
Tak ada penolakan, meski sempat menatap penuh kebencian pada Ramzi namun Sofi mau diajak masuk oleh Azad sementara Ramzi masih di teras, tiba-tiba ….
SREET
BUGH!
Satu bogem mentah mendarat telak di wajah Ramzi.
“Baby! Kamu ini apa-apaan?” Pekik Rumi kaget.
Hanson menggeret kerah kemaja Ramzi, meski badannya tak sebesar Ramzi namun karena Ramzi tak siap mendapat serangan dadakan ia sempat terhuyung karena bogem mentah Hanson
BUGH!
Satu tinju melesat lagi, itu cukup untuk membuat pipi kanan Ramzi lebam dan sudut bibirnya pecah berdarah.
“Baby, lepasin dia!” Rumi berusaha menarik lengan Hanson agar melepaskan Ramzi.
“Aku harus beri dia pelajaran, Schatzi! Biar dia tau, dia laki-laki brengsek! Suami yang tak mampu menjaga istrinya!” Geram Hanson menatap Ramzi penuh kebencian.
“Kau pikir kau laki-laki baik? Lihat dirimu! kau bahkan lebih buruk dariku!” Balas Ramzi setelah mengusap sudut bibirnya.
“Sudah, Ram.” Jane menahan tubuh Ramzi agar jangan sampai membalas Hanson. “Nggak ada gunanya kalian ribut. Tindakan kalian malah akan semakin membuat Sofi tidak menginginkan kehadiran kita disini.” Menatap Ramzi dan Hanson bergantian untuk menenangkan keduanya.
“Cih! Aku nggak pernah menyuruhmu untuk ikut kemari!” Decih Ramzi pada Hanson.
“Kalau bukan karena Rumi yang memaksaku, aku juga nggak sudi! Apalagi aku tahu kamulah biang masalah dari semuanya. Kamu yang menyebabkan Sofia jadi begini. Kamu yang membunuh anakku dan Sofia, kamu yang mencampakkan Sofia, kamu yang membuatnya menjadi menderita begini, kamu yang – “
“Kamu lupa kalau kamulah yang mencampakkan Sofia lebih dulu?” Sarkas Ramzi. “Setelah kamu bosan dengannya kamu buang dia bagai sampah! Lalu ketika kamu tahu kamu cacat dan tak bisa mendapatkan keturunan, kamu akui anak yang ada dalam kandungan Sofia itu anakmu? Dasar pecundang!” Sengit Ramzi dengan pandangan tajam.
Hanson terdiam, semua emosinya seolah menguap perlahan. Dalam hati ia membenarkan apa yang dikatakan Ramzi. Dia memang pecundang!
“Ram, aku mohon jangan diteruskan. Ingat, tujuan kita kemari untuk membawa Sofi pulang.” Jane mengusap bahu Ramzi.
“Sepertinya kita nggak bisa langsung pulang malam ini.” Azad muncul membuat mereka menoleh bersamaan. “Kak Sofi kondisinya sedang tak stabil, aku khawatir terjadi apa-apa di jalan nanti.”
“Iya, kamu benar Azad. Lebih baik kita istirahat dulu.” Jane sepakat.
“Kak Ram, kenapa wajahmu lebam?” Azad memperhatikan tampang kakak iparnya. “Berarti suara ribut yang aku dengar tadi itu kalian?” Menatap Ramzi dan Hanson seolah meminta penjelasan.
“Azad udah deh, jangan dibahas dulu.” Sela Rumi.
Mendengus kasar. “Ya udah, cepat masuk.” Mendahului dengan langkah lebar. “Jane, mungkin kamu bisa cari es batu di kulkas untuk Kak Ram.” Membalikkan badan pada Jane yang berjalan di belakangnya.
Jane mengangguk, gegas ia menjelajah rumah Bu Een yang asing baginya.
Sementara itu Hanson menghempaskan pantatnya di sofa ruang tamu. “Huh!” Mendengus kesal seraya meraup wajahnya kasar.
“Baby, apa kamu masih mencintai Sofi?” Pertanyaan tajam Rumi sontak membuat Hanson membulatkan matanya.
“Kamu ngomong apa sih, Schatzi?”
Duduk menatap tajam, “kenapa tadi kamu emosi banget sama si raja minyak itu?”
“Bagaimana aku nggak emosi? Dia yang udah melenyapkan bayi Sofi, anak aku dan anak Sofi!” Mulai terpantik kesal. “Seharusnya bayi itu sudah lahir ke dunia. Jika bukan karena perbuatan jahatnya pasti aku dan Sofi sudah punya anak sekarang. Dan kami …, astaga! Maaf, Schatzi.” Tak melanjutkan kalimatnya karena menyadari perubahan raut wajah sang kekasih. “Aku nggak bermaksud untuk …”
“Lepasin!” Menepis tangan Hanson lantas beranjak pergi dari ruang tamu.
“Schatzi …” Mendesah jengkel pada diri sendiri.
“Jane, ngapain lo?” Menghampiri Jane di ruang makan yang sedang berusaha mengeluarkan es batu dari freezer.
“Ini mo ambil es batu buat Ram.”
“Mau minum es dia tengah malem begini?” Heran Rumi.
“Buat ngompres lukanya yang abis ditojok bokin elo!” Ketus Jane. "Kan tadi eko denger sendiri Azad yang nyuruh gue?"
Bibir Rumi membulat seraya menggut-manggut, ia menarik satu kursi dan duduk sambil menikmati pemandangan Jane yang masih tampak kesusahan mengeluarkan bongkahan es batu dari dalam freezer yang terlalu membeku.
“Bantuin ngapa? Malah nonton, tega banget lo!” Kesal Jane.
“Kenapa, Jane?” Azad muncul di ruang makan. Tanpa menunggu jawaban, dangan sekali hentakan Azad berhasil mengeluarkan es batu yang terbungkus plastik dari dalam freezer Bu Een. Maklum lah ya, meski orang kaya tapi kulkasnya Bu Een kulkas jadul, jadi saljunya suka penuh gitu kalo lama nggak dibersihin, wkwkwk…
“Wow! Strong banget lo, Zad?” Rumi berdecak penuh kekaguman.
“Biar aku aja yang ngompres lukanya Kak Ram.” Berkata pada Jane tanpa mempedulikan Rumi. “Kamu istirahat aja, pasti capek banget.” Meninggalkan ruang makan.
“Mo istirahat dimana? Di atas kompor?” Seloroh Rumi setelah Azad pergi. “Kamarnya bisa dipake nggak sih, Jane?”
“Hem, kayaknya nggak sopan deh kalo kita main nyelonong aja tidur di kamar rumah ini tanpa ijin.” Jane ragu.
“Iya juga sih, tapi kita mau tidur dimana?”
“Cowok elo tidur dimana?” Jane nanya balik.
“Tau! Tadi sih masih di ruang tamu.”
Jane memperhatikan wajah Rumi yang berubah kesal. “Kalian marahan?”
“Sebel aja, segitunya dia ngebelain si Sofi.”
Menghela nafas, menepuk pundak Rumi. “Sekarang bukan waktu yang tepat buat ribut, kesampingin dulu ego elo berdua.” Ucap Jane. “Udah yok, kita cari tempat buat merem sebentar nunggu pagi.”
Mereka berdua melewati ruang tengah, nggak mungkin kayaknya Jane dan Rumi tiduran di sana karena udah ada Azad dan Ramzi yang badannya bongsor banget Menuhin sofa. Tiba di ruang tamu, Hanson sudah terlelap dengan posisi duduk menyandar pada sofa.
“Dasar *****!” Decak Rumi pada kekasihnya yang sudah hanyut dalam alam mimpi.
“Capek banget dia kayaknya. Ya udah, kita istirahat disini aja.” Jane meraih satu bantal sofa lantas mengambil tempat yang paling ujung untuk merebahkan tubuh letihnya sedangkan Rumi duduk di samping Hanson, lama kelamaan kepalanya mulai miring ke kiri tepat bersandar pada bahu lebar sang kekasih karena kantuk yang sudah menyerangnya.
_
_
_
__ADS_1
Fajar terbit di ufuk timur, geliat kesibukan pagi mulai terasa di kampung Suka Tresna, namun para tamu dari ibu kota itu masih lelap dalam alam mimpinya masing-masing. Kelelahan fisik agaknya melenakan raga mereka hingga tak menyadari matahari sudah menampakkan diri membagi terangnya ke seisi semesta.
Lelap ketiga manusia di ruang tamu itu tiba-tiba terganggu oleh suara ketukan pintu dari luar. Hanson yang mendengarnya lebih dulu tampak menggeliat seraya mengerjapkan kedua netranya mengusik Rumi yang tertidur di bahunya.
“Schatzi, kayaknya ada yang datang.” Lirih Hanson.
Tok tok tok
Pintu kembali diketok dari luar. Jane juga terbangun.
“Sof! Sofi … “Panggil suara dari luar membuat ketiganya beranjak bersamaan menuju pintu.
Ceklek ceklek
Jane yang paling depan memutar anak kunci membuka pintu dengan wajah surprise begitu juga dengan orang yang berada di depannya, mereka saling pandang karena sama-sama merasa asing.
“Maaf – “
“Sofi mana?” Sambar sang pengetok pintu yang tak lain adalah Om Jaka.
Masih terpaku dalam kebingingungan, “Sofi …”
“Gue Jaka, adiknya yang punya rumah ini.” Pangkas Om Jaka tak membiarkan Jane berlama-lama dalam keheranan.
“Oh! Ahh ya… silakan masuk.” Jane memberi jalan. “Sofi kayaknya masih di kamar belum bangun.”
Melangkah masuk, sekejap melempar pandangan pada wajah bule Hanson dan Rumi yang di sampingnya namun Om Jaka lebih memilih untuk segera menemui Sofi meski hatinya masih penasaran dengan keberadaan manusia-manusia asing di rumah mbakyunya itu.
“Buset! Di sini juga ada orang?” Kaget ternyata di ruang tengah juga ada Ramzi dan Azad yang masih terlelap.
“Om! Om Jaka ….!” Romlah masuk rumah dengan tergopoh-gopoh. “Untung Om Jaka kesini. Tau nggak sih Om, semalem rumah ini hampir aja kemalingan?”
“Nah itu dia, makanya gue kesini karena denger kabar soal perampokan semalem dari anak buah mertua gue. Jadi bener itu kejadiannya?” Menatap Romlah penasaran.
“Bener Om, 100 %! Mas ucup sendiri kok yang ikut gebukin itu maling!” Lantas Romlah melanjutkan ocehannya tentang kronologis kejadian dini hari tadi berdasarkan yang didengarnya dari Ucup sang suami.
Mendengar kehebohan Romlah dan Om Jaka membuat Azad dan Ramzi terbangun.
“Nah, ini mereka siapa nih? Elu tau kagak Rom? Kenapa jadi banyak orang begini di rumah Mbakyu gue?” Om Jaka melihat Ramzi dan Azad yang beranajak ke arahnya.
“Maaf, Pak. Saya – “
“Enak aja lu panggil Pak, emang gue bapak elu apa?” Om Jaka keki. “Panggil gue Om Jaka, Jaka Sutrisna.”
“Saya, Azad.” “Mengulurkan tangan mempekenalkan diri. “Saya adiknya Kak Sofi, dan ini Kak Ramzi suami Kak Sofi.”
Om Jaka menyambut perkenalan dengan baik lantas mengajak mereka datang duduk kembali di ruang tengah.
“Rom, elu bikinin teh anget apa kopi gitu buat para tamu dari jauh ini.” Pinta Om Jaka sebelum memulai obrolan.
“Siap, Om!” Segera menuju dapur.
“Jadi begini Om … “ Azad menceritakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Bu Een, juga tentang kejadian dini hari tadi yang sempat membuat heboh waga kampung.
“Ya yaa .., gue ngarti sekarang permasalahan sebenarnya.” Jeda sebentar karena Romlah datang membawakan kopi hitam kemudian pergi ke ruang tamu menyuguhkan 2 gelas teh hangat dan kopi hitam buat Hanson, Jane dan Rumi. “Berarti Sofi dalam bahaya sekarang. Memang lebih baik kalian membawa Sofi pulang secepatnya.” Sambung Om Jaka.
“Iya Om, setelah Kak Sofi bangun nanti rencananya kami memang akan langsung kembali ke Jakarta.”
“Ya udah, ayok diminum dulu kopinya.” Mengangkat cangkir kopinya mempersilakan pada Ramzi dan Azad.
Sementara itu Hanson yang bosan membawa kopinya menuju teras untuk menghirup udara segar diikuti Jane dan Rumi.
“Heem, asyik banget ya tinggal di kampung. Udaranya masih seger.” Jane menghirup udara pagi banyak-banyak seolah belum pernah merasakan kesegaran udara pagi sebelumnya.
“Iya, kayaknya tenang dan damai ya? Nggak kayak di kota, jam segini pasti udah macet di mana-mana.” Rumi sependapat.
Hanson tak ikut menanggapi, dia masih belum berdamai dengan kekesalannya sendiri. Ia melangkahkan kaki sekedar berjalan-jalan di halaman rumah Bu Een. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena sedikit kaget mendengar pintu mobil Om Jaka terbuka dan seseorang keluar dari sana. Denaya sempat bersitatap denagn Hanson yang bengong melihat wajahnya.
“Angel?” Gumam Hanson dalam hati terkesima.
“Dena, tunggu! Ayah mau numpang ke kamar mandi sekalian!” Pak Haji Barkah ikut turun dari jok tengah semakin membuat Hanson kaget.
Denaya dan ayahnya masuk setelah menyapa Rumi dan Jane dengan sedikit anggukan kepala.
“Bebeb! Lama amat sih?” Semprot Denaya pada Om Jaka sementara Haji Barkah lurus ke belakang mencari toilet.
“Astaga! Sampe lupa gue kalo ada istri sama mertua gue di dalem mobil!” menepuk jidatnya sendiri.
“Orang ditungguin juga, malah ngopi-ngopi disini!” Denaya semakin kesal.
“Eeh, iya maaf Han. Gue lupa saking keasyikan ngobrol.” Meraih pinggang Denaya agar istrinya itu tak meneruskan aksi ngomelnya. “Oya kenalin, ini Denaya bini gue yang paling cantik, baik hati dan shalilah sekelurahan.” Om Jaka memperkenalkan Denaya pada Ramzi dan Azad hingga mau tak mau Denaya tersenyum juga.
Ramzi dan Azad surprise dengan sikap manis tapi lucu Om Jaka pada sang istri, mereka menyambut Denaya dengan senang hati.
“Jaka … “ Panggil Haji Barkah yang sudah selesai dari toilet.
“Nah kalo ini ayah mertua gue yang paling bijaksana, baik hati, nggak sombong dan gemar menabung. Namanya Haji Barkah.” Giliran Om Jaka memperkenalkan Haji Barkah pada Ramzi dan Azad.
“Hem, berlebihan kamu Jaka!” Haji Barkah agak tak enak hati.
Namun itu justru menambah penilaian plus dimata Ramzi dan Azad, betapa harmonisnya hubungan mereka bertiga.
“Ya udah yok, Beb. Keburu siang nih ke tokonya.” Ajak Denaya, sehingga mau tak mau Om Jaka pun harus pamit. Namun belum juga mereka melangkah dari ruang tengah tiba-tiba terdengar teriakan kesakitan dari dalam kamar Sofi.
“Aaaarghhhh! Azad ….!”
Sontak semuanya terkejut.
“Kak Sofi!” Gegas Azad menuju kamar Sofi. “Astaga, Kak ….!” Pekik Azad ketika sudah sampai dalam kamar yang segera disusul Ramzi dan yang lainnya.
“Sofia … “ Ramzi memburu Sofi yang sudah terkulai di lantai dengan ditopang Azad.
“Kak, Kak Sofi kenapa?” Azad panik.
“Perutku, Azad. Perutku sakit sekali ….” Sofi memegangi perutnya dengan peluh sudah membanjiri pelipisnya.
__ADS_1
“Sofia, tenanglah. Azad, kita harus bawa Sofia ke rumah sakit.”
“Astaghfirullah!” Pekik Denaya yang melihat cairan membasahi kedua betis Sofia. “Mungkin dia akan segera melahirkan.”
“Melahirkan?” Ramzi dan Azad hampir bersamaan, keduanya terlihat semakin panik dan bingung.
“Jaka, cepat antar mereka ke rumah sakit.” Perintah Haji Barkah.
“Aaaarghhhh …., sakit. Sakit sekali….” Sofi terus mengerang memegangi perutnya
“Jaka, cepetan!” Menepuk punggung Om Jaka karena masih membatu seperti ikut bingung akan keadaan yang begitu tiba-tiba itu.
“I-iya, Yah.” Agak tergagap. “Azad, Ramzi, ayok kita bawa Sofi!”
“Pake mobil aku aja!” Ramzi memberikan kunci mobilnya pada Azad lantas segera membopong tubuh Sofi yang sudah lemas dengan cairan ketuban terus merembes dari pangkal kedua pahanya.
Hanson, Jane dan Rumi terkejut manyaksikan Ramzi membawa Sofi yang sudah lemas dengan tergesa-gesa.
“Azad, Sofi kenapa?” Tanya Jane penuh kekhawatiran.
“Sepertinya Kak Sofi akan melahirkan. Kalian tunggu saja disini, kami akan ke rumah sakit. Atau kalau mau pulang duluan sialkan.”
“Azad! Cepat buka mobilnya!” Teriak Ramzi tak sabaran.
“Biar gue aja yang nyetir!” Om Jaka merebut kunci mobil Ramzi.
“Cepat Om, kasiahan Sofi.” Ucap Ramzi yag sudah duduk di jok tengah memangku kepala Sofi sedangkan Azad duduk di depan tak kalah paniknya.
“Iye, elu pada sabar ye. banyak-banyak berdoa moga-moga Sofi dan bayinya selamat.” Ucap Om Jaka yang sudah melajukan mobil Ramzi dengan kecepatan sedikit diatas rata-rata tapi masih dengan kewaspadaan penuh.
“Sssshhhh, sakiiit …..” Sofi kembali berdesisi dengan mata terpejam.
“Sofia, bertahalah.” Meraih jemari Sofi yang mulai tersa dingin. “Kamu harus kuat demi anak kita.” Menciumi jemari Sofi berkali-kali. Azad yang menyaksikan itu menjadi haru seketika, hatinya menghangat. Ia yakin Ramzi masih mencintai kakaknya.
“Kak Ram ….” Gumam Sofi berusaha membuka matanya yang terasa berat.
“Iya, aku disini Sayang.” Tangan kiri mengusap rambut Sofi, matanya mulai mengembun mendapat tatapan redup dari sang istri yang sudah sekian lama ia abaikan.
“Perutku sakit sekali, Kak Ram. Arrrgh…. “ Mengerang lagi berusaha melawan rasa sakit hingga menitikkan air mata dari kedua sudut mata indahnya.
“Bersabarlah, Sayang. Kamu pasti kuat, ada aku disini.” Terus membisikkan kata-kata penyemangat untuk istrinya yang tak henti mengerang menahan sakit.
Perjalanan dari rumah Bu Eenmenuju rumah sakit entah mengapa terasa sangat lama, padahala Om Jaka sudah menambah kecepatnnya ketika sudah memasuki kota.
“Om, apa rumah sakitnya masih jauh?” Tanya Azad yang sudah tak tega karena sepanjang perjalanann kakaknya tak henti merintih kesakitan.
“Kagak, bentar lagi!” Om Jaka mengambil arah ke kiri sebelum lampu merah, niatnya yang akan membawa Sofi ke klinik bersalin ia urungkan karena jarak yang masih agak jauh. Om Jaka sengaja membelokkan mobil menuju rumah sakit tempat Bu Een di rawat karena Denaya juga waktu itu melahirkan disana, ia yakin Sofi pasti bisa ditangani dengan baik walau bukan di rumah sakit bersalin sekalipun.
Mobil Ramzi kini sudah memasuki parkiran rumah sakit, Om Jaka segera keluar dengan langkah cepat ketika mobil yang dikemudikannya berhenti sempurna. Tak lama 2 orang perawat mendorong brangkar dan dengan sigap memindahkan tubuh Sofi ke atasnya.
“Dokter, dia sepertinya akan melahirkan. Air ketubannya sudah pecah.” Ucap Om Jaka pada dokter jaga di ruang IGD.
“Baik, mohon tunggu di luar ya Pak. Akan segera kami tangani pasien dengan baik.” Ucap sang dokter perempuan meminta Om jaka dan Ramzi keluar ruangan.
“Om, kenapa Sofi harus sendirian di dalam sana? Kasihan dia.” Ratap Ramzi tak kuasa menahan kesedihannya.
“Tenanglah, Ram. Elu kagak usah khawatir, tim medis pasti nanganin Sofi denagn baik. Elu banyak-banyak doa aja.”
“Bener kata Om Jaka, Kak. Sebaiknya kita memohon keselamatan agar Kak Sofi dan bayinya baik-baik aja.”
“Tapi Sofi kesakitan, Zad. Aku nggak tega, aku merasa sangat bersalah. Aku ….“ Ramzi tergugu tak mampu melanjutkan kalimatnya, perasaannya dirundung kesedihan dan penyesalan yang bertumpuk jadi satu dalam dadanya.
“Keluarga pasien yang mana?” Dokter keluar dari ruang IGD bersama seorang perawat.
“Saya suaminya, Dok.” Ramzi segera menyeka matanya yang basah.
“Kami membutuhkan persetujuan Anda untuk mengambil tindakan operasi caesar pada pasien.”
“Operasi, Dok?” Azad menyambar penuh keterkejutan.
“Benar, usia kehamilan pasien yang baru memasuki usia 34 minggu ditambah lagi dengan kondisi pasien yang sangat lemah sehingga tidak memungkinkan baginya melahirkan secara normal, sedangkan air ketubannya sudah hampir habis.”
“Lalukan yang terbaik untuk istri saya, Dok.” Lirih Ramzi dalam setengah keputusasaannya.
“Baik, mari ikut saya dulu untuk melengkapi berkas-berkasnya. Suster, segera siapkan ruangan operasi.”
“Siap, Dok.”
Ramzi mengikuti langkah Doter dengan tergesa, hati dan pikirannya sungguh diliputi kecemasan diluar kewajaran. Dia sungguh tak menyangka kedatangannya untuk menjemput pulang istrinya malah mendapat kejutan yang tak disangka-sangka. Antara bahagia akan segera mendapatkan seorang bayi dan ketakutannya akan keselamatn sang istri, Ramzi berusaha menjaga kewarasan akalnya.
“Saya mau dokter yang terbaik dari rumah sakit ini.” Ucap Ramzi bersungguh –sungguh setelah selesai melengkapi data untuk Sofi.
Dokter jaga yang tadi menangani Sofi menatap sejurus dari balik kacamata bulatnya.
“Saya mau tim dokter spesialis kandungan, anestesi, anak dan kebidanan yang terbaik. Berapa pun biayanya akan saya bayar asalkan mampu menyelamatkan nyawa istri dan anak saya.”
Dokter wanita yang belum terlalu tua itu paham, ia sanggup menilai penampilan Ramzi yang meski masih agak acak-acakan karena belum sempat mencucui muka namun pasti dia bukanlah orang sembarangan.
“Baik, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik.”
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca dan dengan sabar menunggu up lanjutannya 🙏🙏🙏
Terima kasih juga buat para silent reader yang setia memberikan jempolnya meski belum bersedia menulis di kolom komentar😍😍😍
Terima kasih buat readers tercinta dan para rekan author kesayangan yang tak pernah absen membakar semangat emak othor awut-awutan ini lewat komentarmya 😘😘😘
Terima kasih yang sudah kasih vote dengan suka rela😇😇😇
Terima kasih buat kalian semuanya🤩🤩🤩
Aiih, bayak banget terima kasih ya kayak mau end aja😅😅😅
Pokoke I love you puulll ….🤗🤗🤗❤️❤️❤️
__ADS_1