
Keadaan Sofi telah membaik, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan hal yang sudah lama diincarnya. pagi ini Sofi menuju ruang kerja Ramzi.
“Sial! Kenapa aku bisa lupa, pintunya pasti dikunci.” Gerutu Sofi kesal setelah tak berhasil membuka pintu ruang kerja Ramzi yang memang terkunci.
Sofi menuruni tangga dan mencari kepala pelayan.
“Gerald, apa kau sudah membersihkan ruang kerja?” Tanya Sofi pada kepada pelayan. “Jangan sampai suamiku pulang dia melihat ruang kerjanya dalam keadaan kotor.”
“Itu tugas Rinara, Nyonya. Dia akan membersihkannya satu jam lagi setelah selesai dengan ruangan yang lain.”
“Baiklah. Kalau begitu tolong minta pelayan bawakan sarapanku ke kamar, aku masih tak enak badan.” Peritah Sofi lantas dia kembali ke kamarnya.
Sofi tersenyum puas, langkah pertamanya berhasil. Dia akan masuk kesana setelah Rinara membuka pintunya. Tak berapa lama, pelayan yang lain mengetuk pintu kamar Sofi dan membawakan sarapan.
“Ini sarapan Anda, Nyonya.” Sang pelayan langsung keluar setelah menaruh baki sarapan Sofi.
“Terimakasih.”
Sofi menikmati sarapannya dengan perasaan senang tak seperti biasanya. Sarapan kali ini terasa lebih nikmat baginya karena sebentar lagi dirinya akan lebih dekat dengan cita-citanya.
Selesai sarapan, Sofi melihat jam dan mungkin ini sudah waktunya bagi Rinara membersihkan ruangan kerja Ramzi. Sofi segera keluar kamar dan benar saja mendapati pelayan wanitanya yang masih berusia muda sedang menuju ke sana. Sofi menunggu sebentar, kemudian kembali dengan actingnya yang memukau dia masuk kesana.
“Rinara, bisa kau tolong bereskan baki sarapanku di kamar?” Tanya Sofi mengejutkan pelayan muda itu.
Rinara bukan hanya terkejut karena Sofi tiba-tiba masuk ruangan, tapi dia juga cukup terkejut nyonya mudanya itu mengetahui namanya. Selama beberapa tahun dia bekerja disini, Tuan besar maupun Tuan mudanya tak pernah sekalipun memanggil dengan menyebutkan namanya.
“Kenapa kamu diam?” Tegur Sofi yang melihat Rinara tertegun.
“Oh, emh … tidak apa-apa, Nyonya.” Sahut Rinara agak tergagap. “Baik, saya akan membersihkannya setelah selesai dengan ruangan ini.”
“Sekarang saja, karena aku juga ingin dibuatkan jus buah.”
Rinara menunduk. “Maaf, Nyonya. Tapi itu tugas Linda.” Sahutnya pelan karena merasa takut. Satu sisi dia tak mau membantah perintah majikannya, disisi lain dia takut dimarahi kepala pelayan karena mengerjakan pekerjaan yang bukan kewajibannya. Peraturan para pekerja di tempat Tuan Alatas memang sangat ketat.
“Tak apa, kau jangan khawatir. Aku yang akan menegur Gerald jika dia menghukummu.” Sofi maju dan menyentuh pundak pelayan muda yang tertunduk itu. Rinara kembali kaget, bahwa nyonya mudanya perhatian dan baik hati juga ternyata. “Tadi aku tak sengaja lewat dan melihatmu disini, makanya aku sekalian saja memintamu untuk melakukakannya. Kau tidak keberatan kan?”
Rinara segera mengangguk meski hatinya masih sedikit khawatir, lantas dia meninggalkan ruangan.
Sofi kembali tersenyum puas, dia tau bahwa dirinya sangat berbakat dalam acting. Dan tanpa buang waktu, Sofi segera menuju meja kerja Ramzi, memeriksa semua tumpukan kertas yang ada disana untuk mencari yang diinginkannya.
“Hem, dia tak mungkin menyimpan surat-surat penting itu sembarangan.” Sofi menggerutu sendiri, lalu menuju rak tempat beberapa map tertata rapi, Sofi pun segera memeriksanya, namun tak juga menemukan hal yang dicarinya. “Si Brewok itu tak menyimpannya juga disini.” Sofi mulai gusar karena belum mendapatkan apa-apa.
Dia melangkah mengitari ruang kerja suaminya dan menuju rak buku di pojok ruangan. Sofi menyapu pandangan pada susunan buku-buku koleksi bacaan Ramzi meski ia tau tak mungkin juga dokumen penting ada di rak buku. Namun pandangannya berhenti ketika mencapai rak paling atas, dia seperti melihat suatu garis diantara tembok. Tanpa pikir panjang karena rasa penasarannya yang kuat, Sofi mendorong rak buku yang tak terlalu besar itu dan benar saja, ada pintu rahasia disana. Sofi coba membukanya dan ternyata benar sodara-sodara, pintunya terkunci.
“Si Brewok itu benar-benar membuatku habis kesabaran.” Decak Sofi kesal. Dia yakin semua dokumen dan surat-surat penting milik suaminya pasti disimpan di ruangan rahasia itu. “Cerdik juga si Brewok!”
Sofi melihat jam, ini mungkin sudah waktunya Rinara selesai membuat jus. Dia harus kembali ke kamarnya, Sofi tak ingin ada seorang pun yang mencurigainya termasuk seorang pelayan. Maka Sofi segera merapikan rak buku itu lagi, dia cukup puas penjelajahannya hari ini di ruang kerja suaminya tak terlalu sia-sia karena paling tidak dia yakin bahwa surat-surat berharga yang diinginkannya ada di ruangan rahasia itu, tinggal dia mencari cara bagaimana masuk ke sana.
__________
Via sedang bermain dengan Gio anak Yanti yang baru berusia satu tahun. Anak laki-laki itu sepertinya sangat menyukai Via karena apapun yang dilakukan Via selalu membuatnya tertawa.
“Gemesin banget sih, kamu …” Via mencium perut anak itu dan Gio kembali terkekeh dengan tawanya yang lucu.
“Aih, Gio suka ya sama Tante Via? Dari tadi ketawa terus …?” Yanti muncul dari belakang dengan sepiring pisang goreng.
“Mamam …” Oceh Gio sambil menunjuk piring yang dibawa Yanti.
__ADS_1
“Wah, Gio mau pisang goreng, Nak? Sebentar ya, masih panas.” Via semakin girang karena Gio juga anak yang cerdas.
“Dia kayaknya nyaman banget sama kamu, Vi.” Ucap Yanti sambil mengambil pisang goreng yang masih mengepul dan mencuilnya lebih kecil agar cepat dingin buat Gio.
“Iya. Kamu sih nggak pernah ajak dia main ke rumahku.”
“Habisnya kalo ngajak dia pasti kita nggak bisa ngerumpi nanti.” Yanti tertawa.
Via mengambil potongan pisang yang sudah dingin dan meyuapkannya pada Gio. Tekstrur pisang yang lembut langsung dikunyah oleh Gio yang baru tumbuh gigi dengan senang hati. Bocah laki-laki kecil itu makan sambil terus memainkan mobil-mobilan yang dipegangnya.
“Asyik ya kalo udah punya anak, jadi nggak bosen.” Via memandang Gio dengan wajah sendu.
“Sabar, nanti juga kamu pasti bisa hamil lagi kok.” Hibur Yanti yang mengerti kegundahan hati Via.
Via hanya tersenyum samar, kemudian menyuapi Gio lagi.
“O iya, gimana kabar Mirza? Dia udah ngubungin kamu kan?” Tanya Yanti kemudian.
“Hem, bukan lagi. Dia nelpon 3x sehari Yan, udah kayak orang minum obat.” Seloroh Via.
“Bagus lah, berarti dia perhatian banget.”
“Dia emang selalu gitu kalo lagi kerja. Padahal udah aku bilang nggak usah telpon sering-sering.”
“Namanya jga lagi LDR, Vi. Aku juga dulu gitu waktu masih tinggal di Bogor, telponan tiap hari sama Mas Firman.”
Via mendengus pelan. “Baru beberapa hari ditinggal Mas Mirza aku udah bosen di rumah, Yan. Nggak kayak waktu di kampung, aku bisa main ke tempat ibu, tempat Mbak Tia. Sekarang males mau kesana, kayaknya jauh banget.”
“Ya udah, kamu main aja ke sini. Gio juga pasti suka ada kamu.”
“Masa mau main ke sini tiapa hari?”
“Oh iya iya.” Via ingat beberapa pot yang sudah dirapikannya waktu pertama kali pindahan. “Tapi kayaknya mending tanam sayur-sayuran aja deh, Yan. Ka bisa ada manfaatnya, daripada ditanamin tanaman hias cuman buat diliatin doang nggak bisa dimakan?”
“Iya, terserah kamu deh. Yang penting itu bisa untuk mengisi waktu luang kamu.”
Via tersenyum senang, bener juga usulan Yanti, dia akan mulai berkebun. “Nanti aku beli bibitnya deh.” Ungkap Via kemudian.
“Eh, ngapain beli? Kalo cuman buat permulaan minta aja sama Pak Hadi. Nanti aku temenin kamau ke sana deh.”
“Pak Hadi siapa? Ih, nggak lah. Orang nggak kenal juga malu-maluin aja.” Via ogah.
“Nggak papa, baik kok orangnya. Dia suka berkebun, tanaman hiasnya juga banyak. Kita minta bibitnya sedikit pasti dikasih, rumahnya sebelah sini deket kok.”
“Tapi kamu ya yang ngomong?” Ucap Via.
“Iya, tenang aja.”
Waktu beranjak siang, Gio tampak mengantuk. Yanti memanggil baby sitter Gio untuk membawanya ke kamar karena ini waktunya Gio tidur siang.
Via mencium pipi gembul bocah laki-laki itu sebelum Gio masuk ke kamranya.
“Ya udah yuk, kita ke rumah Pak Hadi sekarang.” Ajak Yanti.
“Yuk! Aku sekalian pulang deh kalo gitu.”
Mereka berdua pun menuju rumah Pak Hadi yang hanya berselang beberapa rumah dari rumah Yanti.
__ADS_1
Pak Hadi, laki-laki tua degan wajah kharismatik itu menyambut kedatangan Via dan Yanti dengan ramah. Apalagi setelah Yanti menceritakan niat dan tujuannya, Pak Hadi antusias sekali. Dia juga mengajak mereka ke kebun belakang rumahnya yang terdapat aneka tanaman hias dan tanaman sayur yang tersusun rapi di undakan rak yang terbuat dari kayu. Beberapa polybag berderet ditanami terong, cabai, sawi, brokoli dan masih banyak sayuran yang lainnya yang nampak sudah mulai berbuah.
“Nah, ini saya punya bibit kembang kol. Kebetulan saya juga baru tanam.” Pak Hadi menyerahkan bungkusan kecil berisi biji kembang kol pada Via.
“Nggak usah banyak-banyak, Pak. Pot yang ada di rumah saya juga nggak banyak kok.” Ucap Via.
“Lho, nggak papa. Saya masih punya poly bag, sebentar ya saya ambilkan.” Pak Hadi kembali ke dalam rumahnya dan segera memberikannya pada Via.
“Wah, jadi merepotkan Bapak.” Via merasa tak enak hati dibuatnya.
“Alah, nggak papa. Saya justru senang kalau ada orang yang mau berkebun.” Ujar Pak Hadi. ”Nah ini juga ada bibit cabai dan sawi. Kalau bibit terongnya habis, nanti saya beli lagi.”
“Ini aja udah banyak banget kok, Pak.”
“Ya nggak usah ditanam semua, sedikit-sedikit saja. Sisanya disimpan buat nanti.”
Via mengangguk dengan senyum mengembang sempurna. Ternyata Pak Hadi memang baik banget, bener kata Yanti.
“Oya, nanti ambil tanahnya sekalian dari sini aja. Itu udah saya campur dengan kompos alami.” Pak Hadi bejalan menuju ke sisi halaman belakang rumahnya. “Nah, ini saya buat sendiri pupuknya, organik!” Sambung Pak Hadi dengan raut wajah berbinar. “Jadi semua sayuran yang kamu tanam itu nanti ada embel-embel namanya : sayuran organik!” Lanjut Pak Hadi dengan terkekeh.
Via dan Yanti ikut tertawa dibuatnya.
“Nanti aku bantuin bawanya, Vi.” Yanti mengusulkan.
“Iya, tapi kayaknya harus pakai motor ya biar bisa bawa lebih banyak.”
“Ya sudah, sekarang bawa yang bisa kalian bawa saja dulu. Sini kantung plastiknya, biar saya ambilkan tanahnya.”
Pak hadi mulai mengisi plastik dengan tanah yang sudah dicampur kompos alami yang ia sebut dengan pupuk organik itu. Via dan Yanti turut membantu. Setelah dirasa cukup, keduanya pun segera pamit.
Via tak berhenti memuji kebaikan Pak Hadi dan membicarakannya dengan Yanti begitu keluar dari halaman rumah Pak Hadi hingga tak sadar seorang laki-laki yang datang dari arah belakang dengan sepeda motornya melihat Via yang berjalan menjauh dari rumahnya.
“Pa, tadi siapa yang ke sini?” Tanya laki-laki itu pada Pak Hadi yang masih di teras.
“Oh, Yanti istrinya Firman sama Via tetangga baru kita.” Sahut Pak Hadi enteng.
Via? Ngapain dia kesini?
“Hey, kenapa kamu bengong, Danar?” Tegur Pak Hadi yang tak lain adalah ayahnya Danar.
“Omh, nggak papa, Pa.” Danar segera masuk.
__________
Nah, ke depan Via bakalan lebih sering berisnteraksi dengan Pak Hadi. Tapi dia belum tau kalo Pak Hadi itu ternayata ayahnya Danar.
Gimana ya kira-kira kalo Via tau ternyata Pak Hadi itu ayahnya Danar?😀😀
Tungguin kelanjutannya ya…😍😍
Terima kasih sudah membaca dan mensupport Othor.🙏🙏❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Kak. 😉☺️Mohon maaf juga yang belum othor feedback. As son as possible, ok?🤩🤩
Othor lagi dikejar lembur akhir bulan
Wkwkwkk…😆😆😆
__ADS_1
Luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘