
Tiga hari setelah kepulangan Denaya dan Om Jaka dari Jakarta, kediaman Haji Barkah memang sudah dipenuhi dengan berbagai sembako yang menumpuk berkarung-karung di gudang samping rumah Pak haji. Beberapa karyawan Pak haji nampak sibuk membantu mengemasi sembako dan Pak haji memantau pekerjaan mereka.
Sedari masih di Jakarta, Om jaka dan Denaya memang sudah punya ide untuk mengganti acara resepsi pernikahannya dengan acara bagi-bagi sembako gratis saja untuk para warga yang kurang mampu. Entah nemu Ilham dari mana, saat itu Om Jaka yang baru pulang selesai menarik semua investasinya di perusahaan property milik teman bisnisnya tiba-tiba Om Jaka mencetuskan ide itu, dan Denaya langsung menyetujuinya. Maka setelah mengehitung semua biaya resepsi pernikahan yang diperkirakan menelan biaya hampir setengah EM, Denaya dan Om Jaka memberitahu rencana tersebut pada Haji Barkah,ternyata Pak Haji pun menyambut baik niatan mulia anak dan menantunya itu.
Maka hari ini, Pak haji menginstruksikan pada semua karyawan toko matrialnya di 8 cabang untuk tutup agar bisa membantu jalannya pembagian sembako gratis di setiap keluarahan pada tiga kecamatan terdekat. Tak kurang dari 2000 tiket sembako gratis dibagikan sehari sebelumnya oleh para aparat desa masing-masing kelurahan.
“Giman Yah, semuanya lancar kan?” Tanya Denaya pada Pak Haji sembari meletakkan satu mug teh panas untuk ayahnya itu.
“Inya Allah, Dena.” Sambut Pak Haji. “Jaka mana? Ayah ingin melihat pembagian sembako secara langsung.”
“Masih di dalam. Nggak usah lah Yah, kita percaya aja sama meraka.” Denaya agak keberatan.
“Ayah cuman pingin lihat saja kok. Kalo kamu nggak mau ikut, ya biar Ayah sama Jaka saja.” Pak Haji mengambil mugnya dan mulai menghirup teh panasnya yang masih mengepul.
Denaya beranjak bermaksud memberitahukan keinginan ayahnya pada suaminya. Om Jaka yang baru selesai berpakain mendapati ponselnya di atas nakas berbunyi bertepatan dengan Dena yang masuk ke kamar.
“Wuidih, Mbakyuku telpon nih Han.” Ucap Om Jaka sedikit surprise yang mendapati nama Bu Een di layar ponselnya. “Pasti dia kangen sama adiknya yang ganteng nian ini.”
Denaya mencebik. “Udah, buruan diangkat. Ntar diomelin lagi.”
“Halo, Assalamuailaikum Mbakyuku Endang Sri Lestestari Kusuma melati harum mewangi berseri-seri sepanjang hari. Apa kabar?”
“Heh, Jaka! Nggak usah banyak basa basi ya! Maksud kamu apa bagi-bagi sembako segala ke semua warga desa, hah?” Bukannya menjawab salam, Bu Een malah langsung menyemprot Om Jaka dengan suara cemprengnya hingga membuat kuping Om Jaka shok.
Denaya bertanya dengan isyarat matnya melihat ekspresi kaget suaminya. Om Jaka cuman menggeleng pelan.
“Kenapa diem aja kamu, Jaka? Kamu sengaja kan mau bikin dagangan saya sepi? Mau bikin warung saya nggak laku?” Cecar Bu Een masih dengan nada yang sama.
Denaya yang penasaran langsung mendekat untuk me-loud speaker agar dia juga bisa mendengar dengan jelas suara Bu Een.
“Kamu sama istri kamu itu nggak usah sok kaya ya, mentang-mentang banyak uang pake acara bagi-bagi sembako segala ke warga satu kampung. Tau nggak gara-gara kamu toko saya dari pagi ampe jam segini nggak ada yang beli sembako?!” Lanjut Bu Een berapi-api mirip pimpinan demo yang lagi orasi.
Denaya melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan kakak iparnya itu. sungguh tega ia menuduh niat baiknya dengan perkataan-perkataan yang tak beralasan. Om Jaka mengelus pundak Dena agar istrinya itu tak terpancing emosi.
“Udah selesai belum orasinya, Yu?” Tanya Om Jaka kemudian dengan nada santai pada Mbakyunya tercinta itu.
“Siapa yang lagi orasi? Saya ini lagi marah, lagi jengkel, gedek enek sama kamu, tau!!”
“Terus? Gue harus gimana, Yu?” Om jaka malah nanya.
“Tau ah, bodo amat! “
KLIK!
Bu Een memutuskan sambungannya.
“Lah, kok malah dimatiin sih? Orang ditanyain maunya gimana?” Om Jaka heran.
Tok tok tok …
Pintu kamar dketuk pelan dari luar. Denaya membuka pintu.
“Udah kamu bilang sama Jaka belum?” Tanya Pak Haji Barkah dari balik pintu.
“Gimana, Yah?” Om Jaka mendekat.
“Ayah tadi ngajakin ngeliat pembagian sembako secara langsung ke kantor kelurahan.” Sahut Denaya yang kelupaan ngomong.
“Ya udah, ayok!” Om Jaka bersemangat.
“Ayah ganti baju dulu ya.” Pak Haji beranjak ke kamarnya.
Om jaka melihat wajah Dena yag masam. “Eh istriku yang cantik ini kenapa, kok cemberut?” Goda Om Jaka pada Dena.
Denaya ngeloyor masuk lagi ke kamar duduk di tepi ranjang.
“Pasti gara-gara omongan Mbakyu tadi ya?” Om Jaka duduk di samping istrinya, Dena tak menyahut. Om Jaka meraih pundak istrinya untuk menghadapnya. “Han, kamu kan udah tau watak Mbakyuku itu, jangan diambil hati ya. Yang penting niat kita tulus. Udah, jangan dipanjangin masalahnya. Ok?”
“Pantes aja Via sama Mirza nggak tenang rumah tangganya, orang Bu Een kalo ngomong nggak pake filter!” Ketus Denaya.
“Lho, kok bawa-bawa Via sama Mirza sih, hmm?” Om Jaka meraih dagu Denaya dan mendekatkan wajahnya mau nyium bibir istrinya yang menggemaskan itu, namun …
__ADS_1
CEPLUK!
“Aduh! Kok aku malah ditabok sih, Han?” Om Jaka kaget memegangi mulutnya yang kena tabok.
“Ya abisnya orang lagi kesel main nyosor aja!” Denaya sebal.
“Tapi nggak pake nabok juga kali! Kamu itu udah kayak Victoria Lapianska!”
“Hah? Siapa itu? Istrinya David Beckham ya?”
“Bukan! Mantan cewek gue atlet kick boxing!” Sahut Om Jaka keki seraya bangkit.
Denaya tau kalo Om Jaka udah ngomong pake elu gue berarti dia lagi ngambek. Dena cepat sadar kalo kelakuannya tadi mungkin bikin suaminya sebel, nggak seharusnya dia main tabok aja. Sebab bagaimana pun juga suaminya itu memang usil bin tengil. Dena segera maih lengan suaminya.
“Sorry deh, Beb. Maafin ya.” Denaya merayu seraya memperlihatkan puppy eyes-nya. “Mana yang sakit?” Dena berdiri mengkup wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya.
Om Jaka pura-pura cemberut lantas menunjuk bibirnya yang mengerucut.
“Ututu…. Sini ditium, Mmmuah …!” Denaya mengecup singkat bibir suaminya. “Udah nggak sakit lagi kan?” Goda Denaya.
Om Jaka tersenyum lebar.
“Gemeshh… deh! Kayak boneka Chucky suamiku kalo lagi marah, hahaha…” Denaya menjembreng kedua pipi suaminya sampe Om Jaka kembali meringis.
“Ish, kamu tuh ya Han, masa nyamain aku sama boneka Chucky sih?!” Protes Om Jaka sambil melepas tangan Denaya dari pipinya.
“Abisnya jelek banget…!”
“Apa kamu bilang? Coba bilang sekali lagi….” Om Jaka meringkus tubuh Denaya dengan lengan kekarnya dan dalam sekali angkat udah langsung membanting tubuh Denaya ke atas kasur dan mengungkungnya. “Kamu harus membayarnya karena berani ngatain suamimu yang ganteng ini mirip boneka chucky...” Om Jaka mau nyosor Dena lagi.
Denaya berontak sambil tertawa kegelian karena wajah suaminya terus mengusilinya.
“E-ekhem!” Terdengar deheman Pak Haji dari celah pintu kamar mereka yang terbuka. “Jaka, jadi ngantar Ayah nggak?” Tanya Pak Haji dari luar kamar pura-pura nggak melihat adegan mereka.
“Eh, jadi Yah!” Om Jaka sedikit kaget.
“Ayah tunggu ya!” Pak Haji pergi meninggalkan depan kamar.
“Kali ini kau lolos. Tunggu pembalasanku nanti malam, Katemi!” Ucap Om Jaka seraya bangkit.
“Dasar Bokir!” Balas Denaya.
“Eeh, nggak ada bagus-bagusnya ya manggil suami sendiri?” Om Jaka mulai lagi mau menyerang Denaya.
“Aku panggilin Ayah nih!” Ancam Denaya menyeringai.
Om Jaka urung. “Kau ikut tidak, Katemi? Apa mau di rumah saja?” Tanya Om Jaka kemudian.
“Tunggu! Aku ikut, Bokir!” Denaya bangkit membenahi jilbabnya yang morat marit mencong kiri mencong kanan, lalu …
HUP!
Denaya melompat ke punggung Om Jaka. “Gendong sampe depan ya?”
Om Jaka tersenyum dengan tingkah istrinya yang sudah mulai berani dan tak malu-malu lagi seperti awal menikah. Om Jaka pun menggendong Denaya keluar kamar.
“Turun, turun disini, Beb.” Pinta Denaya ketika mereka sampai ruang tamu.
“Tanggung, sampe mobil sekalian.” Om Jaka cuek.
“Ih, ntar diliatin ayah. Turunin.” Denaya memukul-mukul pelan punggung suaminya.
“Nggak papa, nggak usah malu.”
“Ih, aku gigit nih kalo nggak turunin.” Ancam Denaya.
Pak Haji yang sedang duduk menunggu di teras menoleh pada mereka berdua yang ribut. Om Jaka nyengir sementara Denaya masih dalam gendongan.
Pak Haji cuman geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak dan menantunya seraya menepuk jidat. “Dasar pengantin bangkotan!” Ucapnya terkekeh berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman.
“Tuh kan, diledekin!” Denaya merosot turun.
__ADS_1
“Eh, bentar. Ada yang kelupaan!” Om Jaka kembali masuk ke dalam sementara Denaya menyusul ayahnya masuk mobil.
“Si Jaka ngapain lagi?” Tanya Pak Haji yang melihat menantunya belum juga nongol setelah beberapa lama.
“Nggak tau, Yah. Katanya tadi ada yang kelupaan.”
Om Jaka kemudian muncul dengan sebuah bingkisan di tangannya.
"Cepetan, Bokir! Lama amat sih?" Seru Denaya pada Om Jala yang lagi mengunci pintu.
"Aku datang, Katemi....!" Sahut Om Jaka seraya memberikan bingkisan tadi pada Denanya untuk membawanya.
"Kalian ini benar-benar pasangan unik. Kemarin panggil Bebeb sama Honey, sekarang malah ganti Bokir dan Katemi." Komentar Pak Haji sambil nyengil.
"Ini juga sama panggilan sayang kok, Yah." Jawab Om Jaka mengambil duduk di balik kemudi.
“Apa ini?” Tanya Denaya melihat bingkisan yang diberikan padanya.
“Bingkisan buat Yu Een. Nanti kita mampir ke sana bentar nggak papa kan?” Om Jaka melirik istrinya.
Dena tak menyahut, Pak Haji di jok belakang hanya manggut-manggut. Mobil Om Jaka pun melaju.
Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah kantor kelurahan yang tedekat dengan rumah, kemudian dilanjutkan ke beberapa kelurahan yang lain. Memang nggak semua kantor kelurahan mereka sambangi, hanya beberapa saja, mengingat waktu juga.
Om Jaka, Denaya dan pak Haji sangat senang melihat antusiasme warga menerima bantuan. Mereka mengantri dengan tertib. Kepala desa setempat juga menyambut baik kedatangan mereka. Beberapa kepala desa yang mereka temui mengucapkan terima kasih banyak atas kedermawanan keluarga Pak Haji yang telah membantu warga mereka. Bahkan cukup banyak pula warga yang mendoakan Denaya dan Om jaka langsung ketika mereka bertemu saat mengantri sembako.
“Mbak Dena dan Mas Jaka ya?” Sapa seorang ibu yang sedang menggendong anak seusai menerima bantuan.
“Iya, Bu. Saya Denaya dan ini suami saya Mas Jaka.” Sahut Denaya ramah.
Si ibu meyalami dan mengucapkan terma kasih diikuti beberap warga yang lain yang sudah selesai mengantri.
“Semoga pernikahannya langgeng ya Mbak, Mas.”
“Sampe kakek nenek, sampe maut memisahkan.”
“Dan cepat dapat momongan ya Mbak, Mas.”
“Aamiin, terima kasih ibu-ibu semua doanya.” Balas Denaya tulus.
“Nggak usah KB mbak, biar cuss.” Sambung si ibu tadi yang menggendong anak. “Kayak saya ini lho, tiap dua tahun sekali hamil. Sekarang saya udah hampir selusin anaknya. Semoga Mbak Dena juga anaknya banyak kayak saya ya …” Lanjut si Ibu dengan tawa lebar disahuti Aamin berjamaah dari semua warga yang berkerumun.
Denaya tersenyum tapi hatinya mendadak ngilu, apalagi ketika Om Jaka mengenggol lengannya dan berbisik , “tuh, selusin! Kamu kuat nggak, Han? Kita joss mulai nanti malam ya?”
Denaya langsung menghadiahi cubitan kecil di pinggang Om Jaka hingga membuatnya meringis.
“Aww… Aww… ssshhh…”
Pak Haji dan Pak lurah yang menyaksikan itu dari kejauhan tertawa. Setelah semuanya dirasa cukup, mereka pun berpamitan.
“Dena, Jaka, kamu lihat kan gimana senangnya mereka semua menerima bantuan tadi?” Pak Haji membuka obrolan ketika mereka sudah di dalam mobil hendak melanjutkan perjalanan ke rumah Bu Een.
“Iya, Yah.” Sahut Om Jaka dan Denaya bersamaan.
Semoga Allah mengijabah doa mereka semua ya? Ayah sangat bahagia mempunyai anak dan menantu seperti kalian.” Puji Pak Haji penuh rasa syukur.
“Aamiin…”
Bantuan yang mungkin tak seberapa itu sangat berati bagi mereka yang benar-benar membutuhkan, apalagi di tengah ekonomi yang semakin sulit seperti sekarang.
❤️❤️❤️❤️❤️
**hai, readers terkasih dan othors tersayang…,,,☺️☺️☺️
maaf ya up telat banget dari kemarin.🙏🙏
Dan part ini isinya soal Om Jaka dan Denaya aja😀😀😀
Semoga bisa up lancar lagi mulai besok🤩🤩
Terima kasih udah setia ngikutin dan dukung cerita othor ya… Luv U all🤗🤗🤗😘😘😘**
__ADS_1