
Setelah kemarin Sofi tak berhasil melancarkan aksi mautnya pada Ramzi, bahkan sampai ia menunggu kepulangan Ramzi sampai larut dan ia tertidur dengan sendirinya pun Ramzi tak kunjung datang, hari ini Sofi berencana akan membuat kejutan untuk suaminya itu. Ia sengaja terlambat turun untuk sarapan agar tak harus melihat wajah ayah mertuanya yang menyebalkan di matanya.
Dan benar saja, di meja makan hanya tinggal Ramzi sendiri yang nampak sedang bersiap ketika Sofi datang.
“Sayang, kamu sudah selesai sarapan?” Tanya Sofi seraya duduk di samping suaminya.
“Iya. Aku pikir kamu minta sarapan di kamar.” Ucap Ramzi sambil merapikan laptopnya.
Sofi hanya tersenyum.
“Aku menunggumu semalaman.” Ujar Sofi kemudian dengan tatapan mata yang sengaja dibuat sendu.
Ramzi menghentikan aktifitasnya.
“Maaf, aku ke Bogor bersama Papa dan baru pulang lewat tengah malam.” Ucap Ramzi datar.
“Tidurlah di kamar kita nanti malam. Kau mau, kan?” Sofi menyentuh tangan Mirza sambil tak lepas melemparkan tatapan sendunya.
Razi membalas tatapan itu untuk beberapa detik.
“Jika Papa tak mengajakku keluar kota lagi.” Ucap Ramzi akhirnya, kemudain ia bangkit dan menenteng tas laptopnya.
“Aku akan menunggumu.” Lirih Sofi.
Ramzi tak menyahut, ia meninggalkan ruang makan dengan langkah lebar.
Rupanya si tua Bangka itu berusaha menjauhkan suamiku dariku? Jika benar seperti itu, baiklah akan ku ikuti permainanmu pak tua Bangka bau tanah kuburan! Sofi mnyeringai sinis.
“Maaf, Nyonya.” Suara pelayan mengejutkan Sofi. “Saya baru merapikan kamar Anda dan ponsel Anda berdering sedari tadi.” Ujar sang pelayan wanita itu.
“Terima kasih.”
Sofi segera menuju kamarnya kembali dan benar saja mendapati beberapa kali panggilan dari ibunya. Maka dengan cepat jemari Sofi menekan nomor ponsel ibunya.
“Halo, Ma.” Sapa Sofi begitu Nyonya Husein menerima pangilannya.
“Sofi, bagaimana kabarmu, Nak? Mengapa lama kau tak mengunjungi kami? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Nyonya Husein bertubi-tubi penuh kekhawatiran.
Deg!
Tak mngkin Sofi menceritakan hal yang sebenarnya jika ia baru saja kehilangan janinnya.
“Aku baik, Ma.” Sahut Sofi. “Maaf Ma, aku lagi ada sedikit kesibukan jadi belum sempat ke sana.” Sofi terpaksa berbohong.
“Syukurlah kalau kau baik-baik saja.” Terdengar nada kelegaan dari seberang dalam kalimat Nyonya Husein.
“Baiklah Ma, aku akan mengunjungi mama dan papa hari ini.” Ucap Sofi yang punya ide tiba-tiba.
“Oh, jangan. Kalau kamu memang sibuk, tak apa. Mama senang sudah tau kabarmu.”
“Nggak papa, Ma. Aku sedang ada waktu sekarang.”
“Ya sudah, terserah kamu saja kalau begitu. Lagi pula papamu pasti akan senang melihatmu berkunjung.”
“Iya, Ma. Sampai nanti.”
Sofi segera mengakhiri percakapannya dan bersiap untuk mengunjungi rumah kontrakan orang tuanya.
____________
Via baru saja keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya.
“Kok sakit ya disini?” Via sedikit menekan perut bagian bawahnya. “ Ini bukan mules mau buang air deh. Haduuh, kenapa ya? Kok kayak waktu tempo hari itu mulesnya.”
__ADS_1
Via kembali menuju ranjangnya sambil agak meringis berusaha membaringkan tubuhnya. Niatnya mau keluar nayari si tukang sayur urung dilakukan karena didera rasa nyeri yang tiba-tiba. Tak mungkin ia menelpon Mirza karena tak ingin membuat suaminya itu khawatir, lagi pula Mirza akan pulang besok karena baru besok pagi semua rangkaian medical chek upnya selesai. Namun karena ia merasakan nyeri yang semakin menusuk, ia berusaha meraih ponselnya di atas nakas.
Bebearap nomor ia pertimbangkan untuk dimintai tolong, namun karena ragu ia juga urung meminta bantuan karena takut merepotkan.
Maka dengan segala kemampuannya Via berusaha keluar kamar untuk membuat kompers air hangat seperti yang dilakukan Mirza waktu itu. tak lupa ia minum susu hamil dan vitaminnya terlebih dulu. Setelah itu ia membaringkan dirinya di sofa depan TV sambil mendekap botol kaca berisi air panas yang dilapisi kain bersih. Via menggiit bibir bawahnya menahan rasa sakitnya.
Sementara itu di tokonya, nampak Riri sibuk sendiri, karena hari ini dia dapet orderan kue untuk acara seminar di hotel Bu Elin. Riri mempersiapkan sendiri aneka Snack itu dan memasukannya ke dalam box snack. Ditengah kesibukannya itu datang seorang ibu yang memesan kue ulang tahun untuk anaknya. Dengan sabar Riri meladeni ibu itu sampai si ibu mendapatkan kue yang dinginkannya. Setelah selesai Riri pun kembali melajutkan kegiatannya yang tadi sepat terhenti. Namun tak berapa lama datang dua orang perempuan yang mau beli lapis legit, sedangkan yang satunya minta aneka jajanan pasar yang juga dijajakan di toko kue Riri.
“Iya, itu juga saya mau, Mbak.” Tunjuk si pembeli lapis legit.
“Yang mana, Mbak?”
“Bolen pisang itu, Mbak.”
“Oh, oke.” Riri mengambil box kue hendak mengambilkan bolen yang diminta si mbak tadi.
“Mbak gimana sih, saya dulu dong. Kan tadi belum selesai?” protes pembeli yang satunya.
“Oh, iya maaf.” Riri meminta maaf. “Mbak, tunggu sebentar, ya.” Ucap Riri pada si pembeli kue lapis.
Untung saja mbak itu mengeti.
“Saya minta kue talamnya 5, nagasari 5, klepon, sama arem-aremnya juga ya?”
“Oke, siap.” Dengan terampil Riri mengambilkan kue-kue yang diinginkan pembeli itu.
Setelah selesai dengan kedua pembeli itu Riri kembali mengemas kue untuk persiapan peserta seminar.
“Mbak, saya mau kue sus, dong!” terdengar suara pria.
Tak pelak Riri harus kembali meninggalkan pekerjaannya yang berulang-ulangkali tertunda itu sedangakn waktu terus eranjak siang. Namun namanya pembeli tak boleh ditolak dong, maka Riri segera bangkit namun dia langsung melotot kesal mengetahui siapa yang datang.
“Mas Danar! Ngerjain aja deh!” Decak Riri kesal.
“Abisnya aku perhatiin kamu serius banget sih?”
“Ini belum kelar nih buat snack nanti siang. Bantuin, dong!”
“Enak aja, orang aku cuman mau mampir masa suuh bantuin?”
“Suruh siapa mampir-mampir? Aku nggak mau tau, pokonya bantuin aku cepetan, Mas!” Riri memaksa.
Danar akhirnya ngalah.
“Gimana packingnya? Ajarin dulu ngapa?” Danar melihat Riri yang terampil memasukkan satu persatu kue ke dalam kotaknya.
“”Terserah aja, yang penting rapi.”
Danar menurut. Empat jenis kue dengan segelas air minum kemasan dia masukkan ke dalam box kecil itu.
“Kayak gini bener nggak?”
“Bener.”
“Diliat aja belum udah bilang bener aja!” Celetuk Danar demi mendengar jawaban Riri yang sama sekali tak melihat ke arahnya.
“Udah jangan ngomong mulu, cepaatan, udah siang ini.”
“Malah ngomel-ngomel, bukannya makasih udah dibantuin.”
“Ntar kalo udah kelar aku baru bilang makasih.” Ujar Riri cuek.
Packing hampir selesai kemudian terdengar ponsel Riri berbunyi dia atas meja pojok ruangan.
__ADS_1
“Angkat dulu tuh telponnya!” Perintah Danar yang melihat Riri tak menggubris sama sekali panggilan di ponselnya.
“Siapa sih? Nggak tau orang lagi sibuk juga, telpon mulu!”
Riri ngomel sambil menuju ke meja pojok ruangan, ternyata itu telpon dari Via.
“Ya, halo, Mbak.” Sapa Riri.
“Ri, Mbak bisa minta tolong, nggak?” Terdengar suara Via diseberang agak pelan.
“Iya, minta tolong apa, Mbak?” Riri bertanya dengan khawatir karena sepertinya kakaknya itu sedang kesakitan.
“Kamu lagi sibuk nggak?”
“Emh, nggak kok biasa aja.” Riri tak mungkin bilang lagi sibuk sementara kakaknya spertinya membutuhkan bantuannya.
“Kamu bisa ke sini nggak, Ri? Perut Mbak sakit banget nih. Tolong ya, Ri ….” Suara Via mendeseis diakhir kalimatnya membuat Riri makin khawatir.
“Iya, iya, Mbak. Aku segera kesana. Sharelock ya, aku belum tau kontrakan Mbak Via.”
Mendengar nama Via diseut-sebut sontak saja Danar menoleh ke arah Riri.
Riri segera mengakhiri sambungan telepon dari menyambar tasnya di atas kursi.
“Ri, kenapa? Siapa tadi yang telpon?” Tanya Danar menghampiri.
“Mas aku minta tolong banget ya. Mas Danar aja yang dilevery snack ini ke hotel, bisa kan? Lagi juga ini hampir selesai kan, Mas?” Ucap Riri memohon.
“Iya tapi kenapa? Itu tadi siapa yang telpon?” Danar masih penasaran.
“Mbak Via. Dia lagi kesakitan di rumah kontrakannya, aku hawatir banget kenapa-napa soalnya kan Mas Mirza lagi nggak ada.”
“Via sakit apa?”
“Nggak tau, ini makannya aku mau cepet-cepet kesana.”
“Oke, aku ikut.”
“Eh, jangan! Nanti siapa dong yang ngrusin delivery kuenya? Kalo Bu Elin marah giamana? Aku minta tolong Mas Danar ya? Please..."
Danar membuang napas gusar. Segala hal tentang Via tentu saja mampu memngganggu pikirannya. Nggak tau kenapa nama Via bandel banget susah ilang dari benaknya, padahal dia udah mati-matian meyakinkan diri Via itu udah punya suami jadi nggak pantas untuk dicintai.
“Mas?” Tegur Riri.” Bisa kan mas Danar antar kuenya?”
Danar akhirnya terpaksa setuju.
“Oke, tapi kalo butuh bantuan jangan sungkan hubungin aku ya?"
Riri mengangguk, lantas segera pergi dan berlalu dengan sepeda motornya.
________
2 bab dulu yaa Kak... 😃
menyusul nanti, oke....😉😉
like komen selalu ya Kak...😍
rete 5 jangan lupa❤️
vote seikhlasnya🤩
terima kasih🙏🙏
__ADS_1
luv u all🤗🤗🤗😘😘😘