
“Aku baik-baik saja,” sudah puluhan kali Sofi mengatakan kalimat itu, namun tak juga kunjung membuka pintu kamarnya.
Ramzi setia berdiri di luar kamar sudah hampir satu jam, ia dilanda khawatir. Acara akad nikah Azad dan Jane akan berlangsung sebentar lagi.
“Sofia, please …” bersandar pada daun pintu memohon sang istri utuk segera keluar.
“Pergilah Kak,” mengusap wajahnya yang basah, make up yang sudah beranakan tak karuan. “I’m OK, don’t worry,” menatap pantulan wajahnya di cermin berusaha tegar.
“Aku nggak mungkin pergi tanpa kamu.”
Kedua matanya yang sembab jelas menjadi bukti betapa Sofi masih belum rela seorang Jane masuk dalam keluarganya. Mungkin ia egois, namun hatinya yang teramat sakit di masa lalu belum mampu berdamai dengan kenyataan. Meski kedua orang tuanya membujuk, bahkan Azad sampai bersimpuh di kakinya untk memohon restu, nyatanya Sofi masih berat untuk merelakan sang adik menikahi wanita yang pernah menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya itu.
“Kak Sofi, aku memohon dengan segala kerendahan hatiku,” Azad menjatuhkan diri di hadapan sang kakak malam itu. “Berikanlah restumu untukku dan Jane,” mendongak menatap wajah Sofi yang kokoh dengan penolakannya.
Berpaling dengan senyum sarkas, “tanpa restuku pun kamu akan tetap menikahinya kan?”
Tak bergeming masih setia di tempatnya.
“Bangun, Azad. Jangan mengemis restu seperti anak gadis yang memohon pada ayahnya,” manatap sinis manik mata sang adik yang mulai mengembun.
Azad menggeleng, tangannya masih memegangi kedua kaki Sofi. Malam itu, dua malam berselang setelah Jane datang di kediaman keluarga Husein, Azad yang telah melamar Jane secara resmi bermaksud meminta restu dari Sofia, -kakaknya tercinta.
“Sofia,” Nyonya Husein menyentuh lembut bahu Sofi, “doakan adikmu, seperti ia yang selalu mendoakan kebaikan untukmu selama ini.”
Terdiam, tenggorokan Sofi seperti tercekat. Sesayang itu Azad pada dirinya, saudara laki-laki satu-satunya yang ia miliki, yang sedari kecil selalu menjadi pelindunginya meski usianya jauh dibawahnya.
“Sofia, kapan kamu akan berubah dari sifat keras kepalamu?” tanpa beranjak dari tempat duduknya, Tuan Husein jelas menyudutkannya. “Harusnya kamu banyak mengambil pelajaran dari sifat keras kepalamu itu.”
Memalingkan wajahnya, tak ada yang paham dengan perasaannya. “Aku mau ke kamar,” hendak melangkah namun Azad masih menahannya.
“Tidak sebelum kau memberikan restumu,” Azad kekeh.
“Kau tidak memerlukannya, papa dan mama sudah merestuimu.”
“Kau sama pentingnya seperti mereka. Kamu sama seperti mama –“
“Aku tidak punya hati sebasar mereka, aku egois dan keras kepala.”
“Sofia sudahlah, sikapmu hanya akan menyakiti dirimu sendiri,” Ramzi yang sedari tadi hanya diam berjalan mendekat. “Bangun Azad, kakakmu benar, tanpa restu darinya pun kau tetap akan menikahi Jane,” membantu Azad berdiri. “Jadi tidak ada gunanya yang kamu lakukan ini,” melihat pada sang istri yang masih kokoh dengan keangkuhannya.
“Tidak, Kak Ram –“
“Mau sampai kapan kamu bersimpuh seperti itu? ini sudah hampir tengah malam,” menatap jengah lantas beralih pada mertuanya. “Pa, Ma, ayok kita istirahat. Biarkan saja mereka berdua sampai lelah sendiri dengan drama ini.”
Tuan Husein melihat pada sang istri yang langsung mendapat anggukan samar sebagai tanda setuju. Ramzi lantas membantu sang ayah mertua menuju kamarnya, benar-benar meninggalkan kedua kakak beradik dalam keras hatinya masing-masing di malam itu.
“Tuan,” seorang pelayan menghampiri Ramzi yang masih bersandar pada pintu kamarnya. “Tuan besar menanyakan kapan Tuan Ram dan Nyonya Sofi akan tiba di hotel?” ia memberikan ponselnya pada Ramzi.
Ramzi terdiam, belum tau mau bilang apa.
Sofia mendekat ke arah pintu, ia ingin tahu apa yang akan suaminya katakan.
“Tuan, acaranya akan dimulai setengah jam lagi dan mobil sudah siap,” ucap sang pelayan lagi.
Menghela napas berat, “tolong katakan kalau aku akan hadir sore hari pada acara resepsi saja.”
Sang pelayan mengangguk lantas melangkah pergi.
Terpaku di tempatnya berdiri, Sofi bepikir mengapa Ramzi perlu melakukan hal itu? bukankah dia bisa saja pergi tanpa dirinya? Ketidakhadirannya justru akan membuat banyak orang curiga dan bertanya-tanya. Namun demikian, Sofi diam-diam merasa bahagia juga. Sepenting itukah dirinya bagi sang suami?
Menuju nakas untuk meraih ponsel Ramzi yang tertinggal di kamar, melihat ada banyak begitu panggilan tak terjawab dari beberapa nomor berbeda.
Ceklek
Pintu kamar terbuka membuat Ramzi cukup terkejut.
Mengulurkan ponsel pada sang suami, “telpon papa, kita akan segera kesana sebentar lagi.”
Terdiam, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja dikatakan sang istri.
“Kak?” menyurungkan ponsel setengah memaksa.
Menggelang pelan, “nggak,”
“Apa kita akan sampai disana terlambat?”
Menatapi wajah Sofi, “kamu nggak bisa datang dengan wajah sembabmu.”
“Aku bisa memolesnya dengan make up,” menuju meja rias.
Mengambil ponsel untuk meminta es batu pada pelayan, “aku akan bantu mengompresnya,” ucap Ramzi.
“Kak, kamu lebay!” setengah melotot tak percaya, “ini bukan luka bekas berantem atau apa, jadi tak perlu dikompres segala."
Tak menanggapi, membuka jasnya kemudian menggulung kemrjanya sampai siku setelah melonggarkan kancing kemeja bagian atas membuat dadanya yang lebat bulu-bulu sedikit terekspos.
__ADS_1
“Mau apa kamu, Kak?” menatap tak yakin, lantas ketukan pintu dari seorang pelayan yang membawakan permintaan Ramzi menjadi jawabannya.
“Duduklah,” ucapnya setelah mengaktifkan peredam suara di kamarnya.
“Harus banget ya kamu melakukannya?” duduk di tepi ranjang masih dengan tatapan sama.
“Kau akan menyukainya,” mulai menempelkan perlahan kompresnya pada mata Sofi yang terpejam. “Bagaimana, terasa nyaman kan?”
“He em,” hanya menjawab dengan gumaman seraya mengangguk kecil, memang terasa sejuk kedua matanya setelah lelah menangis seharian karena tak terima dengan kenyataan pahit hari ini.
“Kau akan lebih menyukainya dengan ini –“ mendekatkan wajahnya, terkejut sudah pasti bagi Sofi yang tak siap menadapat pagutan dadakan pada bibirnya.”
“Kak …”
Tak menghiraukan, malah semakin mendapat celah karena Sofi membuka bibirnya. Kompres itu entah menggelundung kemana, keduanya sudah berada di atas tempat tidur, saling menerima satu sama lain dengan kerelaan.
“Kamu akan merasa lebih baik setelah ini,” ucap Ramzi dengan nafasnya yang hangat menyentuh leher jenjang Sofi.
Tak dapat dipungkiri, keduanya memang sudah lama saling merindukan ritual suci suami istri itu. seminggu terakhir setelah ketegangan mencuat karena persoalan Azad dan Jane, keduanya perang dingin saling acuh di tempat tidur, hingga akhirnya datang juga kesempatan ini.
-
-
-
Menjelang sore hari, keduanya sudah siap, dan tentu saja wajah Sofi terlihat lebih tenang dan fresh kini.
“Kamu paling cantik di pesta nanti,” menatap sang istri yang tampil anggun dengan gaun panjangnya.
“Benakah? Bahkan lebih cantik dari pengantin perempuannya?” sengaja menggoda sang suami.
“Bahkan dari seluruh perempuan seisi bumi,” menatap penuh keteduhan.
“Gombal!”mencebik lantas mengangkat gaunnya untuk gegas melangkah keluar kamar.
“Sofia, tunggu!” meraih lengan sang istri, “kita harus terlihat selayaknya suami istri yang paling bahagia,” menggandeng sang istri.
“Kak, gandengannya nanti aja ya? aku mau lihat Arfan dulu.”
-
-
-
“Mungkin mereka masih sedang bersiap,” ucap Ramzi seolah tau dengan isi hati istrinya yang memang sedari tadi Sofi celingukan seperti mencari keberadaan orang tuanya.
Hanya mengangguk, di depannya terbentang hamparan bunga menuju pelaminan yang megah. Sofi cukup takjub dibuatnya, pelaminan gaya classic tumur tengah itu membelalakkan kedua matanya.
Namun kemudian hati kecilnya berdecak sinis, “masih mewahan pesta pernikahanku dulu, cuma kayak gini sih nggak ada apa-apanya,” melihat pada pelaminan yang masih lengang.
“Azad memang menginginkan pesta yang sederhana saja, tapi aku rasa ini sudah sangat mengesankan,” lagi-lagi Ramzi seperti tau isi hati istrinya.
Tak menanggapi, terlihat WO mulai sibuk karena acara resepsi akan segera digelar.
“Kak Sofi,” sebuah suara menghentikan langkah Sofi dan Ramzi.
Menoleh pada sumber suara yang berjalan menghampiri, langkahnya tegap dan mantap.
“Terima kasih sudah datang,” berhambur memeluk sang kakak yang sepertinya tak menyangka akan mendapat sambutan seperti itu. “Aku sangat bahagia Kak Sofi ada disini.”
Perlahan melepaskan pelukan, “Ka –kak juga baha –gia melihatmu,” agak terbata karena sungguh berat untuk mengatakannya.
Segera meraih pinggang sang istri, “maaf ya, kami justru tidak hadir di prosesi sacral akad nikahmu,” ucapan Ramzi membuat Sofi berusaha damai dengan batinnya sendiri yang mulai bergejolak, apalagi ketika melihat kemunculan Jane dari kejauhan yang menuju pelaminan dengan gaunnya yang super anggun.
“Oya, papa mama dimana?” pertanyaan Ramzi mengalihkan fokus Sofi.
“Masih bersiap, Kak.”
Mengangguk, “ya sudah, cepat kesana untuk menerima para tamu,” ucap Ramzi karena melihat para tamu memang sudah mulai berdatangan.
“Baiklah, kalian jangan pulang sampai acara selesai,” shaut Azad sebelum menuju pelaminan.
Keduanya mengedarkan pandangan keseisi ballroom, seseorang yang duduk di meja depan membuat mereka satu pikiran.
“Itu Pak Haji Barkah,” ujar Ramzi.
“Iya, ayo kita duduk disana aja.”
Alunan musik mulai terdengar seiring langkah Ramzi dan Sofi menuju Pak Haji yang duduk hanya sendirian. Setelah melihat Ramzi dan Sofi, Pak Haji langsung tersenyum lebar.
“Alhamdulillah, akhirnya ada orang yang saya kenal juga disini,” ucap Pak Haji penuh kelegaan.
__ADS_1
“Kenapa seperti itu? memangnya dari tadi Pak Haji nggak ada temennya?” Ramzi heran.
“Kalian sendiri kenapa baru datang? Saya sampai bingung harus ngapain karena dari acara pagi tadi nggak ada teman ngobrol.”
Sofi dan Ramzi saling pandang, tak mungkin juga mereka mengatakan alasannya.
“Maafkan kami, Pak. Arfan mendadak tak enak badan, dia rewel. Jadi kami tak bisa meninggalkannya dengan susternya.” Ramzi terpaksa berdusta.
Raut wajah Pak haji langsung berubah simpati, “Masya Allah, lantas sekarang bagaimana putra kalian? Apa sudah baikan?”
“Sudah, hanya sedikit demam saja,” Sofi turut berdusta pula, tanggung gayanya ya Sof
😁
“Syukur Alhamdulillah.”
Acara demi acara terus bergulir, para tamu undangan yang datang semakin banyak. Sepasang pengantin yang tengah berbahagia pun tampak sibuk menerima banjir ucapan selamat dari para tamu, senyum Azad dan Jane tak henti-hentinya merekah.
Ponsel Pak Haji bergetar, “Hanson?” gumam Pak haji setelah melihat nama si penelpon. Seketika Sofi menghentikan keasyikannya yang tengah menikmati kunafa –dessertnya
menjelang malam ini.
“Wa alaikumsalam,” Pak Haji langsung menjawab salam yang rupanya lebih dulu diucapkan Hanson dari seberang. “Masya Allah, kamu ada Jakarta?” Pak Haji nampak surprise setelah mendengarkan Hanson yang memberitahukan keberadaannya. “Oh, sedang menuju kemari? Iya, ayah juga ada disini. Syukurlah, hati-hati ya.” Pak Haji menutup percakapannya.
Ramzi menangkap perubahan pada raut wajah istrinya.
“Hanson dan Rumi tenyata juga diundang,” ucap pak Haji yang tentu saja tak menyadari raut wajah Sofi yang berubah. “Mereka baru sampai dari Jerman semalam,”
Ramzi mengangguk dengan senyuman, “Jane dan Rumi memang selain saudara, mereka sahabat baik,” tutur Ramzi bersikap biasa saja.
Pak haji turut mengangguk setuju.
“Eum, aku permisi mau ke toilet dulu,” Sofi berdiri dari duduknya.
“Biar aku antar,” ikut berdiri.
Pak Haji tersenyum, “kalian benar-benar romantis, ke toilet saja harus bareng-bareng.”
“Kami tinggal dulu ya, Pak Haji” Ramzi menggandeng sang istri tak ingin membiarkannya jalan sendirian jauh darinya walau sejengkalpun.
“Apa kamu kebelet gara-gara akan bertemu mantanmu?” pertanyaan Ramzi sukses membuat Sofi melotot.
Menghentikan langkahnya ditengah orang-orang yang berlalu lalang, “apa kamu pikir aku perlu melakukannya?” menatap tajam dengan wajah jutek.
“Aku nggak tau,” mengedikkan bahu, “tapi kalo aku lihat dari wajahnmu sepertinya iya,” tersenyum kecil membuat Sofi makin kesal.
“Kau –“ kalimat Sofi terjeda ketika kedua netranya tak sengaja menangkap dua sosok tamu yang baru saja datang memasuki ballroom. Wajah Sofi berubah pias, ia sampai tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Bengong terpana membuat Ramzi turut mengikuti kemana arah mata sang istri memandang.
JENGJENG!
Siapakah tamunya saudara-saudara?
Bersambung nggak ya?
Bersambung aja deh, besok lagi ya …
😊😊
Etapi, lanjut aja deh, sedikit lagi. Nanggung
😂
-
-
Ramzi ikut terpana, oh bukan –terkejut lebih tepat. Wajah Ramzi tak kalah piasnya, matanya seolah enggan berkedip menyaksikan kedua tamu itu menuju pelaminan. Dan ketika mereka melewati meja depan, Pak Haji Barkah yang sedang duduk pun tampak tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Untunglah Pak Haji sehat, tak punya riwayat sakit jantung, ia hanya mengikuti pergerakan kedua tamu yang tentu saja tak menyadari keberadaan Haji Barkah disana.
Sofi, Ramzi dan Haji Barkah mungkin secara bersamaan dalam hatinya menggumam tak percaya penuh kekagetan “Mirza …?”
Ya, kedua tamu yang baru saja memasuki ballroom yang membuat Sofi, Ramzi dan Haji Barkah tercengang berjamaah itu adalah Mirza dan Tuan Alatas. Mirza tampak gagah dengan setelan jas grey berjalan mendorong kursi roda dimana Tuan Alatas duduk disana dengan keadaannya yang cukup prima pasca pulih dari stroke yang menimpanya.
Waaatt….? Kok bisa sih Mirza sama Tuan Alatas?
Nah, sampe disini kita sambung besok lagi ya
😁😁
Makasih udah keep stay ngikutin alur cerita nopel yang semakin kagak jelas ini, yang membosankan ini, yang berbelit-belit ini, wkwkwk….🤣🤣🤣🤣🤣
Kalian yang masih mau baca; kalian lebih strong dari authornya, tau nggak? The best ever after, forever dah pokoke
🙏🙏🙏🥰🥰🥰
__ADS_1
Ai lop yu pull from de dipes of mai hert,
💕💕💕💕💕🤗🤗🤗🤗😘😘😘