
Setelah mengetahui sang Tuan Besar adalah ayah dari Ramzi dan mertua dari Sofi, entah mengapa Mirza merasa ada sedikit yang mengganjal dalam hatinya. Perasaan itu harusnya tak perlu ada, apalagi sampai mengganggunya karena ia telah memilih berdamai dengan masa lalu.
Pantulan sinar matahari pagi menampar jernih permukaan air dalam kolam renang di area rooftop istana Tuan Alatas. Sang Tuan besar baru saja menyelesaikan aktifitas berjemurnya, ia nampak kesulitan meraih bath robe-nya di atas meja tepi kolam, untuk beberapa saat Mirza tak menyadarinya, Tuan Alatas juga nampak enggan untuk meminta tolong. Ia hanya melirik sekilas pada Mirza yang duduk dengan pandangan ke depan, kosong menatap entah. Namun untunglah sejurus kemudian Mirza sadar diri, jika tidak mungkin sudah membuat sang Tuan Besar murka.
“Biar saya bantu, Tuan,” segera meraih bath robe dan membantu mengenakannya pada sang Tuan.
Dengan menyeret langkahnya, tertatih Tuan Alatas berjalan meninggalkan tepi kolam.
“Tuan, mari saya antar –“ Mirza mendorong kursi roda menjajari langkah Tuan Alatas.
“Tidak perlu,” menyahut acuh, meski tampak kepayahan karena baru pulih dari stroke ringan dan radang sendi yang belakangan menyerangnya, Tuan Alatas kali ini tak mau memakai kursi roda.
Mirza paham, Tuannya itu pasti kesal padanya. Segera ia mengikuti Tuan Alatas dari belakang hingga mencapai kamar pribadinya.
“Kamu boleh pergi,” ucap Tuan Alatas dingin seperti biasanya.
“Saya akan siapkan obat yang harus Anda minum terlebih dahulu, Tuan,” berjalan menuju nakas sementara Tuan Alatas duduk di sofa single sudut ruangan.
Segala gerak gerik Mirza tak luput dari perhatin sang Tuan Besar, instingnya seperi detektif yang cepat sekali mencium kecurigaan.
“Apa kamu ingin berhenti bekerja?” todong Tuan Alatas sekonyong-konyong membuat Mirza yang hendak meletakan gelas berisi air sempat freeze sejenak.
“Mak – sud, Tuan?” bertanya tak mengerti.
Memicingkan kedua matanya, “kamu sedang dalam masalah,” ucap Tuan Alatas, -itu lebih terdengar seperti tuduhan daripada pertanyaan.
Terperanjat sebentar, namun lantas segera menutupinya. Diletakkannya gelas dan beberapa pil yang sudah ia siapkan di dekat sang Tuan Besar.
Hati Mirza tak karuan, majikannya itu benar-benar mencium gelagatnya. Namun tentu saja tak mungkin baginya utuk membenarkan tuduhan Tuannya barusan. Tak mungkin Mirza mengatakan bahwa kenyataan sang Tuan Besar adalah ayah mertua dari Sofi telah mengganggu pikirannya. Mirza menolak keras prasangka-prasangka buruk yang sempat beberapa kali mengusai benaknya; bagaimana kalau Tuan Alatas tau bahwa dirinya dan Sofi dahulu pernah terlibat hubungan terlarang? –meski diakuinya karena kekhilafannya. Bagaimana kalau Tuan Alatas murka lalu memecatnya sedangkan ia sangat membutuhkan pekerjaan saat ini?
“Sebenarnya saya ingin membicarakan sesuatu, Tuan,” ungkap Mirza kemudian.
Tak menyahut, meraih gelas dan meminum beberapa pil yang sudah disediakan untuknya.
“Tuan, apakah tidak sebaiknya Tuan mengikuti terapi?” sambung Mirza, utunglah menemukan hal yang tepat untuk menjawab kecurigaan sang Tuan.
“Saya tidak akan pergi ke rumah sakit untuk urusan apapun,” ucap Tuan Alatas meletakkan gelasnya kembali.
“Maaf, Tuan. Menurut saya, itu akan sangat membantu pemulihan kesehatan Anda.”
“Kamu tidak punya hak memaksa saya!” tegas Tuan Alatas dengan menajamkan kedua matanya.
Mirza mengangguk, “baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Tuan,” memilih pergi meninggalkan sang Tuan dan segera menarik napas lega begitu keluar ruangan karena merasa berhasil lolos dari kecurigaan.
Hari itu rekor bagi Tuan Alatas karena berbicara dengan kata lebih banyak dan mampu merangkai kalimat utuh yang terdiri dari subjek, predikat, objek dan keterangan pada Mirza –kayak anak SD lagi belajar bikin kalimat lengkap, wkkwkwk. Meski jantungnya berdegup sedikit lebih kencang namun Mirza cukup senang juga Tuannya berbicara lebih banyak padanya.
Mirza kembali ke kamarnya, mengatur langkah yang akan ia lakukan untuk tetap bisa tinggal di istana Tuan Alatas. Dipijitnya ringan kedua pelipisnya. Rumor yang tak sengaja ia dengar dari beberapa pelayan setelah kejadian penyingkiran foto-foto Ramzi dan Sofi dari istana megah ini beberapa hari yang lalu, Mirza mengetahui fakta bahwa hubungan sang Tuan dengan anak dan menantunya itu sangat tidak baik, dan itulah yang menyebabkan kesehatannya terus memburuk dan bersikap sangat dingin pada semua orang. Mirza juga telah berhasil mengorek keterangan dari Rinara mengapa Tuan Alatas sampai begitu benci pada Sofi, jawabannya tentu saja membuat Mirza ketar ketir. Tuan Alatas mengetahui semua sepak terjang Sofi sejak belum resmi menjadi menantu di istana ini.
Mirza tidak boleh pergi dari istana Tuan Alatas, dia sangat membutuhkan pekerjaannya. Dia harus berusaha membuat sang Tuan yakin dan percaya penuh padanya, dia harus membuat Tuan Alatas benar-benar nyaman dirawat olehnya.
Diraihnya smart phone dari laci nakas untuk diaktifkan kembali. Ia mencari segala informasi yang berkaitan dengan penderita jantung koroner dan hal-hal yang baik untuk dilakukan agar tetap hidup sehat. Sejak hari itu, disela waktu luangnya Mirza sibuk dengan berbagai macam bentuk terapi untuk penderita jantung sebelum ia terapkan sendiri pada sang Tuan.
-
-
-
Senja menggantung di langit barat, dari taman rooftop istana wemahnya, Tuan Alatas tengah memeriksa berkas yang dibawa sekertarisnya. Sejurus kemudian ia tampak mengamati layar laptopnya.
“Pergilah, jual sebagian saham kita yang terus merosot,” ucapnya seraya menutup laptopnya setengah jengkel.
“Tapi Tuan, perusahaan akan semakin merugi,” sang sekertaris modis yang mengenakan blazer peach itu menolaknya.
“Jangan membantah kalau tidak ingun ku pecat!” manatap tajam membuat sang sekertaris ciut nyali.
“Baik, Tuan. Segera akan saya berikan laporannya,” bangkit kemudian minta diri dengan meraih kembali beberap map yang tadi dibawanya.
Kondisi perusahaan yang sedang tidak stabil karena saham terus merosot tajam membuat Tuan Alatas semakin dalam tekanan. Ia terdiam di atas kursi rodanya dengan berbagai macam pikiran kusutnya. Di sisi kolam renang ia perhatikan Mirza yang tengah duduk menatapi layar gadgetnya, hembusan angin sore nan semilir agaknya membuat Mirza khusuk dalam posisinya. Beberapa kali Tuan Alatas berdesis memijat keningnya. Ia menundukkan pandangan cukup lama seolah sedang menghitung di atas lantai akan untung rugi perusahaannya selama ini.
“Tuan, apa sudah ingin masuk sekarang?” pertanyaan Mirza yang tiba-tiba agak mengejutkan Tuan Alatas.
“Kau sudah selesai?” Tuan Alatas balik bertanya.
Mirza hanya mengangguk, kenapa juga Tuannya malah bertanya seperti itu?
“Apa yang kamu lakukan?” kembali bertanya.
“Hanya membaca beberapa artikel tentang penyakit jantung. Saya pikir –“
“Antar saya ke kamar,” pangkas Tuan Alatas yang sepertinya tak ingin mendengarkan penjelasan Mirza lebih lanjut.
“Baik, Tuan,” menurut saja, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk berbicara dengan sang Tuan.
Sesampainya di kamar, Tuan Alatas meminta untuk ditinggalkan sendiri, ia tampak lebih murung dari biasanya. Setelah memastikan sang Tuan tak membutuhkan apapun, Mirza menuju kamarnya untuk beristirahat.
Beberapa jam berselang, ketika Mirza baru saja usai menunaikan shalat isya, pintu kamarnya diketuk dengan tergesa. Seorang palayan laki-laki berdiri dengan wajah tegang di depan kamarnya.
“Tuan, Tuan Besar memburuk,” ucapnya setelah Mirza membuka pintu. “Tuan Gerald meminta Anda segera kesana.”
Tanpa menyahut, Mirza segera menutup pintu dan berjalan cepat menuju kamar pribadi Tuan Alatas dengan masih mengenakan sarung, baju koko dan pecinya serta menenteng sajadah bludrunya.
“Gerald, apa yang terjadi?” Tanya Mirza yang mendapati sang Tuan terbaring lemah di atas tempat tidur mewahnya.
“Aku rasa Tuan Besar pingsan, ia tak menyahut waktu aku mengetuk pintu untuk membawakannya makan malam,” Gerald tampak sangat cemas.
Mirza meraba nadi Tuan Alatas, lemah. Gegas ia meminta Gerald untuk menghubungi dokter Janson. Namun kemudian terdengar Tuan Alatas seperti mengigau dengan suara lemah, kepalanya menggeleng samar. Mirza dan Gerald saling pandang, keduanya memaknai mungkin itu isyarat jika sang Tuan tak ingin ditangani oleh dokter. Lantas Mirza gegas menuju kamarnya untuk mengambil tensimeter. Tekanan sistoliknya mencapai 150 mmHg, tekanan diastoliknya mencapai 90 mmHg , hasil yang didapatkan.
“Bagaimana?” Tanya Gerald.
“Cukup tinggi, aku akan bertanya pada dokter Janson apakah baik jika diberikan obat penurun tekanan darah sekarang.”
Gerald mengangguk lantas memberikan ponselnya, Mirza keluar ruangan untuk berbicara dengan dokter Janson, disana ada dua orang pelayan laki-laki yang siaga berdiri sepeti bodyguard.
Setelah selesai Mirza segera masuk kembali, ia mengambil obat yang dimaksudkan dokter Jonson dari kotak obat Tuan Alatas.
“Bantu aku untuk mengubah posisinya, Gerald. Tuan Besar tidak boleh dalam posisi berbaring,” ucap Mirza.
“Baik,” segera membantu menyiapkan bantal dan membenahi posisi seperti yang diminta Mirza.
“Minum obatnya, Tuan,” Mirza duduk di tepi ranjang meminumkan obat dibantu Gerald.
“Apa dokter Janson akan kemari?” Tanya Gerald setelah sang Taun selesai minum obat.
“Tidak, biar aku temani Tuan Besar malam ini. Aku akan melaporkan pada dokter kalau ada perkembangan apapun.”
“Baiklah, aku akan berjaga diluar jika perlu sesuatu,” sahut Gerald.
“Terima kasih.”
“Oya, kamu pasti belum makan malam kan? Aku akan minta pelayan membawakannya kemari untumu.”
“Nggak usah, nanti saja. Aku belum lapar.”
Gerald hanya mengangguk, lantas segera keluar.
Malam itu, Mirza berbaring di sofa sudut ruangan. Sesering mungkin ia pastikan keadaan Tuannya baik. Malam merambat laut, Tuan Alatas pun nampaknya pulas dalam tidurnya. Mirza coba memejamkan kedua matanya, telah banyak informasi dan artikel yang dibacanya berkaitan dengan penyakit sang Tuan, namun belum ada sepertinya yang cocok untuk diterapkan pada Tuan Alatas. Setelah enggan ke rumah sakit, ia juga kini enggan bertemu dengan dokter Janson. Mirza menghela napas berat, mungkin Tuan Alatas hanya bosan dengan kenyataan dirinya seperti sekarang.
Lelah dengan pikiranya sendiri, Mirza tertidur hingga subuh menjelang. Ia sempat terperanjat karena merasa lengah dengan keadaan sang Tuan. Namun ia segera lega setelah mendekat ke ranjang, dan Tuan Alats masih lelap dalam tidurnya.
Sajadah panjang ia hamparkan di atas karpet Armenia bermotif Elang Naga berwarna maroon di sisi ruangan, dua rakaat ia tunaikan dalam hening. Selama ia tinggal di istana Tuan Alatas, rasanya baru kali ini ia khusyuk dalam sudutnya. Betapa banyak masalah dalam pikirannya, hingga membuat ibadahnya terasa hambar.
Tepekur cukup lama usai salam, melantunkan sebait doa-doa untuk anak dan istri tercinta. Perih teringat Nala, jam segini biasanya bayi mungil itu sudah terjaga. Bola mata beningnya sungguh membuatnya rindu, Mirza akan menciumi bayi itu hingga sang istri mengomelinya karena dianggap terlalu usil. Biasanya mereka akan berdebat kecil siapa yang akan mandi lebih dulu karena masing-masing igin bersama Nala. Tak terasa bulir bening merembes dari kedua sudut matanya, belum lama ia rasakan kebahagiaan menjadi seorang ayah namun kini ia meninggalkan mereka sebagai seorang pengecut.
__ADS_1
Rangkaian doa pun ia sematkan untuk ibunda tercinta. Semua perdebatan-perdebatannya dengan Bu Een masih terekam jelas dalam memorinya, namun tentu saja sebagai seorang anak yang selalu berusaha berbakti, Mirza tak mampu membenci ibunya. Dia sangat sadar, tanpa sang bunda tentu dia tak akan lahir ke dunia. Mengingat sang bunda dalam doanya membuat Mirza sedih dan menerbitkan sesal. Siapa yang menjaga ibunya pasca operasi? Siapa yang akan menyiapkan segala kebutuhan sehari-hari ibunya? Siapa yang nanti akan mengantarnya check up ke dokter? Perasaannya kian nelangsa hingga membuat tangisnya pecah, bahunya berguncang menahan isaknya, Mirza sungguh merasa menjadi seorang anak yang lalai pada orang tua.
Masih dalam posisinya, Mirza mendengar suara samar yang membuatnya menoleh ke arah Tuan Alatas. Diusapnya kedua mata namun masih menyisakan jejak basah disana. Mirza segera menghampiri. Benar saja, ternyata Tuannya sudah bangun, ia tengah berusaha meminta minum dengaan suaranya seraknya.
“Tuan, Anda sudah bangun? Apa Anda perlu sesuatu?”
“Minum …” ucap Tuan Alatas.
Gegas Mirza mengambilkan segelas air dan membantu Tuannya untuk minum.
Tuan Alatas kemudian menunjuk jendela dan pintu balkon. Mirza paham, ia buka semua tirai kamar dan pintu balkon yang segera mengantarkan udara segar pagi hari.
“Apa Tuan ingin keluar?”
Tuan Alatas menggeleng.
“Mirza, apa kamu menangis?”
Deg!
Mirza sempat terkejut dengan pertanyaan Tuannya. Bukan itu saja, selama ia tinggal merawat sang Tuan, baru kali ini Tuan Alatas menyebut namanya.
Gegas Mirza usap kembali kedua matanya yang masih basah, “Tuan, saya hanya –teringat keluarga saya.“
“Apa kamu merindukan mereka?”
Mengangguk pelan, entah mengapa hatinya kembali mellow.
“Apa kamu berharap aku akan memberimu cuti kerja?”
Segera menggeleng, “Tidak Tuan. Saya tidak mungkin meninggalkan Anda.”
“Kenapa tidak? Apa keluarga tidak lebih penting buatmu?”
Tersenyum kecil, “tentu saja penting. Keluarga adalah segalanya bagi saya, Tuan. Saya yakin Tuhan akan menjaga mereka, saya selau berdoa untuk mereka.”
“Bagaimana kalau Tuhan tidak menjaga mereka dengan baik?”
Mirza mengernyit, Tuan Alatas mimpi apa semalam rupanya? Sepagi ini sudah berprasangka buruk pada Tuhan? Batin Mirza sedikit heran.
“Tuhan itu seperti prasangka hambanya, Tuan. Jika kita berprasangka baik, maka baik pulalah IA kepada kita, begitu pun sebaliknya.
Tak menjawab, Tuan Alatas kemudian minta dibantu menuju balkon dengan kursi rodanya.
Tadi bilangnya nggak mau? Sekarang malah minta keluar? Mirza membatin lagi.
Langit masih kelabu dengan semburat keemasan di ufuk timur, dari balkon kamar ini mereka bisa menyaksikan pemadangan yang tersaji indah.
Wajah Tuan Alatas sudah nampak lebih segar kini, udara pagi telah membuat moodnya baik.
“Saya punya seorang anak laki-laki,” ucap Tuan Alatas tanpa melihat ke arah Mirza. “Dia satu-satunya kebanggaan saya.”
Iya, saya tau kok. Namanya Ramzi kan? Sahut batin Mirza.
“Dia menangani semua bisnis keluarga dengan baik. Dia hampir sempurna sebagai seorang laki-laki, hanya ada satu kekurangannya,” sambung Tuan Alatas masih dengan pandangan sama, menerawang langit pagi.
Mirza tak ingin bertanya, hingga membuat Tuan Alatas melanjutkan sendiri kalimatnya, “ia dikalahkan oleh seorang perempuan,” lanjutnya getir.
Mirza tau maksud Tuan Alatas, agak merasa sesak dalam dadanya. “Tuan, kehadiran perempuan dalam hidup seorang laki-laki justru untuk menguatkan. Jadi menurut saya tidak ada istilah kalah menang satau siapa yang lebih mendomanasi diantara keduanya ketika mereka sudah menikah,”
“Kamu tau kalau anak saya sudah menikah?” menoleh pada Mirza.
Menyahut agak ragu, “saya –mengetahuinya dari –“ terbata karena merasa salah ucap.
“Saya ingat dengan CV yang kamu ajukan,” memangkas kalimat Mirza, “Kamu pernah di Delta Cruise?”
Mengangguk samar, tak menyangka Tuannya akan menanyakan ini. “Kamu mengenal istri dari anak saya?”
Deg!
“Perempuan itu mengidap suatu syndrom,” lagi-lagi Tuan Alatas memangkas, “ada kemungkinan kamu pernah bertemu dengannya di medical center, atau kamu bahkan pernah merawatnya.”
Segera mencari jawaban selanjutnya yang masuk akal, dan beruntung terselamatkan oleh suara ketukan pintu ruangan yang agak keras sehingga menyita perhatian Tuan Alatas.
Gerald muncul dari balik pintu dengan wajahnya yang sudah fresh. “Maaf, Tuan. Saya mengetuk pintu terlalu keras, saya pikir tidak ada yang mendengarnya karena takut terjadi sesuatu,” ucapnya setelah mendekat.
“Ada apa?” Tuan Alatas bertanya datar.
“Dokter Jonson menunggu Anda di bawah.”
“Siapa yang menghubunginya?” menatap Mirza seolah bertanya padanya, Mirza segera menggeleng.
“Dokter sengaja datang karena sejak lepas subuh tadi menghubungi Mirza tak ada jawaban,” ucap Gerald.
“Katakan padanya, aku baik dan tak perlu ia khawatirkan.”
“Tapi, Tuan –“
“Mulai hari ini dia yang akan betanggungjawab penuh dengan kesehatan saya,” melihat pada Mirza yang sempat merasa kaget.
“Tapi Mirza bukan dokter, Tuan. Dia hanya perawat,” ucapan Gerarld sukses membuat Tuan Alatas menghunus tajam kedua matanya hingga membuat Gerald tak berani lagi membantah, “baik, Tuan,” ucap Gerald segera keluar ruangan.
-
-
-
Hari-hari terus bergulir, meski keadaan Tuan Alatas tidak terlalu menunjukkan perkembangan yang berarti namun ia terlihat lebih sering ngobrol dengan Mirza, seperti siang ini lepas minum semua obatnya Tuan Alatas meminta Mirza untuk menemaninya di ruang kerjanya.
“Tuan, apa Anda benar-benar berpikir saya bisa menangani kesehatan Anda?” tanya Mirza yang tampak sudah mulai merasa lebih dekat dengan sang Tuan.
“Ya,”
“Kalau begitu, bolehkah saya meminta Anda untuk tidak lagi sibuk dengan laptop atau yang sejenisnya dengan itu?”
Melihat dengan tatapan datar, seolah ingin berkata ‘tidak’ namun enggan terucap.
“Saya pikir itu akan mempengaruhi masa pemulihan Anda.”
“Begitu menurutmu?”
“Ya,” jawab Mirza yakin. “Karena setiap kali Anda selesai dengan semua itu, Anda akan terlihat murung, dan itu tidak baik untuk kesehatan Anda.”
Terdiam, mungkin dalam hati kecilnya membenarkan juga ucapan Mirza. Dirinya memang kerap merasakan urat-urat syarafnya menegang setiap kali selesai membaca laporan perusahaan.
“Tuan, Anda punya banyak orang kepercayaan, kenapa tidak memberikan kepercayaan penuh pada mereka untuk urusan pekerjaan?”
Masih setia dalam diam, menatap kosong layar monitor di depannya. “Apa menurutmu jika aku punya anak laki-laki dia akan bersikap sama sepertimu?” kalimat tanya yang terlontar dari Tuan Alatas begitu lirih.
Mengernyit sejenak, “bukankah Tuan memang punya anak laki-laki?”
Menyandarkan punggungnya seraya menghela napas berat, terdiam kembali untuk beberapa saat.
“Tuan, setiap anak pasti akan melakukan hal terbaik yang ia mampu untuk orang tuanya,” ujar Mirza kemudian.
“Aku sudah lama merasa seperti tak punya anak,” menggumam pelan seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Apa ini ucapan keputusasaan dari Tuan Alatas? Kemana pergiya Tuan Besar yang terkesan tegas, keras dan arogan itu? kenapa mendadak ia menjadi mellow begini? Batin Mirza heran.
Namun kemudian Mirza seperti turut larut dalam suasana hati sang Tuan. Mungkin seperti itu yang juga tengah dirasakan ibunya. Ditinggalkan anak kesayangan satu-satunya, terlebih lagi Bu Een tak punya siapa-siapa untuk diandalkan, tak seperti Tuan Alatas yang dikelilingi begitu banyak pelayan yang setia dan loyal padanya. Tapi itu salah Bu Een juga yang tak pernah bersikap baik pada orang lain. Mirza membuang napas kasar hingga membuat Tuan Alatas menoleh padanya.
“Apa yang kamu pikirkan?” pertanyaan Tuan Alatas membuat Mirza tertegun sebentar.
__ADS_1
“Percayalah Tuan, setiap anak pasti menyayangi orang tuanya. Terlebih lagi orang tuanya sudah memberikan segalanya dengan segenap jiwa raga,” berujar seperti sedang meyakinkan orang tuanya sendiri.
“Tapi pengorbanan seorang anak belumlah seberapa.”
“Tentu saja Tuan, karena pengorbanan orang tua tak kan mampu terbalaskan, meski seorang anak memberikan nyawanya sekalipun.”
Tersenyum samar, “terima kasih ya, kamu sudah berusaha menghibur saya,” ucap Tuan Alatas.
Itu pertama kalinya Mirza melihat Tuan Alatas tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya. Rapanya Tuan besar itu bisa bilang terima kasih juga, Mirza balas teresenyum.
“Saya mengatakan yang sebenarnya, Tuan. Saya tidak sedang menghibur Anda,” ucap Mirza kemudian.
“Kamu masih punya orang tua kan?”
Mengangguk, “seorang ibu, ayah saya telah lama meninggal.”
“Apa hubunganmu baik dengannya?”
Mengangguk lagi, namun hati kecilnya berkata ‘tidak terlalu’
“Apa kamu punya anak?”
Mengangguk untuk ketiga kalinya, “seorang putri kecil.”
“Apa yang akan kamu lakukan jika suatu saat nanti putrimu menentang pilihan terbaik yang kamu berikan padanya?”
Terdiam sejenak, Tuannya itu rasa-rasanya mirip seperti presenter quiz, kenapa nanya mulu dari tadi sih?
Memberanikan diri menatap sang Tuan masih dalam bibir terkatup.
“Sudahlah, tidak usah dijawab,” putus Tuan Alatas berusaha bangkit dari duduknya dengan berpegangan pada lengan kursi kerjanya. “Kamu belum lama menjadi orang tua, aku bertanya pada orang yang tak tepat.”
“Apapun yang putriku inginkan kelak, selama dia bahagia dengan pilihannya Insya Allah aku akan mendukungnya,” ucap Mirza seraya mendekat untuk membantu Tuan Alatas duduk di atas kursi rodanya. “Karena yang terbaik menurut orang tua belum tentu akan membuat seorang anak bahagia,” lanjut Mirza.
Tuan Alatas tanpa kata, gegas Mirza membawanya menuju kamar pribadi sang Tuan karena ini sudah waktunya untuk rehat.
“Selamat beristirahat, Tuan. Saya akan kembali sore nanti,” ucap Mirza sesudah menyimpan kursi roda di sudut ruangan.
“Temui Gerald setelah ini, besok kita akan pergi,” titah Tuan Alatas yang sukses membuat Mirza heran.
“Pergi kemana, Tuan?”
“Ke sebuah acara resepsi pernikahan.”
“Resepsi pernikahan?” semakin heran.
Mengangguk, “ia mantan asisten pribadi anak saya. Wanita yang ideal untuk dijadikan menantu,” terdengar kecewa diujung kalimatnya.
Mirza mengerti perasaan sang Tuan, “berdamailah dengan masa lalu, Tuan. Itu akan membuat Anda lebih tenang dan bahagia.”
Tak menjawab, raut wajahnya masih menampakkan kekecewaan.
“Keadaan yang sekarang itulah yang terbaik bagi kita, Tuan. Daripada Anda merasa kecewa berlarut-larut, kenapa tidak menerima kenyataan anak dan menantu Anda yang sekarang?”
Bergeming dalam kebisuannya.
“Saya yakin, jika Anda membuka diri untuk mereka, mereka pun akan sangat bahagia kembali pada Anda.”
Masih tak merespon. Mirza paham hati kecil Tuan Alatas berkecamuk dengan berbagai penolakan, tentu saja ia dipenuhi dengan gengsi tingkat dewa. Namun setidaknya Tuan Alatas lebih baik dari ibunya yang selalu menentang dengan kalimat-kaliamat keras dan menyakitkan. Dalam hati Mirza bertekad akan membuat Tuan Alatas luluh.
“Tuan, hubungan darah itu tidak akan terputus walau sampai kapan pun. Semarah apapun Anda pada anak Anda, dia tetap darah daging Anda, tidak ada yang bisa mengubahnya. Dan saya yakin, anak Anda pun sebenarnya pasti sangat menyayangi Anda,” Mirza mengenal pribadi Ramzi, dia laki-laki yang baik, maka dari itu dia bisa sangat yakin mengatakannya pada Tuan Alatas.
Mendengus gusar, “sudahlah, simpan ceramahmu itu untuk nanti. Cepat pergi temuai Gerald sekarang,” Tuan Alatas memalingkan pandangannya.
Mirza hanya menghela napas, “baik, Tuan,” memutar tumitnya meninggalkan ruangan sang Tuan. Semua kata-kayanya ternyata dianggap ceramah oleh sang Tuan, hem...
Tak sulit mencari sosok Gerald, Mirza bertemu dengannya di taman belakang istana yang luas, Gerald baru saja selesai memberikan instruksi pada para pekerja kebun istana.
“Gerald,” panggil Mirza. “Tuan Besar menyuruhku untuk menemuimu.”
Menoleh dengan wajah masam, tak seperti biasanya.
“Kau terlihat sangat dekat beberapa waktu belakangan ini dengan Tuan Besar,” ujar Gerald sedikit kesal. “Bakan lebih dekat dari pelayan pribadinya.”
Menautkan kedua pangkal alisnya, “Kamu cemburu? Kamu iri denganku?”
“Kamu berani bilang begitu padaku? Aku sudah belasan tahun bekerja disini,” tegas Gerald.
“Ya terus? Kamu nggak suka negliat aku –“
“Kamu pasti punya maksud tertentu,” langsung menuduh tanpa basa basi.
“Aku nggak mau debat, terserah kamu mau bilang apa,” Mirza menyugar rambutnya kesal. “Aku hanya melakukan yang terbaik sebagai perawat pribadinya.”
“Tapi yang kamu lakukan melebihi seorang perawat, itu sebabnya aku katakan Tuan Besar butuh seorang dokter bukan hanya perawat, " sarkas Gerald.
“Dan yang Tuan Besar butuhkan bukan hanya pengobatan penyakitnya, tapi juga psikisnya. Dia butuh teman bicara, dia butuh seseorang untuk menjadi pendengar yang baik!”
“Psikis katamu? Apa kamu pikir Tuan Besar mengalami gangguan jiwa?” menaikkan intonasinya.
“Gerald, kamu lho ya yang bilang? Bukan aku! Aku nggak bilang begitu!”
Melihat sekeliling, khawatir ada yang mendengar perdebatannya. “Kamu bukan psikolog, paham?”
“Dan kamu –“
Drrrt Drrrrt ….
Ponsel dalam saku jas Gerald bergetar membuat Mirza tak melanjutkan kalimat kejengkelannya.
“Ya, Tuan?” segera Mirza menjawab panggilan sang Tuan melalui ponselnya. Tampak khusuk mendengarkan suara Tuan Besar. “Baik, Tuan. Kami akan pergi sekarang.”
Terpaku di tempatnya, wajah kesal Gearld menguap seketika. “Cepat ikut aku, Tuan Besar ingin melihatmu tampil rapi saat menemaninya di acara besok!”Ujar Gerald balik badan lebih dulu.
Segera Mirza menjajari langkah-langkah lebar Gerald.
“Apa itu artinya kamu mau ngajak aku shopping?” tanya Mirza dengan wajah polos. “Emh, maksudku apa aku harus pake pakaian kayak kamu gini, setelan jas dan –“
“Bagusan kamu pake baju perawatmu, itu lebih pantas!” cibir Gerald tanpa menoleh.
💕💕💕💕💕
Huah, 3559 words sampai kata menoleh
🤣🤣
Panjang pake banget ya episode flashback-nya, wkwkwk…😆😆😆
Biar semuanya jelas dan gamblang, kagak ujug-ujug jreng, hehehe…
😁😁
Chapter depan udah balik part kondangan lagi kok
😍😍😍
Terima kasih banyak buat kalian para readers kesayangan yang tak henti kasih support othor awut-awutan dengan novel abal-abalnya ini.
🙏🙏
You are the best, dear
🥰🥰
__ADS_1
Love you all🤗🤗🤗😘😘😘