TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
146 #CINTA DALAM DIAM


__ADS_3

Rapat evaluasi untuk karyawan hampir usai. Bu Elin memuji beberapa dari mereka yang berprestasi, ia juga tak segan memperingatkan karyawan yang dianggapnya mempunyai etos kerja yang kurang baik.


“Saya ucapkan terima kasih untuk kerja keras kalian semua.” Ucap Bu Elin menyapu pandangan ke semua karyawan barunya. “Setelah project resort kita selesai, kita akan lanjutkan dengan project baru. Saya baru saja selesai mengurus ijin untuk pembangunan perumahan di perbatasan kota. Setelah ini, kalian akan bekerja di bawah pimpinan anak saya langsung, Danar Hadi Pramana.” Bu Elin melihat Danar yang duduk di sebelahnya.


Danar hanya mengulas senyum tipis, meski dalam hatinya enggan namun tentu saja ia tidak bisa langsung menolaknya.


“Via, saya puas dengan kinerja kamu. Saya ingin kamu membantu Danar dalam tugas barunya nanti.” Kini pandangan Bu Elin lurus ke depan menatap Via.


“Sa-saya Bu?” Via gelagapan.


“Iya, kamu keberatan?”


Via tak langsung menjawab. Masalah chat yang salah kirim dengan suaminya saja belum terselesaikan, sekarang malah datang masalah baru. Via tentu saja tak ingin membuat semuanya makin runyam, apalagi keutuhan rumah tangganya dipertaruhkan disini.


“Saya tau kamu punya potensi besar. Tolong dampingi Danar. Kamu mengerti kan maksud saya?” Tanya Bu Elin yang melihat Via belum juga kunjung bicara.


Milen cs saling pandang dalam diam, tapi jelas sekali tatapan mereka menyiratkan ketidakrelaan akan tugas baru Via. Akhirnya Cila memberanikan diri mengangkat tangan untuk menginterupsi.


“Maaf Bu. Sepertinya Via nggak siap dengan tugas barunya.” Ujar Cila setelah Bu Elin mempersilakan dirinya untuk bicara.


“Kalau begitu apakah diantara kalian semua ada yang siap untuk membantu Danar?” Tanya Bu Elin mengedarkan pandangan.


“Saya siap, Bu!” Jawab Milen cepat. “Saya akan berusaha mengerahkan semua kemampuan saya, saya janji tak akan mengecewakan Ibu ataupun Pak Danar.” Milen melirik pada Danar di akhir kalimatnya.


Bu Elin menyunggingkan senyum, “cukup percaya diri juga kamu ya?”


Milen balas tersenyum merasa Bu Ein akan memberinya kesempatan.


“Tapi saya ragu dengan kemampuan orang yang biasa bergosip di tempat kerja.”


WAKWAW!


Seketika senyum Milen langsung musnah. Rasa percaya dirinya pun punah.


“Kalau begitu biar saya saja Bu yang akan membantu Pak Danar.” Vony ikut mengusulkan dirinya sendiri. “Saya siap menjadi sekertaris ataupun asisten pribadi Pak Danar, saya tidak akan mengecewakan. Karena saya orangnya disiplin tak pernah datang terlambat, saya juga jujur, adil dan dapat dipercaya.” Lanjut Voni bersemangat udah mirip orang lagi kampanye saja.


“Oya, omong-omong soal disiplin. Pagi tadi kenapa kamu datang terlambat, Vi?” Bu Elin kembali melihat pada Via nyuekin Vony yang tadi sangat menggebu hingga tak ayal membuat Milen dan Cila menahan tawanya karena Bu Elin sama sekali tak merespon kata-kata Voni barusan.


Via menghela nafas sebentar, ia tahu dirinya salah, tapi dirinya tak ingin beralasan apapun.


“Emh, karena saya memilih untuk datang terlambat, Bu.” Jawab Via pelan.


Bu Elin mengerutkan dahi.


“Maaf, saya tak punya alasan apa-apa, Bu. Karena saya tau, mau saya beralasan apapun, saya salah karena sudah tidak disiplin.” Lanjut Via yang membuat Bu Elin mengangguk paham.


Lain halnya dengan Danar, ia merasa ada yang disembunyikan oleh Via.


“Baiklah, soal proyek baru kita, lebih baik kita lanjutkan saja lain waktu. Lagi pula masih beberapa minggu lagi.” Bu Elin melirik arlojinya. “Sudah hampir jam makan siang. Saya cukupkan sampai disini dulu, terima kasih semuanya.” Bu Elin menutup pertemuan.


Para karyawan dipersilakan meninggalkan ruangan meeting terlebih dahulu. Sebagian dari mereka langsung turun ke lantai bawah untuk makan siang, sebagian yang lain termasuk Via kembali ke ruang kerja. Sedangkan Bu Elin meminta Danar untuk tinggal dulu dengannya.


“Ibu mau tanya sama kamu.” Bu Eli memutar posisinya menghadap Danar. “Ada hubungan apa kamu sama Via?”


Deg!


Perubahan raut wajah Danar langsung kentara, terlihat sekali kalau dia sangat terkejut dengan pertanyaan ibunya yang menohok itu, namun begitu ia lekas mengelak.


“Kenapa ibu bertanya seperti itu? Seolah aku punya hubungan special dengan Via?”


Bu Elin mentap lurus manik mata putra angkatnya. “Barusan Via sepertinya keberatan dengan tugas yang akan ibu berikan badanya. Dan pagi tadi ibu mendengar Milen dan teman-temannya membicarakan kamu dan Via.”


“Mereka memang tukang gossip. Bagusnya ibu pecat saja mereka.” Sahut Danar membuang pandangan cuek.


“Itu bukan yang pertama kalinya ibu mendengarnya.”


“Itu membuktikan bahwa mereka benar-benar tukang gosip!” Danar bangkit.


“Tunggu, Danar.” Bu Elin menahannya, ia berdiri tepat di depan putra angkat kebanggaannya itu. “Lihat ibu, apa karena Via sampai saat ini kamu belum bisa membuka hatimu untuk Riri?”


Danar diam. Kedua netranya gamang.


“Danar, Via itu perempuan yang sudah bersuami.” Bu Elin menyentuh lembut pundak putranya. “Kamu baik dan tampan, kamu kebanggan ibu satu-satunya, dan kamu berhak bahagia dengan wanita lain yang belum ada pemiliknya.” Lirih Bu Elin meraih kedua telapak tangan Danar dan meremasnya untuk memberinya keyakinan.


Danar menunduk, hatinya menghangat. Apa yang ibunya katakan itu sepenuhnya benar. Namun siapa yang bisa menolak manakala sebuah rasa itu datang tak peduli waktu dan tempat?


“Maafkan aku, Bu.” Danar melepaskan genggaman tangan ibunya dan segera berbalik meninggalkan ruangan dengan langkah-langkah lebar.


Bu Elin memandangi kepergian putranya dengan hati melow, atau lebih tepatnya prihatin, kenapa nasib malang harus kembali menimpa putra angkatnya, ia dipastikan akan patah hati untuk yang kedua kalinya.


Di ruang kerja karyawan Milen cs sengaja nyamperin Via yang bersiap akan pergi untuk makan siang.


“Kamu lihat kan tadi? Kita akan buat Bu Elin nggak bakalan membiarkan kamu dekat dengan Pak Danar.” Milen melipat tangan di dada dengan menghunus tatapan siap berperang.


Via tak menyahut, ia meraih tasnya dan melewati mereka begitu saja, dalam pikirannya kini hanya ada Mirza suaminya.


“Hey, kamu denger nggak sih ada orang ngomong?” Vony menarik paksa lengan Via.


“Lepas!” Via menghentakkan Vony dengan sekali kibas sehingga membuat Vony tersentak kaget karena Via berani melawan. “Kalau itu mau kalian, lakukan!” Via menatap mereka tajam.


“Punya nyali juga ya kamu!” Cila mendorong Via.


Milen segera berdiri menghalangi langkah Via dan tersnyum sinis. Melihat ruangan kerja sudah sepi tak ada orang, mereka bertiga semakin membuat Via terpojok.


“Silakan mimpi kalau memang mau mendekati Pak Danar!”


Via balas tersenyum sinis. “Dan silakan kalian cari cara terhormat untuk menunjukkan prestasi kalian, bukan dengan cara menjatuhkan orang lain!” Tegas Via lantas menyingkirkan Milen cs yang berdiri menghalangi langkahnya.


BRUUK ...!


“Aww…!” Milen meringis karena tubuhnya jatuh menabrak meja di sampingnya saking kuatnya dorongan Via.


“Hoy, dasar perempuan bar bar! Berhenti kamu …!” Seru Milen sambil memegangi bahunyanya dan meringis menahan sakit. Cila dan Vony membanunya berdiri.


Hup!

__ADS_1


Langkah kaki Via terhenti begitu berpapasan dengan Danar di pintu ruangan.


“Kamu … mau makan siang?” Tanya Danar agak canggung.


“Nggak, aku ada sedikit urusan.”


“Oh …” Danar mengangguk.


“Oya, sepulang kerja kamu ada wkatu? Aku mau bicara.” Via sudah memutuskan harus menegaskan sikapnya pada Danar.


Danar mengangguk. “Kita ketemu di kedai.”


“Oke.” Via melangkah pergi.


Milen cs yang melihat keberadaan Danar langsung pasang kuda-kuda. Udah kayak orang mau bertarung aja ya? Kuda-kuda caper yang ini sih, haha…


“Pak, Bapak lihat kan ulah Via barusan? Dia udah dorong aku sampai jatuh tadi.” Milen langsung menunjukkan bakat acting terbaiknya.


“Bener itu, Pak. Aku juga didorognya, kepalaku sampe kebentur nih. Uuuh, sakit banget …” Vony nggak mau kalah pura-pura sakit juga.


“Dia itu bar bar banget Pak, mentang-mentang dekat dengan Bapak suka semena-mena sama kita. Padahal kita tadi cuman negur biasa aja, iya kan?” Cila melihat pada Milen dan Vony, mereka pun langsung mengangguk-anggukan kepala dengan cepat mirip boneka anjing-anjingan yang ada di dash board mobil.


“Masih untung kalian nggak di dorong jatuh ke luar jendela.” Sinis Danar lantas segera berlalu masuk ke ruang kerjanya membuat Milen cs saling pandang dalam ketidakpercayaan.


Gagal maning, gagal maning ya Son... Wkwkwkkk....


Kamar tidur di lantai atas ruko Riri dipilih Via untuk menyelesaikan masalahnya dengan Mirza. Ia sudah bertekad tak akan berhenti menelpon sampai sambungannya diterima oleh suaminya itu.


“Halo, assalamualaikum.” Terdengar suara Mirza dari seberang yang langsung membuat Via bahagia.


“Mas, maaf ya aku ganggu. Aku mau jelasin chat yang kemarin aku kirim. Itu seharusnya untuk Danar.” Ucap Via langsung tak ingin banyak baerbasa basi.


Terdengar suara desahan nafas Mirza dari seberang. “Iya, aku tau.”


“Mas harus dengerin aku. Sore kemarin setelah aku kirim chat itu aku pergi ke rumah ibu sama Denaya, dan malamnya langsung pulang. Aku baru tau pagi tadi kalo aku salah kirim, makanya aku nggak langsung balas pesan Mas. Maafin aku ya Mas. Aku sungguh nggak bermaksud apa-apa.” Jelas Via panjang lebar dengan perasaan yang sangat khawatir.


Di luar dugaan Mirza tertawa mendengarnya.


“Kok malah ketawa sih? Mas nggak marah sama aku?” Via heran, padahal dia tadi udah siap-siap mau nangis atas kekonyolannya itu.


“Kenapa harus marah? Justru Mas seneng, pesan kamu itu menegaskan bahwa kamu adalah istri yang bisa menjaga hati walaupun suami kamu sedang pergi jauh.”


SPALSH…..


Perasaan lega dan haru langsung menyelimuti hati Via. “Mas beneran nggak marah?” Via meyakinkan.


“Nggak, sayang.” Sahut Mirza. “Ya, awalnya memang Mas kaget. Sempat ingin marah juga karena menduga-duga dengan berbagai macam pikiran buruk. Tapi setelah Mas baca pesan kamu berulang-ulang kali, Mas yakin kesalahan bukan ada sama kamu.” Tutur Mirza yang langsung membaut hati Via menghangat.


“Makasih ya, Mas.”


“Sekarang tolong jawab pertanyaan Mas dengan jujur. Apa Danar menyukai kamu?”


Via sedikit terkejut suaminya menanyakan hal itu secara frontal. “Emh, soal itu aku juga belum tau. Maksud aku …, aku nggak yakin Mas. Aku … nggak mau salah sangka.”


Mirza tertawa lagi di sebarang mendengar penuturan istrinya yang agak galagapan. “Nggak usah gugup begitu, sayang.”


“Ya sudah, biar lah itu jadi urusan dia sendiri. Yang penting istri Mas yang cantik dan baik hati ini selalu setia menunggu kepulangan Mas dan nggak punya hati untuk laki-laki mana pun.”


“Heum, aku kangen banget sama Mas Mirza.” Mata Via tiba-tiba mengembun.


“Sabar ya, Mas juga kangen banget. Paling lama dua bulan lagi Mas akan pulang.”


“Mas, apa Mas Mirza mau aku berhenti kerja dari tempat Bu Elin?” Tanya Via.


“Kenapa harus berhenti? Apa kamu takut lama-lama beneran tergoda sama Danar?” Mirza balas bertanya dengan nada menggoda.


“Eh, bukan begitu. Aku cuma nggak mau Mas Mirza kepikiran.”


“Aku percaya sama kamu, sayang.” Ucap Mirza dengan lembut penuh keyakinan.


“Maksih Mas udah percaya sama aku.”


“Sama-sama, sayang.”


Mereka pun kemudian mengakhiri percakapan, perasaan Via sangat lega kini. Mirza pun merasakan hal yang sama, dia sangat menghargai kejujuran dan kesetiaan istrinya. Lebih dari itu, dia merasa sangat bersalah jika mengingat dosa besarnyanya di masa lalu pada Via. Oleh sebab itu ia tak ingin membuat Via menderita dengan kecemburuannya, meski hatinya sebagai laki-laki tentu saja tak rela mengetahui ada laki-laki lain yang begitu perhatian dengan istrinya. Nmaun Mirza tak ingin salah langkah, hal itu bisa dibicarakan kembali setelah dirinya pulang ke rumah. Untuk saat ini dia berpegang teguh pada kesetiaan istrinya semata.


“Mbak! Ini makan siangnya!” Seru Riri yang melihat kakaknya menuruni tangga dengan tergesa.


“Wah, Mbak udah mau masuk kerja lagi nih.”


“Terus ini gimana dong? Aku udah beliin nasi padang lho, ayok kita makan dulu.”


“Nggak enak, Ri. Tadi pagi Mbak dateng terlambat, masa sekatang harus telat lagi?”


“Aku telpon Bu Elin ya? Atau Mas Danar?”


“Eh, mau ngapain?”


“Mau bilang kalo Mbak Via masuk kerjanya telat gara-gara aku minta ditemenin makan siang.”


“Mana boleh begitu? Itu namanya memanfaatkan faktor kedekatan ….”


“Ah, bodo!” Riri cuek meraih ponselnya siap-siap mau nelpon.


“Eeet, iya iya deh …. Mbak makan. Sini mana nasi padangnya, cepetan!” Via duduk di sisi ruangan tempat favoritnya dengan Mirza kalo lagi makan kue di tempat Riri.


Riri tersenyum, ternyata berhasil juga akal-akaannya.


Via makan agak tergesa sambil sesekali melihat jam tangannya.


“Dikunyah dulu Mbak, nyangkut di tenggorokan tau rasa lho!” Riri memperingatkan karena melihat aksi amkan cepat kakaknya yang udah mirip orang lomba makan acara tujuh belas agustusan. “Nih, minum dulu.” Riri menyodorkan segelas air putih.


Glek gleg glek glek….


“Busyet! Lebih-lebihin onta Arab ya?” Ledek Riri. “Kelaman telponan sih, jadi habis deh waktu makan siangnya.”

__ADS_1


“Tau ah!” Via mengelap mulutnya dengan tisu. “Udah ya, Makasih. Mbak cabut dulu, daaag!” Via bergegas keluar ruko berlalu dengan motornya menyisakan nasi rendangnya yang masih setengah porsi.


Via kembali ke kantor tepat waktu, dengan semangat ia selesaikan sisa pekerjaannya. Waktu bergulir sore, berbekal kepercayaan penuh dari suaminya Via menemui Danar selepas jam pulang kerja di kedai kopi Danar.


“Halo, Mbak.” Sapa Ari yang memang sudah kenal akrab dengan Via.


“Hai. Danar ada, Ri?” Tanya Via langsung.


“Lho, kok malah nanya aku? Kan Mas Danar satu kantor sekarang sama Mbak Via?” Heran Ari.


“Berarti belum nyampe sini.” Gumam Via. Ia ingat selesai jam makan siang memang tak melihat Danar, mungkin dia kembali ke hotel atau keluar menemani Bu Elin.


“Duduk aja dulu, Mbak. Kalo udah janjian, paling bentar lagi juga dateng.” Ucap Ari.


Via mengangguk, lantas menuju meja di luar ruangan dekat kaca besar.


“Mau aku bikinin minum apa nih?”” Tawar Ari.


“Apa aja deh.”


“Panas atau dingin?”


“Dingin aja, lagi haus soalnya.” Via nyengir.


“Siap.”


Belum sempat Ari berbalik, Danar sudah muncul dan menghampiri meja Via.


“Mas Danar mau sekalian dibikin munum juga?” Tanya Ari.


“Boleh.”


“Kopi atau …”


“Samain aja kayak Via.”


“Oh, oke!” Ari berlalu.


Danar duduk tepat di depan Via. “Udah lama?”


“Baru aja.” Via mengeluarkan ponselnya dan sejenak sibuk dengan benda pipih di tangannya itu.


Drrrrt …. Drrrrt …


Ponsel Danar bergetar tanda pesan masuk, ia lekas meraihnya dari dalam saku jasnya. Alisnya hampir bertaut membaca isi pesan itu.


Via


Danar, makasih ya untuk semua perhatian kamu. Tapi kamu sungguh nggak perlu melakukan semua itu, aku rasa kamu terlalu berlebihan. Aku nggak mau hubungan pertemanan kita jadi nggak nyaman nantinya. Terlebih lagi kita sekarang partner kerja. Tolong jangan membuat posisiku tersudut karena mungkin kebaikanmu akan menimbulkan salah paham buat sebagian orang. Terima kasih.


“Apa ini?” Danar menatap Via.


Perlahan Via memulai ceritanya. Dia menjelaskan dari awal sampai akhir kejadian salah kirim pesan itu dengan tak ada satu hal pun yang terlewat, termasuk percakapannya dengan suaminya di telpon siang tadi. Danar mendengarkan tanpa komentar. Diam-diam bulir kekecewaan menelusup masuk ke rongga dadanya.


“Kamu ngerti kan maksudku?” Tanya Via dengan penuh kesungguhan di akhir uraian ceritanya.


Belum sempat Danar menjawab, Ari datang dengan dua gelas iced matcha latte mint tea.



“Silakan, ini minumannya.” Senyum Ari mengembang seraya menyuguhkan dua gelas minuman itu di depan Via dan Danar. “Mbak Via suka matcha, kan? Aku tau lho. Soalnya waktu pertama kali Mbak Via ke sini sama temennya itu, Mas Danar nyuruh aku bikinin iced matcha juga.” Senyum Ari makin lebar.


Via kontan terdiam, perkataan Ari membawa memorinya flash back ke awal pertemuannya dengan Danar di kedai ini. (yang belum tau, cuss ke bab 1, pertama banget lho yaaa…. Pertemuan mereka itu betul-betul uhuy…).


“Maksih, kamu boleh pergi.” Ucap Danar dengan wajah datar.


Ari terpaksa kembali ke tempatnya, walau dia sebenarnya kepo juga seperti biasanya.


“Ekhem.” Danar berdehem sebelum memulai kalimatnya. “Aku minta maaf.” Hanya itu yang dikatakan Danar.


Via diam menunggu kalimat lanjutan yang akan diucapkan Danar, nyatanya Danar juga ikut diam malah sibuk mengaduk minumannya.


“Aku maafkan. Asalkan kamu biarin aku kerja seperti karyawan yang lainnya tanpa memberiku perhatian lebih atau aku …” Via menjeda kalimatnya.


“Atau apa?”


“Atau aku akan berhenti kerja.” Lirih Via.


Danar menikmati minumannya. Via melihat Danar seolah tanpa ekspresi. Namun tanpa Via ketahui, Danar mati-matian menahan perasaannya yang bekecamuk.


Sesaat kemudian, Via kembali memulai bercerita tentang kekhawatiran ibunya terhadap sikap Pak Hadi. Danar lagi-lagi hanya mendengarkan tanpa menginterupsi.


“Semuanya nggak ada yang aku tutupi ataupun aku lebih-lebihkan.” Via mengakhiri ceritanya.


“Terima kasih kamu udah menceritakan semuanya, dan kamu nggak perlu khawatir sama aku dan Papa.”


“Aku tau itu. Aku senang bisa mngenal papamu.”


Sejenak mereka saling terdiaman lagi.


“Ayo diminum, Vi. Kamu nggak usah sungkan begitu. “ Danar mulai percakapan.


Via pun menyedot minumannya.


“Udah sore, aku duluan ya.”


Danar hanya mengangguk, ia pandangi punggung Via yang menghilang di balik pintu dengan perasaan tak karuan. Namun dia cukup bersyukur, ia tak kelepasan menyatakan perasaannya. Danar menghela nafas berat, menata perasaannya kembali. Apaun akan ia lakuakan asalkan ia masih bisa melihat Via di dekatnya, termasuk permintaan Via untuk tak lagi perhatian padanya.


Tak masalah. Aku hanya tak boleh memberimu perhatian lebih kan? Yang penting aku bisa tetap melihat wajahmu. Dengan begitu saja aku sudah cukup bahagia. Aku pun tak rela jika harus melihatmu bersedih karena salah paham dengan suamimu, Vi. Akan aku lakukan apapun permintaanmu. Huft! Cintaku memang sedikit rumit, Vi.


❤️❤️❤️❤️❤️


Begitulah Kak.... Mas Danar harus berbesar 😔😔😔


Terima kasih sudah membaca dan setia mendukung othor 🙏🙏🙏😍😍

__ADS_1


Dan mohon maaf akak othor kece semua, feedback agak telat yaa 🙏🙏❤️❤️😘


Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2