TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
156 #MENGANTARKAN MAKAN SIANG


__ADS_3

Tuan Alatas menyorot tajam pada wajah Jane yang duduk di depannya. Laki-laki tua yang masih terlihat garang itu seolah ingin menguliti Jane hidup-hidup, namun Jane berusaha tetap tenang meski keringat dingin mulai mengembun di dahinya. Diam-diam Tuan alatas mengepalkan tangan kanannya.


“Aku tak percaya kau menolak tawaranku hanya karena tergiur dengan tawaran dari seseorang yang bahkan tidak ada apa-apanya denganku.” Perkataan Tuan Alatas terdengar meyudutkan.


“Bukan soal tergiur, Tuan. Tapi Azad sudah lebih dulu menawariku untuk bekerja di perusahaannya.” Sahut Jane lugas.


Tuan Alatas tersenyum sinis. “Perusahaan diambang kebangkrutan itu tak kan mampu membuatmu bertahan lebih lama.”


Jane mengehela nafas, menegakkan posisinya. “Saya minta maaf karena mengecewakan Anda, Tuan. Saya mohon diri, permisi.” Jane pamit dan tak ingin berlama-lama di sana.


Bagi Jane ini jauh lebih baik, meski ia tentu saja menginginkan bayaran lebih atas pekerjaannya namun menerima tawaran Tuan Alatas untuk menjadi asisten pribadinya sama saja seperti menggali kuburnya sendiri sebab Sofi tak akan membiarkannya hidup tenang.


Jane kini sudah sampai di kantor Azad. Laki-laki muda yang selalu terlihat tenang itu sedikit terkejut dengan kedatangan Jane.


“Hai, Jane.” Azad berdiri menyambut.


“Apa aku mengganggu?” Jane masuk agak ragu.


“Nggak, duduk.” Azad menuju sofa di sisi ruang kerjanya. “Jadi kamu bawa kabar baik atau kabar buruk?”


Jane menguas senyum simpul. “Aku menerima tawaranmu.”


“Maksaih ya. Aku nggak nyangka kamu berani nolak tawaran Alatas.”


“Itu karena aku nggak mau berurusan lagi dengan kakakmu.”


Azad tersenyum, “Ya, aku rasa ungkapan yang waras harus ngalah itu berlaku dalam kasus ini.”


“Berarti kau menganggap kakakmu sendiri sudah tak waras?”


“Ah, lupakan soal itu!” Azad mengibaskan tangannya. “Sekarang ayo kita lihat laporan dari masing-masing divisi, aku yakin dengan bantuanmu kita dapat menemukan sumber kelemahan dari perusahaanku ini dan kita akan segera memperbaikinya.” Azad bangkit mengajak Jane.


“Semangat banget sih? Memangnya aku sudah langsung bekerja hari ini?” Heran Jane.


“Memangnya kau mau mulai bekerja kapan? Tahun depan?” Azad terkekeh kemudian berjalan mendahului Jane.


❤️❤️❤️❤️❤️


Sofi baru saja keluar dari kolam renang, Rinara pelayan muda yang ditugaskan Ramzi untuk menjaga Sofi datang membawakan segelas susu hangat.


“Nyonya, Anda belum minum susu dari pagi.” Rinara meletakkan gelas itu di meja.


“Aku mau latte saja.” Sahut Sofi menyandarkan tubuhnya yang masih basah.


“Tapi …”


Satu lirikan tajam memungkas sanggahan Rinara, pelayan muda itu tak berani membantah. Dia hanya mengagguk lantas pergi membawa kembali segelas susu hangat itu. Sofi mengambil botol air mineral di dekatnya.


Gluk gulu gluk


Sofi menenggak hampir setengah isinya, berenang membuatnya haus.


KRUWOK KRUWOK KRUWOK WOK


Panggilan video call dari Ramzi.


“Ish, mau ngapain si brewok ini peke video call segala?” Sofi hanya melirik gawainya.


KRUWOK KRUWOK KRUWOK WOK


Dengan kesal Sofi terpaksa menerima juga panggilan itu.


“Halo, sayangku.” Ramzi menyapa sumringah.


“Bukannya tadi pagi kau sudah menelponku, Kak? Mau apalagi video call?” Kesal Sofi.


“Hey, kamu lagi ngapain? Kenapa kamu terlihat sangat seksi dan …”


“Aku habis renang.”


Ramzi kaget. “Renang? Kenapa berenang?”


“Kenapa memangnya? Ini bagus untuk wanita hamil.”


“Beneran?” Ramzi ragu. “Tapi kamu hamil muda. Aku kan sudah bilang, kamu jangan terlalu banyak bergerak, eh malah berenang.” Ramzi mengomel tak habis pikir dengan kelakuan istrinya.


“Aku baik-baik aja. Jangan lebay!”


“Ok, tapi kenapa harus renang jam segini? Kalau kamu masuk angin gimana? Ini kan sudah hampir maghrib. Kalo mau renang bisa kan pagi hari?"


“Ck! Lebay lagi kan!” Sofi berdecak.


“Aku cuman khawatir aja sama calon anak kita.” Wajah Ramzi menampakkan raut khawatir.


“Sudahlah, aku bisa jaga diri. Kak Ram mau apa video call segala?” Ulang Sofi.

__ADS_1


“Cuma mau liat wajah istriku saja, kenapa emangnya?” Ramzi tersenyum lebar. “Coba arahkan agak kebawah kameranya, aku mau lihat.”


“Lihat apa? Otakmu mesum! Apa kamu belum pernah melihatku pakai baju renang?” Sofi jengkel.


“Justru karena sudah pernah lihat, makanya aku kangen pingin lihat lagi.” Ramzi nyengir. “Aku bakalan lebih lama lagi di sini, aku nggak jadi pulang besok.”


“Oya?”


“Iya, mungkin sekitar tiga atau emat hari lagi. Urusanku belum beres.”


“Baguslah kalau begitu.” Sofi keceplosan.


“Kok bagus?”


Sofi mendadak salting, meski dia tak peduli dengan suaminya tapi dia tak ingin menampakkannya. Maka segera dia cari alasan lain untuk menutupinya.


“Ya bagus kan, bererti urusan bisnis Kak Ram akan selesai sepenuhnya kalau kau tinggal lebih lama lagi di sana.”


Ramzi mengangguk dengan ber O ria, dia sama sekali tak menyadari kebohongan istrinya. “Oya, apa kau selalu minum susu hamilmu?” Tanya Ramzi kemudian.


“Iya.”


“Minum vitamin?”


“Minum.”


“Makan teratur?”


“He emm.”


“Istirahat cukup?”


“Iya. Kenapa sih banyak sekali pertanyaanmu? Aku bahkan makan dengan papamu, apa kau puas?” Sofi tak bisa menahan kekesalannya.


Ramzi malah terbahak. “Wow, kalian bisa akur juga. Aku senang mendengarnya.”


“Sudah ya, aku mau mandi dan istirahat. Bye!” Sofi mengakhiri sambungan sepihak tak peduli suaminya masih ingin bicara lagi karena sudut mataya menangkap bayangan Rinara yang keluar dari lift.


“Ini minuman anda, Nyonya.” Rinara mendekat.


Sofi mengambilnya “Apa Alatas sudah pulang?”


“Sepertinya baru saja, Nyonya.”


Sofi menyesap perlahan minumannya dan meletakkannya kembali di baki. “Bawa ke kamarku saja.” Sofi menyambar bathrobenya dan menuju lift bersama Rinara di belakangnya.


Sofi dan Rinara sampai di lantai dua, begitu pintu lift terbuka sosok Tuan Alatas sedang berdiri bersama kepala pelayan di depannya.


“Apa yang baru kau lakukan?” Tanya Tuan Alatas dengan tatapan tak suka.


“Memangnya kau pikir aku berpakaian seperti ini habis ngapain? Habis mancing?” Sinis Sofi.


“Kenapa kau memasuki wilayah pribadi Ramzi?”


“Hey, aku istrinya. Aku bebas mau ngapain!”


“Dasar tak tau malu! Kau itu benalu!” Geram Tuan Alatas.


Sofi malah tersenyum, sedikitpun ia tak gentar dengan ayah mertuanya itu. Ia melirik pada kepala pelayan yang membawakan tas kerja Tuan Alatas.


“Kalau boleh aku tebak, kau pasti habis dapat kabar buruk makanya sensi begitu.”


Tuan Alatas semakin geram, menantunya itu sama sekali tak ada sopan-sopannya pada dirinya yang notebene sebagai tuan besar di rumah itu.


“Wanita jalang yang akan kau jadikan boneka untuk menyingkirkanku itu pasti menolak tawaranmu kan?” Ejek Sofi.


“Jalang teriak jalang.” Sinis Tuan Alatas. “Aku akan menyingkirkanmu dengan tanganku sendiri.” Lirih tuan Alatas melewati Sofi menuju pintu lift.


Perdebatan sengit itu membuat kepala pelayan dan Rinara hanya mampu diam dan menunduk, bukan rahasia lagi, seisi rumah megah itu tau ketidakharmonisan sang menantu dan ayah mertuanya.


“Kita lihat, kau atau aku yang akan keluar dari rumah ini.” Gumam Sofi


❤️❤️❤️❤️❤️


Setelah acara piknik karyawan atau lebih tepanya disebut sebagai piknik keluarga beberapa hari yang lalu, Bu Elin bertekad akan mendekatkan Danar dan Riri dengan berbagai rencana yang sudah dia siapkan. Ia tak bisa melihat anak angkat kebanggaannya terpuruk lagi dalam urusan cinta. Bu Elin merasa harus berusaha lebih ekstra agar Danar benar -benar bisa dekat dengan Riri. Dengan dalih Danar sibuk tak sempat makan siang, Bu Elin meminta Riri mengantarkan makan siang ke kantor Danar.


“Kenapa nggak order gofood aja, Bu?” Tanya Riri di telpon.


“Beda lah, ini masakan rumahan. Bi Narih yang bikin makanan kesukaan Danar.” Bu Elin beralasan.


“Tapi kenapa harus aku yang nganter?” Riri curiga.


“Ri, saya udah serahkan semua urusan perusahaan pada Danar. Dia pasti sangat sibuk menghendle semuanya, mungkin tak sempat untuk makan siang. saya sudah ingin pensiun dari perusahaan dan hanya ingin mengajar kursus saja.” Papar Bu Elin.


Jawaban Bu Ein sungguh tak nyambung! Tadi kan aku tanya kenapa harus aku yang nganter? Kenapa Bu Elin malah cerita dia mau pensiun segala? Batin Riri heran.

__ADS_1


“Ri? Kamu bisa kan?” Tegur Bu Elin di seberang.


“I – iya, Bu.”


“Ya sudah, sekarang cepetan ke rumah ambil makanannya ya.”


Mau tak mau Riri menurut juga. Ia melajukan motornya untuk mengambil makan siang Danar di rumah Bu Elin kemudian menuju kantor Danar. Sesampainya di sana, ia melihat arlojinya, masih 5 menit lagi jam makan siang. Riri melangkah ragu ke front office, tak disangak pegawai di sana menyambutnya ramah.


“Mbak Riri ya?”


“Em, iya.” Riri menyahut ragu. Kok dia bisa tau namaku ya?


“Mau nganter makan siang untuk Pak Danar, kan?”


Riri mengangguk, masih dengan ekspresi bingung. Dia tak tau kalau Bu Elin sudah memberitahu kedatangan Riri pada karyawan di front office.


“Langsung saja ke lantai 4 ya, Mbak.”


Meski masih bingung Riri iyain aja. Dia langsung menemukan ruangan Danar, Riri cuek aja melewati kubikel beberapa karyawan yang nampak sudah tak sabaran ingin menyambut jam makan siang.


“Ssuut!” Milen memberi isyrata pada Cila dan Vony.


Trio ubur-ubur itu kompak melihat pada Riri yang menuju ruangan Danar.


“Siapa dia?” Bisik Cila pada Vony.


Milen mengangkat bahunya.


“Pak bos pesen gofood kali.” Sahut Vony asal karena melihat penampilan Riri biasa banget.


“Kok dia berani banget, bukannya dititipin aja di depan?” Cila heran.


“Mana gue tau!”


Via yang penasaran mendengar kasak kusuk di belakangnya menoleh lantas mengedarkan pandangannya ke ruangan namun Riri sudah keburu masuk ruangan Danar.


“Hemm, Ibu selalu aja ngerepotin kamu ya, Ri.” Sambut Danar setelah Riri di dalam ruangan.


“Nggak kok, Mas.” Riri tersenyum.


“Oya, kamu udah makan?”


“Belum.”


“Ya udah, kita makan bareng ya.”


“Nggak ah, aku masih ada kerjaan. Aku mau langsung balik lagi ke toko, mau ngelist orderan buat besok.”


“Beneran nih nggak mau makan? Aromanya wangi banget lho ini.” Danar mengangkat wadah tupperwer itu ke dekat hidungnya.


“Iya, Mas Danar aja. Kan mas Danar sibuk sampe nggak sempet keluar buat makan siang kata Bu Elin.” Ungkap Riri polos.


“Ibu biang begitu?”


“Iya.”


“Ah, itu sih ibu aja yang lebay. Orang biasanya juga aku ke restoran deket sini kok buat makan siang.”


Riri hanya mengangguk. “Ya udah deh Mas, aku pulang dulu ya.”


“Iya, maksih ya, Ri. Maaf udah ngerepotin.”


“Santai aja, Mas. Hehe…”


“Oya, tadi kamu ketemu Via nggak?” Pertanyaan Danar membuat Riri memutar lagkahnya kembali,


“Nggak, tadi aku langsung ke sini.”


“Harusnya sih ketemu, tadi kamu pasti ngelewatin dia soalnya.”


“Oh, ya udah deh nanti aku cari Mbak Via.”


Danar mangangguk seraya tersenyum, Riri keluar ruangan. Namun sayang karyawan sudah sepi karena bubar untuk makan siang, Riri pun tak ambil pusing, dia segera menuju tokonya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Hai, Kakak semuanya… maafkan ya kalo up atau komen sering telat banget. 🙏🙏🙏


Bulan puasa ini jadwal othor lumayan acak-acakan, hehe…. 😅😅😅


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like dan selalu komen sesuai isinya ya. 🤩🤩🤩


JANGAN SPAM!


Oya, akak juga bisa dengerin audio book TERPAKSA SELINGKUH❤️ dibacain adik Chen Liong lho.😍😍

__ADS_1


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2