TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
123 #ALAMAT PALSU?


__ADS_3

Siang ini terik luar biasa, agaknya musim hujan akan segera berakhir. Via baru selesai membersihkan rumah karena dari pagi sibuk dengan benda pipihnya mencoba mencari lowongan pekerjaan yang mungkin bisa didapatkannya dari sana.


“Delivery order!” Satu panggilan nyaring dari luar pagar mengalihkan Via dari niatnya yang baru saja akan ngadem sambil selonjoran di depan TV.


“Perasaan nggak pesen apa-apa deh.” Kening Via berkerut.


TIN .. TIN …!!


Kali ini suara klakson motor yang berbunyi nyaring, sehingga mau tak mau Via beranjak juga. Ia segera berlari kecil untuk membuka pintu. Namun langkahnya terhenti di teras ketika melihat siapa yang datang.


“Ibu? Riri?” Via agak surprise juga melihat ibunya turun dari boncengan dan Riri yang melepas helm tersenyum lebar ke arahnya.


“Kena prank ya... ? Haha… sukurin! Makanya jangan tiduran terus, dasar kaum rebahan!” Ledek Riri seraya menjinjing dua plastik besar ditangannya.


Via segera menyambut ibunya dengan hangat.


“Ibu mau tinggal di sini beberapa hari boleh kan, Vi?” Tanya Bu Harni.


“Boleh dong. Aku seneng banget malah.” Via memeluk ibunya karena merasa tak akan kesepian lagi. “Bawa apa ini, Bu?” Via mengambil alih kantong plastik yang dibawa Riri dan melihat isinya.


“Sayuran sama sembako, tadi mampir pasar dulu.” Jawab Bu Harni.


“Ibu udah kayak mau perjalanan jauh aja tau, Mbak. Lengkap banget perbekalannya.” Canda Riri melirik ibunya.


“Bukannya gitu, Ri. Kan itu buat dimasak selama ibu disini juga.” Sahut Bu Harni.


“Ya udah yuk, masuk.” Ajak Via menggamit lengan ibunya.


“Aku langsungan aja deh, Mbak. Udah siang banget ini, nggak enak kalo nggak ke toko.”


“Lho, emang dari pagi kamu belum buka toko?” Via heran.


“Udah buka sih, ada yang bantuin sekarang. Jadi aku lebih nyantai.”


“Ya udah, tapi nanti nginep sini juga, kan?”


“Iya.” Riri mengangguk lantas segera berlalu melajukan motornya menuju toko kuenya di pusat kota.


Via dan Bu Harni pun masuk rumah, mereka duduk di ruang tengah sambil menikmati camilan yang Bu Harni bawa, tak ketinggalan Via menyiapkan es sirup pisang susu untuk menemani. Cuaca yang panas itu sedikit teredam dengan kehadiran dua gelas sirup segar beraroma wangi pisang susu. Mereka berbincang tentang banyak hal, termasuk rencana Via yang ingin mancari pekerjaan.


“Kenapa kamu nggak kerja tempat Riri aja, Vi?” Ungkap Bu Harni.


“Kerja tempat Riri? Emangnya aku bisa bantu apa, Bu? Aku kan nggak pinter bikin kue kayak Riri dan Mbak Tia. Kalo masak oke lah, tapi kalo bikin kue aku nggak berbakat.” Sanggah Via sambil meraih gelasnya.


“Ya nggak harus bantuin bikin kue, bisa jadi cuman bantu-bantu di depan atau ngurusin orderan. Ya kan?”


Via mikir-mikir sebentar sambil kembali meraih keripik singkong di depannya.


“Tokonya sekarang rame banget lho, apalagi sejak kuenya bisa dipesan lewat aplikasi online. Kemarin itu si Riri sebenarnya nyari dua orang buat bantuin dia, tapi sama Bu Elin yang cocok dengan kriterianya baru satu.” Lanjut Bu Harni.


Via menyimak dengan baik penuturan ibunya.


“Kalo kamu berminat biar nanti Riri yang ngomong ke Bu Elin. Bu Elin pasti setuju kok. Kan lumayan kalo cuman buat kegiatan kamu, kerjanya nggak terlalu berat, itung-itung kamu bantuin kembangin usaha adikmu sendiri, Vi.” Terang Bu Harni lagi.


Via sudah mau bilang setuju, namun tiba-tiba dia ingat kalau Bu Elin ibu angkatnya Danar. Dan Danar juga dia liat cukup sering bolak-balik toko kue Riri. Via nggak mau ketemu Danar sering-sering. Dia sudah bertekad akan mejaga hatinya, menjaga kepercayaan suaminya, maka dia harus menjauh dari hal-hal yang sekiranya bisa menimbulkan potensi mengikis kepercayaan yang sudah susah payah dibangunnya dengan Mirza setelah tragedi Mirza dan Sofi.


“Emh, kayaknya aku mau cari kerja tempat lain aja deh.” Sahut Via kemudian.


“Lho, kenapa?” Bu harni heran.


“Aku mau kerja kantoran.” Ucap Via dengan nada setengah becanda. Sebenarnya dia hanya menjawab asal karena nggak mungkin kan Via bilang mau menghindari biar nggak ketemu Danar?


“Hemm, mentang-mentang sarjana!” Cibir Bu Harni. “Liat tuh adik kamu Riri. Biarpun nggak kuliah tapi usahanya maju, udah bisa mandiri dia. Kamu sama Tia yang sarjana malah bingung kan cari kerja? Apalagi si Tia tuh! Udah ibu sekolahn tinggi-tinggi, ehh gajinya jadi guru honor cuman senin kamis! Hari senin gajian, hari kamis udah wasalam!” Bu Harni mulai ngomel kalo inget keadaan anak sulungnya itu.


Huh, mulai deh …” Balas Via sebel karena Bu Harni membicarakan keadaan kakaknya.


“Ternyata ada benernya juga Riri nolak waktu ibu mau kuliahin dia, ya? Dia lebih milih kursus tata boga, Alhamdulillah malah sekarang punya usaha sendiri.”


“Bu, setiap orang itu punya rejekinya masing-masing. Ibu jangan suka membandingkan satu dengan lainnya. Apalagi aku, Mbak Tia sama Riri kan sama-sama anak ibu. Tapi Tuhan menggariskan jalan rejeki kami sendiri-sendiri.” Via menatap sendu ibunya memohon pengertian.

__ADS_1


Bu Harni cuman bisa meghela nafas. “Semoga Mirza cepat pulang ya, kamu sama Mirza bisa bangkit lagi secara finansial. Ibu sedih Vi liat kamu tinggal di kontrakan, padahal rumahmu dulu besar dan mewah, mobilmu bagus, sawah, tanah …”


“Bu, aku bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang.” Via mengelus pundak ibunya agar ibunya itu tak melanjutkan melownya.


“Ibu mau istrirahat dulu ya, nanti sore bangunin ibu. Ibu mau masak buat kita makan malam.” Bu Harni bangkit menuju kamar yang sudah dipersiapkan Via.


❤️❤️❤️❤️❤️


“Kamu mempermainkan aku ya? Kamu sengaja kan mengulur-ulur waktu?” Hanson terlihat kesal pada Arumi yang kembali menolak mengantarkannya ke alamat Sofi.


“Bukan begitu. Dengarkan aku dulu …”


“Cukup! Aku bisa cari alamatnya sendiri!” Hanson megacungkan telunjuknya. “Mulai sekarang, jauhi aku!” Hanson berjalan cepat.


Arumi segera mengejarnya dan menghadang langkah Hanson sebelum sampai ke mobilnya.


“Oke! Aku antar kamu sekarang!” Cegat Arumi.


Hanson malah menatapnya curiga. “No!”


“Kamu nggak percaya? Ich luge nicht. /aku nggak bohong/” Ucap Arumi. bersungguh-sungguh karena tak mau kehilangan tambang emasnya secepat ini.


“Ich werde mich nicht wieder touschen lassen! Du hast mich gerade benutzt, oder? Wenn Sie mir wirklich helfen würden, wären Sie nicht so lange ins Stocken geraten! " (1) Tandas Hanson dengan kekesalan yang sudah tak dapat ditahannya lagi.


Beberapa orang yang duduk disekitar meraka mulai memperhatikan mereka berdua karena suara Hanson terdengar jelas penuh emosi. Meski suasana taman kota sore itu tak seramai biasanya, tapi beberapa pasang mata tampak kepo ingin tahu kelanjutan perdebatan dua orang yang pastinya mereka kira sepasang kekasih itu.


Arumi jadi cemas seketika. Tapi bukan lantaran orang-orang disana memeperhatikan pertengkarannya, melainkan karena dia nggak ngerti apa yang Hanson omongin. Kepalanya mendadak berdenyut-denyut.


Ya ampun! Kenapa ni bule nyerocos panjang amat kayak gerbong kereta? Gua kan kagak ngarti dia ngomong apaan? Arumi garuk-garuk kepala merasa konyol.


"Zur Seite gehen! stört mich nicht!" (2) Hardik Hanson dengan pandangan tajam.


Alih-alih menyingkir, Arumi malah berlari ke mobil Hanson dan nemplok di pintu samping kemudi menghalangi Hanson yang mau masuk. Gayanya persis cicak yang nemplok di tembok.


“Aku ikut! Kita ke rumah Sofi sekarang!” Ujar Arumi yang melihat Hanson berdiri disampingnya dengan kesal. “Kalo aku bohong, kamu boleh nurunin aku di jalan.” Imbuhnya meyakinkan.


“Masuk!” Perintah Hanson dengan wajah geram.


Hampir dua jam perjalanan mereka setelah melewati kemacetan parah karena berbarengan jam pulang kerja, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah megah yang berdiri kokoh menantang langit senja yang hampir habis.



“Stop! Stop!” Titah agak berteriak Arumi.


“Kenapa, sih?” Hanson agak kesal juga diteriaki begitu.


Arumi memandang rumah mewah di depannya. “Kamu yakin ini rumahnya?”


“Mana aku tahu? Kok kamu malah nanya aku sih!” Kesal Hanson.


Arumi bergeming. “Ini rumah apa hotel ya? Apa kita nggak salah alamat? Jangan-jangan si Jane ngasih alamat palsu!” Lirih Arumi lantas membaca lagi alamat yang diberikan Jane.


Hanson hanya memperhatikan Arumi yang tampak ragu.


Tok tok tok…


Kaca jendela mobil Hanson diketuk seseorang. Hanson agak kaget namun segera membukanya.


“Selamat sore, Tuan.” Sapa seorang laki-laki tegap pada Hanson. “Ada yang bisa saya bantu?” lanjut si laki-aki berseragam security itu memandang Hanson.


“Kami mecari rumah Sofi. Apa benar ini alamatnya?” Jawab Arumi.


Pandangan laki-laki tegap berseragam itu beralih pada Arumi. Matanya menyelidik.


“Anda mencari Nyonya Sofia?”


“Iya, benar. Sofia Alta Husein. Saya Arumi saudaranya Nyonya Sofia.” Sahut Arumi mantap walau sebenarnya hati kecilnya tak rela juga menyebut Sofi dengan panggilan Nyonya.


Laki-laki tegap itu kemudian mempersilahkan mobil mereka untuk masuk melewati gerbang yang terbuka sendiri. Mobil Hanson melaju pelan dan berhenti di pos jaga agak jauh dari gerbang pertama yang mereka masuki. Seorang laki-laki berseragam lain meminta mereka untuk turun dan memeriksa mobil mereka dengan metal detector, pun mereka berdua tak luput dari pemeriksaan.

__ADS_1


Busyet! Udah kayak teror*s aja dah gua! Sof ... Sof .. gini amat keamanan rumah si raja minyak. Gerutu Arumi dalam hati.


Setelah selesai mereka pun dipersilakan menuju rumah dan di depan pintu masuk sudah ada seorang pelayan yang menunggu mereka karena sudah diberi info oleh security pertama.


“Silakan masuk, Nyonya.. Tuan…” Si pelayan mempersilakan mereka untuk masuk.


Arumi bernafas lega. Untung aja ada yang bukain pintu. Kalo nggak ada, bisa bingung dah masuknya dari mana! Pintunya banyak banget.


Sesampainya di dalam, ternyata keterkejutan Arumi belum berhenti. Matanya tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada ruangan luas yang menyambutnya.



“Mari ikut saya.” Palayan tadi memimpin mereka menuju ruang tamu yang terletak di sisi kiri ruangan. Agaknya ruangan itu diperuntukkan bagi tamu asing yang belum pernah berkunjung, sebab selain ruang tamu tersebut ada ruang tamu lainnya yang lebih luas di sisi kanan dengan Arabian style yang didominasi warna merah dan gold dengan sofa rendah khas orang arab.


“Silakan tunggu di sini. Nyonya Sofi akan datang sebentar lagi” Ucap pelayan itu kemudian minta diri.


Jantung Hanson mulai beritme tak beraturan, wajahnya agak pias. Sementara Arumi sibuk memindai seisi ruangan yang tampak begitu menakjubkan baginya.


“Pantas saja Sofi mau nikah sama si raja minyak. Dia pasti hidup bagaikan ratu dalam istana megah ini.” Gumam Arumi.


Sementara itu Sofi nampak heran begitu pelayan memberitahukan ada dua orang tamu yang menunggunya di bawah.


“Siapa?”


“Seorang perempuan muda bernama Arumi.”


“Arumi?” Sofi kaget bukan kepalang. "Mau apa dia kesini?" Darimana dia tau alamat ini?" Lirih Sofi menerka-nerka sendiri.


“Dan seorang laki-laki, Nyonya.” Lanjut pelayan itu.


“Siapa dia?” Sofi mulai curiga. Seingatnya Arumi tak punya teman laki-laki.


“Maaf, Nyonya. Saya tak menanyakan namanya.” Pelayan itu menunduk.


Sofi segera keluar untuk turun ke lantai bawah.


Tap tap tap…..


Langkah-langkah Sofi diayun mantap menuju ruang tamu walau dengan hati penuh tanya.


Ketika sampai di ambang ruang tamu, Sofi menghentikan langkahnya karena sepertinya mengenali pria yang duduk bersama arumi itu.


Dalam sepersekian detik, pria yang menyadari kehadiran Sofi itu langsung menoleh. Pandangan mereka bertemu dan sama-sama tak dapat saling menyembunyikan keterkejutan mereka masing-masing.


❤️❤️❤️❤️❤️


(1) Aku nggak akan ketipu sama kamu lagi. kamu cuman manfaatin aku aja kan? kalo kamu emang mau bantuin aku, kamu nggak akan mengulur-ukur waktu selama ini.


(2) Cepat minggir! Jangan menghalangi jalan!


❤️❤️❤️❤️❤️


Eaaa.... gimanakah reaksi Hanson dan Sofi selanjutnya?


a. Saling tubruk.


b. Kabur


c. Saling tubruk terus kabur.


d. Terserah othor aja


wkwkwkkk 🤣🤣🤭


Makasih banyak akak reader terkasih dan akak othor tersayang yang selalu baca ngikutin kisah Via dan kasih like plus komen. kalian sungguh berarti bagi othor.... 🙏🙏🙏😘😘😘


othor makin semangat jadinya 😍😍


mohon maaf jika ada typo dan kesalahan dalam penerjemahan. 🙏🙏

__ADS_1


luv u all 🤗🤗🤗❤️❤️❤️


__ADS_2