TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
162 #KESIANGAN


__ADS_3

Matahari sudah merangkak naik, Udin pun sudah membuka toko sedari dua jam lalu namun belum ada tanda-tanda dari majikannya menampakkan batang hidungnya. Udin melihat ke rumah induk yang lampu terasnya masih menyala.


“Tumben banget Ibu jam segini belum bangun? Apa jangan-jangan Ibu sakit ya?” Gumam Udin diliputi kekhawatiran.


Meski Udin sering kena semprot dan kerap jadi bulan-bulanan majikannya yang galaknya Naududzubillah itu, namun Udin adalah jongos yang tak perlu diragukan lagi tingkat loyalitasnya. Udin meletakkan sapu yang sedari tadi dipegangnya dan merogoh ponselnya dari dalam saku celananya bermaksud menelpon majikannya.


Terdengar beberapa kali nada sambung, namun tak juga kunjung dijawab. Udin menelpon sekali lagi, namun tetap sama, tak ada jawaban! Udin melangkah ke rumah induk untuk mengintip dari kaca jendela ruang tamu.


Gelap! Hordengnya belum dibuka. Udin semakin risau saja.


Srek … sreek ...


Ceklek ..ceklek …


Terdengar anak kunci diputar ketika Udin hampir meninggalkan teras, ia segera berbalik.


“Bu, apa Ibu sakit?” Udin khawatir mendapati wajah majikannya yang sangat pucat.


Dengan langkah diseret, Bu Een duduk di kursi teras. “Antar saya ke klinik dokter Burhan, Din.” Ucap Bu Een palan.


Tanpa menunggu lama, Udin langsung menjawab dengan satu anggukan kepala. Ditutupnya toko secepat kilat, Bu Een dipapahnya masuk mobil yang sudah dikeluarkannya dari garasi. Dalam perjalanan Bu Een sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun. Pandangannya kosong lurus ke depan dengan lingkar mata gelap serupa mata induk panda.


“Kita sudah sampai, Bu.” Ujar Udin seraya membantu Bu Een turun.


Klinik nampak sepi, Bu Een segera masuk ke ruang dokter setelah seorang suster memeriksa tekanan darahnya dan menanyakan keluhannya. Udin hanya mengantar sampai pintu, kemudian Bu Een masuk sendiri.


Seperti biasa dokter Burhan selalu ramah pada setiap pasiennya. Ia menyapa degan senyuman dan mempersilakan Bu Een berbaring untuk diperiksa setelah berbasa basi menanyakan kabar terlebih dahulu.


“Bu Endang jangan terlalu capek dan banyak pikiran.” Ucap dokter Burhan setelah selesai memeriksa.


“Kepala saya rasanya berat sekali, Dok.” Sahut Bu Een.


“Itu karena tekanan darah Bu Endang tinggi, sebaiknya atur pola makan dan banyak istirahat.”


“Hm yah, saya memang susah tidur akhir-akhir ini.” Keluh Bu Een.


“Seusia Bu Endang memang kerap mengalami gangguan tidur, namun itu bisa diatasi dengan asupan makan gizi seimbang dan merilekskan pikiran. Kurangi pikiran yang berat-berat Bu jika tidak ingin stress.” Papar dokter Burhan.


Bu Een hanya mengagguk samar. Dalam hatinya membenarkan semua ucapan sang dokter, ia memang membuat kerja otaknya lebih keras akhir-akhir ini. Ia disibukkan dengan pikiran-pikiran buruknya terhadap menantunya. Terlebih lagi setelah kemarin sore mendapatkan kabar dari agen rahasianya perihal kepulangan anak semata wayangnya. Kepala Bu Een seakan berdenyut semalaman, ia sungguh tak bisa menerima kenyataan anak kesayangannya akan berkumpul kembali dengan menantunya. Hatinya dikuasai cemburu, iri, dengki hingga ke sumsum. Benar-benar tak rela dunia akherat dia membayangkan kebahagian Mirza dan Via.


“Bu Endang.” Tegur dokter Burhan pada pasien yang duduk di depannya itu hanya bengong. “Ini resep untuk Anda.”


Bu Een sadar dari kemelongoannya, dia menerima secarik kertas dengan tulisan acak-acakan khas seorang dokter.


“Terima kasih, Dok.” Lirih Bu Een seraya bangkit tanpa senyum.


“Sama-sama, Bu Endang. Lekas sehat kembali ya.”


Dengan diantar Udin Bu Een menebus obat ke apotik lantas segera pulang.


❤️❤️❤️❤️❤️


Sepasang insan yang masih dibalut kerinduan itu nampak saling melempar senyum seusai pergumulan yang cukup menguras keringat di pagi menjelang siang ini. (note; itu adalah babak lanjutan pertempuran mereka semalam 🤭🤭)


“Maksih, Sayang.” Mirza mengecup kening istrinya.


“Makasih Mas.” Balas Via menatap wajah tampan suaminya.


“Kalau begini terus aku yakin kita akan cepat punya momongan.” Mirza menggesek-gesekkan hidungnya pada pipi istrinya.


“Ish! aku akan terlambat ke kantor setiap hari.” Cebik Via. “Aku mau mandi, Mas. Nggak enak kalo terlalul telat biarpun udah ijin”


Via memang sengaja ijin langsung pada Bu Elin kalau hari ini akan terlambat masuk. Bu Elin yang mengetahui suami Via baru saja pulang tentu dengan sangat baik hati memaklumi. Dia justru senang Mirza sudah pulang, dengan begitu Danar akan semakin jauh dari Via. Setidaknya begitu pikir Bu Elin.


“Tunggu, Sayang.” Mirza ikut bangkit. “Aku anter kamu ke kantor. Kita mandi sama-sama ya.” Mirza memasang tampang menggoda.


“Nggak! Nanti kamu nakal, Mas.” Reflek Via menangkupkan kedua telapak tangannya pada aset berharga yang nempel di dadanya.


Mirza terkekeh. “Mas janji nnggak nakal kok. Paling cuman pegang-pegang sedikit.”


“ Nggak nggak nggak! Udah ah, jangan ganguin. Nanti malah lama mandinya, Mas.” Sungut Via. “Gimana kalo Mas siapin sarapan aja?”


“Oke, kamu mau sarapan apa?”


“Roti panggang dengan selai nanas.” Jawab Via cepat.


“As you wish, Madam.” Mirza membungkuk hormat berlagak seperti pelayan kepada sang nyonya besar.


Mirza melempar senyum kemudian keluar kamar. Via bernafas lega, ia melenggang ke kamar mandi. Namun tentu saja kelegaan Via itu tak bertahan lama, karena semenit kemudian Mirza segera menyusul masuk kamar Mandi. Via yang memang tak pernah mengunci pintu kamar mandi sontak saja terpekik hiseris dengan kelakuan suaminya.


Maaf, Othor skip yaa… 🙏🙏


Bayangin sendiri deh kelakuan mereka di kamar mandi, wkwkwk…🤣🤭


-


-

__ADS_1


-


NGIIK


SREET


Mirza menghentikan mobil Om jaka di pelataran parkir kantor.


“Hati-hati ya, Sayang. Mas jemput kamu nanti pulangnya.”


“Iya, Mas.” Via mencium punggung suaminya, "Assalamualaikum”


“Wa alaikumussalam.” Mirza mendaratkan kecupan singkat di kening istrinya.


Mirza baru pergi ketika memastikan istrinya sudah masuk gedung dengan aman. Kedatangan Via yang teramat kesiangan itu agaknya menjadi bahan gosipan Milen cs yang memang selalu nyinyir pada Via. Mereka terus berkasak-kusuk, namun Via tak mau ambil pusing. Toh iya sudah mengantongi ijin dari ibu bos.


“Vi, kamu kok masuk? Katanya nggak enak badan?” Sapa Danar heran ketika keluar ruangan dan mendapati Via yang baru datang tengah membenahi mejanya.


“Eh, emh … aku udah baikan kok.” Via menyahut ragu. Perasaan dia ijin sama Bu Elin bukan karena sakit deh, tapi kok Danar nanyanya gitu ya?


“Oh, syukur deh. Kalo gitu selamat bekerja ya.” Danar tersenyum lantas meninggalkan Via.


Pasti Bu Elin deh yang bilang ke Danar kalo aku nggak enak badan. Batin Via.


“Tuh liat, udah dateng telat bukannya diomelin malah disapa ramah begitu sama Pak Bos!” Bisik Milen pada Cila sinis seraya matanya menunju pada Via.


“Ho oh, emang! Punya jampi-jampi kali dia, kok semua laki-laki jadi baik sama dia.” Balas Cila.


Danar sampai di ruangan Bu Elin.


“Duduk sini, Danar.” Bu Elin yang memang sudah menunggu putra angkatnya itu menepuk sofa di sampingnya.


“Ada apa, Bu? Kayaknya penting banget?”


Bu Elin langsung pada inti persoalan, ia membicarakan soal rencana pertunangan Danar dan Riri pada hari ulang tahun perusahaan nanti.


“Kenapa Ibu nggak bicara dulu sebelumnya sama aku?” Danar memandang ibunya tak habis pikir. “Aku nggak setuju, aku nggak mau pertunangan itu.” Tolak Danar mentah-mentah.


“Danar, tapi ini demi kebaikan kamu.”


“Bu, aku tahu apa yang terbaik buat aku sendiri.” Tegas Danar.


“Tapi ibu sudah menyusun semua acaranya, ibu juga sudah membeli cincin untuk kalian. Bahkan Bu Harni dan Riri juga sudah tau.”


“Itu semua kesalahan ibu. Nggak seharusnya ibu mengambil keputusan tanpa bertanya lebih dulu padaku.” Danar gusar. “Aku nggak mau tau, pokoknya pertunangan ini harus dibatalkan!” Danar memandang wajah ibu angkatnya yang terlihat sendu itu dengan tatapan tajam.


“Danar, tak bisakah kamu pikirkan lagi?” Bu Elin masih berusaha.


Bu Elin merasa sangat kecewa. Namun ia juga tak bisa menyalahkan Danar sepenuhnya. Harusnya memang ia tak menunda-nunda waktu untuk membicarakannya pada Danar, karena kesibukannya ia baru sempat membicarakan soal ini pada putranya tersebut.


“Ibu hanya ingin kamu punya pendamping, itu saja.” Lirih Bu Elin, punggungnya disandarkan lesu pada sofa.


Danar mendadak diliputi kecemasan, dia mungkin terlalu frontal tadi hingga menyakiti hati lembut wanita yang sudah sangat tulus menyayanginya sedari kecil itu.


“Bu, aku minta maaf.” Danar meraih jemari ibu angkatnya. “Aku tahu tujuan Ibu baik, tapi cara ibu keliru. Aku hanya menganggap Riri taman, nggak lebih. Aku pun yakin Riri juga tak punya perasaan padaku, jadi tolong jangan merusak hubungan pertemanan kami, Bu.”


“Tapi Riri dan Bu Harni sudah setuju.”


Danar melepaskan genggaman tangannya. “Aku yang akan bicara sendiri pada Riri. Aku yakin dia juga sebenarnya nggak menginginkan ini, dia cuman nggak enak aja mau nolak permintaan ibu.”


“Riri itu gadis baik, Danar.”


“Aku tau, tapi hatiku bukan untuknya.”


“Via?”


Danar mendesah berat. “Harusnya itu pun jadi pertimbangan buat Ibu. Ibu tau perasaanku pada Via, aku sedang berusaha menyudahi semuanya. Lau apa jadinya jika aku menikahi Riri? Ibu mau aku semakin gagal move on?”


Bu Elin menggeser duduknya lebih dekat dengan putra angkat kebangaannya itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu Danar. “Maafkan Ibu.”


Danar memeluk Bu Elin. “Sekarang ibu atur ulang acaranya. Aku nggak mau sampe salah nanti di acara ulang tahun perusahaan.”


Bu Elin mengangguk pelan. Hatinya kecewa, namun dia memaklumi alasan penolakan Danar.


“Ibu sayang kamu, Danar. Kamu adalah kebanggan Ibu satu-satunya.” Tak terasa butiran kristal bening menitik turun membuat Danar merasa bersalah.


Perlahan ia menegakkan ibunya. “Aku juga sayang banget sama Ibu. Tapi tolong, biarkan aku bahagia dengan caraku sendiri. Jangan terlalu cemas denganku, Bu.” Ucap Danar menghapus jejak butiran kristal di pipi wanita yang sudah mencurahinya kasih sayang tiada terkira selama berpuluh tahun itu meski ia tak terlahir dari rahim wanita itu sendiri.


❤️❤️❤️❤️❤️


“Jane?” Rumi terkejut mendapati Jane sudah berada di depan rumahnya. “Elo nggak kerja?”


Jane menggeleng.


“Elo dipecat?”


Jane menggeleng lagi.

__ADS_1


“Oh… elo pasti resign ya, karena takut diamuk lagi sama si Sofi?”


Jane menggeleng lagi.


“Terus kenapa dong elo kesini? Kan ini masih jam kerja? Jawab dong, lo jangan geleng-geleng mulu kayak ayam babon minta awin!” Kesal Rumi.


“Rumi, aku butuh kamu. Hiks…hiks…” Jane menghambur ke pelukan Rumi dan nangis sesenggukan disana.


“Eh, ntar dulu. Jangan nangis dong, baju gue ntar basah kena ingus elo!” Rumi melerai pelukan Jane.


“Aku boleh disini kan? Aku mau curhat, Rumi.” Jane berwajah murung.


“Curhat? Hm, nggak. Nanti aja, gue mau pergi soalnya.”


“Rumi, kok kamu tega sih? Aku lagi butuh teman.” Jane memelas.


“Tapi gue lagi nggak bisa, gue mau pergi ini.”


“Kamu seenak sendiri ya. Tiap ada masalah kamu lari ke aku, sekarang giliran aku yang mau curhat kamu malah menghindar.” Jane udah mau nangis lagi, si Rumi emang tega banget dah!


“Eeh.., bukan gitu Jane. Gini aja, elo kesini lagi aja besok ya.”


“Tapi aku mau curhatnya sekarang.”


“Atau elo telpon mamah Dedeh aja kalo udah kebelet banget pengin curhat.” Saran Rumi tak berperasaan.


“Rumi, kamu jahat!” Tangis Jane pecah lagi.


“Yaaah, kok malah nangis….”


TIN …


Suara klakson mobil megalihkan perhatian mereka berdua. Hanson turun dengan style look yang sungguh sangat kece.


“Nah, tu cowok gue dateng. Gue udah janji ama dia Jane.”


“Hi, Jane.” Sapa Hanson begitu mendekat. “Dia kenapa?” Tanya Hanson pada Rumi yang melihat Jane menangis.


“Kemarin habis dilabrak sama Sofi!”


“What?” Hanson kaget.


“Masalahnya bukan cuman itu. Makanya aku perlu curhat sama kamu.” Ujar Jane disela isaknya pada Rumi.


“Curhat? Ya udah, curhat lah.”


“Nggak bisa dong, kita kan mau cari ustadz buat kamu belajar agama, Hanson!” Tolak Rumi.


“Tapi dia sepertinya butuh kamu, Rumi.”


“Nggak, dia bisa nunggu. Kita pergi aja, aku udah buat janji sama ustadz tenar kenamaan ibukota langganan para artis. Kamu pasti cepet bisa kalo belajar sama dia.” Rumi bersemangat.


“Atau Jane ikut aja sama kita? Biar dia nggak sedih lagi.” Usul Hanson.


“No! aku cuman mau berduaan aja sama kamu.” Rumi melingkarkan tangannya di lengan Hanson posessive.


“Giliran udah baikan aja sama dia, kamu lupain aku. Dasar jahat kamu, Rumi!” Jane berdecih penuh kejengkelan.


“Kamu nggak bisa begitu, Rumi. Kemana rasa kemanusiaanmu? aku bisa nanti, tapi Jane sepertinya sangat pelik.” Hanson menatap Rumi jengah. “Jane, apa Sofi menyakitimu?”


“Dia ngancem aku.” Rumi memperlihatkan chat ancaman beruntun dari Sofi sejak semalam.


“Bi**h!” Geram Hanson. “Keterlaluan. Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?” hanson penasaran.


“Dia ….”


“Aduh udah deh, nggak usah berlebihan.” Potong Rumi. “Ancaman kayak gini pasti cuman gertakan aja.” Lanjut Rumi dengan entengnya. “Maklumin aja lah, Jane. Namanya juga wanita hamil, pasti jadi lebih sensitive karena perubahan hormon.”


“Hamil? Siapa yang hamil? Sofi hamil?” Hanson kaget campur bingung.


“Iya, mantan kamu hamil sama si raja minyak. Puas lo!” kesal Rumi membuang muka melepaskan tangannya dari lengan Hanson.


“Sejak kapan?”


“Eh, Bule! Penting banget ya elo tau? Ya mana kita tau sejak kapan mantan elo itu hamil! Emanya kita liatin dan catat tanggalnya waktu dia sama suaminya bikin anak?” Rumi jengkel beneran. “Lagian ngapain sih elo kepo banget? Jangan bilang elo mau balikan lagi sama dia ya!” Ancam Rumi dengan tatapan sinis.


Hanson terdiam. Ia mengehla nafas panjang, menata rasa yang tiba-tiba bergejolak dalam hatinya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Duduh.., si Babang Hansol mau ngapain ya tuh kira-kira…. 🙄🙄🙄


Terima kasih sudah membaca ya. Like komen selalu ya Kak.🙏🙏🙏😍😍😍


Feedback alon-aln waton kelakon ya akak otor semuanya….🤩🤩🤩


Mohon maaf kalo banyak typo.

__ADS_1


Mampir juga di Audio booknya terpaksa selingkuh by adik Chen Liong yaa Kak…❤️❤️❤️


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2