TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
51 #KONSPIRASI


__ADS_3

 


Bu Elin langsung menyambut kedatangan Riri dan Danar begitu mereka sampai di ruko. Riri agak kaget juga Bu Elin sampe cipika cipiki segal dengan dirinya. Aih, Riri merasa tersanjung Bu Elin sampe segitunya.


“Cukup lama ya Ri, kita nggak ketemu?” Bu Elin membuka obrolan setelah mengajak Riri duduk.


“Iya, Bu. Sejak aku lulus kursus di tempat ibu.”


“Terus rencana kamu ke depannya apa? Jadi ngelanjutin kuliah tata boga nggak?” Bu Elin bertanya antusias.


“Belum tau, Bu.” Riri tersenyum.


Bu Elin melihat pada Danar, “Nar, tamunya dikasih minum dong.”


“Oh, mau minum apa?” Tanya Danar pada Riri.


“Nggak usah, nanti aja.” Sahut Riri.


“Aku nggak bakalan nawarin dua kali lho.”


Riri agak sebal juga. “Ya udah, apa aja.”


Danar beranjak keluar Ruko. Bu Elin tersenyum pada Riri meminta maklum.


“Maafin ya, Danar emang gitu orangnya. Suka rada aneh kalo berhadapan sama cewek.”


Riri balas tersenyum, “nggak papa, Bu.”


“Oya, jadi gimana? Kamu mau nggak kerja sama sama saya?” Bu Elin kembali pada pokok pembicaraan.


Riri sedikit ragu.


“Saya sih berharap kamu nerima tawaran ini, Ri. Soalnya kamu salah satu siswa kursus terbaik.”


Riri makin tak enak hati dengan pujian Bu Elin.


“Nanti rencananya kita akan buka toko cake and bakery disini. Terus menerima pesanan catering makanan juga.”


Riri melongo. “Tapi, aku nggak bisa kalo harus bikin semua itu sendirian, Bu. Lagi pula …”


“Nggak usah khawatir.” Sanggah Bu Elin cepat. “Saya sudah ada koki banyak kok, dari yang bikin kue sampe semua makanan semuanya sudah ada yang handle.”


“Terus saya suruh ngapain, Bu?” Riri bertanya polos.


“Ya kamu tinggal kelola aja, semuanya terserah kamu gimana pengembangannya, pemasarannya, menu masakan dan kue yang mau dipasarkan pokoknya terserah kamu. Saya percaya sama kamu. Kalo kamu mau berkreasi bikin sendiri juga boleh, di belakang  ada dapur.” Papar Bu Elin panjang lebar.


Bu Elin lantas mengajak Riri ke bagian belakang ruko.


Ruko itu ternyata cukup luas, hampir sama besarnya dengan rumah ibu. Pikir Riri. Di lantai bawah ada dapur dan toilet. Naik ke lantai dua ada satu kamar tidur  lengkap dengan  kamar mandi dalam.


“Kamu nanti juga bisa tinggal di sini kalo mau.” Ujar Bu Elin.


Riri mengitari kamar yang bercat kuning cerah itu. Disana sudah ada AC, tempat tidur dan lemari. Kelihatannya cukup nyaman juga. Ditambah lagi daerah disitu kan memang kawasan pertokoan, jadi pasti nggak sepi kalo malam. Mereka kemudian kembali ke lantai bawah. Danar sudah duduk di sana sambil memainkan ponselnya. Tak lama seorang pria datang membawa segelas oreo milk shake.


“Silakan.” Pria itu mengangguk ramah, lantas berlalu.


“Ini buat Riri, Nar?” Tanya Bu Elin.


“Iya.”


“Ayo, Ri diminum dulu.” Bu Elin mempersilakan.


“Lho, Bu Elin sama Mas Danar nggak minum?”


Bu Elin melirik pada sebotol air mineral yang sisa separo isinya di atas etalase pojok ruangan.


“Saya Cuma minum air putih.”


Riri tersenyum tipis lalu mulai menyedot minumannya.


Pantesan aja Bu Elin terlihat awet muda dan segar bugar, dia minumnya air putih. Di usianya yang udah kepala 5 aja masih keliatan cantik dan kencang kulitnya. Riri bermonolog dalam hati mengagumi kecantikan Bu Elin.


“Di samping sini kan ada café kecil, saya rasa bagus banget kalo kita buka cake and bakery.” Ucap Bu Elin kemudian. “Kamu tau kan toko kue di dekat GOR, Ri? Nah, kira-kira harapan saya bisa maju seperti itu kelak bisnis kita ini.” Lanjut Bu Elin optimis.


Riri manggut-manggut sambil kembali menikmati oreo milk shakenya. Kemudian matanya terpana pada dua orang wanita yang baru turun menuju rumah makan sate dan gule di seberang jalan. Riri seperti mengenal salah satu dari wanita itu.


“Ruko ini tadinya disewa keponakan suami saya, dan baru bulan kemarin kosong. Tadinya sih mau saya sewakan lagi, tapi pikir-pikir kenapa nggak dipake sendiri aja.” Terang Bu Elin.


Riri mulai tak konsen mendengarkan perkataan Bu Elin. Dia makin penasaran dengan dua wanita yang masuk ke rumah makan tadi.


“Bu, saya mau permisi beli pulsa disana sebentar, ya.” Ucap Riri yang langsung punya ide beli pulsa di konter yang bersebelahan dengan rumah makan itu demi memenuhi rasa penasarannya.


Riri segera menuju ke seberang jalan, dan melongok pada rumah makan di sebelah konter itu.


“Bu Endang?” Riri kaget sendiri. “Iya, beneran Bu Endang, tapi sama siapa ya perempuan itu?” Riri penasaran banget, tapi nggak mungkin dia juga masuk ke dalam.


Riri lantas memilih duduk di kursi plastik depan konter.


“Mas, pulsa dong.” Ucapnya pada seorang laki-laki.


“Boleh. Yang berapa, Mbak?”


“Em, lima ribu aja deh.” Putus Riri karena sebenarnya dia nggak niat beli pulsa tapi cuman mau kepoin Bu Endang alias Bu Een aja.


Semetara itu di dalam rumah makan Bu Een ternyata sedang bersama Sofi. Mereka baru saja selesai memesan makanan.


“Makasih ya, Bu. Ibu udah ngajakin aku shopping beli baju banyak banget.” Ucap Sofi senang.


“Iya, nggak papa. Kan kamu emang nggak punya baju.” Bu Een pun tersenyum senang. “Kalo ada lagi yang perlu kamu beli, bilang aja sama Ibu ya.” Lanjut Bu Een.


Sofi mengangguk. Wah royal juga nih ibunya Mirza, batin Sofi.

__ADS_1


“Oya, nanti kapan-kapan kita belanja keperluan bayi ya.” Usul Bu Een dengan mata berbinar.


“Ah, Ibu. Nanti aja, kan masih lama melahirkannya.” Sofi mengelus perutnya.


“Ibu udah nggak sabar kepingin nimang cucu ibu.”


Hem, wanita tua ini emang udah takluk sama aku. Girang bener dia mau punya cucu, tapi sayang sampai saat ini Mirza masih belum bisa menerimaku.


“Sof, kok kamu jadi murung gitu, kenapa?” Tanya Bu Een yang menyadari perubahan raut wajah Sofi.


“Nggak apa-apa, Bu.”


“Soal Mirza kamu nggak usah khawatir, nanti ibu yang urus.” Bu Een meyakinkan Sofi.


Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Dua gulai kambing, dua piring nasi, dan dua gelas es teh manis sudah terhidang di depan mereka.


“Ayo, Sof. Kamu harus makan yang banyak biar bayi kamu sehat.” Ucap Bu Harni sambil mendekatkan mangkok gulai ke depan Sofi. “Ini gulai kambing paling enak lho di sini.”


“Oya?” Tanya sofi setelah menyedot es teh manisnya, rupanya dia cukup haus setelah muter-muter belanja walaupun cuaca mrndung. “Di keluargaku juga sering bikin gulai kambing, Bu.” Lanjut Sofi lantas mencicipi kuah gulai dengan sendok yang sudah di lap pake tisu oleh Bu Een. “Emm, iya beneran enak, Bu.”


“Bener kan?” Bu Een senang karena Sofi menyukainya.


“Tapi masih lebih enakan bikinan mamaku, Bu.” Sofi tersenyum.


“Ah, ya tentu saja. Orang-orang keturunan arab kan pasti lebih jago masak olahan daging kambing.” Puji Bu Een.


Mereka kemudian makan sambil asyik ngobrol. Bu Een antusias sekali mau tau tentang keluarga Sofi, bagaimana pun juga dia merasa akan besanan dengan orang tua Sofi, jadi merasa perlu mengetahui tentang calon besannya itu. Dan tentu saja Sofi hanya menceritakan yang bagus-bagusnya saja tentang keluarganya, dia tak mungkin mengatakan kalau usaha keluarganya diambang kebangkrutan.


“Wah, Papa kamu memang seorang pengusaha hebat, ya. Pabrik garmennya dimana-mana.” Bu Een senang sekali mengetahui calon besannya seorang pengusaha garmen.


“Dan sebenarnya aku juga sudah dijodohkan dengan anak kolega Papa yang juga seorang pengusaha.” Papar Sofi menceritakan soal Ramzi. “Dan dia baru aja memberiku hadiah mobil sport terbaru, tapi aku menolaknya karena aku nggak mencintainya.”


Bu Een melongo mendengarnya. Sofi benar-benar calon menantu idaman, pikirnya. Bukan hanya cantik dan kaya raya, tapi juga nggak matre ternyata. Nggak seperti si Via, huh! Batin Bu Harni kesal kala ingat Via.


“Kamu pasti akan lebih bahagia hidup sama Mirza, apalagi setelah anak itu lahir.” Bu Een tersenyum sambil mengelus tangan Sofi.


Diam-diam Riri mengintip dari luar.


“Mbak!” Panggil si pelayan konter. “Ngapain sih dari tadi saya perhatiin kok ngintipin ke situ terus?” tegur palayan itu.


Riri ampe kaget dibuatnya. “Diem aja deh, kepo!”


“Ya abisnya kayak mau maling jemuran gitu!”


Riri kembali duduk di kursi plastik.


Nggak salah lagi, perempuan itu pasti selingkuhannya Mas Mirza. Bu Een kayaknya seneng banget sama perempuan itu. Heran deh! Riri ngedumel kesal dalam hati.


“Ah, aku tau. Mbaknya pasti kepingin makan sate atau gule tapi nggak punya uang ya?” Tebak pelayan konter.


“Enak aja! Siapa juga yang pingin makan sate?”


“Udah, Mbak ngaku aja. Wong tadi juga beli pulsa cuma lima ribu tapi nggak pergi-pergi dari sini. Pasti mau nyium-nyium aroma sate kan? lumayan daripada nggak bisa makan, cium asepnya aja udah seneng.”


“Nggak usah sewot gitu dong, Mbak . biasa aja kali.” Mas pelayan konter malah nyengir liat Riri Pasang tampang galak.


Riri yang kesal langsung pergi kembali hendak menyebrang jalan tapi karena lalu lalang kendaraan cukup ramai dia menunggu sebentar.


“Nar, coba perhatiin Riri deh.” Ucap Bu Elin pada Danar yang masih sibuk dengan ponselnya. “Cantik kan dia? Ibu setuju lho kalo kamu sama dia.”


Danar langsung melihat pada Bu Elin. “Ibu ini ngomong apa sih?” Tanya Danar datar.


“Ya emang usia kalian terpaut jauh sih kayaknya, tapi nggak papa kok. Ibu juga sama Ayah Rian usianya beda lima belas tahun, tapi bisa hidup bahagia.” Bu Elin tersenyum.


“Aku nggak punya perasaan apa-apa Bu sama Riri.” Kilah Danar.


“Dia manis, kan? Imut dan lucu? Cocok kalo jadi calon mantu Ibu.”


“Ibu ini mau cari calon mantu apa mau cari boneka teddy bear?” Sahut Danar tanpa ekspresi.


“Ck, kamu selalu aja gitu kalo diajak ngobrol soal perempuan.” Bu Elin berdecak kesal. “Usia kamu itu sudah matang, Nar. Papa kamu pasti juga udah kepingin punya cucu.”


“Papa belum pingin punya cucu kok.”


“Sok tau, kamu! Ibu dengar sendiri dia curhat waktu Ibu jenguk papa kamu di rumah sakit sama Ayah Rian.”


“Udahlah, Bu. Jangan ngomongin soal itu ya.” Danar terdengar malas.


“Terus kenapa kamu rekomendasiin Riri buat ngurus bisnis ke Ibu kalo bukan karena kamu suka sama dia?” Bu Elin kepo tak peduli dengan raut malas Danar.


“Ya, nggak papa.” Danar Acuh.


Bu Elin hanya bisa menghela napas sambil melihat Danar tak habis pikir. Anak angkatnya itu sudah tumbuh menjadi laki-laki tampan, gagah dan sudah sangat layak untuk berkeluarga. Namun entah mengapa sampai saat ini belum pernah ia melihat Danar berkencan dengan seorang perempuan pun. Tapi bu Elin tak melanjutkan kekopoannya karena Riri sudah datang.


“Maaf ya, Bu lama.” Ucap Riri.


“Nggak papa.” Sahut Bu Elin, kemudian ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang mulus. “Udah siang nih, Ibu harus pamit dulu karena mau siap-siap pergi ke Bogor.” Bu Elin bangkit.


“Oh.” Riri jadi tak enak hati karena tadi terlalu lama dan begitu balik Bu Elin udah mau langsung pergi.


“Kamu nggak papa kok kalo masih mau disini dulu.”


“Nggak kok, Bu. Aku juga mau pulang aja.” Sahut Riri.


“Ya udah, pikirin baik-baik tawaran saya ya. Moga ja kamu setuju.”


“Kalau aku pribadi sih terus terang mau, Bu. Tapi kan harus tanya ibu saya dulu.”


Bu Elin mengangguk seraya tersenyum. “Nar, antar Riri pulang ya.” Ucapnya pada Danar lalu cipika cipiki lagi sama Riri. “Salam buat ibu kamu ya, Ri. Salam kenal dari saya.”


“Iya, Bu.”

__ADS_1


Bu Elin melambaikan tangan lantas BMW hitamnya mulai melaju pelan meninggalkan ruko.


“Ayo, Mas. Antar aku pulang.” Ajak Riri.


“Sebentar, aku balikin gelas ini ke samping dulu.” Danar mengambil gelas bekas minuman Riri.


“Eh, Nggak usah.” Sergah Riri bermaksud mengambil gelas itu juga, dan tak sengaja tangan mereka bersentuhan.


Riri langsung menarik tangannya. “Maksudku, biar aku aja yang balikin.” Riri jadi agak kikuk.


“Biar aku aja.” Ucap Danar lalu keluar mendahului Riri.


Riri menunggu di depan Ruko. Pada saat yang sama Bu Een dan Sofi keluar dari rumah makan di seberang jalan dan menuju mobil hitam yang terparkir tak jauh dari situ. Reflek Riri bebalik sambil menutupi wajahnya dengan tas selempangnya khaawatir ketahuan Bu Een.


“Kamu kenapa?” Tanya Danar keheranan demi melihat tingkah Riri.


“Nggak papa.” Riri coba bersikap biasa lantas berdiri di belakang Danar yang sedang mengunci ruko.


Mobil hitam Bu Een tadi sudah pergi meninggalkan parkiran. Riri sempat melihat Sofi yang mengendarainya.


Ternyata itu mobil perempuan selingkuhannya Mas Mirza? Cantik juga sih itu perempuan. Tapi buat apa kalo demen ama laki orang! Abis seneng-seneng kayaknya mereka berdua. Dasar sama-sama nggak punya otak tuh orang dua! Awas aja, aku jambak rambut mereka kalo sampe beneran bikin rumah tangga Mbak Via sama Mas Mirza berantakan! Batin Riri geram.


TIIN …!


Bunyi klakson mobil sontak mengagetkan Riri.


“Kamu mau pulang apa mau bengong aja di situ?” Tanya Danar yang udah ada di dalam mobil.


Riri cuman bisa nyengir bego. “Ya pulang lah, Mas.”


“Cepetan naik!” Seru Danar.


________


 


Mobil Bu Een yang dikemudikan Sofi sudah sampai di perbatas kota, sebentar lagi masuk kampung Jati Asri.


“Untung kamu bisa nyetir mobil, Sof. Jadi Ibu nggak perlu ajak si Udin.” Ujar Bu Een pada Sofi.


“Ibu juga harus bisa nyetir dong. Masa udah punya mobil nggak bisa nyetir sendiri.” Ucap Sofi.


“Iya, nanti ibu mau belajar sama Udin.”


“Kenapa harus sama Udin? Aku aja yang ngajarin ibu.” Usul Sofi.


“Ah, iya ya. Duh, ibu seneng banget kalo kamu mau ngajarin ibu.” Bu Een girang. “Eh, tapi kan kamu lagi hamil?” Bu Een berubah khawatir.


“Ya nggak papa, Bu. Kan nyupirnya juga nggak kayak nyupiri mobil off road.”


“Iya deh, ibu terserah kamu aja. Ibu jadi makin sayang sama kamu, Sof. Kamu perhatian banget sama ibu.” Bu Een mengelus bahu Sofi.


Sofi tak kalah senangnya. Bu Een 100% berada dipihaknya.


“Depan itu belok kanan, ya.” Ucap Bu Een kemudian.


“Lho, kita mau kemana lagi, Bu?” Sofi heran karena itu bukan jalan menuju rumah Bu Een.


“Udah, belok aja. Nanti lurus dan belok kiri ya.”


Sofi menuruti instruksi Bu Een. Dan alangkah terkejutnya  ketika dia tau itu arah mau ke rumah Mirza.


“Nah, berhenti di depan. Kita parkir di luar aja, Sof.” Perintah Bu Een.


Sofi menurut lagi. Bu Een segera membuka pintu.


“Bawa semua barang belanjaan kamu ya.” Ujar Bu Een pada Sofi sebelum turun.


Sofi makin heran, tapi nurut juga. Dia cepat mengikuti langkah-langkah lebar Bu Een menuju halaman rumah Mirza.


_________________


 


 


Istrirahat dulu, kakak….☺️☺️☺️


Hehe, maaf yaa. Authornya mau makan dulu nih, jadi laper gegara nulis Sofi makan gule sama Bu Een tadi 😂😂😂🤭🤭🤭


Makasih ya akak-akakku tersayang semuanya yang udah setia mampir dan baca karyaku 🙏🙏🙏❤️🌹🌹🌹


Like, komen, rate 5 dan vote selalu ya Kak ☺️❤️❤️❤️


Luv u all 😘😘🤗🤗


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2