
Tok tok tok
Tiba-tiba suara ketukan pada kaca jendela mobilnya membuyarkan angan indah Azad tentang Riri.
Azad menurunkan kaca jendela mobilnya.
Seorang pemuda kampung nampak berdiri di luar memandang Azad dengan sedikit kaget.
Ia rupanya tak menyangka kalau orang yang ada dalam mobil sedikit berbeda spesies dengan manusia-manusia kebanyakan di kampungnya.
“Maaf, Pak. Eeh, Mas. Saya bisa minta tolong?” Ucap si pemuda kampung yang tak lain ternyata Udin itu agak sungkan karena melihat raut wajah garang Azad.
Azad berpikir sejenak. Dirinya saja sekarang sedang butuh pertolongan tak tau mau kemana, kok tiba-tiba malah dimintain tolong? Apa nggak salah? Azad melihat pada Udin.
“Bapak, eeh Mas, kenapa ngeliatin saya kayak gitu? Saya keren ya?” Ucap Udin pede, sebenarnya dia hanya berusaha mencairkan suasana saja karena melihat sorot mata Azad yang tajam. “Emang kok, Mas. Orang satu kampung di sini juga bilang kalo saya keren. Ya .. 11 12 lah kalo sama Verel Bramantyo, hehehe… cuman beda nasib aja.” Lanjut Udin sambil cengengesan garuk-garuk kepala nggak gatel.
“Kamu orang ampung sini?” Tanya Azad.
“Iya, kenapa emangnya?” Udin balik nanya.
Aha! Cling!
Tiba-tiba Azad mendapat ide cemerlang.
“Oke, kamu butuh pertolongan apa?” Tanya Azad keluar dari mobilnya.
“Wah, Masnya bener-bener baik deh mau nolongin saya.” Udin udah kegirangan. “Mobil saya mogok di sana Mas, kehabisan bensin. Bisa saya minta tolong …”
“Bisa.” Sahut Azad cepat tanpa menunggu kalimat Udin selesai. “Tapi ada syaratnya.” Imbuh Azad kemudian.
“Hah? Syarat aapa, Mas?” Udin heran.
“Kamu juga harus tolong saya cari kandang gorila, ehh .. bukan, bukan. Maksud saya, tolongin saya cariin kakak saya.”
“Apa? Kakaknya Mas dibawa ke kandang gorila gitu maksudnya?” Udin tak mengerti.
“Bukan, kakak saya nggak tau pergi kemana.”
“Diculik gorila?”
“Bukan, pokoknya nggak tau dia ada dimana. Saya waktu itu antar kakak saya ke kampung ini ke rumah yang ada di sana.” Azad menunjuk arah rumah Mirza yang tadi dilewatinya.
“Di sana di mana Mas?” Udin bingung.
“Di sana, di rumah yang bagus itu. Terus tadi saya ke sana kakak saya nggak ada, cewek yang ada di rumah itu bilang kalo kakak saya ada di kandang gorila.”
Udin garuk-garuk kepala nggak gatel untuk yang kedua kalinya demi mendengar cerita Azad yang sama sekali tak ia mengerti.
“Gini aja deh, Mas. Masnya tolongin saya cari bensin dulu, setelah itu baru saya tolongin cariin kakaknya Mas. Gimana?” Tawar Udin. “Soalnya saya takut dimarahin majikan saya nih disuruh beli lauk buat makan siang malah lama banget nggak pulang-pulang. Bisa-bisa gaji saya dipotong nanti, atau lebih gawat lagi saya bisa dipecat!” Terang Udin pada Azad.
“Oke, saya setuju. Tapi kamu janji bakal bantuin saya? Soalnya saya nggak kenal sama siapapun di kampung ini.”
“Iya, tenang aja. Saya janji kok.” Ucap Udin.
“Ya udah, ayok!”
Mereka berdua pun kemudian pergi mencari tukang jual bensin eceran yang terdekat meninggalkan mobil pick up Udin yang berhenti agak jauh dari mobil Azad di areal persawahan.
Maklumlah di kampung mereka nggak ada SPBU. Satu-satunya SPBU ada di kota kecamatan dekat dengan pasar. Mobil Azad pun jalan mengikuti arahan Udin.
Setelah mereka mendapatkan bensin dengan meminjam beberapa botol milik pedagangnya, mereka pun kembali pada mobil Udin, eeh mobilnya Bu Een denk sebenarnya. Udin lega masalahnya teratasi, dia kesal pada dirinya sendiri kenapa sampai lupa tak mengisi bensin mobil itu sehingga sampe kehabisan di jalan, untungnya ketemu orang baik, kalo nggak bisa gempor dia jalan kaki bolak balik nyari yang jual bensin. Mana siang bolong begini jarang ada orang yang lewat lagi.
“Jadi gimana? Kamu bakal bantuin aku kan?” Tanya Azad.
Tulalit tulalit tulalit
Belum sempat Udin menjawab pertanyaan Azad, ponsel dalam saku celananya berbunyi dan bergetar-getar manja.
“Sebentar, ya.” Ucapnya pada Azad seraya merogoh ponselnya. “Nah, kan!” Seru udin pada dirinya sendiri begitu tau Bu Een yang telpon. “Halo, Bu.”
“Udiiiin....!!” Pekik Bu Een dari seberang. “Kemana aja kamu, hah? Disuruh beli lauk sampe berjam-jam belum pulang juga?” Emangnya kamu beli lauknya dimana, hah? Di Suriname apa di Zimbabwe?”
“Agak geser ke selatan sedikit, Bu. Di Somalia.”
“Sudah, jangan banyak omong kamu! Cepetan pulang sekarang juga! Nggak tau apa kalo cacing dalam perut saya sudah pada joget koplo semua, dasar nggak becus kamu jadi orang!” Omel Bu Een lalu langsung memutus sambungannya.
KLIK!
“Ada apa?” Tanya Azad yang melihat perubahan raut wajah Udin.
“Nggak ada papa, Masnya ikut saya dulu aja ya. Nanti saya janji bantuin cari kakaknya.”
__ADS_1
“Maksud kamu?”
“Iya saya kan tadi bilang diseuruh cari lauk makan siang sama majikan saya, nah tadi majikan saya telpon ngomelin saya karena belum pulang juga, soalnya dia sama calon mantunya udah kelaparan.” Udin menjelaskan berharap Azad mau mengerti.
“Baiklah kalo begitu.” Azad nurut karena nggak punya pilihan lain.
Sekitar sepuluh menitan mobil Udin dan Azad sampai di rumah Bu Een. Bu Een langsung menghampiri Udin dan kaget melihat siapa yang turun dari mobil NDAHO YEZZ dibelakang mobil Udin.
“Heh, kamu kok dateng-dateng sama polisi india?” Bu Een heran lalu menghampiri Azad. “Kamu ya yang bikin Udin lama banget nyampe sininya? Ada kepentingan apa kamu sama Udin? Jangan bilang kalo kamu mau nyuruh Udin kerja di negaramu jadi tukang cuci di sungai Gangga ya?” Cerocos Bu Een pada Azad.
“Bukan, Bu. Masnya ini yang tadi nolongin saya kehabisan bensin di jalan.” Terang Udin.
Bu Een memandang Azad penuh selidik.
“Tampang kayak penjahat gini bisa juga nolongin orang ya?” Bu Een sangsi.
“Bu, udah datang si Udin?” Tanya Sofi yang tau-tau muncul dari rumah.
Azad langsung menoleh pada sumber suara karena merasa mengenali suara barusan. Dan benar saja....
JRENG!
“Kak Sofi?” Seru Azad terbelalak tak percaya melihat ada kakaknya di sana.
“Azad?” Sofi pun tak kalah kagetnya mengetahui adiknya yang nongol secara tiba-tiba di rumah Bu een.
Untuk sesaat kakak adik itu bertatapan seolah sama-sama saling meyakinkan apa yang dilihatnya, kemudian saling tubruk dan berelukan di bawah pohon jambu air halaman rumah Bu Een. Sofi terharu mendapati adiknya ada disana, Azad pun bahagia karena dapat menemukan kakaknya.
Bu Een dan Udin hanya melongo saja menyaksikan adegan di depannya.
“Jadi … polisi india ini …” Ucap Bu Een masih sambil melongo tak percaya.
Sofi meepaskan pelukannya pada Azad.
“Ini adik saya, Bu.” Sofi memperkenalkan Azad pada Sofi.
Udin yang tadi melongo, kini tersenyum lega meskipun tak menyangka ternyata Sofi dan Azad kakak beradik.
“Kakak adik kok bentuknya bisa beda jauh gitu ya?” Gumam Azad begitu mereka bertiga masuk.
Bu Een mengajak Azad makan siang bersama dan memintanya untuk menginap. Bu Een menganggap ini sebagai kesempatan baginya untuk mengambil hati anggota keluarga Sofi yang dikiranya masih kaya raya itu.
“Betul Zad, kamu nginep aja disini, lagipula Kakak nggak mau pulang sekarang sama kamu.” Ungkap Sofi yang mengetahui niatan Azad datang pasti untuk menjemputnya.
“Apa? Papa kalian sakit? Saki tapa, Zad? Seoga keadaannya bisa segera membaik ya.” Ucap Bu Een sok perhatian, padahal kenal juga nggak sama Tuan Husein.
“Terima kasih, Bu. Papa sudah membaik.” Jawab Azad.
“Katakan sama Papa, aku masih belum bisa pulang.”
“Ayolah, Kak. Jangan bikin Papa dan Mama tersiksa karena memikirkan keadaanmu disini.”
“Keadaan Sofi disini baik-baik aja kok. Kamu jangan khawatir, Azad. Sofi disini tak kurang suatu apapun, saya jamin itu.” Bu Een kembali menyela.
Azad diam saja tak menanggapi.
“Zad, kamu kan yang bilang sama Kakak kalo Kakak boleh memilih jalan hidup Kakak?” Sofi menatap manik mata adiknya lekat mencari dukungan.
“Iya tapi keadaannya sekarang bukan seperti yang aku kira Kak.”
“Azad, biarkan kakakmu disini, dia bahagia disini karena dia akn menikah dengan anak saya.” Ucap Bu Een yakin seklali.
Azad menghela nafas, meiihat Bu Een.
“Bu, bisa saya bicara berdua dengan kakak saya?” Pinta Azad yang terus-terusan kalimatnya diinterupsi oleh Bu Een.
“Oh, tentu. Kalo gitu saya akan buatkan teh atau kopi untuk …”
“Ngga usah repot-repot, Bu. Saya belum mau minum teh atau kopi.” Jawab Azad datar.
Bu Een mengangguk kecewa dan beranjak dari meja makan menuju dapur membawa piring kotor. Cukup lama dia di sana untuk mencuri dengar apa yang dibicarakan Sofi dan Azad.
“Kak, gimana kalo kita keluar aja? Kita cari tempat buat ngobrol.” Usul azad yang tau kalo Bu Een berusaha nguping pembicaraan meraka.
“Oke, sebentar aku pamit dulu sama Ibu.”
Azad berjalan mendahului Sofi keluar rumah dan sempat berbincang sedikit dengan Udin yang sedang menaga toko. Tak lama Sofi keluar dan mereka pun pergi dengan mobil Azad.
Bu Een tampak kecewa dengan kepergian mereka karena tak bisa menuntaskan hasrat kekepoannya tentang keluarga Sofi.
SREET!
__ADS_1
Mobil Azad berhenti di pinggir jalan, di dekat areal persawahan, persis seperti tadi siang.
“Kok berhenti di sini?” Tanya Sofi.
“Yang penting kita bisa ngobrol berdua tanpa ada yang nguping.”
Sofi mendengus pelan.
“Kak, kalo aku mau bisa saja aku membawa Kak Sofi sekarang langsung pergi ke Jakarta.” Ucap Azad menatap tajam kakaknya.
“Kamu gila!”
“Kakak yang sudah bikin kami semua jadi gila!” Pekik Azad.
Sofi kaget mendengar Azad berteriak.
“Kakak tau, karena ulah Kak Sofi yang hanya mementingkan kepuasan Kak Sofi sendiri Papa sampai jatuh sakit, dan perusahaan teranjam disita oleh Tuan Alatas.”
“Apa? Disita?” Sofi terkejut.
“Iya, dibeli secara paksa dengan harga murah sebagai bayaran hutang! Apa namanya itu kalo bukan disita? Sama saja kan?” Oceh Azad jengkel.
“Apa Kak Ram yang memintanya?”
“Aku tidak tau! Aku rasa itu tak penting, karena yang mereka inginkan adalah uang mereka kembali ‘secepatnya atau Kak Sofi menikah dengan Kak Ram bulan depan.”
“Nggak dua-duanya.” Sofi menggeleng kuat.
“Kakak mau kita semua jadi gelandangan? Kakak senang lihat Papa dan Mama menderita? Kapan Kakak akan menyudahi tindakan kakak yang egois ini? Kapan Kakak akan peduli pada keluarga kakak sendiri? Kak sofi, sadarlah. Dengan Kakak seperti ini Kakak sudah merugikan banyak orang.” Ucap Azad mulai emosi.
Sofi diam, mulutnya terkatup mendengar perkataan Azad.
“Menikahlah dengan Kak Ram, Kak. Lupakan orang yang telah menghamili Kakak, dia tidak mencintaimu, Kak. Lagi pula ini semua terjadi karena kecerobohan Kakak sendiri. Kalu saja Kakak tak bergaul terlalu bebas, pasti tak begini jadinya.” Lanjut Azad kali ini melunak.
“Tega sekali kamu bicara seperti itu, Zad.” Ucap Sofi pelan, Nampak kedua mata indahnya mulai berkaca-kaca. “Kau pikir aku menginginkan ini semua? Aku hanya sedang memperjuangkan hak anak yang ada dalam kandunganku ini. Apa itu salah?” Sofi memandang Azad bersamaan dengan butiran bening yang mulai meleleh memebasahi pipi mulusnya.
“Salah, karena kakak sudah menyakiti banyak orang, Kak.”
“Kalian memang sama saja. Tak ada yang peduli denganku dan bayi ini.” Sofi mengusap perutnya dengan senyum getir.
“Pulang lah, Kak. Aku akan bicara dengan Kak Ram, aku rasa dia bisa menerimamu karena sangat mencintaimu dari dulu. Soal anak itu kita urus nanti setelah dia lahir, mungkin kita bisa menitipkannya di panti asuhan atau pada neneknya yang sepertinya sangat menginginkan kamu jadi menantunya tadi.”
“Kejam, Kamu!” Sofi menatap nanar.
“Kakak sudah tak punya pilihan. Membela anak itu atau membiarkan keluarga kita hancur.” Tegas Azad.
Sofi terdiam lagi. Azad memberinya waktu untuk berpikir.
“Aku tidak mencintai Kak Ram, Zad. Aku nggak bisa hidup dengan orag yang kaku dan otoriter seperti dia. Aku ingin hidup bahagia, penuh kebebasan bukan dikekang oleh suami.”
“Papa Mama, dan para orang tua kita terdahulu juga hidup tanpa cinta dnegan perjodohan Kak. Tapi mereka bisa bahagia, cinta itu ditumbuhkan Kak, bukan dicari.”
Sofi menggeleng lagi, air matanya terus mengalir makin deras. Tangan kanannya terus mendekap perutnya sendiri yang masih rata. Ia sungguh tak rela kalau harus menyerah setelah semua yang sudah ia peejuangkan selama ini.
“Aku nggak bisa.” Ucap Sofi lirih.
Azad tak punya pilihan lain, dia mulai menginjak pedal gas perlahan dan menatap lurus ke depan.
“Kalu begitu bersiaplah, Kak.” Gumam Azad.
“Azad, apa yang akan kamu lakukan?” Pekik Sofi kaget.
_____________
Halo akak readers dan akak author semua.... 😊😊😍😍😍
Masih setia kan ikutin TERPAKSA SELINGKUH ❤️
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya kak ☺️❤️
Rate 5 🤩🤩
Vote juga boleh banget kok,😍😍😍 author akan sangat berterima kasih ❤️❤️🌹🌹🌹
Luv u all🤗🤗😘😘
__ADS_1