TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
21 #KESEPAKATAN


__ADS_3

Om Jaka syok mendengar kabar itu, hingga ia tak sadar sambungan di seberang sudah terputus dan Om Jaka masih menempelkan gawai di telinganya.


Mirza tak ambil pusing, dia tetap pada rencananya semula yaitu pulang.


Mirza ke kamar mengambil tas dan mengemasi pakaiannya.


"Za, Sofi kabur dari klinik, Za!" Seru Om Jaka panik menyusul Mirza ke kamar.


"Baguslah." Sahut Mirza cuek.


"Kita harus mencarinya, Za. Om khawatir dia kenapa-napa, kondisinya belum begitu baik." Ungkap Om Jaka penuh kekhawatiran.


"Kita? Om aja sana sama gayung! Aku mah ogah!" Mirza masih cuek, lantas mengutak -atik ponselnya untuk memesan taxi online.


"Za, Om serius!" Om Jaka benar-benar pasang tampang serius.


Mirza berpaling menatap duda 48 tahun itu. "Ya, Om. keliatan kok, emang serius banget muka Om. Tapi sori, aku akan tetap pulang!" Mirza kekeh, dan sekarang sudah menyandang tas ranselnya.


"Mirza, apa kamu nggak khawatir pada Sofi dan calon bayinya?"


"Nggak, karena itu bukan urusanku." Mirza keluar kamar dengan Om Jaka yang langsung mengekor di belakangnya.


"Tapi kereta ke tempatmu masih nanti sore, senggaknya kamu sekarang temani Om dulu cari Sofi." Cegat Om Jaka.


"Lebih baik aku nunggu di stasiun daripada disini Om selalu menyudutkanku." Mirza berkacak pinggang tampak berusaha menahan kekesalannya. "Lagian Om ribet banget sih jadi orang? Mau Sofi kabur kek mau minggat kek, itu kan sebenarnya bukan urusan Om juga. Palingan dia juga udah balik ke rumahnya. Om tinggal bayar tuh biaya perawatannya, kan Om yang bawa dia ke klinik!" Cerocos Mirza sebal lantas hendak kembali berjalan namun Om Jaka buru-buru menahannya.


"Ini adalah masalah kemanusiaan, Za. Apa kamu tega membiarkan seorang manusia yang lagi sakit keluyuran sendirian nggak tau arah mau kemana? Dan dia itu sedang hamil!"


"Aku nggak mau terjebak dua kali, Om. Aku pernah peduli padanya saat dia sakit di Delta Cruise, tapi... "


"Ini beda keadaannya, Za!" Potong Om Jaka.


"Ter se rah!" Tegas Mirza benar- benar cuek.


"Kebangetan kamu, Za!"


Ting tong


Ting tong


Suara bel menghentikan perdebatan paman dan keponakan itu. Mereka kompak saling pandang seolah saling bertanya siapa yang datang?


Om Jaka bergegas ke depan untuk membuka pintu diikuti Mirza yang tentu sudah siap akan berangkat.


"Sofi?" Ucap Om Jaka kaget begitu mendapati Sofi dengan muka pucat mengenakan baju pasien dirangkap sweater sudah berdiri di depannya.


Mirza pun sebenarnya sama kagetnya, hanya saja dia menyembunyikannya.


"Aku cuma akan bicara untuk yang terakhir kalinya sama kamu, Za." Ujar Sofi to the point melihat pada Mirza.


"Masuk dulu, kita bicarakan di dalam." Om Jaka mengajak Sofi masuk.


Mirza dan Sofi duduk saling berhadapan. Sofi menatap lurus Mirza, dan Mirza tak sedikitpun gentar padanya.

__ADS_1


*Mau n*gapain lagi si Sofi? Dia pikir dia bisa memaksaku kali ini? Tidak akan!


"Aku akan menemui istrimu dan mengatakan apa yang pernah terjadi pada kita." Ucap Sofi dingin.


"Kau mengancamku?" Mirza mulai emosi.


"Sama sekali nggak." Sabut Sofi tenang, lalu dia tersenyum sinis. "Aku cuma mau tau gimana reaksi seorang istri yang mengira suaminya setia ternyata menghamili perempuan lain."


"Beraninya kamu!" Mirza berdiri mengayunkan tangannya hendak melayangkan tamparan di atas pipi Sofi.


Beruntung Om Jaka sigap menahannya. "Za! Jangan pakai kekerasan!" Om Jaka mencengkeram kuat tangan Mirza.


"Aarrgh!" Mirza mengibaskan tangan Om Jaka kasar. "Dasar kau perempuan gila! Sakit jiwa!" Maki Mirza menunjuk-nunjuk Sofi.


Sofi tetap tenang meskipun tadi sempat ngeri juga seandainya Mirza benar-benar menamparnya.


"Oke. Jadi aku anggap kamu setuju untuk bertanggung jawab menikahiku."


PRAANG!


Vas bunga diatasi meja yang sedari tadi diam saja menjadi sasaran kemarahan Mirza yang sudah sampai pada puncaknya. Vas bunga tak berdosa itu hancur berkeping-keping dilempar ke lantai.


"Seenaknya saja kau memintaku menikahimu. Aku tidak akan pernah melakukannya!" Tegas Mirza dengan dada turun naik dan mata yang penuh amarah.


"Baik. Kalau begitu aku akan ikut denganmu dan bertemu dengan istrimu untuk mengatakan semuanya." Sofi kembali menarik bibirnya mengulas senyum sinis merasakan aroma kemenangan. "Atau bisa juga ... aku akan melaporkanmu ke polisi atas tuduhan ... "


"Tuduhan apa? Pemerkosaan? Pelecehan?" Potong Mirza berapi-api. "Kita berdua melakukannya tanpa paksaan dan dalam keadaan sadar! Hanya saja memang kau yang memulainya, kau menjebakku!"


"Ku rasa polisi nggak akan menerima alasanmu itu. Yang mereka tau adalah kenyataannya aku hamil anakmu dan kamu tidak mau bertanggung jawab."


Om Jaka hanya membisu. Dia tak dapat berucap sedikit pun karena merasa baik Sofi atau pun Mirza sama-sama punya alasan yang kuat untuk teguh pada pendiriannya.


"Baik." Putus Mirza akhirnya. "Kalau begitu aku akan menikahimu."


Sofi tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Begitu juga Om Jaka, meski dia menyudutkan Mirza tapi hatinya seolah tak rela dengan keputusan keponakannya itu.


Sofi tersenyum. "Keputusan yang tepat."


"Jangan senang dulu." Sergah Mirza. "Aku akan menikahimu setelah bayi itu lahir dan terbukti sebagai anakku."


Sofi tercengang dia merasa lebih tidak percaya dari yang sebelumnya.


"Maksud kamu tes DNA? Kamu gila! Kamu meragukan darah dagingmu sendiri?" Sofi yang semula tenang kini tampak tegang.


"Ya atau tidak?" Todong Mirza langsung.


Gantian kini Sofi yang berpikir dengan keras. kedua telapak tangannya mulai berkeringat dingin, tak menyangka dia akan mendapatkan penawaran yang seperti ini. Ternyata memang tak mudah untuk menaklukkan Mirza.


"Aku nggak akan bertanya dua kali." Desak Mirza.


Sofi merasakan tulang-tulangnya mulai ngilu, leher dan bahunya nyeri, kepalanya berat.


"Ya, aku setuju." Sahutnya pelan dalam kepasrahan.

__ADS_1


Om Jaka sedikit merasa lebih lega. Ditariknya nafas panjang tanpa menyadari perubahan kondisi Sofi.


"Oke, kalo gitu kamu nggak ada alasan apa-apa lagi untuk menemuiku sementara ini. Aku akan pulang dan aku nggak mau kau mengangguku. Tunggu sampai bayimu lahir!" Tegas Mirza.


____


GLOPRAK!


Ponsel Via yang digenggamnya terjatuh karena Via kaget tiba-tiba ada pesan masuk ketika dia sedang enak-enaknya tidur.


"Astaghfurullah!" Via terbangun dan melihat ponselnya yang sudah tergeletak di lantai.


Duh, untung jatuhnya nggak tinggi, jadi nggak kenapa-napa nih hpku. Via memeriksa keadaan ponselnya.


"Ya ampun! Riri! Aduh, telat jemput aku!" Via blingsatan sendiri setelah membaca pesan masuk dari Riri yang ngomel-ngomel karena belum dijemput juga.


Via langsung menelpon Riri untuk menunggunya sebentar lagi.


"Halo, Ri."


"Halo! Kemana aja sih, Mbak? Ditungguin dari tadi juga! Ampe kriting nih rambut! Cepetan kesini, pegel nih kaki dari tadi berdiri nungguin Mbak. Mana kuota sama pulsa baru habis tadi lagi, perut aku laper, haus, Mbak nggak dateng-dateng!" Riri nyerocos menumpahkan isi hatinya.


"Iya, Ri ... maaf, Mbak ketiduran."


"Apa?" Riri kaget tak percaya. "Ish, nyebelin banget sih Mbak nih! Kirain lagi kemana dulu, nggak taunya malah enak-enak tidur!"


"Iya, maaf. Ya udah, Mbak jemput kamu sekarang ya. Tapi sholat ashar dulu."


"Cepetan, jangan lama-lama! Kilat aja sholatnya!"


"Ih, bawel!"


Via kembali numpang sholat sama Bu Atun, lalu permisi sekalian pulang setelah meminta nota belanja kebutuhan bangunan pada salah satu Tukang yang masih bekerja.


"Nah, ini masih ada kembaliannya, Mbak. Barusan cuman nambah beli baud aja karena ada yang kurang. Semua nota udah ada disitu." Terang Pak tukang sambil memberikan beberapa lembar uang kembalian.


"Makasih ya, Pak. Maaf saya tinggal soalnya harus jemput adik saya." Ujar Via.


"Iya, ini juga sudah hampir selesai, Mbak. Nanti sampaikan pada Bu Endang kalau mau pasang kanopi lagi buat rumah sebelahnya itu, tinggal hubungi saya." Pesan si pak tukang.


"Baik, Pak."


"Heuuu, rumah yang di kontrak si Windi itu nggak usah dipasangi kanopi, buat apa? Orangnya juga jarang di rumah, Jarang nyuci. Loundry terus dia! Maklum orang banyak duit, kan gacoannya banyak!" Bu Atun kembali rumpi.


Via buru-buru pergi sebelum jiwa ghibah bu Atun semakin menjadi-jadi.


____


____


bersambung lagi ya ☺️


Terima kasih sudah membaca 🙏❤️

__ADS_1


Jangan bosan untuk like dan komen 🤭


Bintang 5 🌟 nya jangan lupa ya, vote juga boleh banget jika berkenan. 🌹😘


__ADS_2