TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
186 #JANGAN GALAU JANE!


__ADS_3

Pukul 8.40 malam, Danar masih setia menunggu duduk seorang diri di depan ruang perawatan Via. Sejurus kemudian ia melangkah menuju pintu dan melihat dari celah pintu yang sengaja dibuka sedikit nampak wanita pujaannya pulas dengan selang infus menggantung di sampingnya.


“Danar.” Yanti datang menepuk pundak Danar dari belakang. "Aku pulang duluan ya, soalnya takut Gio rewel aku tinggal dari sore."


“Oh, iya.” Danar menoleh sedikit kaget. “Makasih ya Yan, maaf merepotkan.”


“Nggak lah, Denaya kan keluarganya Via, berarti keluargaku juga.” Yanti tersenyum simpul. “Oya, gimana keadaan Via?”


“Masuklah.” Danar membuka pintu lebih lebar. “Dia sepertinya masih tidur.”


Yanti hanya melihat dari pintu. “Nggak usah, biarin dia istirahat. Dia juga pasti capek. Ya udah kalo gitu aku pulang ya. Ada Mas Firman yang jagain Denaya.”


Danar mengangguk kemudain kembali pada kursi tunggu di depan ruang perawatan. Danar memijit kedua matanya yang terasa lelah, sebenarnya ia ingin masuk dan menunggui Via di dalam, namun sebelum pulang Pak Hadi menegaskan sebaiknya ia tunggu diluar saja.


Waktu terus merambat malam, Mirza dan Om Jaka pun sudah dalam perjalan pulang dan sebentar lagi sampai. Mirza yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya karena kelelahanp baru teringat pada ponselnya.


“Ya ampun! Panggilan sampai 10 kali dari Via!” Kaget Mirza setelah membuka key lock layar gawainya. Ia pun membuka deretan pesan masuk dari istrinya. “Om!!” Kekegetan Mirza berlipat-lipat seraya mencengkeram tangan Om Jaka yang tengah memegang kemudi.


“Apaan sih, Za? Bikin kaget aja!” Om Jaka jadi ikutan kaget.


“Denaya Om!”


“Denaya? Mana? Mana?” Om Jaka malah celingukan melihat kiri kanan jalanan lengang yang dilewatinya.


“Denaya mau ngelahirin!”


“Apa? Mai hani bani switi bala bala mau ngelahirin?” Om Jaka kaget beneran dan segera menginjak pedal rem.


NGIIK….


“Udah negelahirin malah Om, bayinya perempuan!” Mirza membuka pesan Danar yang dikirim paling terakhir.


“Mana? Siapa yang ngasih tau?” Om Jaka mau ikutan baca pesan di ponsel Miza namun mata Mirza kemudian membola ketika membaca pesan Danar berikutnya. “Ayok, Om cepetan! Kita harus segera ke rumah sakit, Via juga keadaannya ngedrop!”


Kedua lelaki yang tengah diselimuti kekhawatiran itu kini segera menuju rumah sakit dimana istri mereka dirawat. Mobil yang dkemudiakan Om Jaka melaju kencang, jalanan malam yang cukup lengang mereka lewati dalam sekelebatan. Semenatra itu Danar yang mulai diserang kantuk melangkahkan kakinya menuju kantin rumah sakit untuk memesan kopi. Beberapa saat duduk menikmati kopi panas, perutnya juga merasakan lapar, ia tinggal lebih lama di sana untuk menikmati soto mie.


Mirza dan Om Jaka kini sudah berada di rumah sakit, mereka seolah beradu cepat menuju ke ruang perawatan istri mereka masing-masing setelah bertanya pada suster jaga. Firman yang sudah selesai sift kerja nampak terkantuk-kantuk di kursi tunggu ruang perawatan Denaya. Ia terkesiap ketika mendengar langkah-langkah cepat mendekat ke arahnya.


“Om Jaka?” Tanya Firman menggosok matanya ketika om Jaka sudah berada di depannya.


“Iya. Maaf ya, gue ngerepotin elu Man.” Om Jaka menyalami Firman penuh rasa terima kasih. “Bini gue ada di dalem?” Om Jaka melihat ke arah pintu kamar perawatan.


“Iya Om, masuk aja.”


Om Jaka mengangguk. “Elu mau pulang?” Tanay Om Jaka kemudian.


“Iya, aku pulang dulu ya, kan udah ada Om Jaka?"


“Oke. Sekali lagi makasih benget ya Man, gue kagak tau musti ngebales budi baik elu pake apaan.”


“Santai aja Om, aku juga seneng kok bisa membantu. Ya udah cepetan sana masuk, Denaya nanyain Om terus dari sejak abis oprasi sore tadi.”


Om Jaka pun masuk menemui Denaya sementara Firman segera berlalu pulang.


“Mai Hani Bani ….” Panggil Om Jaka lirih mendekati istrinya yang nampak terlelap namun sebenarnya nggak tidur.


Denaya membuka kelopak matanya. “Bokir …..! kemana aja kamu? Hu…hu…hu…..” Denaya kontan mewek melihat suaminya yang baru nongol padahal sudah ia tunggu-tunggu kehadirannya untuk mendampinginya dalam masa-masa menegangkan yang telah lewat beberapa saat lalu. “Kamu jahat, Bokir! Kamu tega ngebiarin aku sendirian, hu…hu…hu…” Denaya menangis tersedu-sedu dipelukan Om Jaka yang juga sekarang sudah berlinangan air mata memeluk istrinya penuh haru.


“Maafi gue ya Katemi, gue beneran nggak tau kalo elu bakal ngelahirin hari ini….” Om Jaka sangat merasa bersalah karena membiarkan istrinya bertaruh nyawa sendirian tanpa dampingannya.


“Kenapa kamu baru pulang, Bokir? Kamu nyasar kemana? Aku takut, aku hampir putus asa. Aku sebel sama kamu, kamu tega sama aku! Kamu nggak peduli sama aku!” Denaya memukul-mukul kecil dada Om Jaka masih dalam isaknya yang tersedu-sedu,


“Katemi, tenanglah. Janagn banyak gerak dulu, luka oprasimu nanti sakit.” Om Jaka coba menenangkan Denaya yang masih menangis menumpahkan kekesalannya. “Gue janji elu boleh mukulin gue sepuas elu kalo udah keluar dari rumah sakit. Gue rela elu hukum apapun sebagai penebus rasa bersalah gue. Tapi tolong maafin gue, Katemi ….” Om Jaka menggenggam tangan Denaya yang melemah dan menciumi pucuk kepalnya.


Bahu Denaya masih berguncang beberapa kali meski tangisnya sudah reda. “Anak kita, Beb …. Anak kita ….” Cicit Denaya yang kini mungkin sudah reda pula kesalnya karena udah ganti manggil Om Jaka bebeb lagi.


“Iya, kenapa anak kita Han…?” Om Jaka menatap lekat manik mata istrinya yang basah.


“Anak kita cantik banget kayak aku…., hu…hu…hu….” Denaya mewek lagi.


"Lho, kok malah nangis Han? Harusnya kamu seneng dong kalo anak kita cantik kayak kamu?” Om jaka mengusap pipi Denaya.


“Iya, ini tangis bahagia Beb. Aku nggak nyangka dia akan mewarisi kecantikan mamanya yang sangat paripurna. Untung dia nggak kayak papanya yang celamitannya tiada duanya.”


Huh! Giliran dia sendiri aja narsis! Lha gue dikatain celamitan? Kalo gue kagak celamitan, kagak bakalan deh elu tekdung, Katemi! Om jaka ngedumel dalam hati.

__ADS_1


“Bebeb, kamu udah liat anak kita belum?” Denaya mendongak menatap sang suami yang lagi keki banget.


“Emh, belum Han.” Om Jaka segera mengubah wajahnya ke mode normal.


“Cepetan kamu liat sana, dia ada di ruang bayi.”


“Besok aja, Han. Ini kan udah malam, lagian suster juga pasti nggak ngijinin.”


Denaya melerai pelukan, “Ya udah, kamu disini aja nina bobo in aku ya. Aku ngantuk tapi belum bisa tidur karena badanku pada gegel.”


“Iya, Han.” Om Jaka mengelus kepala Denaya yang tanpa hijab.”


“Nyanyi Beb, biar aku cepet tidur.” Rajuk Denaya manja.


“Ha? Nyanyi? Tapi … “


“Nyanyi cicak-cicak di dinding, Beb. Jangan berhenti sebelum aku tidur.” Denaya terus merajuk.


Haduh, dasar Katemi! Udah nggak hamil juga masih aja bawaannya aneh aneh! Omel Om Jaka, tapi tentunya cuman berani dalam hati. Dia pun menuruti permintaan istrinya.


Sementara itu di ruangan yang berbeda, Mirza pun nampak tengah menatap istri cantiknya penuh rasa penyesalan. Diciuminya jemari lembut Via beberapa kali sambil terus menerus menguntaikan permintaan maaf.


“Mas, udah. Aku nggak papa kok.” Via mengelus wajah suaminya yang ditumbuhi brewok tipis-tipis bikin makin manis. 🤭🤭


“Coba kalo Mas nggak ikut Om Jaka, pasti kamu nggak sampe ngalamin kayak gini Sayang.”


“Yang penting kan aku dan anak kita baik-baik aja. Aku justru khawatir banget sama Denaya.”


“Bayinya udah lahir Sayang, perempuan.”


“Beneran?” Via berbinar tak percaya. “Mas udah liat? Aku mau liat juga Mas.”


“Mas belum liat, Sayang. Danar yang ngasih tau, dia chat Mas waktu masih dalam perjalanan ke sini.”


“O…” Via mengangguk paham. “Oh iya Danar, Danar kemana Mas?” Via seolah baru teringat pada Danar yang sudah menemaninya sedari sore tadi.


“Nggak tau Sayang. Mas pikir dia nungguin kamu, tapi Mas tadi nggak liat siapa-siapa di luar.” Mirza juga nampak bingung.


“Oh, mungkin dia udah pulang. Danar sama Pak Hadi yang nolongin aku sama Denaya Mas selain Yanti dan Firma, kita harus berterima kasih sama mereka.” Ucap Via.


“Iya, sayang. Nanti Mas nemuin mereka buat bilang terima kasih.” Mirza kembali mengelus lembut pipi istrinya. “Mas bersyukur banget kamu dan anak kita nggak kenapa-napa, Sayang. Mas takut kejadian waktu itu terulang lagi. Kita sudah menunggunya selama 7 tahun.” Tangan kanan Mirza mengelus perut Via.


“Iya Sayang, Alhamdulillah ….” Mirza mengecup lembut kening Via. Meraka kembali saling bertatapan penuh rasa haru dan syukur. Sungguh tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika mereka harus kehilangan buah hati dalam kandungan untuk yang kedua kalinya.


Tanpa Mirza dan Via sadari, sepasang mata melihat adegan mereka dari celah pintu kamar yang terbuka. Ya, Danar menyaksikan kemesraan suami istri yang tengah diliputi rasa bahagia itu.


Syukulah, Mirza udah dateng. Aku senang liat kamu bahagia, Vi.


“Danar?” Panggil Via yang ternyata menyadari kehadiran Danar.


Mirza menoleh ke arah pintu dan segera bangkit menghamiri. “Danar, makasih banget ya kamu udah bantuin Via. Kalo nggak ada kamu entah apa jadinya.” Ucap Mirza penuh rasa terima kasih.


Danar tersenyum simpul. “Sama-sama, Za. Semua orang juga pasti akan bertindak seperti aku kalo dalam situasi seperti itu.”


“Kamu dari mana?” Via bertanya pada Danar.


“Tadi ke kantin cari kopi.” Danar bersikap biasa aja walau hatinya seneng banget Via ternyata mencari keberadaannya. “Emh, ya udah, kan sekarang Mirza udah dateng, Vi. Aku pamit ya.”


Via mengangguk. “Makasih ya.”


“Oya, kamu istirahat aja sampai pulih benar ya, nggak usah masuk kerja dulu beberapa hari.” Ucap Danar sebelum pergi.


“Kamu memang benar-benar teman dan bos yang baik hati.” Mirza merangkul bahu Danar dengan senyum lebar.


Ahh, seperti ini ternyata rasanya bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan? Bahagia untuk orang yang dicintai, dan sakit karena tak bisa memiliki. Never mind! Danar, kamu bisa! Kamu sudah pernah merasakan sakit kan? Jadi nggak usah terlalu baper. Danar terus bermonolog dalam hati menghibur dirinya sendiri seiring langkah kakinya menyuri lorong rumah sakit yang sepi.


❤️❤️❤️❤️❤️


“Maaf, membuatmu menunggu lama.” Sapa Jane pada Azad yang sudah tiba lebih dulu di restaurant tempat mereka janjian untuk bertemu.


“Duduklah.” Titah Azad dingin. Tangan Azad kemudian melambai memanggil waiter untuk memesankan makanan Jane.


“Aku belum mau makan. Minum aja.” Ucap Jane ketika waiter menghampiri untuk menulis pesanannya.


“Apa kamu sedang buru-buru?” Azad menatap curiga.

__ADS_1


“Nggak, hanya belum lapar.”


Azad mengangkat bahu cuek, membiarkan Jane memesan minumannya sendiri sementara dia kembali pada hidangan di depannya, menyantapnya tanpa sepatah kata pun. Jane hanya diam memperhatikan sembari menunggu minumannya datang.


“Azad, aku minta maaf.” Cicit Jane yang merasa Azad tak menghiraukannya.


Azad yang baru saja selesai dengan makan siangnya mendorong piringnya ke samping. “Minta maaf untuk apa?” Dia pura-pura tak tau. “Bukannya aku yang minta ketemuan sama kamu, kenapa jadi kamu yang bicara duluan?”


Jeda sebetar karena waiter datang membawakan pesanan Jane.


“Aku tau aku bersalah.” Ujar Jane setelah waiter pergi.


Azad menyedot minumannya. “Tinggalkan Kak Ram.” Ucapnya dingin.


Jane terdiam, ia memainkan gelas didepannya, memutar-mutarnya beberapa kali.


“Kamu ingin aku memaafkanmu kan?” Desak Azad


Jane menghela nafas berat. “Azad, ini sulit ….”


“Aku nggak mau denger alasan apapun.” Potong Azad. “Aku pikir waktu kamu resign dari kantorku dengan alasan nggak mau berurusan lagi dengan Kakakku itu benar, tapi nayatanya kamu justru memperkeruh suasana.” Akhirnya keluar juga apa yang mengganjal dalam hati Azad selama ini.


Jane tertunduk, tangannya masih setia memainkan gelas di hadapannya.


“Aku kecewa padamu. Ternyata harga dirimu mampu dibeli oleh Alatas!”


JLEB!


Kalimat Azad sukses menghujam ulu hati Jane. Ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya. Azad yang melihat Jane hanya diam menjadi bertambah kesal, ia segera bangkit membuat suara kusrsi berderit.


“Azad, tunggu!” Sergah Jane.


“Apa lagi? Aku sudah tau jawabanmu. Diammu berarti suatu penolakkan telak bagiku. Nggak ada gunanya pertemanan kita selama ini.” Azad menahan kecewanya dengan dada yag terasa sesak.


“Duduklah, aku mohon…” Jnae mengiba.


Azad mendengus jengah, kembali mendaratkan bokongnya di kursi depan Jane.


“Aku tau kamu memintaku bertemu untuk mebicarakan saoal rumah tangga Ram dan kakakmu. Tapi apa kamu yakin dengan aku meninggalkan Ram, hubungan mereka akan menjadi baik? Kuncinya bukan padaku, tapi ada pada Kakakmu. Dia yang sudah meninggalkan Ram.”


“Dan kamu mengambil kesempatan ini untuk mendekati Kak Ram, kan?” Sinis Azad.


“Bukan seperti itu!” Bantah Jane. “Percayalah, aku pun berusaha menolak, meski Ram sudah menyatakan persaannya padaku.”


“Oh, rupanya gayung bersambut ya?” Azad tersenyum miring. “Selamat, cita-citamu untuk menjadi Nyonya Alatas sebentar lagi akan terwujud!”


“Azad dengar dulu!” Jane kembali menahan Azad yang hendak bangkit. “Aku nggak bilang kalo aku menerimanya, aku cukup tau diri. Ram dan Sofi masih terikat perkawinan, dan ada anak diantara mereka. Aku nggak akan tega memisahkan anak dari orang tua kandungnya.”


“Omong kosong! Kalo kamu masih nggak mau meninggalkan Kak Ram, semua pekataanmu itu bualan semata! Sudah, semuanya sudah jelas. Maaf sudah menyita waktumu, Nyonya.”


“Oke! Oke! Aku akan tinggalkan Ram!” Jane meraih tangan kekar Azad. “Tapi kau harus membuat Kakakmu menyerahkan smeua surat-surat perusahaan yang sudah dia ambil. Aku sudah tau segalaya. Tuan Alatas menceritakan semuanya padaku. Dan kamu pasti tau kan, dia punya rencana licik untuk menyingkirkan kakakmu.”


“Tanpa kau suruh pun, aku sudah berniat akan mengembalikannya, karena aku sendiri yang menyimpannya, bukan kakakku.” Tegas Azad dengan mata lurus menatap Jane. “Jadi kesanggupanmu itu tak bersyarat, tinggalkan Kak Ram tanpa ada tapi!” Azad melepaskan tangannya dari Jane dan pergi dengan wajah dingin.


Jane menatap punggung Azad dengan raut sendu. Sebenarnya dipihak manakah dia berpijak? Dia memang masih menyimpan secercah harapan untuk mendapatkan cintanya, namun hati kecilnya menolak. Jane bercermin diri, ia pun wanita yang sudah tentu tak rela jika suaminya direbut wanita lain. Meski ia hampir benar-benar melakukannya, namun kesadaran kembali menamparnya. Ahh, andai Ramzi tak pernah mencintai Sofi ….


Bip!


Satu notifikasi pesan masuk membuyarkan lamunan Jane.


Ramzi


Jane, kau di mana? Kenapa belum datang sudah sesiang ini? Aku merindukanmu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Eaaa..... segitu dulu ya Kak..... 😊😊


Maafkan emak othor yang semakin awut-awutan aja nih jadwal upnya bikos tugas domestik yang belum dapat terkondisikan dengan baik 😅😅


Terima kasih sudah membaca ya.... dan seperti biasa mohon dimaklumi jika banyak typo dan kesalahan 🙏🙏🙏


likenya jangan lupa 😍


Komennya dutunggu selalu 🤩

__ADS_1


Vote mah kagak usah, tapi kalo maksa yaa... bolehlah 😂😂😘😘


I love you all, readers 😘😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2