
Setelah selesai dengan sarapannya, Hanson menata perasaannya untuk menemui Rumi. Ia ketuk perlahan kamar Rumi.
“Masuk” ucap Rumi dari dalam.
Piring berisi roti sarapan masih di atas nakas, Rumi hanya memakannya separo.
“Kenapa kamu nggak habiskan sarapan mu, Schatzi?”
Mendongak keget ketika mendengar suara bariton yang menyapa telinganya, ia kira si Romlah yang datang.
“Ngapain lo kesini?” memasang wajah jutek, berdiri dari posisinya yang semula bersandar pada head board sibuk dengan gadgetnya.
“Ehm, a- aku –“
“Aku aku apa? Aku seorang kapiten?” sengit Rumi yang melihat Hanson tergagap . “Stop! Jangan deketin gue!” Rumi mengultimatum.
Seketika Hanson menghentikan langkahnya. “Schatzi, aku minta maaf.”
Menarik sudut bibirnya, mengukir senyum sinis. “Tau diri juga lo rupanya?”
Diam, berusaha sabar. Ia tahu akan mendapatkan sambutan seperti ini dari kekasihnya.
“Semua kata-kata lo kemarin itu nyakit gue. Melukai hati gue.”
“Aku tau.”
“Bagus kalo lo tau, tapi semuanya nggak akan cukup dengan minta maaf!”
“Tolong maafkan aku, Schatzi. Aku janji nggak akan mengulanginya.”
Melipat kedua tangan didada, “meskipun gue maksa elo buat ngelakuin sesuatu dengan gue?”
“Heem,” mengangguk samar.
Masih belum percaya dengan kekasihnya, wajah jutek dengan tatapan tajam masih menjadi benteng pertahanan Rumi.
“Aku sadar kemarin aku memang keterlaluan,” memberanikan diri mendekat meski Rumi masih menyorotnya tajam. “Nggak seharusnya aku bersikap seperti itu,” meraih kedua tangan Rumi. “Kamu mau maafin aku kan?” menatap dengan penuh permohonan.
Bergeming dengan wajah datar.
Cup!
Hanson mencium tangan Rumi lembut, “ich liebe dich, Shcatzi” (aku cinta padamu)
Terdiam bagai terhipnotis, bias kebahagiaan seketika terpancar dari Rumi. “Ich liebe dich auch, Baby.” (aku juga mencintaimu)
Tersenyum simpul, membelai pipi Rumi dengan tatapan meyiratkan sesuatu. Perlahan dibawanya tubuh Rumi ke tepi ranjang.
“Schatzi, kamu akan menjadi milikku selamanya” berbisik mendayu seraya merebahkan tubuh Rumi perlahan.
seketika jantung Rumi berdegup tak karuan. Ada apa ini? Mau ngapain dia? Apa ini mimpi? Bukannya kemarin dia nolak gue? Lontaran pertanyaan berhamburan di benak Rumi. Meski dia sangat mengingikannya, namun entah mengapa Rumi malah gemetar tak karuan dengan perlakuan Hanson pagi ini.
“Baby, k-kamu –“ gantian Rumi yang gagap, ia merasakan sorot mata Hanson penuh damba, sentuhan-sentuhan kecil yang dibuat Hanson pada wajahnya membuatnya gemetar.
“Schatzi, jangan tegang begitu. Aku nggak akan melukaimu, “suara Hanson terdengar berat seperti sudah tak sabar pengen nganu.
“Tapi Baby, aku –“
“Bukankah kamu sangat menginginkannya?” kedua lengan kekar Hanson mengungkung tubuh mungil Rumi. “Kita akan melakukannya pelan-pelan,”
“I-ya, tapi –“ menjeda kalimatnya karena kini tangan Hanson membuka dua kancing dressnya yang paling atas. Pandangan mereka bertemu, Rumi tak percaya kekasihnya akan benar-benar melakukannya sekarang.
Tanpa Rumi ketahui, perasaan Hanson lebih tak karuan. Ia mati-matian berusaha menutupi kegugupannya, debaran jantungnya yang tak lagi selaras dengan pikirannya yang terbatas sebagai seorang manusia yang sedang berusaha memperbaiki diri. Kembali sesuatu di bawah sana terasa menegang, Hanson mengatur nafasnya. Mengulur waktu dengan menjatuhkan wajahnya pada ceruk leher Rumi. Spontan Rumi melingkarkan lengannya pada leher Hanson. Dengan posisi seperti itu siapapun yang melihatnya pasti akan salah paham. Dan benar saja,
BRAK!
“Astaghfirullah!” Seruan kaget setelah pintu yang dibuka kasar membuat Rumi dan Hanson menoleh bersamaan.
“Kalian berbuat mesum di rumah ini!” lantang suara Pak RT menatap tajam pada Rumi dan Hanson.
Seketika mereka bangkit, Rumi segera membenahi pakaiannya.
“Mereka memang sering berbuat yang mencurigakan Pak RT,” ucapan Romlah membuat Pak RT dan dua warga laki-laki yang datang bersamanya menjadi geram.
“Kita seret saja mereka keluar Pak RT, kelakuan mereka benar-benar tak bermoral.” Ujar Dirman yang berdiri di samping Romlah.
__ADS_1
“Benar, kita arak mereka keliing kampung. Biar mereka jera!” Marwoto menimpali dengan tak kalah geramnya.
“Jangan! Kami nggak ngelakuin apa-apa, kami cuma –“
“Sudah jelas-jelas kami memergoki kalian sedang berbuat tak senonoh, masih saja mengelak!” Hardik Marwoto.
“Baby, kamu ngomong dong. Kenapa diem aja?” berbisik pada Hanson, wajah Rumi sudah pucat karena tegang dan ketakutan.
“Saya sudah curiga kalau mereka ini bukan saudara Pak RT, soalnya sering mesra-mesraan,”
“Romlah, kamu ngomong apa sih?” Rumi tak terima pada tuduhan Romlah.
“Kalian akan didakwa dengan 2 perkara.” Ucap Pak RT dengan wajah galak. “Pertama kalian membuat pengakuan palsu. Kalian mengaku sebagai saudara pada saya ketika pertama kali datang kesini. Kedua kalian melakukan perbuatan tak senonoh di kampung kami. Jelas saya sebagai ketua RT disini tidak terima bila lingkungan saya dikotori oleh aksi mesum kalian.”
“Benar Pak RT. Sudah jangan lama-lama, kita arak mereka keliling kampung sekarang!” Marwoto segera menarik tangan Hanson diikuti Dirman.
“Pak RT, saya minta maaf. Tolong jangan lakukan ini pada kami” ucap Hanson memohon.
“Tuan, saya nggak nyangka ya, rupanya Tuan sering berena-ena kalo saya nggak ada!” Romlah menatap sinis.
“***-*** apa sih Romlah maksud kamu?” Rumi kesel banget sama Romlah yang dari tadi membuat situasi makin memanas.
“Jangan pura-pura nggak tau, Non. Buktinya saya belum pulang aja, Non Rumi sama Tuan Hanson udah lagi posisi siap tempur. Mau ngapain lagi dalam posisi begitu kalo bukan lagi mau siap-siap ***-***?”
“Romlah, kamu –“
“Diam!” Potong Pak RT. “Bawa mereka ke ruang tamu!” Titah Pak RT pada Dirman dan Marwoto.
Keduanya kini sudah terduduk dikeilingi tatapan megahkimi dari Pak RT, Romlah, Dirman dan Marwoto.
“Atas nama warga disini, saya memberi kalian pilihan jika tak ingin kami beri sanksi sosial berupa diarak keliling kampung.”
Ucapan Pak RT memukul hati Rumi telak. Entah bagaimana jadinya jika hal itu benar-benar terjadi, hancur sudah masa depannya. Apalagi kalau papanya tau.
“Pak RT, aku berani bersumpah. Aku sama Baby, eh sama Hanson nggak ngelakuin apa-apa. Tadi itu hanya salah paham.” Rumi pantang menyerah untuk terus menjelaskan.
Memicing menatap Rumi. “Siapa yang tau? Buktinya sudah di depan mata, dan saya menyaksikannya tak sendirian.”
“Tapi, Pak RT –“
“Sudah, jangan bicara lagi. Saya beri pilihan pada kalian.” Menatap Hanson dan Rumi sejurus. “Kalian menikah sekarang juga atau kami panggil warga lainnya untuk mengarak kalian keliling kampung.”
“Pak RT, kami tidak mungin menikah sekarang. Rumi butuh seorang wali, dan papanya ada di Jakarta.” Hanson melihat pada Rumi yang tertunduk lesu.
“Kan bisa telpon? minta beliau datang kesini sekarang juga kalau nggak mau lihat anaknya viral dimana-mana.”
Menghela napas panjang, “dan papa saya juga berada di Jerman.”
“Baik, kalau begitu saya beri waktu 2 hari. Lusa kalian harus menikah, terserah bagaimana caranya kalian menghubungi orang tua kalian masing-masing.”
“Benar, kami tidak mau tau. Pokoknya kalian harus menikah secepatnya. Sebab kami nggak mau kampung kami ketiban sial gara-gara perbuatan mesum kalian!” Ucap Dirman.
“Saya harus menghubungi Pak Haji Barkah dan Om Jaka dulu,” ucap Hanson.
“Silakan. Dan lebih baik kalian mulai sekarang jangan tinggal serumah lagi.”
“Dan jangan coba-coba kabur!” Imbuh Marwoto lantas mengeluarkan ponselnya.
Cekrek cekrek cekrek
Marwoto mengambil beberapa foto Hanson dan Rumi yang sedang tertunduk mulai menangis.
"Foto kalian akan viral kalo kalian coba-coba kabur. Ingat itu!” Ancam Marwoto dengan wajah galak.
“Baik Pak RT, saya mau ke rumah Pak Haji Barkah dulu. Romlah, tolong kamu jagain Rumi.”
“Siap, Tuan.”
“Schatzi, jangan menangis. Aku akan bertanggung jawab.” Hanson mengusap bahu Rumi lantas segera pergi menuju rumah Haji Barkah.
Dalam perjalanan, Hanson menyempatkan menelpon Om Jaka yang juga ternayta sedang dalam perjalan menuju tokonya di kota.
“Ada apaan sih emangnya?” Om Jaka agak kesal ketika Hanson memintanya untuk balik lagi ke rumah Haji Barkah.
“Penting Om. Pokonya saya mohon dengan sangat Om Jaka harus balik lagi.”
__ADS_1
“Ada-ada aja lu Son ,Son. Ngerepotin gue aja!” Om Jaka mengomel kesal. “Awas aja kalo nggak penting, gue botakin bulu idung lu!” terpaksa Om Jaka putar balik.
Pagi ini memang seharusnya Rumi yang datang ke rumah Haji Barkah untuk belajar ilmu agama seperti biasanya. Melihat kedatangan Hanson yang hanya sendiri tak ayal membuat Pak Haji Barkah heran. Dan keheranannya bercampur kaget ketika Hanson mengutarakan niatnya ingin menikah dengan Rumi lusa nanti.
“Jangan-jangan si Rumi lu buntingin ya?” Tuduh Om Jaka yang baru saja mendaratkan pantatnya, ia pun tak kalah kegetnya mendengar niatan Hanson yang mendadak itu. “Harusnya gue nggak ijinin kalian tinggal serumah, duh! Ini juga salah gue.” Om Jaka diliputi penyesalanl.
“Om Jaka, ini nggak seperti yang Om dan Pak Haji pikirkan.” Terjeda sebentar karena kedatangan Denaya yang membawakan kopi.
“Duduk sini Han,” menepuk sofa disebelahya meminta Denaya ikut bergabung. “Si bule somplak ini bakalan nikah sama pacaranya lusa nanti.”
“Apa? Nikah mau lusa? Eh, lusa mau nikah?” Denaya sampe salah karena saking surprisenya. “Kenapa buru-buru? Hanif, apa kamu melakukan perbuatan keji dengan Rumi?” pandangan Denaya tajam, berharap saudara angkatnya yang baru saja menjadi mualaf itu tak melakukan perbuatan yang ia pikirkan.
Hanson menghela napas sejenak, ia tau akan mendapat rentetan pertanyaan dengan keputusannya itu. kemudian Hanson mulai menceritakan semuanya, secara detail tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Dan itu sukses membuat ketiga orang di depannya menatapnya seolah tak percaya dengan jalan pkiran Hanson alias Ahmad Faza Al-Hanif.
“Jadi lu bikin jebakan Batman buat pacar lu sendiri?” Om Jaka geleng-geleng kepala.
“Ya mau gimana lagi Om? Aku takut iman aku yang hanya secuil ini akan goyah. Bukankah salah satu godaan terbesar bagi kita kaum adam adalah wanita selain harta dan tahta?”
Om Jaka dan Pak Haji Bakah menghela napas hampir bersamaan. Ya, teranyata Hanson yang sudah mengatur semuanya. Semalaman ia berpikir bagaimana caranya agar Rumi mau menikah dengannya secepatnya. Hanson sungguh takut tak bisa menjaga hatinya jika sikap Rumi terus-terusan memancing kesabarannya. Dan berkat bantuan Romlah, akhirnya terjadilah drama pertunjukkan yang sangat dramatis dan apik tadi pagi.
“Jadi semua itu hanya setingan?” Gumam Denaya. “Kasihan Rumi, dia pasti sangat shock.”
“Hani, itu semua kan demi kabaikan dia.” Mengelus lengan Denaya.
“Kalau begitu sebaiknya kamu cepat hubungi papamu dan calon papa mertuamu.” Ucap Pak Haji Barkah. “Nanti biar Jaka dan saya yang siapkan segala keperluan kalian untuk menikah.”
“Tapi Yah, dia kan bukan WNI, gimana bisa nikah dalam tempo yang sesingkat-singakatnya? Kan ijinnya ribet? Orang naskah proklamasi aja kudu ada revisi sebelum dideklarasikan?” Sungut Om Jaka.
“Jaka, jangan mempersulit apa-apa yang bisa dilakukan dengan mudah. Hanif dan Rumi kan bisa menikah secara agama dulu.”
“Iya Beb, bener itu. yang penting sah dulu.” timpak Denaya.
“Hem, okelah kalo begitu.” Om Jaka sepakat. “Kalo gitu gue cari penghulunya dulu ya.”
“Maksih ya Om, maaf selalu merepotkan” ucap Hanson dengan senyum mengembang penuh kelegaan.
“Kagak usah basa-basi lu! Emang elu biang kerok, ngerjain gue mulu!” Omel Om Jaka.
“Jaka,” Pak Haji memperingatkan.
“Liat Han, sekarang Ayah lebih memebela si bule somplak ini daripada suamimu sang mantu kesayangannya” sungut Om Jaka pada Denaya.
Denaya malah tersenyum lebar mendengar pengaduan suaminya.
“Sudah,nggak usah merajuk." Ucap Haji Barkah. "Hanif, sekarang lebih baik kamu cepat hubungi papamu dan juga papanya Arumi.” Kembali Haji Barkah mengingatkan.
“Oh iya, mereka sudah aku telpon kok semalam. Aku menceritakan tentang semua rencana yang akan aku jalankan hari ini, dan Alhamdulillah mereka mendukungku. Jadi papanya Arumi mungkin akan tiba sore ini, aku jemput di stasiun nanti. Kalau papaku mungkin agak malam, soalnya pesawatnya siang ini transit dulu di Thailand.”
Pak Haji kompakan manggut-manggut bareng Om Jaka dan Denaya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Dear readers,
Nah ketahuan kan Hanson minta tolong apaan sama Romlah tadi pagi?😊
Tetep like dan tetap komen ya 😉
Hanson dan Rumi pun bagian cerita yang harus othor selesaikan permasalahannya.
Ramzi dan Sofi pun itu belum selesai lho. Jangan lupakan Tuan Alatas wahai Marimar, urusan Ramzi dan papanya belom kelar. Slowly setelah ini otw kesana ya. othor selesaikan satu-satu masalah dalam semua tokohnya sebelum benar-benar end novel ini.Termasuk Azad dan Jane. 😍
Via dan Mirza?
Bab depan nongol kok. Masih belum bahagia mereka? Bu Een belum tobat juga?
Sabar, sayang …. Othor sedang berjuang menyelesaikannya. Jangan lupakan masih ada Danar diantara mereka.☺️
Jadi masih berapa panjang lagi thor episodnya?
Othor nggak tau. Pokoknya sampai othor menyelesaikan semua unek-unek othor tanpa intervensi siapapun. Hehe…
Dan othor pun nggak bisa maksa readers untuk tetep ngikutin kisah ini. Semuanya terserah readers aja. Karena pembaca memang datang dan pergi, mereka punya hak untuk memilih bacaan yang diinginkannya.
Begitu pun dnegan author, tugasnya menuliskan semua yang ada dikepala sampai selesai!
__ADS_1
Salam sayang dan peluk online untuk kalian semua yang masih setia stay disini 🤗🤗
I love you all,😘😘