tunangannya.”
“Oh iya, Sofi kok belum nelpon ya. Udah nyampe belum ya dia? Kok nggak ngasih kabar.” Bu Een tiba-tiba teringat Sofi. “Za, tolong cariin hp ibu di situ.” Bu Een menunjuk tas jinjing di atas nakas.
Mirza diem aja, dia makin kesal. Bisa-bisanya dalam keadaan sakit begini ibunya masih aja mikirin Sofi.
“Mirza!”
Mirza meraih tas itu juga dengan malas dan langsung menemukan benda yang diinginkan ibunya.
Bu Een langsung mencari nomor kontak Sofi dan menghubunginya.
Di kamar Sofi,
Sofi meringkuk dengan mata basah, ia mengabaikan nada panggilan dering ponselnya yang masih di dalam tas.
Azad yang masih berjaga di kamar kakaknya mencari ponsel itu dan langsung me-reject panggilan masuk begitu tau Bu Een yang telpon.
Tak berapa lama ponsl Sofi berbunyi lagi, membuat Sofi membalikkan badannya melihat pada Azad yang sedang berdiri memegan ponselnya.
“Siapa?” Tanya Sofi serak.
“Bilang aku sudah tidur.” Pinta Sofi seraya membalikkan badannya lagi.
Azad dengan ragu menerima panggilan masuk Bu Een itu.
“Halo.” Ucap Azad dengan suara beratnya.
“Lho, ini Nak Azad? Sofi mana, Nak?” Bu Een agak terkejut di seberang.
“Kak Sofi udah tidur.” Jawab Azad keluar dari kamar Sofi.
“Udah tidur?” Bu Een agak tak percaya.
“Iya, kayaknya kecapekan.”
“Oh …” Suara Bu Een terdengar pasrah. “Tapi Sofi baik-baik aja kan Nak Azad?” Tanyanya kemudian.
“Iya, Bu.”
Azad kemudian ingat akan rasa penasarannya pada diare akut yang dialami kakaknya siang tadi.
“Bu, maaf saya mau tanya. Apa Kak Sofi makan sesuatu tadi pagi sebelum sarapan?”
Bu Een diam beberapa detik.
“Maksud Nak Azad?” Bu Een tak mengerti.
“Ehm, sebenarnya … Kak Sofi terkena diare sewaktu dalam perjalanan pulang tadi siang.” Tutur Azad agak ragu karena takut Bu Een salah paham dengan ucapanya.
“Apa? Kena diare?” Suara Bu Een meninggi, ia sampe lupa kalo ia sendiri sekarang masih dalam pemulihan setelah terselamatkan dari over dosis obat mencret.
Mirza yang di samping Bu Een jadi ikutan kaget demi mendengar ibunya yang tiba-tiba memekik kaget.
“Iya, saya sampai harus membawanya ke IGD rumah sakit begitu kami keluar dari tol karena Kak Sofi kehabisan bayak cairan.”
“Ya ampun! Kok bisa sama. Sofi juga kena diare? Kenapa bisa samaan?” Bu Een menggumam sendiri tapi Azad masih bisa mendengarnya dengan jelas suara Bu Een di seberang.
“Ibu juga kena diare?” Tanya Azad meyakinkan.
__ADS_1
“Iya.”
Azad berpikir sebentar, dia mulai menemukan titik terang dari keganjlan yang ia rasakan.
“Berarti kemungknan ibu dan Kak Sofi makan makanan yang sama tadi pagi selain nasi uduk. Soalnya kalo cuman makan nasi uduk nggak mungkin bisa sama-sama kena diare, karena aku juga makan tapi nggak papa.” Ungkap Azad.
Bu Een tercenung sejenak dengan hipotesa Azad.
“Tapi ibu beneran nggak makan apa-apa Nak Azad. Ibu cuman mencicipi opor ayam buatan Sofi sedikit.” Ucap Bu Een setelah ingat dengan apa yang dimakannya tadi pagi.
“Apa, Bu? Opor ayam?” seketika Mirza kaget mendengar kata opor ayam.
“Iya. Kamu kenapa sih, Za? Kok histeris begitu denger kata opor ayam?” Bu Een heran demi melihat reaksi Mirza.
“Sini hpnya!” Mirza merebut hp dari tangan Bu Een. “Azad dengar, ini aku Mirza.” Ucap Mirza dengar nada serius pada Azad. “Fix! Ini semua ulah kakakmu sendiri! Dia pasti menaruh sesuatu dalam opor ayam yang dibuatnya yang sengaja mau diberikan untukku, tapi justru dia sendiri yang memakannya karena aku dan Via sudah curiga pada kakakmu.” Ungkap Mirza dengan berapi-api.
Azad hanya diam mendengar penuturan Mirza, ia memang curiga pada kakaknya tapi tak menyangka kakaknya senekad itu.
“Katakan pada kakakmu, jangan smapai dia memperlihatkan tampangnya di sini lagi, kalo nggak mau aku seret dia ke polisi karena tuduhan upaya pembunuhan.”
KLIK!
Mirza langsung memutus sambungan tanpa menunggu jawaban dari Azad.
“Za, kamu apa-apan sih? Mas cuman bikin orang mencret aja dibilang upaya pembunuhan? Lebay kamu!” Bu Een malah sewot.
“Ibu masih belain dia? Ibu sadar nggak sih, gara-gara dia ibu jadi kena diare. Karena ibu diare, ibu jadi nelen semua obat mencret sampe over dosis? Dan lagi, dia sengaja mau ngerjain aku, Bu! Ibu masih mau belain dia? Dia sengaja ngelakuin itu karena dia terpaksa harus pulang. Coba ibu pikir, kalo sampe opor ayam itu dimakan Via juga, bisa-bisa Via dan calon bayi kami juga celaka. Calon cucu ibu celaka. Ibu ngerti nggak sih?” Mirza ngos-ngossan setelah selesai menumpahan semua kejengkelannya atas sikap ibunya yang diluar akal sehat itu.
“Sofi juga lagi hamil. Kamu nggak mikirin keadaan Sofi, Za?” BU Een nggak terima.
“Itu akibat ulah dia sendiri! Kalo sampe kehamilannya kenapa-kenapa itu akibat kebodohannya sendiri! Harusnya dari situ aja Ibu udah bisa menilai, wanita macam apa Sofi itu! Apa pantas ibu bangga-banggakan dia dan belain dia? Ibu nggak peduliin perasaan Via, mantu ibu sendiri? Ibu benar-benar sudah keterlaluan, aku nggak ngerti lagi dengan jalan pikiran ibu!”
Mirza benar-benar kehilangan kesabaran, dia bangkit dan melangkah cepat ke luar ruangan.
Bu Een tak mengira Mirza bisa seemosi itu. Diam-diam hatinya sakit, kenapa semua ucapan Mirza begitu tajam diarahkan padanya. Namun diluar itu, dia juga tak menyangka kalau Sofi benar-benar sudah keterlaluan.
Bu Een masih ingat betul bagaimana rasa mulas yang mendera perutnya. Bagaimana usus-ususnya itu terasa melintir melilit-lilit, dan itu semua memang ulah Sofi. karena Sofi juga dia harus menanggung rugi akibat dagangannya diborong para tetangga tanpa membayar. Ah, dasar Sofi keterlaluan! Bu Een gusar dalam pikirannya sendiri.
Mirza mengepalkan tinjunya dan menghantam pada dinding lorong meluapkan amarahnya. Dia ingin berkata lebih banyak lagi dari itu, dia ingin mebuka mata hati ibunya, tapi ia juga tak tega kalau harus terus berteriak dan membentak ibunya. Walau bagaimana pun ia selalu menaruh hormat pada wanita yang sudah melahirkannya itu.
Mirza melosot, jongkok dengan menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajahnya yang memanas.
“Heh, elu ngapain jongkok disini? Udah penuh tuh, pindah sana!” Suara Om Jaka membuyarkan jiwa melankolis Mirza yang lagi galau.
Mirza berdiri dengan wajah kusut.
“Kenapa tampang lu? Kayak jemuran kaos kaki belom kering?" Kelakar Om Jaka.
“Om, aku minta tolong ya. Om Jaka aja yang jagain ibu, aku mau pulang.”
“Ya elah, baru juga gue anter bini elu, eh udah mau disusul. Kangen lu?”
“Aku tadi emosi sama ibu.” Ucap Mirza.
“Oh, kanapa?”
“Ternyata Sofi yang naruh obat pencahar di opor ayam bikinannya yang dia kasih ke aku.”
Om Jaka sejenak mencerna kalimat Mirza.
“Jadi emak elu makan masakan Sofi?”
Mirza mengangguk. “Untung aku sama Via nggak percaya sama kebaikannya yang tiba-tiba itu. Dia coba yakinin kami, akhirnya dia makan sendiri opor ayamnya. Dan Sofi juga abis kena diare, dia baru aja nyampe di rumahnya tadi kata adiknya.”
Om Jaka mengehmbuskan napas kasar.
“Kayaknya kudu diruqiyah itu anak, biar bisa insyaf!” Tukas Om Jaka ikutan kesal.
______________
Jiaaahahaha…. Om Jaka gimana sih, Om…? Kalo Sofi insyaf nanti nggak seru lagi dong ceritanya🤣🤣🤣🤣
Halo, akak readers tercinta, mana suaranya …😂😂😂
Boleh dong kasih komen yang selalu ngasih jempolnya di tiap bab karyaku...?😍😍😍
Akak author tersayang, yuhuuuu…. 🤩🤩
Maafkan kalo ada yang masih beluma ku kunjungi ya. Aku pasti meluncur ke karya kalian pokoknya❤️
❤️😉😉😉
Segini dulu ya akak, besok kita sambung lagi. Moga-moga kerjaan author besok nggak terlalu padat jadi bisa nyuri-nyuri waktu buat nulis, hihihi…🤭🤭🤭
__ADS_1
Terima kasih semuanya🙏🙏🙏❤️❤️❤️
Luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘