TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
187 #GARA-GARA BINGKISAN


__ADS_3

Setelah kepulangan Via dari rumah sakit, Mirza menjadi semakin protektif pada kondisi istri dan anak yang ada dalam kandungan Via itu. segala hal yang mungkin bisa membuat istriya lelah sangat ia hindari, termasuk soal nganu. Iya, nganu itu lho. Paham kan maksudnya? 🤭🤭 Mirza tak pernah memaksakan meskipun sedang sangat ingin melakukannya. Seperti siang ini ketika hanya melihat istrinya tengah tiduran bermalas-malasan di atas hamparan karpet empuk ruang tengah, Mirza tersenyum penuh arti pada sang istri.


“Mas kenapa, kok senyum begitu?” Tanya Via yang lagi mantengin Sponge Bob di layar TV.


“Ah, nggak papa Sayang.” Mirza menggelosor di samping sang istri. Daster baby doll sebatas lutut yang dikenakan Via nampak tersingkap ke atas membuat paha mulusnya terpampang nyata di depan Mirza. Pandangan laki-laki yang sudah beberapa hari tak nganu itu berbinar lapar melihatnya, pikirannya secara otomatis memberikan sinyal keseluruh sel-sel syarafnya untuk berinisiatif mengambil tindakan agresif. “Sayang ….” Lirih Mirza seraya mengelus paha sang istri dengan jantung berdenyut-denyut.


“Emh …” Sahut Via alakadarnya, matanya masih fokus pada layar TV yang tengah menyuguhkan adegan si Patrick Star yang sedang kelaparan mendatangi Krusty Krab untuk memesan makanan. Tak lama Sponge Bob membawakan Craby Patty special untuk sahabatnya itu. Mata Patrick Star langsung berbinar bahagia dengan air liur bercucuran menyambut makanan kesukannya itu.


“Em, itu kayaknya enak deh …” Gumam Via ngeliatin Patrick tengah mengunyah Craby Pattynya, padahal kan cuman kartun yak?😅😅


Mirza yang emang sedang on langsung semangat begitu mendengar kata ‘enak’ yang diucapkan istrinya. “Kamu mau Sayang?” Bisik Mirza dengan tangan sedikit mengangkat daster bagian bawah istrinya.


“Mau Mas.”


“Sekarang?” Nafas Mirza memgendus wangi khas sang istri lebih dekat lagi.


“He em.” Via mengangguk.


Mirza menarik lembut pundak istrinya menghadapnya, ditatapnya manik mata sang istri dengan penuh cinta. “Mas juga mau banget, Sayang.” Tanpa buang waktu ia langsung melu**t bibir lembut Via dengan tangan merayap ke area pangkal paha, sontak saja Via terkejut dan mendorong suaminya yang lagi on fire itu.


“Mas? Mau ngapain?” Via sadar akan aksi sang suami.


“Katanya tadi bilang mau?” Mirza dengan tampang polos. "Mas juga mau, kan kita udah berapa hari nggak nganu …”


Mata Via sontak membola. “Ya ampun, Mas suamiku Sayang. Maksud aku tadi tuh aku mau Kraby Patty kayak yang dimakan Patrik, Mas ….” Via menjewew kedua pipi suaminya gemas. (Nah lho, menjewew pada ngerti kagak? 😂😂)


Mirza tersenyum masygul sambil menggaruk alisnya. “ Kirain …”


Via yag dasarnya nggak tegaan memandang suaminya penuh rasa kasihan. Dia paham banget, suaminya itu laki-laki sejati yang tentu saja butuh menyalurkan hasrat kelelakiannya setelah beberapa hari ini nggak nganu demi menghindari agar dirinya tak kelelahan.


“Mas ….?” Lirih Via.


“Hem.” Mirza pura-pura sibuk dengan remot TV ditangannya.


“Mas, hadap sini dong.” Via menarik lengan suaminya. “Mas marah ya?”


“Mas nggak papa kok, Sayang.” Mirza coba tersenyum. “Maafin Mas ya, tadi soalnya paha kamu menggoda banget. Mas jadi langsung laper deh.” Ucap Mirza jujur.


“Ish! Mas kira paha aku sama kayak paha ayam? Cuman baru diliat aja lansung bikin laper?” Cebik Via.


“Ya namanya juga orang lagi kepingin ….?”


“Mas udah kayak Ipin dan Upin aja deh selalu nafsu kalo liat paha.”


“Haish! Mereka kan masih anak-anak Sayang, belum cukup umur buat makan paha?” Potong Mirza.


“Paha ayam goreng maksudnya, Mas …..” Via mengklaifikasi. “Orang belum selesai main nyamber aja! Gitu kan kalo pikirannya nganu terus?”


Mirza tak menyahut, ia pura-pura sibuk lagi dengan remotenya mengganti-ganti chanel seolah mencari tayangan yang pas, padahal emang nggak ada yang mau ditontonnya.


“Mas?” Via menyamping menghadap sang suami. Jemari lentiknya merayapi dada bidang Mirza. “Sebenernya aku juga dari kemarin mau, tapi malu mau bilang.” Cicit Via kemudian menenggelamkan wajahnya pada ketiak sang suami.


Reflek perhatian Mirza teralihkan. “Coba bilang sekali lagi, Sayang. Kamu ngomong apa barusan?” Mirza menarik pundak istrinya namun Via kekeh menyembunyikan wajahnya.


“Nggak mau, aku malu Mas …”


“Kalo malu merem aja, Sayang. Kan kalo merem lebih nikmat?”


“Mas …!!” Via bangkit mengangkat wjahnya seraya menghadiahi cubitan di pinggang suaminya.


Namun bukannya menjerit kesakitan seperti biasanya, Mirza kali ini malah terbahak dibuatnya. Wajah Via yang bersemu merah membuatnya gemas dan cintanya makin bertambah berlipat-lipat. Segera ia bangkit duduk di hadapan sang istri dan diraihnya lembut dagu wanita terkasihnya itu. “Kamu nggak perlu malu Sayang. Kan kita suami istri. Lagipula, bagi istri yang ‘meminta’ duluan pada suaminya, ia akan mendapatkan kemurahan dari Allah yang sangat besar.”


“Beneran Mas?”


“Iya, Sayang.”


“Ya udah, ayok kita ke kamar Mas.”


“Wah, istriku udah nggak sabar nih, langsung ngajakin ke kamaraja.” Goda Mirza yang membuat Via makin tersipu.


“Tapi pelan-pelan ya, Mas?”


“Iya Sayang, kamu tenang aja. Mas akan melakukannya dengan sangat hti-hati. Pokoknya kita selesai abis maghrib deh!”


“Ihh, Mas nih apaan sih?” Cubitan maut kembali didaratkan Via ke pinggang suaminya.


“Sudah Sayang, ayok Mas gendong kamu ke kamar.” Mirza pun dengan sigap menggendong sang istri ala bridal style dan melangkah gagah perkasa menuju kamar.


Jendela dan hordeng segera di tutup, AC dinyalakan. Mirza tersenyum di bibir ranjang membelai pipi sang istri. “Kamu cantik banget, Sayang. Kebaikan hatimu yang membuatmu semakin terlihat cantik di mata Mas. Mas beruntung memilikimu.” Mirza mendekatkan wajahnya perlahan, pandangan mereka yang penuh cinta beradu. Via memejamkan matanya ketika bibir lembut sang suami menyentuh lehernya.


Ting tung!


Terdengar bunyi bel.


“Mas? Kayaknya ada tamu.” Via menangkup kedua pipi suaminya.


“Ya Allah, baru saja hambamu ini mau memulai ibadah bersama istri kenapa harus ada gangguan?” Mirza kecewa.


Ting tung!


Tersengar lagi bunyi bel dari pintu depan.


“Mas, coba diliat dulu. Siapa tau tamunya penting?”


“Awas aja kalo nggak penting! Mas sambit pake sandal jepit!” Dengan wajah menahan kesal akhirnya Mirza bangkit dan terpaksa menahan buncahan hasratnya yang sudah sangat bergelora, Via hanya tersenyum melihatnya.


“Permisi, bener ini rumahnya Mas Mirza?” Tanya seorang laki-laki begitu Mirza membuka pintu depan.


“Iya, bener. Ada apa ya?” Mirza heran karena tak merasa mengenal laki-laki di depannya.


“Saya mau mengantarkan bingkisan dari Pak Haji Barkah.” Ucap lelaki itu yang kemudian memanggil temannya yang berada di atas mobil pick up.


“Haji Bakah?” Gumam Mirza, pandangannya tertuju pada bingkisan yang sangat besar yang tengah digotong oleh seorang laki-laki lain ke arahnya.


“Iya, tolong diterima ya, Mas. Ini sebagai rasa terima kasih Pak Haji atas kebaikan Mas dan keluarga yang telah membantu persalinan Mbak Denaya.” Papar laki-laki pertama tadi.


“Oh…, jadi begitu….” Mirza menggut-manggut.


“Ini saya taroh dimana nih, Mas? Biar sekalian saya yang bawain?” Tanya laki-laki kedua yang nampak berat membawa bingkisan yang super komplit isinya itu.


“Oh, bawa masuk aja ke dalem. Tolong taroh di ruang tamu ya.” Mirza memberikan jalan untuk masuk. “Wah, terima kasih. Pake repot-repot segala Pak Haji itu.” Mirza tersenyum lebar tak menyangka akan mendapat ucapan terima kasih yang sebegitunya dari Pak Haji yang sangat murah hati itu.


“Oh iya, Mas Jaka dan Mbak Denaya juga kirim salam untuk Mas Mirza dan istri.” Ucap lelaki itu lagi.


“Wa alaikumussalam. Sampaikan kembali salam kami untuk mereka ya, Mas. Dan tentunya ucapan terima kasih untuk Pak Haji atas bingkisannya ini.”


Lelaki itu mengangguk dengan senyuman. “Oya, sekalian saya mau tanya rumahnya Pak Hadi dan Pak Firman. Kami juga disuruh mengantar bingkisan ke sana.”


“Oh… mau antar ke Pak Hadi sama Firman juga ya?” Mirza melihat di atas mobil pick up juga memang masih ada dua bingkisan hadiah yang super besar dan tinggi menjulang seperti pohon natal persis kayak bingkisanya barusan. Mirza kemudian mengarahkan denah lokasi menuju rumah Pak Hadi dan Firman. Setelah dirasa cukup, kedua lelaki itu pun pamit.


“Mas Chico ….!” Panggil seseorang dari luar pagar pada Mirza yang masih berdiri di teras.


“Ya ampun! Dia lagi!” Mirza menatap horror pada si pemilik suara yang melambai-lambaikan tangan di luar pagar. Siapa lagi kalo bukan Bujel. Tanpa buang waktu, Mirza segera memutar langkahnya dan menutup pintu.


“Ih, Mas Chico kok cuek banget sih? Tega sama aku!” Kesal Bujel, kemudian perhatiannya tertuju pada dua orang laki-laki pengantar bingkisan yang masih megobrol di depan mobil sebelum pergi. “Eh, Mas-Mas yang baik hati dan tidak sombong, kalo saya yang paling cantik jelita manjalita ini boleh bertanya, hendak dibawa kemanakah bingkisan-bingkisan segede itu dan dalam rangka apakah kalian membagi-bagikannya?” Tanya Bujel dengan gaya centilnya seperti biasa.


Kedua lelaki itu saling tatap, meski mereka sempat heran dengan kehadiran sosok astral yang kepo maksimal itu namun mereka menceritakan juga yang sebenarnya. Bibir merah cabe Bujel membulat membentuk huruh O setelah mendengarkan penjeaskan para pengantar bingkisan itu. hatinya puas, satu info penting didapatkannya.


Sementara itu di dalam kamar Via bertanya siapa tamu yang datang barusan.


“Nanti aja mas ceritain, Sayang. Sekarang kita lanjutin yang tadi ya.” Mirza langsung mmebuka kaos yang melekat di tubuh atletisnya. “Mas buka baju kamu juga ya.”


Via hanya mengangguk membiarkan Mirza melucuti satu per satu kain yang menutupi tubuh indahnya. Diantara rasa kepingin dan malunya, Via menutupi area dadanya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya meraih selimut untuk mneutupi seluruh tubuhnya yang sudah terekspose di depan mata lapar sang suami.


“Jangan ditutupi, Sayang.” MIrza menarik selimut.


“Malu Mas.”


“Malu ya, hm?” Mirza sengaja tersenyum menggoda kemudian segera ikut masuk ke dalam selimut, kulit mereka saling bersentuhan. Mirza memulai lagi dari leher jenjang sang istri. Via juga nampak menerima sentuha-senthan kecil yang membuatnya meremang.


BLOTOK … BLOKOTOK … TOK!


BLOTOK … BLOKOTOK … TOK!


Ponsel Mirza di atas nakas berbunyi membuat kegiatan mereka terjeda.


“Telpon Mas.” Via mengangkat wajah suaminya dari dadanya.


BLOTOK … BLOKOTOK … TOK!


BLOTOK … BLOKOTOK … TOK!


Bunyi ponsel Miza merajalela tak kenal ampun.

__ADS_1


“Angkat dulu Mas.”


“Huh! Siapa sih? Ada aja ganguannya!” tangan Mirza menggapai gawainya di atas nakas. “Ya ampun! Mau ngapain sih nih orang?” Dengus Mirza begitu tau yang menelponnya adalah Om Jaka.


“Halo!”


“Hai, Za! Lagi ngapain lu? Ketus amat? Udah nyampe belum kiriman bingkisan dari gue? Eeh…, dari mertua gue maksudnya?” Cerocos Om Jaka di seberang.


“Udah!”


“Dih! Kok gitu amat sih jawabnya! Bilang makasih kek atau apa gitu.”


“Iya, makasih!”


“Kenapa sih nih bocah? Elu kesambet jin empang ya? Jutek banget sama gue?” Om Jaka heran karena Mirza irit banget ngomongnya.


“Ya abis Om gangguin aja. Siang-siang nelpon cuman buat nanyain kiriman bingkisan nyampe apa belum? Ntar juga kalo udah selesai aku Wa Om Jaka!” Kesal Mirza.


“Udah selesai apaan maksudnya? Emang elu lagi ngapain sih siang bolong begini?” Om Jaka jadi penasaran.


Mirza sontak kaget sendiri karena hampir keceplosan. “Emh, nggak … nggak lagi ngapa-ngapain kok. Ini … aku lagi, anu … apa itu … lagi mau nyiram taneman.” Mirza jadi bingung sendiri mau jawab apaan.


“Nyiram taneman? Siang-siang gini?” Om Jaka makin heran. “Jangan bohong deh lu!”


“Hiy! Dibilangin nggak percaya!” Mirza gemas.


Om Jak kemudian tergelak. “Gue video call sekarang ya…?” Ledek Om Jaka.


“Ee, jangan! Ngapain pake video call segala? Nggak usah!”


“Ya gue mau tau aja elu beneran nyiram taneman apa kagak?” Om Jaka masih tertawa terus meledek Mirza.


“Udah ah, nggak guna ngeladenin Om. Dasar penggangu! Bye!” Mirza langsung mematikan sambungan dan menon aktifkan ponselnya, tak lupa ponsel Via juga. “Ayok Sayang, kita lanjutkan ….” Ucap Mirza setelah memastikan tak kan lagi ada gangguan yang akan menunda aksinya.


“Iya, Mas. Aku juga udah nggak sabar ...” Bisik Via pada telinga Mrza yang kontan saja membuat suaminya itu langsung on kembali.


sekedarnya;


Siapa saja seorang istri yang menawarkan diri untuk suaminya secara suka rela, maka Allah mengharamkan dirinya dari api neraka. Dan siapa saja seorang istri yang masuk bersama suaminya dalam satu selimut maka malaikat dari bawah ‘Arsy memanggilnya, “mulailah duluan olehmu maka Allah akan mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Wallahu a’lam (Kitab Uqudul Lujain Syaikh Nawawi Albatani)


source:google


Naah, jadi buibu jangan pada malu ya minta duluan pada pak suami 🤭🤭 eits, ini cuman buat yang sudah punya pasangan resmi lho. Yang belum resmi, don’t try this anywhere! 😆😆


❤️❤️❤️❤️❤️


Riri turun dari mobil pick upnya dengan wajah lelah setelah selesai mengantarkan catering ke rumah Denaya. Ketika menginjak tangga teras rumahnya kakinya terpeleset, hampir saja dia terjerembab jika Toni yang berjalan di belakangnya tak sigap menarik lengannya.


“Hati-hati, Neng.” Ucap Toni, jarak mereka sangat dekat dengan kedua mata saling menatap.


“Emh, udah dibiangin jangan panggil Neng.” Riri agak gugup dan segera berdiri membenahi posisinya.


“Oh iya, Maaf.” Senyum manis Toni menghiasi wajahnya. “Kaki kamu nggak papa Neng? Eh, Riri… maksudnya.” Ralat Toni yang masih belum terbiasa.


“Nggak papa kok.” Riri balas tersenyum. Mereka berdua saling berdiaman tanpa tau mau ngapain lagi, suasan canggung tiba-tiba meliputi keduanya. Momen tersebut tertangkap oleh Bu Harni yang kebetulan melintas di ruang tamu.


“Ri! Udah pulang kamu?” Bu Harni menghampiri.


Riri langsung mengalihkan fokusnya pada sang ibu. “Udah Bu, udah beres semua kok.”


Bu Harni melihat pada Toni yang masih berdiri di samping Riri. “Terus kamu ngapain masih disini Ton?”


“Eh, iya ini juga saya mau permisi pulang kok Bu.” Sahut Toni. “Neng…, Eh salah lagi.” Toni menepuk mulutnya sendiri. “Ri, aku pulang dulu ya kalo udah nggak ada yang perlu dikerjain lagi? Maaf ya kebiasaan manggil adik aku Neng soalnya.”


Riri hanya mengguk sambil tersenyum.


“Ya udah cepetan sana pulang, saya juga mau pergi ke pengajian syukurannya Haji Barkah.” Ujar Bu Harni.


“Mau saya antar sekalian Bu?” Tawar Toni.


“Nggak usah.” Jawab Bu Harni sambil ngeloyor pergi menuju kamarnya.


Ba’da ashar Bu Hari sudah bersiap, ia melongok ke kamar Riri yang pintunya terbuka. Riri tengah tiduran sambil main ponsel dan sesekali terseyum pada benda pipih ditangannya itu.


“Ri, ibu pergi dulu ya.” Pamit Bu Hari dari ambang pintu.


“Iya Bu.” Riri tanpa menoleh, jarinya lincah mengetik pesan masih dengan senyuman di bibirnya. Bu harni yang penasaran mendekati.


“Lagi chat sama siapa sih?”


Bu Harni malah duduk di pinggir ranjang membuat Riri bangkit seraya menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.


“Ri, ibu perhatiin kamu makin deket aja sama Toni?”


“Makin deket gimana maksud ibu? Aku sama Toni emang deket lah Bu, kan dia yang nyupir bawa mobil aku kemana-mana?”


“Bukan itu, maksudnya kayaknya kalian ada apa-apa ya?” Tatapan Bu Harni penuh selidik. “Kamu suka ya sama Toni? Toni juga ya sama kamu? Kalian pacaran?” Brondong Bu Harni nggak sabaran karena anak gadisnya malah garuk-garuk kepala.


“Ah, nggak kok Bu.”


“Bener?” Bu Harni meyakinkan. “Soalnya tadi waktu di depan kamu senyum-senyum sama dia sambil liat-liatan gitu. Ibu kan jadi curiga?”


“Ck, ibu tuh aneh. Ya kan wajar kalo aku senyum sama Toni. Nah kalo aku senyum-senyum sama tembok, baru ibu patut curiga!”


“Dasar kamu ini!” Bu Harni mengeplak lengan Riri sebel. “Tapi bener kan kalian nggak ada apa-apa? Jangan sampe deh kamu pacaran terus nikah sama dia.”


“Emang kenapa, Bu?” Riri penasaran juga.


“Dia itu miskin. Emang kamu mau punya suami miskin? Udah gitu yatim piatu pula.”


“Emangnya salah ya kalo aku nikah sama orang miskin dan nggak punya orang tua, Bu?”


“Ah, kamu ini dibilangin kok ngeyel sih?” Bu Harni keki.


“Tapi Toni baik lho Bu orangnya, dia juga pekerja keras.” Bela Riri.


“Pekerja keras apaan? Orang dia cuman tukang cilok kok sebelum jadi sopir kamu!” Cibir Bu Harni meremehkan.


“Biar pun cuman jualan cilok, tapi dia berhasil menyekolahkan adik-adiknya sampe lulus SMA lho Bu. keren kan? Udah gitu dia bukan sembarang tukang cilok, tapi dia juragannya. Dia udah punya 5 gerobak cilok yang disewaaiin ke temen-temennya.” Riri kekeh membela Toni di depan ibunya.


“Alah, biar pun begitu tetep aja namanya tukang cilok! Keren dari mananya? lagian kalo beneran udah jadi juragan cilok, ngapain masih repot-repot jadi sopir kamu? Ngaku-ngaku aja itu mah!” Penyakit nyinyir Bu Harni kumat.


“Terserah ibu deh. Ibu emang suka memandang orang lain sebelah mata, padahal ibu sendiri nggak suka kan diremehin?” Ceplos Riri cuek.


“Ibu cuman ingetin kamu aja Ri! Apa ibu salah kalo menginginkan kamu punya suami yang kaya dan terhormat?” Nada suara Bu Harni agak naik.


“Buat apa kaya, terhormat, tapi suka nyakitin persasaan orang?”


“Nah! Ini yang ibu takutkan!” Sambar Bu Harni. “Jangan karena kamu patah hati sama Danar, terus kamu asal pilih calon suami.”


“Ini semua nggak ada hubungannya sama Mas Danar Bu. lagi pula aku nggak ada apa-apa kok sama Toni. Aku juga masih belum mau nikah, aku mau ngembangin usaha aku dulu, Bu.” Riri jengah juga lama-lama sama ibunya.


“Oke, ibu percaya. Tapi ibu tetep khawatir kalo kamu masih sering berang-bereng dengan Toni.”


“Terus mau ibu gimana?” Riri menatap ibunya nggak habis pikir. “Apa ibu aja yang nyupirin aku dan nganterin aku keman-mana sekalian angkat-angkat kalo ada pesanan catering?”


“Ngaco kamu! Ibu kan nggak bisa nyetir mobil?”


“Ya udah, makanya ibu nggak usah bawel!” Riri mencebik seraya kembali membaringkan lagi tubuhnya membelakangi ibunya.


Bu Harni menghela nafas panjang, terlalu khawatir dia sama si anak bungsunya itu. setelah Bu Harni keluar, Riri meraih ponselnya kembali untuk melanjutkan mengetik pesan di sana.


Sepuluh menit perjalanan dengan mengendarai sepeda motor, Bu Harni sampai juga di kediaman Haji Barkah yang sudah ramai. Beberapa teman pengajian Bu Harni sudah duduk di dalam ruang tamu rumah Haji Barkah yang sangat luas yang sengaja di gelar permadani tebal dan bagus untuk para ibu-ibu jamaah pengajian.


Bu Harni segera bergabung dengan beberapa temannya dan terlibat obrolan ringan sebelum acara dimulai. Mereka membahas keluarga Haji Barkah yang tengah berbahagia karena telah mendapatkan anggota keluarga baru. Tak henti-hentinya mereka memuji kedermawanan Haji Barkah dan keberuntungan Denaya yang bersuamikan lelaki baik hati seperti Om Jaka dan juga sebaliknya, Om Jaka yang seorang duda ting-ting mendapat istri perawan cantik kinyis-kinyis, sholehah dan kaya raya pula.


“Wah, kuenya enak banget lho ini ibu-ibu..” Ucap seorang ibu yang baru saja mencicipi jajanan yang terhidang di piring yang berderet-deret di depan para tamu.


“Iya lho. Manisnya pas.” Timpal ibu yang lain.


“Jelas enak lah ibu-ibu, itu kan kue bikinan anak saya Riri.” Sahut BU Harni bangga.


“Oh, ini semua kue bikinan Riri?” ibu yang lain bertanya.


“Pantesan enak ya?”


“Iya, kapan itu saya juga kondangan ke kampung sebelah masakannya pesen sama Riri enak juga lho rasanya.”


“Iya bener, kue basahnya juga nggak cepet basi.”


Bu harni tersenyum puas mendengar pujian demi pujian yang dialamatkan pada anak bungsunya. “Nasi boxnya juga dsini pesen sama Riri lho, ibu-ibu.” Tambah Bu Harni.


“Wah, kebetulan dong kalo gitu, saya soalnya belum nyobain masakannya Riri, Bu.” Ucap si ibu yang paling ujung. “Nanti kalo enak saya juga mau pesen deh buat acara ulang tahun anak saya.”

__ADS_1


“Boleh, Bu. silakan, dengan senang hati.” Bu Harni tersenyum menanggapi.


Lagi asyik-asyiknya bahas masakan sambil nyicipin aneka jajanan, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut dari luar sehingga mengundang penasaran para jamaah pengajian yang tengah duduk di dalam.


“Suruh dia keluar cepetan!” Terdengar suara perempuan marah.


“Iya, Bu. sabar sebentar ya, saya panggilan Pak Jaka di dalam.” Pembantu Haji Barkah menenangkan.


“Hey, Bu Har. Itu bukannya Bu Endang ya besan sampean?” ibu yang berdiri di dekat jendela mencolek lengan Bu Harni.


“Masa sih?” Bu Harni ikutan melihat ke luar jendela karena di dekat pintu sudah dipenuhi oleh para ibu yang bejubel ingin menyaksikan pertunjukkan apakah gerangan yang akan terjadi selanjutnya.


“Wah, iya lho bener! Kenapa tuh si nenek lampir, kok kayak marah begitu?” Bu Harni melihat pada besannya yang tengah berdiri di luar sambil berkacak pinggang.


“Jaka! Cepetan keluar kamu!” Teriak Bu Harni. “Jangan sampe saya masuk dan nyeret kamu keluar ya?! Jaka….!” Teriakan Bu Een yang lantang membuat semua yang hadir berbisik menduga-duga akan semua kemungkinan.


“Eh, sampean Yu?” Om Jak muncul dari pintu samping dengan raut biasa saja. “Kanapa teriak-teriak, Yu? Ini bukan bukan dihutan lho, ngomong baik-baik kan bisa?” Om Jaka masih bersikap tenang.


“Baik-baik katamu? Apa begini balasanmu sama saya sebagai pengganti orang tua, hah?” Bu Een menatap nyalang pada sang adik.


“Maksud sampean apa sih Yu? Gue beneran nggak ngerti deh.” Om Jaka bingung. “Kita masuk dulu yuk duduk di dalam.” Ajak Om Jaka.


Bu Een menepis kasar tangan Om Jaka. “Nggak sudi saya! Jangan kamu pikir kamu bisa melunakkan perasaan saya yang udah terlanjur kecewa ini ya!”


“Emangnya sampean kecewa kenapa, Yu? Gue beneran nggak paham! Ayolah kita ngobrol di dalam, nggak enak diliatin sama ibu-ibu pengajian Yu.” Om Jaka coba bernegosiasi.


“Biarin! Biar mereka semua tau kelakuan kamu yang nggak tau balas budi ini!”


“Beb, ada apa ini? Kok ribut-ribut?” Denaya datang tergopoh-gopoh menggendong bayi mungilnya.


“Hey, Denaya!” Bu Een menatap Denaya yang baru datang. “Bilang sama suamimu ini, jangan kelewatan jadi orang! Kalo emang sudah nggak mau anggap saya sebagai kakak lagi, ya sudah putus saja hubungan sodara sekalian!”


“Astagfirullah! Kenapa, Bu? memangnya ada apa?” Denaya kaget, tak paham dengan duduk persoalan.


“Kamu juga jangan pura-pura nggak tau dan menutup-nutupi ya! Semua orang diundang ke acara syukuran ini, lantas kenapa saya nggak kalian kasih tau, hah? Segitu bencinya kalian sama saya? Sudah menganggap saya nggak ada di dunia ini rupanya?”


“Eh, bukan gitu Yu …”


“Diam kamu!” Hardik Bu Een galak. “Dan kamu bagi-bagi bingkisan ke Mirza sama tetangganya dia di komplek, kenapa saya nggak dikasih? Kamu jauh-jauh kirim bingkisan ke kota, kenapa saya yang deket dilewat? Apa itu namanya bukan keterlaluan? Dimana hati nurani kalian? Dimana rasa homat kalian terhadap orang tua?” Bu Een terus menggebu menumpahkan emosinya hingga membuat para ibu-ibu pengajian hampir saja termakan omongannya.


“Jadi karena masalah itu?” Tanya Om Jaka enteng.


“Kamu anggap ni masalah sepele? Ini sama saja dengan menghna saya, Jaka!” Pekik Bu Een yang kontan membuat bayi mungil dalam gendongan Denaya menagis karena kaget.


“Sampean bisa nggak sih Yu nggak usah teriak-teriak mulu? Anak gue nangis nih!” Om Jaka berusaha menenangkan bayi mungilnya.


“Nggak bisa! Biar semua orang tau gimana kelakuan kamu, Jaka!”


“Han, bawa anak kita masuk. Aku nggak mau bayi kita kena sawan karena denger orang marah-marah mulu!”


Denaya mengangguk meski sebenernya masih ingin disana, Denaya masuk bertepatan dengan Haji Barkah yang keluar dari dalam rumah.


“Jaka, ajak Kakakmu masuk.” Ucap Haji Barkah tenang.


“Nggak mau dia, Yah.” Om Jaka melirik tajam pada sang Kakak yang masih meradang. “Orang kalo hatinya udah dikuasai benci ya kayak gini kelakuannya. Segala ucapan dan tindakannya nggak pake mikir dulu.” Sinis Om Jaka.


“Bukan saya, tapi kamu yang benci dan dendam sama saya!” Bantah Bu Een geram.


Om Jaka meraih ponselnya dari dalam saku celananya dan malah tersenyum. “Harusnya sampean itu tanya dulu baik-baik kenapa sampean belum dapat bingkisan dan undangan dari gue. Sampean itu terlalu cepat menyimpulkan karena terbiasa grusah-grusuh. Nih liat!” Om Jaka memperlihatkan foto dalam layar ponselnya pada Bu Een.


Kening Bu Een mengernyit. “Apa itu?”


“Sampean nggak liat? Ini bingkisan buat sampean, udah nyampe dari tadi siang di rumah sampean! Di dalemya ada udangan syukuran anak gue!” Om Jaka keki.


“Nggak mungkin! Saya belum nerima, kamu jangan ngarang ya Jaka!” Bu Een bersikeras.


“Terus ini rumah siapa yang difoto? Rumah nenek gayung?” Cibir Om Jaka. “Lagian sampean habis semedi dimana? Sampe nggak tau ada orang nganter bingkisan segede gini?”


Deg!


Bu Een terkaget-kaget, saat menerima pesan dan foto yang dikirimkan Bujel, dirinya memang masih sedang berbelaja kebutuhan toko sembakonya di kota bersama Udin. Jadi terang saja kalo dia nggak tau soal kiriman bingkiean itu. dia malah langsung sewot dan nyuruh Udin tanjap gas ke rumah Denaya setelah selesai berbelanja.


“Halah, pasti foto itu dibikin barusan cuman buat nutupin kesalahan kamu kan? Kamu pikir saya bodoh, Jaka!” Bu Een tetap nggak terima.


“Mata sampean katarak apa gimana, Yu? Ini kan ada waktunya difoto! Jelas jam, menit dan detiknya! Sampean nggak liat?” Om Jaka sengaja mendorong layar ponselnya lebih dekat lagi ke tampang sang Mbakyu yang masih saja terus ngeyel. “Sebelum ke rumah Mirza, orang suruhan gue ke rumah sampean duluan buat nganter bingkisannya. Tapi karena di rumah sepi nggak ada orang, makanya dia taroh itu bingkisan di samping garasi dan difoto sebagai barang bukti! Sampe sini sampean, paham kagak?” Om Jaka menahan kesal.


Bu Een terdiam. Ia tak bisa lagi berkata-kata. Dalam hatinya merutuki apa yang sudah dia lakuakan barusan. Bu Een malu bukan main, terlebih lagi para jamaah pangajian terang-terangan menyindirnya dan menyalahkan tindakannya yang arogan main labrak aja tanpa bertanya lebih dulu.


“Jadi kalo kayak gini siapa yang bodoh?” Sinis Om Jaka telak.


Meski tak mampu lagi mengeluarkan kata-kata, tapi bukan Bu Een namanya kalo nyerah gitu aja. Dia sempat melayangkan tatapan tajam pada Om Jaka sebelum balik badan dan melangkah pergi.


“Dasar nenek gayung!” Om Jaka ngedumel kesal.


“Jaka, jangan ikut emosi. Nggak ada gunanya.” Haji Barkah mengingatkan.


“Kesel, Yah. Salah terus dimata dia saya ini! Cuman perkara bingkisan aja sampe menggemparkan dunia!” Om jaka masih ngedumel.


“Mempunyai saudara seperti Mbakyumu itu adalah ladang pahala, Jaka. Semakin kamu bersabar, Insya Allah kamu akan mendapatkan pahala kebaikan. Jangan lupa doakan agar dilembutkan hati mbakyumu itu, agar hubungan kalian kembali membaik." Haji Barkah menepuk-nepuk bahu sang menantu. “Ya sudah, sebaiknya kita masuk dan segera bersiap ya. Acaranya sebentar lagi akan dimulai.”


Om Jaka mengangguk dan mengikuti ayah mertuanya masuk.


❤️❤️❤️❤️❤️


“Azad! Kakak kamu nggak ada di kamarnya!” Nyonya Husein menyongsong Azad yang baru pulang kerja dengan wajah panik.


“Mungkin Kak Sofi di taman belakang, Ma.” Azad melonggarkan dasinya.


“Nggak ada! Mama dan semua palayan sudah mencarinya ke seluruh penjuru rumah.” Terang Nyonya Husein. “Ayo Azad, cari dia cepat! Mama kahawatir terjadi apa-apa sama dia, Kakakmu kan sedang hamil.”


Azad coba menghubungi nomor ponsel Sofi, namun dalam mode tidak aktif.


“Mama juga sudah menghubunginya berulang kali.”


Azad melangkah cepat menuju kamarnya, ia memeriksa brangkas tempat ia menyimpan surat-surat penting dan berharga.


“Azad, kamu cari apa?” Nyonya Husein penasaran.


Azad tak menyahut. Ia menuju kamar Sofi dan memeriksa seluruh isinya.


“Apa mungkin Kak Sofi membawanya.” Gumam Azad.


“Azad! Mama tanya, kamu cari apa?” Suara Nyonya Husein meninggi.


Tak ada pilihan lain bagi Azad selain menceritakan kebenaran perihal Kakaknya yang sudah mengambil surat berhaga milik perusahaan Ramzi itu. Nyonya Husein nampak shock dan terduduk lemas di tepi tempat tidur.


“Sofia, kenapa kamu sangat nekad sekali, Nak. Kenapa sifatmu tak pernah berubah dari dulu.” Nyonya Husein tergugu maratapi kepergian sang putri. “Azad, coba kamu hubungi Ram atau teman-teman Kakakmu, mungkin ada yang tau dimana dia berada.”


Azad merogoh ponsel dari dalam saku jasnya mencari nomor sang kakak ipar, namun sesat kemudian ia ingat bahwa Ramzi sudah tak lagi memegang HP. Ia pun tak tau mau menghubungi siapa karena kakanya tak mempunyai teman dekat seorang pun.


“Mungkin Jane tau.” Azad segera menghubungi Jane.


“Biarkan saja Kakakmu.” Suara Tuan Husein memutus sambungan Azad. “Dia akan mempertanggungjawabkan sendiri semua tindakannya.”


“Papa, tapi Sofia sedang mengandung.” Ratap Nyonya HUsein. “Bayi yang ada dalam kandungannya itu adalah cucu kita, Pa.”


“Jika kalian terus membelanya, dia tak akan belajar menghargai hidupnya sendiri.” Tuan Husein memutar langkah meninggalkan kamar Sofi.


Azad terdiam dengan perkataan papanya, mungkin ada baiknya untuk dia tak telalu mengkhawatirkan Sofi, namun rasa sayangya pada sang kakak begitu besar. Dengan cepat dia pun mengambil langkah lebar meninggalkan ibunya yang masih sibuk dengan tangisnya.


“Azad, tunggu!” Nyonya Husein mengejar. “Kamu mau kemana? Mama ikut. Ayok kita cari kakakmu.” Nyonya Husein menyeka matanya yang basah.


“Mama diam saja di rumah. Percaya sama aku, aku akan mencari Kak Sofi sampai ketemu.” Azad mengelus lembut pundak ibunya.


“Temukan dia secepatnya. Kakakmu sudah tak punya uang, Mama takut jika dia telantar dan terjadi sesuatu yang buruk pada cucu mama.”


Azad mengangguk. “Mama tenang ya, aku akan secepatnya memberi kabar.”


Dengan berat hati Nyonya Husein membiarkan putranya pergi. Untaian doa-doa tulus dari sang ibu yang tengah dirundung kesedihan mengiringi langkah Azad. Nyonya Husein melangkah gontai menuju kamarnya dan mendapati sang suami tengah duduk di kursi goyangnya dengan mata terpejam sembari memutar tasbih di tangan kanannya. Buliran bening kembali merembes dari kedua netra wanita paruh baya lebih itu. Ia tau meski suaminya seolah bersikap tak peduli, namun dalam sanubarinya ia pasti menginginkan anak dan calon cucunya kembali pulang dalam keadaan selamat.


❤️❤️❤️❤️❤️


Halo Kak, semoga belum pada kabur ya karena nungguin lama up? 😂😂😂


Coba tebak, berapa kata dalam bab kali ini? Haha… tebak-tebakakn unfaedah banget yaa…🤣🤣🤣🤣


Terima kasih sudah membaca dan support othor sampai sejauh ini ya…😘😘


Terima kasih juga yang udah kasih vote sukarela, meski udah othor larang tapi tetep maksa…😄😄 othor seneng banget kok, bararti perhatian banget sama othor awut-awutan ini😍😍


Semoga belum pada bosen ya sama alur ceritanya. Rencananya novel ini akan othor tamatin di bab 200. 13 bab lagi dong ya…? Semoga bisa kelar ya, makanya othor nulisnya panjang-panjang biar episodenya nggak kepanjangan, walau sebenernya emang udah panjang kebangetan ya….?🤭🤭


like, komen selalu ya Kak. Mohon maaf jika banyak typo dan kesalahan 🙏🙏🙏

__ADS_1


Oke deh, sekian dulu dari othor awut-awutan. Jangan lupa jaga kesehatan semuanya, karena virus covid 19 kembali eksis lagi. Semoga semuanya senantiasa dalam LIndungan Allah SWT.😇😇😇


I love you all pokokmen! 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2