
BRAK!
Bu Harni membuka kasar pintu kamar dan benar saja masih mendapati Arya tidur di sana.
"Heh, Arya! Bangun kamu!" Teriak Bu Harni sambil berkacak pinggang di tengah pintu kamar Arya.
Arya yang kaget langsung membuka mata dan terkejut mendapati ibu mertuanya berdiri dengan wajah sangar seolah siap menerkam.
"Dasar suami pemalas! Istri sibuk di dapur malah enak-enakan tidur! Kamu nggak kasihian liat istrimu pontang panting? Heran saya, sifatmu sama sekali nggak berubah dari dulu sampe sekarang!" Oceh Bu Suharni berang sambil menunjuk muka Arya sengit.
Arya hanya diam, dia duduk di bibir ranjang dengan mata merah karena kantuk yang belum usai. Tia datang tergopoh coba menyabarkan ibunya, sementara Ica menguntit di belakang memegang ujung baju Tia.
"Udah, Bu. Udah, Mas Arya jangan dibangunin. Aku bisa kok ngerjain sendiri."
"Diam kamu! Udah tau suami pemalas masih aja dibelain!" Kali ini Bu Suharni menunjuk muka Tia. "Suami kamu ini nggak bisa dikasih hati, ngelunjak dia! Udah tau numpang hidup sama kamu, tapi jam segini masih tidur. Tuh liat si Mirza, dia rajin cari duit nggak pemalas kayak suami kamu!"
"Cukup, Bu!" Hardik Arya yang tak tahan dengan ocehan ibu mertuanya. "Jangan lagi banding-bandingin aku sama Mirza!"
"Kenapa? Kamu nggak terima?" Sindir Bu Harni dengan senyum sinis. "Memang kenyataannya begitu, kan? Mirza itu pinter cari duit, sayang sama istri, nggak kaya kamu! Udah kere, pemalas lagi. Harusnya dulu Tia nggak saya ijinin nikah sama kamu!"
"Astaghfirullah, Ibu!" Pekik Tia kaget dengan air mata yang sudah hampir tumpah. "Jangan pernah ibu bilang seperti itu, karena itu menyakiti aku dan Mas Arya." Sesal Tia yang sudah tak mampu menahan air matanya lagi. "Aku sama Mas Arya sudah ditakdirkan hidup bersama, Bu."
"Takdir kere!" Sahut Bu Suharni tajam.
Tangan kanan Arya mengepal kuat, dadanya mulai turun naik seiring nafasnya yang memburu karena emosi. Ica memeluk pinggang Tia dengan gemetar, dia belum pernah menyaksikan keributan semacam ini antara orang tua dan neneknya. Tia yang melihat tampang suaminya merah padam berusaha mencegah agar keributan tak semakin menjadi.
"Bu, sudah ya. Ibu mulai saat ini jangan ikut campur lagi urusan aku dan Mas Arya. Aku mohon, Bu ... "
"Ikut campur katamu? Ibu ini sedang membela kamu!"
"Iya, tapi yang terjadi sama sekali nggak seperti yang ibu lihat. Mas Arya memang benar baru tidur karena pulang subuh habis ngantar penumpang."
"Kamu jangan bodoh, Tia! Jangan dibutakan oleh cinta, kamu harusnya bisa hidup lebih bahagia dari ini jika saja nggak nikah sama dia!"
"Bu! Jaga bicara ibu!" Hardik Arya sekali lagi seraya bangkit menantang ibu mertuanya. "Kalau kemarin-kemarin aku masih sabar dan diam saja ibu rendahkan aku sedemikan rupa, kali ini nggak akan lagi. Aku ini suami Tia, aku yang lebih berhak atas Tia, juga Ica. Mulai saat ini, Tia dan Ica nggak aku ijinkan datang ke rumah ibu lagi karena ibu hanya bawa penyakit buat keluargaku!" Arya memandang sengit ibu mertuanya.
Bu Harni sungguh tak menyangka Arya berani melawannya. Dia makin geram karena Arya sudah kurang ajar padanya, namun begitu mulutnya bungkam tak berkata-kata lagi.
__ADS_1
"Mulai detik ini ibu jangan campur tangan lagi sekecil apapun terhadap rumah tangga kami. Dan sekarang ibu boleh pergi dari rumah kontrakan milik orang kere ini." Arya melihat pada pintu depan yang terbuka lebar.
Bu Harni dengan mulut terkunci rapat langsung keluar dengan langkah lebar.
"Bu, Ibu!" Panggil Tia mencoba mengejar ibunya, tapi Arya menarik lengan Tia kasar.
"Biarkan! Kecuali kamu juga mau aku suruh pergi dari sini." Tegas Arya dengan tatapan tajam.
"Tolong maafin ibu, Mas." Tia mengiba menghampiri Arya sambil mengusap air matanya.
"Kenapa jadi kamu yang minta maaf?"
"Seperti apapun sifat ibu, dia tetep ibu aku, Mas." Tia meraih tangan Arya dengan Ica yang mulai terisak lirih.
"Bunda sama Ayah kenapa bertengkar dengan Eyang?" Lirih Ica ditengah isak kecilnya.
Tia segera sadar bahwa sedari tadi ada Ica yang terlupakan. Walau bagaimana pun, Ica seharusnya tak menyaksikan keributan tadi. Tia sungguh menyesal, maka cepat-cepat dibelainya rambut putri kesayangannya itu.
"Sayang, bunda sama ayah nggak berantem kok tadi sama eyang. Bunda cuman ... "
"Ica dengar ayah." Arya memotong kalimat Tia. "Mulai hari ini Ica nggak boleh ketemu sama eyang lagi."
"Kamu lupa apa yang terjadi di ulang tahunnya Ica? Itu semua gara-gara Ibu yang mempengaruhi Ica buat ngerayain ulang tahun di rumah ibu, padahal ibu kamu itu cuman pengen pamer!" Ungkap Arya sengit.
"Tapi walau bagaimana pun ibu itu neneknya Ica dan ibu kandungku, Mas." Ucap Tia pelan.
"Dam aku ini suamimu! Kewajiban kamu untuk berbakti padaku lebih utama daripada pada ibumu, kamu paham itu kan?"
Tia mengangguk bersamaan dengan air matanya yang kembali mengalir.
"Ingat itu baik-baik atau kau aku antarkan pulang ke rumah ibumu!" Pungkas Arya lantas keluar kamar meninggalkan Tia dan Ica.
"Bun, ayah marah ya sama Bunda?" Ucap Ica sambil mendongak menatap wajah Tia.
"Nggak, sayang." Tia coba tersenyum walau perasaannya masih tak karuan.
"Terus kenapa bunda nangis?" Ica mengusap pipi Tia yang basah dengan tangan mungilnya. "Bunda maafin Ica ya? Pasti ayah marahin bunda karena Ica minta dibikinin susu ya?"
__ADS_1
Tia merengkuh Ica dalam peluknya dan menciumi rambut Ica sambil membelainya lembut. Sementara itu Arya sedang mengeluarkan motor bebeknya hampir berbarengan dengan kedatangan Via.
Via melepas kaca mata hitam yang dipakai untuk menutupi bengkak pada matanya dan tersenyum menyapa Arya. Arya tak bereaksi, dia lantas menyetarter motornya pergi meninggalkan kepulan asap knalpot di sekeliling Via.
Mas Arya kok kayak lagi marah gitu ya. Orang disenyumin malah dicuekin. Salah apa aku sama Mas Arya, ya?
Keheranan Via semakin bertambah ketika melihat Tia sedang memeluk Ica dengan sisa tangisnya di kamar.
"Mbak?" Panggil Via.
Tia melihat kedatangan Via dan merenggangkan pelukannya pada Ica. "Sayang, itu ada Tante Via."
Ica menoleh malas dan tak berselera menyambut tantenya tak seperti biasanya yang selalu bersemangat melihat kedatangan Via.
Via mendekat duduk di samping Tia. "Mba, ada apa? Mas Arya sepertinya tadi sedang marah?"
Tia menceritakan pertikaian yang baru saja terjadi di rumahnya. Via sangat prihatin dengan keadaan rumah tangga kakaknya itu. Bagaimana pun juga seseorang yang sudah berumah tangga pasti tidak nyaman jika ada campur tangan orang lain di dalamnya, tak terkecuali dari orang tua sendiri.
"Sabar ya, Mbak. Aku yakin Mbak Tia dan Mas Arya sudah kebal dengan sifat ibu." Via mengusap-usap pundak Tia memberinya dukungan.
Tia hanya mengangguk sambil tersenyum samar.
"Oya, kamu sendiri ada apa kok tumben main ke sini? Sendirian lagi, Mirza mana?" Tanya Tia.
Via diam. Dia ragu untuk bercerita karena melihat kondisi rumah tangga kakaknya pun nggak lagi baik-baik aja, padahal dia sengaja datang menemui Tia kerena butuh teman bicara.
"Vi? Kok diem?" Tegur Tia sambil memperhatikan raut wajah adiknya yang berubah cemas. "Mata kamu sembab, kamu habis nangis ya? Ada masalah ya sama Mirza?" Tebak Tia.
Via menunduk. Dia sungguh tak ingin menambah beban pikiran kakaknya, tapi dia pun tak sanggup untuk menyimpan lukanya seorang diri.
"Iya, Mbak." Sahut Via lirih. "Mas Mirza ketahuan selingkuh."
________________________
bersambung βΊοΈ
Makasih ya akak author sayang dan pembaca tercinta yang udah baca tulisanku sampai sejauh ini πβ€οΈ
__ADS_1
like, komen, rate dan votenya ya jangan lupa, biar aku makin semangat πͺπ€π€ππππ