
Hanya menginap semalam setelah melahirkan, esoknya Via dan bayinya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit karena keadaan keduanya sangat sehat. Seluruh keluarga menyambut suka cita kehadiran anggota baru keluarga mereka. Mirza pun kembali ke rumahnya dan tidur bersama istri dan malaikat kecilnya. Ia tak ingin membiarkan Via yang kondisinya belum pulih pasca melahirkan merawat bayinya seorang diri, meski sebenaranya Mirza yakin Bu Harni dan Tia tentu tak akan membiarkan Via kesusahan. Namun atas nama tanggung jawab seorang suami dan seorang ayah baru, Mirza kembali ke rumah itu dan mengurus semua yang dibutuhkan istri dan anaknya.
Kehadiran seorang anak memang menjadi pelengkap kebahagiaan sebuah pernikahan. Hati mana yang tak meleleh melihat bayi mungil tak berdosa, rasanya hanya manusia tak berperasaan saja yang tak tersentuh oleh wajah polos menggemaskan yang kadang tersenyum meski matanya sedang terpejam itu.
“Sayang lihatlah, dia tersenyum padaku,” Mirza bahagia melihat malaikat kecilnya dalam timangan Via yang tengah tersenyum dalam tidurnya.
“Tau dari mana kalo dia senyum sama Mas?” menoleh pada wajah suaminya yang tepat berada di sampingnya.
“Tau lah, wajah cantiknya pasti selalu tersenyum setiap ada Mas,” menyahut pede. “Sama seperti kamu,” lanjutnya yang sukses membuat Via terdiam.
Kedua mata saling menatap dalam. Wajah laki-laki yang sangat dicitainya itu masih sama. Masih tampan walau dengan rambut dan brewok yang sudah semakin panjang, senyumnya pun masih sama, masih begitu meneduhkan dan menenangkan. Sejujurnya Via begitu bahagia, sudah lama ia tak melewati momen manis seperti ini dengan suaminya. Debaran-debaran dalam dadanya dengan bunga-bunga bermekaran dalam hatinya membuat wajahnya bersemu merah jambu, rasanya ia kayak abege yang lagi kasmaran pada cinta pertamanya. Namun ketika ia ingat perpisahan yang sudah di depan mata, hatinya nyeri bagai tertusuk ribuan sembilu.
“Senyumnya kaya kamu Mas,” memangkas tautan mata untuk segera menghindar, “ada lesung pipinya, sangat manis.” Lanjut membelai pipi montok buah hatinya.
Mirza menyadari perubah ekspresi istrinya. Diraihnya dagu Via perlahan untuk menghadapnya kembali. “Lihat Mas Sayang,” sedikit memaksa untuk menyelami kedua telaga bening sang istri. “Katakan kalau kamu masih mencintaiku.”
Lidah seolah kelu, kedua netra pun rasa tak sanggup untuk membalas tatap sang suami.
“Katakan kalau hanya ada aku dihatimu,” belaian lembut dipipi membuat Via menundukkan matanya yang tiba-tiba menghangat. Tentu saja rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya bahwa hanya Mirza laki-laki yang dicintainya, bukan Danar atau siapa pun. Namun pengakuannya tentu akan membuat semuanya kembali pada nol besar. “Sayang –“
“Za?” sebuah panggilan dari luar kamar memutus kalimat Mirza. “Kamu kok belum siap-siap? Memangnya nggak kerja?” Bu Harni mendekat.
“Emh, iya ini juga lagi mau siap-siap Bu,” bangkit dari posisinya.
“Ya sudah, sarapan dulu tuh ibu udah masak.” mengambil bayi mungil dari gendongan Via. “Kamu mandi dulu Vi, biar nanti cucu ibu ini ibu yang mandiin.” Menimang dengan senyum penuh kebahagiaan lantas membawanya keluar kamar.
Meraih tangan Via, “Mas akan pulang kesini lagi.”
Hanya memberikan senyum tipis sebagai jawaban, “aku mau mandi dulu Mas,”
“Hati-hati Sayang, jalannya pelan-pelan aja,” membantu langkah Via menuju kamar mandi. “Apa perlu Mas bantu mandiin, hm?”
Mendelik tajam dengan mendaratkan cubitan maut dipinggang suaminya.
“Aaawh!” meringis kesakitan dibuatnya.
“Rasain!”
Teresenyum lebar kemudian, “kalo begini Mas yakin, kamu masih istri Mas yang dulu.”
Berpaling sebagai respon untuk menghindar namun Mirza tak coba untuk menghentikannya sebab hatinya sangat yakin Via masih sangat mencintainya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Perubahan pada sikap Mirza jelas mengundang tanda tanya besar di benak Bu Een. Meski masih sama seperti sebelumnya, Mirza jarang pulang ke rumah namun raut kebahagiaan kini jelas terpancar pada wajah Mirza. Bu Een menyadari itu.
“Kamu nggak tidur di sini aja, Za?” Bu Een berjalan perlahan usai diantar fisoterapi oleh Mirza.
“Nggak Bu,” membantu ibunya duduk di atas sofa ruang tengah.
“Sesekali kamu tidur disinilah, apa kamu nggak kangen pingin makan malam sama ibu? Nanti ibu suruh Jumilah masak makanan kesukaan kamu,” berusaha membujuk.
“Lain kali aja, Bu. masih ada yang harus aku kerjakan.”
“Mau ngapain sih? Penting banget ya? emang nggak bisa ditunda nanti kerjaanmu itu?” mulai kepo dengan rentetan pertanyaannya.
Menyibukkan diri mengecek obat sang ibu dalam kantong plastik di atas meja, “obatnya jangan lupa diminum ya Bu. kalau pagi jangan lupa berjemur, ibu harus lebih sering terkena sinar matahari pagi agar lebih cepat pulih.”
“Tiap hari juga ibu jemur, kamu aja yang gak tau,” sedikit merajuk kesal.
“Jum!” panggil Mirza pada Jumilah tak mengindahkan wajah kesal ibunya.
Berjalan mendekat, “ya Mas? Mas Mirza manggil aku?”
“Ini obatnya ibu jangan sampe kelupaan ya?”
“Siap Mas,” menyahut patuh.
“Kalau pagi juga jangan sampe kelewat, ibu harus jemur minimal 15 menit.”
“Beres Mas, bila perlu aku jemur bolak balik ampe matahari tenggelem baru aku angkat.”
“Kamu pikir saya ikan asin?” semprot Bu Een bertambah kesal.
Jumilah malah cekikikan, seneng banget dia bikin majikannya jengkel. “Ada lagi Mas?” tanya Jumilah.
“Nggak ada.”
“Ya udah, aku pamit ke belakang dulu ya mau buatin kopi buat Mas Mirza,” tersenyum sok manis.
“Eeh, nggak usah. Aku udah mau pergi kok,” sergah Mirza.
“Lho, Mas Mirza kok buru-buru sih? Nggak kangen apa sama Jumilah? Kan Mas Mirza akhir-akhir ini jarang nengokin Jumilah lho … “
“Jumilah! Jangan kegatelan ya sama anak saya!” Bu Een mendelik tajam.
Bukan Jumilah namanya kalau langsung berhenti meski udah dipelototi hingga kedua biji mata Bu Een nyaris copot. Jumilah masih asyik tebar pesona mesam mesem sambil mengedip-ngedipkan matanya persisi barongsai lagi pertunjukan di acara hari raya Imlek.
“Jumilah, kamu denger nggak saya ngomong?” sentak Bu Een lebih tajam, “jangan godain anak saya kalo nggak pingin saya pecat kamu!”
Jumilah langsung berhenti namun bukan karena takut, dengan cueknya dia mencibir “yang bisa mecat aku cuman Om Jaka atau Mas Mirza, wlek!” Jumilah bergegas ngacir setelah melemparkan kiss bye dengan telapak tangan kanannya pada Miza, “Mmmmmmuach ….!”
Simbok Een geregetan mengepalkan kedua tangannya hampir berteriak meluapkan kejengkelannya, Mirza mengusap pundak ibunya untuk menenangkan, “Bu, udahlah. Ibu jangan gampang kesal begitu, ngak baik buat kesehatan ibu.”
“Kamu liat kelakuan si Jumilah tadi kan? Dia itu sering kurang ajar sama ibu! Sebaiknya kamu pecat saja dia, ibu udah nggak butuh dia lagi. Toh ibu udah bisa jalan sekarang.”
__ADS_1
Memecat Jumilah bukanlah hal yang tepat, jika ibunya dibiarkan sendirian di rumah, Mirza tentu tak akan bebas bertemu dengan anak dan istrinya karena Bu Een akan menuntut lebih banyak waktu pada Mirza untuk lebih sering menemaninya.
“Jumilah akan tetep disini sampai ibu benar-benar pulih,” tegas Mirza.
“Ibu udah sehat Za, kamu lihat kan ibu udah bisa jalan?”
“Tapi ibu tetep butuh Jumilah untuk melakukan semua pekerjaan rumah, untuk menyiapkan ibu makan dan lain-lain.”
“Kamu kan bisa melakakukannya? Kamu bisa pulang setiap jam istirahat kerja, dan kamu –“
“Nggak bisa Bu,” pangkas Mirza. “Sudahalah Bu, pokoknya Jumilah akan tetap disini.”
“Kenapa nggak bisa? Apa kamu punya kesibukan lain selain pekerjaan kamu?” mulai menelisik penuh kecurigaan.
Menghela napas, paham akan maksud tuduhan sang ibu namun Mirza tentu tak akan mengatakannya. “apa yang ibu pikirkan?”
“Kamu pasti sering tidur di rumahmu kan? Kamu bohong kan kalau selama ini tidur di tempat kerja?” berdiri menghampiri seolah ingin mengendus aroma kebohongan lebih dekat lagi dari diri sang anak. “Mirza, kamu pikir ibu nggak tau. Ibu ini ibu kandungmu, firasat ibu tajam tak bisa dibohongi.”
“Terserah ibu mau bilang apa, aku sedang tak ingin berdebat,” meraih punggung tangan Bu Een kemudian menciumnya. “Aku pamit dulu, besok kesini lagi,” gegas keluar dengan langkah-langkah lebar sebelum ibunya merusak moodnya yang lagi bagus-bagusnya.
Kamu pikir bisa membongi ibu selamanya? Bemonolog dalam hati menyunggingkan senyum licik.
-
-
-
Hari belum terlalu sore, Tia sedang berkemas bersiap hendak pulang setelah sebulan lebih menemani Via di rumahnya. Meski Ica merajuk tak mau pulang bersama ayah bundanya kerena ingin selalu berada di dekat adik sepupunya namun Tia berhasil meyakinkan Ica bahwa akhir pekan nanti mereka kan datang kesini lagi untuk menginap.
“Vi, kami pamit pulang dulu ya.” Tia menghampiri adiknya yang sedang menyeduh susu.
“Beneran nih Mbak Tia dan Mas Arya mau pulang?” Via seolah tak rela melepas kakaknya.
“Iya Vi, kan udah ada ibu sama Riri yang nemenin kamu disini?” Sahut Arya. Kami beres-beres rumah dulu, rumputnya sampe udah mau masuk rumah saking udah lamanya ditinggal.”
“Asal jangan rumput tetangga aja Mas yang masuk,” seloroh Via tersenyum.
“Bisa aja kamu.”
“Ica Sayang, kenapa cemberut?” menowel pipi chubby sang keponakan yang sedang mode bête dalam gendongan Arya.
Tia memberikan isyarat dengan matanya agar Via tak bertanya lebih lanjut sebab Ica bisa makin ngambek. Via segera paham, walau rumah akan terasa sepi tanpa celoteh Ica namun Via harus melepaskan keluarga kecil kakaknya pulang, mereka juga punya dunia sendiri yang harus terus dijalani.
“Tia udah pulang, Vi?” Tanya Bu Harni yang muncul dari kamar Via.
Menaruh gelas susunya yang sudah kosong, “udah Bu, barusan aja.”
“Jam berapa sih ini? Ibu kok ngantuk ya, mau tiduran dulu sebentar.”
“Heem, kalo Riri pulang bangunin ibu ya? anak itu harus terus dikasih tau jangan keseringan jalan sama Toni.”
Via tak menyahut, mencuci gelas bekas susunya di wastafel. Ibunya itu parno akibat perbuatannya sendiri. Via pikir akan lebih baik Riri segera dinikahkan dengan Toni jika Bu Harni sangat khawatir dengan hubungan kedua muda mudi yang lagi kasmaran itu.
“Vi?” panggil Bu Harni karena Via tak menyahut.
“Eh, iya Bu?” menoleh sedikit kaget karena mengira ibunya sudah pergi.
“Kamu denger kan tadi ibu bilang apa?”
“Iya Bu, denger. Ya udah ibu istirahat aja. Nala apa masih tidur Bu? waktunya dia mandi sebentar lagi.”
Mengernyit memandang Via, “jadi nama cucu ibu Nala ya?”
Tersenyum karena belum sempat memberi tahu ibunya. “Iya Bu, namanya Kaheesha Nala Mahendra. Mas Mirza yang kasih nama.”
“Nama yang bagus, cantik seperti wajahnya.” Tersenyum membayangkan wajah cucunya yang cantik dan menggemaskan. “Tapi belum resmi lho, kan belum dibikinin syukuran?”
“Iya Bu, nanti sekalian aqiqahan,”
“Baguslah, ibu udah nggak sabar mau masak-masak,” tersenyum seraya ngeloyor menuju kamar.
-
-
-
Nala sudah rapih dan wangi terbungkus selimut biru karakter Doraemon. Sebuah karakter kartun yang sengaja Via pilih ketika membeli perlengkapan bayi karena belum tau bayinya akan lahir perempuan atau lak-laki. Aroma harum minyak telon tercium sampai keluar kamar.
Kreek
Mirza mendorong perlahan pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
“Mas?” sedikit terkesiap menoleh ke arah Mirza.
“Iya Sayang, ini Mas. Kamu kira siapa, kok kayak kaget gitu?” menghampiri dan memeluk istrinya yang sedang berdiri di depan meja rias baru selesai mandi.
“Masuk nggak pake salam, jelas aja aku kaget,” mengerucutkan bibirnya sebal.
“Assalamualaikum istriku Sayang,” ucap Mirza penuh senyuman menangkup kedua pipi Via yang terasa dingin.
Cup!
Satu kecupan dihadiahkan pada kening Via.
__ADS_1
Tersenyum bahagia, “Wa alaikumsalam.”
“Putri cantik kita udah mandi ya? wangi banget dia,” melihat pada Nala yang pulas di atas boxnya.
“Udah.”
Melepaskan pelukan, “siapa yang mandiin?”
“Akulah Mas, siapa emangnya?” sedikit menyombongkan diri.
“Kenapa nggak minta tolong ibu atau nunggu Mas pulang? Kamu kan belum pulih, gimana kalau –“
“Aku bisa sendiri Mas.” Memotong kalimat suaminya yang penuh kekhawatiran. “Kasihan ibu kalo apa-apa minta tolong sama ibu. Kalo aku bisa mandiin Nala sendiri kenapa nggak?”
“Heem, kamu memang istri dan ibu yang hebat Sayang,” menjawil ujung hidung Via. “Kalo mandiin Mas bisa juga kan?” bertanya dengan tatapan menggoda.
“Hish, emangnya Mas bayi pake mau dimandiin segala?” melarikan diri dari kejahilan sang suami.
Mirza tak akan membiarkan istrinya lolos begitu saja, menarik pergelangan tangannya hingga Via kembali dalam pelukannya. Wajah cantik dengan bibir ranum yang tampak segar itu sudah lama Mirza rindukan. Keduanya bersitatap, Via dapat merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba tak teratur, aroma maskulin suaminya yang meski sudah seharian kerja namun masih tercium wangi membuat urat-urat syarafnya mendadak konslet. Ia tak kuasa menolak ketika bibir kissable Mirza menyapu lembut bibirnya. Rasanya begitu manis bagaikan ciuman pertama dengan sang mantan, eh … maap, dengan sang kekasih pujaan maksudnya 🤣🤣🤭 Ciuman itu belum begitu deep karena sesuatu memaksa keduanya melepaskan pagutannya satu sama lain.
“Ekhem!” deheman Riri memaksa keduanya berhenti.
“Riri?” Mirza melihat Riri yang sudah berdiri bersandar di kusen pintu kamar, ia menyesal kenapa tadi nggak menutup pintunya.
“Kenapa? Nggak usah salting gitu dong Mas?” wajah Riri jutek.
“Ri, kamu ngapain sih?” Via aneh pada sikap adiknya.
“Suami Mbak itu yang ngapain?” melempar tatapan sinis pada Mirza. Riri yang biasanya akan malu dan menutup wajahnya saat melihat kemesraan Via dan Mirza kini seolah tak suka melihat keduanya berdekatan.
“Maksud kamu?” Via ak paham.
“Ngapain suami Mbak itu datang kesini lagi? Kemarin-kemarin kemana aja?”
“Ri, kamu nggak boleh ngomong gitu. Ini kan rumah Mas Mirza juga.” Sahut Via.
“Terus kalo ini rumah Mas Mirza, Mas Mirza bisa berbuat seenaknya gitu sama Mbak?” melontarkan pertanyaan yang ambigu. “Sebaiknya Mbak tanya dulu sama suami Mbak itu, apa dia sudah yakin akan keputusannya kembali ke rumah ini? Apa dia akan berada disini untuk selamanya atau sekedar mampir saja? Apa dia benar-benar peduli dengan Mbak dan anaknya atau hanya karena kebahagiaan sesaat lalu kemudian akan kembali ke bawah ketiak ibunya dan meninggalkan Mbak Via lagi?”
“Riri, cukup!” Via sedikit menaikkan intonasinya untuk membuat Riri diam.
Namun Riri malah melanjutkan aksinya, “Mbak jangan senang dulu dengan semuanya, jangan terbuai oleh perlakuan manisnya, karena bisa jadi setelah ini Mas Mirza akan menorehkan luka yang lebih dalam di hati Mbak Via!”
Via tertegun demi mendengar kalimat terakhir adiknya. Kata-kata Riri itu persis dengan kekhawatiran yang selama ini menghantuinya. Bagaimana mungkin dia bisa begitu sebahagia ini dengan suaminya sedangkan perpisahannya sudah di depan mata.
“Riri kamu jangan ikut campur telalu jauh. Biarkan kami selesaikan permasalahan kami sendiri,” ucap Mirza datar. Walau hatinya kesal dengan semua perkataan adik iparnya, namun dia harus berusaha sabar.
Menyunggingkan senyum sarkas seraya melipat tangan didepan dada, “mau diselesaikan dengan cara apa? Ujung-ujungnya pasti Mas Mirza akan pisah sama Mbak Via, iya kan? Karena Mas sudah berjanji akan pisah dengan Mbak Via setelah Mbak Via melahirkan kan?”
“Tolong kamu jangn memperkeruh keadaan, Ri. Mas sedang memperbaiki semuanya.”
“Memperbaiki apanya? Justru sikap Mas Mirza ini akan menimbulkan masalah baru, kalau Mas Mirza nggak menepati janji Mas Mirza, aku yakin ibu Mas Mirza tersayang itu nggak akan membiarkan Mbak Via hidup bahagia selamanya. Dia akan terus-terusan mengusik hidup Mbak Via yang seharusnya bisa bahagia dan tenang bersama Nala.” Riri bersikukuh pada opininya.
“Jadi kamu menginginkan kami berpisah?” Tanya Mirza getir.
“Ya! karena Mbak Via berhak bahagia walau tanpa Mas Mirza.”
“Kamu salah Ri, kebahagian Via hanya bila ada aku disampingnya,” melihat pada Via yang terduduk di tepi ranjang dnegan wajah sayu.
“Jangan ke-GR-an kamu Mas! Ada laki-laki lain yang jauh lebih baik dari Mas Mirza yang bisa membuat Mbak Via jauh lebih bahagia.”
Deg deg!
Degup jantung Mirza bertalu makin kencang, ia tau kemana arah pembicaraan Riri sang adik iparnya. Dia sungguh tak terima dibandingkan dengan laki-laki lain, apalagi dirinya masih sah sebagai suami Via yang jelas-jelas akan berbuat yang terbaik untuk kebahagiaan Via dan juga putri kecilnya.
“Asal Mas Mirza tau, jika bukan karena Mas Danar nggak mungkin Mbak Via bisa melahirkan dengan selamat.” Terus menyulut api amarah dalam diri Mirza.
“Nggak usah berlebihan, Danar hanya kebetulan datang di saat yang tepat.” Bantah Mirza jengkel. “Semua orang pasti akan melakukan hal yang sama jika berada dalam posisi seperti Danar.”
“Kebetuan katamu Mas? Hello, dimana dan sedang apa Mas Mirza disaat Mbak Via butuh pertolongan?” Riri terus meletup-letup tak terkendali. “Dan itu terjadi nggak sekali atau dua kali, melainkan banyak kali! Apa itu bisa disebut kebetulan? Nggak! Itu takdir! Takdir yang selalu mempertemukan Mas Danar dan Mbak Via. Terima kenyataannya Mas, bukan Mas Mirza laki-laki yang tepat berada di samping Mbak Via untuk membuatnya bahagia, tapi Mas Danar! Mas Danar yang baik, pehatian dan tulus, yang keluarganya nggak matrealistis walau kaya raya, yang orang tuanya nggak jahat, nggak nyinyir, nggak judes, nggak galak kayak ibu tersayangnya Mas Mirza itu!”
“Riri, udah!” Via bangkit karena tak tahan dengan semua lontaran kalimat adiknya yang pasti sangat menyakitkan bagi Mirza.
“Biarin Mbak. Biar Mas Mirza sadar, biar mata hatinya terbuka bahwa dia bukan yang terbaik.” Riri berdiri menantang maju selangkah. “Apa satu tamparan dariku kurang untuk menyadarkanmu, Mas?”
“Riri kamu jangan kurang ajar, Mas Mirza masih sah suami mbak. Dia kakak kamu juga.” Via memperingatkan, air matanya hampir tumpah, sementara Mirza berusaha menahan buncahan emosinya yang siap meledak.
Diam, Riri terpaksa menyudahi letupan-letupan kejengkelannya meski masih banyak yang ingin ia luapkan. Ketiganya berusaha mengendalikan perasaan yang bergejolak dalam dada masing-masing, beruntung baby Nala sama sekali tak terusik dengan keributan di sore itu. Namun satu kalimat tanya mampu membuat mereka bertiga menoleh terkejut berjamaah.
“Ri, apa benar semua kata-kata yang kamu ucapkan itu?”
❤️❤️❤️❤️❤️
Yaaah, telat lagi up nya
. Maafkan othor ya🙏🙏
Semoga masih setia buat ngasih like😍
Komen juga ya, jangan lupa. 😘
Ada yang votenya belum kepake? Hehe…, boleh dong dikasih ke othor😁
Selamat pagi, selamat hari Minggu. Salam sayang buat semuanya tanpa terkecuali.❤️
❤️
__ADS_1
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘