TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
155 #HANSON IN LOVE


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Bu Een tak keluar rumah, Udin menjaga toko sendirian. Kaki Bu Een yang cidera karena kecelakaan waktu itu sekarang terasa nyeri kembali. Benturan akibat kecelakaan itu memang cukup keras, hanya saja Bu Een tak terlalu menghiraukannya, ia hanya pergi berobat sekali dengan Udin pasca kecelakaan. Meski kaki Bu Een sakit, tapi mulutnya tetep cerewet, seperti siang ini dia baru saja ngomelin Udin.


“Kamu nggak bisa bedain mana gado-gado mana ketoprak, Din?” Kesal Bu Een pada Udin yang salah membelikannya pesanan.


“Ya kan masih sodara Bu, sama-sama pake bumbu kacang juga.” Udin ngeles.


“Tapi saya maunya gado-gado, Udin ....! bukan ketoprak!” Bu Een menyurung piringnya yang berisi ketoprak.


“Tukang gado-gadonya nggak jualan, Bu. Katanya lagi pulang kampung, kambingnya melahirkan prematur. Makanya saya inisiatif beliin ibu ketoprak, siapa tau ibu suka. Kan ibu belum makan dari pagi?” Papar Udin.


“Saya nggak mau makan ketoprak!”


Udin menggaruk kepalanya, akhir-akhir ini majikannya memang berubah lebih cerewet berkali-kali lipat sejak sakit dikakinya itu bertambah parah.


“Ngapain masih disitu? Cariin saya makan cepet!” Bu Een melotot galak.


“Ibu mau makan apa?” Tanya Udin.


“Soto lamongan.”


“Tapi jam segini belum buka Bu yang jualnya.”


“Sate ayam.”


“Sama Bu, belum buka juga. Agak sorean baru bukanya.”


“Ya udah pecel lele aja.”


“Nggak jualan juga Bu, empangnya kebanjiran.”


Bu Een habis kesabaran, ingin rasanya dia bejek-bejek muka si Udin tapi apalah daya tangan tak sampai.


“Kalo gitu bikinin saya mie rebus, pake telor setengah matang, dikasih cabe rawit potong kecil-kecil sama wortel dan taburan bawang goreng!”


“Siap, Bu. Terus ini ketopraknya gimana?”


“Dibuang aja!”


“Dibuang ke perut saya boleh ya, Bu?”


“Terserah .....!” Teriak Bu Een jengkel. “Udah cepet sana, jangan banyak tanya!”


“Baik, Bu!” Udin menuju dapur. Namun belum juga sampai pintu dapur, Udin memutar langkahnya. “Bu, wortelnya dipotong kecil-kecil juga atau ....”


“Terserah kamu, Udin ....!”


WUUZ ...!


BRUUK GLOPRAK!


Bu Een melempar kipas lipatnya karena saking jengkelnya, beruntung Udin sigap menghindar sehingga kipas lipat itu hanya mengenai kusen pintu. Udin buru-buru ngibrit sebelum majikannya bertambah murka.


Bu Een meringis meluruskan kakinya di atas sofa ruang tengah, sesekali diusapnya kaki kanannya itu, tulang keringnya memang bengkak dan semakin membiru. Entah mengapa Bu Een takut banget memeriksakan kondisinya ke dokter spesialis, padahal waktu pertama kali berobat ke dokter Burhan Bu Een disarankan untuk segera memeriksakan kondisinya ke dokter ortopedi karena tulangnya mengalami keretakan. Tapi dasar Bu Een bandel.


KRUWOK KRUWOK KRUWOK WOK


Bunyi ponsel mengalihkan rasa sakit Bu Een. Nama Bujel nongol di layar ponselnya.


“Mau ngapain si ikan buntal itu nelpon jam segini? Awas aja kalo nggak penting!” Gerutu Bu Een seraya menggeser warna hijau di layar ponselnya. “Halo!”


“Halo, selamat siang Nyonya Endang yang paling baik sejagat raya, agen rahasia Jelita Manjalita akan melapor.” Cerocos Bujel dari seberang.


“Mau lapor apaan? Cepetan, nggak usah bertele-tele!”


Lalu Bujel menceritakan tentang targetnya, siapa lagi kalo bukan Via. Bujel membeberkan semua info yang didapatnya, tentu saja dengan ditambahin berbagai macam bumbu penyedap.


“Yang bener kamu? Masa ada orang kerja kantoran gajinya bisa sampai 20 juta per bulan? Dia kan kerja belum lama, lagian sekelas manager aja belum tentu gajinya segitu!” Bu Een tak percaya.


“Kalo nggak percaya tanya aja sama Jeng Vianya sendiri! Saya dapet info ini dari sumber yang dapat dipercaya!” Bujel meyakinkan, padahal dalam hatinya terkekeh geli mendengar reaksi Bu Een, lagian juga nggak mungkin Bu Een beneran nanyain Via.


“Itu tempat Via kerja perusahaan property apa perusahaan peternakan tuyul? Gaji karyawan rendahan aja bisa sampe gede banget begitu?” Bu Een masih menolak untuk percaya.


“Perusahaan property lah, Nyah. Kalo nggak percaya, silakan Nyonya cek sendiri, kantornya di jalan Kartini, gedungnya bagus dan mentereng. Nah, terus nih Nyah, Jeng Via itu adalah orang kepercayaan bosnya. Keman-mana mereka sering bareng. Mana bosnya itu ganteng banget lagi, mirip Nicholas Saputra pemeran Rangga di film AADC itu lho, Nyah. Dan tau nggak pak bosnya itu anaknya siapa?” Bujel sok ngasih tebak-tebakan diakhir cerocosannya.


“Mana saya tau, kenal juga nggak!” Bu Een kesel.


“Anaknya Pak Hadi Pramana yang waktu itu saya kirim fotonya ke Nyonya itu lho.”


“Ap – apa? Anaknya Hadi preman pasar itu?” Bu Een tergagap saking kagetnya.


“Ish, bukan! Hadi Pramana, bukan Hadi preman pasar!” Tegas Bujel.


Bu Een tak menanggapi lagi, dia shock bukan main kayak orang baru kena sengatan ubur-ubur raksasa.


“Nyah? Nyonya? Apa Nyonya masih disitu? Halo!” Bujel curiga karena tak ada suara Bu Een dalam sambungannya.


Bu Een mengurut dadanya, nafasnya terasa berat tiba-tiba. “Yakin kamu bosnya Via itu anaknya Hadi?” Tanya Bu Een setelah berhasil mengatasi kekagetannya sendiri.


“Yakin dong, wong tinggal satu kompleks sama saya dan Jeng Via.”


“Anak kandung?”


“Iya, anak kandung. Tapi ya ... sebenarnya sih perusahaan itu bukan punya Mas Nicholas, melainkan punya Bu Herlina dan Pak Rian Maryadi, orang tua angkatnya Mas Nicholas.”


“Oh, cuma anak angkat?” Bu Een lega, ternyata si preman pasar itu nggak kaya beneran.


“Tapi sudah dapat dipastikan 100% semua harta kekayaan keluarga Maryadi akan jadi milik Mas Nico nantinya, karena mereka tak punya anak dan mereka telah merawat Mas Nico sejak masih kecil.”


NGIIK .... NGIIK ... NGIIK ...


Mendadak nafas Bu Een sesak.


“Nyah? Tadi bunyi apaan kok kayak orang bengek begitu?” Bujel curiga.


Bu Een mengatur nafasnya. “Bukan apa-apa.” Sahutnya lemah.


“Oh. Ya udah, cukup sekian dulu laporan untuk hari ini. Nanti kalau ada info terbaru pasti akan saya kabari lagi.” Pungkas Bujel. “Etapi, Nyonya nggak lupa kan dengan komisi saya?” Bujel ingat janji Bu Een padanya.


“Iya, saya nggak lupa.”


“Oke, saya tunggu kiriman uang dan sembakonya ya, berasnya dikasih dua karung juga nggak papa. Itung-itung sedekah sama saya, Nyah. Saya udah dua bulan ini nggak dapat kiriman dari suami saya yang kerja di lepas pantai. Nggak tau dia masih idup apa udah ilang diculik sama ikan pesut. Saya jadi sedih kalo ingat suami saya, Nyah. Jangankan ingat pulang, uang transferan aja dia udah lupa, hiks ... hiks ..hiks ...” Bujel jadi sedih merana kala teringat suaminya.


“Hey ikan buntal, kenapa kamu malah jadi curhat sih?” Kesal Bu Een.


“Eh, maap. Saya terbawa perasaan, Nyah.”


“Bodo amat! Udah nggak usah cerita lagi, nanti sembakonya dikirim Udin ke rumah kamu!”


“Iya Nyah, makasih ya Nyonya Endang yang paling ...”


NUT NUT NUT ....


Belum sempet Bujel menyelesaikan kalimatnya, sambungannya terputus.


Bu Een menyandarkan punggungnya di bantal Sofa, ia memijit pelipisnya dengan mata terpejam. Hatinya berontak mendengar kabar yang baru saja didengarnya dari Bujel tadi. Apa iya Via si menantu yang dibencinya itu kerja bareng anaknya Hadi sang pewaris tunggal dari pengusaha kaya raya? Lalu apa benar gajinya Via bisa sampe segitu gedenya? Apa karena dia orang kepercayaan bosnya itu? Berarti benar kata Jaka tempo hari, kalo Via mau diangkat jadi manager?


Kepala Bu Een terasa makin pening dan berdenyut-denyut. Dia nggak bisa terima kalo Via sekarang justru sudah menjadi wanita karier yang hebat dengan gaji yang cukup besar. Belum lagi kedekatannya dengan keluarga Pak Hadi, pasti Bu Harni juga bakalan kecipratan kaya kalo gitu. Atau malah jangan-jangan Bu Harni dan Pak Hadi bakalan balikan lagi dan menikah? Wah, bisa gawat! Nggak bisa dibiarin!


“Bu, ini mie rebusnya udah mateng.”Udin datang meletakkan semangkuk mie rebus request Bu Een. “Bu? Apa ibu baik-baik aja?” Tanya Udin karena Bu Een tak bergeming, ia masih saja memijat pelipisnya sambil sesekali mendesis kayak uler ngeliat musuh.

__ADS_1


Udin merasa aneh, nggak biasa-biasanya majikannya itu kelihatan angker banget kayak gitu. Bahkan aroma mie rebus yang wangi menggoda pun tak menggoyahkan Bu Een. Udin jadi bingung, apa mungkin majikannya itu jadi begini karena habis nerima telpon barusan? Udin sempat mendengar pembicaraan Bu Een tadi meski nggak jelas.


“Heh! Kamu ngapain berdiri di situ?” Bu Een kaget ketika membuka matanya sudah ada Udin di depannya.


“Ibu sendiri ngapain dari tadi saya tanyain diem aja?”


“Bukan urusan kamu!” Sarkas Bu Een, ia bangkit perlahan dengan berpegangan pada tembok.


“Lho, mau kemana Bu?”


“Mau tidur!”


“Terus ini mie rebusnya?”


“Dibuang aja, saya udah nggak selera makan!” Bu Een menyeret langkahnya menuju kamar.


Udin bengong melihat majikannya.


“Sering-sering aja kayak gini, Bu. Semua makanan dibuang ke perut saya, hehe....” Udin membawa mangkuk mie rebus yang masih mengepul itu ke depan.


Mujur bener nasib Udin hari ini, meski sering kena damprat tapi paling nggak perut kenyang ya, Din?


❤️❤️❤️❤️❤️


Cuaca panas ibu kota tak menyurutkan keinginan Arumi untuk menikmati hari. Meski Jane tak bisa menemaninya, tapi dasar Rumi dia tetep aja kelayapan sendiri. Rumi baru saja keluar dari halaman rumahnya dengan sedan merahnya setelah pagi tadi menemani ayahnya terapi. Hari ini dia akan shopping karena baru saja dapat kiriman dari ibunya. Jangan heran, Rumi sama sekali tak pernah kepikiran buat kerja atau usaha apa untuk sekedar menyibukkan diri, baginya kerjaannya ya seneng-seneng begitu.


Rumi melihat spionnya, sebuah mobil berwarna silver nampak mengekori mobilnya sejak tadi. Bahkan beberapa kali Rumi pernah melihat mobil itu parkir di dekat rumahnya tanpa tau siapa pengemudinya. Rumi yakin kali ini si pengemudi mobil itu pasti sengaja menguntitnya. Rumi berbelok di taman kota dan menghentikan tiba-tiba mobilnya membuat mobil silver itu juga ngerem mendadak dan ikut berhenti.


Rumi tersenyum miring, ia menginjak pedal gas memundurkan mobilnya dengan kecepatan lumayan.


BRUUK!


Body mobil bagian belakang Rumi membentur body depan mobil silver itu. Seketika si pengemudi mobil silver yang tak lain adalah Ben kaget bukan kepalang, dia bergeges keluar memeriksa keadaan mobilnya yang penyok.


“Astaga!” Kaget Ben.


Rumi membuka kaca jendela mobilnya dan menoleh seraya tersenyum membuat Ben geram dan mengahampir Rumi dengan langkah cepat.


“Keluar lo!” Bentak Ben emosi.


Rumi dengan santainya membuka pintu mobilnya. “Sorry, gue sengaja.” Ucap Arumi cuek.


“Dasar cewek sinting! Ngapain lo nabrakin mobil lo ke mobil gue?” Geram Ben.


“Kan tadi gue udah bilang sengaja?”


Ben menyeret tangan Rumi untuk melihat mobilnya yang penyok. “Liat tuh! Gara-gara kelakuan elo mobil gue jadi penyok begitu! Gue nggak mau tau, gue minta ganti rugi!”


Rumi mengibaskan tangan Ben. “Ya udah sih, biasa aja nggak usah sewot gitu. Mobil gue juga sama kok, penyok!” Balas Arumi enteng.


“Ya salah elo sendiri! Elo ngapain tiba-tiba mundurin mobil elo nggak liat-liat, hah?”


“Terus elo ngapain ngikutin gue, hah?” Arumi tak mau kalah.


“Oh, jadi elo udah tau kalo gue ngikutin elo?”


“Iya! Mobil elo juga kan yang sering ngejogrok deket rumah gue? Elo mau mata-matain gue? Emang elo nggak ada kerjaan lain apa?”


“Bagus kalo elo udah tau. Tapi kan seenggaknya elo bisa nanya baik-baik, nggak main tabrak mobil orang kayak gini!”


“Emangnya elo pikir perbuatan elo juga baik? Elo pantes digituin!”


“Dasar cewek sinting!”


“Cowok gila! Gue ringsekin mobil elo sekalian nih.” Ancam Arumi.


“Gue laporin polisi lo!”


Ben gelagapan dibuatnya, dia bener-bener nggak nyangka orang yang dikuntitnya sesomplak ini. Ben mengacak rambutnya sendiri frustasi.


“Takut kan lo?” Cibir Rumi merasa menang.


“Dasar cewek sinting! Gue heran kenapa Hanson bisa suka sama elo, kayak nggak ada cewek waras aja di dunia ini!”


Seketika mata Rumi terbelalak mendengar nama Hanson disebut-sebut.


“Jadi elo orang suruhan Hanson?” Kaget Rumi.


Ben menyadari kalo dia keceplosan, tapi mengelak pun percuma, ia memilih pasrah karena keadaan sudah sangat tak menguntungkan baginya.


“Iya, gue disuruh Hanson buat mata-matain elo.”


“Dasar bule gila. Belum kapok rupanya gue tendang pisangnya.” Gerutu Rumi dengan rahang mengeras.


“Gue mohon, temu dia. Dia bisa jadi gila beneran kalo nggak bisa ketemu elo.” Ben coba memohon. “Setelah kejadian itu, dia sangat kacau. Gue yang nemenin dia sampe berhari-hari. Dia frustasi kehilangan cintanya.” Lanjut Ben.


Hati Rumi menghangat tiba-tiba. Tak bisa dipungkiri kalau dia senang mendengar itu dari Ben, tapi disisi lain dia menolak karena ingat kelakuan bejad Hanson tempo hari itu yang hampir merenggut kehormatannya. Rumi menduga Ben hanya berbohong, laki-laki macam Hanson tentu sudah sering berkelana dengan berbagai macam tipe dan ukuran wanita, nggak mungkin semudah itu bilang cinta. Buktinya waktu dia kirim pesan setelah mengusirnya dengan bengis dari apartemennya pun Hanson mengirim kata-kata manis penuh rayuan bertabur cinta, namun nyatanya apa? Hanson hanya ingin mengambil kesempatan itu untuk memuaskan nafsunya saja.


“Elo nggak usah ngarang deh. Bilangin sana sama si bule gila itu, gue nggak bakalan kemakan sama bujuk rayunya lagi. Udah cukup dia ngebodohin gue selama ini, gue nggak akan tertipu. Gue udah insyaf sekarang!” Rumi bergeges meninggalkan Ben menuju mobilnya.


Ben buru-buru menyusulnya dan kembali mencekal pergelangan tangan Rumi.


“Tunggu! Gue mohon sama elo.” Ben memelas.


“Ish, lepas! Elo nyakitin gue!” Rumi menyentak tangan Ben.


“Sorry. Tapi please, elo harus temuin dia. Karena dia mau minta maaf sama elo, dalam waktu dekat dia bakal balik ke Jerman. Dia nggak mau pulang dalam keadaan bersalah.”


“Cih! Elo pikir gue percaya? Dia juga bilang gitu waktu itu. Nyatanya apa? Sampe sekarang tuh bule masih aja betah di negara gue! Kalo mo balik ya balik aja!” Rumi masih kekeh.


“Gue berani sumpah, kali ini emang bener. Perusahaan pertambangan milik bokapnya lagi dalam masalah, Hanson harus pulang kesana untuk menyelesaikannya.”


“Ya udah sih tinggal pulang aja. Apa urusannya sama gue?” Ketus Rumi membuang muka, padahal dalam hatinya khawatir juga kalo Hanson kali ini beneran balik ke Jerman.


“Kan dia mau minta maaf sama elo. Dia itu benar-benar merasa bersalah. Dia juga udah insyaf. Please, bantu dia untuk jadi lebih baik.” Lirih Ben. “Elo pasti punya hati kan? tolong temui dia, maafin dia sebelum elo nyesel nggak bisa ketemu lagi sama dia.”


Rumi terdiam, hatinya berkecamuk. Perasaan marah dan takut kehilangan campur jadi satu. Dia memang sangat mendambakan mantan pacar kontrak si Sofi itu, dia pun sangat terobsesi untuk memilikinya, namun hasrat itu seketika sirna karena mendadak hidayah datang padanya. Ya ampun, Rumi udah kayak pemeran protagonist dalam drama TV ikan terbang aja yak? wkwkwkkk 🤭


“Rumi, elo mau kan nemuin dia?” Tegur Ben.


“Kok elo tau nama gue sih?” Rumi malah heran.


“Ck, ya tau lah. Kan Hanson yang ngasih tau. Jadi gimana? Elo mau temuin dia nanti malem kan?”


Rumi mendengus gusar, kebimbangan masih menguasai hatinya.


“Jam 9 malam di Bismara Cafe, oke?”


“Kok malem banget? Nggak ah gue takut!”


“Jangan khawatir, gue ikut kok.”


“Iya tapi kenapa malem banget? Elo pasti sengaja kan sekongkol sama dia mau ngejebak gue?" Rumi malah curiga.


“Nggak! Itu karena dia ada urusan, dia harus keluar kota dan balik agak malem makanya baru bisa ketemu jam segituan.”


Rumi diam lagi. Kalo ada pilihan ask the audience atau phone a friend kayak di acara quiz itu mungkin dia bakalan telpon Jane buat nanya gimana pendapatnya. Tapi sayang Jane lagi nggak bisa diganggu.


“Oke, gue anggap diamnya elo itu iya.” Putus Ben. “Thanks ya, sampe ketemu nanti malam.” Ben berlalu melambaikan tangan dan segera masuk mobil.

__ADS_1


Rumi tak bergeming sampai mobil Ben menghilang, dia baru sadar. Rumi memilih pulang ke rumah nggak jadi shopping.


Waktu terasa berputar begitu sepat, sekarang sudah jam 8 malam. Rumi masih duduk di depan meja riasnya, ia sudah selesai berpakaian dan memulas wajahnya dengan sedikit make up tapi mendadak ragu lagi untuk pergi. Rumi sengaja mengulur waktu, dia biarkan Hanson menunggunya lama. Jika dia tiba disana Hanson sudah tak ada berarti memang bukan jodoh.


Jam 8.30 Rumi baru keluar kamar menuju garasi dan keluar dengan mobilnya. Ia sengaja mengambil jalan yang ramai nyari kemacetan, tapi sayangnya malah nggak macet.


SREET...!


Arumi sampai di parkiran cafe pukul 09.05. pengunjung cafe terlihat keluar masuk, namun Arumi tak langsung keluar. Dia berdiam di mobil sekitar sepuluh menit. Rumi memeriksa isi tasnya. Pisau lipat, semprotan merica dan semprotan nyamuk. Cukup buat bekal jika Hanson dan Ben berniat macam-macam dengannya.


Tap tap tap ...


Rumi melangkahkan kaki memasuki cafe yang cukup ramai malam itu.


“Hai, Rumi.” Sapa suara yang tak asing lagi. “Syukur deh, elo dateng juga.” Ben mendekat. “Ikut gue yuk.”


“Eh, mau kemana?” Rumi mulai curiga.


“Ya elah, curigaan amat si lo jadi orang! Hanson nungguin di privat room.”


“Ih, ogah! Gue takut diapa-apaain.” Tolak Rumi mentah-mentah.


“Lo bisa percaya gue. “ Ben meyakinkan.


“Nggak! Elo sama aja muka ca**l kayak Hanson!”


Ben hampir aja tergelak mendengarnya. Sampe segitu parnonya Rumi sama Hanson karena kejadian itu.


“Rumi, denger. Ruangan itu dilengkapi CCTV, lagi pula...”


“Bisa aja kan CCTV-nya dimatiin?”


‘Ya ampun!” Ben kehabisan akal. “Rumi, Hanson itu mau bicara pribadi sama elo, dari hati ke hati, makanya dia milih ruangan yang nggak banyak orang.”


“Iya tapi nggak di private room juga kali.”


Ben celingukan, dia memanggil dua orang pelayan dan meminta mereka ikut ke dalam ruangan dimana Hanson sudah menunggu. Rumi akhirnya mau ikut walau dengan sedikit keraguan masih tersisa.


Hanson yang mulai gelisah karena Rumi tak kunjung datang memilih keluar dan menunggu di dekat pintu. Terdengar langkah kaki beberapa orang mendekat, Hanson yakin itu Rumi.


Benar saja, Rumi datang bersama Ben dan dua orang waiters di belakang mereka. Jantung Rumi berdebar tak karuan melihat raut datar wajah Hanson menatap ke arahnya.



"Kenapa temen elo mukanya serem gitu? Kayak vampire." Bisik Rumi pada Ben.


"Tenang aja dia udah jinak."


“Halo, Rumi. Senang bisa ketemu kamu lagi.” Sapa Hanson menghampiri seraya mengulurkan tangan.


Rumi menyambutnya ragu, seulas senyum canggung ia suguhkan.


Dua orang pelayan tadi membukakan pintu, Hanson mempersilakan masuk dan menarik kursi untuk Rumi.


“Kamu mau pesan makan apa?” Tanya Hanson.


“Gue kesini bukan buat makan.” Tegas Rumi.


Glek!


Hanson melirik Ben yang berdiri agak jauh di belakang Rumi bersama dua oarang pelayan mirip seperti para dayang.


“Langsung aja, elo mau ngomong apa nyuruh gue kesini?” Rumi pasang tampang jutek.


“Ekhem. Aku mau minta maaf.”


“Gue maafin. Udah kan?”


“Wait! Rumi, aku benar-benar sangat menyesal. Tolong maafkan aku.” Hanson mengiba.


“Gue kan udah bilang gue udah maapin elo.”


“Oke, makasih.”


“Udah kan? Gue mau balik.”


“Sebentar. Aku mau katakan sesuatu.”


“Cepetan! Waktu gue nggak lama.”


Hanson melihat lagi pada Ben. Ben tampak memberikan isyarat dengan matanya.


“Rumi, aku .... jatuh cinta sama kamu.”


“Makasih.” Sahut Rumi. “Eh, apa tadi? Elo bilang jatuh cinta sama gue?” Rumi baru menyadari kalimat Hanson.


Hanson mengangguk mantap. “Kalian semua disini saksinya.” Ujar Hanson pada Ben dan dua orang waiter. “Rumi, I love you from the deepest of my heart.”


Pipi rumi seketika bersemu merah, kedua talapak tangannya terasa dingin.


Oh Tuhan, mimpikah ini? Si bule ini beneran nembak gue tadi?


“Rumi, aku mau berubah. Aku juga nggak mau menuntut kamu untuk menerimaku, semuanya terserah kamu. Aku hanya mau kamu mengetahui sisi hatiku, itu saja sudah cukup buatku.”


Entah mengapa Rumi yang biasanya cerewet, kini jadi diam tanpa kata.


“Ekhem...” Ben kali ini yang berdehem. Dia menghampiri meja dan berbisik pada Hanson.” Gue tinggal ya. Tapi jangan lupa transferannya sama sekalian tagihan bengkel mobil gue.”


“Ok.” Sahut Hanson pelan.


“Eh, mau kaman lo?” Rumi panik ditinggal Ben dan para waiters.


“Tenang aja, elo aman kok. Dia masih belum siap tempur!” Ben tertawa keluar ruangan.


Rumi mengernyit, Hanson meraih jemari Rumi menatap kedua netra Rumi lekat.


“Rumi, aku juga mau bilang terima kasih. Karena kejadian kamu tendang pisang punya aku, aku jadi selamat dan bisa sembuh total.”


“Maksudnya?”


Hanson memulai ceritanya, setelah kejadian itu dia kembali mengunjungi Mak Epot diantar Ben karena pisang tanduknya bengkak. Hanson menceritakan kejadian yang menimpanya, Mak Epon bilang justru itu lebih baik karena pisangnya walau nampak sudah sembuh ternyata boleh belum dipakai dulu selama 40 hari karena itu pantangan yang tidak boleh dilanggar. Andai Hanson kala itu nekad menggunakannya untuk menggempur Arumi maka ia akan menderita kelumpuhan permanen.


“Oh, benarkah?” Rumi kaget.


“Iya, so aku selain menyesal juga sangat berterima kasih sama kamu. Kamu menyelamatkanku.” Hanson meremas jemari Rumi. “Siang tadi aku baru dari bandung, hari ini jadwal kontrol terakhirku. Rangkaian pengobatanku sudah selesai semua, tinggal menunggu masa 40 hariku selesai saja, maka aku bisa menjadi laki-laki normal kembali.”


“Lalu setelah normal, kamu mau apa?” Tanya Rumi hati-hati.


“Aku mau menikah denganmu.” Jawab Hanson mantap.


❤️❤️❤️❤️❤️


Eaaa...... Rumi langsung dilamar tuuuh?😂😂


Segini dulu deh ya up nya, teriama kasih sudah membaca dan mohon maaf jika banyak typo ya 🙏🙏🙏


Jangan lupa selau tinggalkan like dan komentar ya Kak, biar othor makin semangat.🤩🤩🤩


Oya dengerin juga audio book nya TERPAKSA SELINGKUH ❤️ yang dibacain adik Chen Liong yaa 😍😍

__ADS_1


Luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2