TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
182 #HURU HARA


__ADS_3

Ruangan bercat putih dengan aroma khas rumah sakit menjadi tempat dimana Sofi berada kini. Dokter setengah baya yang sedang memeriksanya menanyakan tentang keadaannya, namun Sofi hanya menatap kosong ke depan. Sang dokter mengajak suster yang sudah selesai memasang selang infus keluar ruangan untuk membiarkan Sofi sendiri. Mereka berpapasan dengan Azad yang baru saja selesai mengurus administrasi.


“Dokter, gimana keadaan Kakak saya?” Tanya Azad diliputi kecemasan.


“Pasien sudah mulai stabil, namun ia masih belum merespon apapun. Sepertinya ia baru mengarami kajadian yang membuatnya shock.” Papar sang dokter


“Apa saya boleh menemuinya sekarang?”


“Tentu. Dia sangat membutukan support, pastikan jangan membuatnya terlalu banyak beban pikiran.”


Azad terdiam sebentar. “Dokter, sebenarnya Kakak saya mengidap suatu sindrom.” Ujar Azad kemudian.


“Sindrom?” tatapan dokter meminta penjelasan.


Azad mengangguk, ia nampak ragu untuk menjelaskan.


“Mari ikut ke ruangan Saya, Tuan.” Ucap dokter.


Untuk beberapa menit Azad dan dokter berbincang tentang riwayat kesehatan Sofi. Azad menceritakan tentang semua yang ia ketahui, sang dokter nampak serius menyimak sambil sesekali menganggukkan kepala dan menatap Azad penuh perhatian dari balik kacamata tebalnya.


“Sindrom fibromyalgia adalah jenis sindrom yang bisa dialami siapa saja dan belum diketahui secara pasti faktor penyebabnya.” Dokter menanggapi setelah Azad usai dengan uraian panjangnya. “Namun dari data informasi yang saya ketahui, sindrom tersebut lebih banyak dialami oleh wanita yang mengalami tingkat stres yang cukup tinggi.” Imbuh sang dokter.


Azad mendesah berat. “Kakak saya memang sedang dalam keadaan stress berat.” Gumam Azad seperti bicara pada dirinya sendiri.


“Saya sarankan agar keluarga selalu mendampinginya dalam masa-masa beratnya ini. Apalagi keadaan pasien sedang hamil. Tingkat stress bisa dua kali lipat dan itu akan berdampak buruk bagi janin yang dikandungnya.”


Azad mengangguk tanda mengerti.


Semenatar itu di ruang perawatan, Sofi masih terbaring lemah seorang diri. Wajah cantiknya pucat pasi dengan tatapan masih kosong ke depan. Namun meski dalam ketidakberdayaannya seperti itu, ingatannya masih lekat akan kejadian pagi tadi yang dialaminya.


FLASH BACK ON


Tap tap tap ….


Terdengar langkah Rumi mendekat. Hanson yang sedari tadi tahan nafas seketika menoleh dengan wajah tegang.


“Schatzi ….”


“Elo???” Rumi menatap keget pada Sofi tak menghiraukan kekasihnya. “Elo mau ngapain kesini? Elo sengaja mau godain tunangan gue? Elo pikir dia masih sudi sama elo, hah? Elo itu nggak tau malu, nggak punya harga diri! Elo nggak punya kaca ya di rumah? Liat diri elo siapa, elo tu udah punya suami! Ngapain lo masih nyariin mantan elo?” Cecar Rumi berapi-api menumpahkan semua kejengkelannya padahal Sofi belum berucap sepatah katapun, namun dengan hanya melihat tampang Sofi yang senyam senyum seolah tak berdosa membuat Rumi meledak seketika.


“Wow, santai dong. Nggak usah sewot gitu.” Ucap Sofi dengan santainya yang semakin membuat Rumi naik darah.


“Ya jelas gue sewot lah, elo nyamperin tunangan gue! Terus itu lo ngapain pake ngelus-ngelus perut buncit elo segala? Cacingan lo?” Sinis Rumi.


“Aku cuma mau bicara sama dia. Kamu nggak ada urusan!” Sofi melirik Hanson yang masih berdiri dengan raut tegang. “Hans, kita bisa bicara kan?” Sofi menatap penuh harap.


“Sorry, Sofia ….”


“Elo denger kan? Dia nggak mau ngomong sama elo! Pergi lo!” Rumi mendorong bahu Sofi.


“Kamu nggak berhak ngusir aku!” Sofi balas mendorong Rumi lebih kasar.


“Berani lo dorong gue? Nih, rasain!” Rumi menjambak rambut Sofi telak.


“Aaaww!” Sofi menjerit, tangannya menggapai rabut Rumi namun Rumi gesit menghindar.


“Schatzi, stop it!” Hanson melerai, ia menarik tangan Rumi.


“Jangan dipisah, biarin gue kasih dia azab! Gue mau botakin rambutnya sekalin!” Rumi memberontak mau narik rambut Sofi lagi.


“Dasar perempuan gila! Sinting!” Maki Sofi sembari merapikan rambutnya yang acak-acakan. “Hans, kamu membuat kesalahan besar mau nikah sama dia! Kamu bakal nyesel seumur hidup karena menikahi perempuan gila macam dia!”


“Diem lo, perempuan durjana!” Rumi terus berontak, sementara Hanson mendekap tubuh Rumi dari belakang agar tak lepas menerjang Sofi yang masih berdiri dengan wajah sinisnya. “Lepasin gue! Gue musti sumpel mulut dia pake sepatu biar diem!” Rumi melepaska sepatunya dengan wajah beringas.


“Schatzi, no! jangan lakukan itu.”


“Elo mau belain dia? Dia itu udah ngatain gue gila!” Teraik Rumi pada Hanson.


“Sofia, please. Tolong pergi dari sini. Aku nggak mau ada keributan.” Hanson kali ini meminta pada Sofi karena tak berhasil menengkan Rumi.


“Aku nggak akan pergi sebelum kamu terima tawaranku.” Tegas Sofi.


“Baby kamu dengar sendiri kan? Dia itu beneran nggak tau malu!” Rumi berhasil melepaskan diri karena belitan tangan Hanson melemah di perutnya. “Cepatan lo mau ngomong apaan? Gue kasih waktu dua menit!”


“Udah aku bilang, aku nggak ada urusan sama kamu! Aku cuma mau bicara sama Hans.” Tegas Sofi.


“Elo ngomong aja sekarang atau sepatu gue ini nyangkut di mulut elo!” Ancam Rumi mengacungkan sepatu high heelsnya.


Sofi mundur dengan wajah takut. “Oke.” Putusnya terpaksa ngalah. “Hans, kamu mau bayi yang ada dalam kandunganku kan? Kamu boleh memilikinya asalkan kamu mengijinkanku tinggal bersamamu.”


“Sinting! Elo bEner-bener nggak waras! Enak Aja lo mau tinggal disini! Elo mau jadi pembokat atau apa? Jangan bilang kalo elo masih ngarep sama tunangan gue!” Rumi terbelalak tak percaya mendengar kalimat Sofi.


“Hans, terimalah bayi ini sebagai anakmu. Aku sekarang mengakui bahwa bayi yang keguguran dulu itu adalah anakmu.”


JRENG!


Hanson terkejut luar biasa. Ternyata dugaannya selama ini benar. Dia meyakini bayi yang Sofi gugurkan dulu adalah anaknya, buah perbuatan bejadya di masa gelapnya beberapa waktu yang lalu.


“Jadi kau menyembunyikannya selama ini dariku? Dan kamu mengugurkannya demi ambisimu menikah dengan suamimu itu?” Suara Hanson bergetar.


“Bukan aku yang bersalah. Tapi suami dan ayah mertuaku yang memaksaku …”


“Cukup. Nyatanya bayi itu sekarang sudah tak ada.” Hanson tercekat.


“Kamu bisa memilikinya Hans, terimalah dia sebagai penggantinya. Tapi tolong ijinkan aku tinggal disini.” Sofi membalas tatapan dingin Hanson dengan wajah mengiba.


“Cih! Elo ngatain gue gila, tapi nyatanya elo sendiri yang gila! Peremuan macam apa lo, rela barterin bayi elo, hah? Diamana hati nurani elo?” Rumi geregetan tak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan yang dulu sempat menjadi kawan akrabnya semasa kuliah itu. “Sudah jatoh miskin lo? Atau udah didepak dari istana raja minyak suami elo itu? sampe-sampe elo rela mengemis sama mantan elo?”


“Hans, aku menunggu jawabanmu.” Sofi menatap Hanson mengacuhkan ocehan Rumi yang menatapnya sinis.

__ADS_1


“Nggak, dia nggak setuju!” Putus Rumi karena Hanson belum mengatakan apapun.


“Hans, aku udah tau semua tentangmu dari Ben. Kamu nggak akan bisa punya anak lagi kan akibat kecelakaan yang menimpamu? Anak ini akan menjadi anakmu, asalkan kau memberiku tempat tinggal.” Sekali lagi Sofi mengelus perutnya yang mulai membuncit dengan tatapan penuh permohonan.


“Baby, apa yang elo pikirin? Bilang nggak! Jangan diem aja!” Rumi kesal juga melihat Hanson masih membisu. “Jangan tertipu sama perempuan nggak waras ini. Dia bakal manfaatin elo buat ngejalanin rencana jahatnya, anak itu cuman tipuan dia aja. Dia bakal bawa pergi anak itu setelah lahir, percaya sama gue!” Rumi berusaha meyakinkan Hanson.


“Jangan dengerin dia, Hans. Aku nggak mungkin ninggalin kamu setelah kamu nolongin aku.” Sofi meraih tangan Hanson menatap manik mata mantan kekasihnya itu lekat.


PLAK!


Rumi mukul tangan Sofi pake sepatunya.


“Jangan pegang-pegang tangan calon suami gue! Pergi lo dari sini! Dasar perempuan luknut!” Geram Rumi dengan wajah galak.


“Kamu nggak berhak ngusir aku, ini apartement Hans!”


“Hans Hans, apaan sih lo? Sok manja banget, berhenti manggil calon suami gue kayak gitu! Jijay gue dengernya!”


“Terserah aku mau manggil dia apa!” Tantang Sofi.


“Oh, berani lo sama gue? Maju sini!”


“Aku nggak takut! Dasar Sinting!


“Elo yang sinting, nggak waras!”


PLAK PLAK PLAK …! KLATOK! TOK! TOK!


Amukan Rumi tak bisa lagi dielakan. Bertubi-tubi ia mendaratan sepatunya di tangan dan wajah Sofi, terakhir kali heelsnya yang setinggi satu jengkal itu mampir di kepala Sofi beberapa kali. Sofi kalah telak, ia sampai hampir terjengkang karena serangan Rumi yang membabi buta.


“Schazi sudah, sudah!” Hanson tersadar dan segera melerai mereka.


BRUUK!


Terlambat, tubuh Sofi sudah mentok hingga menabrak pintu, dalam keadaan terjepit Rumi berdiri tepat di depannya dengan seringai siap memangsanya hidup-hidup. Ia mengayunkan sepatunya dan ..


“Schatzi, stop!” Beruntung Hnason berhasil mencekal lengan Rumi. “Dia lagi hamil. Kalau ada apa-apa sama dia, kita bisa dalam masalah.” Hanson memperingatkan.


Rumi tak melanjutan serangannya, nafasnya memburu dengan dada turun naik menahan kejengkelan. Tatapannya masih terhunus tajam pada Sofi yang sudah tak berdaya.


“Kamu bakalan nyesel karena udah melakukan ini.” Lirih Sofi dengan suara tertahan.


“Elo mau lapor polisi? Laporin aja, gue nggak takut! Yang ada juga elo yang bakal dipenjara karena berniat jahat mau ngejual bayi elo. Sekarang pergi dari sini, cepet pergi!” Rumi menarik Sofi dan menyeretnya keluar.


“Lepasin!” Dengan sisa tenaganya Sofi memberontak. “Hans, jawab aku. Kenapa kamu diem aja? Kamu mau kan terima tawaranku? Tolong bantu aku Hans.” Sofi masih kekeh berusaha.


“No, Sofia. Aku nggak bisa.” Tolak Hanson akhirnya. “Aku salah sudah pernah punya niat menginginkan bayimu, sekarang aku sudah sadar bahwa yang pergi tak kan bisa kembali dan tergantikan. Biarlah anakku sekarang sudah tenang di surga, semoga ia memaafkanku. Ayahnya ini yang sudah jahat padanya, dan dia juga memafkanmu.”


“Cih! Dasar laki-laki idi*t!” Tatapan redup Sofi sontak menjadi nyalang mendengar penolakan Hanson. “Otakmu sudah termakan sama wanitamu yang sinting ini!”


“Elo liat kan? Aslinya dia kembali muncul.” Rumi berpaling melihat pada Hanson. “Beruntung kamu nggak kasih dia hati, karena selamanya dia akan jahat seperti itu!”


“Halo, semuanya. Ini buka apa-apa, maaf ya. Dia cuman telat minum obat kok.” Sapa Rumi santai pada beberapa orang yang meneyembulkan kepala mereka dari balik pintu.


“Kurang ajar! Aku akan membuat perhitungan denganmu!” Sofi maju hendak meyerang Rumi namun Hanson mencekal kedua lengannya, Sofi meronta sambil terus memaki mengeluarkan sumpah serapahnya hingga kehabisan tenaga dan tubuhnya perlahan melosot ke lantai.


Hanson kaget, “Sofia?” Panggil Hanson menepuk pipi Sofi dengan khawatir.


“Dia nggak papa kok cuman pingsan. Itu udah biasa. Tenang aja.” Ucap Rumi memberitahu para tetangga Hnason yang mau mendekat bemaksud memberi pertolongan. “Aku akan hubungi keluarganya.” Rumi merogoh ponselnya dari dalam saku jeansnya. “Kalian janagn khawatir ya. Semuanya baik-baik aja.”


Para tetangga apartement Hanson pun kembali masuk karena percaya pada ucapan Rumi.


“Schatzi, benarkah dia hanya pingsan?” Hanson benar benar panik. “Sofia…, Sofia …?” Hanson beberapa kali menepuk pipi Sofi bahkan mengguncangkan bahunya.


“Baby, don’t touch her!” Rumi melotot.


“Tapi, Schatzi ….”


Pelototan tajam mata Rumi berhasil menghentikan kalimat Hanson. Ia bangkit mendekat pada Rumi yang sudah berhasil menghubungi Azad.


FLASH BACK OFF


“Kak? Bagaimana keadaanmu?” Sapa Azad mendekati bed Sofi.


Sofi hanya menatap adiknya sekilas lantas membuang pandangannya ke sembarang arah.


“Tenangkan dirimu Kak biar kamu cepat pulih dan kita pulang ke rumah.”


“Antar aku ke hotel, aku nggak mau pulang ke rumah.” Sahut Sofi tanpa melihat Azad.


“Aku baru saja membayar tagihan hotelmu yang sangat fantastis.”


“Kamu keberatan?” Seketika Sofi berpaling menatap lurus adik semata wayangnya.


“Tetu saja aku nggak pernah keberatan melakuakn apapun demi kamu Kak, selama tindakanmu benar. Tapi semua ini sudah diluar batas. Langkahmu salah sejak awal. Harusnya kau mendengarkanku. Berapa kali aku bilang?” rentetan kalimat penuh kekesalan itu meluncur juga dari mulut Azad.


“Pergi, tinggalkan aku sendiri.” Usir Sofi dingin.


“Jangan bilang kau mau melarikan diri lagi. Sudah cukup Kak. Kasihan Mama dan Papa kalau sampai tau tentang keadaanmu. Dan lebih kasihan lagi bayi yang ada dalam kandunganmu. Apa kamu nggak pernah memikirkan itu?”


“Aku nggak perlu ceramahmu. Tinggalin aku sendiri!”


Azad mendengus kasar. “Baiklah kalau itu maumu, Kak. Tapi aku akan suruh orang untuk berjaga di luar. Kalau kau sampai kabur, aku akan mengatakan pada Alatas tentang surat-surat berharga yang kau curi itu.”


Azad pergi dengan langkah lebar. Sofi menatap punggung adiknya yang kemudian menghilang di balik pintu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Bunga bougenville bermekaran berwarna-warni menambah asri taman kecil di samping kamar Via. Dahannya bergoyang-goyang tertiup semilir angin sore. Via menutup laptopnya setelah selesai memeriksa pekerjaannya.

__ADS_1


“Hem, istriku baru aja pulang kantor udah sibuk lagi sama kerjaan.” Mirza datang menggoda Via.


Via menyarungkan kembali lapotopnya ke dalam tas. “Apaan sih Mas, orang cuman liat file doang kok.”


“Jangan terlalu capek lho Sayang, inget kamu lagi hamil muda.” Mirza menutup jendela kamar.


“Eeh Mas, janagn ditutup jendelanya!” Sergah Via. “Biarin aja, anginnya adem. Pemandangannya juga sejuk dimata. Aku suka liat bunganya warna warni indah banget.”


“Tapi ini udah mau maghrib lho Sayang. Mendingan kamu mandangin suamimu ini, lebih adem dan lebih memyejukkan mata.” Mirza mengerling genit.


“Ish! Tapi kamu kan nggak warna warni Mas?” Via beranjak ke dekat jendela. “Kayaknya kalo ditambah bunga anggrek bagus juga ya Mas? Aku jadi inget sama taman samping rumahnya Om Jaka yang di Jakarta itu lho Mas, banyak bunga anggreknya. Bagus banget.” Via berangan-angan sambil menatap pekarangan samping kamarnya yang tak terlalau luas itu.


“Kayaknya anak kita bakan cewek deh. Soalnya kamu jadi tetiba suka sama bunga gitu. Biasanya kan lebih demen sama tanaman sayuran.”


“Ha, Mas ini hipotesa dari mana itu? Mana ada ibu hamil suka kembang jadi anaknya bisa dipastiin cewek?”


“Kan tadi Mas cuman bilang kayaknya, Sayang?” Mirza menggeser tubuhnya mepetin Via.


“Mas jangan deket-deket ah, gerah nih!”


Mirza malah merangkul pundak istrinya seraya memamerkan senyum manisnya. “Sekarang kamu udah yakin kan Sayang kalo kamu hamil?”


“Udah, aku udah cek bolak balik pake test pack sampe abis tuh selusin! Hasilnya sama, garis dua semua.” Cebik Via.


“Kok malah manyun sih? Harusnya seneng dong kalo hamil?” Mirza menjawil pipi Via.


“Seneng lah Mas, seneng banget malah. Tapi aku cuman ngak habis pikir aja kenapa kamu sampe borong test pack segitu banyaknya?”


Mirza memutar sedikit istrinya untuk menghadapnya. “Soal itu jangan dibahas lagi ya. Yang penting sekarang kamu udah hamil.” Diselipkannya helaian rambut istrinya ke sela telinganya penuh kasih sayang. “Ini buah dari kesabaran kita Sayang. Tujuh tahun kita menunggu, setelah kita sempat kehilangan anak pertama kita, akhirnya Tuhan kembali memberi kita kepercayaan dengan menitipkan ia pada kita.” Mirza menyentuh lembut perut Via yang masih rata.


Tangan Via pun ikut meraba perutnya seolah belum percaya bahwa kini dalam rahimnya ada buah dari cintanya dengan sang suami yang sudah diharapkan sejak lama kehadirannya. Suasana mendadak menjadi mellow. Via menatap perutnya, diam-diam matanya mengembun. Ia merasa ini suatu keajaiban. Ia sempat begitu hancur dan terpuruk karena kehilangan anak pertamanya. Tak disangka kini ia bisa merasakan kembali rahimnya terisi janin yang akan terus berkembang menjadi seorang bayi yang amat lucu.


“Sayang, kamu nangis?” Mirza mengangkat dagu istrinya perlahan.


Via mengusap matanya yang basah. “Cuman terharu aja Mas. Aku bersyukur banget, ini semua kayak mimpi.”


Diraihnya tubuh wanita yang sangat dicintainya itu ke dalam pelukannya. “Mas janji nggak akan pergi ninggalin kamu lagi. Senang susah kita akan selalu bersama. Mas udah nggak punya obsesi apapun, selain hidup bahagia bersama kamu dan anak-anak kita kelak.”


“Bener?” Via mendongak menatap wajah tampan suaminya.


“Iya, sayang.”


“Walau ada panggilan untuk jadi Popaye lagi?”


“Nggak akan!”


“Tapi gajinya kan gede Mas? Sayang banget kalo ditolak.”


Mrza melerai pelukannya. “Emangnya kamu bersedia Mas tinggal lagi saat hamil begini Sayang?”


“Emangnya Mas mau pergi lagi?” Via malah balik nanya.


“Kan tadi kamu yang pengen Sayang?”


“Tapi aku kan cuma nanya Mas?”


“Tapi kalimatmu seolah nyuruh Mas buat pergi lagi?”


“Kok Mas sensi gitu sih? Kalo mau pergi ya udah pergi aja!” Via ngambek.


“Mas mau pergi, tapi sama kamu Sayang.”


“Ogah!”


“Kamu harus nurut apa kata suami Sayang.”


“Tapi aku …” Belum sepat Via melanjutkan kalimatnya Mirza sudah membopong tubuh Via. “Mas, lepasin! Apa-apaan sih?” Via berteriak kaget.


“Mas mau ngajakin kamu pergi.”


“Nggak mau! Pergi kemana emang?”


“Ke kamar mandi? Kita ka belum mandi sore?” Mirza tersenyum penuh arti.


“Turunin! Aku bisa jalan sendiri!” Via memukul-mukul lengan suaminya, tapi Mirza cuaek aja menggendong Via ala bridal style menuju kamar mandi.


BLAM!


Pintu kamar mandi pun tertutup sempurna.


“Aaaaaarrghhh….! Mas jangan dibuka semua dong …..!” Teriak Via dari dalam kamar mandi.


“Nggak Papa Sayang, enak! Biar cepet basah!”


“Mas pelan-pelan dong …, jangan kenceng-kencang …!”


❤️❤️❤️❤️❤️


Hayooo…., siapa yang pikiranya traveling baca part Via ❤️ Mirza ? 😂😂😂


Hehehe…., selow Kakak … itu adegan Mirza buka keran shower karena mau mandi bareng.🤭🤭 Wkwkwk….😅😅😅😅


Terima kasih udah traveling … ehh udah membaca ya…😊😊😊


Likenya jangn lupa Kak. Komen selalu biar othor makin semangat. Vote juga boleh banget jika berkenan. 🤩🤩🤩


Mohon maaf jika ada typo dan kesalahan 🙏🙏


Oya, dengerin juga Terpaksa Slingkuh versi audio booknya by adik Chen Lion ya Kak..😉😉

__ADS_1


Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2