
Selepas shalat maghrib Mirza dan Via turun untuk makan malam. Mirza kelihatan bersemangat karena ada sayur lodeh kesukaannya.
“Kamu mau yang mana, sayang? Sini biar aku ambilin.” Mirza meraih piring Via yang masih kosong.
“Nggak usah, Mas. Aku bisa ambil sendiri.”
“Nggak papa.” Mirza mengambilkan lauk untuk Via, tak lupa semangkuk sayur lodeh yang masih hangat. “Makan yang banyak ya, biar nanti malam kamu strong.” Ucap Mirza dengan senyum jahil.
Via hanya mengerucutkan bibirnya. Sudah lima tahun menikah, suaminya itu masih saja gemar menggodanya kayak pasangan yang baru kemaren sore menikah. Tapi Via bersyukur juga, Mirza selalu hangat dan pandai membuatnya bahagia, terlepas dari satu kesalahan fatal yang pernah dia lakukan.
“Mau aku suapin?” Mirza mengambilkan sendok dan garpu untuk Via.
“Apaan sih, Mas? Nggak usah lebay deh!”
Mirza nyengir kuda, lantas mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.
Pintu kamar Sofi terbuka, Sofi keluar dan langsung menuju ruang makan.
“Wah, meriah sekali menu makan malamnya.” Ujar Sofi melihat meja makan. “Hemmm, baunya harum banget.” Lanjutnya seraya menarik kursih duduk di samping kiri Mirza.
Mirza dan Via saling pandang, Sofi tak memperhatikan mereka. Matanya fokus tertuju pada pecak lele, semur ayam, sayur lodeh, tahu bacem, nila goreng dan sambal tomat yang sangat menggoda. Lalu dengan penuh percaya diri dia mengambil piring di depannya.
“Kamu mau ngapain?” Tanya Mirza meihat Sofi tajam.
“Makan lah, masa mau maraton!” Ucap Sofi santai.
“Siapa yang suruh kamu makan?” Mirza masih tak meredupkan tatapan tajam matanya yang seolah siap menghabisi Sofi mentah-mentah.
Glek!
Sofi menelan salivanya demi mendengar kalimat Mirza yang ia yakini itu berarti larangan untuk dirinya menikmati semua hidangan yang sudah tersaji di depan matanya, padahal perutnya sudah berkoplo ria. Dan sebenarnya sedari dia ribut dengan Via sore tadi ia sudah tergoda untuk mencicipi semua hidangan itu.
“Maksud kamu?” Sofi agak ragu bertanya meski sudah paham maksud Mirza.
“Apa aku pernah bilang kamu boleh makan satu meja sama aku dan istriku?” Tanya Mirza dengan nada sedikit ditekan.
“Tapi aku laper, Za. Aku mau makan.” Jawab Sofi tak menghiraukan kalimat Mirza.
“Kamu hanya boleh makan kalau kamu sendiri yang masak. Selain itu, nggak!” Tandas Mirza.
“Mirza, kamu jangan kayak anak kecil dong! Masa perkara makan aja harus ada aturannya.” Sofi tak mau kalah.
“Ini rumahku, dan kamu masuk ke sini tanpa kenginanku. Aku punya aturan di rumah ini, jadi kalo kamu maksa tetep mau tinggal disini, kamu harus patuhi semua peraturan di rumah ini. Termasuk aturan untuk makan, paham!” Tegas Mirza tak mau dibantah lagi.
Setengah tak percaya Sofi menggeleng dan meletakkan kembali piringnya lantas berdiri sambil melihat Via yang memandangnya tanpa ekspresi.
“Kalian keterlaluan!” Ucapnya sengit lalu pergi keluar entah kemana.
Mirza tersenyum puas lalu meraih tangan Via.
“Itu balasan untuknya yang sudah berani kasar sama istriku.”
_
Keadaan Tuan Husein sudah mulai stabil. Azad duduk di samping bed sambil tak lepas matanya memandangi wajah pucat ayahnya.
“Azad, makanlah dulu, Nak. Mama nggak mau kamu sampai sakit.” Nyonya Husein menyentuh pundak putranya.
“Aku belum lapar, Ma.” Jawab Azad pelan.
Nyonya Husein hanya menghela napas. Ia tahu Azad sangat khawatir sama seperti dirinya.
__ADS_1
“Mama pulang saja, biar aku yang jagain Papa disini.” Azad melihat wajah letih mamanya dan merasa sangat kasihan.
Nyonya Husein tak menyahut, dia duduk di satu satu-satunya sofa ruangan itu. Azad merasa penasaran, tak mungkin ayahnya tiba-tiba terkena serangan jantung jika tak ada penyebabnya.
“Ma, sebenarnya tadi siang kenapa Papa bisa sampai kena serangan jantung? Bukankah selama beberapa bulan ini keadaannya sudah berangsur pulih?” Tanya Azad menghampiri ibunya.
“Mama sendiri tidak tau, Nak. Mama baru kembali dari dapur untuk memeriksa keperluan pelayan yang ada disana, dan ketika masuk Papamu sudah dalam keadaan kepayahan lalu jatuh ke lantai.” Papar Nyonya Husein dangan raut sedih mengingat kejadian siang tadi.
Azad mengelus lengan ibunya menatapnya panuh kasih. “Aku akan telpon sopir untuk jemput Mama. Mama harus istirahat biar besok bisa kesini lagi temani Papa.” Azad keluar ruangan untuk menelpon sopir ayahnya dan juga meminta pelayan mencarikan ponsel ayahnya untuk dibawa ke rumah sakit.
Azad hendak kembali ke ruangan, namun kemudian ingat pada kakaknya. Diambilnya kembali gawai yang sudah masuk ke dalam saku kemajanya.
“Nomerku masih diblok!” Ucap Azad gusar setelah tak bisa menghubungi Sofi. “Kak Sofi! Kenapa isi kepalamu nggak berubah dari dulu sampai sekarang!”Geram Azad tertahan demi mengingat kelakuan kakaknya yang hidupnya tak mau dikekang sedari remaja dulu.
Azad akhirnya masuk dan melihat mamanya sudah pulas di sofa. Meski dia anak laki-laki, tapi Azad gampang tersentuh hatinya. Diambilnya jasnya untuk diselimutkan pada Nyonya Husein yang sudah terlelap dengan wajah lelah. Azad berganti pada ayahnya, terdengar dengkuran halus Tuan Husein. Kumis melintang dan janggut panjangnya yang sudah memutih tak mengurangi wajah garang lelaki tua itu. Namun kini kondisinya tengah tak berdaya.
“Pulanglah, Kak. Lihat keadaan orang tua kita.” Lirih Azad seolah tengah bicara dengan Sofi.
Azad kembali duduk di samping bed, kemudian meletakkan kepalanya di samping lengan ayahnya. Diusapnya lembut punggung tangan ayahnya. “Papa harus sembuh. Kita akan bangun bisnis kita lagi dari nol. Papa harus kuat, ada aku yang akan selalu membantu Papa untuk membuat bisnis kita kebali jaya, Pa.” Bisik Azad terus menerus hingga tak sadar dia juga terlelap dan bangun ketika mendengar pintu ruangan diketuk dari luar.
“Azad, siapa itu, Nak?” Tanya Nyonya Husein yang rupanya juga terbangun.
Azad bergegas membukakan pintu, ternyata sopir mereka yang datang.
“Ma, sopir sudah datang untuk menjemput Mama.”
Nyonya Husein mengangguk, ia pergi setelah terlebih dulu pamit pada suaminya walau tak bisa mendengarnya. Azad mengecek ponsel ayahnya, mencoba mencari kemungkinan penyebab ayahnya bisa terkena serangan jantung.
Matanya tertumpu pada panggilan masuk dari Tuan Makhrus Alatas pada pukul 11.05 tadi siang. Azad mengingat jam berapa dia mendapat kabar dari pelayan di rumahnya tentang ayahnya dan kedatangan orang suruhan Tuan Makhrus ke kantornya.
“Apakah ini penyebabnya? Gumam Azad.
Hampir setengah jam Sofi berada di depan rumah Mirza. Hatinya jengkel bukan main, dia sibuk menghubungi Bu Een dan Udin untuk dimintai tolong namun keduanya tak ada yang mengangkat telpon darinya. Sedangkan untuk masuk kembali ke dalam rumah tak mungkin baginya, karena ia sudah kadung marah dan gengsi kalau harus mengemis makan pada Mirza dan Via.
“Huh! Kemana sih si nenek tua itu! Kenapa telponku nggak diangkat?” Rutuk Sofi.
Dia lantas kembali beralih menghubungi nomor Udin, namun tak juga ada jawaban.
“Si Udin juga kemana dia! Arghh! Kenapa semua orang hari ini menjengkelkan?” Sofi terus menggeram kesal sendiri.
Lantas dia keluar halaman rumah Mirza dan melongok ke kanan kiri jalan yang sepi.
“Mana sepi banget lagi! Di planet mana sih ini? Jam segini udah nggak ada orang lewat? Boro-boro ada gofood, manusia sebiji juga nggak ada!” Sofi semakin kesal. “Masa iya sih aku harus jalan kaki ke rumah nenek tua itu? Iya kalo nyampe sana, tapi kalo nyasae gimana? Aku kan nggak hafa jalannya!” sofi terus ngedumel.
Namun bukan sofi namanya jika gampang menyerah, dia tetap berdiri disana menanti seseorang yang mungkin lewat untuk dimintai tolong mengantarkannya ke rumah Bu Een.
“Sabar ya, sayang. Kita aka
n balas perlakuan ayah kamu ini yang menyebabkan kita kelaparan.” Sofi mengelus-elus perutnya sambil masih tengok kanan kiri.
Penantian Sofi akhirnya terbayar ketika sebuah motor bebek dengan lampu yang agak redup melintas di depannya.
“Bang! Ojek!” Panggil Sofi penuh semangat.
CIIT!
NGIIK!
BLEBLEK BLELEK BLEBLEK … !!
__ADS_1
Motor mas-mas yang dipanggil ojek itu berhenti agak jauh dari Sofi berdiri dan langsung mati karena melakukan pengereman darurat. Maklumlah itu motor bebek tua tahun pra sejarah, jadi tak bisa ngerem dadakan. Mirip-mirip kereta api lah, kalo mau berhenti harus beberapa kilometer dulu ngeremnya, hehehe…
“Mas, ojek kan?” Tanya Sofi menghampiri lalu memperhatikan laki-laki pengendara motor bebek itu memakai helm dan jaket yang ia yakini betul bahwa itu adalah atribut wajib seorang tukang ojek.
Si pria yang ternyata Arya itu membuka kaca helmnya dan melihat heran pada Sofi.
“Antar saya ke kampung sebelah.” Pinta Sofi tanpa menunggu jawaban Arya karena ia terlampau senang menemukan tukang ojek di sana. Baginya inilah hari paling bahagianya dalam menyambut kedatangan tukang ojek sepanjang sejarah hidupnya.
“Masnya tau rumah Bu Een nggak?” Tanya Sofi yang melihat Arya masih diam karena heran.
Arya mengangguk, tapi pikirannya masih campur aduk antara bingung, heran dan penasaran siapa perempuan yang di depannya ini? Kenapa dia keluar dari rumah Mirza dan minta diantarkan ke rumah Bu Een? Apa jangan-jangan ini selingkuhannya Mirza?
“Bagus! Terus kenapa masih bengong? Kamu kira aku kuntilanak? Aku manusia asli, nih liat kakiku masih nginjek tanah!” Ucap Sofi kesal demi melihat Arya yang masih bengong memandangi dirinya.
Arya terkesiap, lalu langsung berusaha menghidupkan motor bebek kesayangannya.
“Cepatan jalan! Nggak pake lama!” Perintah Sofi yang sudah naik ke atas boncengan begitu motor Arya berhasil hidup setelah butuh perjuangan ekstra.
Toko Bu Een sudah tutup begitu Sofi sampai sana. Sofi turun dengan ragu di depan toko.
Jangan-jangan si nenek tua itu nggak ada di rumah? Tokonya jam segini udah tutup dan dia juga nggak angkat telepn dari aku? Gawat kalo dia beneran nggak ada di rumah!
Sofi melangkah galau ke rumah Bu Een.
“Eh, Mbak! Bayar dulu dong, jangan main nyelonong aja!” Panggil Arya.
Sofi tak menghiraukan Arya, dia lantas mengetuk pintu rumah Bu Een. Setelah beberapa kali, barulah terdengar langkah kaki dari dalam.
“Mbak, bayar dulu dong ojeknya!” Arya menghampiri Sofi.
“Iya iya, bawel banget sih kamu jadi tukang ojek!” Sofi merogoh saku dressnya. “Nih! Ambil aja kembaliannya!” Sofi memberikan selembar uang puluhan ribu. Itu adalah uang satu-satunya karena dia nggak bawa dompet, beruntung disakunya ada uang. Coba kalo nggak, masa iya harus minta sama calon ibu mertua. Bisa turun harga dirinya sebagai calon mantu yang kaya raya.
“Kembalian apaan? Segini kalo jam malem masih kurang, tau!” Omel Arya kesal. “Tapi ya udah nggak papa, itung-itung sodakoh!” Lanjut Arya lantas segera berlalu meninggalkan Sofi yang menatapnya jengkel.
“Ibu …” Sofi langsung menghambur ke pelukan Bu Een begitu dibukakan pintu.
Bu Een yang sudah mengantuk kaget mendapati Sofi yang tau-tau datang memeluknya.
“Sofi? Sofi ada apa kamu malam-malam ke sini? Kamu sama siapa? Apa sama Mirza?” Bu Een celingukan mencari Mirza yang mungkin masih berada di halaman rumahnya.
“Nggak, Mirza justru udah bikin aku jengkel, Bu!” Sofi mengadu dengan rengekan yang dibuat-buat.
“Kanapa memangnya? Ayo, masuk dulu. Ceritakan sama Ibu.” Bu Een mengajak Sofi masuk.
Fix! Itu pasti selingkuhannya Mirza! Jadi dia sudah berani tinggal di rumah Mirza bareng sama Via? Kurang ajar si Mirza, dasar sinting!
Arya yang masih belum pergi mengintip dari balik tembok yang memisahkan antara toko dan warung Bu Een. Kemudian dia pergi setelah Sofi dan Bu Een menghilang ke dalam rumah.
___
halo akak semua ...☺️☺️
makasih yaa udah setia ngikutin karyaku🙏🙏❤️❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, dengan like, komen, rate 5 dan vote yaa...😍😍😍
luv u all 😘😘
__ADS_1